SIMBOLISME SERANGGA DALAM AL-QUR’AN: TANTAWI JAWHARI DAN TAFSIR SAINTIFIK ATAS TEORI AMTHAL

Penulis

  • Sayyidah Khodijah Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra Jakarta
  • Azam Bahtiar Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra Jakarta

Kata Kunci:

Amtha>l, Serangga, Tafsir Al-Jawahir, Tantawi Jawhari, Tafsir Ilmi

Abstrak

Penelitian ini mengkaji penggunaan amtha>l (perumpamaan) serangga dalam Al-Qur’an, dengan fokus spesifik pada nyamuk (ba'udah) dan lalat (dhubab), melalui lensa tafsir saintifik (tafsir 'ilmi) dalam kitab Al-Jawāhir fi Tafsīr Al-Qur’ān Al-Karīm karya Tantawi Jawhari. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana makhluk yang sering dianggap remeh dan menjijikkan ini ditempatkan dalam narasi wahyu sebagai simbol teologis yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan integrasi ilmu entomologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tantawi Jawhari memaknai perumpamaan serangga bukan sekadar retorika bahasa, melainkan sebagai instrumen pendidikan ilahiah untuk meruntuhkan kesombongan manusia dan membuktikan kelemahan berhala. Tantawi mengelaborasi anatomi fisiologis dan peran ekologis serangga untuk menunjukkan kompleksitas ciptaan Allah. Kesimpulannya, amtha>l serangga dalam tafsir Al-Jawahir menawarkan perspektif integratif antara sains dan agama, yang relevan bagi masyarakat modern dalam membangun kesadaran teologis, etis, dan ekologis.

This study examines the use of insect amtha>l (parables) in the Qur'an, specifically focusing on the mosquito (ba'udah) and the fly (dhubab), through the lens of scientific exegesis (tafsir 'ilmi) in Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim by Tantawi Jawhari. The main issue addressed is how these creatures, often considered trivial and repulsive, are positioned in the narrative of revelation as profound theological symbols. This study employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach and the integration of entomology. The results indicate that Tantawi Jawhari interprets insect parables not merely as rhetorical devices, but as instruments of divine education to dismantle human arrogance and prove the weakness of idols. Tantawi elaborates on the physiological anatomy and ecological roles of insects to demonstrate the complexity of God's creation. In conclusion, insect amtha>l in Al-Jawahir offers an integrative perspective between science and religion, relevant for modern society in building theological, ethical, and ecological awareness.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30