https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/issue/feedJurnal Kesehatan Afinitas2026-09-14T04:13:21+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25033HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RSI NU DEMAK2026-08-06T04:21:44+00:00Anny Rosianaannyrosiana@umkudus.ac.idEdi Wibowo Suwandiediwibowo@umkudus.ac.idMuhammad Agung Wibowo Irsaagungwibowo13@icloud.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus di RSI NU Demak. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang menjalani perawatan atau kontrol di RSI NU Demak, dengan sampel yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data tingkat stres diperoleh menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, sedangkan data kadar gula darah diperoleh melalui pemeriksaan rekam medis atau hasil pemeriksaan laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kadar gula darah. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Pasien dengan tingkat stres yang lebih tinggi cenderung memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan tingkat stres yang lebih rendah. Dengan demikian, pengelolaan stres merupakan salah satu aspek penting dalam upaya mengendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus.</p> <p><em>This study aimed to determine the relationship between stress levels and blood glucose levels among patients with diabetes mellitus at RSI NU Demak. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of all diabetes mellitus patients receiving treatment or follow-up care at RSI NU Demak, and the samples were selected using a purposive sampling technique. Stress level data were collected using a validated and reliable questionnaire, while blood glucose level data were obtained from medical records or laboratory examination results. Data were analyzed using univariate analysis to describe respondents' characteristics and bivariate analysis with an appropriate statistical test to determine the relationship between stress levels and blood glucose levels. The results showed a significant relationship between stress levels and blood glucose levels in patients with diabetes mellitus. Patients experiencing higher stress levels tended to have higher blood glucose levels than those with lower stress levels. Therefore, stress management is an important aspect of controlling blood glucose levels in patients with diabetes mellitus.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25907FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESADARAN PASIEN DALAM POLA HIDUP SEHAT DI RUMAH SAKIT AILEU TIMOR LESTE2026-08-28T09:28:16+00:00Olga Margarida Barros Falcaofalcaoolga1998@gmail.comTaruli Rohana Sinagaguest@jurnalhst.comJanno Sinagaguest@jurnalhst.comErwin Silitongaguest@jurnalhst.com<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan kesadaran pasien dalam pola hidup sehat di Rumah Sakit Aileu, Timor Leste. Rancangan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 544 pasien rawat jalan. Hasil univariat menunjukkan 14,9% responden memiliki kesadaran baik, 38,1% cukup, dan 47,1% kurang. Pada analisis multivariat, efek keseluruhan variabel usia (Chi Square LRT = 853,579; p = 0,000), pendidikan (Chi Square LRT = 69,374; p = 0,000), sumber informasi (Chi Square LRT = 250,143; p = 0,000), dukungan keluarga (Chi Square LRT = 259,609; p = 0,000), dan promosi kesehatan (Chi Square LRT = 32,502; p = 0,000) signifikan terhadap variasi kategori kesadaran; sedangkan pengetahuan (Chi Square LRT = 5,472; p = 0,242) dan pekerjaan (Chi Square LRT = 0,600; p = 0,741) tidak signifikan. Secara individual, dukungan keluarga kategori cukup menunjukkan pengaruh paling kuat pada transisi “cukup” vs “kurang” dengan OR ≈ 37,70 (p = 0,000; 95% CI: 8,28–171,58), diikuti promosi kesehatan kategori cukup OR ≈ 9,76 (p = 0,004; 95% CI: 2,08–45,87). Simpulan: kesadaran pasien dalam pola hidup sehat di RS Aileu dipengaruhi oleh karakteristik demografis dan sumber informasi, faktor yang paling dominan adalah dukungan keluarga dan kualitas promosi kesehatan rumah sakit. Rekomendasi: penguatan program promosi kesehatan berbasis keluarga dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penyuluhan yang kontekstual dan berkesinambungan.</p> <p><em>This study aims to analyze the factors associated with patient awareness in healthy lifestyle patterns at Aileu Hospital, Timor Leste. The research design was quantitative analytic with a cross-sectional approach. The sample consisted of 544 outpatient patients. Univariate analysis showed that 14.9% of respondents had good awareness, 38.1% had moderate awareness, and 47.1% had poor awareness. In multivariate analysis, the overall effects of age (Chi-Square LRT = 853.579; p = 0.000), education (Chi-Square LRT = 69.374; p = 0.000), information sources (Chi-Square LRT = 250.143; p = 0.000), family support (Chi-Square LRT = 259.609; p = 0.000), and health promotion (Chi-Square LRT = 32.502; p = 0.000) were significant on variations in awareness categories; whereas knowledge (Chi-Square LRT = 5.472; p = 0.242) and occupation (Chi-Square LRT = 0.600; p = 0.741) were not significant. Individually, moderate family support showed the strongest influence on the "moderate" vs "poor" transition with OR ≈ 37.70 (p = 0.000; 95% CI: 8.28–171.58), followed by moderate health promotion with OR ≈ 9.76 (p = 0.004; 95% CI: 2.08–45.87). Conclusion: patient awareness in healthy lifestyle patterns at Aileu Hospital is influenced by demographic characteristics and information sources, with family support and hospital health promotion quality being the most dominant factors. Recommendation: strengthening family-based health promotion programs and improving healthcare workers' capacity in contextual and continuous health education.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24828HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DENGAN LOYALITAS PASIEN RAWAT INAP DI RSUD R.A. KARTINI JEPARA2026-07-30T06:25:40+00:00Eka Ayu Rahmawatiekaa34536@gmail.com<p>Kualitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi loyalitas pasien terhadap rumah sakit. Pelayanan yang berkualitas diharapkan mampu meningkatkan kepuasan, kepercayaan, serta keinginan pasien untuk kembali menggunakan layanan kesehatan dan merekomendasikannya kepada orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas pelayanan kesehatan dengan loyalitas pasien rawat inap di RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat inap di RSUD R.A. Kartini Jepara, sedangkan sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Spearman Rank sesuai jenis data, serta tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan kesehatan dengan loyalitas pasien rawat inap (p < 0,05). Pasien yang menilai kualitas pelayanan kesehatan baik cenderung memiliki tingkat loyalitas yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang menilai kualitas pelayanan kurang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan berkontribusi terhadap meningkatnya loyalitas pasien. Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan terus meningkatkan mutu pelayanan, baik dari aspek keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, maupun bukti fisik, guna mempertahankan dan meningkatkan loyalitas pasien.</p> <p><em>Healthcare service quality is one of the key factors influencing patient loyalty toward hospitals. High-quality healthcare services are expected to enhance patient satisfaction, trust, and willingness to revisit the hospital and recommend its services to others. This study aimed to analyze the relationship between healthcare service quality and inpatient loyalty at R.A. Kartini Regional General Hospital, Jepara. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of all inpatients at R.A. Kartini Regional General Hospital, Jepara, while the sample was selected using a purposive sampling technique based on predetermined inclusion criteria. Data were collected using a validated and reliable questionnaire. Data analysis included univariate analysis to describe respondents' characteristics and bivariate analysis using the Chi-Square or Spearman Rank test according to the data type, with a significance level of 95% (α = 0.05). The results indicated a significant relationship between healthcare service quality and inpatient loyalty (p < 0.05). Patients who perceived the quality of healthcare services as good tended to demonstrate higher loyalty than those who perceived the quality as inadequate. This study concludes that improving healthcare service quality contributes to increased patient loyalty. Therefore, hospitals are expected to continuously improve service quality in terms of reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangible aspects to maintain and enhance patient loyalty.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25452HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA WANITA USIA SUBUR2026-08-15T03:27:32+00:00Delfriana Ayu Astutydelfrianaayu@uinsu.ac.idJuni Andiniyuniandini1102@gmail.comNuraini Fadilahnraii.fdlh138@gmail.comNuraininuraini0801231056@uinsu.ac.idKhairani Salsabilahkhairanisalsabila5@gmail.comDevi Helma Fitri Hasibuandevihelmafitrihasibuan.2004@gmail.comTri Sisty Annisa Sinagaanisasinaga2005@gmail.comShinta Aulia Agustasintaauliaagusta@gmail.comAlfikri Syahtua Siregarsiregarkota@gmail.comRukia Sarirkiaas459@gmail.comPutri Aswita Haniputriaswitahani@gmail.comFaisal Alhafiz Damanikfaisaldamanik2301@gmail.comNatasya Balqisbnatasya143@gmail.comZahra Khairun Nisa Sitoruszahrakhairunnisasitorus@gmail.com<p>Kesehatan reproduksi merupakan aspek penting bagi wanita usia subur (WUS). Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan menjaga kesehatan reproduksi pada WUS di Desa Sukan Debi, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 54 WUS yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner melalui Google Form dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (98,1%), sikap baik (68,5%), dan tindakan baik (85,2%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan tindakan menjaga kesehatan reproduksi (p=0,148), sedangkan terdapat hubungan signifikan antara sikap dengan tindakan (p=0,001). Disimpulkan bahwa sikap berhubungan dengan tindakan menjaga kesehatan reproduksi, sedangkan pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada WUS di Desa Sukan Debi.</p> <p><em>Reproductive health is an important aspect of women of reproductive age (WRA). This study aimed to determine the relationship between knowledge and attitudes and reproductive health practices among WRA in Sukan Debi Village, Naman Teran District, Karo Regency. An observational analytical study with a cross-sectional design was conducted among 54 WRA selected using simple random sampling. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Chi-Square and Fisher’s Exact Test with α=0.05. Most respondents had good knowledge (98.1%), good attitudes (68.5%), and good practices (85.2%). Knowledge was not significantly associated with reproductive health practices (p=0.148), whereas attitudes were significantly associated with reproductive health practices (p=0.001). In conclusion, attitudes were significantly associated with reproductive health practices, while knowledge was not significantly associated among WRA in Sukan Debi Village.</em></p>2026-08-15T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24981HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN PENGENDALIAN GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI DESA SEDARUM KABUPATEN PASURUAN2026-08-03T12:36:55+00:00Neneng Mayta Herlisnawatinenengmayta01@gmail.comMangsur M Nurmangsurmnur23@gmail.com<p>Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Pola makan yang tidak sesuai dengan prinsip diet diabetes menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pengendalian gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan dengan pengendalian gula darah pada penderita diabetes melitus di Desa Sedarum Kabupaten Pasuruan.. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sekaligus sampel berjumlah 45 penderita diabetes melitus yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data pola makan diperoleh melalui kuesioner, sedangkan data pengendalian gula darah diperoleh melalui pemeriksaan menggunakan glukometer. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sebagian besar responden memiliki pola makan kurang baik sebanyak 23 orang (51,1%) dan hampir seluruh responden mengalami hiperglikemia sebanyak 43 orang (95,6%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000 (<0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,505, yang menunjukkan terdapat hubungan signifikan dengan kekuatan hubungan sedang dan arah positif antara pola makan dengan pengendalian gula darah. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan pola makan sesuai prinsip 3J berperan dalam menjaga kestabilan kadar glukosa darah melalui pengaturan jadwal, jenis, dan jumlah makanan sehingga pengendalian gula darah menjadi lebih optimal. Semakin baik pola makan yang diterapkan, semakin baik pula pengendalian gula darah pada penderita diabetes melitus. Oleh karena itu, edukasi mengenai pengaturan pola makan dan pemantauan gula darah secara berkala perlu terus ditingkatkan sebagai upaya mencegah komplikasi diabetes dan meningkatkan kualitas hidup penderita.</p> <p><em>Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels resulting from impaired insulin secretion or action. Dietary habits that do not align with diabetes dietary principles are a factor influencing the success of blood sugar control. This study aimed to analyze the relationship between dietary habits and blood sugar control among patients with diabetes mellitus in Sedarum Village, Pasuruan Regency. A quantitative approach with a correlational analytic design and a cross-sectional method was employed. The study population and sample consisted of 45 diabetes mellitus patients selected using total sampling. Dietary data were collected via questionnaires, while blood sugar control data were obtained through glucometer measurements. Data analysis was performed using the Spearman Rank test at a significance level of 0.05. The results showed that the majority of respondents (23 individuals or 51.1%) had poor dietary habits, and almost all respondents (43 individuals or 95.6%) experienced hyperglycemia. The Spearman Rank test yielded a p-value of 0.000 (<0.05) and a correlation coefficient (r) of 0.505, indicating a significant, positive relationship of moderate strength between dietary habits and blood sugar control. These findings demonstrate that adhering to the "3J" dietary principles—regulating the schedule, type, and amount of food—plays a role in maintaining stable blood glucose levels and optimizing blood sugar control. Better dietary habits are associated with better blood sugar control in diabetes mellitus patients. Therefore, education regarding dietary management and regular blood sugar monitoring must be continuously enhanced to prevent diabetes complications and improve patients' quality of life.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25620FAKTOR FAKTOR DUKUNGAN KELUARGA TENTANG KUALITAS HIDUP ANAK PENDERITA KANKER DI YAYASAN KASIH ANAK KANKER SEMARANG2026-08-21T06:19:48+00:00Mutiara Damayantimtrdmnt@gmail.comVivi Yosafianti Pohanvyp@unimus.ac.idHema Dewi Anggrahenyhemadewi@unimus.ac.id<p>Latar Belakang: Kanker merupakan salah satu penyakit kronis yang paling beragam. Kualitas hidup anak-anak ketika mereka menderita kanker merupakan cerminan dari kemungkinan dampak penyakit atau terapi terhadap fungsi hidup atau faktor lainnya. Anak-anak penderita kanker sering kali mengalami masalah tubuh seperti nyeri, infeksi, anemia, kelelahan, dan mual. Metode: Penelitian ini merupakan metode kuantitatif pendekatan analisis observasional, sedangkan rancangan penelitian yang dijalankan adalah survey analysis dimana pengukuran, observasi, dan pengumpulan variabel dilakukan pada Point Time Approach. sampel untuk Anak Kanker Usia Prasekolah yang berada di Yasayan Kasih Anak Kanker Semarang menggunakan total sampling berjumlah 34 anak. Peneliti menggunakan Kuesioner dukungan Keluarga dan Kuesioner PedsQL 3.0 Modul Kanker dengan menggunakan uji chi-square. Hasil: Karakteristik anak kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang sebagian usia remaja 10-18 tahun, jenis kelamin sebagian laki laki, jenis penyakit sebagian leukemia, pendidikan orang tua sebagian menengah pada SMP-SMA dan sebagian orang tua tidak bekerja. Dukungan keluarga anak penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang pada dukungan emosional dan instrumental sebagian dalam kategori tinggi (82,4%), dukungan penghargaan dengan sebagian dalam kategori tinggi (91,2%) dan dukungan informasional dengan kategori sedang (52,9%). Di Yayasan Kasih Anak Kanker di Semarang, kualitas hidup 17 anak (50,0%) penderita kanker sebagian masuk dalam kategori tinggi dan sedang. Tidak ada hubungan jelas antakanara kualitas hidup anak penderita kanker serta variabel dukungan keluarga. Kesimpulan: Tidak ada hubungan jelas akaan kualitas hidup anak penderita kanker serta variabel dukungan keluarga. Dukungan keluarga sedang pada dukungan informasi tentang kulitas hidup anak sedang yang menyebabkan rendahnya kulitas hidup pada sub masalah nyeri dan sakit, kecemasan procedural, kecemasan penatalaksanaan, khawatir dan komunikasi.</p> <p><em>Background: Cancer is one of the most diverse chronic diseases. The quality of life of children when they have cancer is a reflection of the possible impact of the disease or therapy on life functions or other factors. Children with cancer often experience physical problems such as pain, infection, anemia, fatigue, and nausea. Objective: To analyze family support factors for the quality of life of children with cancer at Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang. Method: This study is a quantitative method of observational analysis approach, while the research design carried out is a survey analysis where measurement, observation, and collection of variables are carried out at the Point Time Approach. The sample for Preschool Age Children with Cancer at Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang used a total sampling of 34 children. Results: The characteristics of children with cancer at Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang are mostly teenagers aged 10-18 years, some are male, some are leukemia, some are middle-class parents in junior high school-high school and some are unemployed parents. Family support for children with cancer at Yayasan Kasih Anak Kanker Semarang on emotional and instrumental support is partly in the high category (82.4%), appreciation support is partly in the high category (91.2%) and informational support is in the moderate category (52.9%). At Yayasan Kasih Anak Kanker in Semarang, the quality of life of 17 children (50.0%) with cancer is partly in the high and moderate categories. There is no clear relationship between the quality of life of children with cancer and the family support variable. Conclusion: There is no clear relationship between the quality of life of children with cancer and the family support variable. Moderate family support on information support about the quality of life of children is moderate which causes low quality of life in the sub-problems of pain and illness, procedural anxiety, management anxiety, worry and communication.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25304HUBUNGAN PEMBERIAN ASI DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA 12-24 BULAN DI DESA NALUMSARI2026-08-10T11:52:40+00:00Ananda Dwi Septyaanandadwi.spty@gmail.comHeny Siswantihenysiswanti@umkudus.ac.idTri Suwartotrisuwarto@umkudus.ac.id<p>Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, mengingat, memahami, serta memecahkan masalah. Pada usia 12–24 bulan, perkembangan kognitif berlangsung sangat pesat sehingga membutuhkan dukungan nutrisi yang optimal. Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung berbagai zat gizi dan komponen bioaktif yang berperan dalam perkembangan otak. Namun, masih terdapat bayi yang tidak memperoleh ASI eksklusif sehingga diduga dapat memengaruhi perkembangan kognitif anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI dengan perkembangan kognitif anak usia 12–24 bulan di Desa Nalumsari. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 57 anak usia 12–24 bulan yang terdaftar di Desa Nalumsari, Kabupaten Jepara. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga seluruh populasi dijadikan responden penelitian. Data riwayat pemberian ASI diperoleh melalui kuesioner retrospective dietary recall yang dikonfirmasi kepada ibu responden, sedangkan perkembangan kognitif anak dinilai menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST) pada sektor bahasa dan motorik halus adaptif. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 25 anak (43,9%) memperoleh ASI eksklusif, sedangkan 32 anak (56,1%) memperoleh ASI non eksklusif. Penilaian perkembangan kognitif menunjukkan bahwa 40 anak (70,2%) memiliki perkembangan kognitif kategori normal dan 17 anak (29,8%) termasuk kategori suspect. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square memperoleh nilai p = 0,001 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI dengan perkembangan kognitif anak usia 12–24 bulan di Desa Nalumsari. Nilai Phi dan Cramer's V sebesar 0,422 menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antara kedua variabel berada pada kategori sedang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang memperoleh ASI eksklusif cenderung memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan anak yang memperoleh ASI non eksklusif. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif perlu terus ditingkatkan sebagai salah satu upaya mendukung perkembangan kognitif anak, disertai dengan pemberian stimulasi yang sesuai agar tumbuh kembang anak berlangsung secara optimal.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24957GAMBARAN SKALA NYERI POSTSECTIO CAESAREADENGAN SPINALANESTESI SETELAH PEMBERIAN KETOROLACDI RUMAH SAKIT EMANUEL BANJAR NEGARA2026-08-03T07:03:29+00:00Claudia Pratiwi Kumanirengclaudiakumanireng927@gmail.comTophan Heri Wibowobowo_4@yahoo.comMadyo Maryotomadyomaryoto81@yahoo.com<p>Operasi Sectio Caesarea (SC) merupakan salah satu tindakan bedah yang terus meningkat dan umumnya menimbulkan nyeri pascaoperasi sehingga memerlukan penatalaksanaan analgesi yang efektif. Ketorolac sebagai analgesik golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) banyak digunakan untuk mengendalikan nyeri pasca SC, namun gambaran tingkat nyeri setelah pemberiannya masih perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan skala nyeri pasien post Sectio Caesarea dengan spinal anestesi setelah pemberian ketorolac di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara berdasarkan usia, riwayat operasi SC sebelumnya, dan penyakit penyerta. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 53 responden dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) pada 2 jam dan 6 jam setelah pemberian ketorolac, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 25–44 tahun, menjalani operasi SC pertama, dan tidak memiliki penyakit penyerta. Skala nyeri cenderung meningkat pada pengukuran 6 jam dibandingkan 2 jam pascaoperasi, terutama pada kelompok usia 15–24 tahun, pasien dengan operasi SC pertama, dan pasien dengan penyakit penyerta. Disimpulkan bahwa karakteristik pasien berhubungan dengan variasi gambaran nyeri setelah pemberian ketorolac. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan nyeri yang lebih optimal dan menyusun strategi manajemen nyeri pascaoperasi sesuai karakteristik pasien.</p> <p><em>Cesarean section (CS) is a surgical procedure with an increasing incidence rate; it generally causes postoperative pain, thereby necessitating effective analgesic management. Ketorolac, a non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID), is widely used to manage post-CS pain; however, the pain levels observed following its administration require further evaluation. This study aimed to describe the pain scale of post-CS patients—who underwent spinal anesthesia and received ketorolac—at Emanuel Hospital Banjarnegara, based on age, history of prior CS, and comorbidities. A descriptive-observational quantitative design with a cross-sectional approach was employed. A total of 53 respondents were selected using consecutive sampling. Data were collected through observation and interviews using the Numeric Rating Scale (NRS) at 2 and 6 hours post-ketorolac administration and subsequently analyzed using univariate analysis. The results showed that the majority of respondents were aged 25–44 years, were undergoing their first CS, and had no comorbidities. Pain scores tended to increase at the 6-hour measurement compared to the 2-hour mark, particularly among the 15–24 age group, patients undergoing their first CS, and patients with comorbidities. It is concluded that patient characteristics are associated with variations in pain levels following ketorolac administration. These findings can serve as a basis for healthcare professionals to optimize pain monitoring and develop postoperative pain management strategies tailored to patient characteristics.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25601PENGARUH SIKAP, NORMA SUBJEKTIF, PERSEPSI KONTROL PERILAKU TERHADAP NIAT MENIKAH MUDA MELALUI MEDIASI MEDIA SOSIAL DI DESA TIMUSU, SOPPENG2026-08-20T06:21:59+00:00Hamdawatinakkase75@gmail.com Azniah Syamazniahsyam@gmail.comAchmad R. Muttaqien Al-Maidin88.qien@gmail.comRidwan Thahaguesst@ojs.co.id<p><em>Background: Early marriage remains a significant issue that affects reproductive health. The intention to marry at a young age is influenced by various factors, including attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, and the development of social media as a source of information. Objective: To analyze the effects of attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control on the intention to marry at a young age through the mediating role of social media among adolescents in Timusu Village, Soppeng Regency. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional approach. The sample consisted of 136 adolescents selected through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire. Data analysis included univariate analysis, multiple linear regression (t-test), and the Sobel test. Results: The results showed that attitudes and subjective norms had positive and significant effects on the intention to marry at a young age (p<0.05). Perceived behavioral control and social media did not have significant effects on the intention to marry at a young age (p>0.05). Social media did not mediate the relationship between attitudes and the intention to marry at a young age or between subjective norms and the intention to marry at a young age (p>0.05). However, social media significantly mediated the relationship between perceived behavioral control and the intention to marry at a young age (Z=2.589; p=0.0096). Conclusion: Attitudes and subjective norms are factors that influence the intention to marry at a young age, whereas perceived behavioral control and social media do not have direct significant effects. Social media serves as a mediating variable only in the relationship between perceived behavioral control and the intention to marry at a young age.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25129HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PERILAKU HIGIENE MENSTRUASI PADA SISWI DI MTS AL-IRSYAD GAJAH2026-08-07T09:46:39+00:00Adinta Rizqi Rivadaadintarizqir@gmail.comRusnotorusnoto001@gmail.comSri Siska Mardianasrisiska@umkudus.ac.id<p>Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial sehingga remaja rentan mengalami permasalahan kesehatan reproduksi, termasuk perilaku higiene menstruasi yang kurang baik. Kurangnya pengetahuan, sikap yang kurang mendukung, serta minimnya pendidikan kesehatan reproduksi dapat memengaruhi perilaku remaja dalam menjaga kebersihan diri selama menstruasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan pendidikan kesehatan reproduksi terhadap perilaku higiene menstruasi pada siswi di MTs Al-Irsyad Gajah. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 50 siswi kelas VII A–D, dengan sampel sebanyak 44 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, pendidikan kesehatan reproduksi, dan perilaku higiene menstruasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku higiene menstruasi (p=0,000; r=0,989), sikap dengan perilaku higiene menstruasi (p=0,000; r=0,968), serta pendidikan kesehatan reproduksi dengan perilaku higiene menstruasi (p=0,000; r=0,868). Semakin baik pengetahuan, sikap, dan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimiliki siswi, semakin baik pula perilaku higiene menstruasi yang diterapkan. Oleh karena itu, sekolah dan tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi secara berkelanjutan untuk mendukung terbentuknya perilaku higiene menstruasi yang baik pada remaja putri.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24875HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT BRAWIJAYA LAWANG2026-07-31T09:39:22+00:00Rindi Antikarindiantk74@gmail.comMangsur M. Nurmangsurmnur23@gmail.com<p>Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator utama mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Berdasarkan survei kepuasan di ruang rawat inap RS Brawijaya Lawang periode Januari–Maret 2026, tingkat kepuasan pasien baru mencapai ≥87%, belum memenuhi standar minimal Kepmenkes No. 129 Tahun 2008 sebesar ≥90%. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 32 responden yang merupakan pasien rawat inap, dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner perilaku <em>caring</em> perawat (24 item) dan kuesioner kepuasan pasien (25 item) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai perilaku <em>caring</em> perawat dalam kategori cukup (50%), sementara tingkat kepuasan terbanyak berada pada kategori puas (46,9%) dan sangat puas (43,8%). Analisis bivariat menghasilkan nilai koefisien korelasi <em>r</em> = 0,637 dengan nilai signifikansi <em>p</em> = 0,000 (p < 0,01). Hal ini membuktikan adanya hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi kuat antara perilaku <em>caring</em> perawat dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di RS Brawijaya Lawang. Disimpulkan bahwa semakin baik perilaku <em>caring</em> perawat, semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan pasien. Diperlukan upaya peningkatan pembinaan serta evaluasi berkelanjutan oleh pihak rumah sakit terhadap penerapan perilaku <em>caring</em> perawat sebagai strategi peningkatan mutu pelayanan keperawatan secara menyeluruh.</p> <p><em>Patient satisfaction is one of the main indicators of the quality of nursing services in hospitals. Based on a satisfaction survey in the inpatient ward of Brawijaya Lawang Hospital for the period January–March 2026, the patient satisfaction level only reached ≥87%, which does not meet the minimum standard of ≥90% stipulated in the Minister of Health Decree No. 129 of 2008. The research design used was descriptive correlative with a cross-sectional approach. The sample consisted of 32 respondents who were inpatients, selected using a purposive sampling technique. Data collection was carried out through a nurse caring behavior questionnaire (24 items) and a patient satisfaction questionnaire (25 items) that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Spearman's Rho correlation test. The results showed that the majority of respondents rated nurse caring behavior in the sufficient category (50%), while the highest levels of satisfaction were in the satisfied (46.9%) and very satisfied (43.8%) categories. Bivariate analysis produced a correlation coefficient value of r = 0.637 with a significance value of p = 0.000 (p < 0.01). This demonstrates a significant correlation between nurses' caring behavior and inpatient satisfaction at Brawijaya Lawang Hospital. It was concluded that the better the nurses' caring behavior, the higher the patient satisfaction. Continuous improvement efforts in guidance and evaluation by the hospital regarding the implementation of nurse caring behavior are needed as a strategy for enhancing the overall quality of nursing care services.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25580HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN GADGET DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA MAHASISWA SEMESTER 4 STIKES MAHARANI MALANG2026-08-19T03:35:50+00:00Silvester Stalone Rahaluskansilaar25@gmail.comReny Tri Febrianirenytrifebriani90@gmail.comAndi Surya Kurniawanandisurya.k@gmail.com<p>Di era digital saat ini, gadget telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi interaksi sosial, yang merupakan aspek penting dalam perkembangan psikososial individu. Kondisi ini menyebabkan perubahan dalam cara mahasiswa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi penggunaan gadget dan interaksi sosial pada mahasiswa Semester 4 STIKes Maharani Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 58 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah durasi penggunaan gadget, sedangkan variabel dependen adalah interaksi sosial. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan gadget dan kuesioner interaksi sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank.Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi r = -0,439. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dan interaksi sosial pada mahasiswa Semester 4 STIKes Maharani Malang. Nilai koefisien korelasi menunjukkan hubungan negatif dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin lama durasi penggunaan gadget, maka semakin rendah tingkat interaksi sosial mahasiswa. Meningkatnya penggunaan gadget di kalangan mahasiswa yang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap interaksi sosial menunjukkan pentingnya pengelolaan penggunaan gadget secara bijak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan bahan pertimbangan bagi mahasiswa, orang tua, serta pendidik dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan gadget yang sehat dan seimbang.</p> <p><em>In today's digital era, gadgets have become an integral part of daily life, particularly among adolescents and university students. Excessive gadget use may affect social interaction, which is an important aspect of psychosocial development. This condition has led to changes in the way students interact with their surrounding environment. This study aimed to analyze the relationship between the duration of gadget use and social interaction among fourth-semester students at STIKes Maharani Malang. This study employed a quantitative correlational method with a cross-sectional design. The sample consisted of 58 students selected using a purposive sampling technique. The independent variable was the duration of gadget use, while the dependent variable was social interaction. Data were collected using a gadget usage duration questionnaire and a social interaction questionnaire. Data analysis was conducted using the Spearman Rank correlation test. The results showed a p-value of 0.000 (p < 0.05) with a correlation coefficient of r = -0.439. These findings indicate a significant relationship between gadget usage duration and social interaction among fourth-semester students at STIKes Maharani Malang. The correlation coefficient demonstrates a moderate negative relationship, meaning that the longer the duration of gadget use, the lower the level of students' social interaction. The increasing use of gadgets among university students, which often has a negative impact on social relationships and interactions, highlights the importance of managing gadget use wisely. The findings of this study are expected to provide useful information and serve as a reference for students, parents, and educators in promoting healthy and balanced gadget use.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25060PENGARUH FISIOTERAPI DADA DAN VOLUME MINUM AIR HANGAT TERHADAP STATUS DAHAK PADA PASIEN ISPA DI WILAYAH PUSKESMAS NGEMPLAK KUDUS2026-08-06T06:35:46+00:00Rahma Khoirun Nisanissanissa94304@gmail.comSukarminsukarmin@umkudus.ac.idSukesihsukesih@umkudus.ac.id<p>Penularan patogen menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang dapat mengakibatkan penyakit ringan maupun kematian. Fisioterapi dada dan konsumsi air hangat merupakan terapi non-farmakologis yang bermanfaat bagi saluran pernapasan pasien ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak fisioterapi dada dan konsumsi air hangat terhadap kondisi dahak pada pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Quasi-Experimental dengan Pendekatan Pretest-Posttest With Control Design. Populasi pada penelitian ini adalah pasien ISPA usia 25-45 tahun yang menjalani pengobatan di Puskesmas Ngemplak Kudus Wilayah Karangrowo pada bulan Desember 2025 sejumlah 58 orang. Perhitungan sampel dengan menggunakan total sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 58 responden, 29 untuk kelompok kontrol dan 29 untuk kelompok intervensi. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terhadap responden, dengan bantuan alat berupa lembar observasi status dahak berdasarkan warna, konsistensi, jumlah, dan kemudahan pengeluaran dahak. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon dan mann whitney. Hasil penelitian memperlihatkan pada kelompok intervensi dan control didapatkan hasil uji mann whitney sebesar 0,001 artinya ada pengaruh fisioterapi dada dan volume minum air hangat terhadap status dahak pada pasien ISPA di Wilayah Puskesmas Ngemplak Kudus.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26882IDENTIFIKASI CEMARAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA SAMPEL MINUMAN ES TEH PEDAGANG KAKI LIMA DI DESA DUKUH TENGAH KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES2026-09-14T04:13:21+00:00Shafira Putri Ramadhanshafiraputrirmdhn@gmail.comUmi Nihayatul Khusna44umikhusna@gmail.com<p>Minuman es teh yang dijual oleh pedagang kaki lima banyak dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki harga yang relatif terjangkau. Proses pengolahan dan penyajian yang kurang memperhatikan higiene dan sanitasi dapat meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi mikrobiologis. Salah satu bakteri yang dapat digunakan sebagai indikator pencemaran fekal adalah Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan Escherichia coli pada minuman es teh yang dijual oleh pedagang kaki lima di Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pemeriksaan laboratorium terhadap 15 sampel minuman es teh. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap menggunakan media Lactose Broth (LB), Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB), dan Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan Gram dan uji biokimia IMViC. Seluruh sampel menunjukkan hasil positif pada media LB dan BGLB, sedangkan 14 sampel menunjukkan pertumbuhan koloni pada media EMBA. Hasil pewarnaan Gram terhadap 14 isolat tersebut menunjukkan bentuk basil Gram negatif. Pemeriksaan IMViC selanjutnya menunjukkan bahwa enam isolat memiliki pola reaksi biokimia yang sesuai dengan karakteristik E. coli. Berdasarkan hasil tersebut, E. coli ditemukan pada sebagian sampel minuman es teh yang diperiksa. Temuan ini menunjukkan perlunya penerapan higiene dan sanitasi yang baik selama proses pengolahan maupun penyajian minuman untuk membantu menjaga keamanan pangan.</p> <p><em>Iced tea sold by street vendors is commonly consumed because it is readily available and relatively inexpensive. Inadequate hygiene and sanitation during preparation and serving may increase the possibility of microbial contamination. Escherichia coli is one of the bacteria that can serve as an indicator of fecal contamination. This study aimed to determine the presence of Escherichia coli in iced tea sold by street vendors in Dukuh Tengah Village, Ketanggungan District, Brebes Regency. A descriptive qualitative approach was applied through laboratory examination of 15 iced tea samples. The identification process was carried out using Lactose Broth (LB), Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB), and Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), followed by Gram staining and IMViC biochemical testing. All samples showed positive results in both LB and BGLB media, while 14 samples exhibited colony growth on EMBA. Gram staining of the 14 isolates revealed Gram-negative bacilli. Further examination using the IMViC test showed that six isolates had a biochemical reaction pattern consistent with the characteristics of E. coli. These findings indicate that E. coli was present in some of the iced tea samples examined. The results highlight the need for proper hygiene and sanitation practices during beverage preparation and serving to support food safety.</em></p>2026-09-14T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24846PENGARUH EDUKASI PERAWATAN KOLOSTOMI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN IBU DALAM MERAWAT STOMA BAYI DENGAN ATRESIA ANI DI RS X2026-07-30T12:31:41+00:00Lissie Dwi Syamsilawatilissie.nicu@gmail.comElisabeth Isti Daryatiisti@stik-sintcarolus.ac.id<p>Atresia ani merupakan kelainan kongenital yang memerlukan tindakan kolostomi sebagai penatalaksanaan awal sehingga keberhasilan perawatan stoma setelah pasien pulang sangat bergantung pada kemampuan ibu sebagai caregiver dalam melakukan perawatan kolostomi secara mandiri, sedangkan masih banyak ibu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang belum memadai sehingga berisiko menimbulkan komplikasi seperti iritasi kulit peristoma, kebocoran kantong kolostomi, infeksi, hingga meningkatnya angka rehospitalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi perawatan kolostomi terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam merawat stoma pada bayi dengan diagnosis post operasi kolostomi di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RS X. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan one group pretest–posttest pada satu orang ibu sebagai caregiver utama bayi post operasi kolostomi akibat atresia ani. Intervensi berupa edukasi perawatan kolostomi dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, masing-masing satu sesi berdurasi sekitar 45 menit menggunakan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, return demonstration, leaflet edukasi, serta evaluasi melalui kuesioner pengetahuan dan lembar observasi keterampilan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu dari kategori cukup sebelum edukasi menjadi kategori baik setelah edukasi, disertai peningkatan keterampilan praktik perawatan stoma hingga seluruh prosedur dapat dilakukan secara mandiri, benar, dan sesuai standar. Edukasi yang diberikan secara terstruktur terbukti meningkatkan pemahaman, kepercayaan diri, dan kesiapan ibu dalam melakukan perawatan kolostomi di rumah sebagai bagian dari discharge planning. Dengan demikian, edukasi perawatan kolostomi direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan yang terintegrasi dalam pelayanan NICU untuk meningkatkan kompetensi caregiver, mencegah komplikasi stoma, serta mendukung keberlangsungan perawatan bayi secara optimal di rumah.</p> <p><em>Anal atresia is a congenital anomaly requiring a colostomy as initial management; consequently, the success of post-discharge stoma care relies heavily on the mother's ability—as the primary caregiver—to independently manage the colostomy. However, many mothers lack adequate knowledge and skills, creating a risk of complications such as peristomal skin irritation, colostomy bag leakage, infection, and increased hospital readmission rates. This study aimed to analyze the impact of colostomy care education on improving the knowledge and skills of mothers caring for the stomas of infants who had undergone colostomy surgery in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Hospital X. A case study design with a one-group pretest-posttest approach was employed, focusing on a mother acting as the primary caregiver for an infant who had undergone colostomy surgery due to anal atresia. The intervention consisted of colostomy care education delivered over two consecutive days—with one 45-minute session per day—utilizing lectures, discussions, demonstrations, return demonstrations, and educational leaflets, alongside evaluations via a knowledge questionnaire and a skills observation checklist. Evaluation results showed an improvement in the mother's knowledge from the "adequate" category prior to education to the "good" category afterward, accompanied by enhanced stoma care skills, enabling her to perform the entire procedure independently, correctly, and in accordance with standards. Structured education proved effective in increasing the mother's understanding, confidence, and readiness to perform colostomy care at home as part of discharge planning. Therefore, colostomy care education is recommended as an integrated nursing intervention within NICU services to enhance caregiver competence, prevent stoma-related complications, and support optimal ongoing care for the infant at home</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25453HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DAN PROGRAM SEKOLAH RAMAH ANAK DENGAN PERILAKU BULLYING VERBAL DI SEKOLAH DASAR2026-08-15T04:17:38+00:00Salsabila Refiyanibilarefi40@gmail.comNoor Hidayahnoorhidayah@umkudus.ac.idAshri Maulida Rahmawatiarahmawati@umkudus.ac.id<p><em>Bullying</em> verbal pada siswa sekolah dasar masih menjadi masalah yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan sosial anak. Perilaku <em>bullying</em> dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua dan lingkungan sekolah. Program Sekolah Ramah Anak merupakan salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dan Program Sekolah Ramah Anak dengan perilaku <em>bullying</em> verbal pada siswa sekolah dasar. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui hubungan pola asuh orang tua dan Program Sekolah Ramah Anak dengan perilaku <em>bullying</em> verbal pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilaksanakan di SD 2 Dersalam, Kabupaten Kudus. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV–VI sebanyak 31 siswa. Sampel penelitian berjumlah 31 siswa dengan teknik <em>non-probability sampling</em> menggunakan <em>total sampling</em> (<em>sampling</em> jenuh), sehingga seluruh populasi dijadikan sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola asuh orang tua, <em>Child-Friendly School Assessment Instrument</em> (CFS-AI), kuesioner perilaku <em>bullying</em> verbal, dan kuesioner program sekolah ramah anak. Analisis data meliputi analisis univariat, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian terhadap 31 responden menunjukkan mayoritas siswa memperoleh pola asuh demokratis (83,9%), menilai Program Sekolah Ramah Anak dalam kategori baik (61,3%), dan memiliki perilaku <em>bullying</em> verbal kategori tinggi (74,2%). Hasil uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku <em>bullying</em> verbal (<em>p</em>=0,150) dan tidak terdapat hubungan signifikan antara Program Sekolah Ramah Anak dengan perilaku <em>bullying</em> verbal (<em>p</em>=0,077). Hasil tersebut menunjukkan bahwa perilaku <em>bullying</em> verbal dalam penelitian ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti, seperti teman sebaya, lingkungan sekolah dan keluarga, media sosial, serta kondisi emosional anak.</p> <p><em>Verbal bullying among elementary school students is an issue that can affect children's mental health and social development. Bullying behavior can be influenced by parenting styles and the school environment. The Child-Friendly School Program is an initiative aimed at creating a school environment that is safe, comfortable, and free from violence. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between parenting styles, the Child-Friendly School Program, and verbal bullying behavior among elementary school students. The general objective of this study was to examine the relationship of parenting styles and the Child-Friendly School Program with verbal bullying behavior in elementary school students. This study employed a quantitative method with a correlational design and a cross-sectional approach. The research was conducted at SD 2 Dersalam, Kudus Regency. The study population consisted of all students in grades IV through VI, totaling 31 students. The sample included all 31 students, selected using a total sampling technique (saturated sampling), meaning the entire population served as the sample. Data were collected using a parenting style questionnaire, the Child-Friendly School Assessment Instrument (CFS-AI), a verbal bullying behavior questionnaire, and a Child-Friendly School Program questionnaire. Data analysis included univariate analysis, the Shapiro-Wilk normality test, and bivariate analysis using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The results regarding the 31 respondents showed that the majority of students experienced democratic parenting (83.9%), rated the Child-Friendly School Program in the good category (61.3%), and exhibited high levels of verbal bullying behavior (74.2%). Chi-Square test results indicated no significant relationship between parenting styles and verbal bullying behavior (p=0.150), nor between the Child-Friendly School Program and verbal bullying behavior (p=0.077). These findings suggest that verbal bullying behavior in this study was likely influenced by factors other than the variables examined, such as peers, the school and family environment, social media, and the child's emotional state. </em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25022PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN LIDAH BUAYA (ALOEVERA) TERHADAP PENURUNAN GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUKESMAS II SUKOLILO KABUPATEN PATI2026-08-05T13:22:14+00:00Muhammad Bagus Sarjono Putramb8358844@gmail.comHeny Siswantiheny.abdul@gmail.comSri Siska Mardianasrisiska@umkudus.ac.id<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin, di mana Kabupaten Pati mencatat prevalensi tinggi sebanyak 29.060 kasus pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian rebusan lidah buaya (Aloe vera) terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita DM di wilayah kerja Puskesmas II Sukolilo, Kabupaten Pati. Lidah buaya secara fitokimia mengandung zat aktif kromium, acemannan, dan serat glukomanan yang berfungsi meningkatkan sensitivitas reseptor insulin serta menghambat penyerapan glukosa di usus. Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif eksperimen semu (Quasy Experiment) dengan rancangan Pre-test and Post-test with Control Group. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling yang terbagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan glukometer untuk mengukur kadar glukosa darah. Kelompok intervensi diberikan air rebusan lidah buaya dosis 75 gram dalam 200 ml air selama 7hari . Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Paired T-Test atau uji Wilcoxon untuk melihat signifikansi perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian ini diharapkan membuktikan adanya penurunan kadar gula darah yang signifikan pada penderita DM (p < 0,05), sehingga rebusan lidah buaya dapat diimplementasikan sebagai terapi komplementer non-farmakologi yang efektif, ekonomis, dan aman bagi masyarakat di wilayah Sukolilo.</p> <p><em>Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia due to insulin resistance, in which Pati Regency recorded a high prevalence of 29,060 cases in 2023. This study aims to analyze the effect of administering aloe vera decoction (Aloe vera) on reducing blood sugar levels in patients with DM in the working area of Sukolilo II Public Health Center, Pati Regency. Aloe vera phytochemically contains active substances such as chromium, acemannan, and glucomannan fiber, which function to increase insulin receptor sensitivity and inhibit glucose absorption in the intestine. This research design uses a quantitative quasi-experimental (Quasy Experiment) with a Pre-test and Post-test with Control Group design. The research sample was taken using purposive sampling technique, which was divided into an intervention group and a control group. The research instruments used were observation sheets and a glucometer to measure blood glucose levels. The intervention group was given aloe vera decoction at a dose of 75 grams in 200 ml of water for 7 days. Data analysis was carried out using the Paired T-Test or Wilcoxon statistical test to determine the significance of differences in blood sugar levels before and after the intervention. The results of this study are expected to prove a significant reduction in blood sugar levels in patients with DM (p < 0.05), so that aloe vera decoction can be implemented as an effective, economical, and safe non-pharmacological complementary therapy for the community in the Sukolilo area.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25650COMPARATIVE FETAL WEIGHT ESTIMATION USING RISANTO, JOHNSON-TOSHACK, AND ULTRASONOGRAPHY AT SANTOSA HOSPITAL BANDUNG KOPO2026-08-21T11:34:46+00:00Ega Siti Mardiatilahegasiti24@gmail.comIka Tristantiikatristanti@umkudus.ac.idAtun Wigatiatunwigati@umkudus.ac.id<p>Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan tahun 2020–2023, dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan prematuritas sebagai penyebab dominan kematian neonatal (60–80%). Deteksi dini BBLR melalui penaksiran berat janin yang akurat penting untuk mencegah komplikasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi taksiran berat janin (TBJ) metode Risanto, Johnson-Toshack, dan ultrasonografi (USG), dengan berat badan lahir sebagai standar baku. Penelitian ini menggunakan desain komparatif dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian mencakup 1.000 kelahiran tahun 2025 di Santosa Hospital Bandung Kopo. 286 sampel dihitung menggunakan rumus Slovin, dengan teknik consecutive sampling. Data rekamedis TBJ dari ketiga metode dibandingkan dengan berat lahir bayi aktual menggunakan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon dengan koreksi Bonferroni. Rata-rata TBJ metode Risanto adalah 2.969,21 gram, Johnson-Toshack sebesar 2.917,36 gram, dan USG sebesar 2.916,63 gram, sedangkan rata-rata berat lahir aktual adalah 2.988,00 gram. Berdasarkan selisih absolut, metode Risanto memiliki rerata selisih terkecil (175,47 gram), diikuti USG (182,74 gram) dan Johnson-Toshack (191,94 gram). Hasil uji Friedman menunjukkan perbedaan akurasi bermakna antar ketiga metode (p = 0,041). Uji lanjut Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan antara metode Johnson-Toshack dan Risanto (p = 0,002), namun tidak ada perbedaan signifikan antara metode USG dan Risanto (p = 0,703) serta antara USG dan Johnson-Toshack (p = 0,334). Metode Risanto memiliki tingkat akurasi paling tinggi secara deskriptif dan statistik tidak berbeda signifikan dengan metode ultrasonografi (USG). Oleh karena itu, metode Risanto dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penaksiran berat janin yang efektif, terutama pada fasilitas pelayanan kesehatan dengan keterbatasan akses terhadap perangkat USG.</p> <p><em>The Infant Mortality Rate (IMR) in West Java Province, increased during 2020–2023, with low birth weight (LBW) and prematurity being dominant causes of neonatal mortality (60–80%). Accurate fetal weight estimation is essential for early detection of LBW. This study aimed to compare the accuracy of fetal weight estimates (FWE) using the Risanto, Johnson-Toshack, and ultrasound (USG) methods, with birth weight as the gold standard. The study design was a comparative cross-sectional study. The study population included 1000 births in 2025 at Santosa Hospital Bandung Kopo. 286 samples were selected using the Slovin formula and consecutive sampling. Medical record data were analyzed using the Friedman test and Wilcoxon follow-up test with Bonferroni correction. The mean estimated birth weight using the Risanto method was 2,969.21 grams, 2,917.36 grams using Johnson-Toshack, and 2,916.63 grams using ultrasound, while the mean actual birth weight was 2,988.00 grams. Based on absolute difference values, the Risanto method had the smallest average difference (175.47 grams), followed by ultrasound (182.74 grams) and the Johnson-Toshack method (191.94 grams). The Friedman test showed a significant difference in accuracy among the three methods (p = 0.041). Wilcoxon analysis showed a significant difference between Johnson-Toshack and Risanto (p = 0.002), but no significant difference between ultrasound and Risanto (p = 0.703) or between ultrasound and Johnson-Toshack (p = 0.334). The Risanto method demonstrated the highest accuracy and was not significantly different from ultrasound. Therefore, Risanto may be an alternative for fetal weight estimation, in facilities with limited access to ultrasound equipment.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25313PENGARUH HIPNOSIS 5 JARI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA DENGAN DIABETES DI POSYANDU LANSIA DESA SIDOMULYO2026-08-11T03:57:26+00:00Lingga Latifa Khoirunisalinggalatifa75@gmail.comHeny Siswantihenysiswanti@umkudus.ac.idTri Suwartotrisuwarto@umkudus.ac.id<p>Lansia dengan diabetes melitus berisiko mengalami masalah psikologis, salah satunya kecemasan yang dapat memengaruhi kondisi fisik dan kualitas hidup. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan kecemasan adalah hipnosis lima jari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnosis lima jari terhadap tingkat kecemasan pada lansia dengan diabetes di Posyandu Lansia Desa Sidomulyo. Penelitian ini menggunakan desain [isi sesuai desain penelitian, misalnya quasi-experimental] dengan pendekatan [isi pendekatan penelitian]. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia dengan diabetes yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak [jumlah sampel] responden. Tingkat kecemasan diukur menggunakan [nama instrumen/kuesioner, misalnya Geriatric Anxiety Inventory] sebelum dan sesudah diberikan intervensi hipnosis lima jari. Intervensi dilakukan sesuai dengan prosedur hipnosis lima jari untuk membantu responden mencapai kondisi relaksasi dan mengurangi kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat [penurunan/perbedaan] tingkat kecemasan setelah diberikan intervensi hipnosis lima jari. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh nilai p = [isi nilai p], sehingga dapat disimpulkan bahwa [terdapat/tidak terdapat] pengaruh hipnosis lima jari terhadap tingkat kecemasan pada lansia dengan diabetes di Posyandu Lansia Desa Sidomulyo. Hipnosis lima jari dapat menjadi salah satu alternatif intervensi nonfarmakologis yang sederhana untuk membantu mengatasi kecemasan pada lansia dengan diabetes.</p> <p><em>Older adults with diabetes mellitus are at risk of experiencing psychological problems, including anxiety, which may affect their physical condition and quality of life. One non-pharmacological intervention that can be used to help reduce anxiety is the five-finger hypnosis technique. This study aimed to determine the effect of five-finger hypnosis on anxiety levels among older adults with diabetes at the Elderly Posyandu in Sidomulyo Village. This study used a [insert study design, e.g., quasi-experimental] design with a [insert research approach] approach. The sample consisted of [number of participants] older adults with diabetes who met the inclusion criteria. Anxiety levels were measured using [name of instrument/questionnaire, e.g., Geriatric Anxiety Inventory] before and after the five-finger hypnosis intervention. The intervention was conducted according to the five-finger hypnosis procedure to help participants achieve a state of relaxation and reduce anxiety. The results showed that there was a [decrease/difference] in anxiety levels after the five-finger hypnosis intervention. Statistical analysis showed a p-value of [insert p-value], indicating that [there was/there was no] a significant effect of five-finger hypnosis on anxiety levels among older adults with diabetes at the Elderly Posyandu in Sidomulyo Village. Five-finger hypnosis may serve as a simple non-pharmacological alternative intervention to help manage anxiety among older adults with diabetes. </em></p> <p> </p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24980HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI (SELF-CONTROL) DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA KELAS X TKR DI SMKN 1 WONOREJO KABUPATEN PASURUAN2026-08-03T12:08:02+00:00Nailul Maromi nmaromi31@gmail.comMangsur M Nur mangsurmnur23@gmail.com<p>Perilaku merokok pada remaja menjadi isu kesehatan publik yang signifikan di Indonesia, terutama pada masa transisi yang rawan terhadap perilaku menyimpang. Siswa laki-laki SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) sangat rentan terhadap tekanan konformitas kelompok sebaya terkait rokok. Regulasi internal berupa kontrol diri memegang peran vital dalam menangkal pengaruh tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji korelasi antara kontrol diri dan perilaku merokok pada siswa Kelas X TKR di SMKN 1 Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa laki-laki kelas X TKR di SMKN 1 Wonorejo sebanyak 87 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga seluruh populasi di jadikan sampel. Sebagian besar responden memiliki kontrol diri baik yaitu 52 siswa (59,8%), cukup 27 siswa (31,0%), dan buruk 8 siswa (9,2%). Untuk perilaku merokok, 52 siswa (59,8%) tidak merokok, 27 siswa (31,0%) perokok ringan, 6 siswa (6,9%) perokok sedang, dan 2 siswa (2,3%) perokok berat. Uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,750. Terdapat hubungan signifikan berkekuatan kuat dengan arah positif antara kontrol diri dan perilaku merokok. Semakin baik kontrol diri, semakin rendah kecenderungan remaja untuk merokok. Peningkatan kontrol diri melalui edukasi kesehatan dan pembinaan karakter sangat diperlukan sebagai upaya preventif.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25607PERKEMBANGAN PADA ANAK 1-5 TAHUN DI POSYANDU PUSPITA PERTIWI PA DUKUHAN RANDUBELANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON2026-08-20T10:32:38+00:00Agata Sairlalaiagatasairlalai@gmail.comEra Revikaguest@jurnalhst.comAnugerah Destia Trisetyaningsihanugerahdestia@gmail.comWidy Nurwiandanibidanwidy@gmail.com<p>Masa balita merupakan periode penting dalam kehidupan anak karena terjadi perkembangan yang pesat pada kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, serta sosial dan kemandirian. Perkembangan perlu dipantau secara berkala agar pencapaian anak dapat diketahui sesuai dengan kelompok usianya. Salah satu alat yang digunakan untuk melakukan skrining perkembangan adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan pada anak usia 1–5 tahun di Posyandu Puspita Pertiwi Pedukuhan Randubelang di Wilayah Kerja Puskesmas Sewon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juni–Juli 2026 dengan jumlah responden sebanyak 46 balita. Pengumpulan data dilakukan menggunakan KPSP dan data karakteristik balita, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden perempuan sebanyak 24 balita (52,2%) dan laki-laki sebanyak 22 balita (47,8%). Kelompok usia terbanyak adalah 48 bulan sebanyak 11 balita (23,9%), sedangkan kelompok usia berikutnya adalah 36 bulan sebanyak 9 balita (19,6%). Berdasarkan berat badan, sebanyak 44 balita (95,7%) memiliki berat badan normal dan 2 balita (4,3%) memiliki berat badan lebih. Hasil skrining perkembangan menggunakan KPSP menunjukkan seluruh responden, yaitu 46 balita (100%), berada dalam kategori perkembangan sesuai; tidak ditemukan kategori meragukan maupun penyimpangan. Kesimpulan penelitian ini adalah seluruh balita yang menjadi responden memiliki perkembangan yang sesuai berdasarkan hasil skrining KPSP. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta pemberian stimulasi sesuai usia tetap perlu dilakukan secara berkesinambungan agar perkembangan anak dapat dipertahankan dan kemungkinan keterlambatan dapat dikenali sejak dini.</p> <p><em>Toddler development is a crucial indicator for assessing the quality of a child's growth and development. Periodic monitoring is essential for the early detection of developmental delays, enabling appropriate interventions. This study aimed to assess the developmental status of children aged 1–5 years at the Puspita Pertiwi Integrated Health Post (Posyandu) in Randubelang Hamlet, within the Sewon Community Health Center (Puskesmas) service area. This study employed a quantitative method with a descriptive design and a cross-sectional approach. The sample consisted of 46 toddlers aged 1–5 years, selected using simple random sampling. Data were collected using the Pre-Screening Developmental Questionnaire (KPSP), analyzed via univariate analysis, and presented as frequency distributions and percentages. The results showed that the majority of respondents were female (24 toddlers; 52.2%), while 22 were male (47.8%). The largest age group was 48 months (11 toddlers; 23.9%). Based on the KPSP screening results, all respondents (46 toddlers; 100%) fell into the "appropriate development" category. All developmental aspects—including gross motor skills, fine motor skills, language, and socialization/independence—demonstrated development consistent with their age stages. The study concludes that the development of children aged 1–5 years at the Puspita Pertiwi Posyandu in Randubelang Hamlet (Sewon Puskesmas area) is classified as appropriate based on KPSP screening results. Routine developmental monitoring and the provision of appropriate stimulation remain necessary to maintain optimal toddler development.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25132HUBUNGAN SIKAP DENGAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DALAM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN DI DESA TABONGO TIMUR KABUPATEN GORONTALO2026-08-07T10:18:13+00:00Moh. Raihan Arrahmanrizkyraihan990@gmail.comPipin Yunuspipinyunus@umgo.ac.idHaslinda Damansyahhaslindadamansyah@umgo.ac.id<p>Kebakaran adalah fenomena yang terjadi ketika suatu bahan mencapai suhu kritis dan bereaksi secara kimia dengan oksigen, menghasilkan panas, nyala api, karbon monoksida, serta produk dan efek lainnya. Kesiapsiagaan kebakaran mencakup serangkaian tindakan dan strategi yang dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, mengendalikan, dan merespons kejadian kebakaran, dengan tujuan melindungi jiwa, harta benda, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Sikap Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Tanggap Darurat Kebakaran Di Desa Tabongo Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dengan pengumpulan data sampel dengan acidental sampling Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p-value adalah 0,0001 (p < 0,05). Berdasarkan nilai tersebut, hipotesis alternatif (Ha) diterima, sementara hipotesis nol (Ho) ditolak, yang berarti terdapat hubungan antara sikap masyarakat dan kesiapsiagaan dalam tanggap darurat kebakaran. Sebanyak 68,2% responden memiliki sikap yang baik, sementara 31,8% memiliki sikap yang kurang. Sebanyak 68% responden menunjukkan kesiapsiagaan yang baik, sedangkan 31,8% lainnya memiliki kesiapsiagaan yang kurang. Kesimpulan: Sikap dan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Tanggap Darurat Bencana sudah sebagian besar baik.</p> <p><em>Fire is a disaster that can cause significant loss of life, property, and environmental damage. Community preparedness is an essential factor in minimizing the impact of fire emergencies. Community attitude is one of the factors influencing preparedness in responding to fire disasters. This study aimed to determine the relationship between community attitude and preparedness in fire emergency response in Tabongo Timur Village, Gorontalo Regency. This quantitative study employed a cross-sectional design with accidental sampling technique. Data were analyzed to determine the relationship between community attitude and preparedness toward fire emergencies. The results showed a p-value of 0.0001 (p<0.05), indicating a significant relationship between community attitude and preparedness. Most respondents had a good attitude (68.2%) and good preparedness (68.2%). It can be concluded that better community attitudes are associated with better preparedness in responding to fire emergencies.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24882FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN FATIGUE (KELELAHAN) PADA PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS 1 PATI2026-07-31T11:13:56+00:00Bagas Rudi Prasetya142022030243@std.umku.ac.idHeny Siswantiheny.abdul@gmail.comTri Suwartotrisuwarto@umkudus.ac.id<p>Fatigue (kelelahan) merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dan dapat memengaruhi kualitas hidup serta kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Berbagai faktor, seperti karakteristik individu, lama menderita penyakit, kadar glukosa darah, status gizi, aktivitas fisik, dan penyakit penyerta diduga berhubungan dengan terjadinya fatigue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas 1 Pati. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien DM tipe 2 yang menjalani pengobatan di Puskesmas 1 Pati, sedangkan sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden dan instrumen pengukuran fatigue yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden serta bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beberapa faktor, seperti lama menderita DM, pengendalian kadar glukosa darah, aktivitas fisik, dan status gizi dengan tingkat fatigue pada pasien DM tipe 2 (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa fatigue pada pasien DM tipe 2 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan diabetes secara komprehensif melalui pengendalian kadar glukosa darah, penerapan gaya hidup sehat, serta edukasi berkelanjutan guna mengurangi tingkat fatigue dan meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> <p><em>Fatigue is one of the most common symptoms experienced by patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) and may adversely affect their quality of life and daily functional activities. Various factors, including individual characteristics, duration of illness, blood glucose control, nutritional status, physical activity, and comorbidities, are suspected to be associated with fatigue. This study aimed to analyze the factors associated with fatigue among patients with type 2 diabetes mellitus at Puskesmas 1 Pati. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of all patients with type 2 diabetes mellitus receiving treatment at Puskesmas 1 Pati, while the sample was selected using a purposive sampling technique based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Data were collected using respondent characteristic questionnaires and a validated fatigue assessment instrument. Data analysis included univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Chi-Square or Spearman Rank test with a significance level of 95% (α = 0.05). The results indicated that several factors, including duration of diabetes, blood glucose control, physical activity, and nutritional status, were significantly associated with fatigue among patients with type 2 diabetes mellitus (p < 0.05). This study concludes that fatigue in patients with type 2 diabetes mellitus is influenced by multiple interrelated factors. Therefore, comprehensive diabetes management through optimal blood glucose control, healthy lifestyle modifications, and continuous patient education is essential to reduce fatigue and improve patients' quality of life.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25582PENGARUH TERAPI KOMBINASI RELAKSASI OTOT PROGRESIF DAN ISOMATRIC HANDGRIP EXERCISE TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI WILAYAH PUSKESMAS GAJAH II2026-08-19T04:37:54+00:00Ifadah Kamelia142022030045@std.umku.ac.id Dewi Hartinahdewihartinah@umkudus.ac.idMuhamad Jauharmuhamadjauhar@umkudus.ac.id<p>Penelitian ini menganalisis pengaruh kombinasi terapi ROP dan IHG terhadap tekanan darah lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gajah II. Metode penelitian menggunakan desain quasi experiment pre-posttest with control group. Variabel independen adalah kombinasi ROP dan IHG, sedangkan dependen adalah tekanan darah. Penelitian dilakukan di Desa Tambirejo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak pada April–Mei 2025. Sampel 34 lansia hipertensi dipilih dengan teknik purposive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi (17) dan kontrol (17). Kriteria inklusi: lansia terdiagnosis hipertensi, mampu melakukan latihan, dan tekanan darah ≥140/90 mmHg. Kriteria eksklusi: lansia dengan komplikasi, gangguan muskuloskeletal, atau tidak mengikuti intervensi. Instrumen meliputi SOP latihan dan tensimeter digital BP100. Prosedur dilakukan 8 kali selama 2 minggu. Analisis data menggunakan uji normalitas (Shapiro-Wilk), paired t-test atau Wilcoxon, serta independent t-test atau Mann-Whitney.</p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25097GAMBARAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI HORMONAL PADA PASIEN KANKER SERVIKS DI RSD GUNUNG JATI CIREBON2026-08-07T02:52:12+00:00Muhammad Rafi Raihanmrafirai@gmail.comNurbaitimihdeela@gmail.comIskandar Sarumpaetipsarumpaet@gmail.com<p>Latar Belakang: Kontrasepsi hormonal merupakan metode KB yang umum digunakan untuk mengatur kehamilan, namun penggunaan jangka panjangnya berpotensi meningkatkan risiko kanker rahim, termasuk kanker serviks. Di Kota Cirebon, tingkat penggunaan kontrasepsi mencapai 61,13% dengan peserta terbanyak di Kecamatan Gegesik. Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan serius, disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Kemudahan akses kontrasepsi hormonal di layanan kesehatan membuatnya banyak dipilih, namun minimnya edukasi menyebabkan sebagian wanita tidak mengetahui potensi efek sampingnya, termasuk kaitannya dengan risiko kanker serviks. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pemakaian kontrasepsi hormonal pasien kanker serviks di RSD Gunung Jati Cirebon berdasarkan umur, jenis kontrasepsi hormonal dan lama penggunaan kontrasepsi hormonal. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional, data menggunakan rekam medis pasien tahun 2021–2024 dan pengambilan sampel menggunakan total sampling serta melibatkan 52 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Berdasarkan karaktertistik usia, didapatkan terbanyak berusia 48 tahun (13,46%) dengan rerata usia 47,98 tahun. Jenis kontrasepsi hormonal yang paling banyak digunakan adalah suntik (40,4%), diikuti oleh pil (21,2%) dan implan (7,7%). Sebanyak 23,1% pasien menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 5 tahun, sementara 63,5% menggunakannya dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun. simpulan: dari penelitian ini menunjukkan bahwa kontrasepsi hormonal suntik merupakan jenis yang paling banyak digunakan oleh pasien kanker serviks, sehingga perlu pertimbangan lebih lanjut dalam penggunaannya sebagai metode kontrasepsi jangka panjang.</p> <p><em>Background: Hormonal contraception is a commonly used family planning method to regulate pregnancy; however, long-term use may increase the risk of uterine cancer, including cervical cancer. In Cirebon City, the contraceptive use rate reaches 61.13%, with the highest number of participants in the Gegesik District. Cervical cancer remains a significant public health issue, primarily caused by infection with the Human Papilloma Virus (HPV). Easy access to hormonal contraception through health services makes it a popular choice, but limited education leads many women to be unaware of its potential side effects, including its association with cervical cancer risk. Aim: This study aims to describe the use of hormonal contraception among cervical cancer patients at Gunung Jati Regional Hospital Cirebon, based on age, type of hormonal contraception, and duration of use. Methods: This was a cross-sectional study using secondary data from medical records of patients between 2021 and 2024. Sampling was conducted using a total sampling method and involved 52 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Results: Most patients were 48 years old (13.46%) with an average age of 47.98 years. The most commonly used hormonal contraceptive type was injection (40.4%), followed by pills (21.2%) and implants (7.7%). A total of 23.1% had used hormonal contraception for more than 5 years, while 63.5% used it for less than 1 year. Conclusion: Injectable hormonal contraception was the most frequently used method among cervical cancer patients, indicating the need for careful consideration of its long-term use.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24872HUBUNGAN ASUPAN GIZI DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA PLATAR2026-07-31T08:55:52+00:00Maisya Diyah Ayu Andriyanisasaandriyani28@gmail.comEdy Soesantoedysoes@unimus.ac.idMuhammad Purnomomuh.purnomo@umkudus.ac.id<p>Asupan gizi yang adekuat pada masa awal kehidupan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan motorik halus. Kekurangan asupan gizi dapat menghambat perkembangan kemampuan motorik yang berdampak pada kualitas tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan gizi dengan perkembangan motorik halus pada anak usia 6–24 bulan di Desa Platar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh anak usia 6–24 bulan di Desa Platar, sedangkan sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Data asupan gizi diperoleh melalui kuesioner atau wawancara menggunakan instrumen penilaian konsumsi makanan, sedangkan perkembangan motorik halus diukur menggunakan instrumen perkembangan anak yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan gizi dengan perkembangan motorik halus pada anak usia 6–24 bulan (p < 0,05). Anak dengan asupan gizi yang baik cenderung memiliki perkembangan motorik halus yang lebih optimal dibandingkan anak dengan asupan gizi yang kurang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemenuhan asupan gizi yang optimal sangat penting untuk mendukung perkembangan motorik halus anak. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan edukasi gizi kepada orang tua agar kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi secara optimal.</p> <p><em>Adequate nutritional intake during early childhood plays a crucial role in supporting children's growth and development, including fine motor development. Inadequate nutritional intake may hinder motor skill development and negatively affect children's overall growth. This study aimed to determine the relationship between nutritional intake and fine motor development among children aged 6–24 months in Platar Village. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of all children aged 6–24 months in Platar Village, while the sample was selected using a purposive sampling technique based on predetermined inclusion criteria. Nutritional intake data were collected through questionnaires or interviews using a dietary assessment instrument, while fine motor development was assessed using a validated child development instrument. Data were analyzed using univariate analysis to describe respondents' characteristics and bivariate analysis with the Chi-Square or Spearman Rank test at a significance level of 95% (α = 0.05). The results indicated a significant relationship between nutritional intake and fine motor development among children aged 6–24 months (p < 0.05). Children with adequate nutritional intake tended to demonstrate better fine motor development than those with inadequate nutritional intake. This study concludes that optimal nutritional intake is essential for supporting fine motor development in young children. Therefore, improving parental nutrition education is necessary to ensure that children's nutritional needs are adequately fulfilled.</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitashttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/25528PENGARUH PENGETAHUAN SUAMI TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III2026-08-17T01:59:10+00:00Wasti Sofia Seruni Nieuwguinea Prawarsofiaseruni@gmail.comSylvi Wafda Nur Amelliahabibah.vivie@gmail.comAnugerah Destia Trisetyaningsihanugerahdestia.ad@gmail.comTeguh Budi Prasetyateguhbudiprasetya@gmail.com<p>Trimester III merupakan fase akhir kehamilan yang sering disertai kecemasan menjelang persalinan. Pengetahuan tentang persiapan persalinan dan dukungan suami berperan penting dalam membantu ibu hamil menghadapi perubahan fisik maupun psikologis selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan suami tentang persiapan persalinan dan dukungan suami dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di Puskesmas Depok III.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 45 ibu hamil trimester III beserta suami yang memenuhi kriteria penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan suami, dukungan suami, dan tingkat kecemasan ibu hamil. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Spearman's Rho, dan multivariat menggunakan regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar suami memiliki pengetahuan baik (80,0%), sebagian besar ibu hamil memperoleh dukungan suami positif (75,6%), dan tingkat kecemasan terbanyak berada pada kategori ringan (28,9%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan suami (p=0,000) dan dukungan suami (p=0,000) dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan suami dan dukungan suami secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III (F=9,499; p<0,001).Kesimpulan penelitian ini adalah pengetahuan suami tentang persiapan persalinan dan dukungan suami berhubungan serta berpengaruh secara bersama-sama terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. Oleh karena itu, keterlibatan suami dalam edukasi dan pendampingan selama kehamilan perlu ditingkatkan untuk membantu mengurangi kecemasan ibu menjelang persalinan</p> <p><em>The third trimester is the final phase of pregnancy, often accompanied by anxiety leading up to delivery. Knowledge about childbirth preparation and husband's support play a crucial role in helping pregnant women cope with the physical and psychological changes during pregnancy. This study aimed to determine the relationship between husbands' knowledge about childbirth preparation and their support and the anxiety levels of pregnant women in the third trimester at the Depok III Community Health Center.This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 45 pregnant women in their third trimester and their husbands who met the study criteria. Data were collected using a questionnaire on husbands' knowledge, husbands' support, and their anxiety levels. Data were analyzed univariately, bivariately using the Spearman's Rho test, and multivariately using multiple linear regression.The results showed that most husbands had good knowledge (80.0%), most pregnant women received positive husband support (75.6%), and most had mild anxiety levels (28.9%). Bivariate analysis showed a significant relationship between husbands' knowledge (p=0.000) and husbands' support (p=0.000) and anxiety levels of pregnant women in the third trimester. The results of the multivariate analysis showed that husbands' knowledge and support simultaneously had a significant effect on the anxiety levels of pregnant women in the third trimester (F=9.499; p<0.001). The conclusion of this study is that husbands' knowledge about childbirth preparation and their support are related and jointly influence the anxiety levels of pregnant women in the third trimester. Therefore, husbands' involvement in education and support during pregnancy needs to be increased to help reduce maternal anxiety before delivery</em></p>2026-08-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas