https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/issue/feedJurnal Inovasi Kesehatan Adaptif2026-02-28T05:32:51+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19999REVIEW: POLIMER SINTETIS YANG DIGUNAKAN PADA SEDIAAN FARMASI2026-02-07T11:22:43+00:00Saffana Aura Balqissaffanaaura83@gmail.comNyimas Fathiya Aininimassamsung439@gmail.comNur Halisyahlisyah080606@gmail.comFathiya Rizki Anindadedek89896@gmail.comElpa Giovana Zolaelpagiovanazola@gmail.com<p>Polimer sintetis sangat penting dalam pembuatan sediaan farmasi karena memengaruhi sifat fisik, tekstur, dan kualitas sediaan farmasi. Artikel ini menganalisis secara deskriptif 40 artikel ilmiah lima tahun terakhir (2020-2025) dengan topik yang relevan dengan polimer sintetis pada sediaan farmasi untuk mengetahui jenis polimer yang paling sering digunakan, konsentrasi yang paling cocok, serta dampaknya terhadap kualitas produk. Hasil menunjukkan bahwa Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) adalah jenis polimer yang paling umum digunakan, dengan konsentrasi 2–4% yang paling efektif untuk produk yang diterapkan langsung ke kulit. Polimer lain seperti Carbopol, CMC-Na, dan PVP digunakan dalam kadar tertentu untuk meningkatkan kinerja dan stabilitas produk. Secara umum, pemilihan jenis dan konsentrasi polimer yang tepat sangat penting dalam menentukan kualitas dan keberhasilan produk farmasi.</p> <p> </p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19699MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA LANSIA DENGAN ANEMIA BERAT & GANGGUAN ELEKTROLIT DI RUANGAN JABAL RAHMAH HAJI MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 20252026-01-30T10:35:59+00:00Party Joita Lumban Gaolpartyjoitalgaol@gmail.comKhalisah Pitrifitrialga0@gmail.comTisman Hulutismansenyohulusenyohulu@gmail.comMintaria Harefamintariaharefa2007@gmail.comSarispisarispi2021@gmail.comIngka K Pangaribuaningkakristin@mitrahusada.ac.idJunitaJunitaguest@jurnalhst.com<p>Anemia berat yang disertai gangguan elektrolit merupakan kondisi klinis yang sering ditemukan pada lansia dan berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius. Proses penuaan menyebabkan penurunan cadangan fisiologis tubuh sehingga perubahan kecil pada kadar hemoglobin dan elektrolit dapat berdampak signifikan terhadap fungsi organ vital. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manajemen asuhan kebidanan pada lansia dengan anemia berat dan gangguan elektrolit di Ruang Jabal Rahma RSU Haji Medan Tahun 2025. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen asuhan kebidanan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Subjek adalah perempuan usia 74 tahun dengan keluhan lemas, sesak napas, pucat, serta hasil pemeriksaan hemoglobin sangat rendah disertai ketidakseimbangan elektrolit. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pemantauan ketat, pemberian cairan, edukasi keluarga, dan kolaborasi medis berperan penting dalam menjaga stabilitas kondisi pasien. Kesimpulan menunjukkan bahwa asuhan kebidanan yang komprehensif sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi pada lansia dengan anemia berat dan gangguan elektrolit.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20189PENGARUH PEMBERIAN MINUMAN JAHE HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI KALA I FASE AKTIF PADA IBU BERSALIN2026-02-16T09:02:22+00:00Khoirin Niswahkhoirinniswah5@gmail.comNor Asiyahguest@jurnalhst.comFania Nurulguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang : Nyeri saat persalinan merupakan salah satu keluhan utama yang dialami ibu bersalin, terutama pada kala I fase aktif yang dapat menyebabkan ketegangan, kelelahan dan kecemasan, untuk mengatasi nyeri pada persalinan, ada beberapa cara baik dengan obat-obatan (farmakologis) maupun tanpa menggunakan obat-obatan (non-farmakologis). Salah satu cara yang aman, murah dan mudah di dapatkan adalah dengan menggunakan metode non farmakologis. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat digunakan yaitu dengan mengkonsumsi minuman jahe hangat. Jahe termasuk tanaman herbal yang mengandung zat gingerol dan shagaol yang dimana terdapat efek pereda nyeri alami. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dari minuman jahe hangat terhadap intensitas nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif di RSI Sunan Kudus. Metode penelitian : Metode pada penelitian ini yaitu menggunakan desain quasi eksperimen (eksperimen semu) khususnya dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Desain ini melibatkan satu kelompok subjek penelitian yaitu ibu bersalin kala I fase aktif di RSI Sunan Kudus yang akan diberikan perlakuan (intervensi) berupa pemberian minuman jahe hangat. Pengukuran variabel terikat yaitu intensitas nyeri yang akan dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum (pre-test) dan sesudah (posttest) pemberian intervensi. Sampel penelitian berjumlah 46 ibu bersalin kala I fase aktif yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil Penelitian : Sebelum diberikan minuman jahe hangat, sebagian besar responden mengalami nyeri berat sebanyak 35 orang (76,1%), sedangkan nyeri sedang sebanyak 11 orang (23,9%). Setelah intervensi, mayoritas responden mengalami nyeri sedang sebanyak 36 orang (78,3%) dan nyeri berat menurun menjadi 10 orang (21,7%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z sebesar -5,993 dengan p-value <0,001, yang berarti terdapat pengaruh signifikan pemberian minuman jahe hangat terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif. Kesimpulan : Pemberian minuman jahe hangat berpengaruh signifikan dalam menurunkan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif sehingga dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis yang aman, efektif, dan mudah diterapkan dalam praktik kebidanan.</p> <p> </p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19984HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PROGNOSIS PENYAKIT DENGAN KECEMASAN SELAMA PERAWATAN PASIEN DI ICU RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-02-07T06:35:57+00:00Yatmini162024031162@std.umku.ac.idUmi Faridahumifaridah@umkudus.ac.idSri Siskasrisiska@umkudus.ac.id<p>Perawatan pasien di Intensive Care Unit (ICU) sering menimbulkan kecemasan pada keluarga akibat kondisi pasien yang kritis dan ketidakpastian prognosis penyakit. Tingkat pengetahuan keluarga mengenai prognosis penyakit diduga berpengaruh terhadap tingkat kecemasan yang dialami selama masa perawatan di ICU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan keluarga tentang prognosis penyakit dengan tingkat kecemasan selama perawatan pasien di ICU RST Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah keluarga pasien yang menjalani perawatan di ICU RST Wijayakusuma Purwokerto, yang diambil menggunakan teknik [misalnya: purposive sampling]. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan keluarga dan tingkat kecemasan, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik [misalnya: Chi-Square/Spearman]. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan keluarga tentang prognosis penyakit dengan tingkat kecemasan selama perawatan pasien di ICU. Semakin baik tingkat pengetahuan keluarga, maka tingkat kecemasan cenderung lebih rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pengetahuan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kecemasan keluarga selama perawatan pasien di ICU. Oleh karena itu, pemberian informasi dan edukasi yang adekuat kepada keluarga pasien sangat penting untuk menurunkan tingkat kecemasan.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20148DETERMINANTS OF HOSPITAL PATIENT LOYALTY: THE ROLES OF PATIENT SATISFACTION, SERVICE QUALITY, HOSPITAL IMAGE, AND TRUST2026-02-13T12:46:13+00:00Felicia Kusumafkusuma.9996@gmail.comBima Ariotejobimaariotejo@gmail.comElia Wirastutielianathaniel.ew@gmail.comEliata Setyowati Purwaningtyaseliatamaria@gmail.comFebryantifebryanti765@gmail.comAcep Rohendiarohendi@ars.ac.id<p><em>Introduction: The shift from volume-based care to value-based healthcare has made patient loyalty a strategic priority for hospitals, as loyal patients are more likely to return, recommend services, and sustain organizational performance. This review maps the most consistent factors associated with patient loyalty in hospital settings, focusing on service quality, patient satisfaction, hospital image, and trust. Methods: A scoping review was conducted following PRISMA-ScR/PRISMA 2020 guidance. Literature searches were performed for peer-reviewed articles published between 2016–2026. Studies were included if they examined hospital contexts and reported patient loyalty. Eligible studies were charted and synthesized narratively. Results: Evidence across included studies indicates that service quality consistently improves patient satisfaction, but its direct effect on loyalty is less stable and often becomes non-significant when satisfaction and/or trust are included, suggesting predominantly indirect pathways. Patient satisfaction is the most consistent predictor of loyalty and frequently mediates the relationship between service quality and loyalty. Trust repeatedly appears as a critical relational mechanism that strengthens loyalty and often mediates the effects of service quality and satisfaction. Hospital image contributes by shaping expectations and perceived credibility, sometimes exerting direct effects depending on context. Conclusion: Hospital patient loyalty is most robustly explained through a relational pathway where service quality → satisfaction → trust → loyalty, with hospital image reinforcing expectation formation and confidence. Managerial efforts should prioritize consistent service processes, clear communication, and patient safety to strengthen satisfaction and trust.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19921REVIEW : METODE PEMBUATAN DAN POLIMER YANG DIGUNAKAN PADA DISPERSI PADAT2026-02-05T06:51:52+00:00Agistha Dwi Lestariagistahagistah@gmail.comFelisha Putri Maidamaidafelishaputri@gmail.comLuciana Bunga Sarilucianabungasari@gmail.comPutrianiputrianii774@gmail.comElpa Giovana Zolaelpagiovanazola@gmail.com<p>Dispersi padat merupakan salah satu teknik formulasi yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat yang sukar larut dalam air. Melalui penggabungan zat aktif dengan pembawa hidrofilik dalam keadaan padat, berbagai perubahan fisikokimia seperti penurunan kristalinitas, peningkatan amorfisitas, serta reduksi ukuran partikel dapat dicapai sehingga meningkatkan bioavailabilitas obat. Artikel review ini bertujuan menganalisis metode pembuatan dispersi padat yang dilaporkan pada 40 penelitian periode 2020–2025, termasuk co-grinding, solvent evaporation, dissolution, fusion, melting solvent method, freeze-drying, coprecipitation, antisolvent coprecipitation, kneading, direct compression, dan wet-milling. Hasil telaah menunjukkan bahwa keberhasilan dispersi padat dipengaruhi oleh pemilihan metode pembuatan, jenis polimer, dan rasio obat–pembawa. Polimer seperti PEG, PVP, HPMC, dan Poloxamer secara konsisten mampu meningkatkan kelarutan serta stabilitas fisik dispersi padat. Secara keseluruhan, dispersi padat terbukti sebagai strategi yang efektif dan banyak diaplikasikan untuk mengoptimalkan kelarutan dan disolusi obat dengan kelarutan rendah.</p> <p><em>Solid dispersion is a formulation technique widely applied to enhance the solubility and dissolution rate of poorly water-soluble drugs. By dispersing the active pharmaceutical ingredient into a hydrophilic carrier in the solid state, significant physicochemical modifications such as reduced crystallinity, increased amorphization, and particle size reduction can be achieved, ultimately improving oral bioavailability. This review analyzes 40 research articles published between 2020 and 2025 that report various solid dispersion preparation methods, including co-grinding, solvent evaporation, dissolution, fusion, melting solvent method, freeze-drying, coprecipitation, antisolvent coprecipitation, kneading, direct compression, and wet-milling. The findings indicate that the success of solid dispersion depends strongly on the choice of carrier, preparation method, and drug-to-polymer ratio. Hydrophilic polymers such as PEG, PVP, HPMC, and Poloxamers consistently demonstrated their ability to improve solubility and physical stability. Overall, solid dispersion is confirmed to be an effective and versatile strategy for enhancing the solubility and dissolution performance of poorly soluble drugs.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20283PENGARUH DISCHARGE PLANNING BERBASIS MEDIA AUDIOVISUAL TENTANG MODIFIKASI DAN GAYA HIDUP TERHADAP KESIAPAN KELUARGA MERAWAT PASIEN JANTUNG DI RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-02-23T05:47:06+00:00Flora Ravenscadionavendhyolla@gmail.comMuhamad Jauharmuhamadjauhar@umkudus.ac.idSri Siskasrisiska@umkudus.ac.id<p>Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang membutuhkan perawatan berkelanjutan setelah pasien keluar dari rumah sakit. Kesiapan keluarga dalam merawat pasien jantung di rumah sangat dipengaruhi oleh pemahaman mengenai modifikasi dan gaya hidup sehat. Discharge planning yang efektif menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh discharge planning berbasis media audiovisual tentang modifikasi dan gaya hidup terhadap kesiapan keluarga dalam merawat pasien jantung di RST Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest with control group. Sampel penelitian adalah keluarga pasien jantung yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pemberian discharge planning berbasis media audiovisual yang memuat edukasi tentang pengaturan diet, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, manajemen stres, serta tanda dan gejala kegawatdaruratan. Data kesiapan keluarga diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kesiapan keluarga dalam merawat pasien jantung setelah diberikan discharge planning berbasis media audiovisual dibandingkan dengan kelompok kontrol (p < 0,05). Media audiovisual terbukti membantu meningkatkan pemahaman, retensi informasi, dan motivasi keluarga dalam melakukan perawatan mandiri di rumah. Kesimpulan penelitian ini adalah discharge planning berbasis media audiovisual tentang modifikasi dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kesiapan keluarga dalam merawat pasien jantung. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian dari standar pelayanan keperawatan untuk mendukung keberhasilan perawatan lanjutan pasien jantung di rumah.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20102HUBUNGAN PROMOSI MEDIA SOSIAL DAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN MINAT KUNJUNGAN DI NAJMINA BEAUTYCARE REMBANG2026-02-11T13:15:41+00:00Ellena Devi Anggrainiellenadevi6@gmail.comRusnotorusnoto@umkudus.ac.idIndanahindanah@umkudus.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan promosi media sosial dan kualitas pelayanan dengan minat kunjungan di Najmina Beautycare Rembang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang diberikan kepada konsumen Najmina Beautycare Rembang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara variabel promosi media sosial, kualitas pelayanan, dan minat kunjungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi media sosial memiliki hubungan positif dengan minat kunjungan, begitu pula kualitas pelayanan yang berhubungan positif dan signifikan dengan minat kunjungan. Secara simultan, promosi media sosial dan kualitas pelayanan memiliki hubungan yang signifikan dengan minat kunjungan konsumen di Najmina Beautycare Rembang. Dengan demikian, peningkatan promosi media sosial yang efektif serta kualitas pelayanan yang baik dapat meningkatkan minat kunjungan konsumen.</p> <p><em>This study aims to determine the relationship between social media promotion and service quality with visit intention at Najmina Beautycare Rembang. The research method used is quantitative with a correlational approach. Data were collected through questionnaires distributed to consumers of Najmina Beautycare Rembang. The collected data were analyzed using statistical tests to examine the relationship between social media promotion, service quality, and visit intention. The results indicate that social media promotion has a positive relationship with visit intention, and service quality also shows a positive and significant relationship with visit intention. Simultaneously, social media promotion and service quality have a significant relationship with consumers’ visit intention at Najmina Beautycare Rembang. Therefore, effective social media promotion and good service quality can increase consumers’ visit intention.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19806HUBUNGAN MEKANISME KOPING DAN TINGKAT SPIRITUALITAS DENGAN KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI POLI BEDAH DI RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-02-02T06:17:36+00:00Evining Zullichah162024031141@std.umku.ac.idAnny Rmannyrosiana@umkudus.ac.idAshri Maulida Rarahwati@umkudus.ac.id<p>Kecemasan merupakan respon psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi dan dapat memengaruhi kondisi fisik maupun kesiapan pasien dalam menjalani tindakan pembedahan. Tingkat kecemasan pasien dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya mekanisme koping dan tingkat spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dan tingkat spiritualitas dengan kecemasan pasien pre operasi di Poli Bedah RST Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari pasien pre operasi yang memenuhi kriteria inklusi dan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mekanisme koping, kuesioner spiritualitas, dan skala kecemasan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik yang sesuai untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi, serta terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat spiritualitas dengan kecemasan pasien pre operasi. Pasien dengan mekanisme koping adaptif dan tingkat spiritualitas yang baik cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat memperhatikan aspek psikologis dan spiritual pasien sebagai bagian dari asuhan keperawatan pre operasi guna menurunkan tingkat kecemasan pasien.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20216HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN KEJADIAN NYERI BAHU PADA PETANI DI DESA TAMBAKSARI KIDUL PURWOKERTO2026-02-18T08:56:00+00:00Nendyah Roestijawatinendyah.roestijawati@unsoed.ac.idMuhammad Reza Putrarezaaputraa@gmail.comZaltri Rhani MT Lebangyeye1313november@gmail.comErlina Pricilla Sitoruspricilla.lina@gmail.comJovanis Adhylia Putriguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Nyeri bahu merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang umum dialami oleh petani akibat aktivitas fisik yang berat, posisi kerja yang tidak ergonomis, serta penggunaan alat bertani yang berisiko. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan keluhan nyeri bahu pada petani di Desa Tambaksari Kidul, Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel sebanyak 50 petani dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner beban kerja berdasarkan durasi dan masa kerja, riwayat trauma, kuesioner SPADI (Shoulder Pain and Disability Index), serta pengukuran indeks massa tubuh. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 62% responden mengalami nyeri bahu. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara beban kerja dan nyeri bahu (p = 0,901). Hasil analisis regresi logistik menunjukkan indeks massa tubuh (p = 0,029; OR = 5,26) dan riwayat trauma bahu (p = 0,008; OR = 12,67) memiliki hubungan dengan keluhan nyeri bahu. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara beban kerja dengan keluhan nyeri bahu. Keluhan nyeri bahu berhubungan dengan indeks massa tubuh dan riwayat trauma, sehingga penting dilakukan upaya preventif dan intervensi ergonomi.</p> <p><em>Background: Shoulder pain is one of the most common musculoskeletal complaints experienced by farmers due to repetitive physical activity, awkward working posture, and poor ergonomic practices in traditional farming. Objective: This study aimed to determine the relationship between workload and the incidence of shoulder pain among farmers at Tambaksari Kidul Village, Banyumas Regency. Methodology: The study used a cross-sectional design. A total of 50 male farmers were selected using purposive sampling based. Data were collected using a qualitative workload questionnaire, the Shoulder Pain and Disability Index, and physical measurements including body mass index and trauma history. Data were analyzed using chi-square and logistic regression tests. Results: The findings showed that 62% of respondents experience shoulder pain. There is no significant relationship between workload and shoulder pain (p = 0.901). However, farmers with high body mass index (p = 0.029; OR = 5.26) and a history of shoulder trauma (p = 0.008; OR = 12.67) are significantly more likely to report shoulder pain. Conclusion: There was no relationship between workload and shoulder pain among farmers. Nevertheless, body mass index and a history of trauma are confirmed as significant risk factors for shoulder pain. Preventive and ergonomic interventions are needed to reduce the prevalence of shoulder complaints in farming populations.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20005PERAN ETIKA PROFESI KEGURUAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN2026-02-08T02:38:17+00:00Siti Ansari Tambunansitiansaritbn@gmail.comFadillah Tisalifadillahtisali600@gmail.comZianna Mira Simatupangsziannamira@gmail.comGresy Viarosa Saragihgresysaragih644@gmail.comMei Ampudan Lumbangaolmeiampudanl@gmail.comPirhot Marenata Siburianpirhotrizsiburian@gmail.comRizky Alhasby Tanjungmhdriskialhasbi@gmail.com<p>Penelitian ini membahas peran etika profesi keguruan dalam meningkatkan kualitas pendidikan sebagai bagian penting dari penguatan profesionalisme guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana penerapan etika profesi keguruan berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, melalui pengkajian buku, artikel jurnal ilmiah, dan regulasi yang berkaitan dengan etika profesi guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan etika profesi keguruan secara konsisten mampu meningkatkan tanggung jawab, integritas, dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.</p> <p><em>This study discusses the role of the teaching profession’s code of ethics in improving the quality of education as an important part of strengthening teacher professionalism. The purpose of this study is to analyze how the implementation of the teaching profession’s code of ethics contributes to improving the quality of learning and overall educational outcomes. The approach used in this study is a qualitative approach with a literature review method, conducted through the examination of books, scientific journal articles, and regulations related to teachers’ professional ethics. The results of the study indicate that consistent implementation of the teaching profession’s code of ethics is able to enhance teachers’ responsibility, integrity, and performance in the learning process.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19764HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN DENGAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI GEJALA HIPOGLIKEMIA PADA PASIEN DM DI RUANG RAWAT INAP RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-02-01T03:00:58+00:00Ook PriyonoOokgrutul@gmail.comAnny RMannyrosiana@umkudus.ac.idTri Suwartotrisuwarto@umkudus.ac.id<p>Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut yang sering terjadi pada pasien diabetes melitus (DM) dan dapat menimbulkan dampak serius apabila tidak dikenali dan ditangani dengan cepat. Kemampuan pasien dalam mengidentifikasi gejala hipoglikemia dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya tingkat pendidikan dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan dengan kemampuan mengidentifikasi gejala hipoglikemia pada pasien DM di ruang rawat inap RST Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien DM yang dirawat inap dan memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan kemampuan mengidentifikasi gejala hipoglikemia, serta adanya hubungan antara pekerjaan dengan kemampuan mengidentifikasi gejala hipoglikemia pada pasien DM. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat pendidikan dan pekerjaan berperan dalam kemampuan pasien DM mengenali gejala hipoglikemia. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan pasien untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini hipoglikemia.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20202PENGARUH AROMATERAPI JERUK MANIS (CITRUS) TERHADAP KECEMASAN IBU BERSALIN KALA I DI RUMAH SAKIT SARKIES ‘AISYIYAH KUDUS2026-02-17T10:24:32+00:00Eriska Dwi Andriyanieriskadwiandriyani@gmail.comNor Asiyahnorasiyah@umkudus.ac.idAtun Wigatiguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Kecemasan pada ibu bersalin kala I sering terjadi dan mampu mempengaruhi proses persalinan. Rasa cemas dapat meningkatkan ketegangan otot, memperparah nyeri, dan menyebabkan persalinan berlangsung lebih lama. Upaya non-farmakologis yang bisa diterapkan untuk mengurangi kecemasan adalah aromaterapi jeruk manis (Citrus), yang dapat diketahui memiliki efek menenangkan. Tujuan: Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahuin pengaruh aromaterapi jeruk manis (Citrus) terhadap tingkat kecemasan ibu bersalin kala I di RS Sarkies ‘Aisyiyah Kudus. Aromaterapi jeruk manis ini terpilih sebagai intervensi karena kandungan senyawa aktifnya, seperti linalool dan limonene, telah terbukti memiliki efek menenangkan dan mampu memberikan rasa relaksasi. Kecemasan pada ibu bersalin kala I menjadi masalah yang sering terjadi, terutama akibat nyeri, ketegangan, serta kekhawatiran terhadap jalannya proses persalinan. Kondisi ini tidak hanya menambah beban psikologis ibu, tetapi juga bisa memperparah nyeri serta dapat berpotensi memperpanjang durasi persalinan. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest yang bertujuan mengetahui pengaruh aromaterapi jeruk manis (citrus) terhadap kecemasan ibu bersalin kala l. Tingkat kecemasan diukur menggunakan lembar observasi State Anxiety Inventory (STAI) sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Data dapat dianalisi dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah aromaterapi jeruk manis (citrus), terjadi penurunan tingkat kecemasan ibu bersalin kala l. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan adanya perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p<0,05, serta tidak ditemukan peningkatan kecemasan pada responden. Kesimpulan: Aromaterapi jeruk manis (citrus) berpengaruh signifikan dalam menurunkan kecemasan ibu bersalin kala l dan dapat digunakan sebagai terapi komplementer nonfarmakologis yang efektif dan aman dalam asuhan kebidanan.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19993IMPLEMENTASI ASUHAN KEBIDANAN REMAJA DALAM PENYULUHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DI MTSN 03 KOTA PEKANBARU TAHUN 2025”2026-02-07T10:14:11+00:00Desi Nindya Kiranadesinindyakirana@gmail.comDelvita Eka Sariekadlvt@gmail.comDewi Sartikadewiharahap2003@gmail.comAzra Anantaazrananta@gmail.comDinda Aulia Putridindaaulia0306@gmail.comDila Safitridilasafitri581@gmail.com<p>Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang prevalensinya terus meningkat, termasuk pada kelompok usia remaja. Pola hidup tidak sehat yang mulai terbentuk sejak remaja, seperti konsumsi makanan tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, dan perilaku sedentari, berkontribusi terhadap meningkatnya faktor risiko PTM. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai Penyakit Tidak Menular serta upaya pencegahan dan penanganannya melalui asuhan kebidanan dan edukasi kesehatan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan sederhana, serta konseling individu kepada seluruh murid MTSN 3 Kota Pekanbaru. Salah satu hasil anamnesis pada kegiatan ini ditemukan remaja usia 14 tahun dengan indeks massa tubuh (IMT) 30,9 kg/m² (obesitas) disertai keluhan sering sesak dan nyeri haid (dismenore). Materi edukasi mencakup pengertian PTM, jenis-jenis PTM pada remaja, faktor risiko, dampak, serta upaya pencegahan dan pengendalian secara dini. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja terhadap PTM, meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat, serta komitmen untuk menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menunjukkan bahwa asuhan kebidanan berbasis edukasi kesehatan di lingkungan sekolah efektif sebagai upaya promotif dan preventif dalam pencegahan PTM pada remaja.</p> <p><em>Non-Communicable Diseases (NCDs are a major public health problem with an increasing prevalence, including among adolescents. Unhealthy lifestyle behaviors developed during adolescence, such as unbalanced diets, lack of physical activity, and sedentary behavior, contribute significantly to NCD risk factors. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge and awareness of Non-Communicable Diseases and their prevention through midwifery care and health education. The methods included health education sessions, basic health screening, and individual counseling for all students of MTSN 3 Pekanbaru City. One anamnesis result identified a 14-year-old adolescent with a body mass index (BMI) of 30.9 kg/m² (obesity), accompanied by complaints of shortness of breath and dysmenorrhea. The educational materials covered the definition of NCDs, types of NCDs among adolescents, risk factors, impacts, and early prevention and control strategies. The results showed improved adolescents’ understanding of NCDs, increased awareness of healthy lifestyle importance, and commitment to adopting healthy behaviors. This activity demonstrates that school-based midwifery care combined with health education is effective as a promotive and preventive strategy for preventing NCDs among adolescents.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20181ANALISIS KOMPARATIF AKSEPTOR KB SUNTIK 1 BULAN DAN 3 BULAN TENTANG EFEK SAMPING KB BERDASARKAN PERSPEKTIF ISLAM2026-02-16T04:45:31+00:00Virnanda Debby Agustinvirnandadebby567@gmail.comAna Zumrotun Nisakanazumrotun@umkudus.ac.idToni Ardi Rafsanjanitoniardi@umkudus.ac.id<p>Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pengendalian pertumbuhan penduduk, salah satunya melalui penggunaan KB suntik. Namun, penggunaan KB suntik dapat menimbulkan efek samping yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perspektif Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efek samping KB suntik 1 bulan dan 3 bulan berdasarkan perspektif Islam pada akseptor KB di PMB Yayuk Kalbariyanto, Mlati Lor, Kota Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik komparatif. Sampel penelitian berjumlah 56 akseptor KB suntik yang terdiri dari 28 akseptor KB suntik 1 bulan dan 28 akseptor KB suntik 3 bulan dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan uji Chi-Square, Spearman Rank dan uji T-test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas akseptor memiliki perspektif Islam yang positif dan mengalami efek samping ringan. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perspektif Islam dengan tingkat keparahan efek samping KB suntik baik pada kelompok 1 bulan maupun 3 bulan. Dapat disimpulkan bahwa efek samping KB suntik lebih dipengaruhi oleh faktor fisiologis, meskipun edukasi berbasis nilai Islam tetap penting dalam mendukung kenyamanan akseptor.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19933HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK, POLA MAKAN, DAN POLA TIDUR DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DI DESA SUKOREJO YANG TERCATAT PERIKSA DI PUSKESMAS SUMBER KABUPATEN REMBANG2026-02-05T09:13:38+00:00Wahyu Anisawahyuanisa1219@gmail.comNs. Rusnotorusnoto@umkudus.ac.idIndanahindanah@umkudus.ac.id<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Berbagai faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, pola makan, dan pola tidur diduga berperan dalam terjadinya hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok, pola makan, dan pola tidur dengan kejadian hipertensi pada masyarakat Desa Sukorejo yang tercatat melakukan pemeriksaan di Puskesmas Sumber Kabupaten Rembang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel penelitian diambil dari masyarakat yang tercatat melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Sumber dengan teknik pengambilan sampel sesuai kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan catatan medis, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok, pola makan, dan pola tidur dengan kejadian hipertensi. Dengan demikian, perubahan gaya hidup yang lebih sehat sangat diperlukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di masyarakat.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20110PENGARUH PEMBERIAN JUS JAMBU BIJI MERAH (Psidium Guajava Linn) TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMBAU KOTA BATAM2026-02-12T03:12:10+00:00Rosianarosianap97@gmail.comSiti Husaidahhusaidahsiti@gmail.comNurfitrifitriaminuumar@gmail.com<p>Angka kejadian menunjukkan 95% wanita hamil mengalami anemia yang merupakan kekurangan zat besi dalam tubuh. Data dari dinas kesehatan Kota Batam tahun 2023 yang menunjukkan Wilayah Kerja Puskesmas Sambau menempati peringkat pertama dengan jumlah ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 117 orang dengan jumlah ibu hamil sebanyak 1.333 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Jus Jambu Biji Merah terhadap peningkatan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sambau Kota Batam. Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan desain one group pretest-posttest design, Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 16 ibu hamil anemia. Setiap responden diberikan perlakuan dengan pemberian jus jambu biji merah sebanyak 250ml, 1 kali sehari selama 14 hari. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan 2 kali yaitu sebelum (pre-test) diberikan jus jambu biji merah dan setelah (post-test) diberikan jus jambu biji merah. Hasil analisis menggunakan Uji paired T-test, Hasil penelitian menunjukkan mean kadar Hb ibu hamil sebelum diberikan Jus Jambu Biji Merah (pretest) 10,4 gr/dl dan setelah pemberian Jus Jambu Biji Merah (post test) memiliki nilai mean 11,9 gr/dl. Hasil uji statistic didapatkan nilai p-value=0,000 < 0,05 yang artinya ada pengaruh pemberian Jus Jambu Biji Merah terhadap peningkatan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil anemia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran bagi Puskesmas Sambau dalam mencegah dan mengatasi kejadian anemia pada ibu hamil secara non farmakologi yaitu melalui pemberian Jus Jambu Biji Merah sehingga kejadian anemia pada ibu hamil dapat berkurang.</p> <p><em>The incidence rate shows that 95% of pregnant women experience anemia, which is a lack of iron in the body. Data from the Batam City Health Service in 2023 shows that the Sambau Health Center Work Area is in first place with the number of pregnant women experiencing anemia of 117 people with the number of pregnant women being 1,333 people. The aim of this research was to determine the effect of giving Red Guava Juice on increasing Hemoglobin Levels in Pregnant Women in the Sambau Community Health Center Working Area, Batam City. This type of research is pre-experimental with a one group pretest-posttest design. The sampling technique used is purposive sampling with a sample size of 16 anemic pregnant women. Each respondent was given treatment by administering 250ml of red guava juice, once a day for 14 days. Hemoglobin levels were measured twice, namely before (pre-test) they were given red guava juice and after (post-test) they were given red guava juice. The results of the analysis using the paired T-test, the results showed that the mean Hb level of pregnant women before being given Red Guava Juice (pretest) was 10.4 gr/dl and after giving Red Guava Juice (post test) had a mean value of 11.9 gr /dl. The statistical test results showed that the p-value = 0.000 < 0.05, which means that there is an effect of giving Red Guava Juice on increasing hemoglobin (Hb) levels in anemic pregnant women. It is hoped that the results of this research can be used as an illustration for the Sambau Community Health Center in preventing and treating the incidence of anemia in pregnant women non-pharmacologically, namely by administering Red Guava Juice so that the incidence of anemia in pregnant women can be reduced.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19874REVIEW : METODE PEMBUATAN, EMULGATOR DAN HUMEKTAN YANG DIGUNAKAN DIDALAM SEDIAAN KRIM2026-02-04T04:37:13+00:00Maura Maharanimuaramaharani73@gmail.comArum Dwi Arimbidwiarimbiarum@gmail.comCantika Mentarimentaric167@gmail.comRatu Zararatuzara28@gmail.comElpa Giovana Zolaelpagiovanzola@gmail.com<p>Tinjauaan literatur ini bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengevaluasi data ilmiah terkini terkait metode pembuatan, jenis jenis emulgator, dan aplikasi humektan sebagai penentu keberhasilan formulasi sediaan krim yang stabil dan efektif. Krim Adalah sediaan semipadat berjenis emulsi yang diakusi sebagai system penghantaran obat tropical yang efektif dan nyaman. Stabilitas merupakan kriteria mutu esensial yang harus dipertahankan untuk mencegah fenomena ketidakstabilan seperti creaming dan koalesens. Hasil sintesis dari 40 artikel ilmiah (rentang 2020-2025) menunjukkan bahwa mayoritas sediaan yang diformulasi Adalah krim tipe Minyak dalam Air (M/A), sering disebut vanishing cream.Dua metode utama yang diaplikasikan adalah pencampuran dan peleburan (Emulsi panas). Dalam konteks emulgator, kombinasi Asan Stearat (7-18%) dan Trietanolamin (TEA) (1.5-4%) Adalah sistem yang paling dominan dan terbukti menghasilan emulsi M/A yang stabil. Selain itu, humektan yang berfungsi menjaga kelembaban produk, seperti Gliserin (5-11%) dan Propilen Glikol (4-15%), secara konsisten diinkorporasikan dalam formulasi.</p> <p><em>This literatur review aims to integrate and evaluate current scientific data regarding the fundamental roles of the manufacturing method, types of emulsifiers, and the application of humectants as key determinants for the successful formulation of stable and effective cream preparations. Cream is a semi-solid preparation of the emulsion type widely recognized as an effective and convenient topical drug delivery system. Stability is an essential quality criterion that must be maintained to prevent instability phenomena such as creaming and coalescence. Synthesis results from 40 scientific articles (ranging from 2020 to 2025) indicate that the mayority of formulations are Oil-in-Water (O/W) type creams, often referred to as vanishing cream. The two primary methods applied are Mixing and Melting (Hot Emulsion). In the Context of emulsifiers, the combination of Stearic Acid (7-18%) and Triethsnolamin (TEA) (1.5-4%) is the most dominant system and has been proven to produce stable O/W emulsions. Futhermore, humectans that function to maintain product moisture and increase skin hydration, such as Glycerin (5-11%) and Propylene Glycol (4-15%), are consistenly incorporated into the foemulation. </em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20228EFEKTIVITAS PEMBERIAN JAHE HANGAT TERHADAP PENURUNAN MUAL MUNTAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER PERTAMA DI KLINIK PRATAMA LYDIA SIFRA KABUPATEN KUDUS2026-02-19T06:49:59+00:00Alviana Wulandarialviawulandari44@gmail.comIndah Risnawatiindahrisnawati@umkudus.ac.idIndah Puspitasariindahpuspitasari@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Mual muntah pada kehamilan atau Nausea and Vomiting in Pregnancy (NVP) merupakan keluhan yang umum terjadi pada trimester pertama dan dapat kenyamanan ibu hamil. Terapi farmakologis sering menimbulkan kekhawatiran terhadap efek samping, sehingga diperlukan alternatif nonfarmakologis yang aman, salah satunya jahe (Zingiber officinale). Jahe diketahui memiliki kandungan gingerol dan shogaol yang berperan dalam menekan refleks mual muntah Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian jahe hangat terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 48 ibu hamil trimester pertama yang mengalami mual muntah di Klinik Pratama Lydia Sifra Kabupaten Kudus, diambil dengan teknik total sampling. Intervensi berupa seduhan jahe hangat (2,5 gram jahe segar diseduh dalam 250 ml air panas) diberikan dua kali sehari selama empat hari. Pengukuran menggunakan instrumen PUQE-24 (Pregnancy-Unique Quantification of Emesis). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan α = 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, mayoritas responden mengalami mual muntah kategori sedang. Setelah intervensi, terjadi penurunan skor mual muntah pada sebagian besar responden. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian jahe hangat. Kesimpulan: Pemberian jahe hangat efektif secara signifikan dalam menurunkan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama. Jahe hangat dapat direkomendasikan sebagai terapi komplementer yang aman dan mudah diterapkan.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20051KAJIAN HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU KENAKALAN PADA REMAJA : PENELITIAN PADA SMP NEGERI DI KOTA SEMARANG, INDONESIA2026-02-10T08:38:49+00:00Vivin Kurniasarivivinkurniasari17@gmail.comNopi Nur Khasanahnopi.khasanah@unissula.ac.id<p>Latar Belakang : Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan seorang individu dari fase anak-anak menuju fase dewasa. Pada periode ini seorang individu akan mengalami perubahan yang cukup signifikan pada fisik, sosial dan psikologisnya, bahkan rentan sekali terpapar suatu masalah, termasuk kenakalan remaja. Dalam hal ini, pola asuh orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk jati diri seorang remaja. Pola asuh otoriter dan permisif sering kali memiliki keterkaitan dengan terjadinya perilaku negatif seorang anak, sedangkan pola asuh demokratis yang umumnya menjadi pola asuh yang lebih adaptif terhadap perkembangan seorang anak. Namun, bukti empiris terkait hubungan antara pola asuh dengan perilaku kenakalan di Indonesia, khususnya pada siswa sekolah menengah pertama, masih terbatas. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 226 siswa kelas VIII dari dua Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Semarang, Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas untuk mengukur pola asuh orang tua (otoriter, permisif, dan demokratis), serta perilaku kenakalan pada remaja. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil : Hasil dalam penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat dan signifikan anatara pola asuh otoriter dengan perilaku kenakalan remaja (ρ = 0,000; r = 0,736). Pola asuh permisif menunjukkan korelasi positif yang lemah namun signifikan dengan perilaku kenakalan remaja (ρ = 0,000; r = 0,235). Sebaliknya, tidak ditemukannya hubungan yang signifikan pada pola asuh demokratis dengan perilaku kenakalan remaja (ρ = 0,090; r = 0,113). Kesimpulan : Pola asuh otoriter dan permisif terbukti secara statistik memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya peningkatan perilaku kenakalan pada remaja, sedangkan pola asuh demokratis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan terjadinya perilaku kenakalan remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan pola asuh yang tepat, suportif, dan adaptif sebagai upaya strategi pencegahan perilaku kenakalan pada remaja.</p> <p><em>Background: Adolescence is a period of growth and development during which individuals transition from childhood to adulthood. During this stage, individuals experience significant physical, social, and psychological changes and are highly vulnerable to various problems, including juvenile delinquency. In this context, parenting plays a crucial role in shaping adolescents’ identity. Authoritarian and permissive parenting styles are often associated with negative child behaviors, whereas democratic parenting is generally considered more adaptive to child development. However, empirical evidence regarding the relationship between parenting styles and delinquent behavior in Indonesia, particularly among junior high school students, remains limited. Methods: This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 226 eighth-grade students from two public junior high schools in Semarang City, Indonesia. Data were collected using Likert-scale questionnaires that had been tested for validity and reliability to measure parenting styles (authoritarian, permissive, and democratic) and adolescent delinquent behavior. Data analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test. Results: The findings showed a strong and significant positive correlation between authoritarian parenting and adolescent delinquent behavior (ρ = 0.000; r = 0.736). Permissive parenting demonstrated a weak but significant positive correlation with delinquent behavior (ρ = 0.000; r = 0.235). Conversely, no significant relationship was found between democratic parenting and adolescent delinquent behavior (ρ = 0.090; r = 0.113). Conclusion: Authoritarian and permissive parenting styles were statistically proven to have a significant relationship with increased adolescent delinquent behavior, whereas democratic parenting showed no significant association. These findings emphasize the importance of implementing appropriate, supportive, and adaptive parenting strategies as a preventive measure against adolescent delinquency.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/19802HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN ANAK SAAT TINDAKAN KEPERAWATAN DI IGD RST WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO2026-02-02T04:47:52+00:00Muhammad Amirullah Afghani162024031143@std.umku.ac.idAnny Rmannyrosiana@umkudus.ac.idAshri Maulida Rarahwati@umkudus.ac.id<p>Tindakan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sering kali menimbulkan kecemasan pada anak akibat lingkungan yang asing, prosedur medis yang invasif, serta kondisi darurat yang dialami. Perilaku caring perawat menjadi faktor penting dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak selama proses perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak saat tindakan keperawatan di IGD RST Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah anak yang mendapatkan tindakan keperawatan di IGD RST Wijayakusuma Purwokerto dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner perilaku caring perawat dan instrumen pengukuran tingkat kecemasan anak, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik korelasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan anak, di mana semakin baik perilaku caring perawat maka tingkat kecemasan anak cenderung lebih rendah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan praktik keperawatan anak, khususnya dalam meningkatkan perilaku caring perawat di lingkungan IGD.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptifhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20214PREVALENSI HIPERTENSI DAN LAMA PAPARAN PESTISIDA PADA PETANI2026-02-18T08:07:28+00:00Nendyah Roestijawatinendyah.roestijawati@unsoed.ac.idJhonny Prambudi Batongdrprambudi.psikiatri@gmail.comIrbath Hamdanieirbathhamdanie@gmail.comYenni Apriana Wulandariyenni.wulandari@unsoed.ac.idRunditoprundito@yahoo.co.idNaila Yasmin Saptanaguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Prevalensi hipertensi pada petani di Indonesia merupakan yang tertinggi ketiga dibanding pekerjaan lain, yaitu sebesar 36,1%. Salah satu faktor yang dapat berhubungan dengan tingginya prevalensi hipertensi pada petani adalah lama paparan pestisida. Tujuan: Mengetahui hubungan lama paparan pestisida dengan kejadian hipertensi pada petani di Desa Tambaksari Kidul, Banyumas. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan metode purposive sampling sebanyak 80 orang responden. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Prevelansi hipertensi didapatkan sebanyak 48,8%, dengan rata-rata lama paparan pestisida adalah 1.921,98 jam. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama paparan pestisida dengan kejadian hipertensi (p = 0,026, r = 0,242). Kesimpulan: Lama paparan pestisida berhubungan dengan kejadian hipertensi pada petani, sehingga diperlukan upaya pencegahan meminimalisir paparan pestisida.</p> <p><em>Background: Prevalence of hypertension among farmers in Indonesia is the third highest compared to other occupations, at 36.1%. One of the factors that might be associated with the high prevalence of hypertension among farmers is the length of pesticide exposure. Objective: Determined relationship between the length of pesticide exposure and the incidence of hypertension among farmers in Tambaksari Kidul Village, Banyumas. Methods: research used cross-sectional design and purposive sampling method with 80 subjects. Data analysis was performed using Chi-Square. Results: Prevalence of hypertension among subjects was 48,8% with average length of pesticide exposure among respondents was 1,921.98 hours. Chi-Square result showed a significant relationship between the length of pesticide exposure and the prevalence of hypertension (p = 0.026, r = 0,242). Conclusion: The length of pesticide exposure has a significant relationship with the prevalence of hypertension among farmers, so it was needed prevention to minimalize pesticide exposure.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif