DINAMIKA SIKLUS PERADABAN: ANALISIS KOMPARATIF PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DAN OSWALD SPENGLER
Kata Kunci:
Dinamika Peradaban, Ibnu Khaldun, Oswald Spengler, Asabiyyah, Zivilisation, Studi KepustakaanAbstrak
Diskursus mengenai dinamika peradaban manusia sering kali didominasi oleh perspektif linear-progresif Barat yang mengasumsikan kemajuan material tanpa batas, sambil mengabaikan krisis internal yang menyertainya. Artikel ini mengkaji ulang perspektif siklikal melalui dua pemikir besar dari tradisi yang kontras, yaitu Ibnu Khaldun (Timur/Islam, abad ke-14) dan Oswald Spengler (Barat/Modern, abad ke-20). Kajian sebelumnya umumnya membahas kedua tokoh secara terpisah atau membandingkannya secara superfisial tanpa menelaah akar determinisme filosofis masing-masing, sehingga terdapat celah penelitian yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi dan menganalisis secara komparatif struktur epistemologi siklus peradaban dalam Muqaddimah dan The Decline of the West. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan berpendekatan kualitatif-komparatif dan analisis isi, teks-teks primer dikodekan ke dalam matriks perbandingan konstan berdasarkan tiga aspek: ontologi/motor penggerak, epistemologi/tahapan siklus, dan aksiologi/implikasi bagi masa depan peradaban. Hasil penelitian menunjukkan adanya titik temu dalam penggunaan metafora organik peradaban yang dipandang lahir, mapan, menua, dan mati, serta kesepahaman bahwa keruntuhan dipicu oleh pembusukan internal, yaitu kemewahan material (israf) menurut Khaldun dan mekanisasi rasional (Zivilisation) menurut Spengler. Namun, ditemukan pula perbedaan mendasar: (1) Spengler menganut determinisme biologis-fatalistik yang memandang kematian peradaban bersifat mutlak, sedangkan Khaldun menawarkan determinisme religius-sosiologis berupa siklus spiral terbuka yang memungkinkan sirkulasi elit melalui asabiyyah baru; (2) motor penggerak Spengler bersifat metafisis (the soul), sedangkan motor penggerak Khaldun bersifat sosio-politik (asabiyyah dengan visi keagamaan). Perbedaan ini memisahkan pesimisme fatalistik Barat dari dinamisme historis Islam (sunnatullah), dan sintesis yang dihasilkan menawarkan kontribusi teoretis baru untuk membebaskan kajian peradaban dari bias Eurosentrisme.
The discourse on the dynamics of human civilization is often dominated by a Western, linear-progressive perspective that assumes limitless material advancement while neglecting the accompanying internal crises. This article re-examines the cyclical perspective through two major thinkers from contrasting traditions: Ibn Khaldun (fourteenth-century Eastern/Islamic) and Oswald Spengler (twentieth-century Western/modern). Previous studies generally address these figures separately or compare them superficially without exploring the philosophical determinism underlying each framework, resulting in a significant research gap. This study aims to reconstruct and comparatively analyze the epistemological structures of civilizational cycles in Khaldun's Muqaddimah and Spengler's The Decline of the West. Employing a library research method with a qualitative-comparative approach and content analysis, the primary texts were coded into a constant comparative matrix based on three aspects: ontology/driving force, epistemology/cycle stages, and axiology/implications for the future of civilization. The findings reveal convergence in the use of organic metaphors, with civilizations viewed as entities that are born, mature, age, and die, and a shared understanding that collapse is triggered by internal decay: material luxury (israf) for Khaldun and mechanical rationalization (Zivilisation) for Spengler. However, fundamental divergences are also identified: (1) Spengler adopts a fatalistic biological determinism in which civilizational death is absolute, whereas Khaldun offers a religious-sociological determinism in the form of an open spiral that allows for elite circulation through renewed asabiyyah; (2) Spengler's driving force is metaphysical (the Soul), while Khaldun's is socio-political (a religiously oriented asabiyyah). These differences distinguish Western fatalistic pessimism from the historical dynamism of Islam (sunnatullah), and the resulting synthesis provides a new theoretical contribution to liberate civilizational studies from Eurocentric bias.




