ANALISIS TREN DAN KETERGANTUNGAN IMPOR KOMODITAS ELEKTRONIK INDONESIA DARI KOREA SELATAN BERDASARKAN DATA BADAN PUSAT STATISTIK

Penulis

  • Vira Dewi Universitas Pelita Bangsa

Kata Kunci:

Impor Elektronik, HS 85, Korea Selatan, Ketergantungan Impor, Analisis Tren

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren dan tingkat ketergantungan impor komoditas elektronik Indonesia dari Korea Selatan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2023–2025. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis tren, fluktuasi bulanan, dan perbandingan antar tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa impor HS 85 mengalami penurunan tipis dari tahun 2023 hingga 2025, namun secara umum tetap berada pada tingkat yang tinggi dan stabil. Fluktuasi bulanan menunjukkan pola peningkatan signifikan pada bulan Maret dan Mei yang dipengaruhi oleh siklus produksi industri, permintaan manufaktur, serta dinamika rantai pasok global. Ketergantungan impor dipengaruhi oleh keunggulan teknologi Korea Selatan, kebutuhan industri domestik, integrasi rantai pasok internasional, serta kebijakan IK-CEPA. Kesimpulannya, Indonesia masih memiliki ketergantungan struktural terhadap impor elektronik dari Korea Selatan yang sulit berkurang dalam jangka pendek.

This study aims to analyze trends and levels of dependence on Indonesian electronic commodity imports from South Korea based on data from the Central Statistics Agency (BPS) for the 2023–2025 period. The method used is descriptive quantitative, with trend analysis, monthly fluctuations, and inter-annual comparisons. The results show that HS 85 imports experienced a slight decline from 2023 to 2025, but generally remained at a high and stable level. Monthly fluctuations show a significant increase in March and May, influenced by the industrial production cycle, manufacturing demand, and global supply chain dynamics. Import dependence is influenced by South Korea's technological superiority, domestic industrial needs, international supply chain integration, and the IK-CEPA policy. In conclusion, Indonesia still has a structural dependence on electronic imports from South Korea that is difficult to reduce in the short term.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29