INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ADAT ISTIADAT MELAYU PALEMBANG: SEBUAH KAJIAN EPISTEMOLOGI DAN PRAKTIK SOSIAL
Kata Kunci:
Pendidikan Islam, Adat Istiadat Melayu Palembang, Internalisasi Nilai, Kesultanan Palembang, Kearifan LokalAbstrak
Artikel ini membahas relasi epistemologis antara Pendidikan Islam dan Adat Istiadat Melayu Palembang, sebuah wilayah yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban Islam Melayu di Nusantara pasca abad ke-17. Berbeda dengan kajian umum tentang adat Melayu yang cenderung generalistik, penelitian ini memfokuskan pada kekhasan Palembang yang dikenal dengan falsafah "Megah Serumpun" dan tradisi keulamaan berbasis keraton. Melalui metode kajian pustaka (library research) kualitatif dengan pendekatan historis-antropologis, artikel ini menemukan bahwa Adat Istiadat Melayu Palembang tidak hanya berfungsi sebagai living law yang berlandaskan prinsip "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah," tetapi juga sebagai media transmisi nilai-nilai Pendidikan Islam yang telah melalui proses adaptasi unik. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam adat Palembang mencakup tiga ranah: (1) kurikulum dan model pembelajaran di lingkungan Kesultanan Palembang abad ke-18-19 yang menekankan tasawuf dan akhlak melalui tarekat Sammaniyah; (2) internalisasi nilai religius dalam ritual daur hidup seperti upacara haul dan pernikahan adat Palembang yang tetap berpegang pada prinsip sakinah, mawadah, warahmah; serta (3) revitalisasi kontemporer melalui kebijakan pendidikan berbasis kearifan lokal seperti mata kuliah Islam dan Budaya Melayu di UIN Raden Fatah Palembang. Artikel ini menyimpulkan bahwa model integrasi adat-Islam Palembang menawarkan alternatif epistemologi pendidikan Islam yang tidak dikotomis, sekaligus menjawab tantangan globalisasi melalui penguatan identitas kultural berbasis nilai-nilai keislaman.
This article discusses the epistemological relationship between Islamic Education and the Malay Customs of Palembang, a region with a long history as a center of Malay-Islamic civilization in the Archipelago after the 17th century. Unlike general studies on Malay customs that tend to be generalized, this research focuses on the uniqueness of Palembang, known for its "Megah Serumpun" philosophy and keraton-based ulama tradition. Using a qualitative library research method with a historical-anthropological approach, this study finds that the Malay Customs of Palembang not only function as living law based on the principle "Customs are based on Sharia, Sharia is based on the Book of Allah," but also serve as a medium for transmitting Islamic educational values that have undergone a unique adaptation process. The main findings indicate that the integration of Islamic values into Palembang customs covers three domains: (1) the curriculum and learning models within the Palembang Sultanate environment in the 18th-19th centuries emphasizing Sufism and morals through the Sammaniyah order; (2) the internalization of religious values in life-cycle rituals such as haul ceremonies and Palembang traditional weddings adhering to the principles of sakinah, mawadah, warahmah; and (3) contemporary revitalization through local wisdom-based education policies such as the Islam and Malay Culture course at UIN Raden Fatah Palembang. This article concludes that the Palembang model of custom-Islam integration offers an alternative epistemology of Islamic education that is non-dichotomous, while also addressing the challenges of globalization through the strengthening of cultural identity based on Islamic values.




