HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN VO2 MAX MAHASISWA ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG 2025 DI MATA KULIAH ATLETIK
Kata Kunci:
Indeks Massa Tubuh, VO₂MAX, Kebugaran Kardiorespirasi, Mahasiswa Keolahragaan, AtletikAbstrak
Kebugaran kardiorespirasi merupakan komponen penting dalam menunjang performa olahraga, terutama pada mata kuliah atletik yang menuntut kemampuan fisik optimal. Dalam konteks ini, Indeks Massa Tubuh (IMT) sering digunakan sebagai indikator sederhana untuk melihat status berat badan seseorang. Namun demikian, IMT tidak selalu mampu menggambarkan secara langsung kapasitas aerobik individu karena tidak memuat informasi detail mengenai komposisi tubuh seperti persentase lemak dan massa otot. Studi ini dirancang untuk mengungkap keterkaitan antara indeks massa tubuh dan kapasitas maksimal oksigen (VO₂Max) ada para mahasiswa program studi Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Malang pada tahun 2025, khususnya mereka yang terdaftar dalam kelas Atletik. Pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah apakah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat IMT dengan kemampuan VO₂Max mahasiswa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data IMT dikumpulkan melalui pengukuran berat dan tinggi badan, sedangkan kemampuan VO₂Max diperoleh melalui tes chopper 2,4 km yang umum digunakan dalam penilaian kapasitas aerobik. Analisis yang dilakukan mengungkapkan koefisien korelasi Pearson bernilai -0,264, disertai dengan tingkat signifikansi sebesar 0,057. Temuan ini mengindikasikan adanya keterkaitan negatif yang tidak kuat dan tidak bermakna secara statistik di antara indeks massa tubuh serta kapasitas oksigen maksimal, yang menyiratkan bahwa kenaikan indeks massa tubuh biasanya disertai dengan penurunan kapasitas oksigen maksimal, meskipun ikatan tersebut belum cukup kokoh untuk dianggap signifikan dari segi statistika.Temuan ini menegaskan bahwa IMT bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebugaran kardiorespirasi. Kemampuan VO₂Max lebih dipengaruhi oleh intensitas dan keteraturan latihan, pola hidup sehat, serta proporsi komposisi tubuh. Oleh karena itu, peningkatan kebugaran mahasiswa dalam pembelajaran atletik tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian berat badan, tetapi juga perlu didukung melalui perancangan program latihan aerobik yang sistematis dan berkelanjutan


