Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika
id-IDJurnal Inovasi Kesehatan AdaptifHUBUNGAN STATUS GIZI DAN LAMA MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMPN 1 MUARA BENGKAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21236
<p>Latar Belakang: Masa remaja merupakan fase pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan gizi, terutama bagi remaja putri yang mengalami menstruasi. Masalah kesehatan utama pada periode ini adalah anemia. Di SMPN 1 Muara Bengkal, menunjukkan 55,5% remaja putri mengalami anemia, yang diduga berkaitan dengan kondisi status gizi dan pola menstruasi. Tujuan: Diketahuinya hubungan antara status gizi dan lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 1 Muara Bengkal tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Sampel berjumlah 140 siswi SMPN 1 Muara Bengkal yang dipilih dengan tekinik stratified random sampling. Data dikumpulkan secara langsung berat badan dan tinggi badan untuk status gizi (IMT), kuesioner untuk lama menstruasi, serta pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb). Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki status gizi normal (54,3%), lama menstruasi normal (73,6%), dan tidak mengalami anemia (63,6%). Variabel status gizi diperoleh nilai p-value = 0,000, dan untuk variabel lama menstruasi diperoleh nilai p-value = 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan lama menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 1 Muara Bengkal tahun 2026. Disarankan bagi pihak sekolah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi gizi seimbang dan manajemen kesehatan reproduksi bagi remaja putri.</p> <p><em>Background: Adolescence is a period of rapid growth that increases nutritional requirements, especially for adolescent girls who experience menstruation. One of the major health problems during this period is anemia. At SMPN 1 Muara Bengkal, 55.5% of adolescent girls were found to be anemic, which is suspected to be associated with nutritional status and menstrual patterns. Objective: To determine the relationship between nutritional status and duration of menstruation with the incidence of anemia among adolescent girls at SMPN 1 Muara Bengkal in 2026. Methods: This was a quantitative study with a cross-sectional design. The sample consisted of 140 female students of SMPN 1 Muara Bengkal selected using a stratified random sampling technique. Data were collected through direct measurements of body weight and height to determine nutritional status (BMI), questionnaires to assess menstrual duration, and hemoglobin (Hb) level examinations. Data were analyzed using the Chi-Square statistical test. Results: Most respondents had normal nutritional status (54.3%), normal menstrual duration (73.6%), and were not anemic (63.6%). The nutritional status variable showed a p-value of 0.000, and the menstrual duration variable also showed a p-value of 0.000. Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and duration of menstruation with the incidence of anemia among adolescent girls at SMPN 1 Muara Bengkal in 2026. It is recommended that schools and healthcare providers enhance education on balanced nutrition and reproductive health management for adolescent girls.</em></p>Rosalia DeviTuti Merhartati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984PENGARUH KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP TINGKAT NYERI PERSALINAN KALA 1 PRIMIGRAVIDA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21104
<p>Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Angka kesakitan dan kematian karena operasi Sectio Caesarea lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Angka kematian operasi Sectio Caesarea berkisar 40-80 orang tiap 100. 000 kelahiran hidup. angka kesakitan pada persalinan normal yang hanya 9 per 1. 000 kejadian. Di Indonesia terdapat 6,8% kejadian seksio sesarea (SC) karena takut akan nyeri yang dirasakan. Berdasarkan hasil survei di PMB Eko Wahyuningsih jumlah ibu bersalin sebanyak 15 orang, menyatakan bahwa 80 % ibu bersalin merasakan nyeri yang tak tertahankan dan 20% merasakan sedikit sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kompres air hangat terhadap tingkat nyeri persalinan kala 1 primigravida. penelitian ini menggunakan desain kuantitatif quasi experimental dengan responden 32 ibu inpartu di klinik rumah bersalin “DELTA MUTIARA”, TPMB Bdn.Hj.Suprihatin, S.Tr.Keb. Instrumen dalam penelitian lembar observasi yang di berikan secara langsung kepada responden. Analisis data Hasil uji statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test p=0,000 <0,05 yang dapat disimpulkan terdapat pengaruh kompres air hangat terhadap tingkat nyeri persalinan kala 1 primigravida. Saran untuk mengurangi nyeri persalinan ibu inpartu kala 1 fase aktif bisa digunakan kompres air hangat dan ini bisa di ajarkan melalui kelas ibu hamil.</p> <p><em>Pain is defined as a condition that affects a person and its extension is known when a person has experienced it. The morbidity and mortality rate due to Sectio Caesarean section is higher than that of vaginal delivery. Sectio Caesarean section mortality rates range from 40-80 people per 100,000 live births. The morbidity rate in normal labor is only 9 per 1,000 events. In Indonesia, there is 6.8% incidence of cesarean section (SC) due to fear of pain. Based on the survey results at PMB Eko Wahyuningsih, the number of laboring women was 15 people, stating that 80% of laboring women felt unbearable pain and 20% felt a little pain. The purpose of this study was to analyze the effect of warm water compresses on the level of labor pain in stage 1 primigravida. This study used a quasi experimental quantitative design with 32 respondents inpartu mothers in the maternity home clinic “DELTA MUTIARA”, TPMB Bdn.Hj.Suprihatin, S.Tr.Keb. Instruments in the study of observation sheets given directly to respondents. Data analysis The results of statistical tests using the Wilcoxon Signed Ranks Test p=0.000 <0.05 which can be concluded that there is an effect of warm water compresses on the level of labor pain in time 1 primigravida. Suggestions to reduce labor pain for mothers inpartu kala 1 active phase can be used warm water compresses and this can be taught through pregnant women's classes. </em></p>Fitri Ayu Ila RohmatikaSetiawandari
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984EFEKTIVITAS KONSELING DENGAN MEDIA LEAFLET TERHADAP PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANGKULIRANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21424
<p>Latar Belakang: Pengetahuan ibu merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas perawatan bayi baru lahir untuk mengurangi risiko infeksi, hipotermia, dan kematian neonatal. Di Puskesmas Sangkulirang, hasil studi awal menunjukkan 60% ibu nifas memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai perawatan tali pusat, kehangatan tubuh bayi, dan tanda bahaya. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukasi yang sistematis seperti konseling menggunakan media leaflet. Tujuan: Mengetahui efektivitas konseling dengan media leaflet terhadap pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 44 dipilih menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner sebelum (pretest) dan tujuh hari setelah intervensi (posttest). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Nilai rata-rata pengetahuan responden meningkat secara signifikan dari 10,5 saat pretest menjadi 15,16 saat posttest dengan selisih 4,66. Hasil uji statistik menunjukkan p-value = 0,000 (< 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan pada pengetahuan ibu sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Konseling dengan media leaflet efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Sangkulirang.</p> <p><em>Background: Maternal knowledge is a primary determinant of the quality of newborn care, playing a critical role in reducing the risk of infection, hypothermia, and neonatal mortality. At Sangkulirang Public Health Center, preliminary findings indicated that 60% of postpartum mothers had limited knowledge regarding umbilical cord care, maintaining infant body warmth, and recognizing danger signs. Consequently, systematic educational interventions such as leaflet-based counseling are necessary. Objective: This study aimed to determine the effectiveness of leaflet-based counseling on postpartum mothers' knowledge about newborn care in the working area of Sangkulirang Public Health Center. Methods: This quantitative study employed a one-group pretest-posttest design. A sample of 44 respondents was selected using total sampling. Data were collected using a structured questionnaire administered before (pretest) and seven days after the intervention (posttest). Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Results: The mean knowledge score of respondents increased significantly from 10.5 at pretest to 15.16 at posttest, representing a mean increase of 4.66. The statistical analysis yielded a p-value of 0.000 (< 0.05), indicating a significant difference in maternal knowledge before and after the intervention. Conclusion: Leaflet-based counseling is effective in improving postpartum mothers' knowledge about newborn care in the working area of Sangkulirang Public Health Center.</em></p>Aprilia Nur Romadhoni Dwi Hartati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984PENGARUH PAPARAN GETARAN MESIN GERINDA TERHADAP KELUHAN HAND ARM VIBRATION SYNDROME (HAVS) DI PT MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA KOTA MAKASSAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21231
<p>Sektor industri di Indonesia cukup pesat. Perkembangan industri di Indonesia berhubungan dengan penyakit akibat kerja. Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh paparan getaran. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan resiko keluhan HAVS, antara lain frekuensi getaran mesin, umur, masa kerja dan lama kerja perhari. Penelitian ini bertujuan Menganalisis pengaruh paparan getaran mesin gerinda terhadap keluhan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) Pada PT Maruki International Indonesia Kota Makassar. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendeketan cross sectional study. Sample penelitian sebanyak 45 orang yang diambil dengan metode proportional stratified random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan vibration meter dan kuesioner yang telah di uji validitas dan reliabilitas. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) Berdasarkan hasil perhitungan regresi logistik diperoleh p-value umur 0,010< α = 0,05 (nilai p-value lebih kecil dari α = 0,05). Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan umur terhadap keluhan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS). Sedangkan hasil perhitungan regresi logistik untuk lama kerja, masa kerja, penggunaan APD, dan paparan getaran di peroleh p-value > α= 0,05 (nilai p-value lebih besar dari α =0,05). Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan lama kerja, masa kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan paparan getaran terhadap keluhan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS). Hasil dari regresi diperoleh R2 (Koefisien Determinasi atau R Square) sebesar 0,499 artinya variabel keluhan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) dapat dijelaskan oleh variabel umur, lama kerja, masa kerja, penggunaan APD, dan paparan getaran secara serentak sebesar 49,9%, sedangkan sisanya sebesar 50,1% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Kesimpulan Variabel Umur berpengaruh signifikan terhadap keluhan hand arm vibration syndrome (HAVS), sedangkan variabel masa kerja, penggunaan APD, paparan getaran tidak berpengaruh signifikan terhadap keluhan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS).</p> <p><em>The industrial sector in Indonesia is quite rapid. Industrial development in Indonesia is related to occupational diseases. Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) is an occupational disease caused by exposure to vibration. There are several factors possibly causing the risk of HAVS complaints, including the frequency of machine vibration, age, years of service and length of work per day. This study aimed to analyze the influence of grinding machine vibration exposure on complaints of Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) at PT Maruki International Indonesia Makassar. The study used analytic observation with a cross sectional approach. The sampling technique was proportionate stratified random sampling using the Slovin’s formula of 45 respondents. Data collection was carried out using a vibration meter and a questionnaire that had been tested for validity and reliability. The data were analyzed by logistic regression test. Based on the results of logistic regression calculations, the p-value for age was 0.010 < α = 0.05 (the p-value was smaller than α = 0.05). This mean that age had significant influence on (HAVS) complaints. While the results of logistic regression calculations for length of work per day, years of service, the use of PPE, and exposure to vibrations obtained p-value > α = 0.05 (p-value greater than α = 0.05). This indicated that length of work, years of service, the use of (PPE), and vibration exposure had no significant influence on (HAVS) complaints. The results of the regression obtained R2 (Coefficient of Determination or R Square) of 0.499 indicated that the variable (HAVS) complaints could be explained by the age, length of work, years of service, use of PPE, and vibration exposure variables simultaneously by 49.9%, while the remaining 50.1% was explained by other variables outside the model. This study concluded that age had significant influence on (HAVS) complaints, while the variable years of service, the use of PPE and vibration exposure had no significant influence on (HAVS) complaints.</em></p>Eka Sasmita
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT DENGAN PEMAHAMAN PENERAPAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) DI RS HARAPAN BUNDA KOTA BATAM
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21324
<p><em>World Health Organization</em> (WHO) melakukan survey yang menyimpulkan bahwa, diperkirakan 17,1 juta orang meninggal (29% dari jumlah kematian total) karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Karakterisitik Perawat Dengan Pemahaman Penerapan Resusitasi Jantung Paru (RJP) di Rumah Sakit Harapan Bunda Kota Batam Tahun 2025. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain pendekatan corelation study, kemudian data diolah dengan menggunakan uji Chi Square. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 37 orang. Hasil uji statistik masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia memiliki nilai p-value > 0,05 (0,000; 0,031; 0,027; 0,034). Kesimpulannya H0 ditolak Ha diterima, artinya ada hubungan karakteristik perawat dengan pemahaman resusitasi jantung paru (RJP) di Rumah Sakit Harapan Bunda Kota Batam. Diharapkan perawat mengikuti pelatihan agar mendapatkan wawasan dalam pemahaman penerapan resusitasi jantung paru (RJP) merupakan salah satu upaya mengurangi angka kematian henti napas dan henti jantung dapat meningkatkan mutu pelayanan.</p> <p><em>The World Health Organization</em> (WHO) conducted a survey that concluded that an estimated 17.1 million people died (29% of the total deaths) due to heart and blood vessel diseases. The purpose of this study is to determine the Relationship between Nurse Characteristics and Understanding of the Implementation of Cardiopulmonary Resuscitation (RJP) at Harapan Bunda Hospital, Batam City in 2025. This research method uses a descriptive analytical method with a corelation study approach design, then the data is processed using the Chi Square test. The sample in this study was 37 people. The results of the statistical test of working time, gender, education level, and age have a p-value of > 0.05 (0.000; 0.031; 0.027; 0.034). In conclusion, H0 was rejected by Ha, which means that there is a relationship between nurse characteristics and the understanding of cardiopulmonary resuscitation (RJP) at Harapan Bunda Hospital, Batam City. It is hoped that nurses will take part in the training to gain insight into the implementation of cardiopulmonary resuscitation (RJP) as one of the efforts to reduce the death rate of cardiac arrest and cardiac arrest and can improve the quality of service.</p>Annisa Puspita YesraDesyYulia Devi Putri
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MENSTRUAL PATCH DAN PEMBERIAN REBUSAN KAYU MANIS TERHADAP TINGKAT DISMENORE PADA REMAJA PUTRI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21174
<p>Dismenore merupakan perasaan nyeri ringan hingga berat pada perut bagian bawah yang dialami wanita saat menstruasi. Angka kejadian dismenore pada remaja putri sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder, terdapat terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu perbedaan efektivitas penggunaan Menstrual Patch dengan pemberian Rebusan Kayu Manis untuk mengurangi tingkat dismenore. Jenis penelitian adalah quasi eksperimen dengan Two Group Pre-test and Post-test Non Equivalent Control Group Desain. Populasi35 remaja, dengan kriteria remaja berusia 18-23 tahun. Besar sampel 32 Mahasiswi Kebidanan. Variabel independennya adalah Menstrual Patch dan Rebusan Kayu Manis dan variabel dependennya adalah penurunan tingkat dismenore pada remaja. Instrumen penelitian menggunakan intensitas skala nyeri NRS (Numeric Ratting Scale). Analisis uji independent t-test pada variabel Menstrual Patch p=0,000, Selanjutnya pada variabel Rebusan p=0,000. Maka dapat disimpulkan kedua variabel tersebut sama-sama terdapat efektivitas setelah dilakukan intervensi dengan menggunakan uji t. selanjutnya diharapkan dapat dikembangkan dengan melakukan penelitian yang lebih lanjut.</p> <p><em>Dysmenorrhea is a feeling of mild to severe pain in the lower abdomen experienced by women during menstruation. The incidence of dysmenorrhea in adolescent girls is 64.25% which consists of 54.89% primary dysmenorrhea and 9.36% secondary dysmenorrhea, there are pharmacological and non-pharmacological therapies. This study aims to determine the difference in the effectiveness of using Menstrual Patch with the administration of Cinnamon Decoction to reduce the level of dysmenorrhea. This type of research is a quasi-experiment with Two Group Pre-test and Post-test Non Equivalent Control Group Design. Population 35 adolescents, with the criteria of adolescents aged 18-23 years. Sample size 32 Midwifery students. The independent variable is Menstrual Patch and Cinnamon Decoction and the dependent variable is a decrease in the level of dysmenorrhea in adolescents. The research instrument used the NRS (Numeric Ratting Scale) pain scale intensity. Analysis of the independent t-test on the Menstrual Patch variable p=0.000, then on the Decoction variable p=0.000. So it can be concluded that both variables are equally effective after intervention using the t test. further expected to be developed by conducting further research.</em></p>Nyna Puspita NingrumNiken Larasati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI PUSKESMAS SEI LANGKAI KOTA BATAM
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21301
<p>Kejang demam merupakan salah satu kondisi darurat yang selalu terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, yang umumnya disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh secara mendadak. Penanganan awal yang tepat oleh orang tua, khususnya ibu. Yang bertujuan untuk mengetahui Hubungan sikap ibu dengan penanganan kejang demam pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 48 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non-Probability Sampling dengan teknik “Purposive Sampling”. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p-value = 0,000, yang berarti H0 ditolak. Maka hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan penanganan kejang demam pada anak di wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2025. Disarankan tenaga kesehatan dapat meningkatkan edukasi kepada ibu mengenai penanganan kejang demam pada anak agar ibu memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi tersebut. Selain itu, bagi ibu diharapkan dapat mengetahui dan melakukan penanganan awal kejang demam dengan cara tetap tenang, memiringkan posisi tubuh anak, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit.</p> <p><em>Febrile seizures are a common emergency in children aged 6 months to 5 years, generally caused by a sudden increase in body temperature. Appropriate initial treatment by parents, especially mothers, is crucial. This study aimed to determine the relationship between maternal attitudes and the management of febrile seizures in children at the working area of Sei Langkai Public Health Center, Batam City, in 2025. This research is a quantitative study using an analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 48 respondents. The sampling technique used was non-probability sampling with a purposive sampling method. Based on the analysis using the Chi-Square test, the obtained p-value was 0.000, indicating that Ho was rejected. There is a significant relationship between mothers’ attitudes and the management of febrile seizures in children at the working area of Sei Langkai Public Health Center, Batam City, in 2025. Health workers are expected to enhance education for mothers regarding the management of febrile seizures in children so that mothers have the right attitude when facing such conditions. In addition, mothers are expected to be able to recognize and carry out initial treatment for febrile seizures by remaining calm, tilting the child's body position, and immediately taking the child to a health facility if the seizure lasts more than five minutes.</em></p>Susi NursyamsiDitte Ayu SuntaraHidayat Hartanto
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA BENGKAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21168
<p>Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi tantangan serius di Indonesia, di mana salah satu penyebab utamanya adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor maternal, terutama status gizi dan kadar hemoglobin ibu selama masa kehamilan. Diketahuinya hubungan status gizi dan kadar hemoglobin ibu hamil dengan berat badan lahir bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Bengkal tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik cross sectional. Populasi adalah semua ibu hamil wilayah kerja Puskesmas Muara Bengkal tahun 2025 berjumlah 134 orang dengan sampel 100 yang ditentukan dengan simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dari buku kohort persalinan. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman’s Rank. Pada status gizi ibu sebagian besar normal yaitu sebanyak 62,0%, kadar hemoglobin sebagian besar normal yaitu 62,0% dan berat badan lahir pada bayi sebagian besar dengan berat badan normal yaitu 53,0%. Berdasarkan Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi dengan berat badan lahir bayi (p-value 0,007) dengan kekuatan korelasi lemah (r=0,267). Terdapat pula hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan berat badan lahir bayi (p-value 0,000) dengan kekuatan korelasi sedang (r=0,451). Status gizi dan kadar hemoglobin ibu hamil berhubungan secara signifikan terhadap berat badan lahir bayi. Intervensi gizi dan pemantauan kadar Hb sejak masa antenatal sangat penting untuk menekan angka kejadian BBLR.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Status Gizi, Hemoglobin, Berat Badan Lahir Bayi, BBLR.</p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Infant Mortality Rate (IMR) remains a serious challenge in Indonesia, with one of the main contributing factors being Low Birth Weight (LBW). This condition is influenced by various maternal factors, particularly maternal nutritional status and hemoglobin levels during pregnancy. To determine the relationship between maternal nutritional status and hemoglobin levels with infant birth weight in the working area of Muara Bengkal Public Health Center in 2025. This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The population consisted of all pregnant women in the working area of Muara Bengkal Public Health Center in 2025, totaling 134 individuals, with a sample of 100 selected using simple random sampling. Data were collected using secondary data from maternity cohort records. Data analysis was conducted using Spearman’s Rank statistical test. Most mothers had normal nutritional status (62.0%), most had normal hemoglobin levels (62.0%), and the majority of infants were born with normal birth weight (53.0%). Statistical analysis showed a significant relationship between maternal nutritional status and infant birth weight (p-value = 0.007) with a weak correlation (r = 0.267). There was also a significant relationship between maternal hemoglobin levels and infant birth weight (p-value = 0.000) with a moderate correlation (r = 0.451). Maternal nutritional status and hemoglobin levels have a significant and positive relationship with infant birth weight. Nutritional interventions and monitoring of hemoglobin levels during the antenatal period are essential to reduce the incidence of low birth weight.</em></p>Helina SafitriEka Frenty Hadiningsih
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN PENGETAHUAN PERSONAL HYGIENE DAN TINDAKAN VULVA HYGIENE DENGAN PRURITUS VULVAE MENSTRAUSI PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 1 MUARA ANCALONG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21443
<p>Remaja putri rentan mengalami gangguan kesehatan reproduksi saat menstruasi, salah satunya adalah pruritus vulvae. Fenomena di SMAN 1 Muara Ancalong menunjukkan masih banyak siswi yang memiliki pengetahuan rendah dan perilaku kebersihan yang kurang tepat, seperti jarang mengganti pembalut saat menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan tentang personal hygiene dan tindakan vulva hygiene dengan kejadian pruritus vulvae saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 1 Muara Ancalong. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi SMAN 1 Muara Ancalong sebanyak 115 orang yang terdiri dari 33 siswi kelas X, 37 siswi kelas XI, dan 45 siswi kelas XII. Sampel penelitian sebanyak 98 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadopsi dari penelitian sebelumnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya hubungan tingkat pengetahuan personal hygiene dengan kejadian pruritus vulvae dengan nilai p = 0,007 < α 0,05. Selain itu, terdapat hubungan tindakan vulva hygiene dengan kejadian pruritus vulvae saat menstruasi dengan nilai p = 0,000 < α 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah pengetahuan dan semakin kurang baik tindakan kebersihan yang dilakukan, maka semakin tinggi risiko remaja mengalami pruritus vulvae selama menstruasi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan personal hygiene dan tindakan vulva hygiene dengan kejadian pruritus vulvae saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 1 Muara Ancalong. Edukasi kesehatan reproduksi perlu ditingkatkan untuk memperbaiki pengetahuan dan perilaku kebersihan remaja sehingga risiko pruritus vulvae.</p> <p>Adolescent girls are vulnerable to reproductive health problems during menstruation, including vulvar pruritus. Observations at SMAN 1 Muara Ancalong indicated that many female students possess limited knowledge and engage in inappropriate hygiene practices, such as infrequently changing sanitary napkins during menstruation. Objective: This study aimed to determine the relationship between personal hygiene knowledge and vulvar hygiene practices with the incidence of vulvar pruritus during menstruation among adolescent girls at SMAN 1 Muara Ancalong. Method: This study employed a cross-sectional design. The study population consisted of all 115 female students at SMAN 1 Muara Ancalong, comprising 33 students from grade X, 37 from grade XI, and 45 from grade XII. A sample of 98 respondents was selected using stratified random sampling. Data were collected using a structured questionnaire adapted from previous studies and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square statistical test. Results: The findings revealed a significant relationship between the level of personal hygiene knowledge and the incidence of vulvar pruritus (p = 0.007; < 0.05). Additionally, a significant relationship was found between vulvar hygiene practices and the incidence of vulvar pruritus during menstruation (p = 0.000; < 0.05). These results indicate that lower knowledge levels and poorer hygiene practices are associated with a higher risk of adolescents experiencing vulvar pruritus during menstruation. Conclusion: There is a significant relationship between personal hygiene knowledge and vulvar hygiene practices with the incidence of vulvar pruritus during menstruation among adolescent girls at SMAN 1 Muara Ancalong. Reproductive health education should be enhanced to improve adolescents' hygiene knowledge and practices, thereby reducing the risk of vulvar pruritus.</p>nila kumala sariEka Frenty Hadiningsih
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984STUDI LITERATUR: FAKTOR RISIKO DAN PENATALAKSANAAN ACNE VULGARIS BERBASIS BUKTI ILMIAH
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21279
<p>Acne vulgaris merupakan penyakit kulit kronis dengan prevalensi tertinggi di Indonesia (67,4%) dibanding global (42,2%) yang berdampak signifikan pada kualitas hidup remaja melalui beban psikososial, scar permanen, dan absensi sekolah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko multifaktorial dan efektivitas penatalaksanaan berbasis bukti ilmiah untuk menyusun algoritma klinis kontekstual Indonesia. Penelitian menggunakan metode systematic narrative review mengikuti PRISMA 2020 dari 3.247 artikel periode 1 Januari 2018-31 Desember 2025 di PubMed/MEDLINE (n=1.456), Scopus (n=912), Google Scholar (n=678), Garuda (n=156), SINTA (n=32), DOAJ (n=13) yang disaring ketat menjadi 45 studi berkualitas tinggi (JBI critical appraisal score rata-rata 8,4/10, GRADE high certainty 61,3%). Analisis 7 tabel perbandingan ekstensif dari 40+ jurnal mengungkap faktor risiko utama: riwayat keluarga OR 2,54 (95% CI: 1,73-3,72; I²=62%), diet tinggi indeks glikemik OR 1,59 (95% CI: 1,36-1,84), stres akademik OR 3,2 (Indonesia tertinggi), kosmetik komedogenik OR 4,1 (rentang 3,1-4,1), dengan prevalensi puncak remaja perempuan 14-17 tahun 83,7%. Penatalaksanaan optimal: BPO 2,5%+clindamycin 1% reduksi lesi 72,5% (rentang 68,7-75,6%) acne ringan-sedang (IGA success 68,4%), isotretinoin oral 0,5-1 mg/kgBB/hari remisi klinis 85,2% acne berat (cumulative dose 120-150 mg/kgBB; relaps 14,8% vs 44,2% dosis rendah). Resistensi C. acnes Indonesia: clindamycin 52,4%, erythromycin 67,8% vs global 38,2% dan 45,9%. Cost-effectiveness regional: BPO+clindamycin Rp247.000/pasien sukses (dominant vs adapalene Rp312.000). Algoritma bertahap 5 tahap (diet GI<55 + double cleansing + BPO kombinasi 12 minggu + doxycycline 8 minggu + isotretinoin 6 bulan) dengan stewardship antimikroba, edukasi 3 pilar (diet-higiene-terapi), dan POSYANDU remaja "Kulit Sehat" direkomendasikan mengurangi insidens 25-40% dalam 3 tahun untuk populasi Fitzpatrick IV-V Indonesia dengan BMI>25 dan stres PSS>20.</p> <p><em>Acne vulgaris represents Indonesia's leading chronic dermatosis with 67.4% prevalence surpassing global 42.2%, significantly impacting adolescent quality of life through psychosocial burden, permanent scarring, and school absenteeism. This study aimed to identify multifactorial risk profiles and evidence-based management effectiveness to develop contextual Indonesian clinical algorithms. Systematic narrative review methodology followed PRISMA 2020 guidelines, screening 3,247 articles from January 1, 2018-December 31, 2025 across PubMed/MEDLINE (n=1,456), Scopus (n=912), Google Scholar (n=678), Garuda (n=156), SINTA (n=32), DOAJ (n=13), yielding 45 high-quality studies (JBI score 8.4/10 average, GRADE high certainty 61.3%). Analysis of 7 extensive comparative tables from 40+ journals revealed primary risk factors: family history OR 2.54 (95% CI: 1.73-3.72; I²=62%), high glycemic index diet OR 1.59 (95% CI: 1.36-1.84), academic stress OR 3.2 (Indonesia highest), comedogenic cosmetics OR 4.1 (range 3.1-4.1), peaking at 83.7% in females aged 14-17 years. Optimal management comprised BPO 2.5%+clindamycin 1% achieving 72.5% lesion reduction (range 68.7-75.6%) for mild-moderate acne (IGA success 68.4%), oral isotretinoin 0.5-1 mg/kg/day yielding 85.2% severe acne clinical remission (cumulative dose 120-150 mg/kg; relapse 14.8% vs 44.2% low-dose). Indonesian C. acnes resistance: clindamycin 52.4%, erythromycin 67.8% vs global 38.2% and 45.9%. Regional cost-effectiveness: BPO+clindamycin Rp247,000/successful patient (dominant vs adapalene Rp312,000). Five- step stepwise algorithm (GI<55 diet + double cleansing + BPO combination 12 weeks + doxycycline 8 weeks + isotretinoin 6 months) with antimicrobial stewardship, 3-pillar education (diet-hygiene-therapy), and "Healthy Skin" adolescent POSYANDU recommended to reduce incidence 25-40% within 3 years for Fitzpatrick IV-V Indonesian population with BMI>25 and PSS stress>20.</em></p>Jiad Hanan Tiswan
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN CAKUPAN IMUNISASI DPT-HB-HIB PADA BAYI USIA 12-18 BULAN DI WILAYAH KERJA BLUD PUSKESMAS SANGKULIRANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21158
<p>Latar belakang: Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib di BLUD Puskesmas Sangkulirang tahun 2024 hanya mencapai 63%, masih di bawah target global 90%. Rendahnya cakupan ini diduga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, kecemasan ibu, peran bidan, dan kejadian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi usia 12-18 bulan di wilayah kerja BLUD Puskesmas Sangkulirang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi adalah ibu dengan bayi usia 12-18 bulan sebanyak 71 orang, dengan sampel 62 responden yang diambil menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi Square dan Uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Hubungan pengetahuan ibu (p=0,001), kecemasan ibu (p=0,012), kejadian KIPI (p=0,004) dan peran bidan (p=0,519). Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan ibu, kecemasan dan kejadian KIPI dengan cakupan imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi usia 12-18 dan tidak ada hubungan peran bidan dengan cakupan imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi usia 12-18 di wilayah kerja BLUD Puskesmas Sangkulirang. Diperlukan edukasi komprehensif dan manajemen KIPI yang baik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.</p> <p><em>Background: The coverage of DPT-HB-Hib immunization at BLUD Sangkulirang Public Health Center in 2024 reached only 63%, which is still below the global target of 90%. This low coverage is presumed to be influenced by factors such as maternal knowledge, maternal anxiety, the role of midwives, and the occurrence of Adverse Events Following Immunization (AEFI). Objective: To determine the factors associated with DPT-HB-Hib immunization coverage among infants aged 12–18 months in the working area of BLUD Sangkulirang Public Health Center. Methods: This was a quantitative study with a cross-sectional design. The population consisted of 71 mothers with infants aged 12–18 months, with a sample of 62 respondents selected using stratified random sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test. Results: There were significant associations between maternal knowledge (p=0.001), maternal anxiety (p=0.012), and AEFI incidence (p=0.004) with immunization coverage, while the role of midwives was not significantly associated (p=0.519).Conclusion: Maternal knowledge, maternal anxiety, and AEFI incidence are associated with DPT-HB-Hib immunization coverage among infants aged 12–18 months, whereas the role of midwives is not associated. Comprehensive education and proper AEFI management are needed to improve public trust. </em></p>Dewi LestariRisnawati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984PENGARUH EDUKASI MEDIA LEAFLET TENTANG ASI EKSKLUSIF TERHADAP MOTIVASI IBU NIFAS DALAM PEMBERIAN ASI DI PUSKESMAS BATU AMPAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21425
<p>Latar Belakang: Cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Batu Ampar masih sangat rendah, yaitu hanya 9,1% pada tahun 2024, jauh di bawah target nasional sebesar 80%. Rendahnya angka ini diduga berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dan motivasi ibu dalam menyusui. Tujuan: Diketahuinya pengaruh edukasi menggunakan media leaflet terhadap motivasi ibu nifas dalam memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Batu Ampar. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experiment dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 37 ibu nifas yang diambil secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum diberikan edukasi (pretest), mayoritas responden (70,3%) memiliki motivasi rendah. Setelah diberikan edukasi (posttest), sebagian besar responden (75,7%) memiliki motivasi tinggi dalam kategori pemberian ASI. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Ada pengaruh edukasi media leaflet tentang ASI eksklusif terhadap motivasi ibu nifas dalam pemberian ASI di Puskesmas Batu Ampar. Disarankan untuk menggunakan media leaflet secara rutin sebagai instrumen edukasi dalam program promosi kesehatan untuk meningkatkan motivasi ibu memberikan ASI eksklusif.</p> <p><em>Background: Exclusive breastfeeding coverage at Batu Ampar Public Health Center remains very low, at only 9.1% in 2024, far below the national target of 80%. This low rate is suspected to be related to a lack of maternal knowledge and motivation regarding breastfeeding. Objective: This study aimed to determine the effect of leaflet-based education on exclusive breastfeeding on the motivation of postpartum mothers to breastfeed in the working area of Batu Ampar Public Health Center. Methods: This study employed a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 37 postpartum mothers selected using accidental sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. Results: Prior to the intervention (pretest), most respondents (70.3%) had low motivation. Following the intervention (posttest), most respondents (75.7%) demonstrated high motivation for breastfeeding. The statistical analysis yielded a p-value of 0.000 (p < 0.05). Conclusion: Leaflet-based education on exclusive breastfeeding significantly improves the motivation of postpartum mothers to breastfeed at Batu Ampar Public Health Center. It is recommended that leaflet media be used routinely as an educational tool in health promotion programs to enhance mothers' motivation to provide exclusive breastfeeding</em></p>WidayantiDwi Hartati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN KOMUNIKASI PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI KLINIK PRATAMA R WAHYU ASSALAM BEKASI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21233
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi perawat dengan tingkat kepuasan pasien di Klinik Pratama R Wahyu Assalam Bekasi. Komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian diambil dari pasien yang berkunjung ke klinik dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur aspek komunikasi perawat dan tingkat kepuasan pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi perawat dengan kepuasan pasien. Semakin baik komunikasi yang dilakukan oleh perawat, maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan komunikasi perawat perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di klinik.</p> <p><em>This study aims to determine the relationship between nurse communication and patient satisfaction at Pratama Clinic R Wahyu Assalam Bekasi. Effective communication between nurses and patients is an important factor in improving the quality of healthcare services. This research uses a quantitative method with a cross-sectional design. The sample was taken from patients visiting the clinic using purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires measuring nurse communication and patient satisfaction. Data analysis was performed using statistical tests to examine the relationship between the variables. The results showed a significant relationship between nurse communication and patient satisfaction. Better nurse communication is associated with higher patient satisfaction levels. Therefore, improving nurses' communication skills should be a priority in enhancing healthcare service quality at the clinic.</em></p>Rhomadan Ika FebriansyahNoor HidayahYulisetyaningrum
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984PENGARUH EDUKASI MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG MANFAAT TABLET TAMBAH DARAH DI DESA LONG NAH TAHUN 2025
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21382
<p>Masa remaja merupakan masa pertumbuhan pesat yang membutuhkan asupan gizi optimal, namun prevalensi anemia pada remaja masih tinggi, termasuk di Desa Long Nah. Kurangnya pengetahuan mengenai manfaat Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi faktor utama rendahnya kepatuhan konsumsi suplemen tersebut. Diperlukan media edukasi yang efektif seperti leaflet untuk meningkatkan pemahaman remaja. Tujuan: Menganalisis pengaruh edukasi menggunakan media leaflet terhadap pengetahuan remaja tentang manfaat tablet tambah darah di Desa Long Nah Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis Pre-Experimental dengan rancangan One Group Pretest and Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 45 remaja putri yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan media edukasi berupa leaflet. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 5,84 (pretest) menjadi 8,73 (posttest). Sebelum intervensi, mayoritas responden berpengetahuan kurang (86,7%), sedangkan sesudah intervensi pengetahuan kategori baik meningkat menjadi 40,0%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000 < 0,05. Kesimpulan: Media leaflet bisa menjadi salah satu bentuk edukasi untuk meningkatkan pengetahun remaja tentang manfaat tablet tambah darah. Disarankan edukasi kesehatan remaja rutin dilakukan agar pengetahuan meningkat dan perilaku sehat terbentuk.</p> <p><em>Adolescence is a period of rapid growth that requires optimal nutritional intake; however, the prevalence of anemia among adolescents remains high, including in Long Nah Village. Lack of knowledge about the benefits of Iron Supplement Tablets (IST) is a major factor contributing to low adherence to supplement consumption. Effective educational media, such as leaflets, are needed to improve adolescents’ understanding. Objective: To analyze the effect of education using leaflet media on adolescents’ knowledge about the benefits of Iron Supplement Tablets in Long Nah Village in 2025. Methods: This study employed a pre-experimental design with a One Group Pretest-Posttest approach. The sample consisted of 45 adolescent girls selected using purposive sampling. Data collection instruments included a knowledge questionnaire and educational media in the form of leaflets. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: The study found an increase in the mean knowledge score from 5.84 (pretest) to 8.73 (posttest). Before the intervention, the majority of respondents had low knowledge (86.7%), whereas after the intervention, the proportion of respondents with good knowledge increased to 40.0%. Statistical analysis showed a p-value of 0.000 (<0.05). Conclusion: Leaflets can serve as an educational medium to improve adolescents’ knowledge about the benefits of iron supplementation tablets. It is recommended that adolescent health education be conducted regularly to enhance knowledge and promote healthy behaviors.</em></p>Suriani LubbaTuti Meihartati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DIPUSKESMAS KALIORANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21209
<p>Latar belakang: Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan serius yang berkontribusi pada angka kematian ibu dan bayi. Wilayah Puskesmas Kaliorang, angka kejadian anemia mengalami peningkatan dari 76 kasus pada tahun 2023 menjadi 90 kasus pada tahun 2024. Tujuan: Diketahuinya faktor-faktor (usia, pendidikan, paritas, jarak kelahiran, dan status gizi) yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kaliorang tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kaliorang periode Januari-Agustus 2025 dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Data sekunder diperoleh dari rekam medis dan laporan KIA, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher Exact Test. Hasil: Dari 73 responden, sebanyak 27 ibu hamil (37,0%) mengalami anemia. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p < 0,05), pendidikan (p < 0,05), dan status gizi (p < 0,05) dengan kejadian anemia. Sebaliknya, faktor paritas dan jarak kelahiran tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dalam penelitian ini. Kesimpulan: Faktor usia, pendidikan, dan status gizi merupakan determinan penting kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kaliorang. Perlu adanya penguatan edukasi gizi dan pemantauan antenatal yang lebih intensif pada kelompok ibu yang berisiko.</p> <p><em>Background: Anemia in pregnant women remains a serious public health problem that contributes to maternal and neonatal mortality. At Kaliorang Public Health Center, the number of anemia cases increased from 76 cases in 2023 to 90 cases in 2024. Objective: To analyze factors (age, education, parity, birth spacing, and nutritional status) associated with the incidence of anemia among pregnant women at Kaliorang Public Health Center in 2025. Methods: This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all pregnant women in the working area of Kaliorang Public Health Center from January to August 2025. Samples were selected using a simple random sampling technique. Secondary data were obtained from medical records and Maternal and Child Health (MCH) reports, and were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test. Results: Of the 73 respondents, 27 pregnant women (37.0%) were found to have anemia. Bivariate analysis showed significant associations between age (p < 0.05), education (p < 0.05), and nutritional status (p < 0.05) and the incidence of anemia. In contrast, parity and birth spacing were not statistically significantly associated with anemia in this study.Conclusion: Age, education, and nutritional status are important determinants of anemia among pregnant women at Kaliorang Public Health Center. Strengthening nutritional education and more intensive antenatal monitoring for high-risk groups are necessary.</em></p>Aldila Nurul AiniHestri Norhapifah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI RST DR. SOETARTO YOGYAKARTA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21306
<p>Gagal ginjal kronis merupakan kondisi yang memerlukan pengelolaan jangka panjang, termasuk pembatasan asupan cairan untuk mencegah komplikasi. Kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, salah satunya adalah tingkat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronis di RST Dr. Soetarto Yogyakarta.Metode penelitian yang digunakan adalah desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani perawatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur tingkat stres dan kepatuhan pembatasan cairan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kepatuhan pembatasan cairan. Pasien dengan tingkat stres yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang lebih rendah terhadap pembatasan cairan. Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi psikologis dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang dianjurkan.Kesimpulan penelitian ini adalah adanya hubungan antara tingkat stres dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronis. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan psikologis guna meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.</p> <p><em>Chronic kidney disease is a condition that requires long-term management, including fluid restriction to prevent complications. Patient adherence to fluid restriction is often influenced by various psychological factors, one of which is stress level. This study aims to determine the relationship between stress level and adherence to fluid restriction among patients with chronic kidney disease at RST Dr. Soetarto Yogyakarta.This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample was selected using purposive sampling among patients with chronic kidney disease undergoing treatment. Data were collected using questionnaires to measure stress levels and adherence to fluid restriction. Statistical correlation tests were used to analyze the relationship between the variables.The results showed a significant relationship between stress levels and adherence to fluid restriction. Patients with higher stress levels tended to have lower adherence to fluid restriction. These findings highlight the importance of psychological interventions to improve patient adherence to recommended therapy.In conclusion, there is a relationship between stress levels and adherence to fluid restriction in patients with chronic kidney disease. Healthcare providers are expected to provide psychological support to improve patient adherence to treatment.</em></p>Avinda Wijayanti Tus SholekhahNoor HidayahYulisetyaningrum
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH DAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA BENGKAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21173
<p>Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil trimester III merupakan masalah kesehatan serius yang dapat meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan, BBLR, hingga kematian ibu dan bayi. Angka kejadian anemia pada ibu hamil di Kabupaten Kutai Timur menunjukkan adanya fluktuasi dengan kecenderungan menurun antar wilayah. Faktor utama yang diduga berpengaruh adalah kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) dan status gizi ibu. Tujuan: Diketahuinya hubungan kepatuhan minum tablet tambah darah dan status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Bengkal tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel penelitian adalah semua ibu hamil trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Bengkal berjumlah 40 responden yang diambil secara total smapling. Data diperoleh dari buku kohort ibu hamil dan lembar pencatatan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: mayoritas responden tidak patuh mengonsumsi TTD (55,0%), mayoritas dengan status gizi lebih (45,0% dan kejadian anemia 27,5%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan antara kepatuhan minum TTD (p-value = 0,000) dan nilai signifikan status gizi (p-value = 0,000). Simpulan: Ada hubungan kepatuhan minum tablet tambah darah dan status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III. Ibu hamil yang patuh mengonsumsi TTD dan memiliki status gizi baik cenderung tidak mengalami anemia.</p> <p><em>Infant Mortality Rate (IMR) remains a serious challenge in Indonesia, with one of the main contributing factors being Low Birth Weight (LBW). This condition is influenced by various maternal factors, particularly maternal nutritional status and hemoglobin levels during pregnancy. To determine the relationship between maternal nutritional status and hemoglobin levels with infant birth weight in the working area of Muara Bengkal Public Health Center in 2025. This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The population consisted of all pregnant women in the working area of Muara Bengkal Public Health Center in 2025, totaling 134 individuals, with a sample of 100 selected using simple random sampling. Data were collected using secondary data from maternity cohort records. Data analysis was conducted using Spearman’s Rank statistical test. Most mothers had normal nutritional status (62.0%), most had normal hemoglobin levels (62.0%), and the majority of infants were born with normal birth weight (53.0%). Statistical analysis showed a significant relationship between maternal nutritional status and infant birth weight (p-value = 0.007) with a weak correlation (r = 0.267). There was also a significant relationship between maternal hemoglobin levels and infant birth weight (p-value = 0.000) with a moderate correlation (r = 0.451). Maternal nutritional status and hemoglobin levels have a significant and positive relationship with infant birth weight. Nutritional interventions and monitoring of hemoglobin levels during the antenatal period are essential to reduce the incidence of low birth weight.</em></p>Riska yulandaWidya Astutik
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN SIKAP IBU DENGAN PENANGANAN KEJANG DEMAM PADA ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI LANGKAI KOTA BATAM TAHUN 2025
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21296
<p>Kejang demam merupakan salah satu kondisi darurat yang selalu terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, yang umumnya disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh secara mendadak. Penanganan awal yang tepat oleh orang tua, khususnya ibu. Yang bertujuan untuk mengetahui Hubungan sikap ibu dengan penanganan kejang demam pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 48 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non-Probability Sampling dengan teknik “Purposive Sampling”. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p-value = 0,000, yang berarti H0 ditolak. Maka hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan penanganan kejang demam pada anak di wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2025. Disarankan tenaga kesehatan dapat meningkatkan edukasi kepada ibu mengenai penanganan kejang demam pada anak agar ibu memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi tersebut. Selain itu, bagi ibu diharapkan dapat mengetahui dan melakukan penanganan awal kejang demam dengan cara tetap tenang, memiringkan posisi tubuh anak, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit.</p> <p><em>Febrile seizures are a common emergency in children aged 6 months to 5 years, generally caused by a sudden increase in body temperature. Appropriate initial treatment by parents, especially mothers, is crucial. This study aimed to determine the relationship between maternal attitudes and the management of febrile seizures in children at the working area of Sei Langkai Public Health Center, Batam City, in 2025. This research is a quantitative study using an analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 48 respondents. The sampling technique used was non-probability sampling with a purposive sampling method. Based on the analysis using the Chi-Square test, the obtained p-value was 0.000, indicating that Ho was rejected. There is a significant relationship between mothers’ attitudes and the management of febrile seizures in children at the working area of Sei Langkai Public Health Center, Batam City, in 2025. Health workers are expected to enhance education for mothers regarding the management of febrile seizures in children so that mothers have the right attitude when facing such conditions. In addition, mothers are expected to be able to recognize and carry out initial treatment for febrile seizures by remaining calm, tilting the child's body position, and immediately taking the child to a health facility if the seizure lasts more than five minutes.</em></p>Stevani Oktaviany SiagianDedy SiskaSavitri Gemini
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984EFEKTIFITAS AKUPRESUR MERIDIAN BL 23 (SHENSU) DAN AROMATERAPI LEMONGRASS TERHADAP KUALITAS TIDUR IBU HAMIL TRIMESTER III
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21164
<p>Gangguan tidur pada wanita hamil merupakan permasalahan yang cukup kompleks, dengan variasi tingkat keparahan dan waktu kejadian yang berbeda beda. Rasa tidak nyaman selama kehamilan menyebabkan gangguan pola tidur pada wanita hamil. Ibu hamil yang mengalami gangguan tidur biasanya diberikan terapi farmakologis, seperti Meflaquine dan Temazepam namun, berpotensi risiko dan efek samping yang mungkin terkait dengan penggunaan obat tersebut. Salah satu alternatif terapi nonfarmakologi, antaranya akupresur meridian BL 23 untuk relaksasi dan memperbaiki sirkulasi darah. Terapi ini juga dapat dikombinasikan dengan cara lain, seperti aromaterapi Lemongrass, untuk relaksasi yang lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas akupresur meridian BL 23 (shensu) dan aromaterapi lemongrass terhadap kualitas tidur ibu hamil trimester III. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian Quasy Experimental. Penelitian one group pre-test post-test design, dengan populasi 35 orang dan besar sampel 30 responden. Secara purposive sampling. Dianalisa menggunakan Kolmogorov Smirnov, didapatkan hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000< 0,05 maka H1 diterima sehingga dapat disimpulkan akupresur meridian BL 23 (shensu) dan aromaterapi lemongrass efektif memperbaiki kualitas tidur. Terapi non farmakologis dalam bentuk komplementer ini dapat menjadi acuan tenaga kesehatan memberi terapi yang aman dan tidak beresiko terhadap pasiennya.</p> <p><em>Sleep disorders in pregnant women is a complex problem, with variations in severity and timing of occurrence. Discomfort during pregnancy leads to disturbed sleep patterns in pregnant women. Pregnant women who experience sleep disorders are usually given pharmacological therapies, such as Meflaquine and Temazepam however, there are potential risks and side effects that may be associated with the use of these drugs. One alternative non- pharmacologic therapy includes acupressure of the BL 23 meridian for relaxation and improved blood circulation. This therapy can also be combined with other methods, such as Lemongrass aromatherapy, for deeper relaxation. This study aims to determine the effectiveness of BL 23 meridian acupressure (shensu) and lemongrass aromatherapy on the quality of sleep of third trimester pregnant women. The type of research used is quantitative with a Quasy Experimental research design. Research one group pre-test post-test design, with a population of 35 people and a sample size of 30 respondents. By purposive sampling. Analyzed using Kolmogorov Smirnov, the results of the Wilcoxon Signed Ranks Test showed the value of Asymp. Sig. (2-tailed) of 0.000 <0.05 then H1 is accepted so it can be concluded that acupressure meridian BL 23 (shensu) and lemongrass aromatherapy effectively improve sleep quality. Non- pharmacological therapy in this complementary form can be a reference for health workers to provide therapy that is safe and not risky for their patients.</em></p>Setiana AndarwulanFenita Mei Fenataria
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984HUBUNGAN ANTARA SOSIAL BUDAYA DAN PERSEPSI IBU DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI DPT-HB-HiB PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA ANCALONG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jika/article/view/21440
<p>Latar Belakang: Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib (DPT3) secara nasional pada tahun 2023 baru mencapai 67%, masih di bawah target global sebesar 90%. Di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong, cakupan imunisasi DPT-HB-Hib pada tahun 2024 hanya mencapai 59,46%, yang merupakan angka terendah dibandingkan jenis imunisasi lainnya. Rendahnya cakupan ini diduga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti norma sosial budaya serta faktor internal berupa persepsi ibu mengenai manfaat dan efek samping vaksin. Tujuan: Diketahuinya hubungan antara sosial budaya dan persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik. Populasi penelitian adalah ibu yang memiliki bayi usia 11-18 bulan di wilayah kerja BLUD Puskesmas Muara Ancalong, dengan pengambilan sampel 66 orang menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta verifikasi catatan imunisasi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada dalam lingkungan sosial budaya yang tidak mendukung (53,0%) dan mayoritas memiliki persepsi positif (54,5%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sosial budaya dengan pemberian imunisasi (p-value < 0,05) dan hubungan yang signifikan antara persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib (p-value = 0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor sosial budaya dan persepsi ibu dengan pemberian imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi. Saran diperlukan pendekatan berbasis kearifan lokal, pelibatan tokoh masyarakat, serta edukasi yang lebih intensif untuk memperbaiki persepsi negatif dan hambatan budaya guna meningkatkan cakupan imunisasi.</p> <p><em>Background: National DPT-HB-Hib (DPT3) immunization coverage in 2023 reached only 67%, remaining below the global target of 90%. In the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center, DPT-HB-Hib immunization coverage in 2024 was only 59.46%, the lowest among all immunization types. This low coverage is suspected to be influenced by external factors such as sociocultural norms, as well as internal factors including maternal perceptions of vaccine benefits and side effects. Objective: This study aimed to determine the relationship between sociocultural factors and maternal perception with DPT-HB-Hib immunization administration in infants in the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center. Methods: This quantitative study employed an observational analytic design. The study population consisted of mothers with infants aged 11–18 months in the working area of BLUD Muara Ancalong Public Health Center. A sample of 66 mothers was selected using purposive sampling. Data were collected using a validated and reliable questionnaire, along with verification of immunization records. Bivariate analysis was performed using the Chi-Square test. Results: The findings showed that the majority of respondents were in an unsupportive sociocultural environment (53.0%), while most mothers had positive perceptions (54.5%). Statistical analysis revealed a significant relationship between sociocultural factors and immunization administration (p-value < 0.05), as well as a significant relationship between maternal perception and DPT-HB-Hib immunization administration (p-value = 0.000). Conclusion: There is a significant relationship between both sociocultural factors and maternal perception with DPT-HB-Hib immunization administration in infants. A culturally sensitive approach involving community leaders, along with more intensive health education, is needed to address negative perceptions and cultural barriers in order to improve immunization coverage</em><em>.</em></p>Sri WahyuniChandra Sulityorini
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Inovasi Kesehatan Adaptif
2026-04-292026-04-2984