MODEL PEMBINAAN INDIVIDUAL TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A PEKANBARU DALAM RANGKA MENANGGULANGI RESIDIVIS

Penulis

  • Raissa Nabila Maharani Universitas Riau
  • Erdianto Effendi Universitas Riau
  • Ferawati Universitas Riau

Kata Kunci:

Pembinaan Individual, Pencurian Kendaraan Bermotor, Residivis, Lembaga Pemasyarakatan

Abstrak

Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru menghadapi tantangan signifikan terkait tingginya angka residivisme pada tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Data menunjukkan peningkatan jumlah residivis dari 41 orang pada tahun 2022 menjadi 59 orang pada tahun 2024. Fenomena ini mengindikasikan bahwa program pembinaan yang selama ini diterapkan secara klasikal atau seragam bagi seluruh narapidana belum efektif dalam menekan angka pengulangan tindak pidana, terutama bagi pelaku curanmor yang memiliki pola kejahatan spesifik. Penelitian ini mengkaji bagaimana implementasi model pembinaan saat ini terhadap narapidana residivis curanmor di Lapas Kelas II A Pekanbaru, serta merumuskan model pembinaan individual yang ideal untuk menanggulangi angka residivisme. Penelitian menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan penyebaran kuesioner kepada 40 narapidana residivis sebagai sampel penelitian. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pola pembinaan yang ada masih bersifat umum dan belum memberikan perlakuan khusus bagi residivis yang memiliki kecenderungan psikologis dan motif ekonomi tertentu. Sebagai solusi, peneliti menawarkan Model Pembinaan Individual yang mengintegrasikan tiga pilar pendekatan: biologis, sosial-psikologis, dan fisik-ekonomi. Model ini mengedepankan rencana perawatan individu (Individual Treatment Plan) melalui konseling kognitif, terapi mental, serta pelatihan kerja yang disertai sistem manajemen finansial mandiri. Dengan mengacu pada Teori Biologis Enrico Ferri dan Teori Pemidanaan Relatif, model pembinaan ini diharapkan dapat menjadi instrumen yang lebih presisi dalam mengubah perilaku narapidana dan menurunkan angka residivisme secara berkelanjutan.

Pekanbaru Class II A Penitentiary faces significant challenges related to the high recidivism rate for motor vehicle theft (curanmor). Data shows an increase in the number of recidivists from 41 inmates in 2022 to 59 inmates in 2024. This phenomenon indicates that the current, uniform, and class-based rehabilitation program for all inmates has not been effective in reducing the rate of reoffending, especially for motorcycle theft offenders with specific crime patterns. The main issues examined in this research include how the current rehabilitation model is implemented for recidivist motorcycle theft inmates at Pekanbaru Class II A Penitentiary, and how to formulate an ideal individual rehabilitation model to address this recidivism rate. This research uses empirical legal methods with a qualitative approach. Data were obtained through direct observation, in-depth interviews, and questionnaires distributed to 40 recidivist inmates as the research sample. The research findings reveal that the existing rehabilitation model is still general and does not provide special treatment for recidivists with specific psychological tendencies and economic motives. As a solution, researchers propose an Individualized Guidance Model that integrates three pillars of approach: biological, socio-psychological, and physical-economic. This model prioritizes an Individual Treatment Plan through cognitive counseling, mental therapy, and job training, along with an independent financial management system. Drawing on Enrico Ferri's Biological Theory and the Theory of Relative Punishment, this guidance model is expected to be a more precise instrument for changing inmate behavior and sustainably reducing recidivism rates.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29