SIMULACRA PADA PERTUNJUKAN SI GALE-GALE
Kata Kunci:
Sigale-Gale, Simulacra Jean Baudrillard, Transformsi Budaya, Batak Toba, HiperrealitasAbstrak
Penelitian ini mengkaji fenomena transformasi budaya dalam pertunjukan Sigale-gale di kalangan masyarakat Toba Batak di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Sigale-gale, yang secara tradisional berfungsi sebagai boneka kayu mekanis dalam upacara kematianmelambangkan anak pengganti bagi mereka yang meninggal tanpa keturunan kini telah mengalami pergeseran fungsi dari ritual sakral menjadi objek wisata budaya. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis pergeseran makna tersebut melalui lensa teori Simulacra karya Jean Baudrillard. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, dengan pendekatan studi kasus di lokasi-lokasi komersial yang menampilkan pertunjukan Sigale-gale sebagai atraksi rutin. Data dikumpulkan melalui observasi dengan peneliti sebagai instrumen utama wawancara mendalam, dan dokumentasi audiovisual. Validitas data dijamin melalui triangulasi sumber dengan membandingkan teks-teks sejarah, praktik lapangan, dan pendapat para ahli budaya. Teknik analisis data menerapkan model semiotik dan simulasi untuk memetakan empat tahap citra menurut Baudrillard, mulai dari refleksi realitas dasar hingga simulakrum murni. Temuan penelitian ini diharapkan dapat mengungkap bagaimana mekanisme “hiperrealitas” beroperasi dalam budaya lokal, di mana tiruan atau simulasi tradisi sering kali dianggap lebih nyata atau berharga daripada rekan historis aslinya dalam konteks masyarakat modern.



