PENILAIAN DALAM KURIKULUM MERDEKA DAN PEMBELAJARAN MENDALAM
Kata Kunci:
Penilaian Kurikulum Merdeka, Pebelajaran Mendalam, Asesmen Autentik, Kompetensi Peserta Didik, Pembelajaran Bahasa IndonesiaAbstrak
Penilaian dalam Kurikulum Merdeka merupakan komponen penting yang mendukung terciptanya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan berorientasi pada pengembangan kompetensi secara menyeluruh. Perubahan paradigma pendidikan menuntut sistem penilaian yang tidak hanya berfokus pada hasil belajar, tetapi juga mampu mendukung proses pembelajaran mendalam (deep learning) yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan pemecahan masalah. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep penilaian dalam Kurikulum Merdeka, prinsip dan karakteristiknya, jenis serta metode asesmen yang digunakan, implementasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, serta tantangan yang dihadapi dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis berbagai referensi ilmiah, dokumen kebijakan pendidikan, dan literatur yang relevan mengenai Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa penilaian dalam Kurikulum Merdeka dilaksanakan melalui asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif yang bersifat autentik, fleksibel, berkesinambungan, serta berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Implementasi penilaian tersebut mampu mendukung pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara terpadu. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa kesiapan guru, keterbatasan waktu, dan pemahaman peserta didik terhadap asesmen reflektif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi guru, dukungan institusi pendidikan, serta kolaborasi berbagai pihak agar sistem penilaian dapat mendukung pembelajaran yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Assessment in the Merdeka Curriculum is a crucial component that supports student-centered learning and promotes the holistic development of learners' competencies. The transformation of educational paradigms requires an assessment system that not only focuses on learning outcomes but also facilitates deep learning, which emphasizes critical thinking, creativity, reflection, and problem-solving skills. This article aims to describe the concept of assessment in the Merdeka Curriculum, its principles and characteristics, the types and methods of assessment employed, its implementation in Indonesian language learning, and the challenges encountered in its application. This study adopts a literature review method by examining scientific references, educational policy documents, and relevant literature related to the Merdeka Curriculum and deep learning. The findings reveal that assessment in the Merdeka Curriculum is conducted through diagnostic, formative, and summative assessments that are authentic, flexible, continuous, and responsive to students’ learning needs. These assessment practices support the integrated development of knowledge, skills, and attitudes. However, their implementation still faces challenges, including teachers’ readiness, time constraints, and students’ limited understanding of reflective assessment. Therefore, strengthening teachers’ assessment competencies, providing institutional support, and encouraging collaboration among educational stakeholders are essential to ensure that assessment effectively supports meaningful and sustainable learning




