ANALISIS SPASIAL SEBARAN PENYAKIT KUSTA DAN KONFIRMASI EMPAT FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI PUSKESMAS RIAM DURIAN
Kata Kunci:
Kusta, Analisis Spasial, Sistem Informasi Geografis, Distribusi Penyakit, Faktor RisikoAbstrak
Kusta (Hansen’s disease) merupakan penyakit menular kronis yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, meskipun secara nasional telah mencapai status eliminasi. Distribusi kasus yang tidak merata menunjukkan adanya pengaruh faktor lingkungan, demografi, dan sosial ekonomi terhadap pola penularan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran spasial penyakit kusta serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Riam Durian, Kabupaten Kotawaringin Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan deskriptif observasional berbasis analisis spasial. Data kasus kusta tahun 2025 diperoleh dari laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat dan dianalisis berdasarkan unit wilayah puskesmas menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi pola distribusi, klaster, dan hotspot kasus kusta serta keterkaitannya dengan kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi, akses pelayanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran kasus kusta tidak merata dan cenderung membentuk pola mengelompok (clustered), dengan konsentrasi kasus tertinggi di wilayah Puskesmas Riam Durian, Madurejo, dan Kumai. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan dan sosial berperan dalam mempertahankan transmisi kusta di wilayah endemik. Analisis spasial berbasis SIG memberikan gambaran visual dan epidemiologis yang komprehensif serta bermanfaat dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan intervensi eliminasi kusta yang lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Leprosy (Hansen's disease) is a chronic infectious disease that remains a public health problem in Indonesia, despite having achieved national elimination status. The uneven distribution of cases indicates the influence of environmental, demographic, and socioeconomic factors on disease transmission patterns. This study aims to analyze the spatial distribution of leprosy and identify factors associated with leprosy incidence in the Riam Durian Community Health Center (Puskesmas) working area, West Kotawaringin Regency. This study used an ecological study design with a descriptive observational approach based on spatial analysis. Data on leprosy cases in 2025 were obtained from reports from the West Kotawaringin Regency Health Office and analyzed based on community health center area units using a Geographic Information System (GIS). The analysis was conducted to identify distribution patterns, clusters, and hotspots of leprosy cases and their relationship to population density, socioeconomic conditions, access to health services, and environmental sanitation. The results showed that the distribution of leprosy cases was uneven and tended to form a clustered pattern, with the highest concentration of cases in the Riam Durian, Madurejo, and Kumai Community Health Center areas. These findings indicate that environmental and social factors play a role in maintaining leprosy transmission in endemic areas. GIS-based spatial analysis provides a comprehensive visual and epidemiological overview and is useful for supporting evidence-based decision-making. This research is expected to provide a basis for planning more targeted, effective, and sustainable leprosy elimination interventions at the primary healthcare level.




