https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/issue/feedJurnal Ilmiah Multidisipliner2026-08-31T04:38:42+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25356OPTIMASI EKSTRAKSI BIJIH NIKEL DENGAN METODE ATMOSPHERIC ACID LEACHING MENGGUNAKAN ASAM SULFAT 2026-08-12T02:53:47+00:00Mutiaramutiaramti24@gmail.comLa Ode Muh Rifki Allamsyahkumisikky@gmail.comAndi Aladinandi.aladin@umi.ac.idRuslan Kallaruslan.kalla@umi.ac.id<p>Nikel laterit kadar rendah (<1,5% Ni) kurang ekonomis diolah dengan proses pirometalurgi sehingga memerlukan teknologi hidrometalurgi, salah satunya Atmospheric Acid Leaching (AAL) menggunakan asam sulfat (H₂SO₄). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh serta menentukan kondisi optimum variasi konsentrasi H₂SO₄, temperatur, dan waktu pelindian terhadap persen ekstraksi nikel dari bijih limonit Kolaka Utara dengan kadar awal 1,53% Ni dan 42,20% Fe. Metode penelitian menggunakan One-Factor-at-a-Time (OFAT) dengan variasi konsentrasi H₂SO₄ sebesar 1, 3, 5, dan 7 M, temperatur 50, 70, 90, 100, 110, dan 120 °C, serta waktu pelindian 60, 120, 180, dan 240 menit. Parameter tetap meliputi kecepatan pengadukan 300 rpm, rasio padat-cair (S/L) 0,2 g/cm³, ukuran partikel <200 mesh, dan pra-kalsinasi pada 550 °C selama 2 jam. Karakterisasi kadar residu dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi H₂SO₄ hingga 7 M meningkatkan persen ekstraksi nikel menjadi 92,32% karena bertambahnya ion H⁺ yang berperan dalam proses pelindian. Persen ekstraksi tertinggi berdasarkan variasi temperatur diperoleh pada 100 °C, yaitu 95,86%, sedangkan peningkatan temperatur hingga 110–120 °C menurunkan ekstraksi akibat pembentukan lapisan pasivasi dan pengendapan senyawa besi. Berdasarkan variasi waktu, ekstraksi tertinggi sebesar 96,69% diperoleh pada 240 menit, namun 120 menit ditetapkan sebagai waktu optimum operasional karena telah mencapai kondisi mendekati kesetimbangan dengan persen ekstraksi 95,23%. Dengan demikian, kondisi optimum proses AAL diperoleh pada konsentrasi H₂SO₄ 7 M, temperatur 100 °C, dan waktu pelindian 120 menit.</p> <p><em>Low-grade nickel laterite (<1.5% Ni) is uneconomical to process by pyrometallurgical methods, making hydrometallurgical technologies such as Atmospheric Acid Leaching (AAL) using sulfuric acid (H₂SO₄) a promising alternative. This study aimed to evaluate the effects of H₂SO₄ concentration, leaching temperature, and leaching time and to determine the optimum operating conditions for nickel extraction from North Kolaka limonite ore containing 1.53% Ni and 42.20% Fe. A One-Factor-at-a-Time (OFAT) method was employed by varying the H₂SO₄ concentration (1, 3, 5, and 7 M), temperature (50, 70, 90, 100, 110, and 120 °C), and leaching time (60, 120, 180, and 240 min). Constant parameters included a stirring speed of 300 rpm, a solid-to-liquid ratio (S/L) of 0.2 g/cm³, a particle size of <200 mesh, and pre-calcination at 550 °C for 2 h. Residual nickel content was characterized using X-Ray Fluorescence (XRF). The results showed that increasing the H₂SO₄ concentration to 7 M improved nickel extraction to 92.32% due to the greater availability of H⁺ ions during leaching. The highest extraction based on temperature was achieved at 100 °C, reaching 95.86%, whereas increasing the temperature to 110–120 °C reduced extraction because of iron-bearing precipitate formation and passivation layer development. The highest extraction based on leaching time was 96.69% at 240 min; however, 120 min was selected as the optimum operational time because the extraction efficiency (95.30%) had reached a near-equilibrium condition controlled by diffusion through the product layer. Therefore, the optimum AAL operating conditions were 7 M H₂SO₄, 100 °C, and 120 min.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/26004PONDOK PESANTREN MADRASAH HAFIZH QURAN SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI PENDIDIKAN KEAGAMAAN PADA MASYARAKAT DI KECAMATAN TONRA KABUPATEN BONE2026-08-30T06:56:15+00:00Rangga Irawan Saputraranggairawan282@gmail.comAstutiastutiabbas69@gmail.comAbdul Hakimhakim150828@gmail.comMuslihin Sultansultanmuslihin@gmail.comIdrus L.idruslatif.iainbone@gmail.comFebriansafebriansa@unm.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pondok Pesantren Madrasah Hafizh Qur’an sebagai agen transformasi pendidikan keagamaan pada masyarakat di Kecamatan Tonra Kabupaten Bone. Penelitian ini difokuskan pada tiga aspek, yaitu: (1) bentuk-bentuk Agen transformasi yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Madrasah Hafizh Qur’an, (2) Bentuk-Bentuk Pendidikan Keagamaan Pada Masyarakat, serta (3) Kontribusi Pondok Pesantren Madrasah Hafizh Qur’an terhadap peningkatan pemahaman dan kesadaran pendidikan keagamaan Masyarakat di Kecamatan Tonra Kabupaten Bone. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perspektif sosiologi, psikologi dan edukatif. jenis penelitiannya menggunakan metode kualitatif (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas pimpinan pondok pesantren, tenaga pendidik, santri, alumni, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua santri, serta masyarakat Kecamatan Tonra. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk transformasi yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Madrasah Hafizh Qur’an meliputi Agen perubahan Sosial, pusat peradaban ilmu, Dakwah pesantren, pusat pembentukan karakter dan akhlak, perkembangan madrasah dan lembaga, dan adapun bentuk bentuk pendidikan keagamaan yaitu meliputi pembinaan keagamaan, Penyelenggaraan pendidikan,peningkatan terhadap pendidikan dan pembelajaran Al-Qur’an. Kontribusi pondok pesantren memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman masyarakat tentang ajaran Islam, meningkatnya pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan Islam. Pondok Pesantren Madrasah Hafizh Qur’an memiliki peran yang strategis sebagai agen transformasi pendidikan keagamaan di Kecamatan Tonra Kabupaten Bone.Oleh karena itu, sinergi antara pondok pesantren, pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat guna mendukung keberlanjutan transformasi pendidikan keagamaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.</p> <p><em>This study aims to analyze the role of the Madrasah Hafizh Qur’an Islamic Boarding School as an agent of religious education transformation in the community of Tonra District, Bone Regency. The study focuses on three aspects: (1) the forms of transformation carried out by the Madrasah Hafizh Qur’an Islamic Boarding School, (2) the forms of religious education in the community, and (3) the contributions of the Madrasah Hafizh Qur’an Islamic Boarding School to the community in Tonra District, Bone Regency. This research employed sociological, psychological, and educational perspectives. It used a qualitative field research method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The research informants consisted of the head of the pesantren, teachers, students, alumni, religious leaders, community leaders, parents of students, and members of the community in Tonra District. Data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that the forms of transformation carried out by the Madrasah Hafizh Qur’an Islamic Boarding School include being agents of social change, centers of scientific civilization, Islamic propagation (dakwah) hubs, centers for character and moral development, and the growth of madrasahs and institutions. The forms of religious education include religious guidance, organizing education, and improving Qur’an education and learning. The contribution of the Islamic boarding school has a significant impact on increasing public understanding of Islamic teachings, improving the practice of religious values in daily life, and fostering public awareness of the importance of Islamic education. The Madrasah Hafizh Qur’an Islamic Boarding School plays a strategic role as an agent of religious education transformation in Tonra District, Bone Regency. Therefore, the synergy between the pesantren, the government, and the community needs to be continuously strengthened to support the sustainability of religious education transformation amid the ever-changing social dynamics. </em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/24879PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA) DAN DEBT TO EQUITY RATIO (DER) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA SUBSEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2020-20242026-07-31T10:00:49+00:00Hani Aprilianti63221018@bsi.ac.idSaridawatisaridawati.sti@bsi.ac.id<p>Nilai perusahaan merupakan indikator penting yang mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi nilai perusahaan adalah kinerja keuangan, khususnya Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER). Perusahaan subsektor makanan dan minuman memiliki peran penting dalam pertumbuhan industri di Indonesia sehingga menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020–2024, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan yang dipublikasikan melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel penelitian terdiri atas 6 perusahaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 30 data observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak E-Views 12. Berdasarkan hasil pemilihan model, model yang digunakan adalah Random Effect Model (REM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, Debt to Equity Ratio (DER) juga tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, serta Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2024.</p> <p><em>Firm value is an important indicator that reflects a company's success in enhancing shareholders' wealth. One of the factors assumed to influence firm value is financial performance, particularly Return On Asset (ROA) and Debt to Equity Ratio (DER). The food and beverage subsector plays a significant role in Indonesia's industrial growth, making it an interesting subject for research. This study aims to analyze the effect of Return On Asset (ROA) and Debt to Equity Ratio (DER) on firm value in food and beverage subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2020–2024 period, both partially and simultaneously. This study employed a quantitative method with a descriptive approach. The data used were secondary data obtained from the annual financial statements published on the official website of the Indonesia Stock Exchange (IDX). The research sample consisted of six companies selected using the purposive sampling technique, resulting in 30 observations. The data were analyzed using panel data regression with the assistance of E-Views 12 software. Based on the model selection results, the Random Effect Model (REM) was chosen as the most appropriate model. The results indicate that Return On Asset (ROA) has no significant effect on firm value, Debt to Equity Ratio (DER) also has no significant effect on firm value, and Return On Asset (ROA) and Debt to Equity Ratio (DER) simultaneously have no significant effect on firm value in food and beverage subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2020–2024 period.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25606FILOSOFI “ADIL KATALINO, BACURAMIN KA’SURGA, BASENGAT KA’JUBATA” BAGI DAYAK KANAYANT SEBAGAI PARADIGMA PEWARTAAN INJIL: STUDI KONTEKSTUAL DI KALIMANTAN BARAT2026-08-20T10:23:23+00:00David Agus Haryono Widododavidagusharyono3@gmail.comHery Budi Yosefherybudiyosef@gmail.comKiki Apriani Ester Daelikikiaedaeli@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan merumuskan pendekatan pewartaan Injil yang kontekstual bagi masyarakat Dayak Kanayatn dengan menggali filosofi lokal sebagai landasan teologis yang relevan. Berangkat dari kesadaran akan pentingnya penghormatan terhadap identitas budaya dan spiritualitas komunitas adat, studi ini mengangkat nilai-nilai kearifan lokal seperti Adil Katalino, Bacuramin Ka’Surga, dan Basengat Ka’Jubata sebagai pintu masuk dialog antara Injil dan budaya. Kajian pustaka yang mendalam dan reflektif menelusuri pemikiran teologis kontekstual, teori komunikasi lintas budaya, serta prinsip inkulturasi dalam pelayanan Kristen, yang diperkaya dengan telaah pemikiran tokoh Dayak Kanayatn dan pengalaman spiritual masyarakat. Metodologi penelitian menggunakan mixed methods, yaitu pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pemimpin gereja serta kuantitatif melalui kuesioner kepada mahasiswa dan jemaat. Instrumen penelitian dirancang berbasis nilai-nilai lokal dan dianalisis secara tematik untuk menekankan integrasi iman dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewartaan Injil yang menghormati filosofi Dayak Kanayatn tidak hanya memperkuat identitas spiritual komunitas, tetapi juga membuka ruang bagi transformasi sosial yang berakar pada kasih, dialog, dan penghargaan terhadap warisan leluhur. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pengembangan teologi kontekstual di Indonesia serta menjadi teladan bagi pelayanan Kristen yang berakar dan berbuah dalam tanah budaya sendiri.</p> <p><em>This study aims to formulate a contextual approach to proclaiming the Gospel among the Dayak Kanayatn community by exploring local philosophy as a living and relevant theological foundation. Arising from the awareness of the importance of respecting cultural identity and indigenous spirituality, this research highlights local wisdom values such as Adil Katalino, Bacuramin Ka’Surga, and Basengat Ka’Jubata as entry points for dialogue between the Gospel and culture. Through an in-depth and reflective literature review, the study examines contextual theological thought, cross-cultural communication theories, and principles of inculturation in Christian ministry, enriched by insights from Dayak Kanayatn leaders and the community’s spiritual experiences. The methodology employs a mixed-methods design, combining qualitative interviews with traditional leaders and church figures and quantitative surveys distributed to students and congregations. Research instruments were systematically developed based on local values and analyzed thematically to emphasize the integration of faith and culture. The findings indicate that a Gospel proclamation that honors Dayak Kanayatn philosophy not only strengthens the community’s spiritual identity but also opens space for social transformation rooted in love, dialogue, and respect for ancestral heritage. This study is expected to contribute significantly to the development of contextual theology in Indonesia and serve as a model for Christian ministry that is deeply rooted in and fruitful within its own cultural soil</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25317KARAKTER VISUAL KAMPUNG TRADISIONAL SIBANGGOR JULU SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN WISATA BUDAYA DI MANDAILING NATAL2026-08-11T05:04:42+00:00Aidah Suhermanaidah.210160010@mhs.unimal.ac.idRinaldi Mirsrinaldi@unimal.ac.idYenny Noviantiyenny.novianti@unimal.ac.id<p>Desa Sibanggor Julu merupakan salah satu desa di Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, yang memiliki kawasan permukiman tradisional yang dikenal sebagai Kampung Ijuk karena sebagian besar rumah penduduknya masih menggunakan atap berbahan ijuk dari pohon enau. Keberadaan rumah-rumah tradisional, pola permukiman, serta lanskap alami kawasan membentuk karakter visual yang menjadi identitas kawasan wisata budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakter visual Kampung Tradisional Sibanggor Julu sebagai identitas kawasan wisata budaya melalui identifikasi elemen-elemen visual yang membentuk keunikan kawasan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi, studi pustaka dan wawancara. Analisis dilakukan berdasarkan tujuh elemen karakter visual, yaitu dominasi, keunikan, kesatuan, sequence, kenyamanan, keamanan, dan keindahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter visual kawasan didominasi oleh rumah-rumah panggung beratap ijuk yang tersusun mengikuti kontur lereng perbukitan. Keunikan kawasan terlihat pada konsistensi penggunaan atap ijuk serta keberadaan Air Terjun Sampuran Binanga, sedangkan kesatuan visual terbentuk melalui kesamaan bentuk bangunan dan penggunaan material alami. Sequence kawasan mengarahkan pandangan menuju Gunung Sorik Marapi, sementara kenyamanan, keamanan, dan keindahan didukung oleh suasana kampung yang tenang, pengawasan sosial masyarakat, serta panorama alam yang masih terjaga. Ketujuh elemen tersebut membentuk identitas visual Kampung Tradisional Sibanggor Julu sebagai kawasan wisata budaya yang memiliki karakter arsitektur tradisional Mandailing dan membedakannya dari kawasan lain di Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam upaya pelestarian karakter visual kawasan serta pengembangan wisata budaya yang berkelanjutan.</p> <p><em>Sibanggor Julu Village, located in Puncak Sorik Marapi District, Mandailing Natal Regency, is home to a traditional settlement known as the Ijuk Village, where most houses still use sugar palm fiber (ijuk) roofing. The traditional houses, settlement pattern, and surrounding natural landscape create a distinctive visual character that serves as the identity of the area's cultural tourism destination. This study aims to analyze the visual character of the Sibanggor Julu Traditional Village as the identity of a cultural tourism area by identifying the visual elements that shape its uniqueness. This study employed a descriptive qualitative method through field observations, documentation, literature review, and interviews.. The analysis was conducted based on seven visual character elements: dominance, uniqueness, unity, sequence, comfort, security, and beauty. The results indicate that the area's visual character is dominated by traditional stilt houses with ijuk roofs arranged along the hillside contours. The uniqueness of the village is reflected in the consistent use of ijuk roofing and the presence of Sampuran Binanga Waterfall, while visual unity is formed through the similarity of building forms and the use of natural materials. The village road corridor creates a visual sequence toward Mount Sorik Marapi, whereas comfort, security, and beauty are reinforced by the tranquil village atmosphere, community-based social surveillance, and preserved natural scenery. These seven elements collectively establish the visual identity of the Sibanggor Julu Traditional Village as a cultural tourism destination characterized by traditional Mandailing architecture. The findings are expected to support the preservation of the village's visual character and the sustainable development of cultural tourism.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25784FENOMENA HOMOSEKSUALITAS DI KOTA SURAKARTA2026-08-26T04:06:48+00:00Azizah Avika Istianaavikaazizah48@gmail.comAnniez Rachmawati Musslifahanniez@usahidsolo.ac.idFaqih Purnomosidifaqihpsychoum26@email.com<p>Penelitian ini bertujuan menggambarkan persepsi sosial, pengalaman interaksi, bentuk penerimaan dan penolakan, serta pandangan mengenai peran keluarga dan pemerintah terkait homoseksualitas di Kota Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data utama berupa tujuh transkrip wawancara semi-terstruktur terhadap informan berusia 22-26 tahun yang berdomisili, bekerja, atau menempuh pendidikan di Surakarta. Data dianalisis secara tematik melalui proses membaca ulang transkrip, mengelompokkan pernyataan yang memiliki kesamaan makna, menyusun tema, dan menafsirkan hubungan antartema. Hasil menunjukkan lima tema utama, yaitu: (1) dominasi persepsi negatif dan norma heteronormatif; (2) penerimaan yang cenderung bersyarat dan terbatas pada ruang relasi dekat; (3) pengalaman stigma, pengucilan, perundungan, dan penyembunyian identitas; (4) keluarga sebagai sumber kontrol sekaligus potensi dukungan; dan (5) ekspektasi terhadap respons pemerintah yang lebih edukatif dan tidak represif. Sebagian informan mengaitkan homoseksualitas dengan pengalaman masa lalu, keluarga, lingkungan, atau pergaulan. Namun, atribusi tersebut merupakan persepsi informan dan tidak dapat diperlakukan sebagai bukti sebab-akibat. Literatur psikologi menegaskan bahwa orientasi seksual tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa isu utama dalam pengalaman sosial bukan semata-mata keberadaan orientasi seksual yang berbeda, tetapi juga kuatnya stigma, tekanan sosial, dan mekanisme penerimaan yang bersyarat. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan sosial yang berbasis edukasi, penghormatan martabat manusia, pencegahan kekerasan, serta komunikasi keluarga yang tidak menghakimi.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25575EFEKTIVITAS STRETCHING DAN MICRO BREAK TERHADAP NECK PAIN PADA PEKERJA KANTORAN NARRATIVE REVIEW2026-08-18T12:48:22+00:00Farrel Althaffarrelalthaf3@gmail.comAsyhara Naela Arifinasyharanaela@unisayogya.ac.id<p>Latar Belakang : Pekerja kantoran rentan mengalami nyeri leher akibat aktivitas kerja statis dengan postur tidak ergonomis. Hal ini menyebabkan nyeri leher. Kombinasi stretching dan micro break merupakan intervensi fisioterapi yang efektif untuk mengurangi nyeri leher. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas program kombinasi stretching dan micro break untuk mengurangi nyeri leher pada pekerja kantoran. Metode : Penelitian ini menggunakan metode narrative review dengan pendekatan PICO. Literatur dari 5 publisher Scopus, BMC, MDPI, Taylor & Francis, dan Springer. Dari 25 artikel yang ditemukan, 20 artikel yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil : Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa stretching dan micro break efektif dalam mengurangi nyeri leher pekerja kantoran. Kesimpulan : Kombinasi intervensi ini dapat mengurangi keluhan nyeri leher.</p> <p><em>Background: Office workers are at risk of experiencing neck pain due to static work activities and non-ergonomic postures. These conditions can lead to neck pain. A combination of stretching and micro breaks is an effective physiotherapy intervention for reducing neck pain. Objective: To determine the effectiveness of a combined stretching and micro-break program in reducing neck pain among office workers. Methods: This study employed a narrative review method using a PICO approach. The literature was obtained from five publishers and databases, namely Scopus, BMC, MDPI, Taylor & Francis, and Springer. Of the 25 articles identified, 20 articles were selected based on the inclusion and exclusion criteria. Results: Most studies demonstrated that stretching and micro breaks were effective in reducing neck pain among office workers. Conclusion: This combination of interventions can reduce complaints of neck pain.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25025PRINSIP DOMINUS LITIS SEBAGAI PENGENDALI PERKARA DALAM HUKUM ACARA PIDANA DI INDONESIA2026-08-06T03:04:38+00:00Muhammad Aulya aulya24november1999@gmail.comIvan Zairani Lisiguest@sejurnal.comAlfian guest@sejurnal.com<p>Pelnellitian ini belrtujuan untuk melnganalisis pelnelrapan prinsip <em>dominus litis</em> dalam tahap pelmbuktian pada sistelm pelradilan pidana Indonelsia belrdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 selrta melngkaji pelnguatan pelran jaksa selbagai <em>dominus litis</em> dalam KUHAP telrbaru (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025). Prinsip <em>dominus litis</em> melnelmpatkan jaksa selbagai pelngelndali pelrkara yang melmiliki kelwelnangan stratelgis dalam melnelntukan kellayakan pelrkara untuk dilimpahkan kel pelngadilan. Pelnellitian ini melnggunakan meltodel pelnellitian doktrinal delngan pelndelkatan pelrundang-undangan dan konselptual, selrta dianalisis selcara kualitatif mellalui telori pelmbuktian pidana dan telori elfelktivitas hukum, dalam praktik belrdasarkan KUHAP 1981, pelran jaksa selbagai <em>dominus litis</em> bellum dijalankan selcara optimal, khususnya dalam tahap pelmbuktian. Hal ini telrcelrmin dari seljumlah putusan belbas dan lelpas yang diselbabkan olelh lelmahnya konstruksi dakwaan, keltidaktelpatan pelmilihan alat bukti, selrta kurang elfelktifnya koordinasi antara jaksa dan pelnyidik pada tahap prapelnuntutan. Pelnguatan pelran jaksa dalam KUHAP 2025 melmbelrikan lelgitimasi normatif yang lelbih telgas telrhadap fungsi pelngelndalian pelrkara, namun elfelktivitasnya sangat belrgantung pada profelsionalitas, intelgritas, selrta kelsiapan struktur kellelmbagaan pelnelgak hukum. Delngan delmikian, prinsip <em>dominus litis</em> tidak hanya melrupakan konselp normatif, mellainkan instrumeln stratelgis dalam melnjamin kualitas pelmbuktian, elfelktivitas pelnelgakan hukum, selrta telrwujudnya keladilan substantif dalam sistelm pelradilan pidana di Indonelsia.</p> <p><em>This study aims to analyze</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em> application of the</em><em>l</em><em> dominus litis principle</em><em>l</em><em> at the</em><em>l</em><em> e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>ntiary stage</em><em>l</em><em> within the</em><em>l</em><em> Indone</em><em>l</em><em>sian criminal justice</em><em>l</em><em> syste</em><em>l</em><em>m base</em><em>l</em><em>d on Law Numbe</em><em>l</em><em>r 8 of 1981, as we</em><em>l</em><em>ll as to e</em><em>l</em><em>xamine</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em> stre</em><em>l</em><em>ngthe</em><em>l</em><em>ning of the</em><em>l</em><em> prose</em><em>l</em><em>cutor’s role</em><em>l</em><em> as dominus litis unde</em><em>l</em><em>r the</em><em>l</em><em> ne</em><em>l</em><em>w Criminal Proce</em><em>l</em><em>dure</em><em>l</em><em> Code</em><em>l</em><em> (Law Numbe</em><em>l</em><em>r 20 of 2025). The</em><em>l</em><em> dominus litis principle</em><em>l</em><em> positions the</em><em>l</em><em> prose</em><em>l</em><em>cutor as the</em><em>l</em><em> controlle</em><em>l</em><em>r of criminal case</em><em>l</em><em>s, ve</em><em>l</em><em>ste</em><em>l</em><em>d with strate</em><em>l</em><em>gic authority to de</em><em>l</em><em>te</em><em>l</em><em>rmine</em><em>l</em><em> whe</em><em>l</em><em>the</em><em>l</em><em>r a case</em><em>l</em><em> is appropriate</em><em>l</em><em> to be</em><em>l</em><em> brought be</em><em>l</em><em>fore</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em> court, to formulate</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em> indictme</em><em>l</em><em>nt, and to dire</em><em>l</em><em>ct the</em><em>l</em><em> e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>ntiary strate</em><em>l</em><em>gy during trial proce</em><em>l</em><em>e</em><em>l</em><em>dings, this re</em><em>l</em><em>se</em><em>l</em><em>arch e</em><em>l</em><em>mploys a doctrinal le</em><em>l</em><em>gal re</em><em>l</em><em>se</em><em>l</em><em>arch me</em><em>l</em><em>thod using statutory and conce</em><em>l</em><em>ptual approache</em><em>l</em><em>s, and is analyze</em><em>l</em><em>d qualitative</em><em>l</em><em>ly through the</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em>ory of criminal e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>nce</em><em>l</em><em> and the</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em>ory of le</em><em>l</em><em>gal e</em><em>l</em><em>ffe</em><em>l</em><em>ctive</em><em>l</em><em>ne</em><em>l</em><em>ss. In practice</em><em>l</em><em> unde</em><em>l</em><em>r the</em><em>l</em><em> 1981 Criminal Proce</em><em>l</em><em>dure</em><em>l</em><em> Code</em><em>l</em><em>, the</em><em>l</em><em> prose</em><em>l</em><em>cutor’s role</em><em>l</em><em> as dominus litis has not be</em><em>l</em><em>e</em><em>l</em><em>n imple</em><em>l</em><em>me</em><em>l</em><em>nte</em><em>l</em><em>d optimally, particularly at the</em><em>l</em><em> e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>ntiary stage</em><em>l</em><em>. This is re</em><em>l</em><em>fle</em><em>l</em><em>cte</em><em>l</em><em>d in se</em><em>l</em><em>ve</em><em>l</em><em>ral acquittal and dismissal ve</em><em>l</em><em>rdicts re</em><em>l</em><em>sulting from we</em><em>l</em><em>ak indictme</em><em>l</em><em>nt constructions, imprope</em><em>l</em><em>r se</em><em>l</em><em>le</em><em>l</em><em>ction of e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>nce</em><em>l</em><em>, and ine</em><em>l</em><em>ffe</em><em>l</em><em>ctive</em><em>l</em><em> coordination be</em><em>l</em><em>twe</em><em>l</em><em>e</em><em>l</em><em>n prose</em><em>l</em><em>cutors and inve</em><em>l</em><em>stigators during the</em><em>l</em><em> pre</em><em>l</em><em>-prose</em><em>l</em><em>cution phase</em><em>l</em><em>, the</em><em>l</em><em> stre</em><em>l</em><em>ngthe</em><em>l</em><em>ning of the</em><em>l</em><em> prose</em><em>l</em><em>cutor’s role</em><em>l</em><em> unde</em><em>l</em><em>r the</em><em>l</em><em> 2025 Criminal Proce</em><em>l</em><em>dure</em><em>l</em><em> Code</em><em>l</em><em> provide</em><em>l</em><em>s firme</em><em>l</em><em>r normative</em><em>l</em><em> le</em><em>l</em><em>gitimacy to the</em><em>l</em><em> function of case</em><em>l</em><em> control; howe</em><em>l</em><em>ve</em><em>l</em><em>r, its e</em><em>l</em><em>ffe</em><em>l</em><em>ctive</em><em>l</em><em>ne</em><em>l</em><em>ss large</em><em>l</em><em>ly de</em><em>l</em><em>pe</em><em>l</em><em>nds on profe</em><em>l</em><em>ssionalism, inte</em><em>l</em><em>grity, and the</em><em>l</em><em> institutional re</em><em>l</em><em>adine</em><em>l</em><em>ss of law e</em><em>l</em><em>nforce</em><em>l</em><em>me</em><em>l</em><em>nt structure</em><em>l</em><em>s. The</em><em>l</em><em>re</em><em>l</em><em>fore</em><em>l</em><em>, the</em><em>l</em><em> dominus litis principle</em><em>l</em><em> should not me</em><em>l</em><em>re</em><em>l</em><em>ly be</em><em>l</em><em> unde</em><em>l</em><em>rstood as a normative</em><em>l</em><em> conce</em><em>l</em><em>pt, but as a strate</em><em>l</em><em>gic instrume</em><em>l</em><em>nt to e</em><em>l</em><em>nsure</em><em>l</em><em> the</em><em>l</em><em> quality of e</em><em>l</em><em>vide</em><em>l</em><em>nce</em><em>l</em><em>, the</em><em>l</em><em> e</em><em>l</em><em>ffe</em><em>l</em><em>ctive</em><em>l</em><em>ne</em><em>l</em><em>ss of law e</em><em>l</em><em>nforce</em><em>l</em><em>me</em><em>l</em><em>nt, and the</em><em>l</em><em> re</em><em>l</em><em>alization of substantive</em><em>l</em><em> justice</em><em>l</em><em> within the</em><em>l</em><em> Indone</em><em>l</em><em>sian criminal justice</em><em>l</em><em> syste</em><em>l</em><em>m</em>.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25746ETIKA SOSIAL DAN KEADILAN DALAM TEOLOGI KONTEMPORER2026-08-24T11:35:44+00:00Elizama Guloelizamagulo.glowfc@gmail.comAnnah Gustharina Saripurtaannahnusantara@gmail.comIra Maya Pasaribumayajosarama22@gmail.comPesta Sinagapestas49@gmail.com<p>Jurnal ini mengkaji secara mendalam tentang etika sosial dan keadilan dalam perspektif teologi kontemporer. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana berbagai arus teologi kontemporer, seperti teologi pembebasan, teologi feminis, teologi ekumenis, dan teologi kontekstual Indonesia, merumuskan konsep keadilan sosial dan mendorong gereja untuk terlibat aktif dalam transformasi masyarakat. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan analisis hermeneutik teologis, jurnal ini menemukan bahwa teologi kontemporer secara konsisten menekankan bahwa keadilan bukan sekadar nilai etis abstrak, melainkan merupakan ekspresi kongkret dari kasih Allah yang harus diwujudkan dalam realitas sosial politik. Para teolog seperti Gustavo Gutierrez, Jurgen Moltmann, Miroslav Volf, dan Nicholas Wolterstorff telah memberikan kontribusi signifikan dalam membangun kerangka etika sosial berbasis teologis yang relevan untuk konteks masa kini. Implikasi praktis kajian ini menuntut gereja untuk menjadi komunitas profetis yang memperjuangkan keadilan struktural, membela kaum marginal, dan berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat yang bermartabat. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, gereja dipanggil untuk menjadi agen rekonsiliasi dan keadilan yang melampaui batas-batas denominasi dan agama.</p> <p><em>This journal provides an in-depth examination of social ethics and justice from the perspective of contemporary theology. The study aims to analyze how various currents of contemporary theology, such as liberation theology, feminist theology, ecumenical theology, and Indonesian contextual theology, formulate concepts of social justice and encourage the church to engage actively in societal transformation. Employing a literature review and theological-hermeneutic analysis, the study finds that contemporary theology consistently emphasizes that justice is not merely an abstract ethical value but a concrete expression of God’s love that must be realized within socio-political realities. Theologians such as Gustavo Gutiérrez, Jürgen Moltmann, Miroslav Volf, and Nicholas Wolterstorff have made significant contributions to constructing a theologically grounded framework for social ethics that is relevant to the contemporary context. The practical implications of this study call upon the church to serve as a prophetic community that champions structural justice, advocates for the marginalized, and participates in building a society characterized by dignity. Within Indonesia’s pluralistic context, the church is called to act as an agent of reconciliation and justice that transcends denominational and religious boundaries.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25514PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER) DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP RETURN ON ASSETS (ROA) PADA SUB SEKTOR PRODUK DAN PERLENGKAPAN BANGUNAN DI BURSA EFEK INDONESIA 2022-20242026-08-16T09:33:36+00:00Anabellaanab4615@gmail.comSaridawatisaridawati.sti@bsi.ac.id<p>Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) dan ukuran perusahaan terhadap Return on Assets (ROA) pada perusahaan subsektor produk dan perlengkapan bangunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2022–2024. Penelitian ini berangkat dari pentingnya profitabilitas sebagai indikator dalam menilai keberhasilan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. ROA digunakan sebagai alat ukur profitabilitas, sedangkan DER digunakan untuk menggambarkan struktur modal perusahaan dan ukuran perusahaan diukur melalui total aset.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan yang dipublikasikan pada situs resmi Bursa Efek Indonesia. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga diperoleh 11 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian dari total 65 perusahaan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi data panel dengan bantuan aplikasi EViews 13. Berdasarkan hasil pemilihan model, penelitian menggunakan Random Effects Model (REM). Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa DER dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Sementara itu, hasil pengujian simultan menunjukkan bahwa DER dan ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap ROA perusahaan subsektor produk dan perlengkapan bangunan periode 2022–2024.</p> <p><em>This study aims to analyze the effect of Debt to Equity Ratio (DER) and company size on Return on Assets (ROA) in building products and equipment sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2022–2024 period. The study is based on the importance of profitability as an indicator of a company’s ability to generate profits from its assets. In this research, ROA is used to measure profitability, while DER reflects the company’s capital structure and company size is measured by total assets. This research applies a descriptive quantitative method using secondary data obtained from annual financial statements published on the official IDX website. The sampling technique used purposive sampling, resulting in 11 companies selected from 65 companies that met the research criteria. Data analysis was conducted using panel data regression with EViews 13 software. Based on the model selection test, the Random Effects Model (REM) was chosen as the most appropriate model. The results partially indicate that DER and company size do not significantly affect ROA. However, simultaneously, DER and company size have a significant effect on ROA in building products and equipment sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2022–2024.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/24953PENGARUH UKURAN PARTIKEL ADSORBEN HASIL PIROLISIS LIMBAH BIOMASSA SERBUK GERGAJI BATANG POHON KELAPA TERHADAP ADSORPSI LOGAM BESI (FE) & TIMBAL (PB) PADA AIR2026-08-03T06:10:25+00:00Andi Artiningsihandi.artiningsih@umi.ac.idSyarwan Hamidsyarwanhamid46@umi.ac.idRositarositahamzah12@gmail.comSulfiyantissulfiyanti2@gmail.com<p>Air merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup, namun kualitasnya terus menurun akibat pencemaran dan sanitasi yang buruk. Pencemaran air oleh limbah dan kontaminasi tinja dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti diare, disentri dan kolera. Oleh karena itu, pemantauan kualitas air sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah adsorpsi menggunakan bioadsorben dari hasil pirolisis serbuk gergaji batang pohon kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran partikel bioadsorben terhadap kemampuan adsorpsi logam Fe dan Pb pada limbah cair. Penelitian dilakukan menggunakan bioadsorben dengan variasi ukuran partikel 70, 100, 120, 140 dan 200 mesh. Proses adsorpsi dilakukan terhadap 50 mL limbah cair menggunakan 0,5 g adsorben untuk Fe selama 150 menit dan 1 g adsorben untuk Pb selama 90 menit. Konsentrasi logam sebelum dan sesudah adsorpsi dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran partikel adsorben, semakin tinggi kemampuan adsorpsinya. Ukuran partikel 200 mesh memberikan hasil terbaik dengan menurunkan konsentrasi Fe dari 2,5849 menjadi 0,0473 mg/L (efisiensi 98,2%) dan Pb dari 3,4260 menjadi 0,0178 mg/L (efisiensi 99,5%). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variasi ukuran partikel berpengaruh terhadap efisiensi adsorpsi logam Fe dan Pb, dengan ukuran partikel 200 mesh memberikan hasil terbaik di antara variasi ukuran partikel yang diuji. Bioadsorben hasil pirolisis serbuk gergaji batang pohon kelapa berpotensi menjadi adsorben alternatif yang efektif, ramah lingkungan dan ekonomis untuk pengolahan limbah cair yang mengandung logam berat.</p> <p><em>Water is a basic necessity for all living organisms; however, its quality continues to decline due to pollution and poor sanitation. Water pollution caused by wastewater and fecal contamination can lead to various diseases, such as diarrhea, dysentery, and cholera. Therefore, monitoring water quality is essential to protect public health. One alternative method for treating contaminated water is adsorption using bioadsorbents produced through the pyrolysis of coconut trunk sawdust. This study aimed to determine the effect of bioadsorbent particle size variation on the adsorption capacity of iron (Fe) and lead (Pb) in wastewater. The bioadsorbent was prepared in five particle sizes: 70, 100, 120, 140, and 200 mesh. The adsorption process was carried out using 0.5 g of adsorbent for Fe with a contact time of 150 minutes and 1 g of adsorbent for Pb with a contact time of 90 minutes in 50 mL of wastewater. Metal concentrations before and after adsorption were analyzed using an Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that smaller particle sizes resulted in higher adsorption capacities. The 200-mesh bioadsorbent exhibited the best performance, reducing the Fe concentration from 2.5849 to 0.0473 mg/L (98.2% removal efficiency) and the Pb concentration from 3.4260 to 0.0178 mg/L (99.5% removal efficiency). The results of this study indicate that particle size variation affects the adsorption efficiency of Fe and Pb, with the 200-mesh particle size providing the best performance among the particle sizes tested. Furthermore, the bioadsorbent produced from the pyrolysis of coconut trunk sawdust has the potential to serve as an effective, environmentally friendly, and cost-effective alternative adsorbent for the treatment of heavy metal-contaminated wastewater</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25682PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD PAB 1 KLUMPANG2026-08-22T08:48:22+00:00Widya Afri Shintyawidyagituloh04@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD PAB 1 Klumpang. Lingkungan belajar merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses dan keberhasilan belajar siswa, baik yang berasal dari lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD PAB 1 Klumpang, sedangkan sampel penelitian ditentukan berdasarkan teknik sampling yang digunakan oleh peneliti. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket lingkungan belajar dan dokumentasi hasil belajar siswa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan belajar memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD PAB 1 Klumpang. Dengan demikian, semakin baik lingkungan belajar yang diterima siswa, maka semakin baik pula hasil belajar yang dapat dicapai. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah, guru, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, kondusif, dan mendukung peningkatan hasil belajar siswa.</p> <p><em>This study aims to determine the effect of the learning environment on the learning outcomes of fourth-grade students at SD PAB 1 Klumpang. The learning environment is one of the factors that can influence the learning process and students’ academic achievement, both from the school and family environments. This study employed a quantitative approach using a correlational research method. The population of this study consisted of all fourth-grade students at SD PAB 1 Klumpang, while the research sample was determined based on the sampling technique used by the researcher. Data were collected through a learning environment questionnaire and documentation of students’ learning outcomes. The collected data were analyzed using statistical analysis to determine the effect of the learning environment on students’ learning outcomes. The results showed that the learning environment had an effect on the learning outcomes of fourth-grade students at SD PAB 1 Klumpang. Therefore, the better the learning environment provided to students, the better their learning outcomes can be. This study is expected to provide useful input for schools, teachers, and parents in creating a comfortable, conducive, and supportive learning environment to improve students’ learning outcomes.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25362PENGGUNAAN MATERIAL FASAD BANGUNAN KANTOR BUPATI LANGKAT DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR2026-08-12T11:43:27+00:00Mutiara Sumantrimutiara.210160087@mhs.unimal.ac.idSoraya Masthura Hassansoraya.masthura@unimal.ac.idFidyatifidyati@unimal.ac.id<p>Kantor Bupati Kabupaten Langkat merupakan bangunan pemerintahan yang berfungsi sebagai pusat administrasi sekaligus representasi identitas daerah. Sebagai bangunan publik, fasad Kantor Bupati Langkat dituntut untuk tidak hanya tampil fungsional dan modern, tetapi juga mampu menghadirkan kembali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Melayu Langkat melalui pemilihan material dan elemen visualnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penggunaan material fasad bangunan Kantor Bupati Langkat serta menilai sejauh mana material tersebut mencerminkan pendekatan arsitektur Neo Vernakular. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, di mana data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, dan studi literatur mengenai teori arsitektur Neo Vernakular menurut Charles Jencks. Analisis dilakukan terhadap elemen atap, dinding, kolom, material penutup lantai teras, bukaan, serta ornamen pada fasad bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasad Kantor Bupati Langkat menampilkan perpaduan antara material modern seperti beton, kaca, aluminium composite panel, dan keramik, dengan elemen vernakular Melayu berupa bentuk atap limasan bertingkat, penggunaan warna kuning dan hijau sebagai simbol kebesaran Melayu, ornamen ukiran khas Melayu pada lisplang dan kolom, serta material batu alam jenis andesit dan marmer bakar pada area teras dan halaman. Perpaduan ini menunjukkan bahwa bangunan Kantor Bupati Langkat merupakan wujud penerapan arsitektur Neo Vernakular, yaitu penggabungan teknologi dan material bangunan modern dengan nilai simbolik serta identitas visual arsitektur tradisional Melayu, sebagai upaya menghadirkan citra kelembagaan pemerintahan yang kontekstual dengan budaya lokal.</p> <p><em>The Regent's Office of Langkat Regency is a government building that functions as an administrative center as well as a representation of regional identity. As a public building, the facade of the Langkat Regent's Office is required not only to appear functional and modern, but also to be able to reintroduce the local wisdom values of the Langkat Malay community through the selection of materials and visual elements. This study aims to identify and analyze the use of facade materials of the Langkat Regent's Office building and to assess the extent to which these materials reflect a Neo Vernacular architectural approach. This research uses a descriptive qualitative method with a case study approach, in which data were obtained through field observation, visual documentation, and a literature study on Neo Vernacular architectural theory according to Charles Jencks. The analysis focuses on the roof, walls, columns, terrace flooring materials, openings, and ornaments on the building facade. The results show that the facade of the Langkat Regent's Office displays a combination of modern materials such as concrete, glass, aluminum composite panel, and ceramics, with Malay vernacular elements in the form of a tiered pyramidal roof, the use of yellow and green colors as symbols of Malay grandeur, distinctive Malay carved ornaments on the fascia and columns, as well as andesite natural stone and burnt marble materials on the terrace and yard areas. This combination shows that the Langkat Regent's Office building is a manifestation of the application of Neo Vernacular architecture, namely the combination of modern building technology and materials with the symbolic value and visual identity of traditional Malay architecture, as an effort to present an institutional image of government that is contextual with local culture</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/24883IDENTIFIKASI KONSEP ARSITEKTUR TIMUR TENGAH BERDASARKAN ELEMEN MASJID PADA MASJID AGUNG KOTA TEBING TINGGI2026-07-31T11:42:07+00:00Adinda Hayun Nisaadinda.220160138@mhs.unimal.ac.idArmelia Dafrinaarmelia@unimal.ac.idHendra Aiyubhendraaiyub@unimal.ac.id<p>Masjid merupakan bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan simbol perkembangan arsitektur Islam. Seiring berkembangnya arsitektur masjid di Indonesia, konsep arsitektur Timur Tengah banyak diterapkan pada bangunan masjid modern, termasuk Masjid Agung Kota Tebing Tinggi. Masjid ini memiliki elemen-elemen seperti kubah, minaret, lengkungan, dan ornamen yang menunjukkan karakteristik arsitektur Timur Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsep arsitektur Timur Tengah berdasarkan elemen-elemen masjid yang diterapkan pada Masjid Agung Kota Tebing Tinggi serta menganalisis keterkaitan elemen-elemen tersebut dengan karakteristik arsitektur Timur Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan terhadap elemen-elemen masjid berdasarkan teori dan dibandingkan dengan karakteristik arsitektur masjid pada beberapa periode perkembangan arsitektur Islam. Hasil penelitian diharapkan dapat mengidentifikasi konsep arsitektur Timur Tengah yang dominan diterapkan pada Masjid Agung Kota Tebing Tinggi serta menjadi referensi dalam pengembangan kajian arsitektur masjid dan pelestarian identitas arsitektur Islam di Indonesia.</p> <p><em>Mosques are structures that serve not only as places of worship but also as hubs for religious activities and symbols of the evolution of Islamic architecture. As mosque architecture in Indonesia has evolved, Middle Eastern architectural concepts have been widely adopted in modern mosque designs, including the Great Mosque of Tebing Tinggi City. This mosque incorporates features such as domes, minarets, arches, and ornamentation that reflect Middle Eastern architectural characteristics. This study aims to identify the Middle Eastern architectural concepts applied to the Great Mosque of Tebing Tinggi City through its architectural elements and to analyze the relationship between these elements and the characteristics of Middle Eastern architecture. A qualitative descriptive approach was employed, utilizing data collection methods such as observation, documentation, and literature review. The mosque's elements were analyzed based on architectural theory and compared with the characteristics of mosque architecture from various periods of Islamic architectural history. The findings are expected to identify the dominant Middle Eastern architectural concepts applied to the Great Mosque of Tebing Tinggi City and serve as a reference for the further study of mosque architecture and the preservation of Islamic architectural identity in Indonesia.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25615EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA SATUAN LUAS TANAH TRADISIONAL (Ru)2026-08-21T02:14:12+00:00Winnona Tidynonatidy10@gmail.comRatri Candra Hastariratricandrahastari@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksplorasi etnomatematika pada budaya masyarakat tulungagung dalam penyebutan satuan luas tanah (Ru). Instrumen yang digunakan adalah peneliti sebagai instrumen utama, serta pedoman wawancara dan kamera sebagai instrumen pendukung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi digunakan untuk menghasilkan deskripsi budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa satuan luas tanah Ru sudah ada sejak berlakunya Agrarische Wet tahun 1870, hukum agraria dari Belanda. Meskipun satuan luas tanah Ru masih digunakan hingga sekarang, namun disaat akan melakukan sertifikasi tanah harus dilakukan pengukuran ulang karena ketika dikonversi ke standar ukuran yang digunakan oleh Badan Pertanahan Nasional, yaitu meter persegi, terjadi perbedaan ukuran yang menyebabkan perbedaan ukuran antara desa (Ru) dan Badan Pertanahan Nasional (m2). Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk memastikan bahwa batas-batas tanah masih sesuai dengan ukuran yang didokumentasikan dalam surat tanah serta tidak merugikan penjual saat melakukan proses jual beli. Dalam satuan luas tanah Ru terdapat unsur matematika yaitu konsep aritmatika sosial pada konteks dilakukannya perubahan luas tanah dari satuan Ru menjadi m2. Sedangkan dalam konteks hubungan Ru dengan satuan luas tanah tradisional lainnya terdapat konsep barisan geometri didalamnya. Dengan demikian didalam satuan luas tanah Ru terdapat unsur matematika.</p> <p><em>This study aims to describe ethnomathematics exploration of the culture of the Tulungagung community in terms of land area units (Ru). The instruments used were the researcher as the main instrument, as well as interview guides and cameras as supporting instruments. This research is a qualitative research with an ethnographic approach. An ethnographic approach is used to produce cultural descriptions. The results of this study indicate that the unit area of land Ru has existed since the enactment of the Agrarische Wet in 1870, the Dutch agrarian law. Even though the unit area of land Ru is still used today, when land titling is being carried out, it must be re-measured because when it is converted to the standard size used by the National Land Agency, namely meters squared, there is a difference in size which causes a difference in size between village (Ru) and National Land Agency (m2). The purpose of this measurement is to ensure that the boundaries of the land are still in accordance with the measurements documented in the land certificate and do not harm the seller during the buying and selling process. In the unit of land area Ru there is a mathematical element, namely the concept of social arithmetic in the context of changing the land area from the unit Ru to m2. Meanwhile, in the context of the relationship between Ru and other traditional units of land area, there is the concept of geometric sequences in it. Thus in the land area unit Ru there is a mathematical element.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25347PLACE ATTACHMENT PENGUNJUNG PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG KOTA LANGSA SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DAN DESTINASI WISATA ALAM2026-08-11T11:54:38+00:00Suci Kumalasuci.210160017@mhs.unimal.ac.id Rinaldi Mirsarinaldi@unimal.ac.idYenny Noviantiyenny.novianti@unimal.ac.id<p>Kawasan Hutan Lindung Kota Langsa merupakan ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi ekologis, edukatif, rekreatif, dan sosial serta menjadi destinasi wisata dengan jumlah kunjungan tertinggi di Kota Langsa. Meskipun sebagian fasilitas, terutama pada Zona Rekreasi Aktif, mengalami penurunan kualitas, kawasan ini tetap mempertahankan tingkat kunjungan yang tinggi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya tarik kawasan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh keterikatan pengunjung terhadap tempat (place attachment). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat place attachment pengunjung, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta merumuskan rekomendasi pengembangan kawasan berbasis place attachment. Penelitian menggunakan metode mixed methods melalui observasi lapangan, dokumentasi, wawancara semi-terstruktur, dan penyebaran kuesioner kepada 100 responden. Analisis dilakukan berdasarkan kerangka Tripartite Organizing Framework yang mencakup tiga dimensi utama, yaitu person, psychological process (afektif, kognitif, perilaku), dan place, mengacu pada Altman dan Low (1992) serta Scannell dan Gifford (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat place attachment pengunjung secara keseluruhan berada pada kategori sedang, dengan 69,23% indikator berkategori sedang dan 30,77% berkategori tinggi. Zona Rekreasi Alam memiliki tingkat keterikatan tertinggi dengan total keterikatan individu sebesar 41,6% dan didominasi oleh pengalaman ruang alami, kenyamanan, serta kualitas lanskap yang baik. Sebaliknya, Zona Rekreasi Aktif menunjukkan tingkat keterikatan lebih rendah akibat penurunan kualitas fasilitas dan wahana. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa karakter lingkungan alami, pengalaman ruang, dan makna kawasan lebih berpengaruh terhadap pembentukan place attachment dibandingkan kelengkapan fasilitas fisik. Oleh karena itu, pengembangan kawasan perlu diarahkan pada peningkatan kualitas fasilitas tanpa mengurangi karakter alami yang menjadi identitas utama Kawasan Hutan Lindung Kota Langsa.</p> <p><em>The Langsa Protected Forest Area is an urban green open space that serves ecological, educational, recreational, and social functions and is the most visited tourist destination in Langsa City. Although several facilities, particularly in the Active Recreation Zone, have deteriorated, the area continues to attract a high number of visitors. This phenomenon indicates that the attractiveness of the area is influenced not only by its physical condition but also by visitors' place attachment. This study aims to analyze the level of visitors' place attachment, identify the factors influencing it, and formulate recommendations for area development based on the concept of place attachment. A mixed-method approach was employed, integrating field observations, documentation, semi-structured interviews, and questionnaires distributed to 100 respondents. The analysis was conducted using the Tripartite Organizing Framework comprising three main dimensions—person, psychological process (affective, cognitive, behavioral), and place—based on Altman and Low (1992) and Scannell and Gifford (2010). The results indicate that the overall level of visitors' place attachment falls into the moderate category, with 69.23% of the indicators classified as moderate and 30.77% as high. The Natural Recreation Zone demonstrated the strongest level of attachment, with an individual attachment score of 41.6%, primarily influenced by the natural landscape, environmental comfort, and high-quality spatial experience. In contrast, the Active Recreation Zone exhibited a lower level of attachment due to the deterioration of recreational facilities. The findings suggest that the natural character of the environment, spatial experience, and place meaning play a more significant role in shaping place attachment than the availability of physical facilities alone. Therefore, future management should prioritize improving supporting facilities while preserving the area's natural character as its primary identity.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25815KOLABORASI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BIMBINGAN KONSELING DALAM PENENTUAN MINAT BELAJAR BAGI SISWA TERINDIKASI BROKEN HOME DI SMK NEGERI 2 BONE2026-08-27T05:18:29+00:00Nur Hikmahnr.hikm14@gmail.comAli Halidinalihalidin2576@gmail.comIshaqishaq@iain-bone.ac.id<p>Kondisi keluarga yang tidak utuh atau broken home dapat berdampak pada aspek psikologis, emosional, hingga konsentrasi dan minat belajar siswa. Kurangnya perhatian dan dukungan dari lingkungan keluarga berpotensi menimbulkan kebingungan dalam menentukan arah dan minat belajar yang sesuai bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kolaborasi antara guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan guru Bimbingan Konseling (BK), serta peran kolaborasi tersebut dalam penentuan minat belajar siswa yang terindikasi berasal dari keluarga broken home di SMKN 2 Bone. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi yang terjalin meliputi penyusunan program bimbingan bersama, pertukaran informasi mengenai kondisi dan perkembangan siswa, serta pendampingan terpadu secara berkelanjutan. Kolaborasi tersebut berperan penting dalam mengidentifikasi potensi, bakat, dan kecenderungan minat belajar siswa secara lebih akurat, sehingga arahan dan layanan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi psikologis siswa. Melalui pendekatan nilai agama dan konseling yang saling melengkapi, siswa merasa lebih dipahami dan dibimbing untuk mengenali kelebihan diri, sehingga dapat menumbuhkan keyakinan dan semangat belajar yang lebih baik. Secara keseluruhan, kerja sama antara guru PAI dan BK memberikan kontribusi positif dan signifikan dalam membangkitkan, mengarahkan, dan menetapkan minat belajar siswa dari keluarga broken home, agar siswa tetap memiliki motivasi belajar dan arah pengembangan diri yang terjaga meskipun berada dalam kondisi keluarga yang tidak utuh. Implikasi penelitian ini secara Islam, kerja sama guru PAI dan BK mencerminkan ta’awun, penguatan iman menumbuhkan ketabahan, dan pendekatan kasih sayang mencerminkan sifat rahmah. Secara pendidikan, penentuan minat butuh pendekatan menyeluruh serta sistem kerja sama terpadu. Keselarasan pendampingan sekolah dan keluarga juga diperlukan agar bimbingan berjalan efektif.</p> <p><em>This study aims to describe the forms of collaboration between Islamic Religious Education (PAI) teachers and Guidance and Counseling (BK) teachers, as well as the role of such collaboration in determining the learning interests of students indicated as coming from broken homes at SMKN 2 Bone. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The results indicate that the established collaboration includes jointly developing guidance programs, exchanging information on students’ conditions and development, and providing integrated and continuous mentoring. This collaboration plays a vital role in identifying students’ potential, talents, and learning interest tendencies more accurately, so that guidance and services can be tailored to their needs and psychological conditions. Overall, the cooperation between PAI and BK teachers contributes positively and significantly to fostering, directing, and establishing the learning interests of students from broken homes, helping them maintain learning motivation and clear personal development directions despite their family circumstances. The implications of this study are as follows: from an Islamic perspective, the collaboration between Religious Education and Counseling teachers reflects the principle of ta'awun (cooperation for good), strengthening faith fosters resilience, and an approach of compassion embodies the quality of rahmah (mercy). From an educational perspective, identifying students’ interests requires a holistic approach and an integrated collaborative system. Alignment between school and family support is also necessary to ensure effective guidance.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25589RANCANGAN SISTEM DETEKSI PELAT NOMOR KENDARAAN DENGAN METODE CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK (CNN) DAN OPTICAL CHARACTER RECOGNITION (ORC) UNTUK KLASIFIKASI WILAYAH ADMINISTRATIF2026-08-19T12:36:16+00:00Rian Saputrariansaputra291200@gmail.comBambang Krismonobkrismono@universitasbumigora.ac.idMuhammad Zulfikrimzulfikri@universitasbumigora.ac.id<p>Pelat nomor kendaraan merupakan identitas resmi kendaraan yang juga memuat informasi mengenai wilayah administratif pendaftaran kendaraan. Proses identifikasi wilayah berdasarkan pelat nomor secara manual memiliki keterbatasan dalam hal efisiensi dan pengolahan data dalam jumlah besar. Oleh karena itu, diperlukan suatu rancangan sistem yang mampu mendeteksi pelat nomor kendaraan secara otomatis, mengenali karakter pada pelat, serta mengklasifikasikan wilayah administratif berdasarkan kode yang terdapat pada pelat nomor. Penelitian ini bertujuan merancang sistem deteksi pelat nomor kendaraan menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN) dan Optical Character Recognition (OCR) untuk melakukan klasifikasi wilayah administratif.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan tahapan studi literatur dan perancangan sistem menggunakan metode Rapid Application Development (RAD). Rancangan sistem terdiri dari proses input citra kendaraan, preprocessing citra yang meliputi resize, grayscale, noise reduction, dan normalisasi, kemudian dilanjutkan dengan deteksi lokasi pelat menggunakan CNN. Area pelat yang terdeteksi selanjutnya dilakukan cropping dan diproses menggunakan OCR untuk mengenali karakter huruf dan angka. Hasil pembacaan karakter kemudian dinormalisasi dan dicocokkan dengan database kode wilayah administratif. Rancangan klasifikasi difokuskan pada wilayah Pulau Lombok, yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara. Hasil perancangan menghasilkan alur sistem yang mengintegrasikan deteksi objek menggunakan CNN, pembacaan karakter menggunakan OCR, serta pencocokan kode wilayah untuk menghasilkan informasi nomor pelat dan wilayah administratif kendaraan. Sistem yang dirancang dapat menjadi dasar pengembangan sistem identifikasi kendaraan secara otomatis. Keberhasilan rancangan dapat dievaluasi berdasarkan indikator deteksi pelat, akurasi pembacaan karakter OCR, akurasi nomor pelat, akurasi klasifikasi wilayah, waktu proses, dan keberhasilan keseluruhan sistem</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25228PEMBUATAN BIOPLASTIK DARI PATI KULIT SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA) DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL SEBAGAI PLASTICIZER2026-08-09T10:09:51+00:00Fitri Ayuning Tiasfayu63630@gmail.comDwi Kaila Putridwikailaputriiii@gmail.comNurjannahnurjannah.nurjannah@umi.ac.idLastri Wiyanilastri.wiyani@umi.ac.id<p>Peningkatan penggunaan plastik konvensional menyebabkan penumpukan limbah yang sulit terurai dan menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah bioplastik berbahan baku alami yang mudah terdegradasi. Pati merupakan polimer alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar bioplastik karena bersifat ramah lingkungan, mudah terurai, tersedia dalam jumlah besar, dan memiliki biaya relatif terjangkau. Kulit singkong sebagai limbah hasil pengolahan singkong masih mengandung pati sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik. Penelitian mengenai pemanfaatan pati kulit singkong masih terbatas, khususnya terkait pengaruh variasi konsentrasi gliserol terhadap karakteristik bioplastik. Gliserol sebagai plasticizer yang berfungsi untuk meningkatkan fleksibilitas film, namun penggunaannya perlu dikontrol karena dapat memengaruhi sifat fisik dan mekanik bioplastik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi gliserol terhadap sifat fisik yang meliputi kadar air, daya serap, dan ketebalan serta sifat mekanik berupa elongasi pada bioplastik berbasis pati kulit singkong hingga memenuhi standar bioplastik yang berlaku. Penelitian diawali dengan preparasi pati kulit singkong melalui proses pencucian, penghancuran, penyaringan, pengendapan selama dua belas jam, pengeringan pada suhu 70°C, dan pengayakan. Pembuatan bioplastik dilakukan menggunakan pati kulit singkong sebanyak 5 gram, aquadest 100 mL, dan variasi konsentrasi gliserol 0% (0mL), 10% (0,4mL), 20%(0,8mL), 30%(1,2mL), 40%(1,6mL), serta 50%(2mL). Campuran dipanaskan pada suhu 70–80°C selama 30 menit, dicetak, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 50–60°C selama 24 jam. Bioplastik yang dihasilkan selanjutnya diuji ketebalan, kadar air, elongasi, dan daya serap air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gliserol berpengaruh terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik berbahan dasar pati kulit singkong. Semakin tinggi konsentrasi gliserol yang ditambahkan, maka ketebalan, kadar air, elongasi, dan daya serap air meningkat. Nilai ketebalan meningkat dari 0,2 mm menjadi 0,9 mm, kadar air dari 12,47% menjadi 29,84%, elongasi dari 0,00% menjadi 38,33%, dan daya serap air dari 131,25% menjadi 160,58%. Konsentrasi gliserol 50% menghasilkan nilai tertinggi pada seluruh parameter yang diuji.</p> <p><em>The increasing use of conventional plastics has led to an accumulation of non-biodegradable waste and various environmental issues. One viable alternative is the development of bioplastics made from natural, biodegradable materials. Starch is a natural polymer suitable as a bioplastic base due to its eco-friendliness, biodegradability, abundant availability, and relatively low cost. Cassava peel, a byproduct of cassava processing, still contains starch, making it a potential raw material for bioplastics. Research on the utilization of cassava peel starch remains limited, particularly regarding the effect of varying glycerol concentrations on bioplastic characteristics. Glycerol acts as a plasticizer to enhance film flexibility; however, its usage requires careful control as it influences the physical and mechanical properties of the bioplastic. This study aims to determine the effect of varying glycerol concentrations on physical properties—specifically moisture content, water absorption, and thickness-and mechanical properties (elongation) of cassava peel starch-based bioplastics, ensuring they meet applicable standards. The study began with the preparation of cassava peel starch through washing, crushing, filtering, sedimentation for twelve hours, drying at 70°C, and sieving. Bioplastics were produced using 5 grams of cassava peel starch, 100 mL of distilled water, and varying glycerol concentrations 0% (0 mL), 10% (0,4 mL), 20% (0,8 mL), 30%(1,2 mL), 40%(1,6 mL), and 50%(2 mL). The mixture was heated at 70-80°C for 30 minutes, cast into molds, and subsequently dried in an oven at 50-60°C for 24 hours. The resulting bioplastics were then tested for thickness, moisture content, elongation, and water absorption. The results indicate that the addition of glycerol affects the physical and mechanical properties of cassava peel starch-based bioplastics. Higher glycerol concentrations led to increases in thickness, moisture content, elongation, and water absorption. The thickness increased from 0.2 mm to 0.9 mm, moisture content from 12.47% to 29.84%, elongation from 0,00% to 38.33%, and water absorption from 131.25% to 160.58%. A glycerol concentration of 50% yielded the highest values for all tested parameters.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25767PENGARUH KESADARAN WAJIB PAJAK DAN PENERAPAN APLIKASI CORE TAX SYSTEM PPN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK BADAN PADA GHACOAN YASMIN BOGOR2026-08-25T03:01:58+00:00Ningsih Hikmawatiningsihhikmawatipdbi@gmail.comDian Puspita Ramadhanguest@jurnalhst.comAtik Andrianguest@jurnalhst.com<p>Sebuah perusahaan yaitu Ghacoan di Bogor umumnya didirikan oleh sebuah entitas bisnis berskala besar yang terdampak langsung oleh transisi digital ini. Penelitian ini diharapkan yaitu dapat membantu perusahaan Ghacoan di Bogor untuk mengevaluasi dari informasi mengenai manfaat dan tantangan implementasi aplikasi Core Tax System dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Penelitian ini merupakan suatu penelitian kuantitatif, menggunakan EVIEWS 8. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak secara parsial berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Penerapan aplikasi coretax system PPN secara parsial berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Dan Kesadaran wajib pajak dan penerapan aplikasi coretax system PPN secara simultan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan.Dapat disimpulkan bahwa Kesadaran Wajib Pajak berpengaruh secara parsial terhadap Kepatuhan Wajib PPN. Artinya, peningkatan kesadaran wajib pajak justru berkorelasi dengan peningkatan kepatuhan wajib pajak. Fenomena ini bisa jadi disebabkan oleh persepsi wajib pajak tentang suatu beban pajak yang terlalu tinggi, ketidakpuasan terhadap transparansi pengelolaan dana PPN di Ghacoan Bogor, atau faktor eksternal lainnya yang membuat mereka patuh meskipun sadar akan kewajibannya. Dapat disimpulkan bahwa penerapan aplikasi coretax system PPN secara parsial berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan artinya semakin baik penerapan Coretax System, semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak. Hal ini terlihat dari penilaian responden yang baik terhadap kemudahan memperoleh informasi perpajakan PPN, integrasi data, kemudahan pelaporan daring, dan fleksibilitas akses sistem. Serta dapat disimpulkan bahwa dari kesadaran wajib pajak dan penerapan aplikasi coretax system PPN secara simultan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Artinya Core tax dapat memberikan rasa keadilan di kalangan wajib pajak yang telah patuh dimana sistem data pemadanan NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dapat memberikan penggunaan data yang akurat wajib pajak tidak dapat lagi menghidar dari kewajibannya. Sistem Coretax ini dapat memastikan bahwa seluruh wajib pajak akan di perlakukan secara adil, berdasarkan data yang sebenarnya tanpa dapat menghindar. Dari kewajibannya. Setiap daya yang masuk core tax yaitu menghitung secara objektif dan konsisten yang memberikan rasa nyaman dan adil kepada semua wajib pajak di Direktorat Jendral Pajak.Kepatuhan pajak dalam membayar pajak PPN pada Ghacoan di Bogor yaitu dari memasukkan dan melaporkan pada waktunya informasi yang diperlukan mengisi secara benar jumlah pajak yang terutang, dan membayar pajak pada waktunya, dan tanpa ada tindakan pemaksaan.Serta menjalankan kebijakan pajak dalam sistem pemungutan pajak menggunakan sistem self assesment system yaitu suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, penuh kepada wajib pajak untuk menghitung, menyetorkan, dan melaporkan sendiri besarnya utang pajak di DJP. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah bagi penulis: dapat menambah pengetahuan pajak mengenai pengaruh core tax system terhadap kepatuhan wajib pajak badan terutama PPN pada ghacoan Yasmin Bogor, Wajib Pajak dengan patuh membayar pajak PPN (Pajak Pertambahan Nilai) secara tepat waktu dapat meningkatkan pendapatan bagi negara, yaitu dari pajak PPN. Tingkatkan literasi digital melalui partisipasi aktif pelatihan resmi di Direktorat Jenderal Pajak, dapat secara optimal untuk memenuhi kewajiban perpajakan dan menghindari denda telat bayar pajak, bagi Pemerintah dan Otoritas Pajak: Perluas program sosialisasi coretax secara inklusif, terutama bagi wajib pajak badan skala kecil, serta integrasi data dan keamanan sistem Coretax untuk membangun kepercayaan, evaluasi efektivitas coretax dapat dilakukan melalui survei kepuasan, serta mengetahui seberapa besar tingkat kepatuhan pajak dalam pajak PPN, penelitian Selanjutnya: Perluas sampel ke wilayah gunakan analisis untuk melihat dampak jangka panjang, bagi Akademisi Atau Program Akuntansi Perpajakan: Penelitian lanjutan dapat mengintegrasikan variabel kepercayaan pada otoritas pajak atau dampak ekonomi, serta mengenal coretax mengenai PPN. Obyek penelitian yang lebih luas, sehingga hasil penelitian dapat dijadikan acuan bagi Ghacoan Yasmin Bogor ini terletak di Jalan Raya Cilendek, Bogor, di perempatan Yasmin Semplak.</p> <p><em>Gahcoan a company based in Bogor, is a large-scale business entity directly affected by the angoing digital transition. This study aims to assist Ghacoan in evauating information regarding the benefitsand challenges associated with implementing the Core Tax System application to meet tax obligations. Employing a quatitative research design and utilizing Eviews 8 software, the study reveals that taxpayer awareness has a partial effect on corporate taxpayer compliance. Similary, the implementation of the VAT Core Tax System Application partially influences corporate taxpayer compliance. Furthermore, taxpayer awareness and the implimentation of the VAT Core Tax System application jointly (simultaneously) influence corporate taxpayer compliance. It can be concluded that taxpayer awareness has a partial impact on VAT taxpayer compliance, specifically , an increase in taxpayer awareness correlates with an increase in taxpayer compliance. This phenomenon may stem from taxpayer perceptions of exvcessive tax burdens, dissatisfaction with the transparency of VAT fund management at Ghacoan Bogor, or other external factors that drive compliance despite their awareness of the obligations involved. It can be concluded that the implemetation of the VAT Coretax System application has a partial effect on corporate taxpayer compliance, in other words, the better the implementation of teh Coretax System, the higher the level of taxpayer compliance. This is evident from the repondents positive asessment regarding the ease of obtaining VAT related information, data integration the convenience of online reporting, and system access flexibility. Furthermore, it can be concluded that taxpayer awareness and the implemetation of the VAT Coretax System application simultameously influence corporate taxpayer compliance. In essence, the Core Tax system fosters a sense of fairness among compliant taxpayers; the data-matching mechanism between the NIK (Population Identification Number) and NPWP (Taxpayer Identification Number) ensures data accuracy, making it impossible for taxpayers to evade their obligations. The Core Tax system guarantees that all taxpayers are treated equitably based on factual data, leaving no room for obligation avoidance. Every data entry into the Core Tax system is processed objectively and consistently, instilling a sense of comfort and fairness among taxpayers dealing with the Directorate General of Taxes (DGT). Regarding VAT compliance at Ghacoan in Bogor, this entails the timely submission and reporting of required information, the accurate calculation of tax liabilities, and timely payment without the need for enforcement actions. Furthermore, it involves adhering to the tax policy's self-assessment mechanism, which grants taxpayers full authority to calculate, remit, and report their own tax liabilities to the DGT. For future research, the author suggests expanding knowledge regarding the impact of the Core Tax system on corporate taxpayer compliance—specifically concerning VAT at Ghacoan Yasmin, Bogor—as timely VAT compliance contributes to increased state revenue. Enhance digital literacy through active participation in official training provided by the Directorate General of Taxation to optimally fulfill tax obligations and avoid late-payment penalties. For the Government and Tax Authorities: Expand inclusive Coretax outreach programs—particularly for small-scale corporate taxpayers—and ensure data integration and system security to build trust; evaluate Coretax effectiveness via satisfaction surveys and assess VAT compliance levels. Future research: Expand the geographical scope of the sample and utilize analysis to examine long-term impacts. For Academics or Taxation Accounting Programs: Conduct further research integrating variables such as trust in tax authorities or economic impacts, while exploring Coretax in the context of VAT. Broaden the scope of the research object so that findings can serve as a reference; the specific subject of this study is Ghacoan Yasmin Bogor, located on Jalan Raya Cilendek, Bogor, at the Yasmin-Semplak intersection.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25530PENGARUH SUHU DAN RASIO MASSA TERHADA EFISIENSI ADSORPSI LOGAM BERAT Fe DAN Pb MENGGUNAKAN ADSORBEN SERBUK BATANG KELAPA (COCOS NUCIFERA L)2026-08-17T02:33:05+00:00Andi Artiningsihandi.artiningsih@umi.ac.idLa Ifala.ifa@umi.ac.idFitra Jayafitra.jaya@umi.ac.idSyarwan Hamidsyarwanhamid46@umi.ac.idTrislan Fitri Rahimtrislanfitri@gmail.comMuhammad Rayhan Laranjalaranjarehan053@gmail.com<p><em>Laboratory wastewater containing heavy metals Fe and Pb has the potential to pollute the aquatic environment if it is discharged without prior treatment. This study aims to analyze the effect of temperature and adsorbent mass ratio variation on the adsorption efficiency of Pb and Fe using coconut trunk powder (Cocos nucifera L) as the adsorbent. The adsorption process was carried out in batch mode with adsorbent mass ratio varied from 1.0 to 2.5 grams per 50 mL of wastewater and temperature varied from 30 to 70°C, after which the residual metal concentration was measured using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). The results showed that the initial concentrations of Pb at 3.426 ppm and Fe at 2.5894 ppm were significantly reduced after the adsorption process. In the mass ratio variation, the Pb concentration continued to decrease as the adsorbent mass increased and reached its lowest value of 0.0001 ppm at 2.0 and 2.5 grams, while the Fe concentration reached its lowest point of 0.0314 ppm at 1.0 gram before rising again at higher adsorbent masses due to desorption. In the temperature variation, the best Pb removal was obtained at 40°C with a residual concentration of 0.0366 ppm, while the best Fe removal was obtained at 30°C with a residual concentration of 0.0314 ppm, and both decreased sharply at higher temperatures because the adsorption process is exothermic in nature. An adsorbent mass of 1.0 gram per 50 mL of wastewater was established as the optimum condition since it already met the applicable wastewater quality standard while using the least amount of adsorbent material. This study demonstrates that coconut trunk powder has strong potential as a low cost and environmentally friendly alternative adsorbent for reducing Fe and Pb heavy metal content in laboratory wastewater</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25006ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM SELF DECLARE DALAM PERIZINAN INDUSTRI RUMAH TANGGA PANGAN (IRTP) BERDASARKAN PERSEPSI PELAKU USAHA2026-08-05T07:14:09+00:00Sofiarnisofiarnikayna76@gmail.com<p>Perizinan usaha merupakan aspek penting dalam menjamin keamanan pangan serta legalitas usaha bagi pelaku Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP). Pemerintah Indonesia menerapkan sistem perizinan berbasis risiko melalui mekanisme self declare yang memungkinkan pelaku usaha menyatakan secara mandiri bahwa usahanya telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan sistem self declare dalam perizinan IRTP berdasarkan persepsi pelaku usaha. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan survei menggunakan kuesioner kepada pelaku usaha IRTP. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui pandangan pelaku usaha terhadap kemudahan, efisiensi, serta tantangan dari sistem self declare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai sistem self declare memberikan kemudahan dalam proses perizinan dan menghemat waktu serta biaya. Namun demikian, beberapa responden juga menilai masih terdapat kendala seperti kurangnya pemahaman mengenai standar keamanan pangan dan keterbatasan pengawasan dari pihak pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pembinaan dan pengawasan agar sistem self declare dapat berjalan secara optimal.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25712IMPLEMENTASI PRINSIP DAHULUKAN ADAB SEBELUM ILMU DAN RELEVANSINYA DENGAN KAJIAN AKHLAK DI PESANTRENAL-MA’ARIF BILAE KABUPATEN BONE2026-08-23T12:03:56+00:00Nur Anisa Hasbinanisahasbi@gmail.com, M. Amir Hmhm.amir.hm@gmail.comIdrus Lidruslatif.iainbone@gmail.comSamsinar Syarifuddinsamsinarakbar20@gmail.com<p>Penelitian ini membahas implementasi prinsip dahulukan adab sebelum ilmu dan relevansinya dengan kajian akhlak di Pesantren Al-Ma’arif Bilae Kabupaten Bone. Prinsip tersebut menempatkan pembentukan adab dan akhlak sebagai dasar utama sebelum seseorang memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan prinsip dahulukan adab sebelum ilmu dalam kehidupan sehari-hari santri serta relevansinya terhadap pelaksanaan kajian akhlak di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang berkaitan dengan kegiatan pembinaan santri, proses pembelajaran, serta kajian akhlak di Pesantren Al-Ma’arif Bilae Kabupaten Bone. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan bahwa prinsip dahulukan adab sebelum ilmu diterapkan melalui pembiasaan sikap hormat kepada guru, kedisiplinan, kesopanan dalam berkomunikasi, kepatuhan terhadap tata tertib pesantren, serta pembentukan sikap tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Penerapan prinsip tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kajian akhlak karena keduanya sama-sama menekankan pembentukan kepribadian dan perilaku terpuji dalam kehidupan santri. Dengan demikian, pembelajaran ilmu agama di pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan akhlak mulia sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan Islam.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25474PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN KINERJA LINGKUNGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA SEKTOR ENERGI2026-08-15T08:15:25+00:00Eli Marlinaellymrln06@gmail.comHari Stiawandosen01254@unpam.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>Good Corporate Governance</em> dan Kinerja Lingkungan terhadap Nilai Perusahaan, dengan variabel <em>Good Corporate Governance </em>di proksi menjadi Kepemilikan Institusional, kepemilikan manajerial, Dewan komisaris independen dan komite audit. Penelitian ini dilakukan dalam lingkup perusahaan energi yang terdaftar di BEI periode 2020-2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantatif asosiatif dengan teknik analisis yang diolah menggunakan <em>software </em>Eviews 12. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode <em>puposive sampling </em>dan diperoleh sebanyak 60 data observasi. Berdasarkan hasil pengujian ditemukan bahwa Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, Hal ini menunjukan bahwa kepemilikan manajerial sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Penelitian ini menunjukan variabel independen kepemilikan manajerial, memiliki pengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, komite audit dan kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara simultan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, komite audit dan kinerja lingkungan berpengaruh signifikan terhadap nilai perushaan. Penelitian ini menunjukan bahwa kepemilikan manajerial dapat meningkatkan nilai perusahaan.</p> <p><em>This study aims to analyze the influence of Good Corporate Governance and Environmental Performance on Firm Value, with Good Corporate Governance proxied by institutional ownership, managerial ownership, the independent board of commissioners, and the audit committee. The study focuses on energy companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2020–2024 period. It employs an associative quantitative method, with data analyzed using Eviews 12 software. A purposive sampling technique was used, resulting in 60 observations. The results indicate that managerial ownership has a positive effect on firm value, demonstrating that managerial ownership significantly influences company performance. Specifically, the study finds that managerial ownership has a significant impact on firm value, whereas institutional ownership, the independent board of commissioners, the audit committee, and environmental performance do not. However, when analyzed simultaneously, institutional ownership, managerial ownership, the independent board of commissioners, the audit committee, and environmental performance collectively have a significant effect on firm value. The study concludes that managerial ownership can enhance firm value.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/24908HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA PRASEKOLAH DI KABUPATEN KARAWANG2026-08-01T08:38:10+00:00Oktorinaoktorina403@gmail.com<p>Peningkatan penggunaan gadget pada anak usia prasekolah berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif pada masa golden age. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan gadget dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah di TK Al Amanah dan TK Mekarsari II, Karawang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 86 anak yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner durasi penggunaan gadget yang diisi oleh orang tua dan lembar observasi perkembangan kognitif anak diisi oleh guru, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin lama durasi penggunaan gadget, semakin besar risiko terjadinya perkembangan kognitif yang kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif orangtua dan pendidik dalam mengatur durasi penggunaan gadget serta meningkatkan stimulasi melalui interaksi langsung.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplinerhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jim/article/view/25619ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN OBAT TANPA RESEP DI APOTEK CENTRAL BORNEO SIULAK GEDANG KECAMATAN SIULAK KABUPATEN KERINCI TAHUN 20262026-08-21T05:00:13+00:00Intan Rizkya Fitriintanrizkyafitri003@gmail.comDeny Sutrisnodenysutrisno@gmail.comRasmala Dewirmfarmapt@gmail.com<p>Kepuasan pasien adalah persepsi pasien terhadap pelayanan yang diterima dibandingkan dengan harapannya, mencakup pengalaman terkait ketepatan, kecepatan, dan kualitas informasi yang diberikan oleh apoteker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan obat tanpa resep di Apotek Central Borneo Siulak Gedang Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci Tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan desain One Group Post-Test Only Design. Sampel penelitian berjumlah 320 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu bukti fisik (tangibles), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), serta dimensi ketersediaan obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan software JASP. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan berdasarkan dimensi yaitu kehandalan (87,16%), daya tanggap (85,60%), empati (85,31%), bukti fisik (84,30%), jaminan (83,83%), dan ketersediaan obat (83,19%). Distribusi tingkat kepuasan menunjukkan 220 responden (68,8%) berada pada kategori sangat puas, 98 responden (30,6%) berada pada kategori cukup puas, dan 2 responden (0,6%) berada pada kategori sangat tidak puas. Rata-rata tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan obat tanpa resep sebesar 84,90% dengan kategori Sangat Puas. Disimpulkan bahwa kualitas pelayanan obat tanpa resep di Apotek Central Borneo Tahun 2026 berada pada kategori sangat puas, namun peningkatan pada dimensi jaminan dan ketersediaan obat tetap diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian.</p> <p><em>Patient satisfaction is the patient's perception of the service received compared to his expectations, including experience related to the accuracy, speed, and quality of information provided by pharmacists. This research aims to find out the level of patient satisfaction with the quality of over-the-counter drug service at the Central Borneo Siulak Gedang Pharmacy, Siulak District, Kerinci Regency in 2026. This research is a pre-experimental research with One Group Post-Test Only Design. The research sample consisted of 320 respondents who were selected using accidental sampling technique. The research instrument is in the form of a questionnaire based on the five dimensions of SERVQUAL, namely physical evidence (tangibles), reliability (reliability), responsiveness (responsiveness), assurance (assurance), empathy (empathy), and the drug availability dimension. Data analysis is done descriptively using JASP software. The research results show the level of satisfaction based on dimensions, namely reliability (87,16%), responsiveness (85,6,60%), empathy (85,31%), physical evidence (84,30%), assurance (83,83%), and drug availability (83,19%). The distribution of satisfaction levels showed that 220 respondents (68.8%) were in the very satisfied category, 98 respondents (30,6%) were in the fairly satisfied category, and 2 respondents (0,6%) were in the very dissatisfied category. The average level of patient satisfaction with the quality of non-prescription drug service is 84.90% with the Very Satisfied category. It is concluded that the quality of over-the-counter drug service at the Central Borneo Pharmacy in 2026 is in the very satisfied category, but the improvement in the guarantee dimension and drug availability is still necessary to improve the quality of pharmacy services.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisipliner