Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika
id-IDJurnal Inovasi Kesehatan AdaptifPENERAPAN TERAPI RELAKSASI PIJAT KAKI SEBAGAI INTERVENSI NONFARMAKOLOGIS MENGATASI MASALAH NYERI PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA DI RUANG OBSTETRI RSUP DR. KARIADI SEMARANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/22367
<p>Latar Belakang: Nyeri setelah tindakan sectio caesarea merupakan keluhan yang sering muncul dan dapat memengaruhi mobilisasi, kualitas istirahat, serta proses pemulihan ibu. Penanganan nyeri tidak hanya dilakukan secara farmakologis, tetapi juga dapat didukung dengan pendekatan nonfarmakologis seperti terapi pijat kaki yang memberikan efek relaksasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan terapi pijat kaki dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien post sectio caesarea. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif pada tiga pasien di ruang obstetri RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Intervensi berupa pijat kaki dilakukan secara sistematis sesuai prosedur, kemudian dilakukan penilaian ulang terhadap intensitas nyeri menggunakan skala numerik. Hasil: Setelah diberikan intervensi pijat kaki secara bertahap, ketiga pasien menunjukkan penurunan skala nyeri dari kategori sedang menjadi ringan. Selain itu, pasien tampak lebih nyaman dan mampu melakukan mobilisasi dengan lebih baik. Simpulan: Terapi pijat kaki dapat membantu menurunkan nyeri pada pasien post sectio caesarea dan dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas pelayanan.</p> <p><em>Background: Pain following cesarean section is a common complaint that can affect mobility, rest quality, and recovery. Pain management can be supported not only by pharmacological therapy but also by non-pharmacological approaches such as foot massage, which provides relaxation effects. Objective: This study aimed to evaluate the application of foot massage therapy in reducing pain levels among post-cesarean section patients. Methods: This study used a descriptive case study design involving three patients in the obstetric ward of Dr. Kariadi Hospital, Semarang. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The foot massage intervention was administered systematically based on standard procedures, followed by reassessment of pain intensity using a numeric scale. Results: After receiving the intervention, all three patients experienced a reduction in pain levels from moderate to mild. Patients also showed improved comfort and better mobility. Conclusion: Foot massage therapy can help reduce pain in post-cesarean section patients and can be applied as a non-pharmacological intervention in nursing practice to improve patient comfort and quality of care.</em></p>Dwi Vika AryaniWitri Hastuti
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986PENGARUH KOMPRES DINGIN LUMBAL TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI KALA I PERSALINAN DI PMB SANTI RAHAYU JABUNG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/23466
<p>Nyeri kala I persalinan merupakan keluhan utama yang sering dialami ibu bersalin akibat kontraksi uterus dan proses pembukaan serviks yang semakin meningkat selama persalinan. Nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis serta memengaruhi proses persalinan. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri persalinan adalah kompres dingin pada daerah lumbal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompres dingin lumbal terhadap penurunan intensitas nyeri kala I persalinan di PMB Santi Rahayu Jabung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment melalui pendekatan pretest-posttest control group design. Sampel penelitian sebanyak 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing 10 responden dengan teknik total sampling. Pengukuran intensitas nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value Wilcoxon sebesar 0,02 (<0,05) dan Mann Whitney sebesar 0,00 (<0,05), sehingga terdapat pengaruh kompres dingin lumbal terhadap penurunan intensitas nyeri kala I persalinan. Kompres dingin lumbal efektif digunakan sebagai metode nonfarmakologis untuk membantu mengurangi nyeri persalinan.</p> <p><em>Pain during the first stage of labor is the primary complaint frequently experienced by laboring mothers due to uterine contractions and the progressive dilation of the cervix during labor. Pain that is not properly managed can cause physical and psychological discomfort and affect the labor process. One nonpharmacological method that can be used to reduce labor pain is applying a cold compress to the lumbar region. This study aims to analyze the effect of lumbar cold compresses on reducing pain intensity during the first stage of labor at the Santi Rahayu Jabung Maternity Clinic. This study used a quantitative method with a quasi-experimental design employing a pretest-posttest control group approach. The study sample consisted of 20 participants divided into two groups—the intervention group and the control group—each comprising 10 participants, selected using total sampling. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and the Mann-Whitney Test. The results showed a Wilcoxon p-value of 0.02 (<0.05) and a Mann-Whitney p-value of 0.00 (<0.05), indicating that lumbar cold compresses have an effect on reducing pain intensity during the first stage of labor. Lumbar cold compresses are effective as a nonpharmacological method to help reduce labor pain.</em></p>Azizatul IlmiyahRani Safitri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PEKERJA DI PT PRIMA TANGKI INDONESIA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/23043
<p>Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam melindungi pekerja dari risiko kecelakaan kerja. Salah satu langkah pencegahan utama adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) secara tepat dan konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan APD pada pekerja di PT Prima Tangki Indonesia, meliputi usia, pendidikan, lama kerja, shift kerja, dan pengetahuan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja sebanyak 47 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p=0,012), pendidikan (p=0,031), lama kerja (p=0,042), shift kerja (p=0,027), dan pengetahuan (p=0,032) dengan kepatuhan penggunaan APD. Pekerja yang lebih dewasa, berpendidikan tinggi, memiliki masa kerja lebih lama, bekerja pada shift siang, serta memiliki pengetahuan baik, cenderung lebih patuh menggunakan APD. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan dalam meningkatkan pembinaan, pengawasan, serta pelatihan K3 secara berkelanjutan agar seluruh pekerja memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap penggunaan APD sesuai standar keselamatan kerja.</p> <p><em>Occupational Health and Safety (OHS) is an essential aspect in protecting workers from workplace accidents. One of the key preventive efforts is the proper and consistent use of Personal Protective Equipment (PPE). This study aims to determine the factors related to PPE usage among workers at PT Prima Tangki Indonesia, including age, education, length of service, work shift, and knowledge. This quantitative research applied a cross-sectional design involving 47 workers selected through total sampling. Data were collected using questionnaires and observation sheets and analyzed using the Chi-Square test with a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed significant relationships between age (p=0.012), education (p=0.031), length of service (p=0.042), work shift (p=0.027), and knowledge (p=0.032) with PPE compliance. Workers who were older, more educated, had longer experience, worked day shifts, and possessed better knowledge were more compliant in using PPE. The findings are expected to serve as input for the company to improve continuous supervision, training, and safety education programs so that all workers develop awareness and responsibility in using PPE according to safety standards.</em></p>Amelia FernandaWasiyem
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986HUBUNGAN PENGETAHUAN SISWA TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR DENGAN KESIAPAN MENOLONG BAGI SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH MANADO
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/22708
<p>Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan tindakan pertolongan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Keterbatasan pengetahuan BHD di kalangan siswa menjadi perhatian serius mengingat potensi mereka sebagai first responder dalam kegawatdaruratan. Kesiapan menolong mencakup kemampuan bertindak cepat, tepat, dan efektif dalam keadaan darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan siswa tentang BHD dengan kesiapan menolong di SMK Muhammadiyah Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 50 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta Fisher's Exact Test (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan 39 responden (78,0%) memiliki pengetahuan BHD baik dan 11 (22,0%) kurang baik. Kesiapan menolong menunjukkan 32 responden (64,0%) siap dan 18 (36,0%) tidak siap. Uji Fisher's Exact Test menghasilkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan Odds Ratio sebesar 38,750. Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan BHD siswa dengan kesiapan menolong. Pihak sekolah disarankan untuk mengadakan edukasi dan pelatihan BHD secara rutin guna meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan siswa dalam memberikan pertolongan pertama.</p> <p><em>Basic Life Support (BLS) is a first aid intervention that can save lives when performed quickly and accurately. Limited knowledge of BLS among students is a serious concern, as they have the potential to act as first responders in emergencies. Readiness to help encompasses the ability to act promptly, correctly, and effectively. This study aimed to examine the relationship between students' knowledge of BLS and their readiness to help at SMK Muhammadiyah Manado. A descriptive correlational design with a cross-sectional approach was used. The sample comprised 50 students selected by purposive sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using Chi-Square and Fisher's Exact Test (α = 0.05). Results showed that 39 respondents (78.0%) had good BLS knowledge, while 11 (22.0%) had poor knowledge. Regarding readiness, 32 (64.0%) were ready to help and 18 (36.0%) were not. Fisher's Exact Test yielded p = 0.000 (p < 0.05) with an Odds Ratio of 38.750. There is a significant relationship between students' BLS knowledge and their readiness to help. Schools are advised to implement regular BLS education and training to strengthen students' confidence and preparedness in first aid delivery.</em></p>Adinda R. AkiliRahmat H.DjalilSuwandi I. Luneto
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986EDUKASI RELAKSASI GUIDED IMAGERY KEPADA PENDERITA HIPERTENSI DI POSYANDU LANSIA RW 5 LEDUG BANYUMAS
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/22554
<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kardiovaskular. Selain terapi farmakologis, diperlukan upaya nonfarmakologis untuk membantu mengendalikan tekanan darah, salah satunya melalui teknik relaksasi guided imagery. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penderita hipertensi mengenai teknik relaksasi guided imagery sebagai metode pendukung dalam pengelolaan hipertensi. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Lansia RW 5 Ledug Banyumas melalui penyuluhan kesehatan dan demonstrasi teknik guided imagery. Materi yang diberikan meliputi pengertian hipertensi, faktor risiko, pencegahan komplikasi, serta langkah-langkah pelaksanaan guided imagery. Evaluasi dilakukan melalui tanya jawab dan observasi terhadap partisipasi peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan mampu memahami manfaat serta mempraktikkan teknik guided imagery secara mandiri setelah mendapatkan edukasi. Kegiatan ini meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pengelolaan hipertensi melalui pendekatan nonfarmakologis. Dengan demikian, edukasi relaksasi guided imagery dapat menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penderita hipertensi dalam mendukung pengendalian tekanan darah dan meningkatkan kualitas hidup.</p> <p><em>Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and is associated with an increased risk of cardiovascular complications. In addition to pharmacological treatment, non-pharmacological approaches are needed to support blood pressure control, one of which is guided imagery relaxation. This community service activity aimed to improve the knowledge of individuals with hypertension regarding guided imagery relaxation as a supportive method for hypertension management. The activity was conducted at the Elderly Integrated Health Post (Posyandu Lansia) RW 5 Ledug, Banyumas through health education sessions and guided imagery demonstrations. Educational materials included information on hypertension, risk factors, complication prevention, and guided imagery procedures. Evaluation was carried out through question-and-answer sessions and observation of participant involvement during the activity. The results showed that participants were highly engaged and were able to understand the benefits of guided imagery as well as practice the technique independently after receiving the education. The activity enhanced participants' understanding of the importance of non-pharmacological approaches in hypertension management. Therefore, guided imagery relaxation education can serve as an effective strategy to improve the knowledge and skills of individuals with hypertension in supporting blood pressure control and enhancing quality of life.</em></p>Rizal Ilham SetyonoMadyo MaryotoWasis Eko Kurniawan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI PADA BALITA DI PUSKESMAS SECURAI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/23098
<p>Imunisasi dasar yang lengkap, seperti HB0, Polio, DPT, BCG, dan Campak, berperan dalam mencegah penyakit menular seperti Tetanus, Campak, Pertusis, Hepatitis, dan lain-lain. Anak-anak yang tidak menerima imunisasi lebih rentan terkena penyakit, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Tujuan penelitian untuk melihat faktor yang berhubungan dengan kelengkapan Imunisasi pada Balita di Puskesmas Securai. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan rumus lameshow, dalam penelitian ini sampel berjumlah 35 balita. Analisa data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan ada hubungan usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, petugas pelayanan kesehatan, dan dukungan keluarga (p < 0,05), sedangkan jarak pelayanan, keterjangkauan tidak menunjukkan adanya hubungan (p > 0,05). meningkatkan kualitas pelayanan imunisasi dengan memperkuat kompetensi petugas dalam memberikan edukasi, membangun komunikasi yang baik, serta memastikan pelayanan yang ramah dan informatif kepada ibu balita.</p> <p><em>Complete basic immunizations, such as HB0, Polio, DPT, BCG, and Measles, play a role in preventing infectious diseases such as Tetanus, Measles, Pertussis, Hepatitis, and others. Children who do not receive immunizations are more susceptible to diseases, especially diseases that can be prevented by immunization. The purpose of the study was to look at factors related to the completeness of immunization in toddlers at the Securai Health Center. This research method uses quantitative with a cross-sectional design. Sampling was done using the lameshow formula, in this study the sample was 35 toddlers. Data analysis used univariate analysis and bivariate analysis using chi-square test. Based on the results of the study conducted, it was shown that there was a relationship between the mother's age, maternal education, maternal work, health care workers, and family support (p < 0.05), while the distance of service and affordability did not show a relationship (p > 0.05). Improving the quality of immunization services by strengthening the competence of officers in providing education, building good communication, and ensuring friendly and informative services to mothers under five.</em></p>Farhan FadhilaEliska
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986ANALISIS POLA RUJUKAN BERJENJANG PELAYANAN KESEHATAN PESERTA JKN TAHUN 2022-2024 MENGGUNAKAN DATA SAMPEL BPJS KESEHATAN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/22905
<p>Kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia dan faktor penting dalam pembangunan suatu negara. Untuk memastikan akses pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas tanpa beban finansial, Indonesia menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan dengan menerapkan sistem rujukan berjenjang. Penelitian ini menganalisis pola rujukan peserta JKN tahun 2022–2024 menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan, dengan fokus pada karakteristik peserta dan kelompok poli tujuan rujukan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional dan data sekunder sebanyak 285.316 peserta. Analisis deskriptif dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil menunjukkan mayoritas rujukan (91,8%) diarahkan ke kelompok poli Spesialis Lain. Terdapat hubungan signifikan antara pola rujukan dengan karakteristik peserta seperti jenis kelamin, segmentasi kepesertaan, dan tahun layanan (p<0,001). Temuan ini mengindikasikan kompleksitas kebutuhan pelayanan kesehatan peserta JKN serta peran penting fasilitas kesehatan tingkat pertama sebagai gatekeeper dalam mengoptimalkan efisiensi sistem rujukan. Hambatan seperti data yang tidak lengkap dan disparitas sumber daya pada fasilitas primer menjadi tantangan yang perlu ditangani. Analisis ini memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan kebijakan berbasis bukti dalam meningkatkan mekanisme rujukan berjenjang guna memperbaiki mutu dan aksesibilitas pelayanan dalam kerangka cakupan kesehatan semesta di Indonesia.</p> <p><em>Health is a fundamental human right and a vital factor in national development. To ensure equitable access to quality healthcare without financial hardship, Indonesia implements the National Health Insurance Program (JKN) managed by BPJS Kesehatan, utilizing a tiered referral system. This study analyzes referral patterns among JKN participants from 2022 to 2024 using BPJS Kesehatan Sample Data, focusing on participant characteristics and referral polyclinic groups. Employing a quantitative cross-sectional observational design with secondary data, the study encompasses 285,316 participants. Descriptive and bivariate analyses, including Chi-Square tests, were performed to identify associations between variables. Findings reveal that the majority of referrals (91.8%) target the "Other Specialist" polyclinic group. Variations in referral patterns are significantly associated with participant demographics such as gender, segmentation, and year of service (p<0.001). The results underscore the complexity of healthcare needs among JKN participants and emphasize the gatekeeping role of primary healthcare facilities in optimizing referral efficiency. Challenges such as incomplete data and resource disparities in primary healthcare settings highlight areas for improvement. This comprehensive analysis supports evidence-based policy to enhance the tiered referral mechanism, aiming to improve service quality and accessibility within Indonesia's universal health coverage framework</em></p>Rahmah ApridaRisna UtamiMutiara SiddikFitriani Pramita Gurning
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986HUBUNGAN PEMANFAATAN LAYANAN ANTRIAN MOBILE JKN DENGAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS WAWONASA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/22706
<p>Mutu pelayanan keperawatan di puskesmas masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait sistem pelayanan dan lamanya waktu tunggu pasien yang berdampak pada kepuasan serta jumlah kunjungan. Inovasi digital melalui aplikasi Mobile JKN, khususnya layanan antrian online, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pelayanan dan mutu asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemanfaatan layanan antrian Mobile JKN dengan mutu pelayanan keperawatan di Puskesmas Wawonasa. Desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 2.102 orang. Sampel sebanyak 44 responden diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pemanfaatan Mobile JKN dan kuesioner mutu pelayanan keperawatan, dianalisis menggunakan Uji Spearman Rank (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan layanan antrian Mobile JKN berada pada kategori baik sebanyak 32 responden (72,7%), dan mutu pelayanan keperawatan berada pada kategori baik sebanyak 32 responden (72,7%). Uji Spearman Rank menghasilkan nilai ρ = 0,000 (ρ < 0,05) dengan koefisien korelasi 0,557. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan layanan antrian Mobile JKN dengan mutu pelayanan keperawatan di Puskesmas Wawonasa. Puskesmas disarankan untuk memaksimalkan pemanfaatan data Mobile JKN dalam proses asuhan keperawatan agar pelayanan lebih efektif dan tepat waktu.</p> <p><em>Nursing service quality at community health centers continues to face challenges, particularly related to patient waiting times and service systems, which impact satisfaction and visit frequency. Digital innovation through the Mobile JKN application, especially its online queue feature, is expected to improve service efficiency and nursing care quality. This study aimed to examine the relationship between the utilization of Mobile JKN queue services and nursing service quality at Puskesmas Wawonasa. A correlational design with a cross-sectional approach was used. The population consisted of 2,102 individuals, with 44 respondents selected using purposive sampling. Data were collected through Mobile JKN utilization and nursing service quality questionnaires and analyzed using the Spearman Rank correlation test (α = 0.05). Results showed that 32 respondents (72.7%) rated Mobile JKN utilization as good, and 32 respondents (72.7%) rated nursing service quality as good. The Spearman Rank test yielded ρ = 0.000 (ρ < 0.05) with a correlation coefficient of 0.557. There is a significant relationship between Mobile JKN queue service utilization and nursing service quality at Puskesmas Wawonasa. Health centers are recommended to maximize Mobile JKN data integration throughout the nursing care process to ensure more effective and timely services.</em></p>Putri Raiming UmarSilvia Dewi Mayasari RiuNorman Alfiat Talibo
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-06-292026-06-2986