TRADISI LISAN GENDING NGANTAH JERO KUBAYAN DI DESA ADAT BAYUNG GEDE KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI

Penulis

  • I Komang Deny Aditya Saputra Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Gek Diah Desi Sentana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Putu Eddy Purnomo Arta Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Kata Kunci:

Tradisi Lisan Gending Ngantah Jero Kubayan Di Desa Bayung Gede

Abstrak

Penelitian ini mengkaji Tradisi Lisan Gending Ngantah Jero Kubayan yang hidup dan berkembang di Désa Adat Bayung Gedé, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tradisi tersebut merupakan salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat adat dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pelaksanaan upacara adat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan Tradisi Lisan Gending Ngantah Jero Kubayan, mengungkap fungsi yang terkandung di dalamnya, serta menjelaskan peran tradisi tersebut sebagai media pembelajaran bahasa Bali bagi masyarakat Désa Adat Bayung Gedé. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan Teori Fungsionalisme, Teori Hermeneutika, dan Teori Behaviorisme sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Lisan Gending Ngantah Jero Kubayan masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Désa Adat Bayung Gedé. Tradisi ini terdiri atas beberapa jenis gending yang digunakan pada tahapan prosesi yang berbeda. Fungsi yang terkandung dalam tradisi ini meliputi fungsi sosial, fungsi religius, serta fungsi pelestarian bahasa dan budaya Bali. Selain itu, tradisi ini juga mengandung berbagai nilai budaya, penghormatan kepada tokoh adat, serta nilai kebersamaan yang diwariskan oleh leluhur. Keberadaan Gending Ngantah Jero Kubayan juga berperan sebagai sarana pembelajaran bahasa Bali melalui proses pewarisan tradisi lisan dari generasi tua kepada generasi muda sehingga keberlangsungan bahasa dan budaya Bali tetap terjaga.

This study examines the Oral Tradition of Gending Ngantah Jero Kubayan, which continues to exist and develop in Bayung Gede Traditional Village, Kintamani District, Bangli Regency. This tradition is one of the cultural heritages that has been preserved by the indigenous community and passed down from generation to generation as an integral part of traditional ceremonial practices. The objectives of this study are to describe the existence of the Gending Ngantah Jero Kubayan Oral Tradition, to reveal the functions embedded within it, and to explain its role as a medium for learning the Balinese language among the people of Bayung Gede Traditional Village. This research employed a qualitative descriptive method. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The collected data were analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The study was guided by Functionalism Theory, Hermeneutic Theory, and Behaviorism Theory as the analytical frameworks. The findings indicate that the Gending Ngantah Jero Kubayan Oral Tradition continues to be practiced and preserved by the community of Bayung Gede Traditional Village. This tradition consists of several types of gending (traditional chants or songs) used at different stages of the ceremonial procession. The functions embodied in this tradition include social, religious, and cultural as well as linguistic preservation functions. Furthermore, the tradition contains various cultural values, respect for traditional leaders, and values of togetherness inherited from the ancestors. The existence of Gending Ngantah Jero Kubayan also serves as a medium for learning the Balinese language through the transmission of oral traditions from the older generation to the younger generation, thereby ensuring the sustainability of both the Balinese language and culture.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29