INTERFERENSI BAHASA DAERAH TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA TULIS MAUPUN LISAN SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PLUS KPG NABIRE

Penulis

  • Tadeus Janggur Universitas Negeri Semarang
  • Imam Baehaqie Universitas Negeri Semarang
  • Hari Bakti Mardikantoro Universitas Negeri Semarang

Kata Kunci:

Interferensi Bahasa, Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, siswa SMA, Nabire

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk interferensi bahasa daerah dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis dan lisan, mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya interferensi, serta menjelaskan dampaknya terhadap kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas XI SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Interferensi bahasa daerah merupakan fenomena penyimpangan penggunaan Bahasa Indonesia yang disebabkan oleh pengaruh sistem bahasa daerah (bahasa ibu) yang dikuasai penutur, khususnya dari suku Mee, Moni, Dani, dan Biak di wilayah Nabire, Papua Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode eksperimen terkontrol. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 150 siswa. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 40 siswa (25% dari populasi) yang memenuhi kriteria sebagai penutur dwibahasa aktif. Teknik pengumpulan data meliputi tes tulis, tes lisan, angket, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, klasifikasi, deskripsi, dan interpretasi untuk mengungkap pola interferensi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interferensi bahasa daerah muncul dalam lima aspek kebahasaan: (1) fonologi (pelafalan bunyi yang menyimpang seperti "r" menjadi "l", "yang" menjadi "yan"); (2) ortografi (kesalahan ejaan karena menulis sesuai pelafalan bahasa daerah); (3) leksikal (penyisipan kata bahasa daerah seperti "noken", "mote", dan penggunaan kata dengan makna yang tidak tepat); (4) morfologi (kesalahan pembentukan kata dan penggunaan imbuhan); dan (5) sintaksis (struktur kalimat yang mengikuti pola bahasa daerah seperti "Saya nasi makan" atau "Buku ini saya punya"). Interferensi fonologis dan sintaksis merupakan bentuk yang paling dominan dan persisten. Faktor penyebab interferensi terbagi menjadi dua kategori. Faktor internal meliputi tingkat penguasaan Bahasa Indonesia yang masih rendah, kurangnya kesadaran metalinguistik tentang perbedaan kaidah kedua bahasa, serta sikap dan motivasi berbahasa yang belum optimal. Faktor eksternal mencakup dominasi penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga sebagai bahasa komunikasi utama, pengaruh teman sebaya yang juga menggunakan bahasa daerah, serta metode pembelajaran di sekolah yang belum sepenuhnya memperhatikan konteks multilingual siswa. Dampak interferensi bersifat kompleks dan multidimensi. Dampak negatif yang ditemukan meliputi: (1) hambatan komunikasi karena pesan tidak tersampaikan dengan jelas dan menimbulkan kesalahpahaman; (2) penurunan prestasi akademik, dengan perbedaan nilai rata-rata yang signifikan antara siswa dengan interferensi tinggi dan rendah; (3) kesulitan memahami materi pelajaran yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar; dan (4) ketidakefektifan komunikasi dalam situasi formal. Namun, penelitian ini juga menemukan dampak positif, yaitu: (1) pengayaan wawasan bahasa melalui kemampuan dwibahasa yang memperluas perspektif budaya; dan (2) penguatan solidaritas sosial dalam kelompok sebaya yang memiliki latar belakang bahasa daerah yang sama.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29