https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/issue/feed Jurnal Ilmiah Psikologi Insani 2026-10-09T07:22:43+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28354 PENGARUH KONSELING KELOMPOK MENGURANGI PROKRASTINASI AKADEMIK MAHASISWA 2026-10-09T06:52:32+00:00 Rolanda Arifa Dewayani rolandaarifa16@gmail.com Carisa Putri Novita Sari carisaputrins@gmail.com Niken Dwi Prameswari nikenprameswari06@gmail.com M. Ainnur Rofiq rofiqAinnur3428@gmail.com Pipit Nur Khoiriyah pipitnurkhoiriyah01@gmail.com <p>Penelitian ini membahas pengaruh konseling kelompok terhadap penurunan tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Metode konseling kelompok digunakan sebagai intervensi untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong perilaku prokrastinasi dan mengembangkan strategi penanganan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling kelompok secara signifikan mengurangi tingkat prokrastinasi akademik, memberikan wawasan mendalam tentang tantangan yang dihadapi mahasiswa, dan mendorong adopsi kebiasaan kerja yang lebih produktif. Implikasi praktis penelitian ini adalah potensi peningkatan kinerja akademik dan kesejahteraan mahasiswa melalui penerapan konseling kelompok sebagai pendekatan efektif dalam mengatasi prokrastinasi.</p> <p><em>This research discusses the effect of group counseling on reducing the level of academic procrastination in students. Group counseling methods are used as an intervention to identify factors that encourage procrastination behavior and develop treatment strategies. The results showed that group counseling significantly reduced levels of academic procrastination, provided in-depth insight into the challenges students face, and encouraged the adoption of more productive work habits. The practical implication of this research is the potential for improving academic performance and student welfare through the application of group counseling as an effective approach in overcoming procrastination.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28324 SEPI BERUJUNG TAK INGIN HENTI (AKU AND MY IDOL KOREA) 2026-10-09T04:35:04+00:00 Ana Nurhasanah ananuha07@gmail.com Agres Wahyudi agreswahyudi08@gmail.com <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya minat dan hobby para remaja saat ini terhadap budaya Korea. Karena pada sejak tahun 2000an, budaya korea masuk ke Indonesia melalui jalur hiburan seperti film, drama, musik. Demam korea ini berlangsung lebih kurang satu dekade kebelakang. Selama masa itu, komoditas ini kemudian lebih dikenal dengan istilah Korean Pop atau K-Pop dengan masingmasing penyebutan untuk aktornya sendiri. Memiliki panggilan istimewa sudah biasa bagi penggemarnya, sehingga penggemar (fanbase) sering menyebut dengan istilah “Oppa”. Dampak yang terjadi pun sangat bervariasi, mulai dari emosi yang dimiliki, halusinasi, merasa memiliki kecocokan sampai ingin memiliki, padahal sang idola sama sekali tidak mengetahui bahkan mengenali sang penggemar. Hal tersebut dikenal dengan istilah Celebrity Worship, yaitu hubungan parasosial antara penggemar dan idolanya, yang mana hanya penggemar yang mengenal baik sang idola, namum sang idola tidak mengenali sang penggemar sama sekali. Metode penelitiann yang digunakan adalah studi literatur. Hasil dari kajian telaah literature yang dilakukan menunjukkan bahwa dampak dari celebrity worship syndrome sangat mempengaruhi kehidupan fans K-Pop itu sendiri baik secara fisik maupun psikis.</p> <p><em>This research is motivated by the many interests and hobbies of today's youth towards Korean culture. Because since the 2000s, Korean culture has entered Indonesia through entertainment channels such as films, dramas, music. Korean fever has been going on for over a decade. At that time, this commodity was better known as Korean Pop or K-Pop with the names of each actor. Having a special nickname is common for fans, so fans (fandom) often call him "Oppa". The impacts that occur vary widely, ranging from the emotions they have, hallucinations, feeling compatible to wanting to have them, even the idol doesn't even know his fans. This is known as Celebrity Worship, which is a parasocial relationship between fans and their idols, where only fans know the idol well, but the idol doesn't recognize the fans at all. The research method used is a literature study. The results of the literature review conducted show that the impact of Celebrity Worship Syndrome greatly affects the lives of K-Pop fans themselves, both physically and psychologically.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28364 PERAN TOXIC WORKPLACE TERHADAP PERILAKU PHUBBING DENGAN MEDIATOR DISTRES PSIKOLOGIS 2026-10-09T07:22:43+00:00 Danya Radiani danyar.705200221@stu.untar.ac.id Rostiana rostiana@fpsi.untar.ac.id <p>Penelitian ini memiliki tujuan untuk merekognisi keterikatan antara <em>toxic workplace </em>dengan perilaku <em>phubbing </em>jika terdapat mediator distres psikologis. <em>Toxic workplace </em>adalah lingkungan kerja yang menghambat perkembangan diri dan menimbulkan stres. Perilaku <em>phubbing </em>adalah perilaku seseorang yang mengabaikan percakapan bersama orang lain dengan bermain ponsel. Perundungan yang terjadi di tempat kerja dapat membuat seseorang menjadi tertekan dan mengalami distres psikologis yang mendatangkan rasa ketidakpercayaan diri. Keadaan seperti ini harus diantisipasi agar tidak terjadi karena dapat menghambat tugas pekerjaan. Penelitian ini melibatkan 224 karyawan di perusahaan <em>entertainment </em>dengan rentang usia 20-63 tahun, menggunakan metode penelitian kuantitatif. Alat ukur yang digunakan mencakup <em>Toxic Work Environment </em>dari McCulloch (2017), <em>Phubbing Scale </em>dari Karadaǧ et al. 2015 dan <em>The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) </em>dari Kessler et al. (2002)). Hasil analisis data menggunakan PROCESS menunjukkan keterkaitan yang signifikan antara <em>toxic workplace </em>dan <em>phubbing </em>(R<sup>2</sup> = 0.190, F = 52.088, β = 0.236, p = 0.000 &lt; 0.05), menunjukkan bahwa semakin buruk lingkungan kerja, semakin tinggi kemungkinan perilaku <em>phubbing</em>. Selain itu, ditemukan bahwa distres psikologis dapat memediasi hubungan antara <em>toxic workplace </em>dan <em>phubbing</em>, menyiratkan bahwa dampak <em>toxic workplace </em>terhadap <em>phubbing </em>lebih kuat ketika individu mengalami distres psikologis.</p> <p><em>This research seeks to examine the connection between a toxic workplace and phubbing behavior, exploring whether psychological distress serves as a mediator in this relationship. A toxic workplace is defined as an environment hindering personal development and causing stress. Phubbing behavior involves ignoring conversations by engaging with a cellphone. Workplace bullying may lead to depression and psychological distress, impacting self-confidence and hindering task performance. The study, involving 224 employees in entertainment companies aged 20-63, utilized quantitative research methods. Measurement tools included the Toxic Work Environment scale (McCulloch, 2017), Phubbing Scale (Karadaǧ et al., 2015), and The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) (Kessler et al., 2002). Analysis using PROCESS revealed a significant association between toxic workplace and phubbing (R2 = 0.190, F = 52.088, β = 0.236, p = 0.000 &lt; 0.05), indicating that a more adverse work environment is linked to higher likelihood of phubbing behavior. Furthermore, psychological distress was identified as a mediator, suggesting that the impact of a toxic workplace on phubbing is intensified when individuals experience psychological distress.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28351 HUBUNGAN ANTARA KUALITAS PELAYANAN DENGAN KEPUASAN KONSUMEN PADA PRODUK AGRADAYA 2026-10-09T06:43:17+00:00 Hasnaini Mardhatillah hasnainiwowo@gmail.com Nur Fachmi Budi Setyawan fachmi@mercubuana-yogya.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan pada perusahan Agaradaya dengan harapan untuk membantu meningkatkan kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen dapat ditingkatkan dengan kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan dan kepuasan konsumen sangat penting bagi suatu penyedia jasa atau produk. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsumen di perusahan Agradaya. Subjek penelitian ini adalah remaja sampai lansia yang memiliki usia 18-60 tahun dengan jumlah 101 orang. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala kepuasan konsumen dan skala kualitas pelayanan. Metode analisis data menggunakan metode analisis korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,837 (p≤ 0,01). Hal ini menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsumen pada produk Agradaya. Nilai koefisien determinasi (R2 ) 0,700 hal tersebut menunjukkan bahwa variabel kualitas pelayanan memberikan sumbangan efektif sebesar 70% terhadap kupeasan konsumen dan sisanya 30% dipengaruhi oleh faktor lain.</p> <p><em>This research aims to determine the quality of service at the Agaradaya company with the hope of helping to increase consumer satisfaction. Consumer satisfaction can be increased by service quality. Service quality and customer satisfaction are very important for a service or product provider. The hypothesis proposed in this research is that there is a positive relationship between service quality and consumer satisfaction at the Agradaya company. The subjects of this research were teenagers to the elderly aged 18-60 years with a total of 101 people. The data collection method in this research uses a consumer satisfaction scale and a service quality scale. The data analysis method uses the product moment correlation analysis method from Karl Pearson. The results of data analysis obtained a correlation coefficient (rxy) of 0.837 (p≤ 0.01). This shows that there is a significant positive relationship between service quality and consumer satisfaction with Agradaya products. The coefficient of determination (R2) value of 0.700 indicates that the service quality variable makes an effective contribution of 70% to consumer satisfaction and the remaining 30% is influenced by other factors.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28360 HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU AGRESI PADA KOMUNITAS PENGGEMAR MUSIK METAL DI PALEMBANG 2026-10-09T07:11:26+00:00 Muhammad Alyf Attaqy alyffattaqy@gmail.com Rina Oktaviana rina.oktaviana@binadarma.ac.id <p>Dikenal sebagai aliran musik yang keras dan cepat, musik metal pun identik dengan kekerasan, terbukti pada beberapa konser musik metal yang dilakukan di Palembang masih diwarnai dengan adegan kekerasan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresi pada Komunitas Penggemar Musik Metal di Palembang. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresi pada Komunitas Penggemar Musik Metal di Palembang. Jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 150 penggemar musik metak yang mana dari subjek tersebut sebanyak 105 penggemar musik metal yang digunakan sebagai sampel penelitian. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling. Alat ukur yang di gunakan dalam penelitian ini adalah skala kontrol diri dan skala perilaku agresi. Teknik analisis mengunakan teknik analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS versi 20. Hasil analisis data penelitian dengan bantuan program SPSS versi 20 for windows, menunjukan koefisien korelasi (R) sebesar 0,916 koefisien determinasi (R2) sebesar 0,803, serta nilai P = 0,000 Hasil analisa yang diperoleh menunjukan adanya hubungan yang sangat signifikan antara hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresi pada Komunitas Penggemar Musik Metal sebesar 80,3%.</p> <p><em>Known as a genre of loud and fast music, metal music is synonymous with violence, as evidenced by several metal music concerts held in Palembang which are still characterized by scenes of violence. This research aims to determine the relationship between self-control and aggressive behavior in the Metal Music Fan Community in Palembang. The hypothesis proposed in this research is that there is a relationship between self-control and aggressive behavior in the Metal Music Fan Community in Palembang. The total population in this study was 150 metal music fans, of which 105 metal music fans were used as research samples. The sampling technique used in this research is a non-probability sampling technique, namely purposive sampling. The measuring instruments used in this research are the self-control scale and the aggression behavior scale. The analysis technique uses a simple regression analysis technique with the help of SPSS version 20. The results of research data analysis with the help of the SPSS version 20 for Windows program show a correlation coefficient (R) of 0.916, a coefficient of determination (R2) of 0.803, and a P value =</em></p> <p><em>0.000. The results of the analysis are obtained shows that there is a very significant relationship between self-control and aggressive behavior in the Metal Music Fan Community, amounting to 80.3%.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28339 PENGARUH BULLYING TERHADAP KEAMANAN PSIKOLOGIS PADA PANTI ASUHAN MIZAN AMANAH DI KOTA BEKASI 2026-10-09T05:21:49+00:00 Octo Iskandar octo.iskandar@dsn.ubharajaya.ac.id Faizah Munatul Aisi 202110515143@mhs.ubharajaya.ac.id Hoirunnurmalasari 202110515140@mhs.ubharajaya.ac.id Diana Tri Handayani 202110515087@mhs.ubharajaya.ac.id Maria Tiara R.R Fonga 202110515149@mhs.ubharajaya.ac.id <p>Kegiatan abdi Masyarakat ini diselenggarakan di Yayasan Panti asuhan X yang beralamatkan jl. Lumbu tengah raya blok VIII No.8 RT08/28, Bojong Rawalumbu, Kec. Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pelaksana dalam kegiatan pengabdian masyarakat Ini merupakan Mahasiswa universitas Bhayangkara Jakarta Raya dikota Bekasi. Tujuan abdi Masyarakat ini yaitu anak-anak panti asuhan dapat mengerti dan memahami bahaya bullying yang terjadi disekolah. Kegiatan dengan tema pencegahan bullying ini dilakukan oleh mahasiswa psikologi, untuk melakukan sosialisasi tentang bahayanya bullying yang terjadi disekolah dan anak panti di Yayasan tersebut cukup tertarik dengan tema pencegahan ini sehingga pada saat acara ini mereka bisa sharing tentang pengalamannya pernah menjadi korban bullying dan pernah melihat orang yang sedang melakukan bullying disekolah. Survei yang dilakukan di 35 negara oleh World Health Organisation (WHO) tentang perilaku sehat di sekolah pada tahun 2001 ditemukan fakta bahwa tingkat kejadian rata-rata korban dan pelaku bullying</p> <p><em>This Community Service activity was held at the X Orphanage Foundation which is located at Jl. Lumbu Tengah Raya block VIII No.8 RT08/28, Bojong Rawalumbu, Kec. Rawalumbu, Bekasi City, West Java. The implementers of this community service activity are students from Bhayangkara University, Jakarta Raya in the city of Bekasi. The goal of this Community Service is that children in orphanages can understand and comprehend the dangers of bullying that occurs at school. This activity with the theme of bullying prevention was carried out by psychology students, to provide socialization about the dangers of bullying that occurs at school and the orphanage children at the Foundation were quite interested in this prevention theme so that during this event they could share about their experiences of being victims of bullying and having seen people who is bullying at school. A survey conducted in 35 countries by the World Health Organization (WHO) regarding healthy behavior in schools in 2001 found that the average incidence of victims and perpetrators of bullying reached 11%. Cases of bullying also occur in Indonesia, it was discovered that Indonesia is in second place out of 40 countries surveyed by Latitude News, as the country with the highest cases of bullying in the world after Japan.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28357 PENGARUH EMPATI TERHADAP TIPE PERILAKU PROSOSIAL PADA PENGENDARA OJEK ONLINE RODA DUA DI KOTA MAKASSAR 2026-10-09T07:05:37+00:00 Ratu Salsabila Helmi ratushh@gmail.com Faradillah Firdaus faradillah@unm.ac.id Perdana Kusuma perdanakusuma@unm.ac.id <p>Manfaat yang dirasakan individu dengan kehadiran dari kendaraan membuat jumlah pengguna kendaraan ikut meningkat. Berbagai dampak yang muncul akibat kepadatan yang terjadi di jalan raya, seperti lelah secara emosional, keresahan, ketidaknyamanan psikologis, meningkatnya tingkat agresi hingga mengakibatkan kecelakaan. Maka, tindakan menolong ini sangatlah dibutuhkan dan bermanfaat yang bukan cuma dirasakan oleh korban yang mengalami kecelakaan. Pada beberapa situasi, hanya sebagian kecil individu yang mau terlibat secara langsung dalam memberikan pertolongan saat terjadinya kecelakaan, dimana sebagian individunya merupakan pengendara ojek online beroda dua. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui hubungan empati dengan perilaku prososial pada pengendara ojek online roda dua di Kota Makassar. Subjek penelitian ini adalah pengendara ojek online roda dua yang berdomisili di Kota Makassar sebanyak 352. Teknik pengumpulan data menggunakan skala atau questionnaire. Subjek dipilih menggunakan teknik Accidental Sampling. Hasil analisis diperoleh bahwa terdapat hubungan yang positif antara empati dengan perilaku prososial. Hal ini dilihat dari hasil uji hipotesis yang menggunakan korelasi rank</p> <p><em>The benefits that individuals feel from the presence of vehicles causes the number of vehicle users to increase. Various impacts arise due to congestion on the highway, such as emotional fatigue, restlessness, psychological discomfort, increased levels of aggression and even resulting in accidents. So, this act of helping is really needed and useful, which is not only felt by victims who experience accidents. In some situations, only a small number of individuals are willing to be directly involved in providing assistance when an accident occurs, where some of the individuals are two-wheeled online motorcycle taxi drivers. The aim of this research is to determine the relationship between empathy and prosocial behavior in two-wheeled online motorcycle taxi drivers in Makassar City. The subjects of this research were 352 two-wheeled online motorcycle taxi drivers who lived in Makassar City. The data collection technique used a scale or questionnaire. Subjects were selected using the Accidental Sampling technique. The results of the analysis show that there is a positive relationship between empathy and prosocial behavior. This can be seen from the results of hypothesis testing using Spearman rank correlation with a significance value of 0.00. If empathy is high then prosocial behavior will be high, and vice versa. The implication of this research is that it can make a contribution, especially in the field of psychology, and can become an additional reference regarding the relationship between empathy and prosocial behavior.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28335 PENERAPAN TEKNIK SELF MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI PERILAKU KECANDUAN MENONTON DRAMA KOREA DI SMK NEGERI 4 GOWA 2026-10-09T05:06:00+00:00 Ida Ayu Diastini ayuida872@gmail.com Syamsul Bachri Thalib bachrisyamsul292@gmail.com Abdullah Pandang abdullahpandang@unm.ac.id <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Single Subject Research (SSR) dan menggunakan desain A-B-A. Subjek penelitian ini adalah dua orang siswa kelas XI SMK Negeri 4 Gowa yang mengalami kecanduan Menonton Drama Korea. Pengumpulan data dengan menggunakan instrumen observasi dan skala penilaian. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kecanduan Menonton Drama korea sebelum diberikan perlakuan berupa penerapan teknik <em>Self Management </em>berada pada kategori tinggi (2) Pelaksanaan teknik <em>Self Management </em>untuk mengurangi Perilaku kecanduan menonton drama korea pada siswa SMK Negeri 4 Gowa dilaksanakan sebanyak 6 tahap dalam 12 kali pertemuan. Selama pelaksanaan intervensi, siswa menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi (3) Penerapan teknik <em>Self Management </em>dapat menurunkan secara signifikan tingkat kecanduan menonton drama korea pada siswa.</p> <p><em>This research uses a quantitative research approach with a Single Subject Research (SSR) type of research and uses an A-B-A design. The subjects of this research were two class XI students at SMK Negeri 4 Gowa who were addicted to watching Korean dramas. Data collection using observation instruments and assessment scales. Data analysis uses descriptive analysis and visual analysis. The results of the research show that: (1) The level of addiction to watching Korean dramas before being given treatment in the form of applying Self Management techniques is in the high category (2) The implementation of Self Management techniques to reduce the addictive behavior of watching Korean dramas among students at SMK Negeri 4 Gowa is carried out in 6 stages in 12 meetings. During the implementation of the intervention, students showed a high level of participation. (3) The application of Self Management techniques can significantly reduce the level of addiction to watching Korean dramas in students.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28355 UPAYA PENYELESAIAN TOXIC FRIENDSHIP DENGAN PENDEKATAN GESTALT 2026-10-09T06:56:58+00:00 Tunggul Sembodo tunggulsmbd305@gmail.com Muhammad Ariffadillah muhammadariffadillah54@gmail.com Diaz Dwi Nugroho diazdwi80@gmail.com Jida Alfian Fanany jidaalfian788@gmail.com <p>Masa remaja adalah suatu masa yang unik dalam fase kehidupan remaja, dimana seseorang yang telah memasuki usia remaja memiliki karakteristik yang khas. Setiap hari kita bisa bertemu dengan orang baru yang memiliki sifat, fisik, karakter yang berbeda-beda. Ketika manusia sering berinteraksi dengan manusia lain, maka terjalinlah ikatan hubungan baik itu sebagai kenalan, teman, sahabat, ataupun pasangan hidup sekalipun. Namun, dibeberapa hubungan muncullah teman atau seseorang yang kita kenal yang mempunyai perilaku toxic. Perilaku toxic yang keluar, terkadang membuat kita sakit hati dan malas untuk berhubungan dengan orang tersebut. Perilaku komunikasi toxic friendship merupakan bagian dari proses komunikasi yang dialami oleh kalangan sesama mahasiswa. Pola komunikasi ini menggunakan bahasa yang tidak/kurang baik serta disertai dengan tindakan buruk. Hal ini memengaruhi perilaku komunikasi mereka, baik komunikasi secara verbal maupun nonverbal. Dalam artikel ini, penulis ingin membahas mengenai perilaku toxic yang biasanya ditemukan pada hubungan dalam lingkungan persahabatan tersebut dan mencari solusi untuk dapat mengatasi hubungan yang toxic. Penulis mencoba untuk merumuskan permasalahan yang ingin dibahas dalam paper ini berupa jenis-jenis perilaku toxic yang biasanya dilakukan dalam hubungan persahabatan, cara untuk menghadapi perilaku toxic, juga etika persahabatan seperti apa yang perlu dilakukan untuk menjaga hubungan persahabatan ini. Dalam pendekatannya penulis ingin akan menggunakan pendekatan secara gestalt.</p> <p><em>Adolescence is a unique period in the adolescent life phase, where someone who has entered adolescence has unique characteristics. Every day we can meet new people who have different characteristics, physique, and character. When humans often interact with other humans, relationships are formed, whether as acquaintances, friends, best friends, or even life partners. However, in some relationships a friend or someone we know appears who has toxic behavior. The toxic behavior that comes out sometimes makes us feel hurt and lazy to connect with that person. Toxic friendship communication behavior is part of the communication process experienced by fellow students. This communication pattern uses bad/bad language and is accompanied by bad actions. This influences their communication behavior, both verbal and nonverbal communication. In this article, the author wants to discuss toxic behavior that is usually found in relationships within a friendly environment and look for solutions to overcome toxic relationships. The author tries to formulate the problems to be discussed in this paper in the form of types of toxic behavior that are usually carried out in friendly relationships, ways to deal with toxic behavior, as well as what kind of friendship ethics need to be followed to maintain this friendly relationship. In his approach the author wants to use a gestalt approach.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28329 Pengaruh Bimbingan Klasikal untuk Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Siswa SMPN 35 Pekanbaru 2026-10-09T04:53:11+00:00 Monalisa Saudina Sinaga monalisa.saudina3049@student.unri.ac.id Tri Umari tri.umari@lecturer.unri.ac.id Donal donal@lecturer.unri.ac.id <p>Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap berbagai persoalan seiring transisi individu dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa awal. Transisi ini dapat menimbulkan perilaku negatif, seperti agresif. Perilaku agresif sering kali dianggap negatif dan merusak, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjangnya terhadap individu. Studi pendahuluan di SMPN 35 Pekanbaru mengungkap indikasi perilaku agresif pada siswa kelas VIII. Perilaku agresif, termasuk agresi fisik dan verbal, dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang dan berdampak baik bagi penyerang maupun korbannya. Agresif verbal, khususnya, dapat memengaruhi persepsi diri dan kematangan emosi seseorang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak bimbingan klasikal terhadap pengurangan agresif verbal pada siswa di SMPN 35 Pekanbaru. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup untuk menilai agresif verbal. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan agresif verbal yang signifikan setelah dilakukan intervensi bimbingan klasikal. Intervensi ini terbukti efektif mengurangi perilaku agresif, didukung oleh analisis statistik dan perubahan indikator agresi. Kesimpulannya, bimbingan klasikal berdampak positif dalam mengurangi agresi verbal pada siswa SMPN 35 Pekanbaru. Studi ini menyoroti pentingnya mengatasi perilaku agresif pada remaja dan potensi efektivitas bimbingan klasik dalam mengurangi perilaku tersebut.</p> <p><em>Adolescence is a period that is vulnerable to various problems as individuals transition from childhood to early adulthood. This transition can lead to negative behavior, such as aggression. Aggressive behavior is often viewed as negative and destructive, raising concerns about its long-term impact on individuals. A preliminary study at SMPN 35 Pekanbaru revealed indications of aggressive behavior in class VIII students. Aggressive behavior, including physical and verbal aggression, can have long-term consequences and impact both the attacker and the victim. Verbal aggression, in particular, can affect a person's self-perception and emotional maturity. Therefore, this study aims to determine the impact of classical guidance on reducing verbal aggression in students at SMPN 35 Pekanbaru. The data collection method uses a closed questionnaire to assess verbal aggression. The results of the study showed a significant reduction in verbal aggression after classical guidance intervention. This intervention was proven to be effective in reducing aggressive behavior, supported by statistical analysis and changes in aggression indicators. In conclusion, classical guidance has a positive impact in reducing verbal aggression in students at SMPN 35 Pekanbaru. This study highlights the importance of addressing aggressive behavior in adolescents and the potential effectiveness of classical guidance in reducing such behavior.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28352 STUDI KASUS: ANALISIS PERILAKU TOXIC RELATIONSHIP PADA MAHASISWA 2026-10-09T06:48:38+00:00 Restia Pramesti restia.5201211034@student.uty.ac.id Jumbuh Suprastowo ppg.jumbuhsuprastowo78@program.belajar.id <p>Manusia merupakan makhluk social yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Hubungan yang dijalin oleh dua manusia yang memiliki karakter berbeda menimbulkan asumsi bahwa mereka harus saling memberikan toleransi satu sama lain terhadap kekurangan dan kelebihan pasangan mereka. Konflik akan selalu ada di setiap hubungan karena tidak mudah untuk menyatukan karakter dan sifat satu sama lain. Emosi negatif akan menjadi sumber dari permasalahan dalam sebuah hubungan yang menyebabkan rasa tidak aman, kondisi seperti ini dapat memicu adanya perasaan nyaman dari salah satu pihak. Konflik yang terjadi karena proses pengenalan ini banyak terjadi hubungan yang tidak sehat biasa dikenal dengan toxic relationship. Dengan mempelajari studi kasus dan hasil penelitian, mereka dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang fenomena ini dan mengembangkan pendekatan yang lebih efektif dalam membantu individu yang terlibat dalam toxic relationship. Secara keseluruhan, penelitian perlu dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang toxic relationship dan mengembangkan strategi untuk mencegah dan mengatasi hubungan yang tidak sehat ini. Jurnal ini dapat menjadi acuan bagi mahasiswa untuk memahami toxic relationship factor penyebab, dampak dan cara menghindarinya.</p> <p><em>Humans are social creatures who cannot live without other people. The relationship between two people who have different characters gives rise to the assumption that they must tolerate each other's weaknesses and strengths. Conflict will always exist in every relationship because it is not easy to unite each other's characters and traits. Negative emotions are a source of problems in a relationship that cause feelings of insecurity, conditions like this can trigger feelings of comfort from one party. Conflicts that occur due to this recognition process often lead to unhealthy relationships, usually known as toxic relationships. By studying case studies and research results, they can increase their understanding of this phenomenon and develop more effective approaches in helping individuals involved in toxic relationships. Overall, research needs to be done to gain a better understanding of toxic relationships and develop strategies to prevent and overcome these unhealthy relationships. This journal can be a reference for students to understand toxic relationship factors, causes, impacts and how to avoid them.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28362 DUKUNGAN SOSIAL PADA PENDAMPING ANAK DISABILITAS CEREBRAL PALSY DI KOMUNITAS PINILIH SEDAYU 2026-10-09T07:19:55+00:00 Nida Lailatu Syabani nida8lltsy@gmail.com M. Wahyu Kuncoro wahyu@mercubuana-yogya.ac.id <p>Cerbral Palsy merupakan kelainan motorik yang berupa kekauan pada otak yang mempengaruhi fungsi motorik pada tubuh. Secara umum, melakukan pendampingan pada anak disabilitas Cerebral Palsy membutuhkan adanya dukungan sosial yang didapatkan bisa dari keluarga, masyarakat atau pihak lain. Seperti dengan adanya pemberian dukungan sosial yang diberikan secara langusng kepada para pendamping anak disabilitas Cerebral Palsy yang ada di komunitas Pinilih Sedayu yang dipilih sebagai alat pendukung dalam memberikan informasi mengenai dukungan – dukungan terhadap para pendamping anak disabilitas khususnya Cerebral Palsy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dukungan yang diterima pendamping anak disabilitas Cerebral Palsy di komunitas Pinilih Sedayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan menggunakan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diterima para pendamping didapatkan dari banyak pihak seperti pemberi dukungan individual, institusional, dan kelompok, selain itu peneliti juga menjelaskan dari latar belakang memiliki anak disabilitas Cerebral Palsy, kebutuhan dalam melakukan pendampingann,</p> <p>permasalahan dalam melakukkan pendampingan, upaya mandiri yang telah dilakukan untuk melakukan pendampingan. Pandangan masyarakat dan keluarga menjadi salah satu faktor permasalahan dalam dukungan sosial, pandangan negatif dari masyarakat untuk anak disabilitas Cerebral Palsy dan tidak adanya dukungan dari keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dalam pendampingan. Selain itu masih sulitnya layanan terapis yang lengkap di daerah sedayu, serta program dari komunitas Pinilih Sedayu yang belum rutin untuk melakukan pendampingan anak disabilitas Cerebral Palsy. Perlu adanya kolaborasi antar berbagai pihak untuk melakukan dukungan sosial pada pendamping anak disabilitas Cerebral Palsy di komunitas Pinilih Sedayu.</p> <p><em>Cerbral Palsy is a motor disorder in the form of stiffness in the brain which affects motor function in the body. In general, providing assistance to children with Cerebral Palsy disabilities requires social support, which can be obtained from family, society or other parties. Such as providing social support which is provided directly to companions of children with Cerebral Palsy disabilities in the Pinilih Sedayu community which was chosen as a supporting tool in providing information regarding support for companions of children with disabilities, especially Cerebral Palsy. The aim of this research is to determine the description of the support received by companions of children with Cerebral Palsy disabilities in the Pinilih Sedayu community. This research uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected using interviews. The results of the research show that the social support received by the companions is obtained from many parties such as individual, institutional and group support providers. Apart from that, the researcher also explains the background of having a child with a Cerebral Palsy disability, the need for providing assistance, problems in providing assistance, independent efforts that have been carried out to provide assistance. The view of the community and family is one of the factors in the problem of social support, the negative view of the community towards children with Cerebral Palsy disabilities and the absence of support from the family in meeting the needs for assistance. Apart from that, there is still difficulty in providing complete therapeutic services in the Sedayu area, as well as programs from the Pinilih Sedayu community which are not yet routine in assisting children with Cerebral Palsy disabilities. There needs to be collaboration between various parties to provide social support for accompanying children with Cerebral Palsy disabilities in the Pinilih Sedayu community.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28350 ANALISIS MASALAH DAN TAHAPAN KONSELING PSIKOLOGI BUDDHA PADA SISWA 2026-10-09T06:40:40+00:00 Yolita Agustine yolita2022@sekha.kemenag.go.id Partono Nyanasuryanadi psnadi@smaratungga.ac.id Kabri kabri@smaratungga.ac.id <p>Psikologi Buddha melihat tentang bagaimana ajaran dalam Agama Buddha disandingkan dengan ilmu psikologi guna melihat karakter kehidupan seseorang apakah sudah sejalan dengan Dhamma itu sendiri. Peserta didik yang memiliki latar Agama Buddha dapat menghadapi masalah tersebut dengan bantuan para guru yang sejalan dengan ajaran Buddha. Permasalahan yang sering timbul dikalangan siswa-siswi sekolah sering membuat mereka stres dalam menghadapi kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan Dhammacakkappavattana Sutta dan Mahasatipatthana Sutta dapat dijadikan bahan untuk menganalisa dan menyelesaikan masalah siswa-siswi yang memiliki latar Agama Buddha. Konseling dan psikoterapi merupakan cara yang dapat dilakukan untuk membantu para klien yang menderita stres ataupun depresi. Dengan menggunakan 7 tahapan : membuat minat dan kesadaran bahwa perlunya bantuan, membina hubungan, menetapkan tujuan dan memperdalam penggalian masalah, memecahkan masalah dan bekerja mencapai tujuan, membuat klien untuk berubah ke arah positif, melakukan perencanaan dan evaluasi akhir dan mengakhiri konseling.</p> <p><em>Buddhist psychology looks at how the teachings in Buddhism are juxtaposed with psychology in order to see whether the character of a person's life is in line with the Dhamma itself. Students who have a Buddhist background can face these problems with the help of teachers who are in line with Buddhism. Problems that often arise among school students often make them stressed in facing learning activities. Using the approach of Dhammacakkappavattana Sutta and Mahasatipatthana Sutta can be used as material to analyze and solve problems of students who have a Buddhist background. Counseling and psychotherapy are ways that can be done to help clients who suffer from stress or depression. By using 7 stages: create interest and awareness that help is needed, foster relationships, set goals and deepen problem mining, solve problems and work towards achieving goals, make clients to change in a positive direction, do final planning and evaluation and end counseling.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28359 PERAN IBU DALAM MENGATASI KEKERASAN SEKSUAL YANG DIALAMI ANAK PEREMPUAN DI LINGKUNGAN KELUARGA 2026-10-09T07:08:32+00:00 Gina Wardayani ginawardayani117@gmail.com Widyastuti widyastuti@unm.ac.id <p>Kekerasan seksual merupakan bentuk perilaku kejahatan yang bersifat memaksa, merendahkan, dan mengancam dengan tujuan mengendalikan orang lain agar memeroleh kepuasan seksual. Kekerasan seksual yang terjadi dalam keluarga sulit diidentifkasi karena sifatnya lebih tertutup dan tersembunyi. Individu khususnya anak perempuan yang mengalami kekerasan seksual akan memunculkan gangguan-gangguan psikologis dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika anak perempuan mengalami kekerasan seksual maka keberadaan ibu akan dipertanyakan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran ibu dalam mengatasi kekerasan seksual yang dialami anak perempuan dalam lingkungan keluarga. Responden pada penelitian ini adalah anak perempuan berusia 16 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual berulang oleh orang berbeda dalam keluarganya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dianalisis menggunakan data driven. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran ibu memengaruhi kondisi psikologis korban kekerasan seksual di lingkungan keluarga. Pihak ibu dari responden IA tidak melaksanakan perannya dengan baik dan tidak hadir baik secara fisiologis maupun psikologis. Ibu responden IA berusaha menutupi kekerasan seksual yang dialami anaknya dengan berbagai alasan. Akibat dari sikap tersebut timbul defense mechanism yang digunakan korban untuk melindungi dirinya dari situasi yang menekan. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menghadirkan perspektif baru baik terhadap ibu yang memiliki anak perempuan korban kekerasan seksual maupun pihak lembaga masyarakat agar dapat memberikan penanganan</p> <p><em>Sexual violence is a form of criminal behavior that is coercive, degrading, and threatening with the aim of controlling others in order to obtain sexual satisfaction. Sexual violence that occurs in the family is difficult to identify because it is more secretive and hidden. Individuals, especially girls who experience sexual violence, will cause psychological disturbances in their daily lives. When girls experience sexual violence, the existence of the mother will be questioned. The purpose of this study is to find out how the mother's role in overcoming sexual violence experienced by girls in the family environment. Respondents in this study were 16-year-old girls who were victims of repeated sexual violence by different people in their families. The method used in this research is qualitative using a case study approach. The data collection technique used was interviews and analyzed using data driven. The results of this study show that the mother's role affects the psychological condition of victims of sexual violence in the family environment. The mother of respondent IA did not carry out her role properly and was absent both physiologically and psychologically. Respondent IA's mother tried to cover up the sexual violence experienced by her child for various reasons. As a result of this attitude, a defense mechanism arose which the victim used to protect herself and her family.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28337 KESEHATAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA 2026-10-09T05:15:18+00:00 Yonalia Yulistiani yonalia2022@sekha.kemenag.go.id Partono Nyanasuryanandi psadi@smaratungga.ac.id Suherman herusuherman@smaratungga.ac.id <p>Pengalaman tidak menyenangkan dapat memicu kekhawatiran berlebihan, berdampak pada kesehatan mental yang erat terhubung dengan kesehatan fisik. WHO mengakui bahwa kesehatan mental melibatkan kebahagiaan, kepercayaan diri, dan hubungan yang baik, dengan solusi seperti konseling dan bantuan medis. Perspektif Agama Buddha menekankan pemahaman diri sebagai kunci untuk menghindari tindakan buruk, terutama melalui praktik mindfulness. Faktor-faktor seperti kebingungan dan ketidakberanian dapat merusak kesehatan mental menurut ajaran Buddha. Penelitian ini, menggunakan metode kualitatif dan studi kepustakaan, menunjukkan bahwa mindfulness membantu individu menjadi lebih tenang dan membangun hubungan sosial yang positif. Meskipun ada berbagai cara untuk menjaga kesehatan mental, perhatian terhadapnya masih kurang, memerlukan peningkatan layanan kesehatan mental dan sosialisasi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong penerapan solusi seperti mindfulness.</p> <p><em>Unpleasant experiences can trigger excessive worries, impacting mental health closely linked to physical well-being. The World Health Organization (WHO) recognizes mental health as involving happiness, self-confidence, and positive relationships, with solutions such as counseling and medical assistance. The Buddhist perspective underscores self-understanding as key to avoiding negative actions, notably through mindfulness practices. Factors like confusion and lack of courage can compromise mental health according to Buddhist teachings. Employing qualitative methods and literature studies, this research indicates that mindfulness aids individuals in becoming more composed and fostering positive social connections. Despite various approaches to maintaining mental health, attention remains insufficient, necessitating enhanced mental health services and regional government efforts to raise public awareness and encourage the adoption of solutions such as mindfulness.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28356 DAMPAK MINIMALISASI LAYANAN KLASIKAL GURU BK SMK DI ERA NEW MEDIA STUDI KASUS GURU BK DI SMK NEGERI 1 GODEAN 2026-10-09T06:59:48+00:00 Tri Wahyu Ningsih tri.5201211014@student.uty.ac.id Rita Adiningrum rita.adiningrum313@gmail.com <p>Studi ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan media bimbingan dan konseling dalam layanan bimbingan dan konseling oleh guru bimbingan dan konseling. Hasil dari studi ini secara terperinci menunjukkan implementasi minimalisasi pengajaran guru bimbingan dan konseling yang kini digantikan menjadi pemanfaatan media bimbingan dan konseling mulai dari media visual, media elektronik, media audio visual, dan media komputer dalam setiap layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling. Adanya media peserta didik menjadi lebih semangat dan termotivasi dalam mengikuti layanan seperti layanan informasi yang diberikan oleh guru BK. Media dalam layanan informasi menampilkan informasi yang terkait kebutuhan peserta didik setidak-tidaknya media yang ditampilkan dapat bermanfaat bagi guru itu sendiri maupun bagi peserta didik. Untuk meningkatkan kemampuan serta kreatifitas guru dalam proses pembelajaran maka sangat dibutuhkan penerapan desain media pembelajaran interaktif bimbingan dan konseling untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan mengajar calon guru bimbingan dan konseling di sekolah. Namun dengan tidak adanya jam masuk kelas guru bimbingan dan konseling memiliki dampak negatif dan positif sendiri.</p> <p><em>This study aims to determine the use of guidance and counseling media in guidance and counseling services by guidance and counseling teachers. The results of this study in detail show the implementation of minimization of guidance and counseling teacher teaching which is now replaced by the use of guidance and counseling media ranging from visual media, electronic media, audio-visual media, and computer media in every guidance and counseling service provided by guidance and counseling teachers. The existence of media students become more enthusiastic and motivated in participating in services such as information services provided by BK teachers. Media in information services display information related to the needs of students, at least the media displayed can be useful for the teacher himself and for students. To improve the ability and creativity of teachers in the learning process, it is very necessary to apply the design of interactive learning media guidance and counseling to improve mastery of concepts and teaching skills of prospective guidance and counseling teachers in schools. However, in the absence of class hours, guidance and counseling teachers have their own negative and positive impacts.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jipsi/article/view/28331 Pengaruh Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Johari Window Terhadap Keterbukaan Diri Siswa Etnis Melayu 2026-10-09T04:57:18+00:00 Veli Avelina veli.avelina2832@student.unri.ac.id Elni Yakub elni.yakub@lecturer.unri.ac.id Mahdum mahdum.adanan@lecturer.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bimbingan kelompok dengan teknik johari window terhadap keterbukaan diri siswa Etnis Melayu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan model one-group pretest-posttest design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang berjumlah 8 orang. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode kuisioner. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu analisis statistic deskriptif dengan menggunakan uji Wilcoxon dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan tingkat keterbukaan diri siswa setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik johari window. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Wilcoxon yaitu Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0,012. Berdasarkan perhitungan determinasi menyatakan bahwa besarnya kontribusi bimbingan kelompok dengan teknik johari window untuk meningkatkan keterbukaan diri siswa sebesar 69,5%.</p> <p><em>This research aims to find out how much influence group guidance using the Johari window technique has on the self-disclosure of ethnic Malay students. This research uses an experimental method with a one-group pretest-posttest design model. The subjects in this research were 8 students. The data collection method in this research uses the questionnaire method. The data analysis technique in this research is descriptive statistical analysis using the Wilcoxon and Spearman Rank tests. The results of the research show that there are differences in the level of self-disclosure of students after being given group guidance services using the Johari window technique. This is proven by the results of the Wilcoxon test, namely Asymp.Sig. (2-tailed) of 0.012. Based on determination calculations, it is stated that the contribution of group guidance using the Johari window technique to increasing students' self-disclosure is 69.5%.</em></p> 2026-10-09T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Ilmiah Psikologi Insani