PENERAPAN TERAPI MUSIK DAN TERAPI OKUPASI MERONCE MANIK-MANIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT HALUSINASI PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJD DR. ARIF ZAINUDIN PROVINSI JAWA TENGAH
Kata Kunci:
Skizofrenia, Halusinasi Pendengaran, Terapi Musik, Terapi Okupasi MeronceAbstrak
Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang sering disertai halusinasi pendengaran dan berdampak pada fungsi sosial pasien. Penatalaksanaan tidak hanya menggunakan terapi farmakologi, tetapi juga dapat dilakukan dengan terapi non farmakologi seperti terapi musik dan terapi okupasi meronce untuk membantu mengontrol gejala halusinasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi terapi musik dan terapi okupasi meronce dalam menurunkan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan pre-test dan post-test pada dua responden di Bangsal Larasati RSJD Dr. Arif Zainudin Provinsi Jawa Tengah. Pengukuran dilakukan menggunakan skala AHRS selama tiga hari intervensi. Hasil: Hasil menunjukkan adanya penurunan skor halusinasi pada kedua responden dari kategori berat menjadi sedang. Skor responden pertama menurun dari 32 menjadi 18, sedangkan responden kedua dari 31 menjadi 15 setelah diberikan intervensi terapi. Kesimpulan: Kombinasi terapi musik dan terapi okupasi meronce efektif sebagai intervensi non farmakologis dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terapi pendukung dalam asuhan keperawatan jiwa.
Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder often accompanied by auditory hallucinations that affect patients’ social functioning. Management is not only pharmacological but can also include non-pharmacological therapies such as music therapy and beading occupational therapy to help control hallucination symptoms. Objective: This study aimed to determine the effectiveness of a combination of music therapy and beading occupational therapy in reducing auditory hallucination levels in patients with schizophrenia. Methods: This study used a descriptive case study design with a pre-test and post-test approach involving two respondents in the Larasati Ward of RSJD Dr. Arif Zainudin Central Java Province. Measurements were conducted using the AHRS scale over three days of intervention. Results: The results showed a decrease in hallucination scores in both respondents from severe to moderate categories. The first respondent’s score decreased from 32 to 18, while the second respondent’s score decreased from 31 to 15 after the intervention. Conclusion: The combination of music therapy and beading occupational therapy is effective as a non-pharmacological intervention in reducing auditory hallucination symptoms in patients with schizophrenia and can be used as a supportive therapy in psychiatric nursing care.




