https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/issue/feedJurnal Humaniora Revolusioner2026-05-30T17:58:43+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/21659DINAMIKA PRODUKSI PADI BERDASARKAN CURAH HUJAN DIKABUPATEN BOJONEGORO2026-05-07T02:33:43+00:00Eka Putri kharismaekaputri120@gmail.comLaily Agustina Rahmawatilaily.tiyangalit@gmail.com<p><strong><em>Abstrak:</em></strong> Perubahan iklim yang ditandai dengan fluktuasi curah hujan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi sektor pertanian, khususnya produksi padi di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat produktivitas padi serta menganalisis pengaruh dinamika curah hujan terhadap produksi dan produktivitas padi selama periode 2020–2024. Metode yang digunakan meliputi observasi, partisipasi (magang), dan studi data sekunder dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan mengalami fluktuasi signifikan, dengan peningkatan pada tahun 2022 dan penurunan tajam pada tahun 2023. Meskipun demikian, produksi padi cenderung meningkat dari 756.967 ton pada tahun 2020 menjadi 878.114 ton pada tahun 2024, sementara produktivitas relatif stabil pada kisaran 5–6 ton/ha. Hal ini mengindikasikan bahwa curah hujan tidak memiliki pengaruh linier yang kuat terhadap produksi maupun produktivitas padi. Faktor lain seperti sistem irigasi, luas panen, penggunaan varietas unggul, dan teknologi budidaya berperan lebih dominan dalam menjaga stabilitas produksi. Dengan demikian, dinamika produksi padi di Kabupaten Bojonegoro merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor iklim dan faktor teknis pertanian.</p> <p><strong><em>Abstract:</em></strong> <em>Climate change, characterized by fluctuations in rainfall, is one of the key factors affecting the agricultural sector, particularly rice production in Bojonegoro Regency. This study aims to determine rice productivity levels and analyze the impact of rainfall dynamics on rice production and productivity during the 2020–2024 period. The methods used include observation, fieldwork (internship), and analysis of secondary data from relevant agencies. The results indicate that rainfall experienced significant fluctuations, with an increase in 2022 and a sharp decline in 2023. Nevertheless, rice production tended to rise from 756,967 tons in 2020 to 878,114 tons in 2024, while productivity remained relatively stable at 5–6 tons/ha. This indicates that rainfall does not have a strong linear effect on either rice production or productivity. Other factors, such as irrigation systems, harvested area, the use of high-yielding varieties, and cultivation technologies, play a more dominant role in maintaining production stability. Thus, the dynamics of rice production in Bojonegoro Regency result from a complex interaction between climatic factors and agricultural technical factors.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22344PERAN JAMALUDDIN AL AFGHANI DALAM GERAKAN PERUBAHAN ISLAM MODERN2026-05-29T10:59:44+00:00Siti Nurhaliza Yustia05sitinurhalizayustiiaa@gmail.com<p>Sejak wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW), wahyu tersebut telah melahirkan banyak pemikir dan pejuang yang memiliki dedikasi tinggi dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus membela dan mengibarkan panji-panji ajaran Islam di muka bumi ini, untuk mengangkat martabat manusia dari kegelapan kebodohan dan kemunduran menuju cahaya petunjuk Allah, yang melahirkan pemikir dan pejuang Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani. Dia, bersama para pendukungnya, menentang gelombang kuat ideologi yang dibawa oleh penjajah Barat, pada saat Islam masih terbuai oleh kelalaian dan kemunduran.</p> <p><em>Since the revelation was sent down to the Prophet Muhammad (PBUH), it has produced many thinkers and fighters who have high dedication to spreading Islamic da'wah, while also defending and raising the banner of Islamic messages on this earth, to lift the status of humanity from the darkness of ignorance and backwardness towards the light of God’s guidance, which gave birth to Islamic thinkers and fighters such as Jamaluddin Al-Afghani. He, along with his supporters, opposed the strong wave of ideology carried out by Western colonizers, at a time when Islam was still lulled by negligence and backwardness.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22317LINGUISTIC STRATEGIES IN DIGITAL ADVERTISING: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF SKINCARE PRODUCT BRANDING ON SOCIAL MEDIA2026-05-29T03:28:04+00:00Siska Mustikawati Hasibuansiskamustikaw.17@icloud.comGina Audyrisani Rizalgina48802@gmail.comSalsabila Eka Anandasayaecha123@gmail.comAyudiah Cisitaayudiahcisita@gmail.comM. Natsirnatsirfbs@unimed.ac.id<p><em>The rapid growth of the digital beauty industry has transformed skincare advertising on social media into a powerful discursive space where language not only promotes products but also shapes beauty standards, consumer identities, and emotional experiences. This study aims to analyze linguistic strategies employed in digital skincare advertisements on Instagram and TikTok and to examine how these strategies influence users’ perceptions, self-evaluation, and meaning-making processes. This research employed a qualitative approach using a critical case study design integrated with Critical Discourse Analysis (CDA). Data were collected through semi-structured in-depth interviews with 12 active social media users aged 18–35, digital observation of skincare advertising content, and document analysis of promotional materials, including captions, slogans, testimonials, and comment sections. Data were analyzed using thematic analysis supported by Fairclough’s three-dimensional CDA framework, encompassing textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings reveal three major themes: the internalization of beauty standards as symbolic pressure, ambivalence between empowerment and self-anxiety, and negotiation of meaning in digital discourse consumption. The study demonstrates that skincare advertising discourse extends beyond commercial persuasion, functioning as a mechanism of identity construction, emotional regulation, and ideological normalization in digital environments. Participants were found to actively negotiate advertising messages while remaining partially influenced by dominant beauty discourse. Theoretically, this study contributes to Critical Discourse Analysis by foregrounding lived experience, emotional ambivalence, and audience agency in digital beauty culture. Practically, the findings highlight the importance of digital media literacy, ethical advertising regulation, and critical awareness toward persuasive discourse in contemporary social media environments.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22257TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN EKOSISTEM PESISIR (MANGROVE)2026-05-26T13:38:57+00:00Ribka Ndunribkhandun21@gmail.comAgustin L. M Rohi Riwulennyaugusten@gmail.com<p>Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam perlindungan ekosistem pesisir, khususnya hutan mangrove, di Kabupaten Rote Ndao dalam perspektif hukum lingkungan, dengan fokus utama pada implementasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan pesisir. Fungsi utamanya meliputi melindungi garis pantai dari abrasi dan erosi, mencegah masuknya air laut ke daratan, menyerap karbon, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, kepiting, dan udang yang mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Namun, dalam praktiknya, ekosistem mangrove di Kabupaten Rote Ndao menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, konversi lahan untuk tambak, pemukiman, serta aktivitas ilegal lainnya yang mengabaikan prinsip keberlanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan yuridis-normatif, yaitu dengan menelaah ketentuan hukum yang relevan, serta menganalisis praktik perlindungan ekosistem mangrove yang berlangsung di Kabupaten Rote Ndao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 telah mengatur perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara komprehensif, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan signifikan. Tantangan tersebut meliputi lemahnya sistem pengawasan partisipatif, kurang efektifnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan mangrove, serta rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan perlunya penguatan peran penting pemerintah daerah, baik dalam aspek koordinasi lintas sektor, penyediaan kebijakan teknis, maupun pemberian sanksi tegas terhadap pelanggaran. Penelitian ini juga merekomendasikan beberapa langkah perbaikan dalam aspek hukum, seperti peningkatan kesadaran hukum masyarakat melalui pendidikan lingkungan, penguatan kapasitas aparat penegak hukum, serta pemberian insentif bagi masyarakat yang terlibat aktif dalam rehabilitasi mangrove. Dengan demikian, perlindungan ekosistem mangrove dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan demi mewujudkan kelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Rote Ndao.</p> <p> </p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/21700PERBEDAAN DAN PERSAMAAN BUDAYA ANTARA ETNIS LAMAHOLOT DAN ETNIS SIKKA KROWE2026-05-08T01:46:47+00:00Claudius Mario Aldi Lodan Wahangaconkwahang333@gmail.comJohakim Reda Langodayakimlangoday222@gmail.com<p>Tulisan ini mengkaji sejarah, budaya, serta perbedaan dan persamaan antara etnis Lamaholot dan etnis Sikka Krowe, khususnya suku Kangae, di wilayah Flores. Etnis Lamaholot dikenal sebagai masyarakat yang mendiami wilayah Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, hingga sebagian Alor dengan karakter budaya maritim, bahasa Lamaholot, serta kehidupan komunal yang kuat. Sementara itu, etnis Sikka Krowe, termasuk suku Kangae, merupakan masyarakat agraris yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka dan memiliki sistem adat, bahasa, serta tradisi budaya yang khas. Suku Kangae dikenal sebagai bagian penting dari masyarakat Sikka Krowe yang masih mempertahankan nilai-nilai adat, penghormatan terhadap leluhur, serta tradisi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara lapangan. Data diperoleh melalui buku, jurnal ilmiah, dokumen budaya, serta wawancara dengan beberapa tokoh adat dari etnis Lamaholot dan Sikka Krowe. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis guna memahami identitas budaya, sejarah, sistem kepercayaan, bahasa, serta dinamika sosial masyarakat kedua etnis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun etnis Lamaholot dan etnis Sikka Krowe memiliki perbedaan dalam bahasa, sistem kepercayaan, mata pencaharian, dan pola kehidupan sosial, keduanya tetap memiliki persamaan dalam nilai solidaritas, gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, dan pelestarian adat istiadat. Perbedaan budaya tersebut menjadi kekayaan budaya lokal yang memiliki nilai historis, sosial, dan filosofis bagi masyarakat Flores. Oleh karena itu, pelestarian budaya Lamaholot dan Sikka Krowe, termasuk tradisi suku Kangae, menjadi penting sebagai upaya menjaga identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi dan modernisasi.</p> <p><em>This study examines the history, culture, as well as the differences and similarities between the Lamaholot ethnic group and the Sikka Krowe ethnic group, particularly the Kangae tribe, in Flores. The Lamaholot ethnic group is known as a community inhabiting the regions of East Flores, Solor, Adonara, Lembata, and parts of Alor, characterized by a maritime culture, the Lamaholot language, and a strong communal life. Meanwhile, the Sikka Krowe ethnic group, including the Kangae tribe, is an agrarian society living in Kabupaten Sikka with distinctive customary systems, language, and cultural traditions. The Kangae tribe is recognized as an important part of the Sikka Krowe community that continues to preserve customary values, respect for ancestors, and socio-cultural traditions in everyday life. This research employs a descriptive qualitative method with a library research and field interview approach. Data were collected through books, scientific journals, cultural documents, and interviews with several traditional leaders from the Lamaholot and Sikka Krowe ethnic groups. The collected data were then analyzed descriptively and analytically to understand the cultural identity, history, belief systems, language, and social dynamics of both ethnic communities. The results of the study indicate that although the Lamaholot and Sikka Krowe ethnic groups differ in language, belief systems, livelihoods, and social life patterns, they share similarities in the values of solidarity, mutual cooperation, respect for ancestors, and the preservation of customary traditions. These cultural differences constitute a form of local cultural wealth that holds historical, social, and philosophical significance for the people of Flores. Therefore, the preservation of Lamaholot and Sikka Krowe cultures, including the traditions of the Kangae tribe, is essential as an effort to maintain local cultural identity amid the currents of globalization and modernization.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22328NEGOSIASI GENDER DALAM PRAKTIK BESIRU: PERAN IBU RUMAH TANGGA DALAM STRATEGI ADAPTASI EKONOMI KELUARGA PETANI DI DUSUN SEJARI, SUMBAWA 2026-05-29T06:48:01+00:00Putri Lianaputriliana910@gmail.comImran Siswadiimransiswadi24@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji negosiasi gender dalam praktik <em>besiru</em> serta mengeksplorasi peran ibu rumah tangga dalam strategi adaptasi ekonomi keluarga petani di Dusun Sejari, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Rumah tangga petani di wilayah pedesaan masih menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat fluktuasi hasil pertanian, perubahan iklim, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya produksi. Dalam konteks tersebut, <em>besiru</em> sebagai praktik kerja kolektif berbasis timbal balik tidak hanya berfungsi sebagai bentuk gotong royong tradisional, tetapi juga menjadi arena sosial yang merefleksikan relasi gender dalam masyarakat agraris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif etnografi sosiologis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 11 informan yang terdiri atas ibu rumah tangga, petani laki-laki, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam keberlangsungan praktik <em>besiru</em> melalui kontribusi tenaga kerja, penyediaan konsumsi, pengorganisasian kerja, serta pemeliharaan jaringan sosial dalam komunitas. Namun, kontribusi perempuan masih termarginalisasi secara struktural karena tanggung jawab domestik dan otoritas pengambilan keputusan masih dipengaruhi oleh norma patriarki. Meskipun demikian, perempuan tetap membangun ruang agensi melalui keterlibatan aktif dalam aktivitas pertanian kolektif dan kegiatan ekonomi berbasis komunitas. Dengan demikian, <em>besiru</em> tidak hanya menjadi strategi adaptasi ekonomi keluarga petani, tetapi juga menjadi ruang sosial yang dinamis tempat relasi gender terus dinegosiasikan dalam kehidupan masyarakat pedesaan.</p> <p><em>This study examines gender negotiation in the practice of besiru and explores the role of housewives in the economic adaptation strategies of farmer households in Dusun Sejari, Plampang District, Sumbawa Regency. Farmer households in rural areas continue to face economic uncertainty due to fluctuating agricultural yields, climate change, and limited access to production resources. In this context, besiru, a local collective labor practice based on reciprocity, functions not only as a traditional form of mutual cooperation but also as a social arena that reflects gender relations within agrarian communities. This study employed a qualitative descriptive approach with a sociological ethnographic perspective. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving 11 informants consisting of housewives, male farmers, and community leaders. The findings show that housewives play a significant role in sustaining besiru practices through labor contribution, food preparation, work coordination, and the maintenance of social networks within the community. However, women’s contributions remain structurally marginalized because domestic responsibilities and decision-making authority are still largely shaped by patriarchal norms. Despite these limitations, women continue to negotiate their roles and build agency through active participation in collective agricultural and community-based economic activities. Thus, besiru represents not only an economic adaptation strategy for farmer households but also a dynamic social space where gender relations are continuously negotiated in everyday rural life.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22291MAKNA DAN NILAI RITUAL ADAT HEL KETA DALAM MASYARAKAT DESA PIKA KECAMATAN MOLLO TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN2026-05-28T07:04:15+00:00Yanti Beesyantibees75@email.comRonni M Ndunronnyndun83@gmail.comArnot A Kolnelarnoldkolnel@gmail.com<p>Skripsi ini berjudul,’’Makna dan Nilai Tuturan Ritual Adat Hel keta dalam perkawinan masyarakat Desa Pika, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan”, Oleh Yanti Bees, Nim : 2288201063. Dibimbing oleh, Ronni M. Ndun, S.Pd., M.Hum. Sebagai pembimbing I dan Arnot A. kolnel, S.Pd., M. Hum Sebagai pembimbing II. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan makna dan nilai- nilai yang terdapat dalam Ritual Adat Hela keta dalam perkawinan masyarakat Desa Pika, Kecamatan Mollo Tengah. Tujuan penelitian ini yaitu Mendeskripsikan makna dari ritual adat Hel Keta dan Mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam ritual adat Hel keta dalam perkawinan masyarakat Desa Pika, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori lingustik kebudayaan karena sebagai linguistik yang membahas tentang hubungan antara bahasa dan budaya, bagaimana bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasih tetapi juga sebagai representasi dan refleksi dari nilai, norma, dan kepercayaan yang ada dalam budaya tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskripsi kualitatif karena metode yang meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau pun kelas peristiwa pada masa sekarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa makna dan nilai ritual hel keta dalam perkawinan masyarakat Desa Pika Kecamatan mollo Tengah Kabupaten Timor Tengah, memiliki enam makna dan tiga nilai. Makna yang terkandung dalam Ritual Hel Keta yaitu yang pertama makna religius, makna simbolik, makna kebersamaan, makna moral, makna budaya, dan makna kasih sayang, nilai-nilai yang terkandung dalam ritual hel keta yaitu, nilai religius, nilai etis, dan nilai gotong royong.</p> <p><em>This thesis is entitled, "The Meaning and Value of Hel Keta Traditional Ritual Speech in the Marriage of the Pika Village Community, Mollo Tengah District, South Central Timor Regency", by Yanti Bees, Nim: 2288201063. Supervised by, Ronni M. Ndun, S.Pd., M.Hum. As the first supervisor and Arnot A. Kolnel, S.Pd., M.Hum As the second supervisor. This research is motivated by the problem of the meaning and values contained in the Hela Keta Traditional Ritual in the marriage of the Pika Village Community, Mollo Tengah District. The purpose of this research is to describe the meaning of the Hel Keta traditional ritual and describe the values contained in the Hel Keta traditional ritual in the marriage of the Pika Village Community, Mollo Tengah District, South Central Timor Regency. The theory used in this research is the theory of cultural linguistics because as linguistics it discusses the relationship between language and culture, how language is not only a means of communication but also a representation and reflection of the values, norms, and beliefs that exist in culture. particular. The method used in this study is a qualitative descriptive method because the method examines a group of people, an object, a condition, a system of thought or a class of events in the present. The results of the study show that the meaning and value of the Hel Keta ritual in the marriage of the people of Pika Village, Mollo Tengah District, Central Timor Regency, has six meanings and three values. The meanings contained in the Hel Keta Ritual are the first religious meaning, symbolic meaning, the meaning of togetherness, moral meaning, cultural meaning, and the meaning of affection, the values contained in the Hel Keta ritual are, religious values, ethical values, and mutual cooperation values.</em></p>2026-05-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusionerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22172STRATEGI PENINGKATAN PEMANFAATAN KENDARAAN UNTUK LOGISTIK BARANG YANG BERKELANJUTAN2026-05-24T10:16:19+00:00Shanju Zahrannisa182220167@std.ulbi.ac.idSiti Mariah182220220@std.ulbi.ac.idRaihan Zaki Avisciena182220136@std.ulbi.ac.idWili Wildanata182220203@std.ulbi.ac.id<p>Sektor logistik barang, khususnya transportasi jalan raya, menghadapi tantangan besar dalam mencapai efisiensi dan keberlanjutan. Salah satu isu krusial adalah pemanfaatan kendaraan yang suboptimal, yang berujung pada peningkatan biaya operasional, jejak karbon yang lebih tinggi, dan kemacetan lalu lintas. Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai strategi peningkatan pemanfaatan kendaraan guna mencapai logistik barang yang lebih berkelanjutan. Melalui pendekatan studi literatur, kami mengidentifikasi berbagai solusi inovatif, termasuk adopsi teknologi digital seperti <em>Transport Management System</em> (TMS) dan <em>Internet of Things</em> (IoT), implementasi model kolaborasi logistik, optimalisasi rute dinamis, serta pengembangan infrastruktur pendukung. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kombinasi strategi ini dapat secara signifikan meningkatkan kapasitas muat, mengurangi <em>empty miles</em>, memangkas emisi gas rumah kaca, serta menghemat biaya, yang pada gilirannya mendorong terciptanya sistem logistik yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan. Artikel ini juga menyoroti pentingnya kerangka kebijakan yang mendukung inovasi dan kolaborasi lintas sektor.</p> <p><em>The logistics sector, especially road transport, faces major challenges in achieving efficiency and desirability. One crucial issue is the suboptimal utilization of vehicles, which leads to increased operational costs, higher carbon footprints, and traffic congestion. This article presents a comprehensive analysis of strategies to improve vehicle utilization to achieve more sustainable logistics goods. Through a literature study approach, we identify various innovative solutions, including the application of digital technologies such as the Transport Management System (TMS) and the Internet of Things (IoT), the implementation of logistics collaboration models, dynamic route optimization, and the development of supporting infrastructure. The results of the discussion show that the combination of these strategies can significantly increase load capacity, reduce empty miles, cut greenhouse gas emissions, and save costs, ultimately creating an efficient, economical, and environmentally friendly logistics system. This article also highlights the importance of a policy framework that supports innovation and cross-sector collaboration.</em></p>2026-05-24T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2024 Jurnal Humaniora Revolusioner