SAINS DI BUMI KONSTANTINOPEL: PERSIMPANGAN ANTARA NILAI BARAT DAN TRADISI ISLAM

Penulis

  • Muklis Siregar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Hasan Bakti Nasution Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Syukri Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Kata Kunci:

Konstantinopel, Sejarah Sains Global, Ruang Epistemik, Bizantium, Islam, Transmisi Pengetahuan

Abstrak

Artikel ini berupaya memahami bagaimana Konstantinopel berfungsi sebagai simpul epistemik dalam perkembangan ilmu pengetahuan global dengan memperlakukannya sebagai ruang lintas peradaban tempat produksi, transmisi, dan transformasi pengetahuan berlangsung. Perhatian diarahkan pada perkembangan tradisi ilmiah dari zaman kuno hingga Bizantium, Islam, dan Eropa Latin dan modern. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kualitatif dalam kerangka sejarah ilmu pengetahuan global/transregional dan berdasarkan tinjauan literatur sistematis dari publikasi akademis antara tahun 2020–2025. Studi ini didasarkan pada pembacaan historiografi-kritis, perbandingan transkultural, dan rekonstruksi jaringan intelektual. Hasilnya menunjukkan bahwa Konstantinopel bukan hanya media transmisi pasif, tetapi juga merupakan medan uji di mana sintesis epistemik antara rasionalitas kuno dan teologi Kristen serta antara epistemologi Islam berkembang. Di masa lalu Ottoman, rasionalisme, empirisme, dan spiritualitas menyatu untuk menciptakan tradisi ilmu pengetahuan teistik yang menghindari pemisahan antara pengetahuan sekuler dan religius. Warisan Bizantium dan Ottoman di bidang astronomi, matematika, pembuatan peta, dan pendidikan menunjukkan bahwa kota ini berfungsi sebagai penyebar memori ilmiah dan sebagai pencetus ide. Kesimpulannya, lanskap epistemik Konstantinopel merupakan contoh historis yang perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan wacana kontemporer tentang sejarah sains global dan teori keadilan epistemik.

This article seeks to understand how Constantinople functioned as an epistemic node in the development of global science by treating it as a cross-civilizational space where the production, transmission, and transformation of knowledge took place. Attention is focused on the development of scientific traditions from antiquity to Byzantium, Islam, and Latin and modern Europe. This research uses qualitative historical methods within the framework of global/transregional history of science and is based on a systematic literature review of academic publications between 2020 and 2025. The study is based on critical historiography, transcultural comparison, and the reconstruction of intellectual networks. The results show that Constantinople was not only a passive medium of transmission, but also a testing ground where epistemic syntheses between ancient rationality and Christian theology and between Islamic epistemology developed. In the Ottoman past, rationalism, empiricism, and spirituality converged to create a theistic tradition of science that avoided the separation between secular and religious knowledge. The Byzantine and Ottoman legacies in astronomy, mathematics, cartography, and education show that the city functioned as a disseminator of scientific memory and a generator of ideas. In conclusion, the epistemic landscape of Constantinople is a historical example that needs to be considered in relation  with contemporary discourse on the history of global science and theories of epistemic justice.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30