https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/issue/feedJurnal Humaniora Multidisipliner2026-10-18T04:59:33+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/article/view/28628PENGGUNAAN SYNTHESIZER DALAM MUSIK SASAMBO 2026-10-17T07:52:40+00:00Destonalson Barahamadestonbarahama22@gmail.com<p>Tulisan ini membahas tentang penggunaan synthesizer dalam musik sasambo. <br>Penggunaan instrumen modern pada musik etnis Sangihe serta kolaborasinya dengan musik <br>modern dapat menjadi sebuah upaya dalam rangka mengembangkan serta memajukan budaya <br>daerah tercinta Sangihe khususnya bidang musik. Sasambo adalah budaya musik Sangihe yang <br>biasa dinyanyikan dengan di iringan tabuhan tagonggong (gendang Sangihe). Penggunaan <br>synthesizer pada musik sasambo dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah gaya musik yang baru <br>yang dapat memperkaya khasana musik daerah Sangihe khususnya, nasional pada umumnya. <br>Genre fusion dipilih karena dirasa memiliki keakraban dengan karakter musikal penulis. Di <br>bidang penelitian, penulis menggunakan metode kualitatif yaitu menggunakan data yang <br>terkumpul dari beberapa sumber berupa audio, video, buku, dan wawancara. Untuk arena <br>eksplorasi teknik, penulis memilih lagu Batu Timbule karena dianggap cocok bila diaransir dalam <br>genre fusion. Hasil tugas akhir resital menyimpulkan bahwa penggunaan synthesizer melalui <br>pilihan yang tepat terhadap register, dan sound effect serta penggunaan modulation dan pitch <br>band dapat menciptakan sebuah nuansa baru di dalam musik sasambo.</p> <p>This paper discusses of synthesizers in sasambo music. Implementation of modern <br>instrument in Sangihe ethnic music and collaboration with modern music can be an effort in order <br>to develop and advance the culture of Sangihe beloved area, especially in the field of music. Sasambo <br>is a Sangihe musical culture with tagonggong (Sangihe percussion). Implementation of synthesizer <br>in sasambo music is intended to produce a new musical style that can enrich the musical repertoire <br>of the Sangihe region in particular and national in general. The fusion genre was chosen because it <br>felt familiar with the author's musical character. In the field of research, the author uses qualitative <br>methods, namely using data collected from several sources in the form of audio, video, books, and <br>interviews. For the technical exploration arena, the author chose the song Batu Timbule because it is <br>considered suitable if it is arranged in the fusion genre. Conclusion of the final project recital that <br>use of a synthesizer through the right choice of registers, and sound effects as well as the use of <br>modulation and pitch bands can create a new nuance in sasambo music.</p>2026-10-18T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/article/view/28639ANALISIS PENYEBAB KEKURANGAN PARTISIPASI ANAK DAN ORANG TUA PADA KEBUTUHAN PENYEDIAAN FASILITAS PUBLIK 2026-10-18T04:55:56+00:00M. Irfan Juvrandairfanjuvranda000@gmail.comDewa Alfianta Demdemdewa@gmail.com Fazri Deanovanfazrideanovan333@gmail.com Nova Asriananova.asriana@ar.itera.ac.id<p>Penelitian ini menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi anak <br>dan orang tua dalam penyediaan fasilitas publik di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. <br>Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi berbagai <br>hambatan yang mempengaruhi tingkat partisipasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa <br>hambatan ekonomi, sosial dan budaya, aksesibilitas dan keamanan, serta keterbatasan informasi <br>merupakan faktor utama yang menghalangi partisipasi. Keterbatasan finansial, norma sosial <br>tertentu, dan aksesibilitas yang tidak memadai menjadi penghalang utama. Selain itu, kurangnya <br>informasi mengenai pembangunan fasilitas publik juga mengurangi keterlibatan masyarakat. <br>Temuan ini menekankan pentingnya mengatasi hambatan-hambatan tersebut untuk <br>meningkatkan partisipasi. Langkah-langkah edukasi, kebijakan yang mendukung partisipasi <br>inklusif, serta strategi yang lebih efektif diperlukan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat <br>dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.</p>2026-10-18T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/article/view/28629NILAI-NILAI AGAMA HINDU DALAM TRADISI NGEMBAK GENI NYAKAN DIWANG DESA BANYUATIS KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG2026-10-17T07:56:09+00:00Gede Prabudinatha Gautama gedeprabudinatha97@gmail.com<p>Latar belakang masyarakat Desa Pakraman Banyuatis Kecamatan Banjar Kabupaten <br>Buleleng hingga saat ini masih melaksanakan tradisi nyakan diwang. Mereka meyakini bahwa <br>nyakan diwang selain merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh para leluhurnya, <br>juga sebagai bentuk pembersihan rumah terutama penyepian dapur setiap keluarga di Desa <br>tersebut.. Tradisi ini diyakini bahwa dengan nyakan diwang maka masyarakat desa akan terbebas <br>dari leteh (kotor). Pelaksanaan dari tradisi nyakan diwang dilaksanakan serangkaian dengan Hari <br>Raya Nyepi yakni sehari setelah Sipeng (Nyepi) berlangsung yaitu pada saat Ngembak Geni. <br>Usaha-usaha masyarakat untuk tetap mempertahankan tradisi ini, salah satunya adalah melalui <br>peningkatan pemahaman masyarakat melalui pendidikan, baik informal, formal maupun <br>nonformal. Pendidikan ini dapat berlangsung di sekolah, di lingkungan keluarga, maupun di <br>masyarakat dalam pergaulan sehari-hari. Melalui pendidikan ini diharapkan seluruh masyarakat <br>Desa Pakraman Banyuatis Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dari usia muda hingga tua tetap <br>mempertahankan tradisi nyakan diwang ini sebagai salah satu tradisi warisan leluhur yang perlu <br>dilestarikan.</p> <p>The people of Banyuatis Village, Banjar District, Buleleng Regency, to this day still carry <br>out the tradition of nyakan diwang. They believe that nyakan diwang is not only a tradition handed <br>down from generation to generation by their ancestors, but also a form of cleaning the house, <br>especially cleaning the kitchen of each family in the village. This tradition is believed to mean that by <br>nyakan diwang the village community will be free from leteh (dirty). The implementation of the <br>Nyepi Diwang tradition is carried out in series with Nyepi Day, namely the day after Sipeng (Nyepi) <br>takes place, namely during Ngembak Geni. One of the community's efforts to maintain this tradition <br>is by increasing community understanding through education, both informal, formal and non<br>formal. This education can take place at school, in the family environment, or in the community in <br>daily interactions. Through this education, it is hoped that the entire community of Banyuatis <br>Village, Banjar District, Buleleng Regency, from young to old ages, will continue to maintain the <br>nyakan diwang tradition as one of the ancestral heritage traditions that needs to be preserved.</p>2026-10-18T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/article/view/28640PEMBUATAN ECO-ENZYME UNTUK MENINGKATKAN KESUBURAN TANAMAN KANGKUNG WARGA KAMPUNG HOLTEKAMP DISTRIK MUARA TAMI KOTA JAYAPURA 2026-10-18T04:59:33+00:00Rannu A. Bendururannuapriadibenduru@gmail.comAlfred Alfonso Antohalfred.antoh@gmail.com<p>The impact of the scarcity of subsidized non-organic fertilizers which causes the <br>agricultural production of Holtekamp villagers to decrease so that there needs to be other <br>alternatives to subsidized fertilizers, one of which is Eco-enzyme. The aims of this research are 1). <br>Knowing how to make Eco-enzyme using household organic waste. 2). Knowing the effect of Eco<br>enzyme on the growth of kale. 3). Knowing the comparison of plant growth that was given eco<br>enzyme with plants without giving eco-enzyme. Methods: The design of this study used a randomized <br>block design (RAK). The treatments used in this study were P1 (without treatment or without Eco<br>enzyme administration), P2 (Eco-enzyme administration) with a dose of Eco-enzyme 10 ml/l water. <br>Parameters observed were plant height (cm), number of leaves, and leaf area (〖cm〗^2). The results <br>showed that the administration of Eco-enzyme fluids could increase the fertility of water spinach <br>plants. Where, kale without Eco-enzyme at the age of 25 days had a height of 21 cm, 21.2 cm, and 21.2 <br>cm, many leaves: 8, 9, and 9, and leaf area: 19.36 cm2, 17.64 cm2, and 16.59 cm2. Meanwhile, kale <br>plants that were given Eco-enzyme at the age of 25 days had a height of: 28.7 cm, 28.5 cm, and 28 cm, <br>many leaves: 12, 12, and 11, and leaf area: 27 cm2, 25 cm2, and 24.5 cm2. From the process of making <br>Eco-enzyme, it can be seen how to make it using ingredients from leftover vegetables or fruit skins <br>added with water and sugar with a fermentation process for 3 months to produce eco-enzyme <br>products ready for use; provision of Eco-enzyme can increase the fertility (growth rate) of kale plants <br>thereby increasing crop production; and Water spinach plants that were given the Eco-enzyme had a <br>faster growth rate than the kale plants without the Eco-enzyme.</p>2026-10-18T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhm/article/view/28630EFEKTIVITAS PELAYANAN ONLINE MELALUI SIAPEL DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA MALANG2026-10-17T08:00:15+00:00Etza Niki Thalitaetzathalita26@gmail.comErtien Rining Nawangsariertien_rining.adneg@upnjatim.ac.id<p>Pengaruh revolusi industri digital terus memengaruhi berbagai sektor kehidupan, <br>termasuk pemerintahan dan pelayanan publik. Pandemi COVID-19 mempercepat transformasi <br>digital, termasuk dalam administrasi publik. Tulisan ini meneliti efektivitas pelayanan <br>administrasi kependudukan online melalui aplikasi SIAPEL di Disdukcapil Kota Malang, dengan <br>fokus pada pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi. Metode penelitian kualitatif deskriptif <br>digunakan dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil <br>penelitian menunjukkan bahwa pelayanan SIAPEL telah mencapai tujuan yang ditetapkan dengan <br>baik, meskipun masih ada kendala dalam sosialisasi. Integrasi dengan stakeholder dan prosedur <br>pelayanan sudah berjalan efektif, sementara adaptasi terhadap sarana, prasarana, dan tenaga <br>kerja juga telah dilakukan dengan baik. Meskipun demikian, diperlukan optimalisasi dalam <br>kegiatan sosialisasi untuk memastikan pelayanan online ini dapat diakses secara merata oleh <br>masyarakat.</p>2026-10-18T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Multidisipliner