Jurnal Ilmiah Kajian Humaniora
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikh
id-IDJurnal Ilmiah Kajian HumanioraANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA:
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikh/article/view/18366
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan atraksi wisata edukasi ikan lele di Kampung Wisata Satupam, Tangerang Selatan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya minat terhadap wisata berbasis edukasi yang tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga pembelajaran, pelestarian sumber daya lokal, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan wisata. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan yang menghasilkan temuan empiris mengenai kondisi aktual pengelolaan atraksi edukasi di Satupam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atraksi edukasi lele di Satupam telah mencakup seluruh tahapan budidaya mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga pengolahan hasil panen serta pelatihan pembuatan pakan alternatif. Berdasarkan analisis teori 3A, aspek atraksi menjadi kekuatan utama, sedangkan aksesibilitas dan amenitas masih perlu ditingkatkan agar mendukung kenyamanan dan kemudahan wisatawan. Melalui model pengembangan 4D, ditemukan bahwa proses pengembangan telah berjalan dalam bentuk identifikasi potensi, penyusunan rancangan kegiatan edukatif, peningkatan kapasitas pelaku wisata, dan promosi digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Wisata Satupam memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi yang berkelanjutan, dengan arah pengembangan yang menekankan pada struktur kurikulum edukatif, peningkatan fasilitas, dan penguatan kapasitas masyarakat secara holistik.</p> <p><em>This study aims to analyze the development potential of catfish educational tourism attractions in Satupam Tourism Village, South Tangerang. The research is motivated by the growing attention toward educational-based tourism that emphasizes not only recreation but also learning, local resource preservation, and community empowerment as core elements of sustainable tourism. The study adopts a qualitative descriptive approach with data collected through in-depth interviews, field observations, and documentation. Data were analyzed interactively through the stages of reduction, presentation, and conclusion drawing, producing empirical findings on the actual management of educational attractions in Satupam. The results show that catfish educational activities encompass the entire cultivation cycle, including seed selection, feeding, harvesting, post-harvest processing, and training in alternative feed production. Based on the 3A concept analysis, attraction serves as the main strength, while accessibility and amenities still need improvement to enhance visitor comfort and accessibility. Applying the 4D development model, the study identifies ongoing efforts in potential identification, educational design formulation, community capacity building, and digital promotion. This research concludes that Satupam Tourism Village holds substantial potential to develop as a sustainable educational tourism destination, with development directions emphasizing structured learning programs, facility improvement, and comprehensive community capacity enhancement.</em></p>Ricky Deo Volento GultomJohann W. H.Prawiro
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Ilmiah Kajian Humaniora
2026-01-302026-01-30101PERAN YAYASAN EMBUN PELANGI DALAM MENANGANI TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (TPPO) DI BATAM
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikh/article/view/18502
<p>Penelitian ini melihat bagaimana Yayasan Embun Pelangi berperan aktif dalam menangani korban tindak pidana perdagangan orang khusunya di kota Batam yang dikenal sebagai wilayah strategis persinggahan sebelum korban diperdagangkan ke berbagai daerah maupun negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran yayasan dalam pendampingan, perlindungi, dan pemberdayaan korban eksploitasi seksual perempuan dan anak-anak. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan metodologi kualitatif deskriptif melalui studi literatur sedangkan pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yayasan Embun Pelangi menerapkan berbagai strategi, termasuk dukungan psikologis dan hukum, menyediakan tempat penampungan yang aman, dan membantu reintegrasi sosial serta pemulangan korban. Selain itu, Yayasan Embun Pelangi juga membentuk komunitas sosial guna pencegahan yang berorientasi pada masyarakat dengan mengadakan sosialisasi di tingkat kelurahan, memberikan pelatihan bagi warga untuk mengenali indikator perekrutan ilegal, membuka jalur pelaporan yang mudah diakses melalui hotline dan media sosial, serta secara aktif melibatkan masyarakat dalam pengawasan dan edukasi. Dengan pendekatan tersebut Yayasan Embun Pelangi berkontribusi dalam peran penting untuk pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang di kota Batam, meningkatkan perlindungan hak asasi manusia korban, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya perdagangan manusia.</p>Novia SitohangEster Lusiana SilitongaDela Dinawaty Tampubolon
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Humaniora
2026-01-302026-01-30101A PRAGMATIC ANALYSIS OF ILLOCUTIONARY ACTS IN THE DEVIL’S ADVOCATE PODCAST FEATURING GURU GEMBUL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikh/article/view/19671
<p>Penelitian ini mengkaji tindakan ilokusi dalam episode Devil's Advocate Podcast (dalam Bahasa Indonesia) bersama Guru Gembul, khususnya dalam penggunaan bahasa untuk melakukan tindakan sosial dalam diskursus pendidikan dan ideologis. Berakar pada pragmatik, penelitian ini mengadopsi Teori Tindakan Ucapan Searle dalam menganalisis bagaimana suatu ucapan berfungsi melampaui makna literalnya dalam menyatakan pendapat, mengajak bertindak, mengekspresikan komitmen, atau sikap psikologis. Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data meliputi ucapan-ucapan terpilih yang diambil dari transkrip. Analisis menunjukkan bahwa tindakan representatif merupakan jenis tindakan ilokusi yang paling dominan dalam data. Dominasi ini menunjukkan bahwa pembicara primarily menggunakan bahasa untuk membangun argumen dan menyajikan evaluasi sistem pendidikan Indonesia sebagai pernyataan kenyataan. Tindakan direktif digunakan untuk mendorong refleksi dan tindakan kolektif, sementara tindakan komisi menunjukkan komitmen pribadi dan tanggung jawab terhadap perubahan di masa depan. Tindakan ekspresif berfungsi untuk mengungkapkan sikap emosional dan memperkuat keaslian diskursus. Secara mencolok, tidak ada tindakan deklaratif yang teridentifikasi, menunjukkan bahwa pembicara tidak memiliki otoritas institusional untuk melaksanakan perubahan melalui bahasa saja, melainkan bergantung pada strategi persuasif dan argumentatif. Studi ini menunjukkan bahwa tindakan ucapan memainkan peran krusial dalam membentuk diskursus podcast: kritik, ideologi, dan keterlibatan sosial. Temuan ini berkontribusi pada studi pragmatik dengan menyoroti fungsi tindakan ilokusi dalam media digital saat ini, khususnya podcast sebagai platform untuk diskursus publik.</p> <p><em>This study investigates the illocutionary acts in Devil's Advocate Podcast (In Bahasa Indonesia) episode with Guru Gembul, particularly in using language to conduct social acts within educational and ideological discourse. Rooted in pragmatics, this present research adopts Searle's Speech Act Theory in analyzing how an utterance functions beyond its literal meaning in asserting opinion, inviting action, expressing commitment, or psychological attitude. In this study, the researchers adopt a descriptive qualitative approach. Data include selected utterances taken from the transcript. The analysis reveals that representative acts are the most dominant type of illocutionary acts found in the data. This dominance indicates that the speaker primarily uses language to construct arguments and present evaluations of the Indonesian education system as statements of reality. Directive acts are used to encourage collective reflection and action, while commissive acts demonstrate personal commitment and responsibility toward future change. Expressive acts function to reveal emotional stance and strengthen the authenticity of the discourse. Notably, no declarative acts are identified, suggesting that the speaker does not possess institutional authority to enact change through language alone, but instead relies on persuasive and argumentative strategies. This overall study shows that speech acts play a crucial role in framing podcast discourse: criticism, ideology, and social engagement. The findings contribute to pragmatic studies by signaling the function of illocutionary acts in current digital media, particularly podcasts as platforms for public discourse.</em></p>Didi PriatnaZaidan Farid WajdiUton FatoniCecep Agus
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Humaniora
2026-01-302026-01-30101