Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm
id-IDJurnal Ilmiah Kajian MultidisiplinerTATANAN BARU MASYARAKAT DI SYIRIA PADA MASA PEMERINTAHAN UMAR BIN KHATTAB
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24888
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terbentuknya tatanan baru masyarakat di wilayah Syiria pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai sumber literatur yang berkaitan dengan sejarah pemerintahan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin. Sumber data diperoleh dari buku-buku sejarah Islam, artikel jurnal ilmiah, serta dokumen akademik yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintahan Umar bin Khattab berhasil membangun tatanan sosial, politik, dan administrasi yang lebih terstruktur di wilayah Syiria setelah wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Islam. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan antara lain pembentukan sistem administrasi pemerintahan, pengaturan perpajakan seperti jizyah dan kharaj, serta pemberian jaminan keamanan dan kebebasan beragama bagi masyarakat setempat. Selain itu, Umar bin Khattab juga menata sistem militer dan pemerintahan daerah guna menjaga stabilitas wilayah yang baru ditaklukkan. Kebijakan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap terciptanya stabilitas sosial dan integrasi masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok agama dan etnis. Dengan demikian, tatanan baru masyarakat di Syiria pada masa Umar bin Khattab menunjukkan keberhasilan sistem pemerintahan Islam dalam menciptakan keadilan, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat.</p> <p><em>This study aims to analyze the formation of a new social order in the region of Syria during the leadership of Caliph Umar ibn al-Khattab. This research employs a library research method by examining various literature sources related to the history of Islamic governance during the era of the Rightly Guided Caliphs. The data sources were obtained from books on Islamic history, scholarly journal articles, and other relevant academic documents related to the research topic. The results of the study indicate that the administration of Umar ibn al-Khattab successfully established a more structured social, political, and administrative order in Syria after the region came under Islamic rule. Several policies were implemented, including the establishment of an administrative governance system, regulation of taxation such as jizyah and kharaj, and the provision of security and religious freedom for the local population. In addition, Umar ibn al-Khattab also organized military and regional governance systems to maintain stability in the newly conquered territories. These policies significantly contributed to the creation of social stability and the integration of diverse religious and ethnic communities. Therefore, the new social order established in Syria during the reign of Umar ibn al-Khattab demonstrates the effectiveness of Islamic governance in promoting justice, order, and social welfare. </em></p>Muhammad Ihsanul HasaniEllya RozaWaldi Saputra
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108KAPASITAS PEMERINTAH DESA DALAM PENGEMBANGAN POTENSI WISATA BUDAYA KAMPUNG ADAT WARU WORA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24818
<p>Pengembangan wisata budaya menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah desa untuk mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya lokal. Kampung Adat Waru Wora di Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat memiliki potensi budaya yang cukup besar, tetapi pengelolaannya sebagai destinasi wisata belum berjalan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas Pemerintah Desa Patiala Bawa dalam mengembangkan potensi wisata budaya Kampung Adat Waru Wora serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas pemerintah desa tergolong cukup baik, ditandai dengan penerapan tata kelola yang partisipatif, keterlibatan masyarakat dan lembaga adat dalam perencanaan, serta terjalinnya kerja sama dengan pemerintah daerah. Namun, pengelolaan wisata budaya masih menghadapi beberapa kendala, antara lain belum adanya regulasi khusus, belum terbentuknya kelembagaan pengelola wisata, keterbatasan kompetensi aparatur, minimnya pelatihan, keterbatasan anggaran, dan kemitraan yang belum optimal. Di sisi lain, dukungan masyarakat adat, keaslian budaya, potensi lingkungan, dan dukungan pemerintah daerah menjadi faktor utama yang mendukung pengembangan wisata budaya. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan kemitraan perlu menjadi prioritas untuk mewujudkan pengelolaan wisata budaya yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>Ferdianto Tamo AmaMaximianus Ardon Bidi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108CITRA KOTA BUKITTINGGI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25235
<p>Bukittinggi merupakan kota wisata di Sumatera Barat yang memiliki potensi kuat dalam membentuk citra kota melalui kekayaan alam, sejarah, dan budaya, termasuk objek wisata ikonik seperti Jam Gadang dan Ngarai Sianok. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis citra Kota Bukittinggi berdasarkan teori pembentuk citra kota Kevin Lynch (1960) yang terdiri atas lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan analisis fisik-morfologi kawasan dengan analisis persepsi masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, wawancara, dan kuesioner terhadap 100 responden yang dipilih secara accidental sampling, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan deskriptif-kuantitatif sebelum ditriangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra Kota Bukittinggi terbentuk melalui struktur monosentris yang bertumpu pada kawasan Jam Gadang sebagai node dan landmark utama, diperkuat oleh Ngarai Sianok sebagai edge alami yang sangat kuat. Namun, analisis kesesuaian (GAP) antara kondisi fisik dan persepsi masyarakat memperlihatkan kerentanan pada elemen node (gap -1,26) dan landmark (gap -0,78), sementara elemen path dan district secara konsisten teridentifikasi lemah sehingga membatasi distribusi citra kota ke luar kawasan inti. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan rekomendasi operasional berupa penguatan koridor jalan, penegasan edge alami, re-branding node, penataan visual landmark, dan penegasan identitas kawasan guna memperkuat citra Kota Bukittinggi secara menyeluruh.</p> <p><em>Bukittinggi is a tourism city in West Sumatra with strong potential to form a distinctive city image through its natural richness, history, and culture, including iconic attractions such as Jam Gadang and Ngarai Sianok. This study aims to identify and analyze the image of Bukittinggi City based on Kevin Lynch's (1960) city image theory, which consists of five elements: path, edge, district, node, and landmark. A mixed-methods approach was employed, combining physical-morphological analysis with an analysis of community perception. Data were collected through field observation, visual documentation, interviews, and a questionnaire administered to 100 respondents selected through accidental sampling, then analyzed descriptively-qualitatively and descriptively-quantitatively before being triangulated. The results show that the image of Bukittinggi City is formed through a monocentric structure centered on the Jam Gadang area as the main node and landmark, reinforced by Ngarai Sianok as a strong natural edge. However, a gap analysis between physical conditions and public perception reveals vulnerability in the node (gap -1.26) and landmark (gap -0.78) elements, while the path and district elements are consistently identified as weak, thereby limiting the distribution of the city's image beyond its core area. Based on these findings, this study formulates operational recommendations comprising the strengthening of main corridors, the reinforcement of the natural edge, the re-branding of the primary node, the visual arrangement of landmarks, and the reinforcement of district identity to strengthen the overall image of Bukittinggi City</em></p>Muhammad Izzulhaq AkbarRinaldi MirsaSisca Olivia
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH PEMBERIAN BIOCHAR DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI LAHAN KERING
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24874
<p>Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting, namun produktivitasnya pada lahan kering masih menghadapi kendala berupa keterbatasan ketersediaan air dan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober–Desember 2025 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Kelurahan Batuplat, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah biochar yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 3, 5, dan 7 ton/ha, sedangkan faktor kedua adalah pupuk kandang sapi yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 10, 15, dan 20 ton/ha. Terdapat sembilan kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi biochar dan pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat umbi, dan berat basah brangkasan bawang merah. Perlakuan terbaik diperoleh pada kombinasi biochar 7 ton/ha dan pupuk kandang sapi 20 ton/ha (B3PK3), dengan tinggi tanaman 33,467 cm, jumlah daun 23 helai, berat umbi 43,51 g, dan berat basah brangkasan 64,84 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biochar dan pupuk kandang dapat mendukung pertumbuhan dan produksi bawang merah pada lahan kering.</p> <p><em>Shallot (Allium ascalonicum L.) is an important horticultural commodity with high economic value; however, its productivity in dryland areas is constrained by limited water availability and low nutrient availability. This study aimed to determine the effects of biochar and manure application on the growth and production of shallot and to identify the best treatment combination. The research was conducted from October to December 2025 at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Batuplat Village, Kota Raja District, Kupang City. The study used a factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of two factors. The first factor was biochar application at three levels, namely 3, 5, and 7 tons/ha, while the second factor was cow manure application at three levels, namely 10, 15, and 20 tons/ha. The treatment combinations were replicated three times. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's Multiple Range Test at the 5% significance level. The results showed that the combination of biochar and cow manure had a highly significant effect on plant height, number of leaves, bulb weight, and fresh biomass weight of shallot. The best treatment was obtained from the combination of 7 tons/ha biochar and 20 tons/ha cow manure (B3PK3), which resulted in a plant height of 33.467 cm, 23 leaves, bulb weight of 43.51 g, and fresh biomass weight of 64.84 g. These results indicate that the combination of biochar and cow manure can support the growth and production of shallot under dryland conditions.</em></p> <p> </p>Agustinus NenobahanHenny A. RagaJoritha NaisanuUly J.Riwu KahoAstrid A. NdunDarmanto F. Kisse
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH PROMO GRATIS ONGKIR DAN POTONGAN HARGA TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF PADA PENGGUNA SHOPEE DI KABUPATEN TANGERANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24938
<p>Maraknya program bebas biaya kirim dan potongan harga di platform belanja daring dipercaya turut mendorong konsumen berbelanja tanpa perencanaan matang. Berangkat dari fenomena itu, riset ini disusun untuk mengukur seberapa jauh peran Gratis Ongkir (X1) dan Potongan Harga (X2) baik masing-masing maupun bersamasama dalam membentuk Pembelian Impulsif (Y) di kalangan pengguna Shopee wilayah Kabupaten Tangerang. Pendekatan kuantitatif diterapkan melalui penyebaran kuesioner kepada 100 orang responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Tahapan pengolahan data mencakup pengujian validitas, pengujian reliabilitas, pengujian asumsi klasik, hingga regresi linear berganda, seluruhnya diproses melalui SPSS versi 24. Temuan menunjukkan seluruh butir instrumen dinyatakan valid sekaligus reliabel. Pada tahap pengujian hipotesis, terungkap bahwa Gratis Ongkir memberi dampak positif dan signifikan atas Pembelian Impulsif (nilai t sebesar 5,266, melampaui t tabel 1,98498 signifikansi 0,000) Potongan Harga pun demikian, memberi dampak positif dan signifikan (nilai t sebesar 3,737, melampaui t tabel 1,98498 signifikansi 0,000). Ketika diuji bersamaan, kedua variabel tersebut terbukti berdampak positif dan signifikan terhadap Pembelian Impulsif (nilai F sebesar 158,104, melampaui F tabel 3,09 signifikansi 0,000), dengan daya jelas (Adjusted R²) mencapai 76,0%. Perbandingan besaran pengaruh memperlihatkan Gratis Ongkir lebih unggul ketimbang Potongan Harga. Temuan riset ini kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku usaha ecommerce terutama Shopee dan para penjualnya dalam merancang strategi gratis ongkir maupun potongan harga agar lebih tepat sasaran.</p> <p><em>The growing use of freeshipping incentives and pricecut promotions on online shopping platforms is widely believed to push consumers toward unplanned purchases. Building on this phenomenon, the present study sets out to measure how far Free Shipping (X1) and Price Discounts (X2) individually and jointly shape Impulsive Buying (Y) among Shopee users in Tangerang Regency. A quantitative design was applied, gathering responses from 100 participants selected through purposive sampling. Data processing covered validity checks, reliability checks, classical assumption testing, and multiple linear regression, all carried out in SPSS version 24. Findings confirm that every instrument item qualifies as both valid and reliable. Hypothesis testing revealed that Free Shipping exerts a positive, significant effect on Impulsive Buying (t = 5.266, exceeding the ttable value of 1.98498 sig. = 0.000) likewise, Price Discounts produce a positive, significant effect (t = 3.737, exceeding the table value of 1.98498 sig. = 0.000). Tested jointly, the two variables were shown to significantly and positively affect Impulsive Buying (F = 158.104, exceeding the Ftable value of 3.09 sig. = 0.000), explaining 76.0% of the variance (Adjusted R²). Comparing the magnitude of influence, Free Shipping proved more dominant than Price Discounts. These findings may serve as a reference for ecommerce operators particularly Shopee and its merchants in designing freeshipping and discount strategies that are better targeted.</em></p>Risma Robnul ChasanahSudaryonoSugina
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108KAJIAN TEORI SEMIOTIKA MENURUT FERDINAND DE SAUSSURE, CHARLES SANDERS PEIRCE, ROLAND BARTHES, UMBERTO ECO, DAN CHARLES JENCKS DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24836
<p>Semiotika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tanda, makna, serta proses pembentukan makna dalam kehidupan sosial dan budaya. Berbagai tokoh telah mengembangkan teori semiotika dengan pendekatan yang berbeda sesuai dengan latar belakang keilmuan masing-masing. Artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif teori semiotika menurut Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roland Barthes, Umberto Eco, dan Charles Jencks. Penelitian menggunakan metode content analysis studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Saussure (1916) memandang tanda sebagai hubungan antara penanda dan petanda, sedangkan Peirce (1931-1958) mengembangkan model triadik yang terdiri atas representamen, objek, dan interpretan. Barthes (1972) memperluas konsep semiotika melalui denotasi, konotasi, dan mitos. Eco (1976) memandang semiotika sebagai teori komunikasi budaya yang sangat kompleks melalui proses interpretasi tanpa batas (unlimited semiosis). Jencks (1977) menerapkan semiotika dalam bidang arsitektur melalui konsep double coding dan pluralisme makna. Kelima teori memiliki kesamaan dalam memandang tanda sebagai pembentuk makna, tetapi berbeda dalam struktur analisis, pendekatan epistemologis, dan ruang lingkup penerapan.</p> <p><em>Semiotics is a discipline that studies signs, meaning, and the processes through which meaning is constructed in social and cultural life. Various scholars have developed semiotic theories from different perspectives based on their respective academic backgrounds. This article aims to provide a comprehensive review of the semiotic theories proposed by Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roland Barthes, Umberto Eco, and Charles Jencks. The study employs a library research method with a descriptive-comparative approach. The findings reveal that Saussure conceptualizes the sign as the relationship between the signifier and the signified, while Peirce develops a triadic model consisting of the representamen, object, and interpretant. Barthes expands semiotic theory through the concepts of denotation, connotation, and myth. Eco views semiotics as a theory of cultural communication characterized by the process of unlimited semiosis. Jencks applies semiotic principles to architecture through the concepts of double coding and the plurality of meaning. Although all five theories share the view that signs function as the basis for meaning-making, they differ in their analytical structures, epistemological approaches, and scopes of application.</em></p>Ristia NatashrahSoraya Masthura HassanHendra Aiyub
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH PROMOSI DIGITAL DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN LAPTOP ASUS PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS TJUT NYAK DHIEN
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25573
<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Promosi Digital dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Laptop Asus pada Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Tjut Nyak Dhien. Penelitian ini dilakukan di Universitas Tjut Nyak Dhien Alamat: Gg. Rasmi No.28, Sei Sikambing C. II, Kec. Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara. Populasi dijadikan objek dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Pemilihan sampel yang dilakukan adalah dengan menggunakan menggunakan metode non-probability dengan teknik purposive sampling sehingga sambel berjumlah 81 mahasiswa. Metode analisis data menggunakan uji analisis data, regresi linier berganda, asumsi klasik, uji hipotesis dan uji koefisien determinasi. Hasil uji t variabel promosi digital memiliki nilai thitung 3,685>ttabel 1,990 dan nilai signifikan 0,000<0,05 menunjukan bahwa promosi digital berpengaruh positif signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian. Hasil uji t variabel citra merek memiliki nilai thitung 4,092>ttabel 1,990 dan nilai signifikan 0,000<0,05 menunjukan bahwa citra merek berpengaruh positif signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian Laptop Asus Pada Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Tjut Nyak Dhien.. Hasil uji f menunjukkan bahwa promosi digital dan citra merek berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap Keputusan Pembelian, hal ini dapat dilihat bahwa promosi digital dan citra merek memiliki nilai signifikansi 0,000 yang berarti nilai ini lebih kecil dari 0,05 dan fhitung 41,866 fttabel 3,09. </p> <p><em>The purpose of this study was to determine the effect of digital promotion and brand image on purchasing decisions for Asus laptops among Management students at Tjut Nyak Dhien University. This research was conducted at Tjut Nyak Dhien University, address: Gg. Rasmi No. 28, Sei Sikambing C. II, Medan Helvetia District, Medan City, North Sumatra. The population used in this study was all students of the Faculty of Economics and Business. The sample selection was carried out using a non-probability method with a purposive sampling technique, resulting in a sample of 81 students. Data analysis methods used data analysis, multiple linear regression, classical assumptions, hypothesis testing, and coefficient of determination tests. The t-test results of the digital promotion variable have a t-value of 3.685> t-table 1.990 and a significant value of 0.000<0.05 indicating that digital promotion has a partially significant positive effect on purchasing decisions. The t-test results of the brand image variable have a t-value of 4.092> t-table 1.990 and a significant value of 0.000<0.05 indicating that brand image has a partially significant positive effect on purchasing decisions for Asus Laptops in Management Study Program Students at Tjut Nyak Dhien University. The f-test results show that digital promotion and brand image have a positive and significant effect simultaneously on Purchasing Decisions, this can be seen that digital promotion and brand image have a significance value of 0.000 which means this value is smaller than 0.05 and f-value of 41.866 ft-table 3.09.</em></p>Titi Kasih Kristina HalawaMella YunitaAmirudin
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH CITRA STADION BENTENG REBORN TERHADAP MINAT BEROLAHRAGA PENGGUNA STADION DI KOTA TANGERANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24923
<p>Revitalisasi Stadion Benteng <em>Reborn </em> di Kota Tangerang menjadikan stadion tidak hanya sebagai tempat pertandingan sepak bola, tetapi juga sebagai ruang olahraga publik yang berpotensi membentuk citra positif dan meningkatkan minat masyarakat untuk berolahraga. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh serta mengetahui besarnya pengaruh citra Stadion Benteng <em>Reborn </em> terhadap minat berolahraga pengguna stadion di Kota Tangerang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan jenis penelitian asosiatif kausal. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan diolah menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, regresi linear sederhana, uji t, dan uji koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra Stadion Benteng <em>Reborn </em> berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berolahraga pengguna stadion, dibuktikan oleh nilai t hitung sebesar 8,933 yang lebih besar daripada t tabel sebesar 1,984 serta nilai koefisien determinasi sebesar 0,449. Citra Stadion Benteng <em>Reborn </em> memberikan kontribusi sebesar 44,9% terhadap minat berolahraga pengguna stadion, sedangkan 55,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.</p> <p><em>The revitalization of Benteng Reborn Stadium in Tangerang City has transformed the stadium from a football venue into a public sports space with the potential to create a positive image and increase people's interest in exercising. This study aimed to examine the effect and determine the magnitude of the effect of the image of Benteng Reborn Stadium on the interest in exercising among stadium users in Tangerang City. This research employed a quantitative approach using a survey method with a causal associative design. The sample consisted of 100 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using validity and reliability tests, classical assumption tests, simple linear regression, the t-test, and the coefficient of determination. The results showed that the image of Benteng Reborn Stadium had a positive and significant effect on users' interest in exercising, with a calculated t-value of 8.933, which was higher than the critical t-value of 1.984. The coefficient of determination (R²) of 0.449 indicates that the stadium's image contributed 44.9% to users' interest in exercising, while the remaining 55.1% was influenced by other factors outside the scope of this study.</em></p>Fitri AminartiRini HardiyantiAde Irfan Abdurahman
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108KOMUNIKASI PARTISIPATIF SISWA DALAM PENERAPAN NILAI-NILAI ADIWIYATA MELALUI PENGELOLAAN SAMPAH DI SEKOLAH DASAR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24823
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan nilai-nilai Adiwiyata dalam pengelolaan sampah dan menganalisis proses komunikasi partisipatif siswa pada sebuah sekolah dasar berstatus Sekolah Adiwiyata Nasional di Kabupaten Tangerang, Banten. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dalam kerangka Participatory Action Research (PAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai peduli lingkungan, tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama telah terinternalisasi dalam perilaku siswa melalui mekanisme pembiasaan harian yang konsisten. Proses komunikasi partisipatif berlangsung pada keempat tahap siklus PAR dengan kedalaman yang bervariasi: partisipasi siswa paling kuat pada tahap tindakan, sedangkan tahap perencanaan masih cenderung diarahkan oleh guru. Temuan khas penelitian ini adalah munculnya refleksi horizontal antarsiswa yang mengindikasikan tumbuhnya kesadaran kritis kolektif secara organik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi partisipatif berbasis PAR efektif menjadi mekanisme yang menjembatani program Adiwiyata dengan perubahan perilaku siswa yang berkelanjutan, sekaligus menegaskan perlunya penguatan pada tahap perencanaan dan observasi.</p> <p><em>This study aims to describe the implementation of Adiwiyata values in waste management and to analyze the process of students’ participatory communication at a nationally recognized Adiwiyata elementary school in Tangerang Regency, Banten. A qualitative case study approach grounded in the constructivist paradigm was employed. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive model within the framework of Participatory Action Research (PAR). The findings show that environmental care, responsibility, discipline, and cooperation have been internalized into students’ daily behavior through consistent habituation practices. Participatory communication occurred across all four stages of the PAR cycle with varying depth: student participation was strongest at the acting stage, while the planning stage remained largely teacher-directed. A distinctive finding is the emergence of horizontal reflection among students, indicating an organically developing collective critical consciousness. The study concludes that PAR-based participatory communication functions effectively as a mechanism bridging the Adiwiyata program with sustained behavioral change, while also pointing to the need to strengthen the planning and observing stages.</em></p>Putri RamadantiEen IriantiMad Yoman
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SQUAT JUMP DAN SINGLE LEG DEADLIFT TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI PADA PEMAIN BOLA VOLI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25468
<p>Power otot tungkai merupakan komponen fisik penting dalam permainan bola voli karena mendukung kemampuan melakukan gerakan eksplosif seperti smash, jump serve, dan block yang memerlukan lompatan tinggi serta kekuatan yang optimal. Kurangnya power otot tungkai dapat memengaruhi performa pemain, sehingga diperlukan latihan yang tepat, seperti Squat Jump dan Single Leg Deadlift. Metode: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh latihan Squat Jump dan Single Leg Deadlift terhadap peningkatan power otot tungkai serta membandingkan efektivitas keduanya pada pemain Club voli Yuso Sleman. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest two group design pada 16 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 8 orang. Intervensi diberikan selama 4 minggu dan pengukuran dilakukan menggunakan Vertical Jump test dengan analisis paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan Squat Jump dan Single Leg Deadlift sama-sama memberikan peningkatan signifikan terhadap power otot tungkai dengan nilai p=0,001 (p<0,05), sedangkan perbandingan kedua kelompok menunjukkan nilai p=0,082 (p>0,05). Simpulan: Kedua metode latihan memiliki pengaruh yang signifikan dan efektivitas yang sama dalam meningkatkan power otot tungkai pemain bola voli.</p> <p><em>Introduction: Leg muscle power is a crucial physical component in volleyball, as it supports the ability to execute explosive movements such as smashes, jump serves, and blocks that require high jumps and optimal strength. Insufficient leg muscle power can impair a player's performance; therefore, appropriate training, such as Squat Jumps and Single-Leg Deadlifts, is essential. Method: This study aimed to determine the effects of Squat Jump and Single Leg Deadlift exercises on improving leg muscle power and to compare the effectiveness of both methods among players from the Yuso Sleman volleyball club. A quasi-experimental design with a pretest-posttest two-group approach was employed, involving 16 respondents divided into two groups of eight. The intervention lasted four weeks, and measurements were taken using the Vertical Jump test, with data analyzed via paired-sample t-tests and independent-sample t-tests. Result: The study results indicate that both Squat Jump and Single Leg Deadlift exercises yielded significant improvements in leg muscle power (p=0.001; p<0.05), whereas the comparison between the two groups showed a p-value of 0.082 (p>0.05). Conclusion: Both training methods have a significant impact and equal effectiveness in improving the leg muscle power of volleyball players. </em></p>Daffa Muchtar KhrisyanaTyas Sari Ratna NingrumMoh. Ali Imron
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENERAPAN PEMAKAIAN HYDROGEL PADA PROSES AUTOLYSIS LUKA KAKI DIABETIKUM DI WOUNDCARE RUMAH RARA
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24891
<p>Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah luka kaki diabetikum yang berisiko menyebabkan amputasi hingga kematian. Perawatan luka berperan penting dalam mencegah komplikasi. Namun, di Indonesia masih banyak digunakan teknik konvensional yang dapat memperlambat penyembuhan, sehingga dikembangkan teknik modern dressing menggunakan hydrogel untuk mempercepat proses autolysis dan penyembuhan luka. Tujuan: Mendeskripsikan hasil sebelum dan sesudah penerapan hydrogel terhadap proses autolysis luka kaki diabetikum di Woundcare Rumah Rara. Metode: Penelitian menggunakan studi kasus deskriptif pada dua responden dengan luka kaki diabetikum. Hydrogel diterapkan selama 14 hari dengan penggantian balutan tiga kali per minggu selama 30 menit setiap kunjungan. Hasil: Terjadi penurunan skor BWAT pada kedua responden. Skor Tn. J menurun dari 45 menjadi 29, sedangkan Tn. T dari 48 menjadi 42, dengan penurunan sebesar 6–16 poin. Kesimpulan: Penerapan hydrogel efektif mendukung proses autolysis, mempercepat penyembuhan luka kaki diabetikum, dibuktikan dengan penurunan skor BWAT serta masuknya luka ke fase wound regeneration.</p> <p><em>Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease with a steadily rising global prevalence. A frequent complication is the diabetic foot ulcer, which carries a risk of amputation or even death. Wound care plays a crucial role in preventing complications. However, conventional techniques which can delay healing remain widely used in Indonesia; consequently, modern dressing techniques utilizing hydrogel have been developed to accelerate autolysis and wound healing. Objective: To describe the outcomes before and after hydrogel application regarding the autolysis process of diabetic foot ulcers at Woundcare Rumah Rara. Methods: This study employed a descriptive case study design involving two respondents with diabetic foot ulcers. Hydrogel was applied over a 14-day period, with dressing changes performed three times weekly during 30-minute sessions. Results: A reduction in BWAT scores was observed in both respondents. Mr. J’s score decreased from 45 to 29, while Mr. T’s score dropped from 48 to 42, representing a reduction of 6–16 points. Conclusion: Hydrogel application effectively supports autolysis and accelerates diabetic foot ulcer healing, as evidenced by the decrease in BWAT scores and the progression of the wounds into the regeneration phase.</em></p>Pramai Shela Khaililla ChandraHermawati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108HUBUNGAN PERILAKU KONSUMSI NUTRISI DENGAN STATUS ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH PUSKESMAS KENCONG JEMBER
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24819
<p>Pendahuluan: Anemia pada ibu hamil masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Salah satu faktor yang berperan dalam kejadian anemia adalah perilaku konsumsi nutrisi, meliputi pemenuhan asupan makanan bergizi, konsumsi tablet Fe, serta kebiasaan yang memengaruhi penyerapan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku konsumsi nutrisi dengan status anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 134 ibu hamil, dengan sampel sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Perilaku konsumsi nutrisi diukur menggunakan kuesioner, sedangkan status anemia diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) yang tercatat pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku konsumsi nutrisi patuh sebanyak 68 responden (68,0%) dan tidak mengalami anemia sebanyak 64 responden (64,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku konsumsi nutrisi dengan status anemia pada ibu hamil (p-value = 0,045). Diskusi: Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku konsumsi nutrisi dengan status anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. Ibu hamil dengan perilaku konsumsi nutrisi yang patuh cenderung memiliki status hemoglobin yang normal dibandingkan ibu hamil dengan perilaku konsumsi nutrisi yang tidak patuh.</p> <p><em>Background: Anemia among pregnant women remains a major public health problem that increases the risk of complications during pregnancy and childbirth. One of the factors associated with anemia is nutritional consumption behavior, including adequate intake of nutritious foods, adherence to iron (Fe) tablet supplementation, and dietary habits that influence iron absorption. This study aimed to analyze the relationship between nutritional consumption behavior and anemia status among pregnant women in the working area of the Kencong Public Health Center, Jember Regency. Methods: This study employed a quantitative research design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 134 pregnant women, with a sample of 100 respondents selected using a purposive sampling technique. Nutritional consumption behavior was measured using a structured questionnaire, while anemia status was determined based on hemoglobin (Hb) examination results recorded in the Maternal and Child Health (MCH) Handbook. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: The findings revealed that the majority of respondents demonstrated good nutritional consumption behavior (68.0%) and were not anemic (64.0%). The Chi-Square test showed a significant relationship between nutritional consumption behavior and anemia status among pregnant women (p = 0.045). Discussion: There was a significant relationship between nutritional consumption behavior and anemia status among pregnant women in the working area of the Kencong Public Health Center, Jember Regency. Pregnant women who demonstrated good nutritional consumption behavior were more likely to have normal hemoglobin status than those with poor nutritional consumption behavior. </em></p>Malika Dwi HermawatiAwatiful AzzaDwi Yunita Hariyanti
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108ADAB GURU DAN MURID MENURUT IMAM NAWAWI DALAM KITAB A ̅DA ̅BUL ‘A ̅LIM WAL MUTA’ALLIM
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25282
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena penurunan nilai-nilai adab dan moral di lingkungan pendidikan, seperti kasus kekerasan terhadap pendidik dan tindakan tidak bermoral di kalangan peserta didik. Fenomena ini menunjukkan terjadinya pergeseran hubungan antara guru dan murid yang seharusnya dibangun atas dasar penghormatan dan keteladanan. Sebagai solusi normatif, pemikiran ulama klasik seperti Imam Nawawi dalam kitab A ̅da ̅bul ‘A ̅lim wal Muta’allim sangat relevan untuk dikaji kembali.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam bagaimana adab guru dan adab murid menurut Imam Nawawi dalam kitab tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab A ̅da ̅bul ‘A ̅lim wal Muta’allim wa Ahkamul Ifta ̅’ karya Imam Nawawi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi terhadap naskah-naskah terkait. Analisis data menggunakan metode analisis isi (content analysis) yang dilakukan secara sistematis untuk menggali makna dan pesan dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep adab menurut Imam Nawawi menempatkan kemuliaan akhlak dan keikhlasan spiritual di atas kecerdasan intelektual. Pertama, adab guru mencakup tiga dimensi: adab personal (menjaga keikhlasan niat karena Allah dan menjauhi sifat tercela), adab dalam belajar (konsisten menuntut ilmu, rajin meneliti, dan menulis), serta adab dalam mengajar (bersikap sabar, penyayang, menggunakan metode bertahap, dan memotivasi murid). Kedua, adab murid berpusat pada penyucian hati, kesungguhan, kesabaran, kepatuhan, serta penghormatan yang tinggi kepada guru, di samping kewajiban mengamalkan dan membagikan ilmu yang diperoleh. Hubungan yang sinergis antara kedua komponen ini menjadi fondasi utama dalam melahirkan sistem pendidikan modern yang berakhlak mulia, bermartabat, dan bernilai Islami</p> <p><em>This research is motivated by the phenomenon of declining moral and ethical values in educational settings, such as cases of violence against educators and immoral behavior among students. This phenomenon indicates a shift in the relationship between teachers and students, which should be built on respect and role models. As a normative solution, the thoughts of classical scholars such as Imam Nawawi in his book, A ̅da ̅bul ‘A ̅lim wal Muta'allim, are highly relevant to reexamine.This research aims to in-depth understand the ethical values of teachers and students according to Imam Nawawi in the book. This study is a library research study with a qualitative approach. The primary data source used is Imam Nawawi's book, A ̅da ̅bul ‘A ̅lim wal Muta'allim wa Ahkamul Ifta ̅. Data collection was conducted through documentation of related manuscripts. Data analysis employed a systematic content analysis method to explore the meaning and messages within the texts.The results of the study indicate that Imam Nawawi's concept of adab places moral nobility and spiritual sincerity above intellectual intelligence. First, teacher etiquette encompasses three dimensions: personal etiquette (maintaining sincerity of intention for the sake of Allah and avoiding reprehensible traits), etiquette in learning (consistently seeking knowledge, diligently researching, and writing), and etiquette in teaching (being patient, compassionate, using gradual methods, and motivating students). Second, student etiquette centers on purification of the heart, sincerity, patience, obedience, and high respect for the teacher, in addition to the obligation to practice and share the knowledge gained. The synergistic relationship between these two components is the main foundation in giving birth to a modern education system that is noble, dignified, and Islamic in value</em></p>Sahal HusnaAbdul Rohman Hadi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108THE EFFECT OF WORKLOAD, WORK ENVIRONMENT, AND WORK-LIFE BALANCE ON THE JOB SATISFACTION OF GENERATION Z EMPLOYEES
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24877
<p><em>This study examines the effect of workload, work environment, and work-life balance on the job satisfaction of Generation Z employees. Grounded in the Job Demands–Resources framework, workload is deliberately positioned as a hindrance demand predicted to reduce job satisfaction, so that the direction of the relationship is committed to before analysis. A survey of 105 Generation Z employees selected through purposive sampling was analysed using PLS-SEM with SmartPLS 4. The measurement model satisfied all convergent validity, discriminant validity, and construct reliability criteria, and the structural model yielded an R-square of 0.357. Contrary to prediction, workload had a positive and significant effect on job satisfaction; because the direction opposes the hypothesis, the first hypothesis is rejected rather than reinterpreted. Work environment and work-life balance had positive but non-significant effects, so the second and third hypotheses are also rejected. The findings indicate that workload operates as a challenge demand rather than a hindrance demand in this sample, while work-life balance behaves as a hygiene factor whose fulfilment does not automatically raise satisfaction. The challenge–hindrance classification therefore requires generational calibration.</em></p>Aisyah Safitri MuhamadinaLita Vina MaharaniNisa'ul HasanahAngga Prayogi Brilyanto
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENERAPAN TERAPI MUROTTAL SURAH AR-RAHMAN TERHADAP STATUS HEMODINAMIK PADA PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24942
<p>Latar Belakang :Pasien kritis di Intensive Care Unit (ICU) sering mengalami ketidakstabilan hemodinamik, seperti fluktuasi tekanan darah, nadi, respiraasi, saturasi oksigen, dan suhu tubuh, yang dapat mengancam jiwa. Terapi farmakologis seperti pemberian obat-obatan epineprin, noradrenalin, dopamine dll, sehingga terapi non-farmakologis seperti murottal Al-Qur’an diusulkan sebagai pelengkap untuk mengurangi stres, mengaktifkan endorphin, dan menstabilkan parameter vital melalui relaksasi. Metode Penerapan :penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kasus pada dua pasien muslim di ICU RSUD Pandan Arang Boyolali, dilakukan selama tiga hari berturut-turut mulai 13 febuari 2026. Terapi murottal surah Ar-Rahman (lantunan Muzammil Hasballah) diputar via handphone selama 16 menit , dengan pengukuran tanda vital sebelum dan sesudah terapi murrottal Al-Qur’an Surat Ar-Rahaman menggunakan bedside monitor. Hasil :sebelum terapi, pasien Tn.B : TD 116/48 mmHg, Sdr.M TD 173/87 mmHg. Sesudah terapi harian, terjadi perbaikan progresif : pada hari ketiga, Tn.B mencapai TD 121/54 mmHg, Sdr.M : TD 129/69 mmHg. Kesimpulan :penerapan terapi murottal surat Ar-Rahman efektif menstabilkan status hemodinamik pasien ICU, dengan penurunan tekanan darah dan normalisasi parameter vital lainnya.</p> <p><em>Background: Critically patints in the intensive care unit (ICU) frequebtly experience hemodynamic instability, manifested as fluctuations in blood pressure, pulse, respiration, oxygen saturation, and body temperature, which can pose life-threatening risks. While pharmacological therapies such as epinephrine, norepinephrine, dopamine, and others are commonly administered, non-pharmacological interventions like Quran murottal therapy have been proposed as adjuncts to reduce stress, activate endorphins, and stabilize vital parameters through relaxation. Methods: This descriptive qualitative study employed a case study design involving two Muslim patients in the ICU of Pandan Arang Hospital, Boyolali, conducted over three consecutive days starting February 13, 2026. Murottal recitation of Surah Ar-Rahman (performed by Muzammil Hasballah) was played via mobile phone for 16 minutes per session. Vital signs were measured before and after each session using a bedside monitor. Results: Pre-therapy baseline readings were as follows: Patient Mr. B had blood pressure (BP) of 160/80 mmHg; Patient Ms. M had BP of 173/87 mmHg. Daily therapy led to progressive improvements, with third-day post-therapy readings showing Mr. B at 121/54 mmHg and Ms. M at 129/69 mmHg. Conclusion: Implementation of murottal therapy using Surah Ar-Rahman effectively stabilized hemodynamic status in ICU patients, evidenced by reduced blood pressure and normalization of other vital parameters</em></p>Eliya RahmawatiRahmah Yanita Kusuma
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH PRODUKTIVITAS KERJA DAN PENGEMBANGAN USAHA TERHADAP PENDAPATAN PADA PENJAHIT YALAN DI KELURAHAN AIRNONA KECAMATAN KOTA RAJA KOTA KUPANG
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24871
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh produktivitas kerja dan pengembangan usaha terhadap pendapatan pada Penjahit Yalan di Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja pada usaha Penjahit Yalan, dengan jumlah sampel sebanyak 3 orang yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial produktivitas kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan dengan arah negatif, dengan nilai t-hitung sebesar -9,745 dan signifikansi <0,001. Sementara itu, pengembangan usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan dengan arah positif, dengan nilai t-hitung sebesar 8,097 dan signifikansi <0,001. Secara simultan, produktivitas kerja dan pengembangan usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, yang ditunjukkan oleh nilai F-hitung sebesar 74,357 dengan signifikansi <0,001. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,955 menunjukkan bahwa 95,5% variasi pendapatan dapat dijelaskan oleh produktivitas kerja dan pengembangan usaha, sedangkan 4,5% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan usaha merupakan faktor yang memberikan arah pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan, sedangkan pengaruh produktivitas kerja secara parsial menunjukkan arah negatif. Oleh karena itu, peningkatan pengembangan usaha perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan pendapatan Penjahit Yalan.</p> <p><em>This study aims to analyze the effect of work productivity and business development on income at Yalan Tailoring in Airnona Village, Kota Raja District, Kupang City. This study employed a quantitative approach. The population consisted of all employees working at Yalan Tailoring, with a sample of 3 employees selected using a saturated sampling technique. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and were analyzed using multiple linear regression with the assistance of IBM SPSS. The results showed that, partially, work productivity had a significant negative effect on income, with a t-value of -9.745 and a significance level of <0.001. Meanwhile, business development had a significant positive effect on income, with a t-value of 8.097 and a significance level of <0.001. Simultaneously, work productivity and business development had a significant effect on income, as indicated by an F-value of 74.357 with a significance level of <0.001. The coefficient of determination (R²) was 0.955, indicating that 95.5% of the variation in income could be explained by work productivity and business development, while the remaining 4.5% was explained by other factors outside the research model. The findings indicate that business development has a positive contribution to increasing income, whereas work productivity shows a negative partial effect. Therefore, strengthening business development should be an important consideration in efforts to increase income at Yalan Tailoring.</em></p>Aprilia LanggaStefanus ReinatiMarselinda A. Hege
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENGARUH BRAND IMAGE SOUND GROOVE TERHADAP CITRA KABUPATEN TANGERANG SEBAGAI DESTINASI EVENT MUSIK
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24924
<p>Festival musik tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga berpotensi membentuk citra suatu daerah sebagai destinasi <em>event</em> musik. Sound Groove merupakan festival musik yang diselenggarakan secara konsisten di Kabupaten Tangerang dengan <em>brand image</em> yang positif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh brand image Sound Groove terhadap citra Kabupaten Tangerang sebagai destinasi <em>event</em> musik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 pengunjung yang dipilih menggunakan <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image Sound Groove berpengaruh positif dan signifikan terhadap citra Kabupaten Tangerang sebagai destinasi event musik (sig. 0,001; t hitung 10,215 > t tabel 1,984). Koefisien determinasi sebesar 0,516 menunjukkan bahwa brand image memengaruhi citra Kabupaten Tangerang sebesar 51,6%, sedangkan 48,4% dipengaruhi faktor lain. Hasil penelitian diharapkan menjadi masukan bagi penyelenggara festival dan pemerintah daerah dalam memperkuat citra daerah melalui penyelenggaraan event musik.</p> <p><em>Music festivals not only serve as entertainment but also contribute to shaping the image of a region as a music event destination. Sound Groove is a music festival consistently held in Tangerang Regency that has developed a positive brand image through event quality and visitor experience. This study aims to examine the influence of Sound Groove's brand image on the image of Tangerang Regency as a music event destination. A quantitative survey was conducted involving 100 visitors selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed with simple linear regression. The results show that Sound Groove's brand image has a positive and significant influence on the image of Tangerang Regency as a music event destination (p = 0.001; t = 10.215 > 1.984). The coefficient of determination (R² = 0.516) indicates that brand image explains 51.6% of the destination image, while 48.4% is explained by other factors. The findings provide recommendations for strengthening the regional image through music events.</em></p> Risma Juliyanti WahyudinRini HardiyantiAde Irfan Abdurahman
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108KEBERLANJUTAN PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI PENYANDANG DISABILITAS PASCA PROGRAM REHABILITASI PADA PANTI SOSIAL BINA NETRA HITBIA DINSOS PRIVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24833
<p>Skripsi ini berjudul Keberlanjutan Perlindungan Sosial bagi Penyandang Disabilitas Pasca Program Rehabilitasi pada Panti Sosial Bina Netra Hit Bia Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur (Studi Kasus Perlindungan Sosial bagi Disabilitas Binaan Dinas Sosial Provinsi NTT di Kelurahan Maulafa Kota Kupang). Rumusan masalahnya adalah bagaimanakah keberlanjutan program perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas pasca program rehabilitasi pada Panti Sosial Bina Netra Hit Bia Dinas Sosial yang dilakukan oleh Dinas Sosial Provinsi NTT di Kelurahan Maulafa Kota Kupang. Teori yang digunakan adalah teori Keberlanjutan Perlindungan Sosial yang mencakup tiga aspek: keamanan sosial, akses universal, dan bantuan ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan sumber data primer dari informan dan data sekunder dari dokumen terkait. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi, sementara analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Aspek keamanan sosial telah terwujud melalui pemenuhan kebutuhan dasar secara komprehensif, meliputi tempat tinggal, makanan bergizi, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pembinaan mental dan sosial. Panti tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan selama masa rehabilitasi, tetapi juga membekali penerima manfaat dengan pelatihan orientasi dan mobilitas, pembelajaran huruf Braille, keterampilan kerja, serta pendampingan psikososial. Keberhasilan ini didukung oleh landasan regulasi yang kuat, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Peraturan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 48 Tahun 2024, dan Peraturan Daerah Kota Kupang Nomor 2 Tahun 2019, sehingga tercipta lingkungan rehabilitasi yang aman, inklusif, dan bebas diskriminasi. 2) Aspek akses universal telah berjalan melalui pemberian kesempatan yang setara kepada seluruh penyandang disabilitas untuk mengikuti layanan rehabilitasi tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun kondisi individu, termasuk akses terhadap pendidikan, pembelajaran huruf Braille, orientasi dan mobilitas, serta pelatihan vokasional seperti pijat, pertanian, dan peternakan. Program ini terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan kepercayaan diri penerima manfaat, meskipun cakupan layanan masih perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih merata. 3) Aspek bantuan ekonomi diwujudkan melalui pendekatan pemberdayaan yang mengintegrasikan pelatihan keterampilan vokasional dengan pemberian bantuan modal usaha sebesar Rp5.000.000 kepada setiap penerima manfaat yang memenuhi persyaratan. Namun, efektivitas bantuan ekonomi belum sepenuhnya optimal karena masih terbatasnya pendampingan berkelanjutan dalam aspek perencanaan usaha, pengelolaan keuangan, dan pemasaran produk pasca penyaluran bantuan, sehingga keberlanjutan pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas masih memerlukan penguatan lebih lanjut. Berdasarkan hasil analisis di atas, penulis menyimpulkan bahwa keberlanjutan perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas pada Panti Sosial Bina Netra Hit Bia telah berjalan secara efektif dan berkontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas hidup penerima manfaat, meskipun masih terdapat sejumlah kendala teknis dan keberlanjutan pendampingan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut, khususnya pada aspek bantuan ekonomi.</p> <p><em>This thesis is entitled The Sustainability of Social Protection for Persons with Disabilities After the Rehabilitation Program at the Hit Bia Blind Rehabilitation Center under the Social Affairs Office of East Nusa Tenggara Province (A Case Study of Social Protection for Persons with Disabilities Assisted by the Social Affairs Office of NTT Province in Maulafa Sub-district, Kupang City). The research problem addressed is how the social protection program for persons with disabilities has been sustained after the rehabilitation program at the Hit Bia Blind Rehabilitation Center, carried out by the Social Affairs Office of NTT Province in Maulafa Sub-district, Kupang City. The theory employed is the theory of Social Protection Sustainability, which encompasses three aspects: social security, universal access, and economic assistance. This research uses a qualitative method, with primary data sourced from informants and secondary data from related documents. Data collection techniques include interviews, observation, and documentation, while data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and descriptive qualitative conclusion drawing. The results of the research show that: 1) The aspect of social security has been realized through the comprehensive fulfillment of basic needs, including shelter, nutritious food, health services, education, as well as mental and social guidance. The center not only functions as a service provider during the rehabilitation period but also equips beneficiaries with orientation and mobility training, Braille literacy, work skills, and psychosocial assistance. This achievement is supported by a strong regulatory foundation, namely Law Number 8 of 2016 on Persons with Disabilities, Governor Regulation of East Nusa Tenggara Province Number 48 of 2024, and Kupang City Regional Regulation Number 2 of 2019, thereby creating a safe, inclusive, and discrimination-free rehabilitation environment. 2) The aspect of universal access has been carried out by providing equal opportunities for all persons with disabilities to participate in rehabilitation services regardless of social background, economic status, or individual condition, including access to education, Braille literacy, orientation and mobility, and vocational training such as massage, agriculture, and animal husbandry. This program has proven to improve beneficiaries' knowledge, skills, independence, and self-confidence, although the scope of services still needs to be expanded so that its benefits can be enjoyed more evenly. 3) The aspect of economic assistance has been realized through an empowerment approach that integrates vocational skills training with the provision of business capital assistance amounting to Rp5,000,000 for each beneficiary who meets the requirements. However, the effectiveness of this economic assistance has not been fully optimal due to the limited continuity of mentoring in business planning, financial management, and product marketing after the disbursement of assistance, so that the sustainability of economic empowerment for persons with disabilities still requires further strengthening. Based on the analysis above, the author concludes that the sustainability of social protection for persons with disabilities at the Hit Bia Blind Rehabilitation Center has been running effectively and has contributed significantly to improving the quality of life of beneficiaries, although a number of technical obstacles and challenges in the continuity of mentoring remain and require further attention, particularly with regard to the aspect of economic assistance.</em></p>Petrus Alfa Dhae UdeUrbanus Ola
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PERAN KETELADANAN MUSYRIF DALAM PEMBINAAN AKHLAK SANTRI SMP DI PONDOK PESANTREN DARUL MUSLIMIN MUHAMMADIYAH PARE KEDIRI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25545
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan perilaku santri SMP di Pondok Pesantren Darul Muslimin Muhammadiyah Pare Kediri yang bersikap santun di hadapan musyrif namun berperilaku negatif di antara sesama teman. Kondisi ini mengindikasikan bahwa internalisasi akhlak belum sepenuhnya terjadi sehingga diperlukan kajian mendalam mengenai peran keteladanan musyrif sebagai figur pendamping santri selama dua puluh empat jam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran keteladanan musyrif dalam pembinaan akhlak santri SMP dan mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 2 musyrif dan 6 santri SMP yang mewakili kelas 7, 8, dan 9, observasi, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan musyrif berperan signifikan dalam pembinaan akhlak santri SMP melalui dua bentuk. Keteladanan disengaja diwujudkan melalui kebiasaan hadir lebih awal di masjid, berpakaian rapi saat membangunkan santri, menjadi imam shalat Subuh, memulai persiapan Tahajud lebih awal, tidak tidur saat halaqah, serta mengaji malam di tempat yang dapat disaksikan santri. Keteladanan tidak disengaja terwujud melalui kepribadian musyrif sehari-hari yang secara alami menjadi cermin bagi santri, meliputi menjaga lisan, penampilan dan muru'ah, mengayomi santri secara tulus, serta bersikap jujur dan tegas namun tetap dekat. Kedua bentuk keteladanan tersebut diperkuat oleh metode pendukung yang berjalan secara organik. Meskipun demikian, internalisasi akhlak belum sepenuhnya konsisten karena perubahan perilaku sebagian santri masih bersifat situasional. Faktor pendukung yang paling dominan adalah keteladanan musyrif yang baik, diperkuat oleh peraturan pesantren yang konsisten, lingkungan yang kondusif, program kegiatan yang terstruktur, komunikasi dan pendampingan yang intensif, serta dukungan asatidz dan wali santri. Adapun faktor penghambat utama adalah pengaruh negatif teman sebaya, kemalasan dari dalam diri santri, latar belakang santri yang beragam, minimnya komunikasi wali santri, keterbatasan sarana prasarana, serta belum konsistennya keteladanan pada beberapa musyrif.</p> <p><em>This research is motivated by a behavioral gap among junior high school students at Darul Muslimin Muhammadiyah Islamic Boarding School, Pare Kediri, where students display polite behavior in front of Musyrif but exhibit negative behavior among peers. This condition indicates that moral internalization has not been fully achieved, necessitating an in-depth study of the role of Musyrif's exemplary conduct as a figure who accompanies students for twenty-four hours. This research aims to describe the role of Musyrif's exemplary conduct in moral development of junior high school students and identify its supporting and inhibiting factors. This research employs a descriptive qualitative approach with a case study design. Data were collected through interviews with 2 Musyrif and 6 junior high school students representing grades 7, 8, and 9, observation, and documentation of pesantren activities. Data analysis was conducted through three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was tested through source triangulation and technique triangulation. The results show that Musyrif's exemplary conduct plays a significant role in students' moral development through two forms. Intentional exemplary conduct is manifested through habitual early arrival at the mosque, being neatly dressed when waking students, leading Subuh prayers, starting Tahajud preparations earlier than students, staying awake during halaqah, and reciting the Quran at night in places visible to students. Unintentional exemplary conduct is reflected through Musyrif's daily personality that naturally becomes a mirror for students, including guarding speech, maintaining appearance and dignity, sincerely nurturing students, and being honest and firm yet approachable. Both forms are reinforced by supporting methods that run organically. Nevertheless, moral internalization has not been fully consistent as behavioral changes among some students remain situational. The most dominant supporting factor is Musyrif's good exemplary conduct, reinforced by consistent pesantren regulations, conducive environment, structured activity programs, intensive communication and mentoring, as well as support from teachers and parents. The main inhibiting factors are negative peer influence, students' internal laziness, diverse student backgrounds, lack of communication with parents, limited facilities, and inconsistency in exemplary conduct among some Musyrif.</em></p>HeriadiAbdul Rohman Hadi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PENERAPAN LATIHAN ISOMETRIC HANDGRIP EXERCISE TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS GAMBIRSARI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24901
<p>Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak terjadi pada lansia dan dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat membantu menurunkan tekanan darah adalah isometric handgrip exercise. Tujuan: Menggambarkan penerapan isometric handgrip exercise terhadap perubahan tekanan darah pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari, Kota Surakarta. Metode: Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan desain deskriptif kualitatif pada dua responden lansia hipertensi. Intervensi diberikan selama lima hari berturut-turut dan tekanan darah diukur sebelum serta sesudah tindakan. Hasil: Terjadi penurunan tekanan darah pada kedua responden, yaitu dari 159/86 mmHg menjadi 151/81 mmHg dan dari 154/82 mmHg menjadi 149/78 mmHg. Kesimpulan: isometric handgrip exercise dapat membantu menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.</p> <p><em>Background: Hypertension is a common non-communicable disease among older adults and may cause serious complications if not properly controlled. One non-pharmacological intervention that may reduce blood pressure is isometric handgrip exercise. Objective: To describe the implementation of isometric handgrip exercise on blood pressure changes in elderly patients with hypertension. Methods: This study employed a qualitative descriptive case study involving two elderly respondents with hypertension. The intervention was administered for five consecutive days, and blood pressure was measured before and after the intervention. Results: Blood pressure decreased from 159/86 mmHg to 151/81 mmHg and from 154/82 mmHg to 149/78 mmHg. Conclusion: Isometric Handgrip Exercise may help reduce blood pressure in elderly patients with hypertension.</em></p>Hanifah Putri AzzahraAnnisa Andriyani
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108DASAR HUKUM PENGAWASAN KEIMIGRASIAN BERBASIS DATA: ANALISIS NORMATIF KETEGANGAN ANTARA UNDANG-UNDANG KEIMIGRASIAN DAN UNDANG-UNDANG PELINDUNGAN DATA PRIBADI
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/24820
<p>Pengawasan keimigrasian terhadap orang asing pada dasarnya merupakan kegiatan pemrosesan data pribadi dalam skala besar. Kegiatan tersebut kini tunduk pada dua rezim hukum yang tidak saling merujuk. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 63 Tahun 2024 memberi mandat pengawasan, sedangkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi membebani pengendali data dengan serangkaian kewajiban. Penelitian ini menganalisis ketegangan normatif antara kedua undang-undang tersebut serta implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 151/PUU-XXII/2024 terhadap kewajiban hukum kantor imigrasi. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, kantor imigrasi memenuhi unsur Pengendali Data Pribadi sebagaimana dimaksud Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi karena berkedudukan sebagai badan publik yang menentukan tujuan dan mengendalikan pemrosesan data orang asing. Kedua, Pasal 50 undang-undang tersebut memang mengecualikan sejumlah kewajiban pengendali untuk kepentingan penegakan hukum, tetapi pengecualian itu tidak mencakup Pasal 53. Ketiga, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 151/PUU-XXII/2024 mengubah kriteria penunjukan pejabat pelindungan data pribadi dari kumulatif menjadi alternatif, sehingga kewajiban tersebut kini melekat pada kantor imigrasi tanpa keraguan penafsiran. Penelitian merekomendasikan penyusunan peraturan menteri yang mengatur pemrosesan data pribadi dalam pengawasan keimigrasian serta penunjukan pejabat pelindungan data pribadi pada satuan kerja keimigrasian.</p> <p><em>Immigration supervision of foreign nationals is, in substance, large-scale personal data processing. That activity now falls under two legal regimes that do not cross-reference one another. Law Number 6 of 2011, as amended by Law Number 63 of 2024, grants the supervisory mandate, while Law Number 27 of 2022 on Personal Data Protection imposes a set of obligations on data controllers. This study analyses the normative tension between the two statutes and the implications of Constitutional Court Decision Number 151/PUU-XXII/2024 for the legal obligations of immigration offices. The study applies a normative juridical method combining statutory, conceptual, and case approaches. Three findings emerge. First, immigration offices satisfy the definition of a Personal Data Controller under Article 1(4) of the Personal Data Protection Law, being public bodies that determine the purpose of and control the processing of foreign nationals' data. Second, Article 50 does exempt several controller obligations for law enforcement purposes, but that exemption does not extend to Article 53. Third, Constitutional Court Decision Number 151/PUU-XXII/2024 converted the criteria for appointing a data protection officer from cumulative to alternative, so the obligation now attaches to immigration offices without interpretive doubt. The study recommends a ministerial regulation governing personal data processing in immigration supervision and the appointment of data protection officers within immigration work units.</em></p>Muhammad Imam Dzamir OkaCakra TrinataBesse Hartati
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108PERAN ISDAM DALAM PENANAMAN KEDISIPLINAN SANTRI MELALUI SISTEM KOLEKTIF-INTEGRAL
https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jikm/article/view/25396
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh struktur organisasi Ikatan Santri Darul Muslimin (ISDAM) di Pondok Pesantren Darul Muslimin Muhammadiyah Pare yang menerapkan sistem kedisiplinan tanpa divisi keamanan (Kamtib) khusus untuk meminimalkan budaya senioritas dan feodalisme. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran ISDAM dalam menanamkan kedisiplinan santri serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive dan data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISDAM menanamkan kedisiplinan melalui skema koordinasi Collective-Integral, yaitu pengendalian disiplin yang terintegrasi pada setiap divisi sesuai bidang tugasnya, meliputi ibadah, bahasa, fasilitas, serta kesehatan dan konsumsi. Penanaman disiplin dilakukan melalui keteladanan pengurus dan sanksi edukatif berbasis konsekuensi logis untuk membangun kesadaran internal santri (tahżīb an-nafs). Faktor pendukung meliputi fleksibilitas organisasi dan keteladanan pengurus, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan fasilitas, luasnya cakupan penegakan bahasa, dan kesenjangan kompetensi teknis sebagian pengurus. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedisiplinan santri dapat ditanamkan melalui mekanisme organisasi yang kolektif dan terintegrasi tanpa bergantung pada divisi keamanan khusus.</p> <p><em>This research is motivated by the organizational structure of the Ikatan Santri Darul Muslimin (ISDAM) at Darul Muslimin Muhammadiyah Islamic Boarding School Pare, which implements a disciplinary system without a specialized security division (Kamtib) to minimize seniority and feudalism among students. This study aims to describe the role of ISDAM in instilling student discipline and identify its supporting and inhibiting factors. The study employed a descriptive qualitative approach using interviews, observation, and documentation. Informants were selected purposively, and data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model. The findings show that ISDAM instills discipline through a Collective-Integral coordination scheme, in which disciplinary control is integrated into each division according to its respective responsibilities, including worship, language, facilities, and health and consumption. Discipline is developed through exemplary behavior and educational sanctions based on logical consequences to foster students’ internal awareness (tahżīb an-nafs). Supporting factors include organizational flexibility and exemplary behavior among board members, while inhibiting factors include limited facilities, the broad scope of language enforcement, and technical competency gaps among some board members. This study demonstrates that student discipline can be cultivated through a collective and integrated organizational mechanism without relying on a specialized security division</em></p>LioFadlan Fahamsyah
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner
2026-08-312026-08-31108