Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika
id-IDJurnal Inovasi Kesehatan AdaptifPENGARUH TERAPI HEALING TOUCH DAN DZIKIR TERHADAP KUALITAS FISIK PASIEN DM DIPUSKEMAS 1 PATI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20344
<p>Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang berdampak signifikan terhadap kualitas fisik pasien, terutama terkait energi, mobilitas, nyeri, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Peningkatan kualitas fisik pasien DM memerlukan intervensi holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mempertimbangkan dimensi psikologis dan spiritual. Healing Touch dan dzikir merupakan dua intervensi nonfarmakologis yang berpotensi memberikan efek relaksasi, menurunkan stres fisiologis, serta mendukung keseimbangan energi dan ketenangan batin pasien. Penelitian ini bertujuan jangka panjang untuk menghasilkan model intervensi keperawatan holistik berbasis energi dan spiritual yang dapat digunakan dalam praktik klinis untuk meningkatkan kualitas fisik pasien DM. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group. Kelompok intervensi menerima Healing Touch selama 20 menit dan dzikir selama 30 menit, tiga kali seminggu selama dua minggu, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Pengukuran kualitas fisik dilakukan menggunakan WHOQOL-BREF domain fisik sebelum dan sesudah intervensi. Dari penelitian yang sudah dilakukan di dapatkan Hasil pretest eksperimen Kelompok kontrol sebelum di berikan perlakuan dengan kualitas fisik buruk sebanyak 28 responden (80,0%) dan dengan kulitas fisik baik sejumlah 7 responden (20,0%). Hasil posttest pada kelompok intervensi didapatkan sebanyak 29 responden (82,9%) memiliki kualitas fisik baik, dan 6 responden (17,1%) memiliki kualitas fisik buruk. Dengan nilai p-Value sebesar 0,000 yang berarti Ho di tolak, ini menunjukan adanya Pengaruh Helaing Touch dan Dzikir terhadap Kualitas Fisik Pasien Diabtes Melitus di Puskesmas Pati.</p>Farhan Malik KurniawanSukarminEdy Soesanto
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STBM PILAR PERTAMA STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN DI DESA PONDOK BATU KECAMATAN BILAH HULU KABUPATEN LABUHAN BATU
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20683
<p>Latar belakang: Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhan Batu. Kebiasaan ini meningkatkan risiko penularan penyakit dan menunjukkan rendahnya pemahaman serta penerapan sanitasi yang baik. Tujuan penelitian ini: untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku STOP BABS sebagai pilar pertama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan survei analitik pada tahun 2025. Populasi penelitian adalah Masyarakat yang tinggal di Desa Pondok Batu, dengan sampel sebanyak 70 orang yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan dan sikap baik terhadap STOP BABS, namun sebagian besar berpenghasilan rendah dan belum bekerja. Sebanyak 67,1% responden masih melakukan BABS, sementara 32,9% menggunakan jamban. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pengetahuan (p=0,037), sikap (p=0,047), pekerjaan (p=0,001), dan status ekonomi (p=0,032) berhubungan signifikan dengan perilaku BABS, sedangkan pendidikan tidak berhubungan signifikan (p=0,733). Kesimpulan: Faktor pengetahuan, sikap, pekerjaan, dan status ekonomi berperan penting dalam perilaku STOP BABS. Disarankan intervensi kesehatan memperkuat aspek-aspek tersebut untuk meningkatkan perilaku penggunaan jamban di masyarakat.</p> <p><em>Background: Open Defecation (ODF) remains a public health challenge in Pondok Batu Village, Bilah Hulu District, Labuhan Batu Regency. This habit increases the risk of disease transmission and indicates a low understanding and implementation of good sanitation. The purpose of this study: to determine the factors associated with the behavior of OPENING DEFENSE as the first pillar of Community-Based Total Sanitation (STBM). Research method: This study uses a quantitative design with an analytical survey approach in 2025. The study population was heads of families in Pondok Batu Village, with a sample of 70 people selected randomly. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square statistical test. The results showed that the majority of respondents had good knowledge and attitudes towards OPENING DEFENSE, but most had low incomes and were unemployed. As many as 67.1% of respondents still practiced OPENING DEFENSE, while 32.9% used latrines. Bivariate analysis showed that knowledge (p=0.037), attitude (p=0.047), occupation (p=0.001), and economic status (p=0.032) were significantly associated with open defecation behavior, while education was not significantly associated (p=0.733). Conclusion: Knowledge, attitude, occupation, and economic status play an important role in open defecation behavior. Health interventions are recommended to strengthen these aspects to improve toilet use behavior in the community.</em></p>Halimatus Sa'diyah DalimuntheMeutia Nanda
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083EFEKTIVITAS WAKTU INDUKSI DAN PEMULIHAN PADA MANAJEMEN JALAN NAPAS MENGGUNAKAN LMA DENGAN PROSEDUR ORIF PADA EKSTERMITAS ATAS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20418
<p>Open Reduction Internal Fixation (ORIF) merupakan tindakan definitif pada fraktur ekstremitas atas yang membutuhkan anestesi umum dengan pengelolaan jalan napas yang aman dan efektif. Penggunaan Laryngeal Mask Airway (LMA) pada prosedur anestesi umum diketahui memberikan keuntungan berupa pemasangan yang lebih mudah, stabilitas hemodinamik yang baik, serta risiko iritasi jalan napas yang minimal. Efektivitas LMA terhadap waktu induksi dan pemulihan menjadi aspek penting dalam optimalisasi pelayanan anestesi. Tujuan: Melaporkan efektivitas waktu induksi dan pemulihan pada lima pasien yang menjalani prosedur ORIF ekstremitas atas dengan penggunaan LMA di Instalasi Bedah Sentral RSUD Bagas Waras Klaten. Hasil: Seluruh pasien menunjukkan kondisi hemodinamik yang stabil sejak fase induksi hingga akhir pembedahan. Pemasangan LMA berhasil pada satu kali percobaan pada lima pasien tanpa komplikasi respirasi. Waktu induksi tercapai dengan cepat dan menunjukkan keseragaman antar pasien. Pada fase pemulihan, seluruh pasien mencapai kesadaran adekuat dalam waktu singkat tanpa keluhan nyeri tenggorokan, batuk, maupun laringospasme. Pasien memenuhi kriteria pulih sadar dengan baik dan menunjukkan respons yang stabil di ruang pemulihan.</p> <p><em>Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) is a definitive procedure for upper extremity fractures that requires general anesthesia with safe and effective airway management. The use of Laryngeal Mask Airway (LMA) in general anesthesia provides several advantages, including easier insertion, improved hemodynamic stability, and a lower risk of airway irritation. Evaluating the effectiveness of LMA on induction and recovery times is essential for optimizing anesthetic care. Objective: To report the effectiveness of induction and recovery times in five patients undergoing upper extremity ORIF using LMA at the Surgical Center of RSUD Bagas Waras Klaten. Results: All patients demonstrated stable hemodynamic parameters throughout induction and surgery. LMA insertion was successful on the first attempt in all five patients, with no respiratory complications observed. Induction time was achieved rapidly and consistently across patients. During the recovery phase, all patients regained adequate consciousness in a short duration without airway-related complaints such as sore throat, coughing, or laryngospasm. Recovery scores were achieved promptly, and patients remained stable in the post-anesthesia care unit.</em></p>Masitoh NurdianaFadhil Arkan RamadhanMerlin PramestiNajmaTri Celia ValentinAmik MuladiRio Kristina Nugroho
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083 PENGARUH EDUKASI “GEMAS” (GERAKAN MAKANAN AMAN DAN SEHAT) DENGAN VIDEO ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN GIZI SEHAT UNTUK MENCEGAH STUNTING PADA IBU DENGAN ANAK USIA KURANG 2 TAHUN (BADUTA) DI POSYANDU DESA KALIGARANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20392
<p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi prioritas kesehatan masyarakat di Indonesia dan berdampak pada pertumbuhan fisik serta perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya stunting adalah rendahnya pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, dan MP-ASI yang tepat pada anak usia di bawah dua tahun (baduta). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi GEMAS (Gerakan Makanan Aman dan Sehat) dengan media video animasi terhadap pengetahuan gizi sehat untuk mencegah stunting pada ibu baduta di Posyandu Desa Kaligarang, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment non-equivalent control group design. Sampel penelitian berjumlah 66 ibu baduta yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan edukasi GEMAS menggunakan media video animasi, sedangkan kelompok kontrol diberikan edukasi gizi standar. Sampel penelitian berjumlah 66 ibu baduta yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing 33 responden, dengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi ibu yang memiliki anak usia 6–24 bulan, terdaftar aktif di Posyandu Desa Kaligarang, bersedia menjadi responden, dan mengikuti seluruh rangkaian penelitian, sedangkan kriteria eksklusi adalah ibu yang tidak mengikuti intervensi atau tidak menyelesaikan penelitian. Kelompok intervensi diberikan edukasi GEMAS menggunakan video animasi, sementara kelompok kontrol memperoleh edukasi gizi standar melalui ceramah. Pengukuran tingkat pengetahuan responden dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang gizi dan pencegahan stunting yang diberikan sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi untuk menilai perubahan pengetahuan responden Pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner pengetahuan gizi ibu berbasis konsep GEMAS dan pencegahan stunting pada anak usia di bawah dua tahun. Kuesioner berisi 30 pertanyaan benar atau salah yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas (Cronbach’s Alpha > 0,720) Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test dan post-test pada kelompok intervensi dan kontrol, kemudian data dikodekan dan dianalisis menggunakan SPSS. Analisis meliputi univariat untuk menggambarkan karakteristik dan tingkat pengetahuan, serta bivariat untuk menilai perbedaan sebelum dan sesudah intervensi serta antar kelompok menggunakan Paired t-test dan Independent t-test, atau uji nonparametrik alternatif bila data tidak berdistribusi normal (p < 0,05).Hasil penelitian ini diharapkan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu pada kelompok intervensi, sehingga edukasi GEMAS dengan video animasi dapat menjadi media edukasi yang efektif dalam upaya pencegahan stunting.</p>Dhea AmandaIndanahSri Karyati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083ANALISIS KEPUASAN TENAGA LABORATORIUM MEDIS TERHADAP SISTEM INFORMASI LABORATORIUM DI RSUD PASAR REBO JAKARTA TIMUR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20620
<p>Tenaga Laboratorium Medis di RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur dituntut untuk tetap memberikan pelayanan terbaik meskipun dihadapkan pada keterbatasan fasilitas laboratorium dan penerapan Sistem Informasi Laboratorium (SIL) yang belum sepenuhnya efektif. Permasalahan berdampak pada efisiensi kerja dan menurunkan motivasi tenaga laboratorium dalam memberikan pelayanan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan Tenaga Laboratorium Medis terhadap penerapan SIL dalam menunjang pelayanan laboratorium kepada pasien. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional yaitu studi observasional yang dilakukan pada satu waktu tertentu tanpa intervensi. Sampel penelitian adalah seluruh Tenaga Laboratorium Medis yang bekerja di Laboratorium RSUD Pasar Rebo dengan total 32 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis untuk mengidentifikasi hubungan antara efektivitas SIL dan tingkat kepuasan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden menilai penerapan SIL tergolong cukup efektif hingga sangat efektif sedangkan responden merasa puas hingga sangat puas terhadap penggunaan SIL. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara efektivitas SIL dan tingkat kepuasan tenaga laboratorium medis (p = 0,001). Penelitian menggarisbawahi pentingnya peningkatan fitur, kecepatan akses, dan integrasi sistem guna meningkatkan kepuasan dan kinerja tenaga laboratorium di rumah sakit.</p> <p><em>This study is motivated by the challenges faced by medical laboratory personnel at Pasar Rebo Regional Public Hospital (RSUD Pasar Rebo), East Jakarta, particularly regarding limited laboratory facilities and the suboptimal implementation of the Laboratory Information System (LIS). These issues have impacted work efficiency and reduced staff motivation in delivering services. The objective of this research is to determine the level of satisfaction among medical laboratory personnel regarding the implementation of LIS in supporting patient laboratory services.A quantitative approach was used with a cross-sectional research design, which is an observational study conducted at a single point in time without intervention. The sample included all medical laboratory personnel working in the RSUD Pasar Rebo Laboratory, totaling 32 respondents selected through a total sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed to identify the relationship between LIS effectiveness and user satisfaction The results showed that of respondents rated the LIS implementation as moderately to highly effective, while reported feeling satisfied to very satisfied with its use. The Chi-Square test indicated a significant relationship between LIS effectiveness and the satisfaction level of medical laboratory personnel (p = 0.001). These findings highlight the importance of enhancing system features, access speed, and integration to improve both user satisfaction and the performance of laboratory staff in hospitals.</em></p>Suci AbabilEnny KhotimahSuparlan Hadi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083PENERAPAN TERAPI NAFAS DALAM PADA PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK) DI RANAP PSIKIATRI JAKARTA TIMUR: CASE STUDY
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/20407
<p>Kesehatan jiwa menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang paling krusial saat ini, gangguan jiwa mencakup gangguan dalam aspek berpikir (kognitif), perasaan (afektif) dan tindakan (psikomotor). Resiko perilaku kekerasan didefinisikan sebagai bentuk respon maladaptif yang mucul dari lingkungan. Selain menggunakan terapi farmakologis, terapi non farmakologis juga dibutuhkan bagi pasien untuk mengontrol perilaku kekerasan seperti teknik relaksasi nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam adalah terapi mandiri berupa pengaturan pola pernapasan yang dilakukan secara lambat, berirama, dan teratur. Tujuan penerapan terapi ini yakni menilai keefektifan penerapan teknik relaksasi nafas dalam untuk mengontrol marah dan menurunkan tanda gejala pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus melalui wawancara, lembar observasi tanda gejala dan rekam medis pasien. Subjek penelitian ini yakni An.B usia 14 tahun. Setelah penerapan terapi nafas dalam selama tiga kali pertemuan dalam tiga hari berturut-turut selama 10-15 menit, pasien menunjukkan adanya perubahan perilaku sebelum dan sesudah pemberian terapi tarik nafas dalam, terapi ini efektif dapat membantu mengendalikan amarah dan peningkatan pengendalian diri.</p> <p><em>Mental health is one of the most crucial global health challenges today. Mental disorders include disturbances in thinking (cognitive), feelings (affective), and actions (psychomotor). The risk of violent behavior is defined as a form of maladaptive response that arises from the environment. In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological therapy is also needed for patients to control violent behavior, such as deep breathing relaxation techniques. Deep breathing relaxation techniques are a form of self-administered therapy involving the regulation of breathing patterns that are performed slowly, rhythmically, and regularly. The purpose of this therapy is to assess the effectiveness of deep breathing relaxation techniques in controlling anger and reducing symptoms in patients at risk of violent behavior. This study used a case study design through interviews, observation of symptoms, and patient medical records. The subject of this study was An.B, aged 14 years. After applying deep breathing therapy for three sessions over three consecutive days for 10-15 minutes, the patient showed behavioral changes before and after the deep breathing therapy. This therapy was effective in helping to control anger and improve self-control.</em></p>Eva Cahyani NatalieJesika Pasaribu
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-03-302026-03-3083