https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/issue/feed Jurnal Humaniora Revolusioner 2026-06-30T10:36:41+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/22980 MENGAPA ATURAN DIABAIKAN? ANALISIS KETIDAKPATUHAN MAHASISWA TERHADAP KEBIJAKAN BERPAKAIAN DI LINGKUNGAN KAMPUS FISIP 2026-06-13T07:37:19+00:00 Lathifah Nabilla Irsyidiyah lativanabila@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan mahasiswa terhadap kebijakan berpakaian di lingkungan kampus serta mengkaji kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku kepatuhan. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei, penelitian ini melibatkan 10 mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Data dikumpulkan melalui kuisioner skala Likert 1-5 dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa tentang aturan berpakaian sangat tinggi (rata-rata 4,7) dan mereka menganggap aturan tersebut penting untuk ditaati (rata-rata 4,9). Namun demikian, tingkat kepatuhan aktual tidak sepenuhnya ideal (rata-rata 4,1). Temuan paling signifikan adalah rendahnya intensitas teguran dari dosen (rata-rata 1,8), sementara pelanggaran oleh teman atau senior sering terlihat (rata-rata 4,1). Alasan utama mahasiswa menggunakan sandal atau crocs adalah kenyamanan (50 persen) dan kepraktisan (40 persen). Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakpatuhan mahasiswa bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau sosialisasi, melainkan oleh lemahnya penegakan aturan dan pengaruh lingkungan sosial. Rekomendasi penelitian ini mencakup perlunya konsistensi penegakan aturan oleh dosen dan petugas kampus serta penguatan kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa.</p> <p><em>This study aims to analyze the factors causing student non-compliance with campus dress code policies and to examine the gap between knowledge and compliance behavior. Using a quantitative descriptive approach with a survey method, this study involved 10 active students of the Government Studies Program, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro. Data were collected using a Likert-scale questionnaire (1-5) and analyzed using descriptive statistics. The results showed that students' knowledge of dress code regulations was very high (mean 4.7) and they considered these regulations important to obey (mean 4.9). However, actual compliance levels were not ideal (mean 4.1). The most significant finding was the low intensity of reprimands from lecturers (mean 1.8), while violations by peers or seniors were frequently observed (mean 4.1). The main reasons students wore sandals or crocs were comfort (50%) and practicality (40%). This study concludes that student non-compliance is not caused by lack of knowledge or socialization, but by weak enforcement of rules and social environmental influences.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/23750 STANDAR KECANTIKAN DI INSTAGRAM: PEMAKNAAN ANAK KOS TERHADAP INFLUENCER @eriskaapril_ 2026-06-30T10:36:41+00:00 Maya Ch. Keluanan mayakeluanan@gmail.com Aelsthri Ndandara aelsthri.ndandara@staf.undana.ac.id Imanta I. Perangin Angin jacklin.manafe@staf.undana.ac.id Jacklin S. Manafe jacklin.manafe@staf.undana.ac.id <p>Instagram menjadi salah satu media sosial yang berperan dalam membentuk dan mereproduksi standar kecantikan di kalangan perempuan muda melalui berbagai representasi visual yang ditampilkan secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan anak kos terhadap standar kecantikan yang ditampilkan oleh influencer @eriskaapril_ di Instagram serta mengidentifikasi peran influencer dalam pembentukan standar kecantikan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan yang dipilih secara purposive di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang. Data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak kos memaknai kecantikan sebagai penampilan yang bersih, terawat, menarik, dan didukung oleh praktik perawatan diri yang konsisten. Paparan terhadap konten influencer mendorong munculnya perbandingan diri, meskipun informan tetap melakukan negosiasi terhadap standar kecantikan yang ditampilkan. Selain itu, influencer @eriskaapril_ berperan sebagai referensi kecantikan melalui representasi visual, aktivitas self-care, dan gaya hidup yang estetik. Validasi sosial berupa komentar dan likes turut memperkuat legitimasi standar kecantikan yang ditampilkan di Instagram.</p> <p><em>Instagram has become a social media platform that shapes and reproduces beauty standards among young women through repeated visual representations. This study aims to analyze how boarding-house students interpret beauty standards portrayed by the influencer @eriskaapril_ on Instagram and to identify the influencer’s role in shaping those standards. The study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving ten purposively selected informants in Lasiana Village, Kupang City. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model. The findings reveal that boarding-house students interpret beauty as a clean, well-groomed, and attractive appearance supported by consistent self-care practices. Exposure to influencer content encourages self-comparison, although participants actively negotiate the beauty standards presented. The study also finds that @eriskaapril_ serves as a beauty reference through visual representations, self-care activities, and an aesthetic lifestyle. Furthermore, social validation in the form of comments and likes strengthens the legitimacy of the beauty standards displayed on Instagram.</em></p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/23565 BUDAYA PATRIARKI DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN KAJIAN SOSIOLOGI:TENTANG RELASI KUASA DAN KETIMPANGAN GENDER DALAM KELUARGA DI DESA BERARE KECAMATAN MOYO HILIR 2026-06-26T06:16:13+00:00 Bunga Raudatin bungaraudatin03@gmail.com Supriadi supriadi@uts.ac.id <p>Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan dalam keluarga masih menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk budaya patriarki dan dampaknya terhadap terjadinya kekerasan dalam rumah tangga di Desa Berare, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya patriarki terlihat dalam pembagian peran yang tidak setara, dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan, dan beban ganda perempuan. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap terjadinya kekerasan fisik, psikologis, dan ekonomi terhadap perempuan. Berdasarkan teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons, kondisi tersebut menunjukkan adanya disfungsi dalam sistem keluarga yang menyebabkan ketidakadilan gender.</p> <p><em>Patriarchal culture, which places men in a dominant position within the family, remains a contributing factor to domestic violence against women. This study aims to analyze the forms of patriarchal culture and their impact on domestic violence in Berare Village, Moyo Hilir District, Sumbawa Regency. This study used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through interviews, observation, and documentation, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The results indicate that patriarchal culture is evident in the unequal distribution of roles, male dominance in decision-making, and the double burden on women. These conditions contribute to physical, psychological, and economic violence against women. Based on Talcott Parsons' Structural Functionalism theory, these conditions indicate dysfunction within the family system that leads to gender inequality.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/23423 SEJARAH PARMALIM DI TANAH BATAK: PERKEMBANGAN DAN EKSISTENSINYA DALAM MASYARAKAT BATAK 2026-06-23T11:20:50+00:00 Gabriel Pakpahan gabrielpakpahan249@gmail.com Sen Aron Simanjuntak senaronsatahi@gmail.com Wardah niaawawa@gmail.com Novia Mutiara mnovia206@gmail.com Muhammad Dirham Nazwa muhammaddirham843@gmail.com Lister Eva Simangunsong listerevasimangunsong@unimed.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah perkembangan dan eksistensi Parmalim sebagai salah satu kepercayaan asli masyarakat Batak. Parmalim merupakan sistem kepercayaan yang telah berkembang sebelum masuknya agama-agama besar ke Tanah Batak dan hingga kini masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Batak sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh dari berbagai sumber tertulis berupa buku, artikel jurnal ilmiah, hasil penelitian, dan dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui proses pengumpulan, klasifikasi, interpretasi, dan sintesis informasi dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan Parmalim dipengaruhi oleh berbagai faktor historis, sosial, dan politik, termasuk kolonialisme Belanda, penyebaran agama Kristen, kebijakan negara terhadap penghayat kepercayaan, serta arus modernisasi. Meskipun menghadapi berbagai tantangan berupa stigma sosial, diskriminasi administratif, dan perubahan sosial budaya, komunitas Parmalim mampu mempertahankan eksistensinya melalui pelestarian ajaran, ritual keagamaan, penguatan identitas budaya Batak, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Keberlangsungan Parmalim menunjukkan bahwa kepercayaan lokal masih memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya dan memperkaya keberagaman keagamaan di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sejarah, budaya, dan agama lokal di Indonesia.</p> <p><em>This study aims to analyze the historical development and contemporary existence of Parmalim as one of the indigenous belief systems of the Batak people. Parmalim emerged prior to the arrival of major world religions in Batakland and continues to be practiced by a portion of the Batak community as an integral part of their cultural and spiritual identity. This research employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected from various secondary sources, including books, scholarly journal articles, previous studies, and relevant documents discussing the history, development, and existence of Parmalim. The collected data were analyzed using descriptive qualitative techniques through data classification, interpretation, and synthesis. The findings indicate that the development of Parmalim has been influenced by historical, social, and political factors, including Dutch colonialism, Christian missionary activities, state policies toward indigenous belief communities, and the forces of modernization. Despite facing challenges such as social stigma, administrative discrimination, and socio-cultural change, the Parmalim community has maintained its existence through the preservation of religious teachings and rituals, the strengthening of Batak cultural identity, and adaptation to changing social conditions. The persistence of Parmalim demonstrates the important role of indigenous belief systems in preserving cultural heritage and enriching Indonesia’s religious diversity.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/23738 STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI RELOKASI PERMUKIMAN TANAH MERAH TERHADAP KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI 2026-06-30T07:43:10+00:00 Maria Yosefina Surat yosefinasurat39@gmail.com Aris Lambe aris.lambe@staf.undana.ac.id Lenny S. Bire Manoe lenny.s.bire.manoe@staf.undana.ac.id Yosep E. Jelahut yosep.jelahut@staf.undana.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi masyarakat pascarelokasi, dinamika sosial ekonomi, serta strategi adaptasi masyarakat Desa Waimatan setelah direlokasi ke Permukiman Tanah Merah, Kabupaten Lembata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas aparat desa dan masyarakat terdampak relokasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian menunjukkan adanya paradoks relokasi pascabencana. Di satu sisi, relokasi berhasil menyediakan lingkungan permukiman yang lebih aman dari ancaman banjir bandang serta mampu mempertahankan kohesi sosial masyarakat melalui hubungan kekerabatan, gotong royong, dan solidaritas komunal. Di sisi lain, relokasi belum sepenuhnya diikuti pemulihan ekonomi rumah tangga akibat terbatasnya akses terhadap laut, lahan produktif, sumber air, dan peluang kerja. Dalam menghadapi kondisi tersebut, masyarakat mengembangkan strategi adaptasi melalui diversifikasi mata pencaharian, usaha ekonomi rumah tangga, pemanfaatan pekarangan, kegiatan menenun, dukungan keluarga, serta penguatan jaringan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa modal sosial menjadi faktor utama keberlangsungan kehidupan masyarakat pascarelokasi, sementara penguatan ekonomi lokal masih menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, kebijakan relokasi pascabencana perlu diintegrasikan dengan program pemulihan penghidupan melalui pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pengembangan usaha berbasis komunitas</p> <p><em>This study aims to analyze post-relocation community conditions, socio-economic dynamics, and adaptation strategies of the people of Waimatan Village after being relocated to Tanah Merah Settlement, Lembata Regency. The study employed a qualitative approach using a case study design. Informants were selected purposively, consisting of village officials and residents affected by relocation. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings reveal a paradox of post-disaster relocation. On the one hand, relocation successfully provided a safer settlement environment from flash flood hazards and maintained social cohesion through kinship ties, mutual cooperation, and communal solidarity. On the other hand, relocation has not been followed by adequate household economic recovery due to limited access to the sea, productive land, water resources, and employment opportunities. In response, the community developed adaptation strategies through livelihood diversification, household-based economic activities, home-yard utilization, weaving activities, family support, and strengthened social networks. This study confirms that social capital is the main factor sustaining community resilience after relocation, while local economic strengthening remains an urgent necessity. Therefore, post-disaster relocation policies should be integrated with livelihood recovery programs through skills training, access to capital, and community-based enterprise development</em></p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/23429 DINAMIKA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA IBU DAN ANAK PASCA KEHILANGAN SOSOK AYAH: TINJAUAN SOSIOLOGIS ADAPTASI LINGKUNGAN SOSIAL 2026-06-23T12:13:45+00:00 Firda Widia Sari firda26.com@gmail.com Anwar anwar.donggo@uts.ac.id <p>Dinamika Komunikasi Interpersonal antara Ibu dan Anak Pasca Kehilangan Sosok Ayah di Desa Tengah Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi interpersonal antara ibu dan anak pasca kehilangan sosok ayah serta proses adaptasi yang dilakukan dalam lingkungan sosial di Desa Tengah, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa. Kehilangan sosok ayah tidak hanya berdampak pada kondisi emosional anggota keluarga, tetapi juga memengaruhi pola komunikasi, pembagian peran, dan hubungan sosial dalam keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap ibu yang menjadi orang tua tunggal serta anak yang diasuh tanpa kehadiran sosok ayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan sosok ayah menyebabkan perubahan peran ibu dalam keluarga, perubahan kondisi emosional anak, kesulitan dalam mengekspresikan perasaan, serta perubahan keterbukaan komunikasi antara ibu dan anak. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, ibu dan anak berupaya membangun komunikasi yang lebih terbuka, empatik, dan saling mendukung sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi keluarga yang baru. Selain itu, dukungan keluarga besar dan lingkungan sosial turut berperan dalam membantu proses penyesuaian diri pasca kehilangan sosok ayah. Dengan demikian, komunikasi interpersonal menjadi faktor penting dalam memperkuat hubungan antara ibu dan anak serta mendukung proses adaptasi keluarga setelah kehilangan sosok ayah.</p> <p><em>Dynamics of Interpersonal Communication between Mothers and Children After Losing a Father in Tengah Village, Utan District, Sumbawa Regency. This study aims to analyze the dynamics of interpersonal communication between mothers and children after losing a father and the adaptation process carried out in the social environment in Tengah Village, Utan District, Sumbawa Regency. Losing a father not only impacts the emotional condition of family members, but also influences communication patterns, role division, and social relationships within the family. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques are carried out through in-depth interviews, observations, and documentation of mothers who are single parents and children who are raised without a father figure. The results show that the loss of a father figure causes changes in the mother's role in the family, changes in the child's emotional condition, difficulties in expressing feelings, and changes in the openness of communication between mother and child. Despite facing various challenges, mothers and children strive to build more open, empathetic, and mutually supportive communication as a form of adaptation to the new family conditions. In addition, support from the extended family and the social environment also plays a role in helping the adjustment process after losing a father figure. Thus, interpersonal communication is a crucial factor in strengthening the mother-child relationship and supporting the family's adaptation process after the loss of a father.</em></p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner