KAJIAN MORFOLOGI STRUKTURAL TERHADAP FENOMENA PEMBENTUKAN KATA PADA BAHASA CHAT REMAJA DI MEDIA SOSIAL WHATSAPP DAN INSTAGRAM
Kata Kunci:
Morfologi Struktural, Bahasa Chat, Remaja, Media Sosial, Pembentukan KataAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan proses pembentukan kata dalam bahasa chat remaja di media sosial WhatsApp dan Instagram menggunakan pendekatan morfologi struktural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data berupa tangkapan layar percakapan remaja yang disajikan dalam bentuk kartu data untuk menjaga etika penelitian dan kerahasiaan informan. Data dikumpulkan dengan metode simak dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan abreviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa chat remaja mengalami berbagai modifikasi bentuk, seperti pelesapan fonem, pemendekan kata, dan penambahan imbuhan nonbaku seperti nge-, ng-, ny-, -in, dan -an. Bentuk-bentuk tersebut mencerminkan kreativitas linguistik remaja dalam menciptakan variasi bahasa yang ringkas, ekspresif, dan sesuai dengan gaya komunikasi digital. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika bahasa yang terus berkembang di era digital, menandakan bahwa bahasa Indonesia memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi.
This study aims to describe the forms and word-formation processes found in teenagers’ chat language on social media platforms WhatsApp and Instagram using a structural morphological approach. The research employed a descriptive qualitative method with data collected from chat screenshots, which were presented as data cards to maintain research ethics and participant confidentiality. Data were gathered through observation and note-taking techniques and analyzed based on morphological processes such as affixation, reduplication, and abbreviation. The findings reveal that teenagers’ chat language demonstrates various morphological modifications, including phoneme omission, word shortening, and the use of nonstandard affixes such as nge-, ng-, ny-, -in, and -an. These forms reflect teenagers’ linguistic creativity in producing concise and expressive language suited to digital communication styles. The study concludes that this phenomenon represents a natural linguistic evolution, showing the adaptability of the Indonesian language to social and technological changes in the digital era.



