https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/issue/feedJurnal Inovasi Kesehatan Adaptif2026-07-30T19:17:08+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24405PENGARUH FIKSASI FORMALIN TERHADAP KUALITAS JARINGAN DAN HASIL IMUNOHISTOKIMIA: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-07-18T07:59:03+00:00Fitri Claudia Agathis Mahundingan01091240028@student.uph.eduRut Madalin Banobe01091240014@student.uph.edu<p>Fiksasi formalin merupakan tahap pra-analitik yang sangat penting dalam pemrosesan jaringan histopatologi karena berperan dalam mempertahankan morfologi jaringan dan keberhasilan pemeriksaan imunohistokimia (IHC). Namun, variasi waktu penundaan sebelum fiksasi, durasi fiksasi, dan konsentrasi formalin dapat memengaruhi kualitas jaringan serta ekspresi antigen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fiksasi formalin terhadap kualitas jaringan dan hasil pewarnaan imunohistokimia melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Literatur diperoleh dari basis data Google Scholar, PubMed, PLOS, MDPI, PMC, dan Oxford Academic dengan kriteria artikel ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2018–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa fiksasi yang terlalu singkat menyebabkan autolisis jaringan, sedangkan fiksasi berkepanjangan, terutama melebihi 96 jam, meningkatkan risiko terbentuknya artefak dan penurunan reaktivitas antigen. Pengaruh tersebut bervariasi bergantung pada jenis jaringan, antigen, dan protokol laboratorium yang digunakan. Selain itu, metode bebas formalin seperti Non-Formalin Paraffin Embedded (NFPE) menunjukkan kualitas histomorfologi dan pewarnaan yang sebanding dengan metode Formalin-Fixed Paraffin-Embedded (FFPE) pada sebagian besar parameter yang dievaluasi. Dengan demikian, standarisasi kondisi fiksasi formalin sangat diperlukan untuk menjaga kualitas diagnostik, sementara metode bebas formalin berpotensi menjadi alternatif yang menjanjikan setelah melalui validasi lebih lanjut.</p> <p><em>Formalin fixation is a critical pre-analytical step in histopathological tissue processing because it preserves tissue morphology and supports accurate immunohistochemical (IHC) staining. However, variations in cold ischemia time, fixation duration, and formalin concentration may affect tissue quality and antigen expression. This study aimed to analyze the effects of formalin fixation on tissue quality and immunohistochemical staining outcomes using a Systematic Literature Review (SLR) approach. Relevant studies published between 2018 and 2026 were retrieved from Google Scholar, PubMed, PLOS, MDPI, PMC, and Oxford Academic. The review demonstrated that inadequate fixation leads to tissue autolysis, whereas prolonged fixation, particularly beyond 96 hours, increases the risk of fixation artifacts and reduced antigen immunoreactivity. These effects vary depending on tissue type, antigen characteristics, and laboratory protocols. Furthermore, Non-Formalin Paraffin Embedded (NFPE) techniques have demonstrated histomorphological preservation and staining quality comparable to conventional Formalin-Fixed Paraffin-Embedded (FFPE) methods for most evaluated parameters. Therefore, standardization of formalin fixation conditions is essential to ensure reliable diagnostic quality, while formalin-free tissue processing represents a promising alternative that requires further validation before widespread clinical implementation.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/23691PENGARUH PEMBERIAN BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI2026-06-29T08:41:58+00:00Prasusi Novie Anjayaninovianjayanii@gmail.comRetno Dewi Prisusantiretnodewi@itsk-soepraoen.ac.id<p>Latar Belakang : Rendahnya produksi ASI pada ibu postpartum dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Buah pepaya (Carica papaya L.) diketahui memiliki potensi sebagai laktagogum alami, namun efektivitasnya terhadap peningkatan produksi ASI masih perlu dibuktikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh pemberian buah pepaya terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Fokus penelitian adalah mengevaluasi apakah konsumsi buah pepaya dapat meningkatkan produksi ASI pada masa nifas Metode : Penelitian ini menerapkan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pre-post control group design yang melibatkan 36 ibu postpartum pada hari ke-14 hingga ke-21 di PMB Santi Rahayu, Malang. Responden dibagi ke dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol, produksi ASI pada fase mature ASI diukur menggunakan pompa ASI. Analisis data dilakukan dengan Wilcoxon Signed-Rank Test untuk mengevaluasi perbedaan nilai pretest dan posttest dalam masing-masing kelompok, serta Mann-Whitney Test untuk membandingkan hasil posttest antara kedua kelompok Hasil : Produksi ASI pada kelompok intervensi mengalami peningkatan yang bermakna, yaitu dari rata-rata 644,05 mL/hari sebelum intervensi menjadi 877,22 mL/hari setelah intervensi (p = 0,001; p < 0,05). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, dengan rata-rata produksi ASI sebesar 643,11 mL/hari pada pretest dan 642,11 mL/hari pada posttest (p = 1,000). Selain itu, hasil uji Mann-Whitney pada pengukuran posttest menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,001). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi buah pepaya berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kelancaran serta volume produksi ASI pada ibu postpartum. Sebagai laktagogum alami, buah pepaya memiliki potensi untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif karena aman dikonsumsi, mudah diperoleh, dan memiliki biaya yang relatif terjangkau bagi ibu postpartum.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24608GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG KEJANG DEMAM (STEP) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H. OK ARYA ZULKARNAIN KABUPATEN BATU BARA2026-07-24T04:01:05+00:00Widya Anggraini Siregarwanggrainisiregar@gmail.comReni Agustina Harahapreniagustina@uinsu.ac.idMuhammad Zalimuhammadzali@uinsu.ac.idMeutia Nandameutianandaumi@gmail.comSyafran Arrazysyafran.arrazy@uinsu.ac.id<p>Kejang demam (Step) merupakan salah satu gangguan saraf yang paling sering dialami oleh anak-anak, khususnya pada rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun. Kondisi ini murni terjadi sebagai bentuk reaksi tubuh anak terhadap kenaikan suhu panas yang sangat tinggi akibat infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang kejang demam di RSUD H. OK Arya Zukarnain Kabupaten Batu Bara. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan dengan desain cross sectional. Populasi yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 55 responden dengan sampel pada penelitian ini 55 ibu yang memiliki anak beriwayat kejang demam, 35 ibu yang memiliki anak laki-laki dan 20 ibu yang memiliki anak perempuan. Hasil penelitian ini terdapat ibu memiliki tingkat pengetahuan baik 52 (94.5%), dan ibu memiliki sikap baik 51 (92,73%). Mayoritas tingkat pengetahuan ibu memiliki pengetahuan baik dan mayoritas sikap ibu memiliki sikap baik. Bagi ibu agar tidak cemas atau panik saat anak mengalami kejang demam dan dapat menerapkan penanganan awal kejang demam dengan benar sebelum membawa anak ke rumah sakit.</p> <p><em>Febrile seizure is one of the most common neurological disorders in children, particularly those aged 6 months to 5 years. This condition occurs as the body’s response to a significant increase in body temperature caused by infection. This study aimed to describe the level of mothers’ knowledge and attitudes toward febrile seizures at H. OK Arya Zulkarnain Regional General Hospital, Batu Bara Regency. This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 55 respondents, and the sample included 55 mothers whose children had a history of febrile seizures, comprising 35 mothers of male children and 20 mothers of female children. The results showed that 52 mothers (94.5%) had a good level of knowledge, while 51 mothers (92.73%) demonstrated a good attitude toward febrile seizures. The majority of mothers had good knowledge and positive attitudes regarding febrile seizures. Mothers are encouraged to remain calm when their children experience febrile seizures and to provide appropriate first aid before taking the child to the hospital.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24336PENGARUH TERAPI KOMPRES DINGIN TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN POST-OP FRAKTUR DI RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH PANGKALPINANG TAHUN 20242026-07-16T10:49:02+00:00Santiaalfaribisantia@gmail.comRizky Meilandoriskimeilando446@gmail.comKgs. Muhammad Faizalfaizalcd14@gmail.com<p>Fraktur merupakan keadaan dimana terputusnya kontunitas tulang. Fraktur adalah cedera yang dapat menyebabkan nyeri yang terasa seperti ditusuk-tusuk hingga bisa mempengaruhi kualitas hidup pasien. Salah satu penatalaksanaan fraktur adalah dengan cara operasi. Nyeri yang dirasakaan pasien post-op fraktur bisa dikurangi dengan cara terapi kompres dingin. Terapi kompres dingin dapat menambah frekuensi dan volume pelepasan hormon endorphin lalu menurunkan transmisi impuls nyeri. Pengukuran nyeri dilakukan dengan metode skala nyeri numerical rating scale (NRS). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi kompres dingin terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post-op fraktur di Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan design desain penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest and post test design. Populasi penelitian 99 orang pasien post-op fraktur, jumlah sampel 31 pasien post-op fraktur dengan teknik sampling purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dengan derajat kepercayaan 95% (α = 0,05) dan uji anova. Hasil penelitian ini didapatkan nilai sig 0,000 ≤ α 0,05, maka H0 ditolak. Disimpulkan ada pengaruh terapi kompres dingin terhadap penurunan skala nyeri pasien post-op fraktur di Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang tahun 2024. Terapi kompres dingin dapat menurunkan skala nyeri pada pasien post-op fraktur. Oleh karena itu, terapi kompres dingin dapat digunakan sebagai salah satu metode pengelolaan nyeri pada pasien post-op fraktur.</p> <p><em>A fracture is a condition where bone continuity is broken. Fractures are injuries that can cause stabbing pain that can affect the patient's quality of life. One of the treatments for fractures is surgery. Pain felt by post-op fracture patients can be reduced by cold compress therapy. Cold compress therapy can increase the frequency and volume of endorphin hormone release and reduce pain impulse transmission. Pain measurement is carried out using the numerical rating scale (NRS) pain scale method. The purpose of this study was to determine the effect of cold compress therapy on reducing the pain scale in post-op fracture patients at Bakti Timah Pangkalpinang Hospital in 2024. This study uses a pre-experimental research design with a one group pretest and post test design. The study population was 99 post-op fracture patients, the sample size was 31 post-op fracture patients with purposive sampling technique. Data were analyzed using paired t-test with 95% confidence level (α = 0.05) and anova test. The results of this study obtained a sig value of 0.000 ≤ α 0.05, then H0 was rejected. It is concluded that there is an effect of cold compress therapy on reducing the pain scale of post-op fracture patients at Bakti Timah Pangkalpinang Hospital in 2024. Cold compress therapy can reduce the pain scale in post-op fracture patients. Therefore, cold compress therapy can be used as a method of pain management in post-op fracture patients.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24557HUBUNGAN TINGKAT STRES PSIKOLOGIS DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN PASCA OPERASI ORIF DI RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-07-22T12:25:57+00:00Iwan Santoso162024031144@std.umku.ac.idAnny Rmannyrosiana@umkudus.ac.idAshri Maulida Rarahwati@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF) merupakan prosedur bedah yang dilakukan untuk menangani fraktur dengan tujuan mengembalikan posisi tulang dan mempertahankan stabilitas menggunakan alat fiksasi internal. Pasien pasca operasi ORIF sering mengalami stres psikologis yang dipengaruhi oleh nyeri, keterbatasan mobilitas, kecemasan terhadap proses penyembuhan, serta perubahan kondisi fisik. Stres psikologis yang tidak teratasi dapat berdampak pada penurunan kualitas tidur, sehingga berpotensi menghambat proses pemulihan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres psikologis dengan kualitas tidur pada pasien pasca operasi ORIF di RST Wijayakusuma Purwokerto Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien pasca operasi ORIF yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat stres psikologis diukur menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21) pada subskala stres, sedangkan kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan 95% (p < 0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres psikologis dengan kualitas tidur pada pasien pasca operasi ORIF. Semakin tinggi tingkat stres psikologis yang dialami pasien, maka semakin buruk kualitas tidur yang dirasakan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres psikologis dengan kualitas tidur pada pasien pasca operasi ORIF di RST Wijayakusuma Purwokerto. Pengelolaan stres psikologis melalui pendekatan keperawatan yang komprehensif diharapkan dapat meningkatkan kualitas tidur serta mendukung proses penyembuhan pasien.</p> <p><em>Background: Open Reduction Internal Fixation (ORIF) is a surgical procedure commonly performed to treat fractures by restoring bone alignment and maintaining stability using internal fixation devices. Patients undergoing ORIF frequently experience psychological stress due to postoperative pain, limited mobility, concerns about recovery, and changes in physical condition. Unmanaged psychological stress may negatively affect sleep quality and consequently delay the recovery process. Objective: This study aimed to determine the relationship between psychological stress levels and sleep quality among post-ORIF patients at Wijayakusuma Army Hospital (RST Wijayakusuma), Purwokerto. Methods: This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The participants were post-ORIF patients who met the inclusion criteria and were selected using purposive sampling. Psychological stress was measured using the Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21) stress subscale, while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test with a significance level of 95% (p < 0.05). Results: The findings revealed a significant relationship between psychological stress levels and sleep quality among post-ORIF patients. Higher levels of psychological stress were associated with poorer sleep quality. Conclusion: There is a significant relationship between psychological stress levels and sleep quality among post-ORIF patients at Wijayakusuma Army Hospital, Purwokerto. Appropriate psychological stress management should be incorporated into nursing care to improve sleep quality and promote postoperative recovery.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24248PENGEMBANGAN WHITENING GEL BERBASIS CARBAMIDE PEROXIDE DAN POTASSIUM NITRATE UNTUK MEMBANTU MEMUTIHKAN GIGI SERTA MENGURANGI SENSITIVITAS GIGI2026-07-14T10:52:54+00:00Alisya Wahyudianti Putrialisyawdputri@gmail.comFajra Fadlia Nisaguest@jurnalhst.comKhanza Imani Auliaguest@jurnalhst.comMaulidda Elvin Lirvanyaguest@jurnalhst.comSalsabila Zidni Arifaguest@jurnalhst.com<p>Estetika warna gigi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi penampilan dan kepercayaan diri individu, sehingga kebutuhan terhadap produk teeth whitening terus meningkat. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sediaan whitening gel berbasis carbamide peroxide dan potassium nitrate yang efektif memutihkan gigi sekaligus mengurangi sensitivitas. Carbamide peroxide 10% digunakan sebagai agen pemutih utama karena mampu melepaskan hidrogen peroksida secara bertahap untuk mengoksidasi pigmen penyebab diskolorasi, sedangkan potassium nitrate 5% berfungsi sebagai agen desensitisasi dengan menghambat transmisi impuls saraf pada dentin. Formula juga mengandung sodium fluoride sebagai agen remineralisasi serta Carbopol 974P sebagai pembentuk gel untuk meningkatkan waktu kontak bahan aktif dengan permukaan gigi. Hasil prediksi menunjukkan bahwa sediaan memiliki karakteristik fisik yang baik berupa gel homogen dengan viskositas 35.000–60.000 cPs dan pH 6,0–6,8 yang aman untuk enamel. Selain itu, sediaan diperkirakan mampu meningkatkan kecerahan warna gigi secara signifikan, menurunkan sensitivitas dibandingkan formula tanpa potassium nitrate, serta tidak menyebabkan kerusakan serius pada permukaan enamel. Penelitian lanjutan diperlukan untuk uji stabilitas jangka panjang serta uji klinis guna memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan pada manusia.</p> <p><em>The aesthetics of tooth color is one of the important factors that affect an individual's appearance and self-confidence, thus the demand for teeth whitening products continues to increase. This study aims to develop a whitening gel preparation based on carbamide peroxide and potassium nitrate that is effective at whitening teeth while also reducing sensitivity. Ten percent carbamide peroxide is used as the main whitening agent because it can gradually release hydrogen peroxide to oxidize pigments that cause discoloration, while five percent potassium nitrate functions as a desensitizing agent by inhibiting nerve impulse transmission in the dentin. The formula also contains sodium fluoride as a remineralizing agent and Carbopol 974P as a gelling agent to increase the contact time of the active ingredient with the tooth surface. Prediction results indicate that the preparation has good physical characteristics in the form of a homogeneous gel with a viscosity of 35,000–60,000 cPs and a pH of 6.0–6.8, which is safe for enamel. In addition, the preparation is estimated to be able to significantly enhance tooth brightness, reduce sensitivity compared to formulas without potassium nitrate, and does not cause serious damage to the enamel surface. Further research is needed for long-term stability tests and clinical trials to ensure effectiveness and safety for human use.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24727FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI MAKANAN SIAP SAJI MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALU OLEO2026-07-28T02:12:39+00:00Nabil Al Mahmudnabilalmahmud140@gmail.comRuslan Majidruslan.madjid@uho.ac.idHarlelileli.har63@gmail.com<p>Konsumsi makanan siap saji pada mahasiswa cenderung meningkat akibat gaya hidup modern, kemudahan akses, dan tingginya aktivitas akademik. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan sehingga perlu diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi makanan siap saji, khususnya pada mahasiswa kesehatan yang diharapkan memiliki pengetahuan gizi yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, uang saku, dan tingkat stres akademik dengan konsumsi makanan siap saji pada mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 959 mahasiswa angkatan 2023–2025, dengan sampel sebanyak 283 responden yang dipilih menggunakan proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan konsumsi makanan siap saji (p < 0,05), terdapat hubungan yang signifikan antara uang saku dengan konsumsi makanan siap saji (p < 0,05), serta terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres akademik dengan konsumsi makanan siap saji (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan, uang saku, dan tingkat stres akademik merupakan faktor yang berhubungan dengan konsumsi makanan siap saji pada mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi gizi, pengelolaan keuangan, serta manajemen stres sebagai strategi untuk mendorong terbentuknya perilaku konsumsi yang lebih sehat di kalangan mahasiswa.</p> <p><em>Fast-food consumption among university students has continued to increase due to modern lifestyles, easy accessibility, and demanding academic activities. This condition may increase the risk of various health problems, making it important to identify the factors associated with fast-food consumption behavior, particularly among public health students who are expected to possess better nutritional knowledge. This study aimed to analyze the associations between nutritional knowledge, allowance, and academic stress levels with fast-food consumption among Public Health students at Halu Oleo University. This study employed a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 959 students from the 2023–2025 cohorts, with a sample of 283 respondents selected using proportional stratified random sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test at a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed significant associations between nutritional knowledge and fast-food consumption (p < 0.05), allowance and fast-food consumption (p < 0.05), and academic stress levels and fast-food consumption (p < 0.05). This study concludes that nutritional knowledge, allowance, and academic stress are factors associated with fast-food consumption among Public Health students at Halu Oleo University. Therefore, nutrition education, financial management, and stress management interventions are needed to promote healthier dietary behaviors among university students.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24421STUDI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE) DI RS X TAHUN 20252026-07-19T04:40:58+00:00Fransiska Kristinafransiskachrstn01@gmail.comMida Pratiwimidapratiwi71@gmail.comDiah Kartika Putridiahtika25@gmail.comVicko Suswidiantorovickosuswidiantoro@gmail.com<p>Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit ginjal kronis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan memerlukan terapi jangka panjang. Pasien CKD umumnya menerima berbagai macam obat untuk mengatasi penyakit utama maupun penyakit penyerta, sehingga meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas terapi maupun meningkatkan kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan, jenis interaksi obat, serta tingkat keparahan interaksi obat pada pasien CKD di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan metode observasional dengan desain retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien CKD periode Juni–Desember 2025. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan Stockley’s Drug Interactions sebagai acuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 47 pasien, mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 29 pasien (62%) dan kelompok usia terbanyak adalah 50–65 tahun sebanyak 21 pasien (45%). Profil pengobatan didominasi oleh penggunaan kombinasi tiga obat sebanyak 9 kasus (19%). Sebanyak 24 pasien (51%) mengalami potensi interaksi obat, sedangkan 23 pasien (49%) tidak mengalami interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi kategori moderate merupakan yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 21 kejadian (72%), diikuti kategori minor dan mayor. Pasien CKD di RS X tahun 2025 memiliki potensi interaksi obat yang cukup tinggi dengan dominasi interaksi kategori moderate, sehingga diperlukan pemantauan terapi dan evaluasi penggunaan obat untuk mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan.</p> <p><em>Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive condition characterized by a gradual decline in kidney function that requires long-term pharmacological management. Patients with CKD commonly receive multiple medications to treat both the primary disease and associated comorbidities, thereby increasing the risk of drug interactions that may reduce therapeutic effectiveness or increase adverse drug reactions. This study aimed to identify the medication profile, types of drug interactions, and severity levels of potential drug interactions among CKD patients at X Regional Public Hospital in 2025. This observational study employed a retrospective design using medical records of CKD patients treated between June and December 2025. Potential drug interactions were analysed using Stockley’s Drug Interactions as the reference source. The results showed that among 47 patients, the majority were female (29 patients; 62%), while the largest age group was 50–65 years (21 patients; 45%). The medication profile was dominated by the use of three-drug combinations, accounting for 9 cases (19%). Potential drug interactions were identified in 24 patients (51%), whereas 23 patients (49%) had no potential drug interactions. Based on severity, moderate interactions were the most frequently observed, comprising 21 cases (72%), followed by minor and major interactions. In conclusion, patients with CKD at X Regional Public Hospital in 2025 had a relatively high potential for drug interactions, with moderate interactions being the predominant category. Therefore, continuous therapeutic monitoring and regular medication review are essential to minimize the risk of adverse drug events and optimize treatment outcomes.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24160EFFECTIVENESS OF VITAMIN D SUPPLEMENTATION IN CHILDHOOD ALLERGIC DISEASES: EVIDENCE FROM A LITERATURE REVIEW2026-07-13T01:27:25+00:00Clara Firhan Asifaclarafirhanasifa@gmail.comFarhan Dzaki Alfahrifarhandzakialfahri@gmail.com<p>Penyakit alergi, termasuk asma, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan alergi makanan, merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering dijumpai pada anak serta menjadi beban kesehatan global yang terus meningkat. Kondisi ini umumnya dimulai sejak usia dini dan dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara predisposisi genetik, disregulasi sistem imun, dan faktor lingkungan. Bukti yang semakin berkembang menunjukkan bahwa vitamin D, selain berperan dalam metabolisme tulang, juga memiliki fungsi imunomodulator yang penting dan dapat memengaruhi perkembangan serta tingkat keparahan penyakit alergi pada anak. Tinjauan literatur ini merangkum bukti terkini mengenai epidemiologi dan etiopatogenesis penyakit alergi pada anak, prevalensi defisiensi vitamin D pada populasi pediatrik, mekanisme imunologis yang mendasarinya, serta potensi manfaat klinis suplementasi vitamin D. Secara keseluruhan, suplementasi vitamin D tampak memberikan manfaat potensial, terutama pada asma anak dan dermatitis atopik, meskipun hasil penelitian yang tersedia masih heterogen dan belum konsisten. Oleh karena itu, diperlukan penelitian berkualitas tinggi lebih lanjut untuk memperjelas peran vitamin D serta menyusun rekomendasi berbasis bukti dalam tata laksana penyakit alergi pada anak.</p> <p><em>Allergic diseases—including asthma, allergic rhinitis, atopic dermatitis, and food allergies—are among the most common chronic conditions in children and represent a growing global health burden. These conditions typically manifest early in life and are influenced by complex interactions between genetic predisposition, immune system dysregulation, and environmental factors. Growing evidence indicates that vitamin D, beyond its role in bone metabolism, possesses important immunomodulatory functions that may influence the development and severity of allergic diseases in children. This literature review summarizes current evidence regarding the epidemiology and etiopathogenesis of pediatric allergic diseases, the prevalence of vitamin D deficiency in the pediatric population, underlying immunological mechanisms, and the potential clinical benefits of vitamin D supplementation. Overall, vitamin D supplementation appears to offer potential benefits—particularly for pediatric asthma and atopic dermatitis—although existing research findings remain heterogeneous and inconsistent. Therefore, further high-quality research is needed to clarify the role of vitamin D and to formulate evidence-based recommendations for the management of allergic diseases in children.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24661UPAYA PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI MANAJEMEN KESEHATAN: LITERATURE REVIEW2026-07-26T03:40:56+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Derajat kesehatan masyarakat menjadi salah satu indikator penting dalam melihat keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia. Kondisi kesehatan masyarakat yang baik akan berpengaruh terhadap kualitas hidup, produktivitas kerja, dan kesejahteraan sosial. Namun, tingkat kesakitan masyarakat di Indonesia masih tergolong tinggi, baik akibat penyakit menular maupun penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan penyakit jantung. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya produktivitas masyarakat serta meningkatnya beban pembiayaan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui optimalisasi manajemen kesehatan berdasarkan berbagai literatur ilmiah tahun 2021–2025. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari jurnal nasional dan internasional yang membahas manajemen pelayanan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, teknologi kesehatan, dan kebijakan kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa aspek manajemen kesehatan yang belum berjalan optimal, seperti koordinasi pelayanan kesehatan yang belum efektif, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, pemanfaatan teknologi kesehatan yang masih terbatas, serta implementasi kebijakan kesehatan yang belum maksimal. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain penguatan sistem manajemen pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas SDM kesehatan, pengembangan digitalisasi layanan kesehatan, dan penguatan kebijakan kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa optimalisasi manajemen kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, menurunkan tingkat kesakitan masyarakat, dan mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.</p> <p><em>Public health is an important indicator in national development because it is closely related to quality of life and community productivity. The morbidity rate in Indonesia remains relatively high due to communicable and non-communicable diseases. This condition affects the decline in community productivity and increases the burden of health financing. One of the causes is the health management system that has not been fully optimized. This study aims to analyze efforts to improve public health through optimizing health management based on scientific literature from 2021–2025. The method used was a literature review with a qualitative descriptive approach. Data were obtained from national and international journals discussing health service management, health human resources, health technology, and health policy. The results showed that several aspects of health management are still not optimal, such as weak coordination of health services, unequal distribution of health workers, underutilization of health technology, and uneven implementation of health policies. Strategies that can be implemented include strengthening integrated health service systems, improving the competence of health human resources, developing digital health services, and strengthening health policies based on community needs. In conclusion, optimizing health management plays an important role in improving the quality of health services, reducing community morbidity rates, and supporting productivity and sustainable national development</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24410ANALISIS HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA: LITERATURE REVIEW2026-07-18T10:53:19+00:00Kinanti Sedya Pangestutikinantiisedyaa@gmail.comSofia Nor Azizahsofianurazizah476@gmail.com<p>Gangguan kualitas tidur banyak dialami mahasiswa akibat tuntutan akademik, penyelesaian tugas, penggunaan gawai, dan stres. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi tekanan darah sehingga diperlukan kajian untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis tujuh jurnal yang diterbitkan pada tahun 2023–2026. Artikel yang dikaji terdiri atas penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan artikel literature review. Analisis dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian dari setiap jurnal. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan tekanan darah. Mahasiswa yang memiliki kualitas tidur buruk cenderung lebih berisiko mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan mahasiswa dengan kualitas tidur baik. Namun, terdapat satu penelitian yang menunjukkan hasil yang tidak signifikan karena dipengaruhi oleh karakteristik responden dan faktor risiko lainnya. Selain kualitas tidur, tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, tingkat stres, pola makan, indeks massa tubuh, dan riwayat keluarga. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa kualitas tidur berhubungan dengan tekanan darah, sehingga menjaga pola tidur yang baik perlu dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan mahasiswa.</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24094LAPORAN KASUS PADA NY.R DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RSJ GRAHASIA YOGYAKARTA2026-07-10T11:10:03+00:00 Rahmawati Cahya Ardittasari rhmwtchy@gmail.comDeasti Nurmaguphitadeastinurma@unisayogya.ac.id<p>Masalah kesehatan jiwa yang masih menjadi perhatian para praktisi kesehatan jiwa di Indonesia yaitu gangguan jiwa berat, salah satu gangguan jiwa berat yang sering kita temukan dan dirawat adalah skizofrenia. Risiko perilaku kekerasan adalah keadaan perilaku seperti marah dan dorongan untuk bertindak pada bentuk destruktif serta masih terkontrol. Metode dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 pasien dengan resiko perilaku kekerasan yang di rawat di RSJ Grahasia, Wisma Srikandi . pendekatan keperawatan dilakukan secara holistik melalui pengkajian menyeluruh, penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI, dan perencanaan intervensi sesuai SLKI dan SIKI. Intervensi keperawatan meliputi latihan tarik nafas dalam, pukul bantal, patuh minum obat, latih cara asertif (menyampaikan perasaan, meminta dan menolak dengan baik) dan latih kegiatan spirtual. Hasil penelitian menunjukan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi mengalami perubahhan pada pasien resiko perilaku kekerasan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbaikan bertahap pada kemampuan pasien untuk perilaku menyerang, perilaku melukai diri sendiri atau orang lain, perilaku agresif atau amuk, suara ketus dan bicara ketus yang telihat dari penurunan skor hasil pre dan post intervensi, meskipun gejala belum sepenuhnya hilang. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian dengan lebih banyak pasien untuk mengetahui efektivitas terhadap terapi yang telah dilakukan oleh peneliti dengan resiko perilaku kekerasan. Waktu terapi juga sebaiknya diperpanjang agar bisa terlihat perkembangan pasien dalam jangka waktu yang lebih lama.</p> <p><em>Mental health issues that remain a concern for mental health practitioners in Indonesia are severe mental disorders, one of the severe mental disorders that we often encounter and treat is schizophrenia. The risk of violent behavior is a behavioral condition such as anger and the urge to act in a destructive form while still being controlled. The methods and sample used in this study involved 1 patient with a risk of violent behavior who was treated at RSJ Grahasia, Wisma Srikandi. Nursing approaches were conducted holistically through comprehensive assessment, determination of nursing diagnoses based on SDKI, and planning of interventions according to SLKI and SIKI. Nursing interventions include deep breathing exercises, pillow hitting, adherence to medication, practicing assertive behavior (expressing feelings, requesting, and refusing appropriately), and practicing spiritual activities. The research results showed that before and after the intervention, there were changes in patients at risk of violent behavior. Evaluation results indicated gradual improvement in the patients' ability to manage attacking behavior, self-harm or harming others, aggressive or enraged behavior, curt tone, and curt speech, as seen from the decrease in pre- and post-intervention scores, although symptoms have not completely disappeared. Suggestions for future researchers include conducting studies with more patients to determine the effectiveness of the therapy carried out by the researchers for patients at risk of violent behavior. The therapy duration should also be extended to observe patients' progress over a longer period of time.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24613LAPORAN AKHIR PENELITIAN KEPERAWATAN EKSPLORASI PENGALAMAN DIABETESI DALAM PENATALAKSANAAN FATIGUE DIABETES MELLITUS: STUDI FENOMENOLOGI2026-07-24T04:38:52+00:00Yuni Fitriyantiyuni.yanti1106@gmail.comDiana Tri Lestariguest@jurnalhst.comNs.Yuli Setyaningrumguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Fatigue merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh penyandang Diabetes Mellitus (DM) dan berdampak terhadap kualitas hidup, aktivitas sehari-hari, serta keberhasilan pengelolaan penyakit. Pengalaman setiap diabetesi dalam menghadapi dan mengatasi fatigue berbeda-beda, sehingga diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai strategi penatalaksanaan yang dilakukan berdasarkan pengalaman hidup mereka.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman diabetesi dalam penatalaksanaan fatigue pada Diabetes Mellitus melalui pendekatan fenomenologi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema yang menggambarkan pengalaman partisipan dalam mengelola fatigue.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman diabetesi dalam penatalaksanaan fatigue mencakup beberapa tema utama, yaitu persepsi terhadap fatigue sebagai bagian dari penyakit, upaya pengelolaan melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, kepatuhan terhadap terapi, pengendalian kadar glukosa darah, dukungan keluarga, serta strategi koping psikologis dan spiritual. Selain itu, partisipan juga mengungkapkan berbagai hambatan dalam mengelola fatigue, seperti kurangnya pengetahuan, keterbatasan fisik, dan faktor emosional.Kesimpulan: Fatigue merupakan pengalaman kompleks yang dipengaruhi oleh faktor fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Pemahaman mengenai pengalaman diabetesi dalam mengelola fatigue dapat menjadi dasar bagi perawat dalam menyusun intervensi keperawatan yang lebih holistik, berpusat pada pasien, dan sesuai dengan kebutuhan individu untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang Diabetes Mellitus.</p> <p><em>Background: Fatigue is one of the most common symptoms experienced by individuals with Diabetes Mellitus (DM) and has a significant impact on quality of life, daily functioning, and disease self-management. Each individual's experience in managing diabetes-related fatigue is unique; therefore, an in-depth understanding of their lived experiences is essential to develop effective nursing interventions.Objective: This study aimed to explore the lived experiences of individuals with Diabetes Mellitus in managing diabetes-related fatigue using a phenomenological approach. Methods: This study employed a qualitative research design with a phenomenological approach. Participants were selected through purposive sampling based on predetermined inclusion criteria. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis to identify themes reflecting participants' experiences in managing fatigue.Results: The findings revealed several major themes related to the management of diabetes-related fatigue, including the perception of fatigue as part of living with diabetes, self-management through dietary regulation, physical activity, adequate rest, adherence to medication, blood glucose control, family support, and psychological and spiritual coping strategies. Participants also described several barriers to fatigue management, such as limited knowledge, physical limitations, and emotional challenges.Conclusion: Diabetes-related fatigue is a complex experience influenced by physical, psychological, social, and spiritual factors. Understanding the lived experiences of individuals with Diabetes Mellitus in managing fatigue can provide valuable insights for nurses in developing holistic, patient-centered nursing interventions tailored to individual needs, thereby improving the quality of life of people living with Diabetes Mellitus.</em></p>2026-07-24T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24367ANALISIS FAKTOR RESIKO POLA HIDUP TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER : LITERATUR REVIEW2026-07-17T07:26:32+00:00Salsa Putri Azzahrasalsaputriiazaaa@gmail.comLaili Muthmainnahaimuthmainnah8@gmail.com<p>Latar Belakang : Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Berbagai faktor gaya hidup yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan perilaku sedentari berperan penting dalam meningkatkan risiko terjadinya PJK. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mensintesis berbagai hasil penelitian mengenai faktor-faktor risiko gaya hidup yang berhubungan dengan kejadian Penyakit Jantung Koroner melalui literature review. Metode : Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis artikel ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2020–2024. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner, pola hidup, pola makan, aktivitas fisik, merokok, status gizi, dan faktor risiko. Sebanyak sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif. Hasil : Hasil kajian menunjukkan bahwa kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, perilaku sedentari, obesitas, hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko yang paling konsisten berhubungan dengan kejadian PJK. Sementara itu, hasil penelitian mengenai aktivitas fisik menunjukkan temuan yang bervariasi, meskipun aktivitas fisik tetap direkomendasikan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit jantung koroner. Faktor-faktor gaya hidup memiliki peran penting terhadap kejadian Penyakit Jantung Koroner. Penerapan pola hidup sehat melalui perbaikan pola makan, penghentian kebiasaan merokok, peningkatan aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko metabolik merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit jantung koroner.</p> <p><em>Background : Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of death worldwide and remains a major public health problem. Various modifiable lifestyle factors, including unhealthy diet, smoking, physical inactivity, and sedentary behavior, contribute significantly to the development of CHD. Objective : This study aims to identify and synthesize evidence regarding lifestyle-related risk factors associated with Coronary Heart Disease through a literature review.Method: This study employed a literature review approach by analyzing scientific articles published between 2020 and 2024. Literature was searched through Google Scholar using keywords related to Coronary Heart Disease, lifestyle, diet, physical activity, smoking, nutritional status, and risk factors. A total of ten eligible articles were analyzed narratively. Results : The review found that smoking, unhealthy diet, sedentary behavior, obesity, hypertension, diabetes mellitus, and hypercholesterolemia were the most consistent risk factors associated with CHD. Findings regarding physical activity were inconsistent across studies, although regular physical activity remains an important recommendation for cardiovascular disease prevention.Conclusion : Lifestyle-related factors play an important role in the occurrence of Coronary Heart Disease. Modifying unhealthy lifestyle behaviors through healthy diet, smoking cessation, regular physical activity, and management of metabolic risk factors is essential to reduce the burden of CHD.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24563EDUKASI KESEHATAN TENTANG ANEMIA PADA IBU HAMIL DI POSYANDU SEDAP MALAM, TANJUNG UBAN TAHUN 2026 HEALTH EDUCATION ABOUT ANEMIA IN PREGNANT WOMEN AT POSYANDU SEDAP MALAM, TANJUNG UBAN IN 20262026-07-22T13:32:57+00:00Septi Maisyaroh Ulinasepti.panggabean190989@gmail.comEva Nataliaeva.vinonatalia@gmail.comR. Susi Yanti Purbasusi.yp28@gmail.com<p>Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering ditemukan di Indonesia dan dapat memberikan dampak buruk bagi ibu maupun janin. Kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi dan tablet tambah darah menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya anemia pada kehamilan. Kegiatan edukasi kesehatan ini dilakukan di Posyandu Sedap Malam, Tanjung Uban dengan tujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai pengertian anemia, penyebab, tanda dan gejala, bahaya, serta cara pencegahan anemia selama kehamilan. Metode yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan melalui ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pembagian leaflet edukasi. Materi penyuluhan meliputi pentingnya konsumsi makanan sumber zat besi, sayuran hijau, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ibu hamil lebih memahami tanda-tanda anemia seperti mudah lelah, lesu, pucat, dan pusing, serta mengetahui dampak anemia terhadap ibu dan bayi, seperti perdarahan saat persalinan dan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Edukasi kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ibu hamil dalam menjaga kesehatan selama kehamilan sehingga kejadian anemia dapat dicegah.</p> <p><em>Anemia in pregnant women remains a common health problem in Indonesia and may cause negative effects for both mother and fetus. Lack of knowledge regarding the importance of nutritious food consumption and iron supplementation is one of the contributing factors to anemia during pregnancy. This health education activity was conducted at Posyandu Sedap Malam Tanjung Uban with the aim of increasing pregnant women’s knowledge about the definition, causes, signs and symptoms, dangers, and prevention of anemia during pregnancy. The methods used included health counseling through lectures, discussions, question-and-answer sessions, and distribution of educational leaflets. The educational materials covered the importance of consuming iron-rich foods, green vegetables, adherence to iron tablet consumption, and routine antenatal care visits. The results of the activity showed that pregnant women better understood the signs of anemia such as fatigue, weakness, paleness, and dizziness, as well as the impacts of anemia on mothers and babies, including bleeding during childbirth and the risk of low birth weight babies. Health education is expected to increase pregnant women’s awareness in maintaining their health during pregnancy so that anemia can be prevented.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24274HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP SWAMEDIKASI GASTRITIS PADA SISWA DI SMA NEGERI 1 ANAK RATU AJI LAMPUNG TENGAH2026-07-15T07:04:19+00:00Aisyah Juli Wiliyanaaisyahjuli379@gmail.comMida Pratiwi midapratiwi71@gmail.comAfi Sania Rosantiafisania2@gmail.comRiza Dwiningrumdwiningrumriza@gmail.com<p>Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut maupun kronis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori serta faktor lain, seperti pola makan yang tidak teratur, kebiasaan melewatkan waktu makan, dan lambung yang sering kosong secara terus-menerus sehingga memicu terjadinya gastritis. Swamedikasi sering dilakukan sebagai upaya penanganan awal untuk mengurangi gejala yang dirasakan. Keberhasilan swamedikasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan individu mengenai penyakit dan pengobatan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap swamedikasi gastritis pada siswa di SMA Negeri 1 Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional dan rancangan cross-sectional. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI yang menderita gastritis, dengan sampel sebanyak 75 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa tentang swamedikasi gastritis tergolong baik sebanyak 46 orang (61,3%), cukup 19 orang (25,3%), dan kurang 10 orang (13,3%). Sikap siswa terhadap swamedikasi gastritis tergolong baik sebanyak 57 orang (76%), cukup 14 orang (18,6%), dan kurang 4 orang (5,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap swamedikasi gastritis pada siswa SMA Negeri 1 Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, dengan nilai p-value sebesar 0,028 (p<0,05).</p> <p><em>Gastritis is an inflammation of the gastric mucosa that can be acute or chronic. This condition can be caused by Helicobacter pylori infection as well as other factors, such as irregular diet, the habit of skipping meals, and a stomach that is often empty constantly that triggers gastritis. Self-medication is often done as an initial treatment effort to reduce the symptoms felt. The success of self-medication is greatly influenced by the individual's level of knowledge about the disease and the appropriate treatment. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and the attitude of self-medication gastritis in students at SMA Negeri 1 Anak Ratu Aji, Central Lampung Regency. This study uses a quantitative approach with a correlational method and a cross-sectional design. Data analysis was carried out bivariate using the Chi-Square test. The study population was all students in grades X and XI who suffered from gastritis, with a sample of 75 respondents selected using purposive sampling techniques. The research instrument is in the form of a questionnaire. The results showed that the level of student knowledge about self-medication gastritis was classified as good as 46 people (61.3%), 19 people (25.3%), and 10 people (13.3%) lacked. The attitude of students towards self-medication of gastritis was classified as good as 57 people (76%), only 14 people (18.6%), and less than 4 people (5.3%). The results of the Chi-Square test showed that there was a significant relationship between the level of knowledge and the attitude of self-medication gastritis in students of SMA Negeri 1 Anak Ratu Aji, Central Lampung Regency, with a p-value of 0.028 (p<0.05).</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24440FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN ISPA PADA BAYI DAN BALITA: LITERATURE REVIEW2026-07-19T13:46:20+00:00Clarin Bella Ameliaclarinbellaamelia30@gmail.comDigma Fitriana Desinta Wulansaridigmafwd@gmail.com<p>Infeksi saluran pernapasan akut tetap menjadi penyebab utama kematian dan penyakit pada anak di bawah lima tahun di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mempelajari berbagai faktor yang bisa memicu terjadinya ISPA pada bayi dan anak-anak balita, berdasarkan artikel ilmiah yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan mengumpulkan, memilih, dan menganalisis secara deskriptif sepuluh artikel jurnal yang relevan dari basis data Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya ISPA beragam dan saling terkait, meliputi faktor lingkungan di dalam rumah, kebiasaan keluarga, serta karakteristik anak itu sendiri. Kualitas fisik lingkungan rumah yang buruk, seperti ventilasi yang tidak cukup, tingkat kelembapan yang tinggi, kerumunan penduduk, serta jenis lantai dan dinding yang tidak tahan lama, menjadi penyebab eksternal yang penting. Kerentanan ini semakin buruk karena paparan asap rokok sebagai perokok pasif, serta tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu mengenai pencegahan ISPA yang rendah. Secara internal, balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, memiliki status imunisasi dasar yang tidak lengkap, dan lahir dengan berat badan rendah karena ibu hamil menderita anemia, berisiko mengalami infeksi yang lebih besar. Sebaliknya, faktor demografis alami seperti usia dan jenis kelamin tidak selalu menjadi penentu pasti. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mengatasi ISPA secara efektif membutuhkan langkah-langkah menyeluruh, seperti meningkatkan kebersihan rumah, mengurangi paparan asap rokok, memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu, serta memastikan anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang baik sejak kecil.</p> <p><em>Acute respiratory infections remain a leading cause of death and illness in children under five in developing countries, including Indonesia. This study aims to identify and examine the various factors that can trigger ARI in infants and toddlers, based on scientific articles published in the past five years. The method used was a literature review by collecting, selecting, and descriptively analyzing ten relevant journal articles from the Google Scholar database. The results indicate that the causes of ARI are diverse and interrelated, including environmental factors within the home, family habits, and the child's own characteristics. Poor physical quality of the home environment, such as inadequate ventilation, high humidity levels, crowded conditions, and poor flooring and walls, are important external factors. This vulnerability is exacerbated by exposure to secondhand smoke, as well as low maternal education and knowledge regarding ARI prevention. Internally, toddlers who are not exclusively breastfed, have incomplete basic immunizations, and are born with low birth weight due to maternal anemia are at greater risk of infection. Conversely, natural demographic factors such as age and gender are not always definitive determinants. The conclusion of this study indicates that effectively addressing ARI requires comprehensive measures, such as improving home hygiene, reducing exposure to cigarette smoke, providing education to mothers, and ensuring children have a strong immune system from an early age.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24237FAKTOR RISIKO DAN DAMPAK KOMPLIKASI PENYAKIT CAMPAK PADA ANAK : LITERATUR REVIEW2026-07-14T08:29:34+00:00Alfina Twis Andadarialfinatws12@gmail.comGita Permata Sarisarigita077@gmail.com<p>Campak merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Measles virus dan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak. Meskipun program imunisasi telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat campak, kasus penyakit ini masih ditemukan di berbagai negara akibat rendahnya cakupan imunisasi, status gizi yang kurang baik, serta faktor lingkungan yang mendukung penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan dampak komplikasi penyakit campak pada anak berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah artikel ilmiah yang diperoleh melalui database PubMed dan Scopus menggunakan kata kunci measles, measles immunization, measles complications, measles outbreak, dan measles transmission. Artikel yang dipublikasikan pada tahun 2018–2025 diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria untuk ditelaah. Hasil kajian menunjukkan bahwa status imunisasi yang tidak lengkap merupakan faktor risiko utama kejadian campak. Faktor lain yang berkontribusi meliputi status gizi buruk, defisiensi vitamin A, rendahnya pengetahuan orang tua mengenai imunisasi, kepadatan hunian, ventilasi rumah yang kurang baik, mobilitas penduduk, serta keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, otitis media, ensefalitis, kebutaan, immune amnesia, hingga kematian, terutama pada balita dan anak dengan sistem imun yang lemah. Dengan demikian, peningkatan cakupan imunisasi, perbaikan status gizi, edukasi kesehatan, serta penguatan sistem surveilans dan pelayanan kesehatan merupakan strategi penting dalam menurunkan kejadian campak dan mencegah komplikasi yang lebih berat.</p> <p><em>Measles is an acute infectious disease caused by the measles virus and remains a major public health problem, especially in children. Although immunization programs have successfully reduced morbidity and mortality due to measles, cases of the disease are still found in various countries due to low immunization coverage, poor nutritional status, and environmental factors that support transmission. This study aims to identify risk factors and the impact of measles complications in children based on published research results. The method used is a literature review by examining scientific articles obtained through the PubMed and Scopus databases using the keywords measles, measles immunization, measles complications, measles outbreak, and measles transmission. Articles published in 2018–2025 were selected based on inclusion and exclusion criteria, then analyzed descriptively. A total of 15 articles met the criteria for review. The results of the study indicate that incomplete immunization status is a major risk factor for measles incidence. Other contributing factors include poor nutritional status, vitamin A deficiency, poor parental knowledge about immunization, overcrowding, poor ventilation, population mobility, and limited access to health services. Measles can also cause various serious complications, such as pneumonia, severe diarrhea, otitis media, encephalitis, blindness, immune amnesia, and even death, especially in infants and children with weakened immune systems. Therefore, increasing immunization coverage, improving nutritional status, health education, and strengthening surveillance systems and health services are important strategies to reduce measles incidence and prevent more serious complications.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24662ANALISIS DAMPAK PEMANFAATAN TEKNOLOGI TELEMEDICINE TERHADAP AKSES LAYANAN KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL: LITERATURE REVIEW2026-07-26T04:14:43+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil masih menjadi tantangan penting dalam sistem kesehatan Indonesia akibat keterbatasan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, hambatan geografis, dan ketimpangan distribusi layanan kesehatan. Kondisi tersebut berdampak pada keterlambatan diagnosis, keterbatasan akses terhadap tenaga kesehatan spesialis, serta meningkatnya beban biaya dan waktu yang harus dikeluarkan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Telemedicine hadir sebagai salah satu inovasi kesehatan digital yang berpotensi mengatasi berbagai hambatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pemanfaatan teknologi telemedicine terhadap akses layanan kesehatan di daerah terpencil melalui metode literature review. Kajian dilakukan dengan menelaah berbagai publikasi ilmiah, kebijakan kesehatan, dan laporan organisasi kesehatan yang relevan mengenai implementasi telemedicine. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi manfaat, tantangan, dan strategi pengembangan telemedicine. Hasil kajian menunjukkan bahwa telemedicine berkontribusi dalam meningkatkan akses layanan kesehatan melalui kemudahan konsultasi jarak jauh, pengurangan biaya dan waktu perjalanan pasien, peningkatan kontinuitas pelayanan kesehatan, serta perluasan akses terhadap tenaga kesehatan dan dokter spesialis. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur internet, rendahnya literasi digital masyarakat, keterbatasan sarana teknologi, serta isu keamanan dan kerahasiaan data pasien. Oleh karena itu, diperlukan penguatan infrastruktur digital, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, edukasi masyarakat, penguatan regulasi, dan integrasi telemedicine ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat di daerah terpencil.</p> <p><em>Access to healthcare services in remote areas remains a significant challenge in the Indonesian healthcare system due to limited healthcare personnel and facilities, geographic barriers, and unequal distribution of healthcare services. These conditions result in delayed diagnoses, limited access to specialist healthcare professionals, and increased costs and time spent by the public to obtain healthcare services. Telemedicine is a digital health innovation with the potential to address these barriers. This study aims to analyze the impact of telemedicine technology utilization on healthcare access in remote areas through a literature review. The study was conducted by examining various scientific publications, health policies, and relevant health organization reports regarding telemedicine implementation. The analysis was descriptive to identify the benefits, challenges, and development strategies for telemedicine. The study results indicate that telemedicine contributes to improving healthcare access through the convenience of remote consultations, reducing patient travel costs and time, improving continuity of healthcare services, and expanding access to healthcare professionals and specialist doctors. However, its implementation still faces various challenges, including limited internet infrastructure, low digital literacy, limited technological resources, and issues of patient data security and confidentiality. Therefore, strengthening digital infrastructure, improving the competency of healthcare workers, educating the public, strengthening regulations, and integrating telemedicine into the national healthcare system are necessary to ensure its optimal benefits for people in remote areas</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24419HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI: LITERATURE REVIEW2026-07-18T13:46:49+00:00Octaviona Seconda Deargacezaoctavionaceza@gmail.comRehan Izza Retiyandiniizzaretiyandini@gmail.com<p>Anemia pada remaja putri masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi pertumbuhan, kemampuan belajar, produktivitas, serta kesehatan reproduksi di masa mendatang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kejadian anemia dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat pengetahuan, status gizi, konsumsi zat besi, siklus menstruasi, kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), literasi gizi, dan kondisi sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah sepuluh artikel ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2021–2026 dan diperoleh melalui database Google Scholar dan Garuda. Proses pemilihan artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui tahap identifikasi, seleksi, ekstraksi data, dan sintesis hasil penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menyatakan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Remaja yang memiliki pengetahuan yang baik cenderung menerapkan perilaku pencegahan anemia, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan zat besi, serta mengonsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin. Selain itu, status gizi, konsumsi zat besi, siklus menstruasi, dan kondisi sosial ekonomi juga berperan dalam meningkatkan risiko anemia. Berbagai bentuk pendidikan gizi dan media edukasi, seperti penyuluhan, booklet, video edukasi, permainan edukatif, dan buku saku digital, terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pencegahan anemia. Berdasarkan hasil literature review ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri, sehingga diperlukan pelaksanaan edukasi kesehatan yang berkelanjutan serta dukungan dari sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk perilaku hidup sehat, dan menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri</p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24096LAPORAN KASUS PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA2026-07-10T12:06:37+00:00Shinta Wahyu Septiana shintawahyu61175@gmail.comDeasti Nurmaguphitadeastinurma@unisayogya.ac.id<p>Gangguan jiwa khususnya skizofrenia merupakan masalah kesehatan mental yang memengaruhi pola pikir, emosi, perilaku, dan kemampuan sosial individu sehingga berdampak pada kemampuan melakukan aktivitas perawatan diri. Salah satu masalah keperawatan yang sering ditemukan pada pasien skizofrenia adalah defisit perawatan diri yang ditandai dengan ketidakmampuan menjaga kebersihan diri, berpakaian, makan, dan toileting secara mandiri. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien dan meningkatkan ketergantungan terhadap orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan strategi pelaksanaan (SP) dalam meningkatkan kemampuan perawatan diri pada pasien skizofrenia dengan defisit perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien dengan diagnosa keperawatan defisit perawatan diri. Penelitian dilakukan selama tiga hari dengan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Intervensi dilakukan menggunakan strategi pelaksanaan (SP) 1–4 yang meliputi SP 1 yaitu latihan mandi dan kebersihan diri, SP 2 adalah toileting, SP 3 adalah latihan makan dan minum, serta SP 4 latihan berhias dan berpakaian. Data dikumpulkan menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan jiwa dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien mengalami peningkatan kemampuan perawatan diri meliputi kemampuan mandi, makan dan minum, toiletting, dan berdandan/berhias. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi pelaksanaan (SP) 1–4 efektif dalam meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien skizofrenia secara bertahap. Intervensi yang dilakukan secara terstruktur, konsisten, dan disertai dukungan terapeutik mampu membantu meningkatkan kemandirian pasien dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.</p> <p><em>Mental disorders especially schizophrenia, are mental health problems that affect an individual's thought patterns, emotions, behavior, and social abilities, thus impacting the ability to perform self-care activities. One of the nursing problems frequently found in schizophrenia patients is a self-care deficit characterized by the inability to maintain personal hygiene, dress, eat, and toilet independently. This condition can reduce the patient's quality of life and increase dependence on others. This study aims to describe the application of implementation strategies (SP) in improving self-care abilities in schizophrenia patients with self-care deficits at Grhasia Mental Hospital, Yogyakarta. The research method used a descriptive design with a case study approach on one patient with a nursing diagnosis of self-care deficit. The study was conducted for three days using a nursing process approach including assessment, nursing diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Interventions were carried out using implementation strategies (SP) 1–4 which included bathing and personal hygiene training, toileting, eating and drinking, and grooming and dressing. Data were collected using a psychiatric nursing care assessment format and analyzed descriptively. The results showed that the patient experienced an increase in self-care abilities including the ability to bathe, eat and drink, toileting, and grooming. The conclusion of this study indicates that implementing implementation strategies (SP) 1–4 is effective in gradually improving self-care skills in patients with schizophrenia. Structured, consistent interventions, accompanied by therapeutic support, can help increase patients' independence in meeting daily activity needs.</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24660IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN PUSKESMAS DI BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW2026-07-26T03:21:08+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Transformasi digital kesehatan menjadi salah satu fokus utama pemerintah Indonesia dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu Puskesmas. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan data kesehatan, pelaporan program, pelayanan pasien, serta pengambilan keputusan berbasis data. Namun, implementasi SIK di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada aspek kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, integrasi sistem, dan kualitas data kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga tahun 2024 masih terdapat banyak Puskesmas yang belum optimal dalam penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) dan integrasi platform SATUSEHAT karena keterbatasan jaringan internet, perangkat komputer, serta kompetensi tenaga kesehatan. Kondisi tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi kurang efisien, pelaporan kesehatan terlambat, serta meningkatkan risiko kesalahan pencatatan data pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membahas implementasi Sistem Informasi Kesehatan di berbagai Puskesmas di Indonesia melalui metode literature review. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menelaah berbagai jurnal nasional, kebijakan pemerintah, dan referensi ilmiah terkait implementasi SIK periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi SIK memberikan dampak positif terhadap efisiensi pelayanan, percepatan pengelolaan data, peningkatan kualitas pelaporan, serta mendukung integrasi Rekam Medis Elektronik dan platform SATUSEHAT. Akan tetapi, implementasi SIK masih menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan kompetensi SDM, infrastruktur teknologi yang belum memadai, gangguan jaringan internet, rendahnya interoperabilitas sistem, serta belum optimalnya tata kelola data kesehatan. Berbagai strategi diperlukan untuk mengoptimalkan implementasi Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas, diantaranya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan berkala, penguatan infrastruktur digital, integrasi sistem informasi kesehatan nasional, peningkatan keamanan data kesehatan, serta penguatan dukungan kebijakan pemerintah daerah dan pusat. Dengan optimalisasi implementasi SIK, diharapkan kualitas pelayanan kesehatan primer di Indonesia dapat meningkat secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.</p> <p><em>Digital transformation of health has become a key focus of the Indonesian government in improving the quality of healthcare services, particularly in primary healthcare facilities, namely Community Health Centers (Puskesmas). Health Information Systems (HIS) play a crucial role in supporting health data management, program reporting, patient care, and data-driven decision-making. However, the implementation of HIS in Indonesia still faces various challenges, particularly in the areas of human resource readiness, technological infrastructure, system integration, and health data quality. According to data from the Indonesian Ministry of Health, by 2024, many Community Health Centers (Puskesmas) will still not be optimal in implementing Electronic Medical Records (EMRE) and integrating the SATUSEHAT platform due to limited internet access, computer equipment, and the competence of healthcare workers. This condition results in inefficient healthcare services, delayed health reporting, and an increased risk of errors in patient data recording. This study aims to discuss the implementation of Health Information Systems in various Community Health Centers (Puskesmas) in Indonesia through a literature review method. The study uses a qualitative descriptive approach by examining various national journals, government policies, and scientific references related to the implementation of HIS for the 2020–2025 period. The study results indicate that the implementation of the Health Information System (HIS) has a positive impact on service efficiency, accelerated data management, improved reporting quality, and supported the integration of Electronic Medical Records (EMR) and the SATUSEHAT platform. However, the implementation of the HIS still faces various obstacles, such as limited human resource competency, inadequate technological infrastructure, internet network disruptions, low system interoperability, and suboptimal health data governance. Various strategies are needed to optimize the implementation of the HIS in Community Health Centers (Puskesmas), including improving the competency of health workers through regular training, strengthening digital infrastructure, integrating the national health information system, enhancing health data security, and strengthening policy support from local and central governments. By optimizing the HIS implementation, it is hoped that the quality of primary health care services in Indonesia can improve more effectively, efficiently, and sustainably</em></p>2026-07-30T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif