https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/issue/feedJurnal Inovasi Kesehatan Adaptif2026-08-31T05:33:57+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25462PROMOSI KESEHATAN BERBASIS NILAI-NILAI ISLAM PADA KOMUNITAS MUSLIM ASYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-08-15T06:30:55+00:00Srie Rejekijqrejeki@gmail.comDiah Ayu Kartikasariayuip2025@gmail.comFadhila Husnannisafadhilahusna@gmail.comHevy Verawatyhevy.verawaty83@gmail.comAli Imronaliimron@unimus.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah terkait promosi kesehatan berbasis nilai-nilai Islam pada komunitas Muslim melalui pendekatan systematic literature review. Metode penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi, menyeleksi, dan menganalisis artikel ilmiah dari jurnal internasional dan nasional terindeks yang membahas integrasi nilai nilai Islam dalam promosi kesehatan. Artikel yang direview mencakup studi scoping review, systematic review, penelitian kualitatif, dan studi konseptual yang berfokus pada peran nilai spiritual Islam, institusi keagamaan, serta tokoh agama dalam promosi kesehatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi kesehatan berbasis nilai-nilai Islam didominasi oleh prinsip kebersihan (thaharah), pencegahan penyakit, keseimbangan hidup, dan maqashid syariah sebagai kerangka nilai utama. Masjid, imam, dan ulama berperan sebagai fasilitator utama dalam edukasi dan intervensi kesehatan berbasis komunitas. Berbagai studi menunjukkan bahwa intervensi berbasis keagamaan efektif dalam meningkatkan perilaku kesehatan, seperti aktivitas fisik, pencegahan obesitas, kesehatan mental, dan penerapan gaya hidup sehat pada komunitas muslim. Selain itu, pendekatan berbasis spiritual terbukti meningkatkan kepatuhan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat serta memperkuat ketahanan komunitas terhadap tantangan kesehatan. Namun demikian, masih terdapat keterbatasan berupa kurangnya integrasi antara sistem kesehatan modern dengan pendekatan berbasis nilai Islam serta belum adanya model intervensi yang terstandarisasi secara global. Kesimpulannya, promosi kesehatan berbasis nilai-nilai Islam merupakan pendekatan yang efektif dan potensial dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat muslim secara holistik. Integrasi antara ilmu kesehatan modern dan nilai spiritual Islam diperlukan untuk mengembangkan model promosi kesehatan yang lebih sistematis dan berbasis bukti.</p> <p><em>This study aims to synthesize scientific evidence on Islamic value-based health promotion among Muslim communities through a systematic literature review approach. The research method involved identifying, selecting, and analyzing peer-reviewed articles from indexed national and international journals focusing on the integration of Islamic values into health promotion. The reviewed studies include scoping reviews, systematic reviews, qualitative studies, and conceptual papers that explore the role of Islamic spiritual values, religious institutions, and religious leaders in public health promotion. The results indicate that Islamic value-based health promotion is primarily grounded in principles such as cleanliness (taharah), disease prevention, life balance, and maqasid al-shariah as the core value framework. Mosques, imams, and Islamic scholars play a central role as facilitators of community-based health education and intervention programs. The reviewed studies consistently show that faith-based interventions are effective in improving health behaviors, including physical activity, obesity prevention, mental health awareness, and adherence to healthy lifestyles among Muslim populations. In addition, spiritual-based approaches enhance compliance with healthy behaviors and strengthen community resilience in addressing public health challenges. However, limitations remain, particularly the lack of integration between modern healthcare systems and Islamic-based approaches, as well as the absence of standardized global intervention models. In conclusion, Islamic value-based health promotion is an effective and promising approach to improving public health outcomes in a holistic manner among Muslim communities. The integration of modern health science and Islamic spiritual values is essential to develop a more systematic and evidence-based health promotion model.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/24842PENGARUH DEEP BREATHING EXERCISE TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA IBU BERSALIN PRE OPERASI SECTIO CAESAREA DI RUMAH SAKIT BUNDA SEJATI KOTA TANGERANG2026-07-30T09:19:09+00:00Putri Dwi Lestariptrdwilestari@gmail.comTitis Wahyuniguest@jurnalhst.comDewi Puspitasariguest@jurnalhst.comMurni Lestariguest@jurnalhst.comRukmainiguest@jurnalhst.comMaria Gayatriguest@jurnalhst.com<p>Ibu hamil yang akan menghadapi persalinan sering mengalami kecemasan bahkan stres akibat kondisi emosional yang tidak stabil, terutama pada ibu bersalin yang direncanakan menjalani operasi sectio caesarea. Salah satu upaya non farmakologi untuk menurunkan kecemasan adalah intervensi deep breathing exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh deep breathing exercise terhadap tingkat kecemasan pada ibu bersalin pre operasi sectio caesarea di Rumah Sakit Bunda Sejati Kota Tangerang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain quasi experimental menggunakan pendekatan one group pretest-posttest design. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Bunda Sejati Kota Tangerang pada bulan April hingga Mei 2023. Populasi penelitian adalah ibu hamil dengan hari perkiraan lahir pada periode April–Mei 2023 sebanyak 83 orang. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow sebanyak 45 responden dengan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami cemas ringan sebelum intervensi (62,2%), dan sebagian besar tidak mengalami kecemasan setelah intervensi (73,3%). Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p value = 0,001 (≤ 0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh deep breathing exercise terhadap tingkat kecemasan pada ibu bersalin pre operasi sectio caesarea di Rumah Sakit Bunda Sejati Kota Tangerang. Deep breathing exercise sangat direkomendasikan sebagai salah satu standar operasional prosedur manajemen kecemasan non farmakologi pada ibu bersalin pre operasi sectio caesarea.</p> <p><em>Pregnant women approaching labor often experience anxiety and even stress due to unstable emotional conditions, particularly those scheduled for cesarean section. One non-pharmacological intervention to reduce anxiety is deep breathing exercise. This study aimed to determine the effect of deep breathing exercise on anxiety levels in maternity patients undergoing preoperative cesarean section at Bunda Sejati Hospital, Tangerang City. This quantitative study used a quasi-experimental design with a one group pretest-posttest approach. The research was conducted at Bunda Sejati Hospital from April to May 2023. The population consisted of 83 pregnant women with an estimated delivery date within the study period. The minimum sample size was calculated using the Lemeshow formula, yielding 45 respondents selected through accidental sampling. The research instrument was the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire. Data were analyzed univariately and bivariately using the Wilcoxon test. The results showed that most respondents experienced mild anxiety before the intervention (62.2%), while most respondents experienced no anxiety after the intervention (73.3%). The Wilcoxon test yielded a p value of 0.001 (≤ 0.05), leading to the rejection of Ho and acceptance of Ha. It can be concluded that deep breathing exercise has a significant effect on anxiety levels in maternity patients undergoing preoperative cesarean section at Bunda Sejati Hospital, Tangerang City. Deep breathing exercise is strongly recommended as a standard operating procedure for non-pharmacological anxiety management in maternity patients prior to cesarean section</em></p>2026-07-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25238INTEGRASI PELAYANAN SPIRITUAL ISLAMI DALAM PATIENT-CENTERED CARE DI RUMAH SAKIT UMUM: KAJIAN INTEGRATIF2026-08-10T02:54:11+00:00Henry Saktianahsaktiana@gmail.comJoko Wiyantojoko100182@gmail.comMahmudahmahmudahpml@gmail.comAli Imronaliimron@unimus.ac.id<p>Latar belakang: Pelayanan rumah sakit masih sering berpusat pada kebutuhan biomedis, sedangkan kebutuhan agama dan spiritual pasien belum selalu dikaji secara sistematis. Pada pasien Muslim, sakit dapat memengaruhi ibadah, makna hidup, harapan, privasi, peran keluarga, dan keputusan akhir kehidupan. Tujuan: Menyintesis bukti mutakhir tentang pelayanan spiritual Islami dan merumuskan kerangka implementasi yang inklusif bagi rumah sakit umum. Metode: Kajian integratif dilakukan melalui penelusuran terstruktur pada PubMed/MEDLINE, platform penerbit yang mengindeks publikasi Scopus, Google Scholar, dan portal ilmiah Indonesia untuk publikasi 2020–8 Agustus 2026, dilengkapi sumber seminal dan institusional. Artikel yang memenuhi kriteria membahas kebutuhan spiritual pasien Muslim, intervensi spiritual Islami, kompetensi tenaga kesehatan, atau implementasi tingkat rumah sakit. Bukti disintesis secara naratif menurut populasi, intervensi, luaran, dan implikasi organisasi; mutu metodologis ditelaah dengan kriteria sesuai desain yang diinformasikan oleh MMAT. Hasil: Bukti mengerucut pada tujuh tema, yaitu kebutuhan individual, asesmen spiritual, fasilitasi ibadah, komunikasi empatik, intervensi religius berbasis persetujuan, kolaborasi keluarga dan pembimbing rohani, serta dukungan organisasi. Sejumlah uji intervensi menunjukkan potensi perbaikan kesehatan spiritual, kualitas tidur, harapan, kecemasan, depresi, dan kecemasan menghadapi kematian. Namun, generalisasi dibatasi oleh sampel kecil, heterogenitas intervensi, tindak lanjut pendek, dan konsentrasi geografis penelitian. Kesimpulan: Pelayanan spiritual Islami paling tepat diposisikan sebagai pelengkap pelayanan klinis yang berbasis kebutuhan dan persetujuan pasien. Kajian ini mengusulkan ASRI–PCC—Asesmen, Stratifikasi, Respons, dan Integrasi dalam Patient-Centered Care—sebagai kerangka konseptual yang masih memerlukan validasi lokal.</p> <p><em>Background: Hospital care often prioritizes biomedical needs while patients’ religious and spiritual needs remain inconsistently assessed. For Muslim patients, illness may affect worship, meaning, hope, privacy, family roles, and end-of-life decisions. Objective: To synthesize recent evidence on Islamic spiritual care and formulate an implementable, inclusive framework for general hospitals. Methods: An integrative review was conducted using a structured search of PubMed/MEDLINE, Scopus-oriented publisher platforms, Google Scholar, and Indonesian scholarly portals for publications from 2020 to 8 August 2026, supplemented by seminal and institutional sources. Eligible studies addressed Muslim patients’ spiritual needs, Islamic spiritual interventions, health-worker competence, or hospital-level implementation. Evidence was narratively synthesized by population, intervention, outcome, and organizational implication; mixed designs were appraised using design-appropriate criteria informed by MMAT. Results: The evidence converged on seven themes: individualized needs, spiritual assessment, worship facilitation, empathic communication, optional religious interventions, family and chaplain collaboration, and organizational support. Trials reported potential improvements in spiritual health, sleep, hope, anxiety, depression, and death anxiety, although generalizability was constrained by small samples, intervention heterogeneity, short follow-up, and geographic concentration. Conclusion: Islamic spiritual care is most defensible as a consent-based complement to clinical care. This review proposes ASRI–PCC—Assessment, Stratification, Response, and Integration within Patient-Centered Care—as a conceptual implementation framework requiring local validation</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25200IMPLEMENTASI PROGRAM INTEGRASI LAYANAN PRIMER (ILP) DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA – SYSTEMATIC REVIEW2026-08-08T13:41:39+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan salah satu kebijakan strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam kerangka Transformasi Sistem Kesehatan untuk memperkuat pelayanan kesehatan primer yang komprehensif, terintegrasi, berkesinambungan, dan berpusat pada masyarakat. Kebijakan ini sebagai fondasi utama dalam pencapaian Universal Health Coverage (UHC) dan Sustainable Development Goals (SDGs). Implementasi ILP di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, pembiayaan, integrasi sistem informasi kesehatan, hingga koordinasi lintas sektor. Oleh karena itu, diperlukan sintesis bukti ilmiah untuk mengevaluasi implementasi ILP serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Tujuan penelitian ini untuk menelaah secara sistematis bukti ilmiah mengenai implementasi Program Integrasi Layanan Primer (ILP) dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat di Indonesia. Metode penelitian menggunakan metode Systematic Review berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan pada database PubMed, Scopus, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, Garuda, dan Portal SINTA. Artikel yang diterbitkan pada periode 2020–2026 diseleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara naratif melalui sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi ILP mampu meningkatkan akses pelayanan kesehatan, memperkuat pelayanan promotif dan preventif, serta meningkatkan koordinasi pelayanan berbasis siklus kehidupan. Namun demikian, implementasi masih menghadapi berbagai kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, belum optimalnya integrasi sistem rujukan, rendahnya interoperabilitas sistem informasi kesehatan, serta ketimpangan sarana dan prasarana antar fasilitas pelayanan kesehatan yang berdampak pada keterlambatan pelayanan, duplikasi pemeriksaan, dan terganggunya kontinuitas pelayanan pasien. Keberhasilan implementasi ILP memerlukan strategi pemerintah berupa penguatan tata kelola, peningkatan kapasitas SDM kesehatan, digitalisasi sistem informasi melalui SATUSEHAT dan Sisrute, penguatan jejaring pelayanan kesehatan, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan sehingga pelayanan kesehatan primer dapat terintegrasi secara optimal dan mendukung pencapaian Universal Health Coverage.</p> <p><em>Primary Care Integration (ILP) is a strategic policy of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, situated within the Health System Transformation framework, aimed at strengthening primary health services to be comprehensive, integrated, continuous, and community-centered. This policy serves as a cornerstone for achieving Universal Health Coverage (UHC) and the Sustainable Development Goals (SDGs). However, the implementation of ILP in Indonesia faces various challenges, ranging from limitations in human resources, financing, and health information system integration to cross-sectoral coordination issues. Therefore, a synthesis of scientific evidence is required to evaluate ILP implementation and identify the factors influencing its success. This study aims to systematically review scientific evidence regarding the implementation of the Primary Care Integration (ILP) program in efforts to improve public health in Indonesia. A systematic review methodology was employed, adhering to the PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were conducted across PubMed, Scopus, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, Garuda, and the SINTA Portal. Articles published between 2020 and 2026 were selected based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed narratively through thematic synthesis. The review findings indicate that ILP implementation enhances access to health services, strengthens promotive and preventive care, and improves the coordination of life-cycle-based services. Nevertheless, implementation still faces obstacles such as human resource limitations, suboptimal referral system integration, low health information system interoperability, and disparities in facilities and infrastructure among health service providers; these issues result in service delays, duplicate examinations, and disruptions to the continuity of patient care. Successful ILP implementation requires government strategies focused on strengthening governance, enhancing the capacity of the health workforce, digitizing information systems (via SATUSEHAT and Sisrute), strengthening health service networks, and ensuring continuous monitoring and evaluation, thereby enabling optimally integrated primary health services that support the achievement of Universal Health Coverage</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25812HEALTHCARE POLICY AND LEADERSHIP: THE ROLE OF EXPERTS IN SHAPING NATIONAL AND GLOBAL PUBLIC HEALTH INITIATIVES : LITERATURE REVIEW2026-08-27T04:09:01+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@oaj.jurnalhst.com<p>Kebijakan kesehatan merupakan instrumen penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat karena menentukan arah pelayanan, pengalokasian sumber daya, pencegahan penyakit, dan strategi penanganan masalah kesehatan. Namun, keberhasilan kebijakan tidak hanya ditentukan oleh kualitas perumusan kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam menerapkannya. Literatur menunjukkan bahwa permasalahan implementasi masih menjadi tantangan penting dalam reformasi kesehatan. Dalam systematic review mengenai kegagalan reformasi sistem kesehatan, masalah implementasi ditemukan pada 48% studi di negara maju dan 77% studi di negara berkembang, sedangkan konsekuensi merugikan akibat implementasi ditemukan pada 41% studi di negara maju dan 92% studi di negara berkembang. Data tersebut menunjukkan pentingnya kapasitas kepemimpinan dan keahlian dalam menjembatani bukti ilmiah dengan implementasi kebijakan. Artikel ini bertujuan menganalisis peran para ahli dan kepemimpinan kesehatan dalam membentuk kebijakan serta mengidentifikasi strategi peningkatan kepemimpinan yang expert dalam mendukung implementasi kebijakan kesehatan nasional dan global. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap publikasi ilmiah dan dokumen organisasi kesehatan internasional, terutama publikasi tahun 2023–2025. Literatur dianalisis secara naratif dengan mengidentifikasi tema mengenai peran ahli, evidence-informed policymaking, kepemimpinan kesehatan, implementasi kebijakan, kolaborasi multisektor, komunikasi bukti, dan knowledge translation. Hasil kajian menunjukkan bahwa para ahli berperan dalam mengidentifikasi masalah, menghasilkan dan menerjemahkan bukti, memberikan rekomendasi kebijakan, mendukung implementasi, melakukan evaluasi, dan membangun kapasitas institusi. Namun, pengaruh keahlian tidak berlangsung otomatis karena proses kebijakan dipengaruhi faktor politik, ekonomi, sosial, kelembagaan, sumber daya, dan kepentingan pemangku kepentingan. Kepemimpinan yang expert diperlukan untuk menghubungkan evidence, policy, governance, dan implementation. Strategi yang diperlukan meliputi penguatan kompetensi evidence-informed leadership, knowledge translation, komunikasi dan advokasi kebijakan, kolaborasi multisektor, penguatan kapasitas implementasi, monitoring dan evaluasi, serta penciptaan budaya organisasi yang mendukung penggunaan bukti. Dengan demikian, penguatan hubungan antara keahlian dan kepemimpinan menjadi faktor penting untuk menghasilkan kebijakan kesehatan yang efektif, efisien, adil, responsif, layak diterapkan, dan berkelanjutan.</p> <p><em>Health policy is a crucial instrument for improving public health, as it dictates the direction of services, resource allocation, disease prevention, and strategies for addressing health issues. However, policy success depends not only on the quality of policy formulation but also on the system's capacity for implementation. Literature indicates that implementation challenges remain a significant hurdle in health reform. A systematic review of health system reform failures revealed implementation issues in 48% of studies from developed countries and 77% from developing countries, while adverse consequences resulting from implementation were observed in 41% of studies in developed nations and 92% in developing ones. These data underscore the importance of leadership capacity and expertise in bridging the gap between scientific evidence and policy implementation. This article aims to analyze the roles of experts and health leadership in shaping policy and to identify strategies for enhancing expert leadership to support the implementation of national and global health policies. The study employs a literature review of scientific publications and documents from international health organizations, focusing primarily on publications from 2023–2025. The literature was analyzed narratively by identifying themes such as the role of experts, evidence-informed policymaking, health leadership, policy implementation, multisectoral collaboration, evidence communication, and knowledge translation. The findings indicate that experts play a vital role in identifying problems, generating and translating evidence, providing policy recommendations, supporting implementation, conducting evaluations, and building institutional capacity. However, the influence of expertise is not automatic, as the policy process is shaped by political, economic, social, institutional, and resource-related factors, as well as stakeholder interests. Expert leadership is essential to link evidence, policy, governance, and implementation. Necessary strategies include strengthening competencies in evidence-informed leadership, knowledge translation, policy communication and advocacy, multisectoral collaboration, implementation capacity, and monitoring and evaluation, alongside fostering an organizational culture that supports the use of evidence. Thus, strengthening the link between expertise and leadership is a critical factor in producing health policies that are effective, efficient, equitable, responsive, feasible, and sustainable. </em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25198EVALUASI SISTEM RANTAI DINGIN (COLD CHAIN) VAKSIN PADA PROGRAM IMUNISASI: LITERATURE REVIEW2026-08-08T13:22:30+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Program imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Keberhasilan program imunisasi tidak hanya dipengaruhi oleh cakupan vaksinasi, tetapi juga oleh kualitas vaksin yang dipertahankan melalui sistem rantai dingin (cold chain). Sistem cold chain merupakan rangkaian penyimpanan, transportasi, dan distribusi vaksin dengan suhu tertentu sejak diproduksi hingga diberikan kepada sasaran imunisasi. Gangguan pada sistem rantai dingin dapat menyebabkan penurunan potensi vaksin sehingga efektivitas imunisasi menjadi berkurang. Tujuan literature review ini adalah mengevaluasi implementasi sistem cold chain vaksin dalam mendukung kebijakan akses produk medis/vaksin serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2019–2025 melalui database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan WHO. Artikel dipilih berdasarkan kesesuaian dengan topik evaluasi cold chain vaksin pada program imunisasi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa implementasi sistem rantai dingin masih menghadapi berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan infrastruktur, gangguan pemantauan suhu, variasi kompetensi petugas, serta belum optimalnya tata kelola logistik vaksin. Evaluasi juga menunjukkan bahwa penguatan tata kelola cold chain perlu dilakukan melalui penyediaan infrastruktur yang memenuhi standar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, digitalisasi sistem monitoring suhu, optimalisasi distribusi logistik, serta monitoring dan evaluasi menggunakan pendekatan Effective Vaccine Management (EVM). Implementasi strategi tersebut berpotensi meningkatkan mutu vaksin, mengurangi vaccine wastage, serta mendukung keberhasilan program imunisasi nasional.</p> <p><em>Immunization programs are among the most effective public health interventions for reducing morbidity, disability, and mortality associated with vaccine-preventable diseases (VPDs). The success of immunization programs depends not only on vaccination coverage but also on vaccine quality, which is maintained through the cold chain system. The cold chain system encompasses the storage, transport, and distribution of vaccines at specific temperatures from the point of production to administration to the target population. Disruptions to the cold chain system can compromise vaccine potency, thereby reducing immunization effectiveness. This literature review aims to evaluate the implementation of vaccine cold chain systems in support of policies regarding access to medical products and vaccines, and to identify the factors influencing their success. The study employed a literature review methodology, analyzing national and international scientific articles published between 2019 and 2025 via databases such as Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, and the WHO. Articles were selected based on their relevance to the topic of vaccine cold chain evaluation within immunization programs. The synthesis of findings indicates that cold chain system implementation still faces various challenges, including infrastructure limitations, temperature monitoring issues, varying levels of staff competence, and suboptimal vaccine logistics management. The evaluation further suggests that strengthening cold chain management requires the provision of standards-compliant infrastructure, human resource capacity building, digitalization of temperature monitoring systems, optimization of logistics distribution, and monitoring and evaluation using the Effective Vaccine Management (EVM) approach. Implementing these strategies has the potential to enhance vaccine quality, reduce vaccine wastage, and support the success of national immunization programs.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25487HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN OPERASI BEDAH MAYOR DENGAN KEJADIAN SHIVERING PASCA SPINAL ANESTESI DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA2026-08-16T02:18:38+00:00Annisaa Nur Hasanahannisaanurhasanah52@gmail.comNurul Fatwati Fitriananurulfatwati90@gmail.com<p>Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi pasca spinal anestesi akibat gangguan termoregulasi selama pembedahan. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, memperberat nyeri, serta menurunkan kenyamanan pasien. Faktor seperti umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), lama operasi, dan saturasi oksigen diduga berhubungan dengan kejadian shivering. Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik pasien operasi bedah mayor dengan kejadian shivering pasca spinal anestesi di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasi cross-sectional. Sampel berjumlah 70 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas responden berusia dewasa (58,6%), berjenis kelamin perempuan (70%), memiliki IMT kurus (50%), lama operasi kategori sedang (80%), serta saturasi oksigen normal (100%). Sebagian besar responden mengalami shivering derajat 3 (58,6%). Uji chi-square menunjukkan bahwa lama operasi berhubungan signifikan dengan kejadian shivering (p < 0,001). Jenis kelamin juga berhubungan signifikan (p = 0,027) sedangkan umur, IMT, dan saturasi oksigen tidak berpengaruh signifikan (p > 0,05). Kesimpulan: Lama operasi, dan jenis kelamin berhubungan dengan kejadian shivering pasca spinal anestesi. Pemantauan serta pencegahan perioperatif diperlukan untuk menurunkan risiko shivering dan meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pasien.</p> <p><em>Background: Shivering is a common complication following spinal anesthesia due to impaired thermoregulation during surgery. This condition may increase oxygen consumption, exacerbate postoperative pain, and reduce patient comfort. Factors such as age, sex, body mass index (BMI), duration of surgery, and oxygen saturation are presumed to be associated with the incidence of shivering.</em> <em>Objective: This study aimed to analyze the association between the characteristics of patients undergoing major surgery and the incidence of post-spinal anesthesia shivering at RSUD (Regional General Hospital) Dr. R. Goeteng Taroenadibrata, Purbalingga.</em> <em>Methods: This quantitative study employed a cross-sectional correlational design. A total of 70 respondents were selected using accidental sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, with the chi-square test used to examine the associations between patient characteristics and the incidence of shivering.</em> <em>Results: The majority of respondents were adults (58.6%), female (70.0%), underweight according to body mass index (50.0%), underwent surgery of moderate duration (80.0%), and had normal oxygen saturation (100.0%). Most respondents experienced Grade 3 shivering (58.6%). Chi-square analysis revealed that the duration of surgery was significantly associated with the incidence of post-spinal anesthesia shivering (p < 0.001). Sex was also significantly associated with shivering (p = 0.027), whereas age, body mass index, and oxygen saturation showed no significant associations (p > 0.05).</em> <em>Conclusion: The duration of surgery and sex were significantly associated with the incidence of post-spinal anesthesia shivering. Appropriate perioperative monitoring and preventive measures are recommended to reduce the risk of shivering and improve patient safety and comfort.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25086HUBUNGAN ANTARA HIGIENE SANITASI DENGAN KEJADIAN DEMAM TIFOID PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TK II MOH. RIDWAN MEURAKSA JAKARTA TIMUR2026-08-06T07:49:31+00:00Ria Ferany riaferany15@gmail.comNoor Hidayahnoorhidayah@umkudus.ac.idYulisetyaningrumyulisetyaningrum@umkudus.ac.id<p>Demam tifoid dan paratifoid masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan prevalensi tinggi terutama pada anak-anak. Penularannya erat kaitannya dengan kondisi sanitasi lingkungan, higiene pribadi, serta kebiasaan konsumsi makanan yang kurang sehat. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui hubungan antara higiene sanitasi dengan kejadian demam tifoid pada pasien rawat inap di rumah sakit TK II Moh. Ridwan Meuraksa Jakarta Timur. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional, bersifat analitik korelasi dengan rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 37 pasien. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square. Sebagian besar responden memiliki higiene sanitasi dalam kategori baik yaitu sebanyak 27 orang (73,0%). Sebagian besar responden tidak menderita demam tifoid yaitu sebanyak 22 orang (59,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara higiene sanitasi dengan kejadian demam tifoid dengan nilai p-value sebesar 0,010 (p < 0,05), dimana responden dengan higiene sanitasi kurang dan cukup cenderung lebih banyak menderita demam tifoid dibandingkan dengan responden yang memiliki higiene sanitasi baik.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25358GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH PUSKESMAS GAMBIRSARI KOTA SURAKARTA2026-08-12T03:31:40+00:00Mustafiqoh Raissa Azarineraissamustafiqoh@gmail.comNorman Wijaya Gatinormanwijaya@gmail.com<p>Latar Belakang: Lansia penderita hipertensi berisiko mengalami kecemasan akibat perubahan fisik, pengobatan jangka panjang, dan kekhawatiran terhadap komplikasi penyakit. Kecemasan dapat memperburuk kondisi hipertensi sehingga perlu diketahui tingkat kecemasannya. Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi di wilayah Puskesmas Gambirsari Kota Surakarta. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif pada 86 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), dan dianalisis secara univariat. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 59 orang (68,6%) dan telah menderita hipertensi lebih dari 5 tahun sebanyak 46 orang (53,5%). Tingkat kecemasan responden didominasi kecemasan sedang sebanyak 48 orang (55,8%), diikuti kecemasan berat 31 orang (36,0%), dan kecemasan ringan 7 orang (8,1%). Tidak ditemukan responden yang tidak mengalami kecemasan maupun mengalami kecemasan panik. Kesimpulan: Sebagian besar lansia penderita hipertensi mengalami kecemasan sedang, sehingga aspek psikologis perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan hipertensi pada lansia.</p> <p><em>Background: Elderly individuals with hypertension are at risk of experiencing anxiety due to physical changes, long-term treatment, and concerns regarding disease complications. Anxiety can exacerbate hypertension; therefore, assessing anxiety levels is essential. Objective: To determine the anxiety levels among elderly individuals with hypertension in the service area of the Gambirsari Community Health Center (Puskesmas), Surakarta City. Methods: This was a quantitative study with a descriptive design involving 86 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using a respondent characteristics questionnaire and the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), and were analyzed using univariate analysis. Results: The majority of respondents were female (n=59; 68.6%), and 46 respondents (53.5%) had suffered from hypertension for more than five years. Regarding anxiety levels, moderate anxiety was the most prevalent (n=48; 55.8%), followed by severe anxiety (n=31; 36.0%) and mild anxiety (n=7; 8.1%). No respondents were found to be free from anxiety or to be experiencing panic-level anxiety. Conclusion: Most elderly individuals with hypertension experience moderate anxiety, consequently, psychological aspects require attention in the management of hypertension among the elderly.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25237HUBUNGAN BEBAN KERJA TERHADAP BURNOUT SYNDROME PADA PERAWAT DI RUANGAN RAWAT INAP RSU HAJI MEDAN KECAMATAN PERCUT SEI TUAN2026-08-10T02:34:17+00:00Tita Artilatita0801222217@uinsu.ac.idYulia Khairina Asharyuliakhairinaa@uinsu.ac.idDelfrian Ayuguest@jurnalhst.comSaliantoguest@jurnalhst.comNurcahyaguest@jurnalhst.com<p>International Labour Organization (ILO) dalam laporan Workplace Stress and Health in the Health Sector tahun 2022 melaporkan bahwa sekitar 62% tenaga kesehatan di seluruh dunia menghadapi beban kerja yang tinggi, dan sepertiga di antaranya mengalami gejala burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan beban kerja terhadap burnout syndrome pada perawat, Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan kuesioner. Populai berjumlah 63 perawat di ruangan rawat inap. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara beban kerja terhadap burnout syndrome dengan nilai -value 0,000 < (0,05).</p> <p><em>In its 2022 report titled Workplace Stress and Health in the Health Sector, the International Labour Organization (ILO) stated that approximately 62% of healthcare workers worldwide face high workloads, with one-third experiencing symptoms of burnout. This study aimed to determine the relationship between workload and burnout syndrome among nurses, as well as the relationship between nurses' characteristics and burnout syndrome. A quantitative research method utilizing questionnaires was employed. The study population consisted of 63 nurses working in inpatient wards. The results indicate a significant relationship between workload and burnout syndrome, with a p-value of 0.000 (< 0.05).</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25199PERENCANAAN SDM KESEHATAN: MEWUJUDKAN KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN MELALUI STRATEGI YANG EFEKTIF: LITERATURE REVIEW2026-08-08T13:26:10+00:00Mega Assyfaa Fauziaassyfaamega@gmail.comRia Rosjayantiriarosrosja@gmail.comNugroho Dwi Atmojosatrionugroho100811@gmail.comTubagus Mumtaz Elfikritbmumtaz.08@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Sumber daya manusia (SDM) kesehatan merupakan pilar utama dalam penyelenggaraan sistem kesehatan. Keberhasilan pencapaian Universal Health Coverage (UHC), Sustainable Development Goals (SDGs), serta transformasi sistem kesehatan sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten, berkualitas, dan terdistribusi secara merata. Namun demikian, hampir seluruh negara masih menghadapi tantangan berupa kekurangan tenaga kesehatan, distribusi yang tidak merata, tingginya beban kerja, migrasi tenaga kesehatan, hingga rendahnya retensi tenaga profesional. WHO memperkirakan dunia masih akan mengalami kekurangan sekitar 11 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan SDM kesehatan tidak lagi cukup dilakukan berdasarkan rasio penduduk, tetapi harus mempertimbangkan kebutuhan pelayanan, epidemiologi penyakit, perubahan demografi, perkembangan teknologi, serta kebijakan kesehatan nasional. Literature review ini bertujuan menganalisis berbagai strategi perencanaan SDM kesehatan yang efektif dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan bukti ilmiah nasional maupun internasional. Penelitian menggunakan metode Literature Review dengan pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Artikel diperoleh melalui PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, SpringerLink, dan ProQuest menggunakan kata kunci Health Workforce Planning, Human Resources for Health, Health Workforce Strategy, Health Personnel Planning, dan Workforce Development. Artikel yang digunakan diterbitkan pada periode 2020–2026, tersedia dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, serta memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa keberhasilan perencanaan SDM kesehatan dipengaruhi oleh kebutuhan tenaga berbasis beban kerja (Workload Indicators of Staffing Need/WISN), sistem informasi SDM kesehatan, pemerataan distribusi tenaga kesehatan, kompetensi tenaga kesehatan, retensi, pendanaan, kepemimpinan, digitalisasi, serta kolaborasi lintas sektor. Berbagai bukti juga menunjukkan masih banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang mengalami kekurangan SDM sehingga berdampak terhadap meningkatnya beban kerja, waktu tunggu pelayanan, dan penurunan mutu pelayanan. Strategi perencanaan SDM kesehatan yang efektif dilakukan melalui tahapan analisis situasi, analisis kebutuhan tenaga menggunakan metode WISN, analisis kesenjangan, penyusunan rencana pemenuhan SDM, implementasi kebijakan, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.</p> <p><em>Health human resources (HHR) constitute a fundamental pillar of health system operations. Successfully achieving Universal Health Coverage (UHC) and the Sustainable Development Goals (SDGs), as well as transforming health systems, relies heavily on the availability of a competent, high-quality, and equitably distributed health workforce. However, nearly all countries face challenges such as workforce shortages, inequitable distribution, high workloads, health worker migration, and low professional retention. The WHO projects a global shortage of approximately 11 million health workers by 2030, particularly in low- and middle-income countries. These conditions indicate that HHR planning can no longer rely solely on population ratios; instead, it must account for service needs, disease epidemiology, demographic shifts, technological advancements, and national health policies. This literature review aims to analyze effective HHR planning strategies for meeting workforce needs, drawing on national and international scientific evidence. The study employs a literature review methodology following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA) approach. Articles were sourced from PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, SpringerLink, and ProQuest using keywords such as Health Workforce Planning, Human Resources for Health, Health Workforce Strategy, Health Personnel Planning, and Workforce Development. Included articles were published between 2020 and 2026, available in Indonesian or English, and met the inclusion criteria. Synthesis results indicate that successful HHR planning is influenced by workload-based staffing needs (Workload Indicators of Staffing Need/WISN), HHR information systems, equitable workforce distribution, workforce competence, retention, funding, leadership, digitalization, and cross-sector collaboration. Evidence also shows that many health facilities continue to experience HHR shortages, resulting in increased workloads, longer service waiting times, and diminished service quality. Effective HHR planning strategies involve a process of situational analysis, workforce needs analysis using the WISN method, gap analysis, development of staffing fulfillment plans, policy implementation, and continuous monitoring and evaluation</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25578KORELASI KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PREOPERATIF DI RS WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-08-19T03:04:41+00:00Wahyu Edi Setianto162024031161@std.umku.ac.idUmi Faridahumifaridah@umkudus.ac.idSri Siskasrisiska@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan (preoperatif) sering kali mengalami kecemasan yang dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya. Komunikasi terapeutik perawat dan dukungan keluarga merupakan dua faktor penting yang diduga berhubungan dengan penurunan tingkat kecemasan pasien preoperatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara komunikasi terapeutik perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien preoperatif di RS Wijayakusuma Purwokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien preoperatif di RS Wijayakusuma Purwokerto yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik perawat, kuesioner dukungan keluarga, dan kuesioner tingkat kecemasan (misalnya Hamilton Anxiety Rating Scale / HARS atau ZUNG-SAS). Analisis data menggunakan uji statistik korelasi. Hasil: (Bagian ini diisi dengan hasil statistik penelitian Anda, contoh: Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan, serta ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien preoperatif).Kesimpulan: Terdapat korelasi positif dan signifikan antara komunikasi ter apeutik perawat dan dukungan keluarga terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien preoperatif di RS Wijayakusuma Purwokerto. Disarankan bagi perawat untuk mengoptimalkan komunikasi terapeutik dan melibatkan keluarga dalam pemberian dukungan emosional kepada pasien preoperatif.</p> <p><em>Background: Patients undergoing surgery (preoperative) frequently experience anxiety, which can adversely affect their physical and psychological conditions. Therapeutic communication by nurses and family support are two essential factors believed to be correlated with the reduction of anxiety levels in preoperative patients. Objective: This study aimed to analyze the correlation between nurses' therapeutic communication and family support with the anxiety level of preoperative patients at Wijayakusuma Hospital, Purwokerto. Methods: This study employed a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of preoperative patients at Wijayakusuma Hospital, Purwokerto, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using questionnaires measuring nurses' therapeutic communication, family support, and anxiety levels (e.g., Hamilton Anxiety Rating Scale / HARS). Data were analyzed using correlation statistical tests. Results: (Insert your actual statistical findings here, e.g., The results indicated a significant correlation between nurses' therapeutic communication and anxiety levels, as well as a significant correlation between family support and preoperative anxiety levels). Conclusion: There is a significant correlation between nurses' therapeutic communication and family support with the level of anxiety among preoperative patients at Wijayakusuma Hospital, Purwokerto. It is recommended that nurses optimize therapeutic communication and involve family members in providing emotional support to preoperative patients.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/25098TETRAPARESE TIPE LOWER MOTOR NEURON AKIBAT PENYAKIT DEMIELINISASI PADA KEHAMILAN PRIMIGRAVIDA: SEBUAH KASUS LANGKA2026-08-07T04:49:01+00:00Rahmat Prabowoboworossoneri@gmail.comNiken Asri Utamiguest@oaj.jurnalhst.com<p>Pendahuluan: Istilah chronic inflammatory demyelinating polyradiculoneuropathy (CIDP) digunakan untuk pasien dengan gangguan sensorimotor simetris yang progresif secara kronis atau bersifat kambuh. Dalam banyak hal, CIDP dapat dianggap sebagai bentuk kronis dari acute inflammatory demyelinating polyradiculoneuropathy (AIDP), yang merupakan bentuk paling umum dari sindrom Guillain-Barré (GBS). Elektro Neuro-Miografi (ENMG) masih dianggap sebagai gold standard dalam diagnosis GBS. Kasus: Seorang wanita 28 tahun, gravida satu, mengeluhkan kelemahan anggota gerak sejak 5 bulan yang lalu disaat usia kehamilan 16 minggu. Kelemahan terutama pada kedua kaki yang bersifat progresif. Pasien saat ini hamil trimester ketiga. Riwayat sakit selama kehamilan disangkal. Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kekuatan otot kaki dan tangan turun menjadi 1/5 dan 4/5 secara berurutan berdasarkan skala MRC. Fungsi sensorik dalam batas normal. Pada USG fetomaternal tidak ditemukan adanya kelainan. Pasien lalu menjalani terminasi kehamilan secara operatif. Kesimpulan: Anamnesis berupa adanya riwayat infeksi, gejala klinis yang khas ditandai oleh ascending paralysis, serta pemeriksaan ENMG sebagai gold standard merupakan modalitas dalam diagnosis GBS. Sindroma ini dapat muncul pada setiap tahap kehamilan, walaupun jarang terjadi sehingga menjadikan kasus ini sebagai suatu laporan kasus yang langka. Diagnosis dini dan talalaksana yang tepat dapat membantu mengurangi perawatan intensif yang membutuhkan ventilasi sehingga dapat mecegah morbiditas dan mortalitas pada pasien.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif