DINAMIKA BUDAYA BATIK JAMBI SEBERANG DI KECAMATAN PELAYANGAN KOTA JAMBI PADA MASA REFORMASI (1998–2025): PELESTARIAN, INOVASI MOTIF, DAN EKONOMI KREATIF
Kata Kunci:
Batik Jambi Seberang, Dinamika Budaya, Masa Reformasi, Kecamatan Pelayangan, Ekonomi KreatifAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika budaya Batik Jambi Seberang pada masa Reformasi periode 1998–2025 dengan fokus kajian di Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Kajian ini penting karena Batik Jambi Seberang bukan hanya dipahami sebagai kain bermotif, melainkan sebagai ekspresi identitas Melayu Jambi, praktik ekonomi rumah tangga, serta ruang pewarisan nilai budaya masyarakat. Masa Reformasi membuka ruang desentralisasi, penguatan identitas lokal, dan pertumbuhan ekonomi kreatif yang memengaruhi cara masyarakat memproduksi, memasarkan, dan memaknai batik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap jurnal dan artikel ilmiah terbuka yang relevan dengan Batik Jambi, sentra batik Seberang Kota Jambi, pemasaran digital, pewarnaan alam, serta perilaku konsumen batik. Hasil kajian menunjukkan bahwa Batik Jambi Seberang mengalami dinamika dalam lima aspek utama, yaitu pelestarian tradisi membatik, inovasi motif dan warna, penguatan peran perempuan dan UMKM, perluasan pemasaran melalui teknologi digital, serta tantangan keberlanjutan lingkungan dan regenerasi perajin. Motif khas seperti Angso Duo, Durian Pecah, Kapal Sanggat, dan motif flora-fauna lokal tetap menjadi simbol budaya, tetapi mengalami penyesuaian desain agar sesuai dengan kebutuhan pasar modern. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Batik Jambi Seberang pada masa Reformasi merupakan budaya yang hidup, adaptif, dan berperan sebagai penghubung antara warisan lokal, identitas masyarakat, dan ekonomi kreatif daerah.
This study aims to describe the cultural dynamics of Jambi Seberang Batik during the Reform era, specifically in the 1998–2025 period, focusing on Pelayangan District, Jambi City. This topic is important because Jambi Seberang Batik is not merely a patterned cloth but also an expression of Malay Jambi identity, household-based economic practice, and a space for transmitting cultural values. The Reform era opened broader opportunities for decentralization, local identity strengthening, and creative economy development, influencing how people produce, market, and interpret batik. This research uses a descriptive qualitative method through a literature review of open-access scientific journals related to Jambi Batik, Seberang Jambi batik centers, digital marketing, natural dyeing, and batik consumer behavior. The findings indicate that Jambi Seberang Batik has experienced dynamics in five main aspects: preservation of batik traditions, innovation of motifs and colors, strengthening the role of women and MSMEs, expansion of marketing through digital technology, and challenges of environmental sustainability and artisan regeneration. Typical motifs such as Angso Duo, Durian Pecah, Kapal Sanggat, and local flora-fauna motifs continue to serve as cultural symbols while being adapted to meet modern market needs. The study concludes that Jambi Seberang Batik during the Reform era is a living and adaptive culture that connects local heritage, community identity, and the regional creative economy.




