EKSISTENSI BUDAYA KADD’I SEBAGAI BENTUK PENGHARGAAN KEPADA JANDA DI DESA TANAJAWA KECAMATAN HAWU MEHARA KABUPATEN SABU RAIJUA
Kata Kunci:
Budaya Kadd’i, Janda, Eksistensi Budaya, Masyarakat SabuAbstrak
Penelitian ini berjudul “Eksistensi Budaya Kadd’i sebagai Bentuk Penghargaan kepada Janda di Desa Tanajawa Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua.” Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya budaya sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat, khususnya dalam menghadapi peristiwa kematian. Budaya Kadd’i merupakan tradisi adat masyarakat Sabu yang berkaitan dengan pemulangan perempuan yang menjadi janda kepada keluarga asal setelah suaminya meninggal dunia. Tradisi ini dipahami sebagai bentuk kepedulian, perlindungan, dan tanggung jawab keluarga terhadap perempuan yang berada dalam kondisi rentan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses dan tahapan budaya Kadd’i serta bagaimana eksistensi budaya Kadd’i di Desa Tanajawa Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan serta eksistensi budaya Kadd’i dengan menggunakan teori Gender oleh Ann Oakley (1972). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan jumlah informan sebanyak 11 orang yang terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, janda cerai mati, dan pihak keluarga. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Kadd’i masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tanajawa sebagai tradisi turun-temurun. Pelaksanaan budaya Kadd’i dilakukan setelah prosesi pemakaman selesai melalui musyawarah keluarga yang disebut ame ta Kadd’i. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk penghargaan, perlindungan sosial, menjaga martabat perempuan, dan memperkuat solidaritas masyarakat Sabu.
This study is entitled “The Existence of Kadd’i Culture as a Form of Respect for Widows in Tanajawa Village, Hawu Mehara District, Sabu Raijua Regency.” The background of this research is based on the importance of culture as a guideline in regulating people’s social life, especially in dealing with death events. Kadd’i culture is a traditional custom of the Sabu community related to returning women who become widows to their original families after their husbands pass away. This tradition is understood as a form of care, protection, and family responsibility toward women who are in vulnerable conditions. The formulation of the problem in this study is how the process and stages of Kadd’i culture are carried out and how the existence of Kadd’i culture is maintained in Tanajawa Village, Hawu Mehara District, Sabu Raijua Regency. This study aims to determine the implementation process and the existence of Kadd’i culture using Gender Theory by Ann Oakley (1972). The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving 11 informants consisting of traditional leaders, community leaders, widows, and family members. Data analysis used the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that Kadd’i culture is still maintained as a hereditary tradition and is interpreted as a form of respect, social protection, preserving women’s dignity, and strengthening solidarity within the Sabu community.




