DINAMIKA EKSPOR–IMPOR KOMODITAS PERKEBUNAN INDONESIA DI ASIA: PENDEKATAN REVEALED COMPARATIVE ADVANTAGE DAN TRADE SPECIALIZATION INDEX TAHUN 2025
Kata Kunci:
Perdagangan Internasional, Komoditas Perkebunan, RCA, TSI, Import ShareAbstrak
Perdagangan komoditas perkebunan merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia yang berkontribusi terhadap devisa negara dan stabilitas ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika ekspor–impor komoditas perkebunan Indonesia dengan mitra dagang utama di kawasan Asia serta mengkaji tingkat daya saing dan spesialisasi perdagangan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data cross-section tahun 2025 yang diperoleh dari UN Comtrade. Analisis dilakukan menggunakan indikator Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Trade Specialization Index (TSI), dan Import Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa China dan India merupakan pasar utama ekspor dengan nilai RCA tertinggi masing-masing sebesar 0,335 dan 0,283. Namun demikian, seluruh nilai RCA berada di bawah satu (RCA < 1), yang mengindikasikan bahwa Indonesia belum memiliki keunggulan komparatif yang kuat dalam ekspor komoditas perkebunan di pasar Asia. Nilai TSI yang dominan positif (0,22–0,81) menunjukkan bahwa Indonesia berperan sebagai eksportir komoditas perkebunan. Struktur impor menunjukkan adanya ketergantungan pada negara tertentu seperti India (24,32%), Thailand (16,22%), dan Malaysia (13,51%). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun Indonesia memiliki peran penting sebagai eksportir, struktur perdagangan masih terkonsentrasi dan berpotensi menimbulkan risiko ketergantungan. Oleh karena itu, diperlukan strategi diversifikasi pasar dan penguatan hilirisasi industri untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan ekonomi nasional.
Trade in plantation commodities is one of the strategic sectors in Indonesia’s economy, contributing significantly to foreign exchange earnings and economic stability. This study aims to analyze the export–import dynamics of Indonesia’s plantation commodities with its major trading partners in Asia, as well as to assess the level of competitiveness and trade specialization. The research employs a quantitative descriptive approach using cross-sectional data for the year 2025 obtained from UN Comtrade. The analysis utilizes several indicators, namely Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Trade Specialization Index (TSI), and Import Share. The results indicate that China and India are the main export markets, with the highest RCA values of 0.335 and 0.283, respectively. The predominantly positive TSI values (0.22–0.81) suggest that Indonesia acts as an exporter of plantation commodities. However, the import structure reveals a dependency on certain countries such as India (24.32%), Thailand (16.22%), and Malaysia (13.51%). These findings imply that although Indonesia does not yet possess a strong comparative advantage in exporting plantation commodities, the trade structure remains concentrated and may pose dependency risks. Therefore, strategies such as market diversification and industrial downstreaming are necessary to enhance national economic resilience.




