ANALISIS KESELARASAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALIHAN NA TOLU DAN MARSIALAP ARI DALAM BUDAYA MANDAILING NATAL TERHADAP PRINSIP PERBANKAN SYARIAH
Kata Kunci:
Dalihan Na Tolu, Marsialap Ari, Perbankan Syariah, Mandailing Natal, Konvergensi KulturalAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis secara mendalam konvergensi konseptual antara nilai-nilai kearifan lokal kebudayaan Mandailing Natal dengan prinsip operasional perbankan syariah. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), data sekunder yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku muamalah, dan dokumen akademik dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) serta komparasi konseptual. Hasil penelitian menunjukkan adanya titik temu aksiologis dan fungsional yang kuat antara kedua entitas tersebut. Struktur triadik dalam filosofi Dalihan Na Tolu terbukti selaras dengan etika perbankan syariah: nilai Somba mar-Mora merefleksikan prinsip pemuliaan nasabah (shiddiq); Manat mar-Kahanggi sejalan dengan tata kelola mitigasi risiko berbasis keadilan ('adal); dan Elek mar-Anak Boru mewujud pada proteksi finansial dari praktik eksploitatif (maghrib). Selain itu, tradisi gotong royong agraris Marsialap Ari merefleksikan spirit ta'awun (tolong-menolong) dan sistem kemitraan tanpa riba. Secara aksiologis, penyelarasan ini didukung oleh kaidah fikih Al-'Adah Al-Muhakkamah yang menjembatani pencapaian kesejahteraan kultural (Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon) menuju kemenangan spiritual (falah). Implikasi praktis penelitian ini merekomendasikan institusi perbankan syariah di Sumatera Utara untuk mengadopsi modal sosial ini ke dalam strategi pemasaran melalui pendekatan kebudayaan (cultural approach), seperti mengemas produk pembiayaan mikro menggunakan istilah lokal demi meningkatkan akseptabilitas masyarakat adat.
This study aims to explore and analyze in depth the conceptual convergence between the local wisdom values of Mandailing Natal culture and the operational principles of Islamic banking. Utilizing a qualitative approach with a library research method, secondary data sourced from scientific journals, muamalah textbooks, and academic documents were analyzed using content analysis and conceptual comparison techniques. The results indicate a strong axiological and functional intersection between the two entities. The triadic structure within the Dalihan Na Tolu philosophy proves to be aligned with Islamic banking ethics: the value of Somba mar-Mora reflects the principle of customer honoring (shiddiq); Manat mar-Kahanggi aligns with justice-based risk mitigation management ('adal); and Elek mar-Anak Boru manifests as financial protection against exploitative practices (maghrib). Furthermore, the agrarian mutual cooperation tradition of Marsialap Ari reflects the spirit of ta'awun (mutual assistance) and a partnership system free from usury (riba). Axiologically, this alignment is justified by the Islamic jurisprudence maxim Al-'Adah Al-Muhakkamah, bridging the achievement of cultural well-being (Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon) toward spiritual victory (falah). The practical implication of this research recommends Islamic banking institutions in North Sumatra to adopt this social capital into their marketing strategies through a cultural approach, such as packaging microfinancing products using local terminology to enhance the acceptability of the indigenouscommunity.




