https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/issue/feed Jurnal Humaniora Revolusioner 2026-02-28T05:38:17+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/19753 EFEKTIVITAS PENEGAKAN PERDA KOTA PARIAMAN NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG KETERTIBAN, KEBERSIHAN, DAN KEINDAHAN PERSPEKTIF FIQH SIYASAH TANFIDZIYAH (STUDI KASUS TERHADAP PAYUNG CEPER DI PANTAI KATA KOTA PARIAMAN) 2026-01-31T10:56:16+00:00 Nur Azizah azizahpasgo51@gmail.com <p><em>This research examines the effectiveness of Pariaman City Regional Regulation (Perda) Number 6 of 2006 concerning Order, Cleanliness, and Beauty (K3) in addressing immoral acts, particularly the misuse of "payung ceper" (low umbrellas) on Kata Beach. The theoretical approach used includes conventional legal effectiveness theory and Fiqh Siyasah Tanfidziyah. Employing a qualitative field research method and case study approach, data was collected through interviews, observations, and documentation studies from the Civil Service Police Unit (Satpol PP), the Tourism Office, vendors, and visitors to Kata Beach. Initial findings indicate that despite ongoing law enforcement efforts, various challenges such as vendor resistance, Satpol PP's dominant "guidance" approach, and resource limitations affect the full effectiveness of the Perda. From the perspective of Fiqh Siyasah Tanfidziyah, executive actions, while aiming to realize public welfare (maslahah), face dilemmas in achieving optimal deterrent effects and upholding moral order (amar ma'ruf nahi munkar) due to implementation gaps and socio-economic complexities. This study highlights the intricate balance between economic considerations, public morality, and effective governance in the context of regional autonomy, and offers implications for improving local policy implementation in accordance with Islamic principles.</em></p> <p>Penelitian ini mengkaji efektivitas Peraturan Daerah (Perda) Kota Pariaman Nomor 6 Tahun 2006 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) dalam menanggulangi perbuatan asusila, khususnya penyalahgunaan "payung ceper" di Pantai Kata. Pendekatan teoretis yang digunakan mencakup teori efektivitas hukum konvensional dan Fiqh Siyasah Tanfidziyah. Dengan menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pariwisata, pedagang, dan pengunjung Pantai Kata. Temuan awal menunjukkan bahwa meskipun upaya penegakan hukum sedang berlangsung, berbagai tantangan seperti resistensi pedagang, pendekatan "pembinaan" yang dominan oleh Satpol PP, serta keterbatasan sumber daya, memengaruhi efektivitas penuh Perda tersebut. Dari perspektif Fiqh Siyasah Tanfidziyah, tindakan eksekutif, meskipun bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan umum (maslahah), menghadapi dilema dalam mencapai efek jera yang optimal dan menegakkan ketertiban moral (amar ma'ruf nahi munkar) karena adanya kesenjangan implementasi dan kompleksitas sosial-ekonomi. Studi ini menyoroti keseimbangan yang rumit antara pertimbangan ekonomi, moralitas publik, dan tata kelola pemerintahan yang efektif dalam konteks otonomi daerah, serta menawarkan implikasi untuk perbaikan implementasi kebijakan lokal yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/20013 BANK SAMPAH BINOR LESTARI SEBAGAI MODEL INOVATIF PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN DI DESA BINOR, KECAMATAN PAITON, KABUPATEN PROBOLINGGO 2026-02-08T09:04:49+00:00 Nadiya Amalia Putri nadiya.amalia.putri@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Bank Sampah Binor Lestari sebagai model inovatif dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada permasalahan lingkungan yang semakin kompleks akibat meningkatnya volume sampah rumah tangga serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Bank Sampah Binor Lestari hadir sebagai solusi berbasis partisipasi masyarakat yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi dan kapasitas sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Sampah Binor Lestari berperan efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, mendorong partisipasi aktif masyarakat, serta memberikan manfaat ekonomi melalui sistem tabungan sampah. Selain itu, keberadaan bank sampah ini mampu memperkuat solidaritas sosial dan menjadi sarana edukasi lingkungan yang berkelanjutan di tingkat desa. Dengan demikian, Bank Sampah Binor Lestari dapat dijadikan sebagai model inovatif pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di wilayah pedesaan.</p> <p><em>This study aims to analyze the role of the Binor Lestari Waste Bank as an innovative model for community empowerment and sustainable environmental management in Binor Village, Paiton District, Probolinggo Regency. The background of this research is based on increasingly complex environmental problems resulting from the growing volume of household waste and the low level of public awareness regarding environmentally friendly waste management. The Binor Lestari Waste Bank emerges as a community-based solution that not only focuses on waste management but also enhances the economic value and social capacity of the community. This study employs a qualitative approach with a descriptive method, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that the Binor Lestari Waste Bank plays an effective role in increasing environmental awareness, encouraging active community participation, and providing economic benefits through a waste savings system. In addition, the existence of this waste bank strengthens social solidarity and serves as a means of sustainable environmental education at the village level. Therefore, the Binor Lestari Waste Bank can be used as an innovative model for community empowerment and sustainable environmental management in rural areas.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/19963 TRADISI MAKAN BALI SETELAH PROSESI PERNIKAHAN DI JORONG SUNGAI JARIANG KECAMATAN IV KOTO KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT 2026-02-06T08:17:02+00:00 Adil Rahmad Fajri adilrahmadf@gmail.com Mutia Kahanna mutiakahanna@isi-padangpanjang.ac.id <p><em>The makan bali tradition is one of the customs practiced by the community of Jorong Sungai Jariang, IV Koto District, Agam Regency, West Sumatra Province after the wedding ceremony. This tradition has been passed down from generation to generation and has become an important part of the Minangkabau wedding customs. This study aims to explain the implementation of the makan bali tradition and its functions for families and newly married couples. This study uses a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The theory used in analyzing the data is the functionalism theory proposed by Bronislaw Malinowski. The results of the study show that the implementation of the makan bali &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;tradition consists of several stages, namely mamanggia, mamasak, manatiang, and pasambahan. This tradition has important functions in community life, including a biological function as a means of fulfilling nutritional needs, an instrumental function as a means of strengthening social relationships and customary responsibilities, and an integrative function as a medium for conveying customary advice and strengthening the value of togetherness between families. This study concludes that the Bali eating tradition not only functions as a communal eating activity, but also as a social and cultural system that plays an important role in preserving customs, strengthening kinship ties, and providing moral guidance for married couples in building a household in Jorong Sungai Jariang.</em></p> <p>Tradisi makan bali merupakan salah satu tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Jorong Sungai Jariang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat setelah prosesi pernikahan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam rangkaian adat perkawinan Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan tradisi Makan Bali serta fungsi yang terkandung di dalamnya bagi keluarga dan pasangan suami istri yang baru menikah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam menganalisis data adalah teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Makan Bali terdiri dari beberapa tahapan, yaitu mamanggia, memasak, manatiang, dan pasambahan. Tradisi ini memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat, antara lain fungsi biologis sebagai pemenuhan kebutuhan makan, fungsi instrumental sebagai sarana penguatan hubungan sosial dan tanggung jawab adat, serta fungsi integratif sebagai media penyampaian nasihat adat dan penguatan nilai kebersamaan antar keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi makan bali tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan makan bersama, tetapi juga sebagai sistem sosial dan budaya yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan adat, mempererat hubungan kekerabatan, serta memberikan bekal moral bagi pasangan suami istri dalam membina rumah tangga di Jorong Sungai Jariang.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/19948 PERGESERAN PERAN MAMAK DALAM TRADISI BASIACUONG PADA ADAT PERNIKAHAN DI DESA KUAPAN KABUPATEN KAMPAR 2026-02-06T03:14:17+00:00 Ananda Parakas anandaparakas1@gmail.com Azlin Resiana azlinresiana191919@gmail.com <p><em>The Basiacuong tradition is a form of oral tradition that plays an important role in the series of wedding customs of the people of Kuapan Village, Tambang District, Kampar Regency. This tradition serves as a medium of traditional communication carried out by mamak as central figures in the matrilineal kinship structure. However, with the passage of time, the implementation of Basiacuong has undergone changes marked by a shift in the role of mamak in the traditional marriage procession. This study aims to describe the role of mamak in the Basiacuong tradition and analyze the factors that have caused this shift in role in the life of the Kuapan Village community. Data collection techniques were carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. The research informants consisted of mamak, traditional leaders, and community members who were directly involved in the implementation of the Basiacuong tradition. The data obtained were analyzed qualitatively with an emphasis on the meaning of the roles, functions, and changes that occurred in the tradition. The results showed that mamak in the Basiacuong tradition had the roles of spiritual leader, moral guide, interpreter of symbolic meaning, and traditional decision maker. However, these roles have shifted due to several factors, including urbanization and migration, which have caused a breakdown in direct interaction between mamak and their nephews and nieces; the dominance of parents or prospective spouses in marriage decision-making; and the weakening of the Ocu traditional language, which is a key element in the implementation of Basiacuong. This shift indicates the influence of social change on kinship structures, customary authority, and the continuity of oral traditions. Thus, the Basiacuong tradition continues to survive, but its implementation has been adjusted to suit the social conditions of today's society.</em></p> <p>Tradisi <em>basiacuong</em> merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang memiliki peran penting dalam rangkaian adat pernikahan masyarakat Desa Kuapan, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Tradisi ini berfungsi sebagai media komunikasi adat yang dijalankan oleh <em>mamak</em> sebagai tokoh sentral dalam struktur kekerabatan matrilineal. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, pelaksanaan <em>basiacuong</em> mengalami perubahan yang ditandai dengan adanya pergeseran peran <em>mamak</em> dalam prosesi adat pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran <em>mamak</em> dalam tradisi <em>basiacuong</em>, serta menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran peran tersebut dalam kehidupan masyarakat Desa Kuapan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas <em>mamak</em>, tokoh adat, dan masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan tradisi <em>basiacuong</em>. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan menekankan pada pemaknaan terhadap peran, fungsi, serta perubahan yang terjadi dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>mamak</em> dalam tradisi <em>basiacuong</em> memiliki peran sebagai pemimpin spiritual, pembimbing moral, penafsir makna simbolik, dan pengambil keputusan adat. Namun, peran tersebut mengalami pergeseran akibat beberapa faktor, antara lain urbanisasi dan migrasi yang menyebabkan terputusnya interaksi langsung antara <em>mamak</em> dan keponakan, dominasi orang tua inti atau calon mempelai dalam pengambilan keputusan pernikahan, serta melemahnya penguasaan bahasa adat <em>Ocu</em> yang menjadi unsur utama dalam pelaksanaan <em>basiacuong</em>. Pergeseran ini menunjukkan adanya pengaruh perubahan sosial yang berdampak pada struktur kekerabatan, kewenangan adat, dan keberlangsungan tradisi lisan. Dengan demikian, tradisi <em>basiacuong</em> tetap bertahan, namun mengalami penyesuaian dalam pelaksanaannya sesuai dengan kondisi sosial masyarakat masa kini.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/20023 PERGESERAN TRADISI MALAYUAR JALUAR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT KECAMATAN PANGEAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU 2026-02-09T04:16:30+00:00 Andra R Elpobresiado andraresistansia2002@gmail.com Mutia Kahanna mutiakahanna@isi-padangpanjang.ac.id <p>Penelitian ini membahas tentang “Pergeseran Tradisi Malayuar Jaluar Dalam Kehidupan Masayarakat Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau” Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perubahan tradisi malayuar jaluar dalam kehidupan masyarakat serta mendeskripsikan prosesi tradisi malayuar jaluar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan sosial Soerjono Soekanto. Metode yang digunakan yaitu kualitatif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi malayuar jaluar pada awalnya lahir dari kebutuhan masyarakat dalam merawat dan menjaga jaluar sebagai alat transportasi. Namun, seiring dengan terjadinya pergeseran fungsi jaluar dari sarana transportasi menuju simbol budaya dalam tradisi pacu jalur, praktik malayuar jaluar turut mengalami perubahan dan berkembang menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Prosesi tradisi ini memiliki teknis dalam perawatan jaluar sehingga melibatkan berbagai unsur masyarakat. Setiap tahapannya memiliki norma yang menjadi pedoman masyarakat dalam membangun kehidupan sosial masyarkat dengan lingkungannya.</p> <p><em>This study discusses the “Shift in the Malayuar Jaluar Tradition in the Life of the Community of Pangean District, Kuantan Singingi Regency, Riau Province.” The purpose of this research is to describe the changes in the malayuar jaluar tradition in community life as well as to describe the procession of the malayuar jaluar tradition. The theory applied in this study is the social change theory proposed by Soerjono Soekanto. The research method used is qualitative, with data collection techniques including observation, interviews, literature study, and documentation. The results show that the malayuar jaluar tradition originally emerged from the community’s need to maintain and preserve the jaluar as a means of transportation. However, along with the shift in the function of the jaluar from a transportation tool to a cultural symbol within the pacu jalur tradition, the practice of malayuar jaluar has also undergone changes and developed into a tradition passed down from generation to generation. This tradition involves specific technical processes in jaluar maintenance and engages various elements of the community. Each stage of the tradition contains norms that serve as guidelines for the community in building social life in harmony with their environment.</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/19972 PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DARI PERSPEKTIF DEMOKRASI DALAM PELAYANAN KEPENDUDUKAN DI KELURAHAN KELAPA INDAH 2026-02-06T10:39:30+00:00 Daru Heri T alvinrizqy@gmail.com Riri Asdianti ririasdianti8@gmail.com Devina Ratna Suryani devina@uyi.ac.id <p>Pelayanan kependudukan di Kelurahan Kelapa Indah belum sepenuhnya mencerminkan prinsip good governance yang berlandaskan nilai-nilai demokrasi. Penelitian ini bertujuan melihat penerapan prinsip good governance dari perspektif demokrasi dalam pelayanan kependudukan di Kelurahan Kelapa Indah, Kota Tangerang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, serta analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip good governance telah berjalan cukup baik pada aspek transparansi dan akuntabilitas melalui keterbukaan informasi dan tanggung jawab aparatur, namun partisipasi masyarakat masih rendah akibat kurangnya sosialisasi dan pemanfaatan teknologi digital. Simpulan penelitian ini adalah penerapan good governance di Kelurahan Kelapa Indah telah menunjukkan kemajuan, tetapi perlu peningkatan partisipasi publik agar nilai-nilai demokrasi dapat terwujud secara optimal dalam pelayanan kependudukan.</p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/19955 PENGELOLAAN KAYU PUTIH DI HUTAN NAGARI TANJUNG BONAI AUR, KECAMATAN SUMPUR KUDUS, KABUPATEN SIJUNJUNG, PROVINSI SUMATERA BARAT 2026-02-06T06:19:38+00:00 Thariqul Haq thariqulhaq800@gmail.com Yetty Oktayanty yettyoktayanty@isi-padangpanjang.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan kayu putih di Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, dan menganalisis dampaknya terhadap ekonomi, ekologi, serta sosial budaya masyarakat. Pengelolaan kayu putih dilakukan secara berbasis masyarakat, dengan tahapan identifikasi lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan penyulingan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kayu putih memberikan dampak positif pada tiga aspek: ekonomi, dengan meningkatkan pendapatan masyarakat; ekologi, dengan berperan dalam rehabilitasi lahan dan pencegahan erosi; serta sosial budaya, dengan meningkatkan partisipasi dan solidaritas sosial dalam menjaga kelestarian hutan nagari. Pengelolaan berbasis masyarakat ini dapat dijadikan contoh untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan</p> <p><em>This study aims to describe the management of eucalyptus in the Nagari Tanjung Bonai Aur Forest, Sumpur Kudus District, Sijunjung Regency, West Sumatra Province, and analyze its impact on the economy, ecology, and socio-cultural aspects of the local community. The eucalyptus management is community-based, involving stages such as land identification, planting, maintenance, harvesting, and distillation. The research uses a descriptive qualitative approach with observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. The findings show that eucalyptus management has positive impacts in three aspects: economic, by increasing the community's income; ecological, by contributing to land rehabilitation and erosion prevention; and socio-cultural, by enhancing participation and social solidarity in maintaining the sustainability of the Nagari forest. This community-based management model can serve as an example for sustainable natural resource management</em></p> 2026-02-28T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner