EKSISTENSI JEJAK PENINGGALAN ISLAM DI KOTA PADANGSIDIMPUAN (TAPANULI SELATAN), PROSES PENGISLAMISASIAN DILAKUKAN OLEH KAUM PADERI

Penulis

  • Ika Purnamasari Universitas Negeri Medan
  • Salsabila Lubis Universitas Negeri Medan
  • Kinanti Naya Natasha Universitas Negeri Medan
  • Ulya Salisa Raunaq Universitas Negeri Medan
  • Yosua Solafide Universitas Negeri Medan
  • Nelman Wisabla Universitas Negeri Medan

Kata Kunci:

Eksistensi, awal mula islam, kaum paderi

Abstrak

Sejarah Kota Padangsidimpuan dimulai pada abad ke-19, ketika wilayah ini menjadi pusat perdagangan penting di Sumatera Utara. Wilayah ini dihuni oleh suku-suku Batak yang hidup damai di sepanjang tepi Sungai Batang Gadis. Pada tahun 1910, pemerintah Hindia Belanda resmi mendirikan kota ini dengan nama "Padangsche Benedenlanden." Selama masa penjajahan Belanda, Kota Padangsidimpuan menjadi pusat administratif dan perdagangan yang strategis. Hal ini memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam hal perdagangan hasil pertanian dan perkebunan. Namun disini kami melakukan penelitian tentang sejarah awal masuknya islam di kota padangsidimpuan, tapanuli selatan (daerah mandailing) yang menurut para ahli dibawa oleh kaum paderi pasca perang paderi di tanah Minangkabau. Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi jejak tinggalan serta sejarah awal mula pemgislamisasian di kota Padangsidimpuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunaka metode sejarah dengan 4 tahapan, 1)Heuristik, 2)Kritik sumber, 3) Interpretasi, dan 4) historigrafi. Usai menaklukan Mandailing, pasukan paderi bergerak lagi ke utara, Mereka berencana menaklukan tanah batak yang saat itu masih menganut keyakinan animisme.

The history of Padangsidimpuan City began in the 19th century, when this area became an important trade center in North Sumatra. This area is inhabited by Batak tribes who live peacefully along the banks of the Batang Gadis River. In 1910, the Dutch East Indies government officially established this city with the name "Padangsche Benedenlanden." During the Dutch colonial period, Padangsidimpuan City became a strategic administrative and trade center. This allows significant economic growth in terms of trade in agricultural and plantation products. However, here we are conducting research on the early history of the arrival of Islam in the city of Padangsidimpuan, South Tapanuli (Mandailing area) which according to experts was brought by the paderi after the padri war in Minangkabau land. This research examines the existence of traces and the history of the beginning of Islamization in the city of Padangsidimpuan. This research is qualitative research using historical methods with 4 stages, 1) Heuristics, 2) Source criticism, 3) Interpretation, and 4) historigraphy. After conquering Mandailing, the padri troops moved north again. They planned to conquer the Batak land, which at that time still adhered to animist beliefs.

Diterbitkan

2026-07-11