ANALISIS KESALAHAN DAN REKAYASA ULANG GEOMETRI JALAN PERKOTAAN:
Kata Kunci:
Geometri Jalan, Kemiringan Memanjang, Profesionalisme Insinyur, Etika Keinsinyuran, K3LAbstrak
Kesalahan perencanaan geometrik jalan merupakan salah satu faktor dominan penyebab kecelakaan lalu lintas, khususnya pada kawasan perkotaan dengan topografi berbukit. Artikel ini bertujuan menganalisis kegagalan desain geometrik pada ruas Jalan Raden Imba Kesuma Ratu di Kota Bandar Lampung serta mengevaluasi efektivitas rekayasa ulang yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan mengintegrasikan analisis teknis geometri jalan, etika keinsinyuran, profesionalisme insinyur, serta prinsip Keselamatan, Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan (K3L). Data diperoleh melalui pengukuran geometri jalan, data kecelakaan lalu lintas sebelum dan sesudah perbaikan, serta kajian terhadap standar nasional dan literatur internasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemiringan memanjang (grade) eksisting sebesar 15–16% melampaui batas maksimum 9% untuk jalan perkotaan kelas II, sehingga menyebabkan defisit jarak pandang henti (Stopping Sight Distance/SSD) hingga 28% dan meningkatkan risiko kecelakaan. Selain itu, tidak dilaksanakannya audit keselamatan jalan dan lemahnya supervisi profesional mengindikasikan pelanggaran terhadap prinsip etika dan profesionalisme keinsinyuran. Rekayasa ulang menggunakan metode cut–fill balance berhasil menurunkan gradien menjadi 9%, meningkatkan SSD menjadi 210 meter, dan menurunkan angka kecelakaan hingga 65% dalam enam bulan setelah perbaikan. Studi ini menegaskan bahwa kegagalan teknis infrastruktur tidak dapat dipisahkan dari dimensi etika dan profesionalisme. Integrasi ketepatan teknis, akuntabilitas moral, dan budaya K3L merupakan fondasi penting dalam pembangunan infrastruktur jalan yang aman dan berkelanjutan.
Geometric design errors are a major contributing factor to traffic accidents, particularly in urban areas with hilly topography. This article aims to analyze the failure of geometric road design on Raden Imba Kesuma Ratu Street in Bandar Lampung City and to evaluate the effectiveness of the implemented redesign. This study employs a case study approach by integrating technical analysis of road geometry, engineering ethics, engineering professionalism, and Occupational Health, Safety, Security, and Environment (OHSSE/K3L) principles. Data were collected from geometric road measurements, traffic accident records before and after rehabilitation, and reviews of national standards and international literature. The results indicate that the existing longitudinal gradient of 15–16% exceeded the maximum allowable limit of 9% for urban Class II roads, resulting in a stopping sight distance (SSD) deficit of up to 28% and a significant increase in accident risk. Furthermore, the absence of road safety audits and insufficient professional supervision reflected violations of engineering ethics and professionalism. The redesign using the cut–fill balance method successfully reduced the gradient to 9%, increased SSD to 210 meters, and decreased traffic accidents by 65% within six months after rehabilitation. This study confirms that technical failures in infrastructure projects are inseparable from ethical and professional dimensions. The integration of technical accuracy, ethical accountability, and a strong safety culture is essential for sustainable and safe road infrastructure development.



