https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/issue/feedJurnal Ilmiah Multidisiplin Terpadu2026-06-29T17:11:34+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22804MEMBONGKAR MITOS “ZAMAN KEEMASAN”: KRITIK HISTORIOGRAFI TERHADAP NARASI TUNGGAL KEMAJUAN PERADABAN ISLAM ABAD KE-8–132026-06-10T03:41:05+00:00Zidny Syafara Ismailzidnyzidny74@gmail.comVeri Rizki Aldiansyahveririzki50@gmail.comZihan Syaharasyaharazihan11@gmail.comMuhammad Jan Padly Nugrohomjanpadly@gmail.comAfiyatun Kholifahafiyatun.kholifah@fai.unsika.ac.id<p>Periodisasi abad ke-8 hingga ke-13 Masehi dalam sejarah Islam hampir selalu dihadirkan dengan satu label yang sama: "Zaman Keemasan." Label itu bukan sekadar penamaan; ia membawa serta seperangkat asumsi tentang kemajuan yang seragam, kejayaan yang tak terbantahkan, dan peradaban yang bergerak lurus menuju puncaknya. Artikel ini mempertanyakan asumsi-asumsi tersebut, bukan untuk menafikan pencapaian intelektual umat Islam pada masa itu, melainkan karena narasi tunggal justru menyederhanakan dan dalam banyak hal mendistorsi kenyataan historis yang jauh lebih kompleks. Kritik yang diajukan bergerak pada tiga titik: (1) konsep "Zaman Keemasan" lebih banyak dibentuk oleh orientalisme abad ke-19 daripada oleh kesadaran internal umat Islam; (2) narasi dominan mereduksi peradaban Islam menjadi produk Arab semata, padahal sumbangan Persia, Turki, dan Afrika sub-Sahara tidak bisa diabaikan; dan (3) di balik kemegahan Baghdad dan Cordoba tersimpan ketegangan teologis yang tajam serta suara-suara yang secara sistematis dibungkam. Dengan berpijak pada sumber-sumber primer Arab dan Persia serta pembacaan kritis atas karya Howard Turner, Seyyed Hossein Nasr, dan Ahmad Dallal, artikel ini berargumen bahwa yang sesungguhnya terjadi bukanlah satu "zaman emas," melainkan sejumlah puncak kemajuan yang terpencar berbeda tempat, berbeda waktu, dan tidak jarang saling bertolak belakang.</p> <p><em>The periodization spanning the 8th to 13th centuries CE in Islamic history is almost invariably presented under a single label: the "Golden Age." That label is not merely a name it carries with it a set of assumptions about uniform progress, unquestionable glory, and a civilization advancing in a straight line toward its peak. This article interrogates those assumptions, not to deny the intellectual achievements of Muslims during that era, but because a singular narrative ultimately simplifies and, in many respects, distorts a far more complex historical reality. The critique advances along three axes: (1) the concept of the "Golden Age" was shaped far more by 19th-century Orientalism than by any internal consciousness within the Muslim world; (2) the dominant narrative reduces Islamic civilization to an Arab product alone, ignoring Persian, Turkic, and sub-Saharan African contributions; and (3) behind the grandeur of Baghdad and Córdoba lay sharp theological tensions and systematically silenced voices. Drawing on primary Arabic and Persian sources alongside a critical reading of Howard Turner, Seyyed Hossein Nasr, and Ahmad Dallal, this article argues that what actually occurred was not one "golden age" but rather a series of dispersed peaks of advancement different places, different times, and often in direct tension with one another</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23012EVALUASI IMPLEMENTASI PERDA KOTA SERANG NOMOR 12 TAHUN 2020 DALAM RELOKASI PKL PASAR ROYAL KE PASAR KEPANDEAN BERBASIS MODEL IPO-O2026-06-14T08:00:10+00:00Natasyanatsya1211@gmail.comRafiqa Aurelliarafiqaaurellia1@gmail.comDivya Fauziadivyafauzia1704@gmail.comGelis Nurlisyagelisnurlisyaa@gmail.comRiswandariswanda@untirta.ac.id<p>Relokasi pedagang kaki lima (PKL) dari Pasar Royal ke Pasar Kepandean merupakan implementasi dari Perda Kota Serang Nomor 12 Tahun 2020 tentang Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat. Kebijakan ini bertujuan menata ruang kota sekaligus meningkatkan kesejahteraan pedagang, namun di lapangan menimbulkan pro-kontra terkait dampak ekonomi dan adaptasi sosial. Penelitian ini mengevaluasi implementasi kebijakan relokasi menggunakan model Input-Process-Output-Outcome (IPO-O) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pedagang dan pengelola pasar, observasi lapangan, dokumentasi, serta telah data sekunder dari dokumen resmi dan pemberitaan media. Temuan menunjukkan bahwa input kebijakan seperti regulasi, anggaran, dan fasilitas fisik tersedia cukup memadai, namun pendampingan masih kurang merata. Proses implementasi berjalan cukup tertib dan komunikatif, tetapi lemah dalam hal pelatihan usaha dan keadilan penempatan kios. Output utama berupa tersedianya kios layak dan kepindahan sebagian besar pedagang telah tercapai, namun outcome menunjukkan penurunan pendapatan pada pedagang serta sepinya pembeli. Berdasarkan temuan tersebut, keputusan evaluatif yang diusulkan adalah melanjutkan kebijakan dengan perbaikan implementasi, terutama pada aspek promosi pasar, akses transportasi, dan pemberdayaan ekonomi pedagang. Rekomendasi kebijakan difokuskan pada peningkatan komunikasi, subsidi sewa, serta penataan ulang tata letak kios secara partisipatif.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22479KETAHANAN PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL: PERAN PPKN DALAM MEMBINGKAI TATA BOGA YANG BERKELANJUTAN2026-06-02T13:08:14+00:00Fabio Orlandoorlandofabio28@gmail.comMuhamad Rawdi Abimanyu Syarifuddinrawdiabi26@student.upi.eduOka Adam Arestaokaadam29@gmail.comRasyakti Nenggala Nithisastrarasyakt1nenggala@gmail.comRegina Salsabila Putri Sandyreginasalsabila@student.upi.eduRatna Fitriaratna_fitria@upi.edu<p>Penelitian ini bertujuan untuk menelaah titik temu antara ketahanan pangan dan warisan kuliner lokal melalui peran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membingkai budaya tata boga yang berkelanjutan. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif pada masyarakat di Bandung, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai PPKn mampu berfungsi sebagai jembatan aksiologis yang menyambungkan kembali warga dengan tradisi pangan Sunda seperti konsumsi musiman, keberagaman nabati, dan tata kelola pangan komunal sekaligus menghidupkan kembali bahan pangan lokal yang terpinggirkan seperti hanjeli dan cimplung. Studi ini berargumen bahwa internalisasi nilai-nilai kewarganegaraan dapat mentransformasi kesadaran masyarakat menjadi "kewargaan gastronomis", di mana pilihan pangan berkelanjutan dipahami sebagai hak sekaligus tanggung jawab warga negara, serta menjadi jalur yang berakar budaya menuju sistem pangan yang resilien.</p> <p><em>This study aims to examine the intersection of food security and local culinary heritage through the role of Pancasila and Civic Education (PPKn) in framing sustainable food culture. Employing a qualitative case study approach within the community of Bandung, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and relevant document analysis. The findings reveal that PPKn values can function as an axiological bridge, reconnecting citizens with Sundanese traditional food practice including seasonal consumption, plant diversity, and communal food governance while also reviving marginalized local ingredients such as hanjeli and cimplung. This study argues that the internalization of civic values can transform community awareness into "gastronomic citizenship", wherein sustainable food choices are understood as both civic rights and responsibilities, offering a culturally rooted pathway toward resilient food systems.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22911ANALISIS KENDALA GURU DALAM MELAKSANAKAN EVALUASI PEMBELAJARAN DI MI AT-TAUFIQ CIRACAS2026-06-11T13:02:02+00:00 M.Sennigi Bintangsennigibintang@gmail.comNurul Komarianurulkomaria130505@gmail.comFitria Maulidaidafitriamaulida19@gmail.comOka Arista Kanakayanandaaristakanakayanandaoka@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MI AT-TAUFIQ Cirasas.yaitu menganalisis kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan evaluasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran PAI dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan melalui evaluasi diagnostik, formatif, dan sumatif. Keterbatasan dalam penerapan sarana evaluasi PAI tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut kondisi nyata di lapangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber daya teknologi, di mana tidak semua sekolah memiliki akses memadai terhadap perangkat digital atau aplikasi yang dapat mendukung proses penilaian secara efisien.Ada beberapa tantangan yaitu variasi kemampuan siswa berbedan beda mulai dari perbedaan latar belakang, tingkat pemahaman siswa, serta keterampilan. Di sisi lain, kebutuhan akan pelatihan bagi para penilai, khususnya guru, sangat mendesak agar mereka mampu menggunakan instrumen evaluasi dengan tepat dan objektif. Beban administrasi guru pun semakin berat, karena selain harus mengajar, mereka juga dituntut untuk menyusun, mengelola, dan menilai berbagai dokumen evaluasi secara berkelanjutan. Keseluruhan keterbatasan ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih sistematis dan dukungan yang memadai agar evaluasi PAI dapat berjalan efektif dan sesuai tujuan pembelajaran. penelitian menunjukkan bahwa sarana evaluasi PAI sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik ranah yang diukur. Untuk ranah kognitif, tes tertulis dinilai paling efektif karena mampu mengukur pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik secara sistematis. Sementara itu, untuk ranah afektif dan psikomotor, metode observasi serta portofolio lebih tepat digunakan karena dapat merekam sikap, perilaku, dan perkembangan akhlak secara lebih autentik dan berkesinambungan. Dengan demikian, kombinasi penggunaan tes tertulis, observasi, dan portofolio memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pencapaian peserta didik dalam pembelajaran PAI.</p> <p><em>This study aims to analyze the implementation of Islamic Religious Education (PAI) learning evaluation at MI AT-TAUFIQ Cirasas, namely analyzing the obstacles faced by teachers in carrying out the evaluation. This study used a qualitative method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that PAI learning evaluation is carried out in an integrated and continuous manner through diagnostic, formative, and summative evaluations. Limitations in the application of PAI</em> <em>evaluation tools are not only related to technical aspects, but also related to real conditions in the field. One of the main obstacles is limited technological resources, where not all schools have adequate access to digital devices or applications that can support the assessment process efficiently. There are several challenges, namely variations in student abilities that vary from background to background, student understanding level, and skills. On the other hand, the need for training for assessors, especially teachers, is very urgent so that they are able to use evaluation instruments appropriately and objectively. The administrative burden on teachers is also increasingly heavy, because in addition to having to teach, they are also required to compile, manage, and assess various evaluation documents on an ongoing basis. All of these limitations indicate the need for a more systematic strategy and adequate support so that PAI evaluation can run effectively and according to learning objectives. Research shows that Islamic Religious Education (PAI) evaluation tools should be tailored to the characteristics of the domain being measured. For the cognitive domain, written tests are considered the most effective because they can systematically measure students' knowledge, understanding, and analytical skills. Meanwhile, for the affective and psychomotor domains, observation and portfolio methods are more appropriate because they can record attitudes, behavior, and moral development more authentically and continuously. Thus, the combination of written tests, observations, and portfolios provides a more comprehensive picture of students' achievements in Islamic Religious Education (PAI).</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23219PENGARUH MOTIVASI DAN PERILAKU BELAJAR TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA DI UNIVERSITAS RAHARJA2026-06-19T02:19:11+00:00Ida Paulina Harianjaida.paulina@raharja.infoNabila Aprilitanabila.aprilita@raharja.infoRosa Rahma Muharrosa.rahma@raharja.infoSri Mulianigsihsri.mulianingsih@raharja.info<p>Prestasi akademik merupakan indikator kesuksesan mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ini mengacu pada tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan sebagai hasil dari upaya belajar yang optimal. Perilaku belajar mahasiswa serta motivasi mereka adalah faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah motivasi dan perilaku belajar mahasiswa di Universitas Raharja mempengaruhi prestasi akademik mereka. Penelitian ini bersifat kuantitatif, menggunakan metode purposive sampling dengan sampel terdiri dari 100 responden. Model kesetaraan struktur (SEM) digunakan dengan bantuan SmartPLS 4.0 yang disusun oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki dampak positif dan signifikan dengan T-Statistic sebesar 3,292, yang lebih besar dari 1,96. Perilaku belajar juga memiliki pengaruh positif dan signifikan, dengan nilai Path sebesar 0,398 dan T-Statistic 3,976 > 1,96 terhadap prestasi akademik mahasiswa.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22747PEMISAHAN OTORITAS KEPEMIMPINAN DI PONDOK PESANTREN PUTRI MELALUI PERAN UMMIK SEBAGAI UPAYA PREVENTIF KEKERASAN SEKSUAL2026-06-09T06:50:48+00:00Gery Yustisiogeryyustisio01@gmail.comAdrian Maulanagustitaniu26@gmail.comAhmad Prayogi Al Kahfiintanpaila13@gmail.com<p>Penulis pada tulisan ini merekomendasikan pendapat atas bentuk perlindungan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur sebagai seorang subjek hukum (natuurlijk persoon) dalam kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pondok pesantren. Pasal 1 ayat 2 UU No. 35 Tahun 2014, Negara secara tegas telah menjamin keselamatan pada anak di bawah umur serta hak-hak yang melekat pada dirinya. Penulisan ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengkaji relasi antara berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dilanggar oleh pihak tertentu di lingkungan pondok pesantren di Lombok. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwasannya anak sebagai subjek hukum masih berada dalam posisi rentan terhadap pelanggaran hak-hak yang dilakukan oleh orang yang memiliki otoritas dan kekuasaan yang dimilikinya melalui berbagai modus operandi. Meskipun secara normatif perlindungan anak telah diatur secara tegas dalam peraturan perundang-undang, secara normatif menunjukkan perlindungan tersebut belum sepenuhnya efektif dan perlu pengawasan lebih ketat di lingkungan pendidikan keagamaan. oleh sebab itu Sebagai langkah preventif konkret, artikel ini menawarkan mekanisme pencegahan melalui pemisahan kekuasaan (separation of power) berbasis gender dalam struktur kepemimpinan pesantren. Mekanisme ini mewajibkan pemisahan otoritas mutlak: pondok pesantren laki-laki dipimpin oleh Kiai/Tuan Guru, sedangkan pondok pesantren perempuan wajib dipimpin sepenuhnya oleh Ummik. dengan tujuan melarang pimpinan laki-laki untuk memiliki akses otoritas langsung di asrama perempuan guna menutup celah manipulasi doktrin dan fisik. Hal ini merupakan kebutuhan hukum mendesak untuk memastikan perlindungan terhadap anak.</p> <p><em>This paper recommends a legal framework for the protection of minors against sexual violence as legal subjects (natuurlijk persoon) in cases of sexual violence occurring within Islamic boarding school environments. Pursuant to Article 1 paragraph (2) of Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection, the State explicitly guarantees the safety of minors as well as the rights inherently attached to them. This study employs a normative juridical approach by examining the relationship among various statutory regulations concerning child protection that have been violated by certain parties within Islamic boarding schools in Lombok. The findings of this study demonstrate that children, as legal subjects, remain in a vulnerable position to violations of their rights committed by individuals possessing authority and power through various modus operandi. Although child protection has been explicitly regulated within statutory provisions, in practice such protection has not yet been fully effective and still requires stricter supervision within religious educational institutions. Therefore, as a concrete preventive measure, this article proposes a prevention mechanism through a gender-based separation of power within the leadership structure of Islamic boarding schools. This mechanism requires a strict separation of authority, whereby male Islamic boarding schools are led by a Kiai or Tuan Guru, while female Islamic boarding schools must be entirely led by an Ummik. The purpose of this mechanism is to prohibit male leaders from exercising direct authority or access over female dormitories in order to eliminate opportunities for doctrinal and physical manipulation. Accordingly, this measure constitutes an urgent legal necessity to ensure more effective child protection.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23000ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN KEGIATAN MENEMPEL ROK IBU KARTINI DALAM MENGEMBANGKAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5–6 TAHUN DI RA NURUL FADILAH2026-06-14T01:52:44+00:00Annisa Nabilah Nasutionannisanabilah0218@gmail.comAisyura Surionorarasuriono@gmail.comSiti Khairanikhairanis506@gmail.comNaila Wanaharawanaharanaila@gmail.comArie Dwi Ningsihguest@sejurnal.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran kegiatan menempel Rok Ibu Kartini dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia 5–6 tahun di RA Nurul Fadilah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah anak-anak kelompok B usia 5–6 tahun dan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) proses pembelajaran menempel Rok Ibu Kartini dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu kegiatan pembuka berupa apersepsi tentang sosok Ibu Kartini, kegiatan inti berupa menempel potongan kain batik pada pola gambar Ibu Kartini, dan kegiatan penutup berupa evaluasi dan refleksi; (2) kegiatan menempel terbukti efektif menstimulasi motorik halus anak melalui koordinasi mata-tangan dalam proses mengambil bahan, mengoles lem, dan menempelkan potongan kain pada pola; (3) sebagian besar anak (±80%) menunjukkan perkembangan positif dalam aspek ketepatan, kerapian, dan koordinasi gerak jari; serta (4) integrasi nilai budaya melalui tema Kartini memberikan makna pedagogis yang holistik bagi perkembangan anak. Penelitian ini merekomendasikan agar kegiatan menempel berbasis budaya dijadikan bagian dari program stimulasi motorik halus yang sistematis di lembaga PAUD.</p> <p><em>This study aims to analyze the learning process of the Mrs. Kartini's Skirt Sticking Activity in developing fine motor skills of children aged 5–6 years at RA Nurul Fadilah. The study employed a descriptive qualitative approach through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Research subjects included Group B children aged 5–6 years and their class teacher. The findings indicate that: (1) the sticking learning process was implemented in three stages—an opening activity (apperception about Mrs. Kartini), a core activity (sticking batik fabric pieces onto the Kartini figure pattern), and a closing activity (evaluation and reflection); (2) the sticking activity was proven effective in stimulating fine motor skills through eye-hand coordination in the process of picking up materials, applying glue, and attaching fabric pieces to the pattern; (3) the majority of children (±80%) demonstrated positive development in precision, neatness, and finger movement coordination; and (4) the integration of cultural values through the Kartini theme provided holistic pedagogical significance for children's development. This study recommends that culturally-based sticking activities be incorporated as part of a systematic fine motor stimulation program in early childhood education institutions.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22893LEGAL OPINION TERHADAP PENYALAHGUNAAN DEEPFAKE AI SEBAGAI BENTUK KEJAHATAN SIBER DI INDONESIA2026-06-11T08:21:49+00:00Regista Cahya Siti Adiningsihregista.205230047@stu.untar.ac.idWilma Silalahiwilmasilalahi@fhuntar.ac.id<p>Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah melahirkan berbagai inovasi digital, salah satunya teknologi deepfake yang mampu memanipulasi gambar, video, maupun suara seseorang secara realistis. Meskipun teknologi tersebut memberikan manfaat dalam berbagai bidang, penyalahgunaan deepfake menimbulkan berbagai persoalan hukum seperti pencemaran nama baik, penyebaran hoaks, penipuan digital, dan pelanggaran privasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum terhadap penyalahgunaan teknologi deepfake di Indonesia serta bentuk pertanggungjawaban hukum terhadap pelaku penyalahgunaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, buku, jurnal, dan literatur hukum lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki regulasi khusus terkait teknologi deepfake. Pengaturan hukum yang ada masih mengacu pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, dan ketentuan hukum pidana umum. Selain itu, penegakan hukum terhadap penyalahgunaan deepfake masih menghadapi berbagai kendala, terutama dalam aspek pembuktian digital dan identifikasi pelaku. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi AI guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan masyarakat.</p> <p><em>The development of Artificial Intelligence (AI) technology has created various digital innovations, one of which is deepfake technology capable of manipulating images, videos, and voices realistically. Although this technology provides benefits in various fields, the misuse of deepfake has raised legal issues such as defamation, dissemination of hoaxes, digital fraud, and privacy violations. This study aims to analyze the legal regulation of deepfake misuse in Indonesia and the forms of legal liability for perpetrators of such misuse. The research employs a normative legal research method using statutory and conceptual approaches. The data used are secondary data obtained through literature studies of laws and regulations, books, journals, and other legal references. The results indicate that Indonesia does not yet have specific regulations governing deepfake technology. Existing legal provisions still refer to Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, and general criminal law provisions. In addition, law enforcement against deepfake misuse still faces various obstacles, particularly in digital evidence and perpetrator identification. Therefore, more comprehensive and adaptive regulations related to AI technology are necessary to provide legal certainty and public protection.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23144INKONSISTENSI PENERAPAN PASAL 45 UNDANG-UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK TERHADAP KASUS PENYEBARAN KONTEN INTIM TANPA PERSETUJUAN DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KORBAN DI INDONESIA2026-06-17T08:09:01+00:00Felicya Zefanya Natalenta Panggabeanfelicya.panggabean@binus.ac.idThefie Metta Mulyanathefie.mulyana@binus.ac.idTheodora Amelia Aurora Wilonatheodora.wilona@binus.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji inkonsistensi penerapan Pasal 45 ayat (1) UU ITE terkait kasus penyebaran konten intim tanpa persetujuan (NCII) di Indonesia. Melalui penelitian hukum normatif, analisis terhadap tiga putusan pengadilan menunjukkan bahwa frasa “melanggar kesusilaan” yang tidak secara tegas memuat unsur <em>non-consent</em> memicu tiga masalah utama yaitu vonis ringan bagi pelaku, kriminalisasi korban, dan bebasnya pelaku karena kerancuan definisi <em>consent</em> (persetujuan). Meskipun UU TPKS dan revisi UU ITE 2024 membawa kemajuan, tumpang tindih aturan dan ketiadaan panduan hakim yang peka gender masih menjadi celah hukum. Penelitian ini merekomendasikan revisi Pasal 45 UU ITE untuk memasukkan unsur <em>non-consent,</em> penerbitan Peraturan Mahkamah Agung, dan peningkatan perlindungan bagi korban NCII.</p> <p><em>This study examines the inconsistent application of Article 45(1) of Indonesia's ITE Law in non-consensual intimate image sharing (NCII) cases. Through normative legal research, analysis of three court decisions reveals that the vague phrase “violating decency,” which lacks an explicit non-consent element, leads to three main issues: (1) lenient sentences for perpetrators; (2) criminalisation of victims; and (3) acquittals due to confusion over consent definitions. Despite progress from the TPKS Law and 2024 ITE Law revisions, overlapping regulations and a lack of gender-sensitive judicial guidelines create legal loopholes. This study recommends amending Article 45 to explicitly include non-consent, issuing Supreme Court guidelines, and strengthening protections for NCII victims.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22670IMPLEMENTASI MENEJEMEN PESERTA DIDIK DALAM MENINGKATKAN KARAKTER ISLAMI SISWA MAS NURUL FATA BONDOWOSO2026-06-07T12:06:03+00:00Muchammad Syamsul Ma'arifmsyamsulmaarif25@pasca.alqolam.ac.idMuhammad Husnimuhammadhusni@pasca.alqolam.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi manajemen peserta didik dalam pembentukan karakter Islami siswa di MAS Nurul Fata Bondowoso. Pendidikan dasar dan pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan akhlak peserta didik melalui proses pembiasaan serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, manajemen peserta didik tidak hanya berfungsi mengatur kegiatan siswa, tetapi juga menjadi sarana dalam menanamkan nilai-nilai Islam melalui berbagai program sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memperoleh data yang mendalam mengenai proses pembentukan karakter Islami peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen peserta didik di MAS Nurul Fata Bondowoso berjalan secara efektif melalui integrasi program tahfidz Juz 30, sistem pemantauan kedisiplinan, pemberian penghargaan kepada siswa teladan, serta keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari. Program tahfidz tidak hanya meningkatkan kemampuan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga membentuk kedisiplinan spiritual, tanggung jawab, dan konsistensi siswa. Selain itu, monitoring yang dilakukan secara berkala melalui jurnal wali kelas, rapor karakter, dan evaluasi guru mampu membantu sekolah dalam mengontrol perkembangan perilaku siswa. Peran guru sebagai teladan (uswah hasanah) juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan karakter Islami siswa. Dengan demikian, manajemen peserta didik yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam, budaya sekolah, dan pembinaan yang berkelanjutan terbukti mampu membentuk karakter peserta didik yang disiplin, religius, dan berakhlak mulia</p> <p><em>This study aims to describe and analyze the implementation of student management in shaping the Islamic character of students at MAS Nurul Fata Bondowoso. Basic education and Islamic education have an important role in forming students’ character, morals, and ethics through habituation and continuous guidance processes. In its implementation, student management not only functions to regulate student activities, but also serves as a medium for instilling Islamic values through various school programs. This research employed a qualitative approach using the field research method. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation to obtain in-depth data regarding the process of forming students’ Islamic character. The results of the study indicate that the implementation of student management at MAS Nurul Fata Bondowoso has been carried out effectively through the integration of the Tahfidz Juz 30 program, discipline monitoring systems, rewards for exemplary students, and teachers’ role modeling in daily life. The tahfidz program not only improves students’ ability to memorize the Qur’an, but also develops spiritual discipline, responsibility, and consistency. In addition, periodic monitoring through homeroom teacher journals, character report cards, and teacher evaluations helps the school control the development of students’ behavior. The role of teachers as role models (uswah hasanah) is also an important factor in the success of shaping students’ Islamic character. Therefore, student management integrated with Islamic values, school culture, and continuous guidance has proven to be effective in shaping disciplined, religious, and noble-character students</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22985ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PANDEMI PADA PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK PADA TAHUN 2019-20242026-06-13T08:24:09+00:00Nurfitri Zulaikanurfitrizulaika@gmail.comAde Nur Salehaadenur802@gmail.comNur Ainiririnahi30@gmail.comMutia Dwi Anandamutiadwiananda986@gmail.com<p>Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melihat dan menganalisa persepsi nasabah konversi Bank Perkreditan rakyat ke Bank Perekonomian rakyat syariah di PT .BPRS Guguk Mas Makmur. Latar belakang penulis memilih judul ini yaitu karena terjadinya pergeseran jumlah portofolio asset dan kewajiban bank akibat terjadinya konversi di PT.BPRS Guguk Mas Makmur dan terjadinya banyaknya nasabah yang belum sepenuhnya memahami antara bank konvensional dan syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengabalisa persepsi nasabah terhadap konversi BPR dari konvensional ke BPRS syariah,serta menganalisa kendala yang terjadi apabila Bank perkreditan rakyat konversi menjadi Bank perekomian rakyat syariah. Metode penelitian adalah penelitian lapangan (field research), teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan dokumentasi dan teknik Analisis data yaitu menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian diperoleh bahwa persepsi nasabah bank BPRS bervariasi.mayoritas nasabah memiliki pemahaman dasar tentang perbedaan antara bank konvensional dan syariah,dan sebagian besar menyadari adanya konversi.sentimen nasabah cendrung positif dan mereka merasa senang dengan konversi ini,terutama karena kesesuaian dengan prinsip syariah dan terhindar dari riba.meskipun ada nasabah yang awalnya cemas ,banyak yang merasa lebih nyaman bertransaksi di BPRS dan cendrung tetap menggunakan layanan bank karena kenyamanan dan pelayanan yang baik. Kelebihan utama yang dirasakan dengan istilah syariah baru dan proses akad terkadang lebih panjang.</p> <p><em>The purpose of this thesis is to observe and analyze the customer perceptions of the conversion of Rural Banks to Sharia People's Economic Banks at PT. BPRS Guguk Mas Makmur. The author's background in choosing this title is because of the shift in the number of asset portfolios and bank liabilities due to the conversion at PT. BPRS Guguk Mas Makmur and the large number of customers who do not fully understand the differences between conventional and sharia banks. The purpose of this study is to analyze customer perceptions of the conversion of Rural Banks from conventional to Sharia BPRS, as well as to analyze the obstacles that occur when Rural Banks convert to Sharia People's Economic Banks. The research method is field research, data collection techniques using in-depth interviews and documentation and data analysis techniques using qualitative descriptive analysis methods. The results of the study showed that the perceptions of BPRS bank customers varied. The majority of customers had a basic understanding of the differences between conventional and sharia banks, and most were aware of the conversion. Customer sentiment tended to be positive and they were happy with this conversion, especially because it was in accordance with sharia principles and avoided usury. Although there were customers who were initially anxious, many felt more comfortable transacting at BPRS and tended to continue using bank services because of the convenience and good service. The main advantages felt with the new sharia term and the contract process were sometimes longer.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22875PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA DI MADRASAH TSANAWIYAH2026-06-11T07:03:18+00:00Laila Ramadanilailaramadani794@gmail.comRahmi Utamirahmiutami@insan.ac.idDeswita Alfiskadeswitaalfisksa2@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar dan lingkungan keluarga terhadap perkembangan emosi remaja di Madrasah Tsanawiyah. Perkembangan emosi yang stabil sangat diperlukan oleh siswa remaja dalam proses pembelajaran, khususnya dalam internalisasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif asosiatif dengan sampel siswa di wilayah Binjai. Data dikumpulkan melalui angket (kuesioner) yang telah divalidasi dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial dan simultan, motivasi belajar dan keharmonisan lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kematangan emosi remaja. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antara guru PAI dan orang tua dalam menjaga stabilitas emosional anak demi capaian akademik yang optimal.</p> <p><em>This study aims to determine the effect of learning motivation and the family environment on adolescent emotional development in Madrasah Tsanawiyah. Stable emotional development is highly needed by adolescent students in the learning process, particularly in internalizing Islamic Education (PAI) values. The research method used is associative quantitative with student samples in the Binjai region. Data were collected through validated questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The results showed that partially and simultaneously, learning motivation and family environment harmony significantly influence adolescent emotional maturity. The implications of this study emphasize the importance of synergy between PAI teachers and parents in maintaining children's emotional stability for optimal academic achievement.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23017HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA SUCOPANGEPOK2026-06-14T10:58:16+00:00Ilmi Nazatul Wardaniilmiwardani8@gmail.comNikmatur Rohmahnikmaturrohmah@unmuhjember.ac.idZuhrotul Eka Yulis Anggraenizuhrotulekayulis@unmuhjember.ac.id<p>Latar Belakang: Status gizi adalah kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh pola makan dan keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi, yang mencakup keseimbangan antara asupan zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi biologis, seperti pertumbuhan, perkembangan, aktivitas, dan pemeliharaan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan (PMT) dengan status gizi balita. Metode: Desain penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 406 balita. Sampel penelitian ini sejumlah 48 balita. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan pendekatan teknik purposive sampling. Penentuan sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus proporsional untuk mendapatkan jumlah sampel yang sesuai dari setiap posyandu. Instrumen pada penelitian ini berupa kuesioner dan lembar observasi. Hasil: Hasil uji statistik Spearman’s Rho (a = 0,05) menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara pemberian makanan tambahan (PMT) dengan status gizi balita di Desa Sucopangepok di dapatkan p value sebesar (p= 0,00). Diskusi: Kesimpulannya adalah semakin baik pemberian makanan tambahan yang diberikan kepada balita, maka semakin baik pula status gizi balita.</p> <p><em>Introduction: Nutritional status is a condition of the body influenced by dietary intake and the success of meeting nutritional needs, which involves the balance between nutrient intake and the amount required by the body to carry out various biological functions such as growth, development, activity, and health maintenance. The aim of this research is to determine the relationship between supplementary feeding (PMT) and the nutritional status of toddlers. Method: The design of this research is correlational design with a cross-sectional approach. The population of this study was 406 toddlers. The sample comprised 48 toddlers. The sampling technique used was non-probability sampling with a purposive sampling approach. The sampling in this study was calculated using a proportional formula to obtain the appropriate number of samples from each posyandu. The instruments in this research were questionnaires and observation sheets. Result: The results of the Spearman’s Rho statistical test (α = 0.05) showed a very significant relationship between supplementary feeding (PMT) and the nutritional status of toddlers in Sucopangepok Village, with a p-value of 0.00. Disscusion: In conclusion, the better the provision of supplementary feeding to toddlers, the better their nutritional status. </em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22618PERAN KONSELOR DALAM MENINGKATKAN KEMATANGAN KARIER SISWA2026-06-06T07:55:42+00:00Andi Chantika Naura Nur Annisaandiichantikaa@student.upi.eduAzkya Yusryya Kurniaazkyayusryya29@student.upi.eduFitria Zulfa Noorfitriazulfanoor@student.upi.eduMuhammad Barra Abdurrahmanabdrahmanbarra@student.upi.eduNavila Naurinissanavilanrs@student.upi.eduIsah Cahyaniisahcahyani@upi.edu<p>Fenomena kebingungan, keraguan, dan kecemasan dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan maupun pekerjaan menjadi ciri rendahnya kematangan karier siswa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran layanan bimbingan dan konseling karier dalam membantu siswa memahami potensi diri, mengenali berbagai pilihan karier, serta mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran konselor dalam meningkatkan kematangan karier siswa melalui layanan bimbingan dan konseling karier. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah berbagai jurnal ilmiah, buku akademik, artikel penelitian, dan publikasi yang relevan mengenai kematangan karier, bimbingan karier, dan peran konselor. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat kematangan karier siswa masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Konselor memiliki peran strategis sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan pembimbing dalam membantu siswa mengeksplorasi potensi diri, memperoleh informasi karier, serta menyusun perencanaan masa depan secara realistis. Berbagai intervensi seperti teknik trait and factor, eksplorasi karier, asesmen minat dan bakat, serta pemanfaatan layanan berbasis teknologi digital terbukti efektif dalam meningkatkan kematangan karier siswa. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling karier perlu dilaksanakan secara terencana, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa guna mendukung kesiapan mereka dalam menghadapi pendidikan lanjutan maupun dunia kerja</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22979ANALISIS MANAJEMEN RESIKO PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG BERTINGKAT2026-06-13T07:32:21+00:00Elisabeth Niuflapuelisabeth.205230006@stu.untar.ac.idWilma Silalahiwilmasilalahi@fhuntar.ac.id<p>Pekerjaan proyek konstruksi pada Pembangunan Gedung bertingkat berpotensi menimbulkan berbagai macan Risiko. Risiko tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh, namun dapat dikelola secara efektif untuk mengurangi pengaruh negatifnya. Oleh karena, itu perlu adanya manajemen Risiko yang baik agar sasaran proyek dapat tercapai sesuai rencana. Proses penelitian dilakukan dengan survey. Analisis data kuesioner dimulai dengan identifikasi Risiko melalui studi literatur, setelah itu dilakukan analisis Risiko dengan mendistribusikan kuesioner kepada sejumlah responden. Responden Adalah manajer proyek, insinyur proyek, mekanik logistic, ketua tim, dan konsultan pengawas. Analisis Risiko dilakukan dengan memperkirakan kemungkinan terjadinya risiko terbesar dan dampaknya terhadap biaya dan waktu pelaksanaan nya, serta melakukan respons Risiko melalui wawancara dengan responden terpilih.</p> <p><em> Construction projects involving high-rise buildings have the potential to pose various risks. Risks cannot be completely eliminated, but they can be effectively managed to mitigate their negative impacts. Therefore, sound risk management is necessary to ensure project objectives are achieved as planned. The research process was conducted using a survey. Questionnaire data analysis began with risk identification through literature review, followed by a risk analysis by distributing questionnaires to a number of respondents. The respondents included project managers, project engineers, logistics mechanics, team leaders, and supervisory consultants. The risk analysis was conducted by outlining the likelihood of the greatest risks occurring and their impact on costs and implementation time. Risk responses were also conducted through interviews with selected respondents.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23594PENERAPAN KONSEP TA'DIB PERSPEKTIF SYED NAQUIB AL-ATTAS DI PESANTREN MAWARIDUSSALAM2026-06-27T01:55:03+00:00Amelia Ramadhani Syaiyutiameliaramdani74@gmail.comRyan Ardiansyahryan.ardiansyah2002@gmail.comRizki Aditiara5299006@gmail.com<p>Krisis moral pada generasi muda Muslim pada saat ini merupakan cerminan dari sistem pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif semata, mengabaikan pembentukan karakter dan spiritualitas. Syed Naquib Al-Attas menawarkan konsep ta'dib sebagai kerangka pendidikan Islam yang komprehensif, mencakup dimensi pengetahuan ('ilm), praktik ('amal), dan pembentukan akhlak secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan konsep ta'dib perspektif Al-Attas di Pesantren Mawaridussalam, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Mawaridussalam mengimplementasikan ta'dib melalui lima dimensi secara terintegrasi: ontologis, epistemologis, aksiologis, pedagogis, dan teologis. Penerapan ini tidak terbatas pada ruang kelas, melainkan mencakup seluruh ekosistem kehidupan pesantren berbasis sistem 24 jam. Faktor pendukung utama meliputi konsistensi pimpinan, keteladanan pendidik, kurikulum terintegrasi non-dikotomis, dan peran aktif OSMASA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ta'dib merupakan model pendidikan Islam yang relevan untuk menjawab krisis moral generasi muda tanpa meninggalkan identitas keislaman.</p> <p><em>The moral crisis among young Muslims today reflects an education system that overemphasizes cognitive aspects while neglecting character formation and spirituality. Syed Naquib Al-Attas offers the concept of ta'dib as a comprehensive Islamic educational framework, integrating the dimensions of knowledge ('ilm), practice ('amal), and moral formation. This study aims to analyze the application of Al-Attas's ta'dib concept at Pesantren Mawaridussalam, Deli Serdang, North Sumatra. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that Pesantren Mawaridussalam implements ta'dib through five integrated dimensions: ontological, epistemological, axiological, pedagogical, and theological. This implementation extends beyond the classroom to encompass the entire pesantren ecosystem through a 24-hour system. Key supporting factors include leadership consistency, educator role modeling, a non-dichotomous integrated curriculum, and the active role of OSMASA. This study concludes that ta'dib represents a relevant Islamic education model capable of addressing the moral crisis of young generations without abandoning Islamic identity.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22823MUTU PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI INDONESIA2026-06-10T07:48:55+00:00Junita Kesia Anggelina Taneojunitataneo5@gmail.comorianti Pai Tibapaitibanorianti@gmail.comSherin Nofrilia Nabuasasherinnabuasa@gmail.com<p>Pendidikan inklusif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak berkebutuhan khusus. Namun, kualitas pendidikan inklusif bagi mereka masih menjadi isu yang belum terselesaikan dengan memadai. Penelitian ini penting untuk mengkaji secara komprehensif kualitas pendidikan inklusif di Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi, dan merumuskan solusi untuk meningkatkan kualitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pendidikan inklusif di Indonesia masih belum optimal. Faktor-faktor yang memengaruhinya meliputi akses yang tidak merata, infrastruktur yang tidak memadai, guru yang kurang terlatih, dan dukungan yang minim.</p> <p><em>Inchisive education in Indonesia still faces various challenges in providing quality education services for children with special needs. However, the quality of inclusive education for them remains an inadequately resolved issue. This research is important for comprebensively examining the quality of inclusive education in Indonesia, identifying influencing factors, and formulating solutions to enhance its quality. The study aims to identify and analyze facters influencing the quality of inclusive education for children with special needs in Indonesia. It employs a qualitative descriptire method with a case study approach. Data is collected through observations, interviews, and documentation. The research findings indicate that the quality of inclusive education in Indonesia is still suboptimal. Factors influencing, it include uneven access, inadequate infrastructure, undertrained teachers, and minimal support. Keywords: Children with special needs, Inclusive, Quality education.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23014PENDIDIKAN INKLUSIF DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM2026-06-14T08:18:41+00:00Awlian Vishkar Vishkar12310112127@students.uin-suska.ac.idM. Almustafani12310114212@students.uin-suska.ac.idM Alfi Islami12310110750@students.uin-suska.ac.id<p>Pendidikan inklusif menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan pendidikan modern, terutama dalam menjamin hak setiap peserta didik untuk memperoleh akses pendidikan yang bermutu, termasuk anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep, prinsip, dan implementasi pendidikan inklusif dalam konteks pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan memanfaatkan sumber data primer dan sekunder berupa jurnal ilmiah, buku, dokumen kebijakan, serta publikasi akademik yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif memiliki kesesuaian mendasar dengan nilai-nilai pendidikan Islam, terutama prinsip keadilan (al-‘adl), kasih sayang (rahmah), persamaan (al-musawah), dan penghormatan terhadap martabat manusia (karamah al-insan). Ajaran Islam menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh ilmu dan layanan pendidikan tanpa diskriminasi. Namun demikian, implementasi pendidikan inklusif pada lembaga pendidikan Islam masih menghadapi tantangan berupa adaptasi kurikulum, kompetensi pendidik, keterbatasan sarana-prasarana, serta stigma sosial terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan inklusif dalam lembaga pendidikan Islam memerlukan dukungan kebijakan, peningkatan kompetensi guru, dan pemahaman teologis mengenai pentingnya keadilan pendidikan.</p> <p><em>Inclusive education has become an important discourse in contemporary educational development, particularly in ensuring equal access to quality education for all learners, including students with special needs. This study aims to analyze the concept, principles, and implementation of inclusive education within the context of Islamic education. This research employs a library research method using primary and secondary data sources, including scientific journals, books, policy documents, and relevant academic publications. Data were collected through documentation techniques and analyzed using descriptive-analytical methods. The findings indicate that inclusive education is fundamentally aligned with Islamic educational values, especially the principles of justice (al-‘adl), compassion (rahmah), equality (al-musawah), and respect for human dignity (karamah al-insan). Islamic teachings emphasize that every individual possesses equal rights to knowledge and educational opportunities regardless of physical, intellectual, or social limitations. However, the implementation of inclusive education in Islamic educational institutions still faces challenges related to curriculum adaptation, teacher competence, infrastructure, and social stigma. This study concludes that strengthening inclusive educational practices in Islamic institutions requires systemic policy support, educator training, and theological awareness regarding educational equity in Islam</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22563KECERDASAN MAJEMUK:EVALUASI KECERDASAN MAJEMUK DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF2026-06-05T03:37:00+00:00Maria Sesfaoindrianimaria186@gmail.comFilmon Tanoenfilmontanoen@gmail.comAqwila Nubatonisakwilanubatonis@gmail3.comRonald Thelikthelikronaldo@gmail.com<p>Kecerdasan adalah kemampuan belajar dari setiap pengalaman dan ilmu yang diperoleh untuk beradaptasi dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecerdasan itu sendiri tidak hanya diukur dari cara berpikirnya tetapi juga dari setiap kemampuan yang dimiliki atau disebut sebagai kecerdasan majemuk Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983 melalui karyanya Frames of Mind. Teori ini menolak pandangan tradisional yang hanya menilai kecerdasan melalui aspek logis-matematis dan linguistik, serta memperluas definisi kecerdasan menjadi beragam kemampuan manusia yang dapat dikembangkan. Kecerdasan majemuk diaritkan dengan pengertian kata “kecerdasan” menurut Kamus besar bahasa Indonesia pusat bahasa,artinya cersas,intelegensi,kesempurnaan perkembangan akal budi,dan kepandaisan ketajaman pikiran Pembahasan mencakup pengertian kecerdasan menurut Gardner dan para ahli lain, kelebihan dan kekurangan penerapan teori ini, serta implikasinya dalam kegiatan belajar. Teori ini menekankan pentingnya menghargai keunikan setiap individu, memberikan variasi metode pembelajaran, dan membantu pendidik memahami karakteristik peserta didik secara lebih mendalam. Contoh penerapan dalam konteks Pendidikan Agama Kristen menunjukkan bagaimana kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis dapat diintegrasikan dalam proses belajar. Kesimpulannya, teori kecerdasan majemuk memberikan paradigma baru yang relevan dalam dunia pendidikan, meskipun masih menghadapi tantangan dalam penerapan praktis dan penilaian</p> <p><em>Intelligence is the ability to learn from every experience and knowledge gained to adapt and be able to adjust to the environment. Intelligence itself is not only measured from the way of thinking but also from every ability possessed or called multiple intelligences Theory of Multiple Intelligences (MI) introduced by Howard Gardner in 1983 through his book Frames of Mind. The theory challenges the traditional view of intelligence, which focuses only on logical-mathematical and linguistic abilities, and expands the definition to encompass diverse human capacities that can be developed according to the language center of the national development agency the word “intelegens means the state of beingsmart intellectual capacity the perfection of the development of reason cleverness, and the sharpness of the mind. The discussion includes Gardner’s perspective and other scholars’ definitions of intelligence, the strengths and weaknesses of the theory, and its implications for learning activities. MI emphasizes the importance of valuing individual uniqueness, providing varied teaching methods, and helping educators better understand students’ characteristics. Examples in the context of Christian Religious Education illustrate how linguistic, logical-mathematical, visual-spatial, kinesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic intelligences can be integrated into the learning process. In conclusion, the theory of multiple intelligences offers a new paradigm that remains relevant in education, although it still faces challenges in practical application and assessment</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22913IMPLEMENTASI MODEL PROJECT BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TERPADU DI KELAS VIII E SMP NEGERI 1 SRENGAT BLITAR2026-06-11T13:28:41+00:00M. Agung Wahyudimagungwahyudi87@gmail.comYudi Krisno WicaksonoYudi.krisno@uinsatu.ac.id<p>Pendidikan merupakan aspek penting dalam pembangunan bangsa yang melibatkan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Mata pelajaran IPS Terpadu berperan dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa. Namun, siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Srengat Blitar masih menghadapi rendahnya motivasi dan keaktifan belajar sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, salah satunya melalui model Project Based Learning (PjBL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model Project Based Learning pada mata pelajaran IPS Terpadu, khususnya dalam meningkatkan keterlibatan, minat, dan pemahaman siswa melalui proyek yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada proses pembelajaran di kelas VIII E, sedangkan wawancara dilakukan dengan guru IPS dan siswa untuk mengetahui efektivitas serta kendala penerapan model PjBL. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, dinamis, dan interaktif. Kreativitas siswa meningkat melalui pengerjaan proyek sosial, kerja sama kelompok menjadi lebih baik, serta motivasi belajar siswa mengalami peningkatan yang terlihat dari berkurangnya sikap pasif selama pembelajaran berlangsung. Penerapan PjBL terbukti efektif karena menggunakan pendekatan konstruktivis yang mendorong siswa belajar secara mandiri dan aktif dalam menyelesaikan masalah sosial. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan kemandirian belajar. Lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi juga memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.Implementasi model Project Based Learning pada mata pelajaran IPS Terpadu berhasil meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Srengat Blitar. Keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh proyek yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Oleh karena itu, sekolah disarankan untuk terus mendukung penerapan metode pembelajaran inovatif agar kualitas pembelajaran dan keterampilan siswa semakin berkembang.</p> <p><em>Education is an important pillar of national development that involves interactions between educators and students. Integrated Social Sciences (IPS) subjects play a significant role in developing students’ critical thinking skills and social awareness. However, students of class VIII E at SMP Negeri 1 Srengat Blitar experienced low learning motivation and limited classroom participation, making innovative learning strategies necessary to improve learning outcomes. This study aimed to analyze the implementation of the Project Based Learning (PjBL) model in Integrated Social Sciences subjects, particularly in increasing student engagement, learning interest, and understanding through contextual projects related to daily life. The research used a descriptive qualitative method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Observations were conducted during the learning process in class VIII E, while interviews with the IPS teacher and students explored the effectiveness and challenges of implementing the PjBL model. Data analysis involved data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings showed that the implementation of the Project Based Learning model created a more active, dynamic, and interactive classroom atmosphere. Students demonstrated increased creativity through social projects, improved teamwork, and higher learning motivation, as seen from the reduction of passive behavior during the learning process.The implementation of PjBL proved effective because it applied a constructivist approach that encouraged students to learn independently and actively solve social problems. Teachers acted as facilitators who guided students in developing critical thinking, collaboration, and independent learning skills. A supportive learning environment also contributed positively to improving student learning outcomes. The implementation of the Project Based Learning model in Integrated Social Sciences successfully improved the interest and learning outcomes of class VIII E students at SMP Negeri 1 Srengat Blitar. This success was influenced by project designs that matched students’ needs and characteristics. Therefore, schools are encouraged to support the application of innovative learning methods in other subjects to further enhance students’ skills and learning quality.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23278PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) DALAM MASYARAKAT MAJEMUK2026-06-20T08:30:52+00:00Henifilda Klau Malikhenifildaklaumalik@gmail.comHerminherminsolly@gmail.comSipora Enggelina Lautangsiporaenggelinalautang27@gmail.com<p>Pendidikan Agama Kristen (PAK) merupakan bagian penting dalam proses pendidikan yang bertujuan membentuk karakter, moral, dan spiritual peserta didik sehingga mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang beragam. Keberagaman masyarakat Indonesia, yang terlihat dari perbedaan suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan adat istiadat, merupakan kenyataan sosial yang menjadi ciri khas bangsa. Keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik apabila tidak disertai sikap saling menghormati dan toleransi. Oleh sebab itu, PAK memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan, perdamaian, penghargaan terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial(Andrian, 2024). Melalui kegiatan pembelajaran, PAK tidak hanya berfokus pada pemahaman ajaran Alkitab, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kasih kepada Allah dan sesama manusia tanpa membedakan latar belakang mereka. PAK mengajarkan pentingnya sikap toleran, empati, kerja sama, serta kemampuan menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang memiliki perbedaan keyakinan maupun budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi peserta didik untuk berperan aktif dalam menciptakan kehidupan sosial yang damai, terbuka, dan penuh penghargaan terhadap perbedaan(Andrian, 2024). Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, PAK berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter yang mendorong peserta didik menjadi pembawa damai, teladan dalam kehidupan sosial, serta agen perubahan yang mengedepankan kasih dan persatuan. Dengan demikian, PAK tidak hanya mendukung pertumbuhan iman Kristen, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat kerukunan antarumat beragama, memelihara persatuan bangsa, dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai, adil, serta sejahtera di tengah keberagaman.</p> <p><em>Christian Religious Education (CRE) is an important part of the educational process aimed at shaping the character, morality, and spirituality of learners so that they can live harmoniously within a diverse society. The diversity of Indonesian society, reflected in differences in ethnicity, religion, race, culture, language, and customs, is a social reality that characterizes the nation. This diversity can be a strength that enriches communal life, but it also has the potential to create conflict if it is not accompanied by mutual respect and tolerance. Therefore, CRE plays a significant role in instilling Christian values such as love, justice, peace, respect for others, and social responsibility. Through the learning process, CRE not only focuses on understanding biblical teachings but also guides learners to develop attitudes and behaviors that reflect love for God and fellow human beings regardless of their backgrounds. CRE teaches the importance of tolerance, empathy, cooperation, and the ability to establish good communication with people of different beliefs and cultural backgrounds. These values equip learners to actively contribute to creating a peaceful, inclusive, and respectful social environment. In a pluralistic society, CRE functions as a means of character formation that encourages learners to become peacemakers, role models in social life, and agents of change who promote love and unity. Thus, CRE not only supports the growth of Christian faith but also contributes to strengthening interreligious harmony, maintaining national unity, and fostering a peaceful, just, and prosperous society amid diversity</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22766PEMANFAATAN FILM “SEMESTA” SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN KERAGAMAN AKTIVITAS EKONOMI MASYARAKAT DI KELAS VIII MTsN 10 BLITAR2026-06-09T09:27:44+00:00St Yaya Ulyanaulyanayana404@gmail.comBagus Setiawanbagus.setiawan@uinsatu.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan film dokumenter Semesta sebagai media alternatif serta hasil pemanfaatannya dalam pembelajaran Keragaman Aktivitas Ekonomi Masyarakat di kelas VIII MTsN 10 Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sebagai teknik keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan film Semesta dilakukan dengan menggunakan potongan adegan yang relevan dengan materi Keragaman Aktivitas Ekonomi Masyarakat. Adegan yang dipilih menampilkan kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi di berbagai daerah di Indonesia yang sesuai dengan konteks pembelajaran IPS. Pemanfaatan media ini membantu peserta didik mengaitkan konsep abstrak dengan realitas kehidupan nyata melalui visualisasi yang konkret dan kontekstual.</p> <p><em>This study aims to describe the utilization of the documentary film Semesta as an alternative learning media and its outcomes in teaching the topic of Economic Activity Diversity in eighth-grade students at MTsN 10 Blitar. This research employed a qualitative approach with a descriptive design. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, with triangulation used to ensure data validity. The findings show that the film Semesta was utilized by selecting relevant scenes aligned with the topic of Economic Activity Diversity. The selected scenes depicted production, distribution, and consumption activities across various regions in Indonesia, which are relevant to the Social Studies learning context. The use of this media helped students connect abstract concepts with real-life situations through concrete and contextual visual representations.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23011PERAN PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA2026-06-14T06:52:33+00:00Naesa Syabirasyabiranaes06@gmail.comTasya Intan Ramadhanytasyaintanramadhany@gmail.comVirgiawanvirgiawan220506@gmail.comMuhammad Al Fikri Fmalfikrimalfikrifthrhmn@gmail.comAfiyatun Kholifahafiyatun.kholifah@fai.unsika.ac.id<p>Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran penting dalam menanamkan nilai toleransi antarumat beragama pada peserta didik. Melalui pemahaman terhadap sejarah perkembangan Islam, siswa dapat mengenal sikap saling menghargai, menghormati perbedaan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam membentuk sikap toleransi di lingkungan pendidikan. Materi sejarah Islam yang memuat kisah dakwah Rasulullah SAW, Piagam Madinah, serta hubungan sosial antara umat Islam dan non-Muslim menjadi sumber pembelajaran yang mampu menanamkan nilai persaudaraan, keadilan, dan sikap moderat. Proses pembelajaran yang dilakukan secara interaktif juga membantu siswa memahami pentingnya hidup berdampingan di tengah keberagaman agama dan budaya. Selain itu, guru memiliki peran strategis dalam memberikan teladan sikap toleran melalui metode pembelajaran yang komunikatif dan humanis. Dengan demikian, pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian pengetahuan sejarah, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik agar memiliki sikap terbuka, menghargai perbedaan, dan mampu menjaga kerukunan antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p><em>Islamic Cultural History learning has an important role in instilling the values of religious tolerance among students. Through understanding the history of Islamic civilization, students are able to learn attitudes of mutual respect, appreciation for differences, and harmonious social interaction. This study aims to describe the role of Islamic Cultural History learning in shaping tolerant attitudes within educational environments. Historical materials containing the stories of the Prophet Muhammad’s preaching, the Charter of Medina, and social relations between Muslims and non-Muslims become valuable learning sources in developing values of brotherhood, justice, and moderation. Interactive learning processes also help students understand the importance of living together peacefully in the midst of religious and cultural diversity. In addition, teachers hold a strategic role in providing examples of tolerant behavior through communicative and humanistic teaching methods. Therefore, Islamic Cultural History learning not only functions as the delivery of historical knowledge, but also as a medium for character building so that students develop open-minded attitudes, respect differences, and maintain harmony among religious communities in everyday life</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22910PELAKSANAAN INSTRUMEN EVALUASI PAI BERBASIS TEKNOLOGI DIGITAL DI SMP AL-MUSHLIH KARAWANG2026-06-11T12:27:27+00:00Kirana Divya Iskandar divyaiskandarkirana@gmail.comDimaz Dliyaa Ulhaqdimazdliyaa@gmail.comRoihan Almuhtadi Billah almuhtadibillahroihan@gmail.comSanti Nurhayati santinurhayati2502@gmail.comFadli Azizal Mukhli mukhlifadli@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan instrumen evaluasi Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis teknologi digital di SMP Al-Mushlih Karawang. Perkembangan teknologi digital memberikan dampak signifikan terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam proses evaluasi pembelajaran yang menuntut efektivitas, efisiensi, dan inovasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan instrumen evaluasi berbasis digital seperti Google Form, Quizizz, dan platform pembelajaran lainnya mampu meningkatkan minat belajar siswa, mempermudah guru dalam proses penilaian, serta meningkatkan akurasi dan kecepatan pengolahan data hasil evaluasi. Selain itu, penerapan evaluasi digital juga memberikan kemudahan dalam monitoring perkembangan belajar peserta didik secara lebih sistematis dan fleksibel. Namun demikian, masih ditemukan beberapa kendala, seperti keterbatasan akses internet, kemampuan literasi digital sebagian siswa, serta kesiapan guru dalam mengembangkan instrumen evaluasi berbasis teknologi. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pendampingan bagi tenaga pendidik agar pemanfaatan teknologi digital dalam evaluasi pembelajaran PAI dapat berjalan secara optimal. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan evaluasi pembelajaran PAI yang inovatif, efektif, dan sesuai dengan tuntutan pendidikan di era digital.</p> <p><em>This study aims to analyze the development of digital technology-based Islamic Religious Education (PAI) evaluation instruments at Al-Mushlih Karawang Middle School. The development of digital technology has had a significant impact on the world of education, including in the learning evaluation process that demands effectiveness, efficiency, and innovation. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results show that the use of digital-based evaluation instruments such as Google Forms, Quizizz, and other learning platforms can increase student learning interest, facilitate teachers in the assessment process, and improve the accuracy and speed of evaluation data processing. In addition, the implementation of digital evaluation also makes it easier to monitor student learning progress in a more systematic and flexible manner. However, several obstacles are still encountered, such as limited internet access, digital literacy skills of some students, and teacher readiness in developing technology-based evaluation instruments. Therefore, training and mentoring are needed for educators to ensure the optimal use of digital technology in PAI learning evaluation. This research is expected to serve as a reference in the development of PAI learning evaluations that are innovative, effective, and in accordance with the demands of education in the digital era.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23215EVALUASI EFEKTIVITAS MEDIA CANVA DAN MICROSOFT OFFICE DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN INFORMATIKA DI SMK2026-06-18T12:59:13+00:00Dewi Sri Adeliaewi.sriadelia@raharja.infoDita Anandadita.ananda@raharja.infoDestya Trineswaridestya@raharja.info<p>Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran menuntut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menerapkan media pembelajaran yang inovatif, terutama pada mata pelajaran Informatika. Canva dan Microsoft Office merupakan media pembelajaran digital yang banyak digunakan, namun efektivitas keduanya perlu dikaji secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan media Canva dan Microsoft Office dalam mendukung pembelajaran Informatika di SMK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan menelah berbagai artikel dan jurnal ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif dan komparatif untuk mengidentifikasi pengaruh penggunaan kedua media terhadap motivasi belajar, keterlibatan siswa, literasi digital, serta penguasaan keterampilan teknis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Canva memiliki peran yang lebih dominan dalam meningkatkan kreativitas, motivasi, dan partisipasi siswa melalui penyajian materi visual yang interaktif. Sementara itu, Microsoft Office lebih efektif dalam mendukung pengembangan keterampilan teknis, pengolahan dokumen dan data, serta kemampuan kolaboratif yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan Canva dan Microsoft Office secara tepat dan proporsional mampu mendukung pencapaian tujuan pembelajaran Informatika di SMK.</p> <p><em>The use of digital technology in learning requires Vocational High Schools (SMK) to implement innovative learning media, especially in Informatics subjects. Canva and Microsoft Office are widely used digital learning media, but their effectiveness needs to be studied systematically. This study aims to analyze the effectiveness of using Canva and Microsoft Office media in supporting Informatics learning in vocational high schools. This study uses a descriptive qualitative approach through a literature review by reviewing various relevant scientific articles and journals. The analysis was conducted descriptively and comparatively to identify the effect of the use of both media on learning motivation, student engagement, digital literacy, and technical skill mastery. The results of the study indicate that Canva has a more dominant role in increasing student creativity, motivation, and participation through the presentation of interactive visual materials. Meanwhile, Microsoft Office is more effective in supporting the development of technical skills, document and data processing, and collaborative skills needed in the workplace. The conclusion of this study confirms that the appropriate and proportional use of Canva and Microsoft Office can support the achievement of Informatics learning objectives in vocational high schools</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22697STRATEGI EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KOGNITIF,AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK DI MA NIHAYATUL AMAL2026-06-08T08:34:48+00:00Azizah Nurul Khasanahkhasanahazizahnurul@gmail.comTasya Intan Ramadhanytasyaintanramadhany@gmail.comTiara Aprilia Salsabilatiarasalsabila21042006@gmail.comAbdan Shibrul Wafaabdan.shibrul@gmail.comKevin Mawla Akbarkevinmawla47@gmail.comShofiyana Nadia Fairuznadia.fairuz@fai.unsika.ac.id<p>Evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan instrumen vital untuk mengukur ketercapaian kompetensi siswa secara holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pelaksanaan evaluasi di MA Nihayatul Amal serta mengembangkan instrumen penilaian sikap yang lebih objektif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara dengan guru PAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan evaluasi berbasis tiga ranah menggunakan teknik variatif, seperti tes tulis (pilihan ganda, esai, teka-teki silang), penilaian sikap melalui observasi perilaku, tes lisan (hafalan dan storytelling), serta proyek kreatif seperti kliping tokoh Islam dan resume buku. Namun, ditemukan kendala utama berupa subjektivitas pada penilaian sikap dan karakter keislaman karena absennya rubrik penilaian yang terstruktur dan rinci. Sebagai solusi, artikel ini menawarkan pengembangan instrumen berupa rubrik penilaian sikap religius yang mencakup indikator kejujuran, adab, dan kedisiplinan yang lebih sistematis. Implementasi instrumen ini diharapkan dapat meningkatkan objektivitas guru dalam mengukur internalisasi nilai-nilai keislaman siswa di era modern.</p> <p><em>Evaluation of Islamic Religious Education (PAI) learning is a vital instrument for measuring student competency achievement holistically, encompassing cognitive, affective, and psychomotor aspects. This study aims to analyze evaluation implementation strategies at MA Nihayatul Amal and develop a more objective attitude assessment instrument. The research method used was descriptive qualitative, with data collection through direct observation and interviews with PAI teachers. The results indicate that teachers have implemented three-domain-based evaluation using a variety of techniques, such as written tests (multiple choice, essays, and crossword puzzles), attitude assessment through behavioral observation, oral tests (memorization and storytelling), and creative projects such as clippings of Islamic figures and book summaries. However, a major obstacle identified was subjectivity in the assessment of Islamic attitudes and character due to the absence of a structured and detailed assessment rubric. As a solution, this article proposes the development of an instrument in the form of a religious attitude assessment rubric that includes more systematic indicators of honesty, etiquette, and discipline. Implementation of this instrument is expected to increase teachers' objectivity in measuring students' internalization of Islamic values in the modern era.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22994PERAN WALISONGO DALAM PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA2026-06-13T12:27:08+00:00Roihan Almuhtadi Billahalmuhtadibillahroihan@gmail.comFitria Maulidaidafitriamaulida19@gmail.comSiti Nurhalizahsnurhalizah740@gmail.comAbdan Sibrul Hermawanabdan.sibrul@gmail.comAfiyatun Kholifahafiyatun.kholifah@fai.unsika.ac.id<p>Walisongo merupakan tokoh penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Walisongo berlangsung secara damai dengan menggunakan berbagai pendekatan yang menyesuaikan budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Walisongo serta peranannya dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia. Metode dakwah yang digunakan para wali meliputi pendidikan pesantren, kesenian, budaya lokal, perdagangan, dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Melalui metode tersebut, masyarakat Jawa dapat menerima ajaran Islam tanpa meninggalkan tradisi yang telah berkembang sebelumnya. Setiap anggota Walisongo memiliki cara dakwah yang berbeda-beda sesuai kondisi masyarakat di daerahnya masing-masing. Keberhasilan Walisongo dalam menyebarkan Islam memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kerajaan Islam, pendidikan Islam, serta budaya masyarakat Nusantara. Hingga saat ini, peranan Walisongo masih dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia.</p> <p><em>Walisongo were important figures in the spread of Islam in Indonesia, especially on the island of Java. The dissemination of Islam carried out by Walisongo was conducted peacefully by using various approaches adapted to local culture and community life. This study aims to determine the history of Walisongo and their role in the spread and development of Islam in Indonesia. The methods of da’wah used by the saints included Islamic boarding school education, arts, local culture, trade, and social approaches. Through these methods, the people of Java were able to accept Islamic teachings without completely abandoning their existing traditions. Each member of Walisongo had different preaching methods according to the conditions of the communities in their respective regions. The success of Walisongo in spreading Islam had a major influence on the development of Islamic kingdoms, Islamic education, and the culture of the Nusantara community. Until today, the role of Walisongo is still remembered as an important part of the history of Islamic development in Indonesia.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22885FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA BINJAI MENGGUNAKAN METODE REGRESI LINIER BERGANDA2026-06-11T07:57:19+00:00Askia Saskiasitanggang@gmail.comAsima Manurungasimamanurung73@gmail.comMardiningsihmardiningsih.math@gmail.comMuhammad Romy Syahputram.romi@usu.ac.id<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana penduduk, kemiskinan, dan pengangguran mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kota Binjai antara tahun 1995 dan 2024. Pertumbuhan ekonomi merupakan variabel dependen, dan metode yang digunakan adalah regresi linier berganda. Dengan nilai signifikansi 0.000, uji simultan (uji F) menunjukkan bahwa ketiga variabel independen tersebut secara signifikan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Jumlah penduduk miskin tidak memiliki pengaruh parsial, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai signifikansi di atas 0,05, sementara variabel penduduk dan pengangguran memiliki pengaruh yang signifikan, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai signifikansi masing-masing. Namun, arah hubungan variabel penduduk memiliki dampak positif, sedangkan pengangguran dan penduduk miskin memiliki dampak negatif. Dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,927, model ini dapat menjelaskan 92,7% variasi dalam laju pertumbuhan ekonomi, dengan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Hasil ini menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara faktor-faktor tersebut dalam penelitian mendatang dengan data dan variabel yang lebih banyak.</p> <p><em>The purpose of this study is to examine how population, poverty, and unemployment affect the economic growth of Binjai City between 1995 and 2024. Economic growth is the dependent variable, and the method used is multiple linear regression. With a significance value of 0.000, the simultaneous test (F test) shows that the three independent variables significantly affect the pace of economic growth. The number of poor people has no partial effect, as indicated by a significance value above 0.05, while the population and unemployment variables have a significant effect, as indicated by their respective significance values. However, the direction of the relationship between the population variable has a positive impact, while unemployment and the poor population have a negative impact. With a coefficient of determination (R2) of 0.927, the model can account for 92.7% of the variation in the economic growth rate, with the remaining portion being impacted by extraneous factors. These results suggest that more investigation into the link between factors is necessary in future research with more data and variables.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23032PENINGKATAN TATA KELOLA KEUANGAN UMKM RITEL MELALUI PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN SEDERHANA PADA “WARUNG ANAS”2026-06-15T02:26:37+00:00Nur Rohmahnrrhmh2906@gmail.comArya Bagus Pamungkasaryabp07@gmail.comNurul Amelia Putrinurulameliaputri8@gmail.comRivany Rahmawatirivanyrahmawati069@gmail.comRakendro Wijayantorakendro@trisakti.ac.id<p>Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian nasional, namun masih banyak pelaku usaha yang menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan, terutama dalam penyusunan laporan keuangan. Warung Anas sebagai salah satu UMKM ritel masih melakukan pencatatan keuangan secara sederhana sehingga informasi mengenai kondisi keuangan usaha belum tersaji secara sistematis. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan tata kelola keuangan Warung Anas melalui penyusunan laporan keuangan sederhana yang meliputi pencatatan transaksi, penyusunan laporan laba rugi, dan laporan posisi keuangan.Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, pendampingan, dan penyusunan laporan keuangan berdasarkan data transaksi usaha. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan laporan keuangan sederhana mampu membantu pemilik usaha dalam mengetahui jumlah pendapatan, biaya, laba usaha, serta posisi aset dan modal secara lebih jelas. Selain itu, laporan keuangan yang tersusun secara sistematis dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan usaha dan meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Dengan demikian, penyusunan laporan keuangan sederhana pada Warung Anas berkontribusi terhadap peningkatan tata kelola keuangan UMKM sehingga usaha dapat dikelola secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22629MULTIPLE INTELLIGENCES: KECERDASAN MUSIKAL2026-06-06T12:11:46+00:00Prisca Oriyanti Nenobaispriscaoriyanti@gmail.comDini Afrianti diniellik8@gmail.comAster Elsa Takeneelsatakene@gmail.comMaria Sesfaoindrianimaria186@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teori Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Howard Gardner dengan fokus pada kecerdasan musikal. Metode yang digunakan adalah studi pustaka melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa setiap individu memiliki beragam jenis kecerdasan yang berbeda-beda, salah satunya adalah kecerdasan musikal. Kecerdasan musikal merupakan kemampuan seseorang dalam memahami, mengenali, mengingat, dan mengekspresikan pola nada, ritme, serta melodi. Individu yang memiliki kecerdasan musikal umumnya peka terhadap suara, mampu mengikuti irama, menikmati musik, serta memiliki kemampuan memainkan alat musik atau menciptakan lagu. Kecerdasan musikal tidak hanya dipengaruhi oleh bakat bawaan, tetapi juga dapat berkembang melalui pengalaman, latihan, dan lingkungan yang mendukung. Selain itu, kecerdasan musikal memiliki berbagai peluang pengembangan karier, seperti musisi, produser musik, pengajar musik, sound engineer, dan terapis musik. Oleh karena itu, pengenalan dan pengembangan kecerdasan musikal penting dilakukan untuk membantu individu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya</p> <p><em>This study aims to examine the theory of Multiple Intelligences proposed by Howard Gardner, with a focus on musical intelligence. The method used in this study is a literature review through the collection and analysis of relevant literature sources. The findings indicate that each individual possesses various types of intelligence, one of which is musical intelligence. Musical intelligence refers to a person’s ability to understand, recognize, remember, and express patterns of pitch, rhythm, and melody. Individuals with musical intelligence are generally sensitive to sounds, able to follow rhythms, enjoy music, and have the ability to play musical instruments or compose songs. Musical intelligence is influenced not only by innate talent but also by experience, practice, and a supportive environment. Furthermore, musical intelligence offers various career opportunities, such as musician, music producer, music teacher, sound engineer, and music therapist. Therefore, the recognition and development of musical intelligence are important in helping individuals maximize their potential.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22983ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN ASESMEN KARAKTERISTIK ANAK2026-06-13T08:14:40+00:00Aryanansi Day Mbanaaryanansidaymbana@gmail.comSilda Vebriana Benubenusilda367@gmail.comBecina Missabecinamissa4@gmail.com<p>Asesmen merupakan proses penting dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mengidentifikasi kemampuan, kebutuhan, hambatan, serta potensi yang dimiliki anak. Melalui asesmen yang tepat, pendidik dapat merancang program pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik individu peserta didik. Artikel ini membahas pengertian asesmen anak berkebutuhan khusus, tujuan, prinsip, jenis-jenis asesmen, serta peran asesmen dalam penyusunan program pendidikan yang efektif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari berbagai sumber ilmiah terkait pendidikan khusus. Hasil kajian menunjukkan bahwa asesmen yang komprehensif dan berkelanjutan mampu membantu guru, orang tua, dan tenaga profesional dalam memberikan layanan pendidikan yang optimal bagi anak berkebutuhan khusus.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23631PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG KONTEKSTUAL DAN BERMAKNA UNTUK MEMBENTUK SIKAP RELIGIUS PESERTA DIDIK DI JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA2026-06-27T12:42:13+00:00Mohd Rizky Siregardropshiperriher09072021@gmail.comFahrul Rozi Pasaribufahrurpasaribu77@gmail.comHarun Al Rasyidharunalrasyid393@gmail.comAliyyah Putri Azzahraaliyyahputriazzahraa16@gmail.com<p>Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun dalam pelaksanaannya, masih banyak dijumpai pembelajaran yang hanya menekankan aspek hafalan dan teori, sehingga kurang mampu menumbuhkan pemahaman yang mendalam serta pengamalan nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pembelajaran PAI yang kontekstual dan bermakna, serta menganalisis dampaknya terhadap pembentukan sikap religius siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI yang disajikan dengan menghubungkan materi dengan peristiwa dan lingkungan sekitar siswa dapat meningkatkan pemahaman, minat belajar, serta mempercepat proses internalisasi nilai-nilai agama. Kesimpulannya, penerapan pendekatan kontekstual menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan pembelajaran PAI masa kini agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan perkembangan zaman.</p> <p><em>Islamic Religious Education (PAI) plays a strategic role in shaping students' personalities to be faithful, pious, and virtuous. However, in practice, learning often emphasizes memorization and theory, thus failing to foster a deep understanding and application of religious values in daily life. This study aims to describe the concept of contextual and meaningful Islamic Religious Education (PAI) learning and analyze its impact on the development of students' religious attitudes. The method used in this study is a literature review, collecting and analyzing various relevant literature sources. The results indicate that PAI learning presented by connecting material to events and the surrounding environment can improve students' understanding, interest in learning, and accelerate the internalization of religious values. In conclusion, implementing a contextual approach is one solution to address the challenges of today's PAI learning, ensuring it aligns with national education goals and current developments.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22829PENGARUH KOMPETENSI GURU, MOTIVASI KERJA, DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA GURU DI SMP NEGERI 1 BINTAN2026-06-10T08:51:11+00:00Rohmat Tullohrohmatpalembang@gmail.comKiki Wulandarikikiwulandari92@umrah.ac.idSufnirayantisufnirayanti@umrah.ac.id<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kompetensi guru, motivasi kerja, dan budaya organisasi terhadap kinerja guru, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatori. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMP Negeri 1 Bintan yang berjumlah 42 orang, dan sampel diambil menggunakan teknik sampel jenuh sehingga seluruh populasi menjadi sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, uji t, uji F, dan uji koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kompetensi guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru; motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru; budaya organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru; kompetensi guru, motivasi kerja, dan budaya organisasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan kontribusi sebesar 81,7% (Adjusted R Square). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa peningkatan kinerja guru di SMP Negeri 1 Bintan dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi guru dan motivasi kerja, sementara budaya organisasi belum mampu memberikan pengaruh langsung yang signifikan.</p> <p><em>The purpose of this study is to analyze the influence of teacher competence, work motivation, and organizational culture on teacher performance, both partially and simultaneously. This study employs a quantitative approach with explanatory research. The population of this study was all 42 teachers at SMP Negeri 1 Bintan, and the sample was taken using a saturated sampling technique, making the entire population the sample. Data were collected using a Likert-scale questionnaire. Data analysis techniques used were multiple linear regression analysis, t-test, F-test, and coefficient of determination (R²). The results showed that: (1) teacher competence has a positive and significant effect on teacher performance; (2) work motivation has a positive and significant effect on teacher performance; (3) organizational culture does not have a significant effect on teacher performance; (4) teacher competence, work motivation, and organizational culture simultaneously have a significant effect on teacher performance with a contribution of 81.7% (Adjusted R Square). The conclusion of this study is that improving teacher performance at SMP Negeri 1 Bintan can be achieved through enhancing teacher competence and work motivation, while organizational culture has not yet been able to provide a significant direct influence.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23016PENGGUNAAN GADGET DAN RISIKO STRES PADA ANAK USIA SEKOLAH: STUDI CROSS-SECTIONAL2026-06-14T09:40:33+00:00Diah Nuril Arofahnurilarofahdiah@gmail.comNikmatur Rohmahnikmaturrohmah@unmuhjember.ac.idZuhrotul Eka Yulis Anggraenizuhrotulekayulis@unmuhjember.ac.id<p>Latar Belakang: Perkembangan era digital meningkatkan penggunaan gadget pada anak usia sekolah yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental, khususnya stres. Di SDN Bagon 02 Kecamatan Puger Kabupaten Jember ditemukan tingginya penggunaan gadget dan kecenderungan stres pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan tingkat stres pada anak usia sekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SDN Bagon 02, dengan sampel sebanyak 72 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Children’s Gadget Use Behavior Questionnaire dan Perceived Stress Scale for Kids (PeSSKi). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki durasi penggunaan gadget tinggi (62,5%), sedangkan tingkat stres didominasi kategori tinggi (66,67%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan tingkat stres (p < 0,001) dengan kekuatan hubungan kuat (r = 0,637) dan arah positif. Diskusi: Disimpulkan bahwa semakin tinggi durasi penggunaan gadget maka semakin tinggi tingkat stres anak. Implikasi dalam keperawatan menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi dan membatasi penggunaan gadget, peran sekolah dalam memberikan edukasi penggunaan gadget yang sehat, serta peran tenaga kesehatan dalam melakukan upaya promotif dan preventif melalui penyuluhan untuk mencegah stres pada anak usia sekolah.</p> <p><em>Introduction: The rapid development of the digital era has increased gadget use among school-age children, which may negatively affect mental health, particularly stress. At SDN Bagon 02, Puger District, Jember Regency, high levels of gadget use and stress among students have been observed. This study aimed to determine the relationship between the duration of gadget use and stress levels in school-age children. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of all students at SDN Bagon 02, with a sample of 72 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using the Children’s Gadget Use Behavior Questionnaire and the Perceived Stress Scale for Kids (PeSSKi). Data analysis was conducted using univariate and bivariate analysis with the Spearman Rank test.Result: The results showed that most respondents had a high duration of gadget use (62.5%), and stress levels were predominantly in the high category (66.67%). Statistical analysis indicated a significant relationship between gadget use duration and stress levels (p < 0.001) with a strong positive correlation (r = 0.675). Disscusion: It can be concluded that the longer the duration of gadget use, the higher the stress level among children. Nursing implications highlight the important role of families in supervising and limiting gadget use, schools in providing education on healthy gadget use, and healthcare providers in delivering promotive and preventive interventions to reduce stress in school-age children. </em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22577IMPLEMENTASI ADMINISTRASI PUBLIK DALAM PELAYANAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA DAN KARTU KUNING DI DINAS TENAGA KERJA KOTA MATARAM2026-06-05T08:39:20+00:00Ayu Purwaningsiayupurway19s@gmail.comNur Arafahnurarafah583@gmail.comWeni Hapsariwenihabsari1011@gmail.coRidwanRidwanridwanr320@gmail.com<p>Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran yang memberikan wawasan serta pengalaman praktik kepada mahasiswa mengenai aktivitas nyata di dunia kerja yang dilaksanakan selama satu bulan lebih. Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram merupakan instansi pemerintah yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik di bidang ketenagakerjaan, khususnya dalam pelayanan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan pembuatan Kartu Pencari Kerja (AK-1/Kartu Kuning). Dalam era modernisasi pelayanan publik, Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui penerapan prinsip administrasi publik yang efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selama pelaksanaan magang, mahasiswa memperoleh gambaran secara langsung mengenai implementasi administrasi publik dalam proses pelayanan Pekerja Migran indonesia dan Kartu Kuning, mulai dari prosedur administrasi, penggunaan sistem pelayanan, hingga interaksi dengan masyarakat. Dari sisi mahasiswa, instansi, maupun perguruan tinggi terdapat keterkaitan yang saling mendukung, meskipun dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa hambatan seperti keterbatasan sarana prasarana dan kendala teknis. Namun demikian, kegiatan magang ini memberikan pengalaman berharga serta meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik administrasi publik di lapangan dengan bimbingan dosen pembimbing dan mentor instansi.</p> <p><em>Community service is a form of learning activity that provides students with insight and practical experience in real-world work activities, conducted over a month. The Mataram City Manpower Office is a government agency that plays a crucial role in providing public services in the employment sector, particularly in providing services for Indonesian Migrant Workers (PMI) and issuing Job Seeker Cards (AK-1/Yellow Cards). In the era of modernizing public services, the Mataram City Manpower Office continuously strives to improve service quality by applying the principles of effective, efficient, and responsive public administration to community needs.During the internship, students gained a firsthand understanding of the implementation of public administration in the process of providing services for Indonesian Migrant Workers and Yellow Cards, from administrative procedures and the use of service systems to interactions with the public. There was a mutually supportive relationship between the students, the agency, and the university, although some challenges, such as limited infrastructure and technical constraints, were encountered during implementation. Nevertheless, this internship provided valuable experience and enhanced students' understanding of public administration practices in the field, under the guidance of their supervisors and agency mentors.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/22973EKSISTENSI PRINSIP KEBARUAN DALAM SENGKETA DESAIN INDUSTRI DI INDONESIA: ANALISIS KRITIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NIAGA JAKARTA PUSAT NOMOR 73/PDT.SUS/DESAIN INDUSTRI/2015/PN.NIAGAJKT.PST.2026-06-13T05:36:19+00:00Hendrahendra016@binus.ac.idRyan Savero Purbaryan.purba@binus.ac.idFebrian Nathanael Silalahifebrian.silalahi@binus.ac.idYolanda Fransiscayolanda.fransisca@binus.ac.id<p>Penelitian ini membahas eksistensi prinsip kebaruan (novelty principle) dalam sengketa desain industri di Indonesia melalui analisis Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 73/PDT.SUS/DESAIN INDUSTRI/2015/PN.NIAGAJKT.PST mengenai sengketa desain industri kaca helm Bogo. Prinsip kebaruan merupakan syarat utama dalam perlindungan desain industri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, namun dalam praktiknya penerapan prinsip tersebut masih menimbulkan berbagai permasalahan akibat belum adanya parameter yang jelas mengenai unsur kebaruan suatu desain industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan prinsip kebaruan dalam hukum desain industri di Indonesia, menganalisis penerapan prinsip kebaruan dalam sengketa desain industri kaca helm Bogo, serta mengkaji secara kritis pertimbangan hakim dalam putusan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan kualitatif melalui pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip kebaruan memiliki kedudukan sentral dalam menentukan sah atau tidaknya perlindungan desain industri di Indonesia. Dalam putusan tersebut, majelis hakim menolak gugatan pembatalan desain industri karena penggugat tidak mampu membuktikan hilangnya unsur kebaruan pada desain kaca helm milik tergugat. Putusan tersebut mencerminkan adanya perlindungan hukum terhadap pemegang hak desain industri terdaftar, namun belum sepenuhnya memberikan parameter yang jelas mengenai standar kebaruan dalam desain industri. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi dan pedoman interpretasi terkait novelty principle guna menciptakan kepastian hukum dan konsistensi dalam penyelesaian sengketa desain industri di Indonesia.</p> <p><em>This study discusses the existence of the novelty principle in industrial design disputes in Indonesia through an analysis of the Central Jakarta Commercial Court Decision Number 73/PDT.SUS/DESAIN INDUSTRI/2015/PN.NIAGAJKT.PST regarding the Bogo helmet visor industrial design dispute. The novelty principle is the main requirement in the protection of industrial designs as regulated in Law Number 31 of 2000 concerning Industrial Design, but in practice the application of this principle still causes various problems due to the lack of clear parameters regarding the novelty element of an industrial design. This study aims to analyze the regulation of the novelty principle in industrial design law in Indonesia, analyze the application of the novelty principle in the Bogo helmet visor industrial design dispute, and critically examine the judge's considerations in the decision. The research method used is normative juridical research with a qualitative approach through a statute approach, a case approach, and a conceptual approach. The legal materials used consist of primary, secondary, and tertiary legal materials obtained through literature studies and analyzed qualitatively descriptively. The results of the study indicate that the principle of novelty has a central position in determining the validity or invalidity of industrial design protection in Indonesia. In the decision, the panel of judges rejected the lawsuit for cancellation of the industrial design because the plaintiff was unable to prove the loss of the element of novelty in the defendant's helmet visor design. The decision reflects the existence of legal protection for registered industrial design rights holders, but does not fully provide clear parameters regarding the standards of novelty in industrial designs. Therefore, it is necessary to strengthen regulations and interpretative guidelines related to the novelty principle to create legal certainty and consistency in resolving industrial design disputes in Indonesia.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpaduhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jimt/article/view/23592PENERAPAN MINDFUL, MEANINGFUL, DAN JOYFUL LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM SEBAGAI INOVASI PENDIDIKAN2026-06-27T01:34:31+00:00Nurhaswindanurhaswinda01@gmail.comAl Ikhtami Eldina Taufikeldinataufik9@gmail.comNisa Ul Fitriahnisaulfitriah0@gmail.comMellandarymellandary09@gmail.comNaila Al Azkianaylanayla23aja@gmail.comIsamadolamadollaisaisaa@gmail.comAbdullah Ahmad Azzamahmdzzzm05@gmail.com<p>Perkembangan pendidikan abad ke-21 menuntut adanya inovasi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan karakter, keterampilan berpikir kritis, dan keterlibatan aktif peserta didik. Salah satu pendekatan yang relevan adalah penerapan konsep Mindful, Meaningful, and Joyful Learning dalam pembelajaran mendalam (deep learning). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji penerapan ketiga konsep tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai literatur yang berkaitan dengan pembelajaran mendalam serta konsep mindful, meaningful, dan joyful learning. Hasil kajian menunjukkan bahwa mindful learning membantu peserta didik belajar secara sadar dan fokus, meaningful learning mendorong keterkaitan materi dengan pengalaman nyata sehingga pembelajaran lebih bermakna, sedangkan joyful learning menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi. Integrasi ketiga konsep tersebut dalam pembelajaran mendalam mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik, memperkuat pemahaman konsep, serta mendukung pengembangan kompetensi abad ke-21. Dengan demikian, penerapan Mindful, Meaningful, and Joyful Learning dapat menjadi salah satu inovasi pendidikan yang efektif dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas dan berpusat pada peserta didik.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpadu