FORMULA 1 SEBAGAI RUANG PERTEMUAN BUDAYA GLOBAL: STUDI TENTANG DIPLOMASI BUDAYA DAN NASIONALISME
Kata Kunci:
Formula 1, Diplomasi Budaya, Soft Power, Representasi Nasional, Globalisasi BudayaAbstrak
This study examines Formula 1 (F1) as a phenomenon transcending mere sporting competition, transforming into a convergence space for global cultures and an intercultural diplomatic mechanism. Employing qualitative methodology through case study approaches and critical discourse analysis, this research explores host nations' strategies in leveraging F1 momentum to project national identity, technological supremacy, and modernity as soft power manifestations. Grounded in theoretical frameworks of Cultural Diplomacy (Cummings), Soft Power (Nye), and Cultural Representation (Hall & Anderson), this investigation reveals cross-cultural dynamics at each Grand Prix as reflections of nation branding tactics that consolidate positions within global constellations. Research findings demonstrate that F1 operates as a symbolic arena where cultural diplomacy, nationalist sentiments, and globalization currents interweave intricately in constructing international perceptions of nation-state identity. The study illuminates how these multidimensional interactions establish F1 as a sophisticated platform for cultural negotiation and geopolitical positioning.
Penulisan ini menganalisis Formula 1 (F1) sebagai fenomena yang melampaui dimensi kompetisi olahraga semata, bertransfromasi menjadi medan pejumpaan lintas budaya global sekaligus mekanisme diplomasi kultural antarbangsa. Mengadopsi metodologi kualitatif melalui pendekatan studi kasus dan kasus pembacaan wacana kritis, riset ini mengeksplorasi strategi negara penyelenggara dalam memanfaatkan momentum F1 untuk memproyeksikan jati diri nasional, supremasi teknologi, dan wajah modernitas sebagai manifestasi kekuatan lunak. Berpijak pada kerangka teoritis Cultural Diplomacy (Cummings), Soft Power (Nye), dan Representasi Budaya (Hall & Anderson), penelitian ini mengungkap dinamika interaksi antarbudaya pada setiap penyelengaraan Grand Prix sebagai refleksi taktik pembentukan citra negara (nation branding) yang memperkokoh kedudukan dalam konstelasi global. Temua riset ini membuktikan bahwa F1 beroperasi sebagai arena simbolis tempat diplomasi kultural, sentiment nasionalisme, dan arus globalisasi bertaut erat dalam mengonstruksi persepsi internasional terhadap identitas sebuah negara-bangsa.



