ANALISIS KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARASI BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PENELITIAN KUALITATIF

Penulis

  • Ikhsan Wicaksono Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Suparni Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Yamaaluddiin Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Feri Kurniawan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Endah Hartini Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Puji Winaryu Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Ainuna Via Argi Putri Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
  • Farida Nugrahani Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Kata Kunci:

Teks Narasi, Analisis Portofolio, Struktur Teks, Kesalahan Ejaan, Sekolah Dasar.

Abstrak

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan menulis teks narasi siswa sekolah dasar, baik dalam mengonstruksi struktur teks yang runtut maupun dalam menerapkan kaidah ejaan yang baku. Keterbatasan ini diperkuat oleh kuatnya pengaruh bahasa lisan sehari-hari dan minimnya otomatisasi aturan kebahasaan dalam tulisan formal siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara mendalam karakteristik kemampuan struktur teks narasi serta memetakan tingkat kesesuaian dan jenis kesalahan ejaan berdasarkan PUEBI/EYD pada dokumen karangan siswa kelas V Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan analisis dokumen portofolio karangan pengalaman pribadi siswa. Guna memberikan solusi teoretis atas hambatan literasi yang ditemukan, hasil analisis diagnostik ini disintesis sebagai landasan bagi perencanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui model pembelajaran berbasis genre yang eksplisit. Hasil temuan menunjukkan adanya polarisasi kemampuan yang tajam berdasarkan strata akademik siswa. Struktur pembuka (orientasi) dan penutup (resolusi) telah dikuasai dengan baik oleh mayoritas siswa (di atas 66%), namun hambatan besar terjadi pada penyusunan plot isi (komplikasi) yang cenderung datar, monoton, bahkan mengalami lompatan alur (jumping plot). Sementara itu, pada aspek kebahasaan, penguasaan ejaan siswa tergolong masih sangat rendah. Peneliti mengidentifikasi tiga galat mekanis utama yang mendominasi, yaitu kesalahan pemakaian huruf kapital (42%), kekeliruan penempatan serta absensi tanda baca titik dan koma (34%), serta interferensi kosakata dan afiksasi bahasa daerah (Jawa) sebesar 24%. Pembahasan menyimpulkan bahwa kompetensi mekanis kebahasaan anak berkembang lebih lambat daripada kemampuan menuangkan ide, sehingga memerlukan intervensi pembelajaran yang inovatif, terprogram, dan korektif.

This research is initiated by the low narrative text writing skills of elementary school students, specifically in constructing a coherent text structure and applying standardized spelling rules. This limitation is further intensified by the strong influence of daily spoken language and the lack of spelling automation in students' formal writing. The purpose of this study is to describe in depth the characteristics of narrative text structural competence and to map the level of compliance along with the types of spelling errors based on PUEBI/EYD in the written works of fifth-grade elementary school students. The research method employed is descriptive qualitative through a portfolio document analysis approach of students' personal experience essays. To provide a theoretical solution to the identified literacy barriers, the results of this diagnostic analysis are synthesized as a foundational basis for planning Classroom Action Research (CAR) utilizing an explicit genre-based learning model. The findings indicate a sharp polarization of ability based on the students' academic strata. While the introductory structure (orientation) and concluding structure (resolution) have been well-mastered by the majority of students (above 66%), significant obstacles occur in organizing the plot of the body (complication), which tends to be flat, monotonous, or even experience jumping plots. Meanwhile, in the linguistic aspect, students' mastery of spelling is still relatively low. The researcher identified three dominating mechanical errors: misuses of capital letters (42%), misplacements and absences of periods and commas (34%), and interferences of regional language (Javanese) vocabulary and affixation (24%). The discussion concludes that children's mechanical language competence develops at a slower pace than their ability to express narrative ideas, thereby requiring innovative, structured, and corrective instructional interventions.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29