PENGARUH RASIO KARAGENAN DAN TEPUNG TAPIOKA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN MEKANIK BIOPLASTIK BERBASIS RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS

Penulis

  • Tita Ariyanti Putri Universitas Muslim Indonesia
  • Syifa Nurul Callista Universitas Muslim Indonesia
  • Nurjannah Universitas Muslim Indonesia
  • Lastri Wiyani Universitas Muslim Indonesia

Kata Kunci:

Bioplastik, Gliserol, Karagenan, Kappaphycus Alvarezii, Pati Singkong

Abstrak

Indonesia masih banyak menggunakan plastik sebagai bahan yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis plastik yang paling sering digunakan adalah plastik sintetis. Plastik sintetis memiliki sifat yang sulit terurai secara alami sehingga dapat menimbulkan penumpukan limbah dan mencemari lingkungan. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan bahan pengganti yang lebih ramah lingkungan dan mudah terdegradasi. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah bioplastik. Bioplastik merupakan jenis plastik yang dibuat dari bahan alami yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga lebih aman terhadap lingkungan dibandingkan plastik konvensional. Bahan utama yang umum digunakan dalam pembuatan bioplastik adalah polisakarida alami, seperti karagenan dan pati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio terbaik karagenan dan tepung tapioka terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam pembuatan bioplastik dari karagenan dan tepung tapioka diawali dengan proses perendaman untuk memperoleh ekstrak karagenan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii, kemudian dilanjutkan dengan proses pemanasan menggunakan hotplate hingga terbentuk larutan bioplastik. Penelitian ini dibuat dalam enam variasi, yaitu karagenan murni, tapioka murni, serta kombinasi karagenan dan tepung tapioka dengan rasio 6:1, 6:2, 6:3 dan 6:4 gr/gr. Bahan tambahan yang digunakan berupa gliserol sebagai pemlastis sebanyak 2 mL dan aquadest sebanyak 100 mL. Pengujian dilakukan terhadap kadar air, daya serap air, ketebalan dan elongasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi komposisi karagenan dan tepung tapioka secara signifikan memengaruhi sifat fisik dan mekanis bioplastik. Formulasi dengan rasio 6:2 diidentifikasi sebagai variasi optimal karena menghasilkan karakteristik terbaik yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Formulasi ini menghasilkan kadar air sebesar 26,25% yang memenuhi prinsip pengeringan SNI 1971:2011, serta ketebalan 0,2 mm yang berada di bawah batas maksimum film kemasan SNI sebesar 0,25 mm. Karakteristik mekanisnya didukung oleh nilai elongasi sebesar 103,3%, yang dikategorikan sangat baik karena telah melampaui ambang batas

Indonesia still relies heavily on plastic as a common material in daily life. The most commonly used type of plastic is synthetic plastic. Synthetic plastic is difficult to break down naturally, which can lead to waste accumulation and environmental pollution. This situation underscores the need to develop alternative materials that are more environmentally friendly and easily biodegradable. One alternative that can be used is bioplastic. Bioplastic is a type of plastic made from natural materials that can be broken down by microorganisms, making it safer for the environment compared to conventional plastic. The primary materials commonly used in bioplastic production are natural polysaccharides, such as carrageenan and starch. This study aims to determine the optimal ratio of carrageenan to tapioca flour in relation to the physical and mechanical properties of the resulting bioplastic. The method used to produce bioplastics from carrageenan and tapioca flour begins with a soaking process to obtain carrageenan extract from Kappaphycus alvarezii seaweed, followed by heating on a hotplate until a bioplastic solution forms. This study was conducted with six variations: pure carrageenan, pure tapioca, and combinations of carrageenan and tapioca flour in ratios of 6:1, 6:2, 6:3, and 6:4 g/g. The additives used were 2 mL of glycerol as a plasticizer and 100 mL of distilled water. Tests were conducted on moisture content, water absorption, thickness and elongation. The results of the study indicate that variations in the composition of carrageenan and tapioca starch significantly affect the physical and mechanical properties of the bioplastic. The formulation with a 6:2 ratio was identified as the optimal variation because it produced the best characteristics that met the Indonesian National Standard (SNI). This formulation resulted in a moisture content of 26.25%, which met the drying principle of SNI 1971:2011, as well as a thickness of 0.2 mm, which was below the SNI maximum limit for packaging film of 0.25 mm. Its mechanical characteristics are supported by an elongation value of 103.3%, which is categorized as excellent as it exceeds the minimum threshold of>50%.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29