EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA SATUAN LUAS TANAH TRADISIONAL (Ru)

Penulis

  • Winnona Tidy Universitas Bhinneka PGRI
  • Ratri Candra Hastari Universitas Bhinneka PGRI

Kata Kunci:

Etnomatematika, Satuan Luas Tanah Ru, Budaya Tulungagung, Konversi Luas Tanah, Aritmatika Sosial, Barisan Geometri, Pengukuran Tanah Tradisional

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksplorasi etnomatematika pada budaya masyarakat tulungagung dalam penyebutan satuan luas tanah (Ru). Instrumen yang digunakan adalah peneliti sebagai instrumen utama, serta pedoman wawancara dan kamera sebagai instrumen pendukung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi digunakan untuk menghasilkan deskripsi budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa satuan luas tanah Ru sudah ada sejak berlakunya Agrarische Wet tahun 1870, hukum agraria dari Belanda. Meskipun satuan luas tanah Ru masih digunakan hingga sekarang, namun disaat akan melakukan sertifikasi tanah harus dilakukan pengukuran ulang karena ketika dikonversi ke standar ukuran yang digunakan oleh Badan Pertanahan Nasional, yaitu meter persegi, terjadi perbedaan ukuran yang menyebabkan perbedaan ukuran antara desa (Ru) dan Badan Pertanahan Nasional (m2). Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk memastikan bahwa batas-batas tanah masih sesuai dengan ukuran yang didokumentasikan dalam surat tanah serta tidak merugikan penjual saat melakukan proses jual beli. Dalam satuan luas tanah Ru terdapat unsur matematika yaitu konsep aritmatika sosial pada konteks dilakukannya perubahan luas tanah dari satuan Ru menjadi m2. Sedangkan dalam konteks hubungan Ru dengan satuan luas tanah tradisional lainnya terdapat konsep barisan geometri didalamnya. Dengan demikian didalam satuan luas tanah Ru terdapat unsur matematika.

This study aims to describe ethnomathematics exploration of the culture of the Tulungagung community in terms of land area units (Ru). The instruments used were the researcher as the main instrument, as well as interview guides and cameras as supporting instruments. This research is a qualitative research with an ethnographic approach. An ethnographic approach is used to produce cultural descriptions. The results of this study indicate that the unit area of land Ru has existed since the enactment of the Agrarische Wet in 1870, the Dutch agrarian law. Even though the unit area of land Ru is still used today, when land titling is being carried out, it must be re-measured because when it is converted to the standard size used by the National Land Agency, namely meters squared, there is a difference in size which causes a difference in size between village (Ru) and National Land Agency (m2). The purpose of this measurement is to ensure that the boundaries of the land are still in accordance with the measurements documented in the land certificate and do not harm the seller during the buying and selling process. In the unit of land area Ru there is a mathematical element, namely the concept of social arithmetic in the context of changing the land area from the unit Ru to m2. Meanwhile, in the context of the relationship between Ru and other traditional units of land area, there is the concept of geometric sequences in it. Thus in the land area unit Ru there is a mathematical element.

Unduhan

Diterbitkan

2026-08-31