Jurnal Humaniora Revolusioner
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr
id-IDJurnal Humaniora RevolusionerANALISIS PANDANGAN KOSMOLOGI THOMAS BERRY, DITINJAU DARI TRADISI PEMBERIAN MAKAN KEPADA ARWAH LELUHUR DALAM RITUS PATI KA DU’A BA WILLIAM AGUSTINUS BRAYEN KASITOPU ATA MATA DI TAMAN NASIONAL KELIMUTU, KABUPATEN ENDE-FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/21029
<p>Tulisan ini bertujuan untuk menemukan kesadaran manusia dalam merawat bumi dilihat dari bagaimana mereka memaknai sebuah realitas budaya, dengan bertolak dari pandangan kosmologi Thomas Berry. Tulisan ini diindikasikan bagi setiap orang, khususnya bagi masyarakat Kabupaten Ende dalam menjaga dan merawat bumi dengan bertolak dari pemaknaan akan realitas budaya. Metode penulisan yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode wawancara dan studi pustaka. Penulis menemukan bahwa menurut Thomas Berry, krisis ekologis yang dialami oleh manusia saat ini merupakan sebuah pandangan yang tidak seimbang dan tidak menghargai alam. Selain itu, Berry juga menegaskan agar manusia lebih agresif dalam membangun kedalaman relasi dengan alam. Di samping pandangan Thomas Berry, para Mosalaki (pemangku adat wilayah persekutuan adat Lio) percaya bahwa dengan memberi makan kepada arwah para leluhur, orang Lio tidak hanya mengenang arwah para leluhur, tetapi juga di dalamnya membangun persekutuan dengan mereka sekaligus memohon agar alam serta isinya dilindungi oleh Tuhan (Du’a Ngga’e) yang adalah pemilik dari alam semesta. Tulisan ini diharapkan mampu memberikan suatu pengaruh yang besar untuk menjaga kelestarian budaya, serentak di dalamnya juga membangun hubungan yang intim dengan alam sebagai tujuan Neozoikum, yang menurut Thomas Berry merupakan sebuah kebaharuan yang terbawa sejak zaman Ekozoikum.</p>Mastinus Paskalis SelvinoPetrus Alexander Jogo KedangWilliam Agustinus Brayen KasitoRaymond Palangan Bani Lodhu
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner
2026-04-142026-04-14104DAMPAK STIGMA TERHADAP KONSEP DIRI TEMAN TULI DI GERKATIN MEDAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jhr/article/view/21135
<p><em>Teman Tuli merupakan kelompok rentan yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan hak-haknya. Stigma yang melekat pada individu Tuli sering kali mempengaruhi pembentukan konsep diri teman Tuli. Sebagai sesama manusia dan makhluk sosial teman tuli juga membutuhkan partisipasi masyarakat lain untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hidup, Stigma ini justru mempengaruhi teman Tuli dalam membentuk konsep diri mereka baik dalam indikator citra diri, nilai diri, kemampuan, dan peran sosial mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang memungkinkan pemahaman mendalam mengenai pengalaman teman Tuli di GERKATIN Medan. Melalui pendekatan ini, data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai pengaruh stigma terhadap konsep diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial yang berasal dari lingkungan sekitar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan maupun edukasi tentang teman Tuli dan apa yang dibutuhkan teman Tuli. Stigma ini memperkuat perbedaan sosial antara teman tuli dan individu non-disabilitas, stigma yang dihadapi teman Tuli di GERKATIN Medan meliputi anggapan teman Tuli itu tertinggal, bodoh, diremehkan dan hidupnya akan selalu bergantung. Hal ini tidak hanya mengisolasi teman Tuli, tetapi juga membentuk persepsi sosial yang memandang mereka sebagai kelompok yang terpinggirkan dan tidak setara. Keberadaan organisasi GERKATIN di Medan yang aktif dan terlibat dalam berbagai sektor kehidupan akan membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil, dimana teman Tuli memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi secara maksimal, serta direkomendasikan juga kepada masyarakat untuk mengikuti program edukasi yang lebih luas mengenai ketulian baik melalui media, seminar atau program Pendidikan lainnya. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat akan lebih mengerti dan peduli serta melihat teman Tuli sebagai individu yang setara dan berpotensi, bukan sebagai kelompok yang terpinggirkan.</em></p> <p><em>Teman Tuli are a vulnerable group who continue to face various challenges in fulfilling their rights. The lack of public understanding contributes to negative stigma surrounding deafness. Many people assume that because Teman Tuli cannot hear, they are difficult to communicate with and incapable of understanding situations, leading to the perception that they are left behind. Such views clearly underestimate the abilities of Teman Tuli. The stigma attached to deaf individuals often affects the formation of their self-concept. As human beings and social creatures, Teman Tuli also need the participation of others in society to improve their quality and quantity of life. This stigma influences how Teman Tuli perceive themselves, affecting aspects such as self image, self-worth, perceived abilities, and their social roles. This study uses a qualitative approach with a case study method to gain an in-depth understanding of the experiences of Teman Tuli in GERKATIN Medan. Through this approach, data was collected using interviews, observation, and documentation to obtain a comprehensive picture of the impact of stigma on self-concept. The research findings show that social stigma from the surrounding environment is largely due to a lack of knowledge and education about Teman Tuli and their needs. This stigma reinforces social differences between Teman Tuli and non-disabled individuals. The stigma faced by Teman Tuli at GERKATIN Medan includes being seen as slow, unintelligent, underestimated, and dependent. These perceptions not only isolate Teman Tuli but also shape social views that marginalize them and treat them as unequal members of society. Such stereotypes hinder the achievement of equal rights and opportunities for Teman Tuli, ultimately leading to discrimination and worsening their self-image, self-worth, abilities, and social roles in the community. The presence of GERKATIN in Medan is expected to continue raising public awareness, advocating for inclusive policies, and strengthening internal capacity. GERKATIN active involvement in various sectors of life helps build a more inclusive and just society, where Teman Tuli have equal opportunities to grow and contribute to the fullest. It is also recommended that the public engage in broader educational programs about deafness through media, seminars, or other educational initiatives. With better understanding, society will become more aware and compassionate, and see Teman Tuli as equal and capable individuals not as a marginalized group. </em></p>Gresia AmeliaErni Asneli Asbi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Humaniora Revolusioner
2026-04-292026-04-29104