PERAN BAHASA INDONESIA DALAM SKALA INTERNASIONAL
Kata Kunci:
Bahasa Indonesia, Soft Power, Diplomasi Budaya, Globalisasi Bahasa, ASEANAbstrak
Bahasa Indonesia telah menempati posisi strategis di arena global sebagai bahasa kerja resmi ASEAN sejak 1976 dengan 10-15% dokumen summit menggunakan bahasa ini untuk membahas isu ekonomi senilai 3 triliun dolar AS, bahasa Sidang Umum UNESCO melalui Resolusi 42 C/28 tahun 2023, serta pengaruh digital masif dengan peningkatan 400% pencarian Google Trends "Bahasa Indonesia" dari 2019-2025 dan 500 juta views tahunan di YouTube/TikTok yang mendukung diplomasi budaya melalui diaspora 8 juta jiwa dan konten viral K-Pop style, menjadikannya alat soft power Indonesia di tengah 252 juta penutur ke-10 dunia menurut Ethnologue 2025; penelitian ini bertujuan menganalisis peran strategisnya dalam diplomasi internasional seperti kontribusi resolusi iklim PBB, ekonomi digital via ekspansi Tokopedia ke ASEAN, dan pendidikan global dengan 50+ universitas BIPA di luar negeri seperti Melbourne dan Moscow; metode kualitatif deskriptif menerapkan analisis konten dokumen resmi Badan Bahasa/UNESCO, studi kasus penggunaan di ASEAN/PBB/platform digital, wawancara 15 pakar.
Indonesian has secured a strategic global position as the official working language of ASEAN since 1976 with 10-15% of summit documents utilizing it for discussions on 3 trillion USD economic issues, UNESCO General Conference language via Resolution 42 C/28 in 2023, and massive digital influence with a 400% surge in Google Trends searches for "Indonesian language" from 2019-2025 alongside 500 million annual YouTube/TikTok views supporting cultural diplomacy through an 8 million-strong diaspora and K-Pop-style viral content, positioning it as Indonesia's soft power tool amid 252 million speakers ranking 10th worldwide per Ethnologue 2025; this study aims to analyze its strategic role in international diplomacy such as PBB climate resolution contributions, digital economy via Tokopedia's ASEAN expansion, and global education with 50+ BIPA programs at foreign universities like Melbourne and Moscow; qualitative descriptive methods employ content analysis of official Badan Bahasa/UNESCO documents, case studies of usage in ASEAN/PBB/digital platforms, interviews with 15 experts.



