https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/issue/feedJurnal Kesehatan Afinitas2026-02-28T05:31:33+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20288KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS: ANALISIS AKTOR DAN KEPENTINGAN DALAM KEBIJAKAN KESEHATAN TENTANG PEMETAAN STAKEHOLDER DAN DINAMIKA KEKUASAAN2026-02-23T08:36:39+00:00Sri Solehasrisoleha060788@gmail.comNisa Septianinisa.septiani0909@gmail.comZeny Dermawanzenydermawan09@gmail.comBudi Hartonoguest@jurnalhst.com<p>Latar belakang : Kebijakan kesehatan di Indonesia kerap menghadapi tantangan implementasi yang berdampak pada belum optimalnya pencapaian tujuan. Data sekunder menunjukkan bahwa meskipun cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai lebih dari 95% populasi, ketimpangan distribusi fasilitas dan tenaga kesehatan masih terjadi. Pada kebijakan penanggulangan HIV/AIDS, cakupan testing dan retensi terapi antiretroviral belum merata, sementara pada penanganan COVID-19 efektivitas kebijakan pembatasan sosial bervariasi antar daerah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan kebijakan tidak hanya terletak pada aspek regulasi, tetapi juga pada dinamika aktor, kepentingan, dan distribusi kekuasaan yang belum terkelola secara optimal dalam proses implementasi. Tujuan: untuk menganalisis peran aktor, kepentingan, serta dinamika kekuasaan dalam kebijakan kesehatan melalui pendekatan kajian literatur sistematis dengan fokus pada pemetaan stakeholder (stakeholder mapping) dan kerangka analisis kekuasaan.Hasil kajian : menunjukkan bahwa ketidakefektifan kebijakan kesehatan sering muncul pada tahap implementasi akibat lemahnya koordinasi lintas sektor, dominasi aktor dengan kekuasaan tinggi, terbatasnya pelibatan kelompok dengan kepentingan tinggi namun pengaruh rendah, serta belum terinstitusionalisasinya mekanisme kolaboratif. Pemetaan stakeholder menggunakan matriks power–interest dan analisis visible, hidden, serta invisible power terbukti membantu mengidentifikasi potensi konflik, peluang koalisi, dan strategi advokasi yang lebih efektif. Simpulan : kajian ini menegaskan bahwa analisis stakeholder dan pemetaan dinamika kekuasaan perlu diintegrasikan dalam seluruh siklus kebijakan kesehatan untuk meningkatkan legitimasi, efektivitas, dan keberlanjutan kebijakan. Pendekatan collaborative governance, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pemberdayaan aktor berkepentingan tinggi menjadi strategi kunci dalam memperbaiki implementasi kebijakan kesehatan di Indonesia.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/19820PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK, KOMPETENSI KLINIK, DAN EMPATI PERAWAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI KLINIK PRATAMA YONIF RAIDER 400/BR KOTA SEMARANG 2026-02-02T12:18:10+00:00Dani Budianto162024031083@std.umku.ac.idM. Purnomomuh.purnomo@umkudus.ac.idEdi Wibowo Suwandiediwibowo@umkudus.ac.id<p>Latar Belakang: Kepuasan Pasien merupakan penilaian terhadap baik atau buruknya kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Pasien akan merasa puas apabila kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh sama atau melibihi harapannya. Hasil kepuasan pasien Klinik Pratama Rawat Jalan Yonif Raider 400/BR Semarang dilihat dari indeks nasional mutu pada tahun 2023 sampai 2024 mengalami penurunan. Penurunan kepuasan pasien setiap bulannya bervariatif sekitar 2-4% setiap bulannya. Terdapat 5 indikator kepuasan pasien yaitu kehandalan (reliability), jaminan (assurance), bukti langsung (tangible), empati (emphaty) dan ketanggapan (responsiveness). Tujuan: untuk mengetahui pengaruh antara komunikasi terapeutik, kompetensi klinik dan empati perawat terhadap kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang. Metode: Penelitian kuantitatif yang bertujuan menguji hipotesis. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi. Penelitian analitik korelasi adalah penelitian yang dilakukan untuk menganalisis hubungan antara dua variabel atau lebih. Hasil Penelitian: Adanya Pengaruh Komunikasi Terapeutik, Kompetensi Klinik dan Empati Perawat dengan Kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang nilai signifikan <0,05 dan nilai person correlation pada rentang 0,270 – 0,311 dengan kekuatan hubungan correlation rendah mempunyai arah hubungan positif. Simpulan: Adanya Pengaruh Komunikasi Terapeutik, Kompetensi Klinik dan Empati Perawat dengan Kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang.</p> <p><em>Background: Patient satisfaction is an assessment of the quality of healthcare services received by patients. Patients will be satisfied if the performance of the healthcare services they receive matches or exceeds their expectations. The results of patient satisfaction at the Outpatient Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang, as seen from the national quality index from 2023 to 2024, have decreased. The decline in patient satisfaction varies by around 2-4% each month. There are 5 indicators of patient satisfaction, namely reliability, assurance, tangible evidence, empathy, and responsiveness. Objective: To determine the influence of therapeutic communication, clinical competence and nurse empathy on patient satisfaction at the Pratama Clinic of Yonif Raider 400/BR, Semarang City. Method: Quantitative research aimed at testing hypotheses. The type of research used was correlational analytic. Correlational analytic research is research conducted to analyze the relationship between two or more variables. Research Results: Therapeutic Communication, Clinical Competence, and Nurse Empathy influence patient satisfaction at the Primary Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang City. The significance value is <0.05 and the person correlation value is in the range of 0.270–0.311, with a low correlation strength and a positive direction. Conclusion: Therapeutic Communication, Clinical Competence, and Nurse Empathy influence patient satisfaction at the Primary Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang City.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20253PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN RELAPSE SKIZOFRENIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD MAJALENGKA2026-02-21T04:04:55+00:00Nanda Rizkia Kinantinandarizkiak@gmail.comRatih Widayatiguest@jurnalhst.comAfiana Rohmaniguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang : Kekambuhan (relapse) pada pasien skizofrenia masih menjadi masalah utama dalam pelayanan kesehatan jiwa dan berdampak pada perburukan kondisi klinis serta penurunan kualitas hidup. Tingginya angka relapse pada pasien rawat jalan menunjukkan bahwa keberhasilan terapi bukan sekadar ditetapkan pengobatan, namun aspek psikososial, khususnya dukungan keluarga dalam menjaga kepatuhan pengobatan dan stabilitas emosional pasien.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap kejadian relapse. Metode :Penelitian yakni penelitian deskriptif analitik pendekatan cross sectional dilaksanakan di Poliklinik Jiwa RSUD Majalengka. Sampel penelitian berjumlah 93 pasien skizofrenia rawat jalan ditetapkan memanfaatkan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu seluruh pasien skizofrenia rawat jalan RSUD Majalengka yang memiliki rekam medis lengkap di RSUD Majalengka. Data dikumpul menggunakan kuesioner Perceived Social Support from Family (PSS-Fa) guna menilai dukungan keluarga serta data rekam medis untuk menilai kejadian relapse. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik sederhana berbantuan program IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil : Temuan penelitian melihatkan kebanyakan responden memiliki dukungan keluarga baik (69,9%), namun 48,4% di antaranya masih mengalami relapse. Uji regresi menunjukkan adanya pengaruh signifikan dukungan keluarga atas kejadian relapse skizofrenia bernilai p = 0,000 (p < 0,05).Pasien dukungan keluarga baik mempunyai kesempatan 12 kali lebih besar tidak mengalami relapse dibanding pasien mempunyai dukungan keluarga kurang. Kesimpulan : Terdapat pengaruh signifikan dukungan keluarga atas kejadian relapse pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSUD Majalengka. Dukungan keluarga optimal berkontribusi penting mengurangi risiko kekambuhan dan meningkatkan keberhasilan terapi pasien skizofrenia.</p> <p><em>Background: Relapse in patients with schizophrenia remains a major challenge in mental health services and leads to clinical deterioration as well as reduced quality of life. The high relapse rate among outpatients indicates that treatment success is not determined solely by pharmacological therapy, but also by psychosocial aspects, particularly family support in maintaining medication adherence and emotional stability. This study aimed to determine the effect of family support on the incidence of relapse. Methods:This study employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach and was conducted at the psychiatric outpatient clinic of RSUD Majalengka. The sample consisted of 93 outpatient schizophrenia patients selected using purposive sampling, with inclusion criteria being all outpatient schizophrenia patients at RSUD Majalengka who had complete medical records. Data were collected using the Perceived Social Support from Family (PSS-Fa) questionnaire to assess family support and medical record data to evaluate relapse incidence. Data analysis was performed using simple logistic regression with the assistance of IBM SPSS Statistics version 26.Results:The findings showed that most respondents had good family support (69.9%); however, 48.4% of them still experienced relapse. Logistic regression analysis demonstrated a significant effect of family support on the incidence of schizophrenia relapse (p = 0.000; p < 0.05). Patients with good family support had a 12-fold higher likelihood of not experiencing relapse compared to those with poor family support. Conclusion:There is a significant effect of family support on relapse incidence among outpatients with schizophrenia at RSUD Majalengka. Optimal family support plays an important role in reducing relapse risk and improving treatment outcomes in patients with schizophrenia.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20242PENGARUH PENERAPAN ONLINE INCIDENT REPORTING SYSTEM DAN RESPONSIVITAS PERAWAT TERHADAP KESELAMATAN PASIEN DI RSKB COLUMBIA ASIA PULOMAS2026-02-20T06:40:32+00:00Elisma Theresia Aritonangelisma.theresia@gmail.comTri Ismu Pujiantotriismu@gmail.comM. Jamaluddinjamaluddin@stikesyahoedsmg.ac.id<p>Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, yang salah satunya dipengaruhi oleh efektivitas sistem pelaporan insiden dan responsivitas perawat dalam pelaporan serta penanganan insiden keselamatan pasien. Online Incident Reporting System (OIRS) dikembangkan sebagai upaya untuk meningkatkan pelaporan insiden secara sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat responsivitas perawat dan keselamatan pasien sebelum dan sesudah intervensi, serta menganalisis pengaruh perubahan penerapan OIRS terhadap responsivitas perawat dan keselamatan pasien, termasuk peran responsivitas perawat sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sampel penelitian adalah perawat di RSKB Columbia Asia Pulomas yang dipilih sesuai kriteria inklusi. Intervensi yang diberikan berupa penerapan Online Incident Reporting System (OIRS). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test, uji korelasi Spearman, serta analisis mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat responsivitas perawat dan keselamatan pasien sebelum dan sesudah intervensi. Perubahan penerapan OIRS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan responsivitas perawat dan keselamatan pasien. Selain itu, responsivitas perawat terbukti berperan sebagai variabel mediasi dalam pengaruh perubahan penerapan OIRS terhadap keselamatan pasien setelah intervensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan Online Incident Reporting System (OIRS) merupakan strategi efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien melalui penguatan responsivitas perawat. Penguatan sistem pelaporan insiden berbasis teknologi perlu disertai dengan dukungan organisasi untuk memastikan keberlanjutan peningkatan mutu dan keselamatan pelayanan keperawatan.</p> <p><em>Patient safety is a fundamental priority in healthcare services and is strongly influenced by the effectiveness of incident reporting systems and nurses’ responsiveness in reporting and managing patient safety incidents. The Online Incident Reporting System (OIRS) was developed to improve systematic and sustainable incident reporting practices. This study aimed to analyze differences in nurses’ responsiveness and patient safety levels before and after the intervention, to examine the effect of changes in OIRS implementation on nurses’ responsiveness and patient safety, and to analyze the mediating role of nurses’ responsiveness in the relationship between OIRS implementation and patient safety. This study employed a quasi-experimental design with intervention and control groups. The sample consisted of nurses at RSKB Columbia Asia Pulomas selected based on inclusion criteria. The intervention involved the implementation of the Online Incident Reporting System (OIRS). Data were collected using structured questionnaires and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test, Spearman correlation, and mediation analysis. The results demonstrated significant differences in nurses’ responsiveness and patient safety levels before and after the intervention. Changes in OIRS implementation had a significant effect on improving nurses’ responsiveness and patient safety. Furthermore, nurses’ responsiveness was found to act as a mediating variable in the effect of OIRS implementation on patient safety outcomes. This study concludes that the implementation of the Online Incident Reporting System (OIRS) is an effective strategy for enhancing patient safety through strengthening nurses’ responsiveness. The integration of technology-based incident reporting systems with organizational support is essential to ensure sustained improvements in the quality and safety of nursing care.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20058TESIS PENGARUH MENTORING BERBASIS FROM NOVICE TO EXPERT THEORY TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN KETERAMPILAN PERAWAT KLINIS (PK) I DI RUMAH SAKIT X PEKANBARU2026-02-10T10:52:26+00:00Zulhetti Dasruldzulhetti@gmail.comBlacius Dedidediblacius67@gmail.comJamaludinjamaluddin@stikesyahoedsmg.ac.id<p>Latar Belakang: Perawat klinis tingkat pertama (PK I) memerlukan pembinaan berkelanjutan untuk mencapai standar kompetensi praktik keperawatan. Evaluasi kinerja di ruang rawat inap Rumah Sakit X menunjukkan beberapa indikator pelayanan, seperti komunikasi efektif, edukasi pasien, dan pemantauan obat high alert, belum mencapai target optimal. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pembelajaran klinis yang terstruktur untuk meningkatkan pengetahuan, sikap profesional, dan keterampilan klinis perawat. Program mentoring melalui pendampingan langsung di tempat kerja dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk mendukung pengembangan kompetensi perawat. Tujuan: Menganalisis pengaruh program mentoring terhadap pengetahuan, sikap profesional, dan keterampilan klinis perawat PK I di ruang rawat inap Rumah Sakit X. Metode: Penelitian kuasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest with control group. Sebanyak 64 perawat PK I dibagi menjadi kelompok intervensi (n=32) dan kontrol (n=32). Kelompok intervensi memperoleh program mentoring berbasis pendampingan klinis terstruktur, sedangkan kelompok kontrol menjalankan praktik rutin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Kelompok intervensi mengalami peningkatan signifikan pada pengetahuan (∆=2,19; p=0,005), sikap profesional (∆=2,11; p=0,005), dan keterampilan klinis (∆=2,22; p=0,005). Kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna pada seluruh variabel (p>0,05). Perbandingan nilai posttest menunjukkan skor kelompok intervensi lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan: Program mentoring berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kompetensi perawat PK I pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Mentoring efektif diterapkan sebagai strategi pembinaan klinis terstruktur untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit.</p> <p><em>Background: First-level clinical nurses (PK I) require continuous clinical supervision to achieve professional competency standards in nursing practice. Performance evaluations in the inpatient wards of Hospital X indicated that several care indicators, including effective communication, patient education, and high-alert medication monitoring, had not met established targets. These gaps underscore the need for a structured clinical learning approach to strengthen nurses’ knowledge, professional attitudes, and clinical skills. Objective: To determine the effect of a mentoring program on the knowledge, professional attitudes, and clinical skills of PK I nurses. Methods: A quasi-experimental study with a pretest–posttest control group design was conducted involving 64 nurses assigned to an intervention group (n=32) and a control group (n=32). The intervention group received structured clinical mentoring, while the control group continued routine practice. Data were collected using validated questionnaires and observational checklists and analyzed using Wilcoxon and Mann–Whitney tests (α=0.05). Results: The intervention group demonstrated significant improvements in knowledge (Δ=2.19; p=0.005), professional attitudes (Δ=2.11; p=0.005), and clinical skills (Δ=2.22; p=0.005), whereas no significant changes were observed in the control group (p>0.05). Conclusion: Structured mentoring significantly enhanced nurses’ competencies and may serve as an effective clinical supervision strategy to improve the quality of nursing care.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/19961ANALISIS PENGARUH KOMPLEKSITAS KLINIS, KAPASITAS RUMAH SAKIT DAN KOORDINASI ANTAR UNIT TERHADAP LOS (Length Of Stay) PASIEN IGD DI RUMAH SAKIT X2026-02-06T07:51:43+00:00Rosalina Widiharsantirwidiharsanti@gmail.comFery Agusman Motuho Mendrofferysinga@gmail.comWitri Hastutiwitri.semarang@gmail.com<p>Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan unit pelayanan rumah sakit yang memiliki peran penting dalam penanganan pasien dengan kondisi akut dan kritis. Salah satu indikator kinerja pelayanan IGD adalah Length of Stay (LOS), yang mencerminkan efisiensi dan kualitas pelayanan. LOS yang panjang dapat berdampak pada kepadatan IGD, penurunan mutu pelayanan, serta meningkatnya risiko keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompleksitas klinis pasien, kapasitas rumah sakit, dan koordinasi antar unit terhadap LOS pasien IGD di Rumah Sakit X. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional. Data diperoleh dari rekam medis pasien IGD serta data operasional rumah sakit. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan dan pengaruh masing-masing variabel independen terhadap LOS. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran faktor-faktor yang berkontribusi terhadap lamanya LOS pasien IGD serta menjadi dasar bagi manajemen rumah sakit dalam merumuskan strategi peningkatan efisiensi pelayanan dan koordinasi lintas unit.</p> <p><em>The Emergency Department (ED) plays a critical role in providing immediate care for patients with acute and life-threatening conditions. One of the key performance indicators of ED services is the Length of Stay (LOS), which reflects the efficiency and quality of care delivery. Prolonged LOS may lead to ED overcrowding, decreased service quality, and increased patient safety risks. This study aims to analyze the effect of clinical complexity, hospital capacity, and inter-unit coordination on the LOS of ED patients at Hospital X. This study employed a quantitative approach with an observational analytic design. Data were collected from ED patient medical records and hospital operational data. Statistical analyses were conducted to determine the relationship and influence of each independent variable on LOS. The findings of this study are expected to identify factors contributing to prolonged LOS in the ED and to serve as a basis for hospital management in developing strategies to improve service efficiency and inter-unit coordination.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20257PENGEMBANGAN STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM OPTIMALISASI KEPESERTAAN PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR2026-02-21T04:34:18+00:00Musrifah Betriawatimusrifahbetriawati@gmail.comHafizzurrachmanhafizurrachman@gmail.com<p>Pendahuluan: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) merupakan instrumen strategis perlindungan kesehatan bagi masyarakat miskin. Meski Kabupaten Kotawaringin Timur telah mencapai cakupan tinggi, tantangan seperti ketidakakuratan data, dinamika kependudukan, dan beban fiskal untuk pembiayaan bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja yang didaftarkan Pemerintah Daerah (PBPU-BP Pemda) masih menjadi hambatan utama. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi optimalisasi kepesertaan PBI agar lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan studi dokumentasi yang melibatkan instansi lintas sektor terkait. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi kepesertaan Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU-BU Pemda) memerlukan penguatan koordinasi lintas sektor dan sinkronisasi data kependudukan secara berkala. Strategi utama yang dirumuskan meliputi penetapan kriteria Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU-BU Pemda) yang objektif serta pengendalian beban anggaran melalui verifikasi dan validasi data yang berkelanjutan. Diskusi: Diperlukan penguatan sinergi melalui mekanisme pembaruan data rutin yang terintegrasi, peningkatan kapasitas verifikasi lapangan, serta pengetatan audit kepesertaan untuk menjaga efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran program. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi tata kelola data yang terintegrasi dan kebijakan pembiayaan yang resilien merupakan prasyarat mutlak untuk menjamin efektivitas perlindungan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin serta keberlanjutan program JKN di daerah.</p> <p><em>Introduction:TheNationalHealthInsurance(JKN)programthroughthe Premium Assistance Recipient (PBI) scheme is a strategic instrument for health protection for the poor. Although East Kotawaringin Regency has achieved high coverage, challenges such as data inaccuracy, population dynamics, and the fiscal burden of PBI on the Regional Budget (APBD) remain major obstacles. This study aimsto formulate astrategy foroptimizing PBImembership tomake it more targeted, effective, and sustainable. Methods: This study used a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), observations, and documentation studies involving relevant cross-sectoral agencies. Results: The results indicate that optimizing JKN PBI membership requires strengthening cross-sectoral coordination and regular population data synchronization. The main strategies formulated include establishing objective PBPU Pemda criteria and controlling budget burdens through continuousdata verification and validation. Discussion: Strengthening synergy is needed through an integrated routine data update mechanism, increasing field verification capacity, and tightening participant audits to maintain budget efficiency and program targeting accuracy. Conclusion: This study concludes that integrated data governance transformation andresilient financing policies are absolute prerequisitesforensuring the effectiveness of health insurance protection for the poor and the sustainability of the JKN program in the regions.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20250PENERAPAN RONDE KEPERAWATAN BERBASIS TEORI BOYKIN & SCHOENHOFER TERHADAP KUALITAS ASUHAN KEPERAWATAN DAN KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSKB COLUMBIA ASIA PULOMAS2026-02-20T13:42:37+00:00Nike Silprihatin Roma Uli Sihalohoemailnikee@gmail.comDwi Indah Iswantidwi.indah.iswanti@unkaha.ac.idFery Agusmanferysinga@gmail.com<p>Pendahuluan: Kualitas asuhan keperawatan yang optimal tetap menjadi tantangan di berbagai fasilitas kesehatan global. Data WHO (2021) menunjukkan tingkat kepuasan pasien bervariasi dari 34,4% (India) hingga 92,37% (Swedia). Di RSKB Columbia Asia Pulomas, sistem CEMPIA mencatat 445 keluhan dari 33.858 respons periode April 2023-Maret 2024, mayoritas terkait komunikasi terapeutik dan sikap perawat. Ronde keperawatan berbasis teori Boykin & Schoenhofer (Nursing as Caring) menekankan hubungan empatis dan perhatian holistik yang berpotensi transformatif, namun belum pernah diimplementasikan secara sistematis dengan framework teoritis caring di rumah sakit tersebut. Tujuan: Menganalisis efektivitas implementasi ronde keperawatan berbasis teori Boykin & Schoenhofer terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan dan kepuasan pasien di ruang rawat inap RSKB Columbia Asia Pulomas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental menggunakan nonequivalent control group pretest-posttest design dilaksanakan di ruang rawat inap RSKB Columbia Asia Pulomas. Sampel mencakup perawat pelaksana dan pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi, dibagi menjadi kelompok intervensi (penerapan ronde keperawatan berbasis Boykin & Schoenhofer dengan integrasi konsep 4P Matron Nurse) dan kelompok kontrol (perawatan standar). Instrumen penelitian menggunakan kuesioner tervalidasi untuk mengukur kualitas asuhan keperawatan dan kepuasan pasien. Intervensi dilakukan melalui ronde keperawatan terstruktur yang menekankan presence (kehadiran autentik), komunikasi empatis, dan perhatian holistik terhadap dimensi fisik, emosional, spiritual, dan psikososial pasien. Analisis data menggunakan uji paired t-test untuk perbandingan pre-post dalam kelompok dan independent t-test untuk perbandingan antar kelompok, dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor kualitas asuhan keperawatan (p<0,001) dan kepuasan pasien (p<0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Pendekatan caring yang mengintegrasikan presence (kehadiran aktif dan sadar perawat), komunikasi empatik terstruktur, dan asesmen holistik kebutuhan pasien terbukti efektif meningkatkan kualitas interaksi perawat-pasien. Analisis menunjukkan pembentukan hubungan saling percaya yang memperkuat keterlibatan pasien dalam proses penyembuhan. Dimensi emosional dan psikososial pasien yang sebelumnya terabaikan menjadi terintegrasi dalam ronde keperawatan, menciptakan pengalaman perawatan yang lebih bermakna bagi pasien. Kesimpulan: Implementasi ronde keperawatan berbasis teori Boykin & Schoenhofer efektif meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan kepuasan pasien secara signifikan. Pendekatan caring yang humanistik dan holistik mentransformasi ronde keperawatan dari prosedur klinis rutin menjadi praktik keperawatan yang menekankan kehadiran manusiawi mendalam. Model ini dapat diadopsi sebagai best practice untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit, dengan rekomendasi pengembangan program pelatihan berkelanjutan untuk internalisasi nilai-nilai caring dalam praktik keperawatan profesional.</p> <p><em>Introduction: Optimal nursing care quality remains a persistent challenge in healthcare facilities globally. WHO data (2021) shows patient satisfaction rates varying from 34.4% (India) to 92.37% (Sweden). At RSKB Columbia Asia Pulomas, the CEMPIA system recorded 445 complaints out of 33,858 responses during April 2023-March 2024, predominantly concerning therapeutic communication and nurse attitudes. Nursing rounds based on Boykin & Schoenhofer's theory (Nursing as Caring) emphasize empathic relationships and holistic attention with transformative potential, yet had never been systematically implemented with a caring theoretical framework at this hospital. Objective: To analyze the effectiveness of implementing nursing rounds based on Boykin & Schoenhofer's theory on improving nursing care quality and patient satisfaction in the inpatient ward at RSKB Columbia Asia Pulomas. Methods: This quantitative study employed a quasi-experimental design using nonequivalent control group pretest-posttest design conducted in the inpatient ward at RSKB Columbia Asia Pulomas. The sample included staff nurses and inpatients meeting inclusion criteria, divided into an intervention group (implementation of Boykin & Schoenhofer-based nursing rounds with integration of 4P Matron Nurse concept) and a control group (standard care). Research instruments used validated questionnaires measuring nursing care quality and patient satisfaction. The intervention was implemented through structured nursing rounds emphasizing presence (authentic attendance), empathic communication, and holistic attention to patients' physical, emotional, spiritual, and psychosocial dimensions. Data analysis utilized paired t-tests for within-group pre-post comparisons and independent t-tests for between-group comparisons, with significance level α=0.05. Results: The intervention group demonstrated significant improvements in nursing care quality scores (p<0.001) and patient satisfaction (p<0.001) compared to the control group. The caring approach integrating presence (active and conscious nurse attendance), structured empathic communication, and holistic assessment of patient needs proved effective in enhancing nurse-patient interaction quality. Analysis revealed the formation of trusting relationships that strengthened patient involvement in the healing process. Emotional and psychosocial dimensions of patients, previously neglected, became integrated into nursing rounds, creating a more meaningful care experience for patients. Conclusion: Implementation of nursing rounds based on Boykin & Schoenhofer's theory effectively and significantly improves nursing care quality and patient satisfaction. The humanistic and holistic caring approach transforms nursing rounds from routine clinical procedures into nursing practice emphasizing profound human presence. This model can be adopted as best practice to enhance nursing service quality in hospitals, with recommendations for developing continuous training programs for internalization of caring values in professional nursing practice.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20197ANALISIS MANAJEMEN PENANGANAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA PEKANBARU2026-02-17T07:52:57+00:00Elmira Rachma Putri Sundarielmirarputri@gmail.comAli Napiahalinapiahnasution@unprimdn.ac.idSri Wahyuni Nasutionsriwahyuninasution@unprimdn.ac.id<p>Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan serius di Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penanganan DBD, dengan menekankan pada faktor komunikasi, sumber daya, dan partisipasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan masih menghadapi sejumlah hambatan, antara lain keterbatasan komunikasi antara tenaga kesehatan dengan masyarakat, minimnya jumlah tenaga surveilans epidemiologi dan kader jumantik, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Faktor geografis kota yang datar, drainase yang buruk, dan kepadatan penduduk memperparah kondisi penyebaran DBD. Strategi penanganan yang ada masih lebih berorientasi pada upaya kuratif melalui pelayanan rumah sakit dibandingkan upaya preventif berbasis komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi kebijakan DBD di Pekanbaru belum optimal. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan kelembagaan Pokjanal DBD, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program Satu Rumah Satu Jumantik, kolaborasi lintas sektor untuk perbaikan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mempercepat deteksi dini dan pelaporan kasus.</p> <p><em>Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public health challenges in Pekanbaru City. This study aims to analyze the implementation of dengue control policies, particularly in Marpoyan Damai District, by focusing on communication, resources, and community participation. A descriptive qualitative approach was employed, using interviews, observations, and document reviews as data collection techniques. The findings indicate that the policy implementation still faces several obstacles, including limited communication between health workers and communities, insufficient epidemiological surveillance officers and Jumantik (larvae monitoring cadres), as well as low community involvement in source reduction activities. Moreover, geographical factors such as flat land structure, poor drainage, and high population density further exacerbate dengue transmission. The current strategy is still dominated by curative measures through hospital services rather than preventive efforts at the community level. This study concludes that the effectiveness of dengue policy implementation in Pekanbaru has not yet reached its optimal level. Recommendations include strengthening the Pokjanal DBD task force, enhancing community participation through the “One House One Jumantik” program, fostering cross-sectoral collaboration for environmental improvement, and utilizing digital technology to accelerate early detection and case reporting. Sustained preventive actions are crucial to reduce dengue incidence in Pekanbaru City.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20024HUBUNGAN JUMLAH SAUDARA, STATUS PEKERJAAN DAN PERNIKAHAN ORANG TUA SERTA KUALITAS HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL PADA REMAJA DI SMP 2 JATI KABUPATEN KUDUS2026-02-09T04:23:57+00:00D’hafsh Arsya Deviarsya12devi@gmail.comIndanahindanah@umkudus.ac.idMuhammad Purnomomuh.purnomo@umkudus.ac.id<p>Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap munculnya masalah psikososial. Berbagai faktor keluarga diduga berperan dalam munculnya masalah tersebut, antara lain jumlah saudara, status pekerjaan dan pernikahan orang tua, serta kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah saudara, status pekerjaan dan pernikahan orang tua, serta kualitas hubungan orang tua dan anak dengan masalah psikososial pada remaja di SMP 2 Jati Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah remaja yang bersekolah di SMP 2 Jati Kabupaten Kudus, yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel tertentu. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor keluarga tersebut dengan masalah psikososial pada remaja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kondisi dan dinamika keluarga memiliki peran penting dalam kesehatan psikososial remaja, sehingga diperlukan perhatian dan peran aktif orang tua dalam membangun hubungan yang positif dengan anak.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas