KESESUAIAN MNA DENGAN DIAGNOSIS MALNUTRISI BERDASARKAN KRITERIA GLIM PADA GERIATRI DI UPTD PUSKESMAS PAGADEN

Penulis

  • Niesrina Nuralya Fhitriyah Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon
  • Ali Manfaluthi A Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon
  • Duddy Satrianugraha W Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon

Kata Kunci:

Mini Nutritional Assessment, Glim, Malnutrisi, Geriatri

Abstrak

Latar Belakang : Malnutrisi merupakan salah satu masalah gizi yang sering terjadi pada lansia dan sering tidak terdiagnosis secara dini. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti penurunan massa otot, peningkatan risiko infeksi, serta mortalitas. Deteksi dini malnutrisi sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat skrining gizi yang telah divalidasi secara luas dan mudah digunakan. Sedangkan Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) merupakan kriteria diagnosis malnutrisi yang bersifat lebih komprehensif dan digunakan sebagai gold standard dalam menentukan status gizi seseorang. Tujuan : Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian antara MNA dengan diagnosis malnutrisi berdasarkan kriteria GLIM pada pasien geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 105 orang pasien geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden pada bulan juni tahun 2025, data diambil secara purposive sampling melalui wawancara dan pengukuran antropomentri menggunakan kuisioner Mini Nutritional Assessment (MNA) dan diagnosis malnutrisi berdasarkan kriteria GLIM. Data dianalisis menggunakan uji korelasi dan evaluasi Area Under Curve (AUC). Hasil: Mayoritas responden adalah perempuan (78,1%) dan lansia muda (60-69 tahun, 71,4%). Berdasarkan MNA, 52,4% responden berisiko malnutrisi dan 6,7% mengalami malnutrisi. Diagnosis GLIM menunjukkan prevalensi malnutrisi sebesar 59,0%, dengan hampir seluruh responden (99,0%) memiliki kondisi penyakit akut/kronis/cedera sebagai komponen etiologi. Analisis crosstabulation menunjukkan hasil signifikan yang kuat antara MNA dan GLIM ( p < 0.001). Evaluasi performa diagnostik mengungkapkan bahwa MNA dengan penggabungan kategori "Berisiko" dan "Malnutrisi" memiliki performa yang sangat baik (AUC = 0,894; sensitivitas = 98,1%; spesifisitas = 80,8%). Sebaliknya, pengelompokan "Normal" dan "Berisiko" pada MNA menunjukkan performa yang buruk (AUC = 0,566; sensitivitas = 13,2%; spesifisitas = 100%). Simpulan: MNA, khususnya dengan pengelompokan kategori "Berisiko" dan "Malnutrisi" sebagai satu kesatuan, terbukti menjadi alat skrining yang efektif dan sangat sensitif untuk mendeteksi malnutrisi pada geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden dibandingkan dengan kriteria GLIM. Hasil ini menegaskan pentingnya pemilihan skema pengelompokan yang tepat dalam interpretasi MNA untuk tujuan skrining gizi di layanan kesehatan primer.

Background: Malnutrition is one of the most common nutritional problems in the elderly and is often not diagnosed early. This condition can cause health problems such as decreased muscle mass, increased risk of infection, and mortality. Early detection of malnutrition is very important to improve the quality of life of the elderly. The Mini Nutritional Assessment (MNA) is a widely validated and easy-to-use nutritional screening tool. Meanwhile, the Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) is a more comprehensive diagnostic criteria for malnutrition and is used as a gold standard in determining a person's nutritional status. Aim: The purpose of this study was to determine the concordance between MNA and the diagnosis of malnutrition based on GLIM criteria in geriatric patients at UPTD Puskesmas Pagaden. Methods: This study used an analytical observational method with a cross sectional design. The sample consisted of 105 geriatric patients at the UPTD Puskesmas Pagaden in June 2025, the data were collected by purposive sampling through interviews and anthropomentry measurements using the Mini Nutritional Assessment (MNA) questionnaire and diagnosis of malnutrition based on GLIM criteria. Data were analyzed using the correlation test and Area Under Curve (AUC) evaluation. Results: The majority of respondents were female (78.1%) and young elderly (60-69 years, 71.4%). Based on MNA, 52.4% of respondents were at risk of malnutrition and 6.7% were malnourished. GLIM diagnosis showed a prevalence of malnutrition of 59.0%, with almost all respondents (99.0%) having acute/chronic illness/injury as an etiologic component. Crosstabulation analysis showed a strong significant correlation between MNA and GLIM ( p < 0.001). Evaluation of diagnostic performance revealed that the MNA with "At-risk" and "Malnourished" categories combined performed very well (AUC = 0.894; sensitivity = 98.1%; specificity = 80.8%). In contrast, the grouping of "Normal" and "At-Risk" in MNA showed poor performance (AUC = 0.566; sensitivity = 13.2%; specificity = 100%). Conclusions: MNA, especially with the grouping of "At Risk" and "Malnourished" categories together, proved to be an effective and highly sensitive screening tool for detecting malnutrition in geriatrics at UPTD Puskesmas Pagaden compared to GLIM criteria. These results emphasize the importance of selecting an appropriate grouping scheme in the interpretation of MNA for nutrition screening purposes in primary health care

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30