PENGUATAN KETAHANAN KELUARGA DI KABUPATEN KEDIRI PERSPEKTIF TEORI RESILIENCE WALSH (Studi Di KUA, DP3A, Dan BIKKSA)

Penulis

  • Radifa Isnain Nafila UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
  • Mufidah Cholil UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kata Kunci:

Ketahanan Keluarga, Teori Resilience, Walsh, KUA, DP3A, BIKKSA

Abstrak

Penelitian ini mengkaji tentang penguatan ketahanan keluarga di Kabupaten Kediri perspektif Teori Resilience Walsh (Studi di KUA, DP3A, dan BIKKSA). Ketiga sinergi yang diberikan oleh KUA, DP3A, dan BIKKSA akan membantu mewujudkan ketahanan keluarga di Kabupaten Kediri. Teori Ketahanan Keluarga (Family Resilience Theory, Walsh) sangat relevan untuk lembaga ini karena berperan dalam pencegahan, pendampingan, dan pemulihan keluarga khususnya terkait pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kerentanan perempuan dan anak, konflik suami-istri, kesiapan menjadi orang tua, pemenuhan hak anak. Pada tahun 2024 data perceraian mencapai 399.921 kasus. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian adalah kurangnya literasi dan kesiapan para calon pengantin tentang materi kuliah pra nikah atau yang kita kenal dengan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. Dalam hal ini Aisyiyah hadir dengan BIKKSA (Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Aisyiyah) Kota Malang mempersembahkan kurikulum Kuliah Pra Nikah yang komprehensif selama 3 hari dengan diakhiri dengan wisuda sebagai apresiasi bagi peserta atas ketekunannya dalam mengikuti kuliah pra nikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kurikulum kuliah pra nikah dalam upaya membentuk keluarga sakinah di masyarakat luas. Metode penelitian merupakan penelitian lapangan dimana peneliti merupakan salah satu peserta dalam kuliah pra nikah ini. Hasil penelitian sinergi ketiga lembaga dapat mewujudkan ketahanan keluarga. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Organisasi masyarakat dapat menjadi perpanjangan tangan bagi pemerintah setempat, KUA, dan pengadilan dalam rangka menekan angka perceraian dengan penguatan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. Hal yang positif ini telah dicanangkan Pimpinan Pusat hingga ditularkan pada akar rumput setingkat ranting atau dalam lingkup desa.

This study examines the strengthening of family resilience in Kediri Regency from the perspective of Walsh's Resilience Theory (Study at KUA, DP3A, and BIKKSA). The three synergies provided by KUA, DP3A, and BIKKSA will help realize family resilience in Kediri Regency. The Family Resilience Theory (Family Resilience Theory, Walsh) is very relevant for this institution because it plays a role in the prevention, assistance, and recovery of families, especially related to marriage, domestic violence (KDRT), the vulnerability of women and children, husband-wife conflict, readiness to become parents, fulfillment of children's rights. In 2024, divorce data reached 399,921 cases. One of the factors causing the high divorce rate is the lack of literacy and readiness of prospective brides and grooms regarding pre-marital lecture materials or what we know as marriage guidance for prospective brides and grooms. In this case, Aisyiyah is present with BIKKSA (Aisyiyah Sakinah Family Consultation Bureau) Malang City presenting a comprehensive 3-day Pre-Marital Lecture curriculum which ends with a graduation as an appreciation for participants for their perseverance in attending pre-marital lectures. The purpose of this study is to describe the premarital course curriculum in an effort to create harmonious families in the wider community. The research method is field research, where the researcher is one of the participants in this premarital course. The results of the study indicate that the synergy of the three institutions can create family resilience. The conclusion of this study is that community organizations can act as an extension of the local government, the Office of Religious Affairs (KUA), and the courts in order to reduce the divorce rate by strengthening marriage guidance for prospective brides and grooms. This positive approach has been initiated by the Central Leadership and has been disseminated down to the grassroots level, even within the village.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-30