Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Jurnal Kesehatan Afinitas ANALISIS IMPLEMENTASI LAYANAN BERBASIS KOMUNITAS DAN DIGITAL DALAM PENINGKATAN PENGOBATAN HIV DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22139 <p>Pendahuluan: Kepatuhan orang dengan HIV (ODHIV) dalam menjalani terapi antiretroviral (ARV) merupakan tantangan utama dalam pengendalian HIV. Kabupaten Kotawaringin Barat telah mengembangkan layanan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung keberlanjutan pengobatan HIV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi layanan berbasis komunitas dan digital dalam pengobatan HIV di Kabupaten Kotawaringin Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) terhadap 69 ODHIV yang menjalani pengobatan ARV dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tenaga kesehatan, pendamping komunitas, dan ODHIV sebagai penerima layanan. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan model implementasi kebijakan Grindle yang meliputi dimensi content of policy dan context of implementation. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan ODHIV terhadap pengobatan ARV masih bervariasi, dengan kepatuhan rendah sebanyak 31 responden, kepatuhan sedang 25 responden, dan kepatuhan tinggi 13 responden. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa layanan berbasis komunitas dan digital memberikan manfaat dalam meningkatkan komunikasi antara ODHIV dengan layanan kesehatan, mendukung penelusuran pasien yang mengalami lost to follow up.&nbsp; Implementasi program masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya, hambatan akses geografis, serta stigma sosial terhadap ODHIV. Kesimpulan: Implementasi layanan berbasis komunitas dan digital berperan dalam mendukung kepatuhan pengobatan ARV, tingkat keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor isi kebijakan dan konteks implementasi sebagaimana dijelaskan dalam model Grindle.</p> <p><em>Introduction: Adherence to antiretroviral (ARV) therapy among People Living with HIV (PLHIV) is a primary challenge in HIV control efforts. Kotawaringin Barat&nbsp; has implemented community-based services combined with digital support as a strategy to strengthen treatment adherence among PLHIV. This study aimed to analyze the implementation of community-based and digital services in supporting HIV treatment in Kotawaringin Barat. Methods: This study uses a mixed-methods approach with an explanatory sequential design. Quantitative data were collected using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire administered to 69 PLHIV receiving ARV terapy and analyzed using univariate analysis. Qualitative data were obtained through in-depth interviews with healthcare providers, community outreach workers, and PLHIV receiving the services. The qualitative analysis was conducted using Grindle’s policy implementation framework, which includes the dimensions of content of policy and context of implementation. Result: The findings show that antiretroviral therapy (ART) adherence among people living with HIV (PLHIV) varied, with 31 respondents categorized as low adherence, 25 as moderate adherence, and 13 as high adherence. Qualitative findings indicate that community-based and digital services improved communication between PLHIV and healthcare providers and supported the tracing of patients experiencing lost to follow up. However, the program implementation still faced several challenges, including limited resources, geographical access barriers, and social stigma toward PLHIV. Conclusion: The implementation of community-based and digital services contributes to improving ART adherence among PLHIV. However, its effectiveness is influenced by policy content and the context of implementation, as described in Grindle’s framework</em></p> Tresi Delmi Darose Harimat Hendarwan Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS FAKTOR PERILAKU MAKAN SESUAI PEDOMAN GIZI SEIMBANG PADA WANITA USIA SUBUR PREMARITAL DI KOTA SEMARANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21648 <p>Latar Belakang: Perilaku makan menurut pedoman gizi seimbang adalah tindakan seseorang atau kelompok dalam memilih makanan untuk dikonsumsi, yang mempunyai kandungan zat gizi dalam jenis maupun jumlah yang tepat untuk kebutuhan tubuh. Beberapa faktor bisa memengaruhi perilaku makan seseorang. Seperti halnya faktor yang bisa memengaruhi perlaku makan berdasarkan teori Lawrence Green adalah pengetahuan, sikap, pendapatan, ketahanan pangan, ketersediaan transportasi, peran teman dan peran keluarga.&nbsp; Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk menganalisa beberapa faktor yang memengaruhi perilaku makan sesuai pedoman gizi seimbang pada wanita usia subur premarital di Kota Semarang. Metode: Jenis penelitian ini yaitu dengan metode kuantitatif melalui pendekatan cross sectional, serta responden dalam penelitian ini sejumlah 160 wanita usia subur premarital dengan teknik pengambilan sampel&nbsp; proportionate non random sampling yang telah memenuhi kriteria inklusi penelitian. Alat dalam penelitian ini menggunakan kuesioner perilaku makan, pengetahuan, ketahan pangan, peran teman dan peran keluarga yang sebelumnya sudah dijalankan uji reliabilitas serta validitas. Analisis data mempergunakan uji Kruskal wallis dan Spearman rho. Hasil: Adanya hubungan dari ketahanan pangan kepada perilaku makan dengan p-value 0,019 serta ada pula hubungan ketersediaan transportasi kepada perilaku makan dengan p-value yaitu 0,000 pada wanita usia subur premarital di Kota Semarang. Rerata nilai perilaku makan didapatkan hasil sebesar 45,375±7,19 dengan nilai minimal 29,00 dan nilai maximal 64,00. Ketahanan pangan yang masuk kategori food secure sebanyak 94 responden dan hasil ketersediaan transportasi&nbsp; mayoritas responden sudah cukup sebanyak 153 responden. Namun, untuk pengetahuan, sikap, pendapatan, peran teman dan peran keluarga tidak terdapat hubungan dengan perilaku makan pada wanita usia subur premarital di Kota Semarang. Kesimpulan: Perilaku makan dipengaruhi oleh ketahanan pangan dan ketersediaan transportasi. Namun perilaku makan tidak dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, pendapatan, peran teman dan peran keluarga.</p> <p><em>Background: : Eating behavior according to balanced nutrition guidelines is the action of a person or group in choosing food to consume, which contains nutrients in types and amounts that are in accordance with the body's needs. Eating behavior can be influenced by several factors. Several factors that can influence eating behavior based on Lawrence Green's theory are knowledge, attitude, income, food security, availability of transportation, the role of friends and the role of family. This study aims to analyze the factors that influence eating behavior according to balanced nutrition guidelines in premarital women of childbearing age in Semarang City. Method: This type of research is a quantitative method through a cross-sectional approach, and the respondents in this study were 160 premarital women of childbearing age with a proportionate non-random sampling technique who had met the research inclusion criteria. The tools in this study used eating behavior questionnaires, knowledge questionnaires, attitude questionnaires, food security questionnaires, friend role questionnaires and family role questionnaires. The normality test of this study used Kolmogorov-Smirnov which was then carried out bivariate analysis using the Kruskal Wallis and Spearman rho tests. Result: There is a relationship between food security and eating behavior with a p-value of 0.019 and there is also a relationship between the availability of transportation and eating behavior with a p-value of 0.000 in premarital women of childbearing age in Semarang City. The average value of eating behavior obtained results of 45.375 ± 7.19 with a minimum value of 29.00 and a maximum value of 64.00. Food security that is categorized as food secure is 94 respondents and the results of the availability of transportation for the majority of respondents are sufficient as many as 153 respondents. However, for knowledge, attitudes, income, role of friends and role of family there is no relationship with eating behavior in premarital fertile women in Semarang City. Conclusion: Eating behavior is influenced by food security and transportation availability. However, eating behavior is not influenced by knowledge, attitude, income, role of friends and role of family. Eating behavior is influenced by food security and transportation availability. However, eating behavior is not influenced by knowledge, attitude, income, role of friends and role of family.</em></p> Zaidan Ariq Maulana Hema Dewi Anggraheny Aisyah Lahdji Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN PENUNJANG DAN SARANA PRASARANA RSUD DOLOKSANGGUL TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22004 <p>RSUD Doloksanggul sebagai satu-satunya rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki peran strategis sebagai fasilitas rujukan. Meskipun telah memenuhi standar sebagai rumah sakit tipe C, evaluasi menunjukkan bahwa mutu pelayanan penunjang dan sarana prasarana masih menghadapi kendala, seperti lamanya waktu tunggu dan keterbatasan fasilitas fisik, yang berdampak pada kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya peningkatan mutu pelayanan penunjang dan sarana prasarana di RSUD Doloksanggul pada tahun 2026 dengan menggunakan pendekatan kerangka mutu Donabedian yang mencakup dimensi struktur, proses, dan outcome. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan pada bulan Februari 2026 melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling yang melibatkan kepala bidang sarana prasarana, kepala instalasi penunjang, teknisi, staf administrasi, dan perwakilan tenaga kesehatan. Analisis data dilakukan dengan metode Analisis Tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi struktur, masih ditemukan keterbatasan fasilitas/alat kesehatan yang perlu diperbarui serta kurangnya kuantitas dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM). Pada dimensi proses, keterbatasan struktur tersebut berdampak pada kurang efisiennya waktu tunggu pelayanan pasien, meskipun secara prosedural sudah berjalan; hal ini juga diperparah oleh perlunya peningkatan komunikasi dan koordinasi antar unit. Pada dimensi outcome*, kualitas klinis layanan penunjang sudah cukup baik dan akurat dalam membantu diagnosis dokter, namun kepuasan pasien secara keseluruhan masih terpengaruh oleh lamanya waktu tunggu pelayanan. Terdapat hubungan sistemik yang kuat antara struktur, proses, dan outcome. Strategi peningkatan mutu yang direkomendasikan meliputi pengadaan dan pembaruan alat kesehatan (terutama di laboratorium dan radiologi), penambahan dan pelatihan SDM, optimalisasi manajemen waktu alur pelayanan, serta penguatan koordinasi antar unit pelayanan.</p> Arimbi Parlinggoman Siahaan Donal Nababan Jasmen Manurung Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 CIRI-CIRI AUTISM SPECTRUM DISORDER PADA ANAK DENGAN DUGAAN DOWN SYNDROME: https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21724 <p>Latar Belakang: Anak dengan Down Syndrome (DS) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD); namun, data dari lingkungan dengan sumber daya terbatas masih terbatas. Perangkat berbantuan kecerdasan buatan (AI), seperti platform analisis wajah Face2Gene, berpotensi mendukung identifikasi dini ciri-ciri fenotipik yang mengarah pada dugaan Down Syndrome. Tujuan: Untuk menilai ciri-ciri Autism Spectrum Disorder pada anak dengan dugaan Down Syndrome yang diidentifikasi melalui skrining berbantuan kecerdasan buatan dalam lingkungan pendidikan khusus di Cirebon, Indonesia. Metode: Penelitian cross-sectional percontohan ini melibatkan 70 anak dengan disabilitas intelektual dari 2 sekolah luar biasa di Cirebon, Indonesia. Analisis wajah menggunakan Face2Gene dilakukan untuk mengidentifikasi anak dengan fitur fenotipik yang mengarah pada dugaan Down syndrome. Ciri Autism Spectrum Disorder disaring menggunakan Autism Spectrum Screening Questionnaire (ASSQ). Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan 95% confidence interval (CI). Hasil: 14 anak (20,0%; 95% confidence interval [CI]: 11,1–31,8) teridentifikasi memiliki fitur fenotipik yang mengarah pada dugaan Down syndrome berdasarkan Face2Gene. Di antara mereka, 9 anak (64,3%; 95% CI: 38,8–83,7) terdeteksi positif memiliki ciri Autism Spectrum Disorder. Kesimpulan: Proporsi yang cukup besar dari anak dengan dugaan Down syndrome menunjukkan hasil skrining positif untuk ciri Autism Spectrum Disorder. Namun, temuan ini harus diinterpretasikan secara hati-hati mengingat penggunaan alat skrining dan keterbatasan ukuran sampel. Studi lebih lanjut yang mencakup konfirmasi klinis dan genetik diperlukan.</p> Diva Amalia Nugraha Tiar M. Pratamawati Ariestya Indah Permata Sari Donny Nauphar Vita Maulina Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM MENDUKUNG PELAYANAN PASIEN DI RSUD DOLOKSANGGUL, KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21661 <p>Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi di sektor kesehatan, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang berperan penting dalam mewujudkan tujuan utama dari sistem kesehatan yang efektif dan efisien yaitu pelayanan publik yang berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam mendukung pelayanan pasien di RSUD Doloksanggul. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian ini adalah Direktur RSUD Doloksanggul (1 orang), IT (2 orang), Dokter penanggung jawab (2 orang), petugas administrasi (2 orang) dan pasien (2 orang). Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Analisa data dengan cara melakukan reduksi data, display atau penyajian data dan penarikan serta pengujian kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek human, kesiapan SDM dalam penggunaan SIMRS sudah cukup baik, didukung dengan adanya pelatihan dan pendampingan dari tim IT. Dari aspek organization, Dukungan manajemen terhadap implementasi SIMRS sudah cukup optimal. Dari aspek technology, kualitas sistem, informasi, dan layanan SIMRS secara umum sudah baik dan mampu mendukung operasional rumah sakit. Dan dari aspek Net-Benefit, implementasi SIMRS memberikan manfaat yang signifikan, terutama dalam meningkatkan efisiensi waktu kerja, kemudahan akses data, koordinasi antar unit, serta produktivitas rumah sakit. Secara keseluruhan, implementasi SIMRS di rumah sakit ini telah berjalan dengan cukup baik dan menunjukkan adanya kesesuaian antara aspek manusia, organisasi, dan teknologi, sehingga menghasilkan manfaat bagi rumah sakit. Untuk itu diharapkan kepada rumah sakit perlu dilakukan pelatihan secara berkala kepada seluruh pengguna SIMRS untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman dalam penggunaan sistem. Diharpakan juga untuk meningkatkan kualitas infrastruktur teknologi, seperti jaringan dan perangkat keras, agar kinerja sistem lebih optimal. Melakukan pengawasan dan evaluasi rutin terhadap penggunaan SIMRS untuk memastikan seluruh unit memanfaatkan sistem secara maksimal.</p> <p><em>Along with the advancement of information technology in the healthcare sector, the Hospital Management Information System (SIMRS) plays a crucial role in achieving the primary objective of an effective and efficient health system, namely the delivery of high-quality public services. This study aims to analyze the implementation of the Hospital Management Information System in supporting patient services at RSUD Doloksanggul. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach. The research informants consisted of the Director of RSUD Doloksanggul (1 person), IT staff (2 persons), responsible physicians (2 persons), administrative staff (2 persons), and patients (2 persons). Data were collected through in-depth interviews. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The results indicate that from the human aspect, human resource readiness in using SIMRS is relatively good, supported by training and assistance from the IT team. From the organizational aspect, management support for SIMRS implementation is considered quite optimal. From the technological aspect, the quality of the system, information, and services provided by SIMRS is generally good and capable of supporting hospital operations. From the net-benefit aspect, the implementation of SIMRS provides significant benefits, particularly in improving time efficiency, ease of data access, inter-unit coordination, and overall hospital productivity. Overall, the implementation of SIMRS in this hospital has been running fairly well and demonstrates alignment among human, organizational, and technological aspects, resulting in tangible benefits for the hospital. Therefore, it is recommended that the hospital conduct regular training for all SIMRS users to enhance their competence and understanding of the system. Additionally, improvements in technological infrastructure, such as network and hardware, are necessary to optimize system performance. Regular monitoring and evaluation of SIMRS usage are also essential to ensure that all units utilize the system effectively.</em></p> Seriana Sianturi Tony Wandra Rahmat.A. Dakhi Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA LANSIA HIPERTENSI DI PUSKESMAS LIMBOTO https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22262 <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia maupun di Indonesia. Data World Health Organization tahun 2023 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia mengalami hipertensi. Di Indonesia, prevalensi hipertensi berdasarkan SKI tahun 2023 mencapai 34,1%. Rendahnya kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi dapat meningkatkan risiko komplikasi sehingga diperlukan dukungan keluarga dalam proses pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi di Puskesmas Limboto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional melalui pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 163 responden dengan sampel 116 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan MMAS-8. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi dengan p-value = 0,000 (&lt;0,05). Semakin baik dukungan keluarga maka semakin tinggi kepatuhan lansia dalam minum obat. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada lansia hipertensi di Puskesmas Limboto.</p> Nur Lisa Walahe Nurdiana Djamaluddin Dewi Suryaningsi Hiola Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN LAMA MENDEITA DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN PASCA STROKE ISKEMIK (Studi Kasus Di RSUD Dr. Adhyatma, MPH, Semarang, Provinsi Jawa Tengah) https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21650 <p>Latar Belakang: Stroke adalah kondisi sirkulasi otak yang menyebabkan gangguan neurologis fokal dan global yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, berpotensi menyebabkan kematian. Pasien stroke pasca-iskemik menghadapi penurunan kualitas hidup karena perubahan kesehatan dan harus menyesuaikan diri dengan kondisi stroke pasca-iskemik. Dukungan keluarga dan durasi stroke adalah dua elemen yang berperan terhadap kualitas hidup pasien setelah stroke iskemik. Metode: Metode penelitian ini kuantitatif observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien pasca stroke iskemik di RSUD dr. Adhyatma, MPH, Semarang, Provinsi Jawa Tengah pada bulan November 2024 dengan responden sebanyak 34 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioneer PSS-Fa dan kuesioner SS-QOL dengan cara wawancara. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji spearman rank. Hasil: Hasil uji didapatkan hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke iskemik di RSUD dr. Adhyatma, MPH, Semarang, Provinsi Jawa Tengah yang dibuktikan dengan nilai ρ-value didapatkan hasil 0.001 dan koefisien korelasi +0,879. Tidak terdapat hubungan antara lama menderita dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke iskemik di RSUD dr. Adhyatma, MPH, Semarang, Provinsi Jawa Tengah yang dibuktikan dengan nilai ρ-value 0.638. Kesimpulan: Semakin baik dukungan keluarga maka akan semakin baik kualitas hidup pada pasien pasca stroke iskemik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara lama menderita dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke iskemik.</p> <p><em>Background: A stroke is a circulating condition of the brain that causes focal and global neurological disorders that last for 24 hours or more, potentially leading to death. Post-ischemic stroke patients face a decline in quality of life due to health changes and have to adjust to post-ischemic stroke conditions. Family support and stroke duration are two elements that play a role in the quality of life of patients after ischemic stroke. Methods: This research method is quantitative observational analysis with a cross sectional design. The subject of the study was a post-ischemic stroke patient at dr. Adhyatma Hospital, MPH, Semarang, Central Java Province in November 2024 with 34 respondents who have met the inclusion criteria. The research instruments used were in the form of a PSS-Fa questionnaire and an SS-QOL questionnaire by way of interviews. The sampling technique used is total sampling. The statistical test used is the spearman rank test. Results:&nbsp; The results of the test found a relationship between family support and quality of life in post-ischemic stroke patients at dr. Adhyatma Hospital, MPH, Semarang, Central Java Province as evidenced by the ρ value obtained a result of 0.001 and a correlation coefficient of +0.879. There was no relationship between the length of suffering and the quality of life in post-ischemic stroke patients at dr. Adhyatma Hospital, MPH, Semarang, Central Java Province as evidenced by a ρ value of 0.638. Conclusion: The better the family support, the better the quality of life for patients after ischemic stroke. There was no significant association between the length of suffering and quality of life in post-ischemic stroke patients.</em></p> Melinda Intan Sophia Noorjanah Pujiastuti Gharini Sumbaga Narhadina Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOLOKSANGGUL TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22109 <p>Keberhasilan sebuah rumah sakit dalam menjalankan fungsinya ditandai dengan adanya hasil dari mutu pelayanan yang berkualitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pada pasien adalah kualitas pelayanan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Doloksanggul. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dalam bentuk survei analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian diambil menggunakan Teknik random sampling dengan rumus slovin dimana dari 500 orang populasi, maka sampel penelitian sebanyak 83 orang. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder, dengan instrumen berupa lembar kuesioner. Analisa data secara univariat, bivariat dengan chi-square test dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian diperoleh bahwa nilai P untuk variabel <em>tangible</em> (bukti fisik) = 0,004, <em>reliability</em> (kehandalan) = 0,000, <em>responsiveness</em> (ketanggapan) = 0,000, <em>assurance</em> (jaminan) = 0,013, <em>emphaty</em> (empati) = 0,046, efektivitas = 0,000, efisiensi = 0,001, aksesibilitas = 0,727 dan keamanan = 0,000. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepuasan pasien adalah keamanan dengan <em>p-value</em> = 0,001 dan nilai <em>Exp (B)</em> 37,217. Kesimpulannya ada hubungan <em>tangible</em> (bukti fisik), <em>reliability</em> (kehandalan), <em>responsiveness</em> (ketanggapan), <em>assurance</em> (jaminan), <em>emphaty</em> (empati), efektivitas, efisiensi dan keamanan dengan kepuasan pasien. Namun tidak ada hubungan aksesibilitas dengan kepuasan pasien. Diharapkan peningkatan kualitas mutu pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan pelatihan komunikasi terapeutik. Lakukan pelatihan rutin bagi perawat dan dokter mengenai&nbsp;<em>active listening</em>&nbsp;(mendengarkan aktif) dan komunikasi efektif agar pasien merasa didengar dan dipahami. Diharapkan pula rumah sakit dapatt memastikan setiap keluhan yang masuk didokumentasikan dan ada bukti tindak lanjut (PDSA - <em>Plan, Do, Study, Act</em>) untuk perbaikan mutu pelayanan menjadi lebih baik lagi.</p> <p><em>The success of a hospital in performing its functions is reflected in the quality of its healthcare services. One of the key factors influencing patient satisfaction is the quality of service provided. This study aims to analyze the relationship between healthcare service quality and inpatient satisfaction at the Regional General Hospital (RSUD) Doloksanggul. This research employs a quantitative method in the form of an analytical survey with a cross-sectional approach. The sample was determined using random sampling with the Slovin formula, resulting in 83 respondents from a population of 500 patients. Data were collected through primary and secondary sources using structured questionnaires. Data analysis was conducted through twuvariate, bivariate (Chi-square test), and multivariate (logistic regression) analyses. The results indicate that the p-values for the variables are as follows: tangibles (0.004), reliability (0.000), responsiveness (0.000), assurance (0.013), empathy (0.046). effectiveness (0.000), efficiency (0.001), accessibility (0.727), and safety (0.000). The most dominant factor associated with patient satisfaction is safety, with a p-value of 0.001 and an Exp(B) value of 37.217. The findings conclude that tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy, effectiveness, efficiency, and safety are significantly associated with patient satisfaction, whereas accessibility shows no significant relationship. It is recommended that improvements in healthcare service quality be carried out through therapeutic communication training. Regular training for nurses and doctors on active listening and effective communication is essential to ensure that patients feel heard and understood. Additionally, hospitals are encouraged to ensure that every complaint is properly documented and followed up with clear evidence using the PDSA (Plan. Do. Study. Act) cycle to continuously improve service quality.</em></p> Tiar Lusiana Sihombing Kintoko Rochadi Frida Lina Tarigan Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS KESIAPAN SARANA, PRASARANA DAN SDM RUMAH SAKIT DALAM MEWUJUDKAN RUMAH SAKIT AMAN BENCANA DI RSUD DOLOKSANGGUL TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21944 <p>Indonesia memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman bencana multi-dimensi. Sebagai fasilitas kritis, rumah sakit dituntut memiliki resiliensi dan kapabilitas keberlangsungan operasional dalam situasi krisis tanpa mengalami disfungsi. RSUD Doloksanggul, yang berada di topografi perbukitan rawan longsor dan gempa, memiliki kewajiban untuk mempertahankan otonomi fungsionalnya saat jalur transportasi dan logistik terputus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan sarana, prasarana, dan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mewujudkan Rumah Sakit Aman Bencana di RSUD Doloksanggul Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian di RSUD Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan dari bulan Januari 2026 sampai dengan selesai. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan 5 orang kunci yang terdiri dari Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Penunjang, Kepala IGD, Perawat IGD, Kepala Farmasi, dan Teknisi RS. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), observasi lapangan, dan telaah dokumen. Keabsahan data dipastikan melalui triangulasi metode dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan meskipun sarana prasarana dan SDM telah tersedia, terdapat gap antara kondisi ideal RSAB dan kondisi nyata dilapangan. Beberapa fasilitas pendukung seperti rambu evakuasi, sistem komunikasi darurat, instalasi alat deteksi dini seperti heat detector dan smoke detector, system pemadam kebakaran (hydrant dan system sprinkler), sarana evakuasi, emergensi kit, dan bed pasien untuk korban massal masih perlu ditingkatkan, gedung lama juga memerlukan asesmen struktural tahan gempa, penambahan ruang IGD dan penambahan ruang logistik. Pada aspek SDM, staf memahami prosedur dasar penanggulangan bencana, tetapi pemahaman ini cenderung bersifat teoritis akibat kurangnya pelatihan HDP, kegawatdaruratan (BTCLS/ATLS/ACLS) dan simulasi riil (terakhir dilakukan 3 tahun lalu). Faktor utama penyebab ketidaksiapan adalah keterbatasan sarana prasarana, kesiapan SDM yang belum merata, dan implementasi Hospital Disaster Plan (HDP) yang belum sepenuhnya konsisten. Selain itu, alokasi anggaran khusus bencana masih bergantung pada birokrasi pemerintah daerah. Secara umum, RSUD Doloksanggul telah memiliki sistem dasar penanganan kedaruratan, namun belum optimal dalam memenuhi kriteria komprehensif Rumah Sakit Aman Bencana. Penelitian ini merekomendasikanadanya master plan mitigasi bencana, menyediakan anggaran khusus bencana, Pelatihan dan simulasi bencana rutin, dan mplementasi HDP rutin.</p> <p><em>Indonesia has a high vulnerability to multidimensional disaster threats. As a critical facility, hospitals are required to demonstrate resilience and maintain operational continuity during crisis situations without experiencing dysfunction RSUD Doloksanggul, located in a hilly area prone to landslides and earthquakes, has the obligation to sustain its functional autonomy when transportation and logistics routes are disrupted. This study aims to analyze the readiness of infrastructure, facilities, and human resources in realizing a Disaster Resilient Hospital at RSUD Doloksanggul in 2026. This study employed a qualitative method with a phenomenological approach. The research was conducted at RSUD Doloksanggul, Humbang Hasundutan Regency, from January 2026 onward. Informants were selected using purposive sampling, involving five key participants: the Head of Infrastructure and Supporting Services, the Head of Emergency Department, an Emergency Department nurse, the Head of Pharmacy, and a hospital technician. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document review. Data validity was ensured through method and source triangulation. The results indicate that although infrastructure and human resources are available, there is a gap between the ideal standards of a Disaster-Resilient Hospital and actual conditions in the field. Several supporting facilities, such as evacuation signage, emergency communication systems, early detection systems (heat and smoke detectors), fire protection systems (hydrants and sprinklers), evacuation facilities, emergency kits, and patient beds for mass casualties, still require improvement. Older buildings also need structural assessments for earthquake resistance, as well as expansion of the emergency department and logistics space. In terms of human resources, staff generally understand basic disaster management procedures; however, this knowledge tends to remain theoretical due to the lack of Hospital Disaster Plan (HDP) training, emergency training (BTCLS/ATLS/ACLS), and real simulations, which were last conducted three years ago. The main factors contributing to unpreparedness include limited infrastructure, uneven human resource readiness, and inconsistent implementation of the Hospital Disaster Plan. Additionally, disaster-specific budget allocation still depends on local government bureaucracy. In general, RSUD Doloksanggul has established a basic emergency response system; however, it has not yet fully met the comprehensive criteria of a Disaster-Resilient Hospital. This study recommends the development of a disaster mitigation master plan, the provision of dedicated disaster budgets, regular disaster training and simulations, and consistent implementation of the Hospital Disaster Plan.</em></p> Ellys J. Lumbantobing S. Otniel Ketaren Frida Lina Tarigan Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT (SIMRS) TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN RAWAT JALAN DI RSUD DOLOK SANGGUL https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21671 <p>Kualitas pelayanan rawat jalan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pelayanan rumah sakit karena berkaitan langsung dengan kepuasan dan persepsi pasien terhadap layanan yang diterima. Untuk menunjang efektifitas dan efesiensi pelayanan rumah sakit tersebut dibutuhkan sistem informasi manajemen rumah sakit (SMIRS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan kualitas pelayanan rawat jalan berdasarkan persepsi pasien di RSUD Doloksanggul. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan deskriptif korelasi melalui pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2025 sampai Februari 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan sebanyak 262 orang, dengan jumlah sampel 158 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi pasien terhadap penerapan SIMRS dan kualitas pelayanan rawat jalan. Penerapan SIMRS dinilai melalui indikator kemudahan pendaftaran, kecepatan pelayanan administrasi, kejelasan informasi, kelancaran alur pelayanan, dan waktu tunggu pelayanan. Sementara itu, kualitas pelayanan rawat jalan diukur berdasarkan dimensi reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangibles. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) menilai penerapan SIMRS di RSUD Doloksanggul berada dalam kategori baik. Selanjutnya, sebagian besar responden, yaitu 152 orang (96,2%), menilai kualitas pelayanan rawat jalan dalam kategori baik, sedangkan 6 orang (3,8%) menilai kurang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,002 (&lt; 0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,549, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan, positif, dan cukup kuat antara penerapan SIMRS dengan kualitas pelayanan rawat jalan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa semakin baik penerapan SIMRS, maka semakin baik pula kualitas pelayanan rawat jalan yang dirasakan pasien di RSUD Doloksanggul. Oleh karena itu perlunya rumah sakit melakukan optimalisasi SIMRS secara berkelanjutan agar kualitas pelayanan rawat jalan dapat semakin meningkat.</p> <p><em>The quality of outpatient services is an important indicator in assessing the success of hospital services, as it is directly related to patient satisfaction and perceptions of the services received. To support the effectiveness and efficiency of hospital services, a Hospital Management Information System (HMIS) is required. This study aims to determine the relationship between the implementation of the Hospital Management Information System (HMIS) and the quality of outpatient services based on patient perceptions at RSUD Doloksanggul. This research employed a quantitative design with a descriptive correlational approach using a cross-sectional method conducted from August 2025 to February 2026. The population consisted of 262 outpatients, with a sample of 158 respondents selected using an accidental sampling technique. Data were collected using structured questionnaires measuring patient perceptions of HMIS implementation and the quality of outpatient services. HMIS implementation was assessed through indicators including ease of registration, speed of administrative services, clarity of information, smooth service flow, and waiting time. Meanwhile, outpatient service quality was measured based on the dimensions of reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangibles. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the Spearman rho correlation test. The results showed that all respondents (100%) assessed the implementation of HMIS at RSUD Doloksanggul as being in the good category. Furthermore, the majority of respondents, 152 individuals (96.2%), rated the quality of outpatient services as good, while 6 respondents (3.8%) rated it as less satisfactory. The bivariate analysis revealed a p-value of 0.002 (&lt; 0.05) with a correlation coefficient of r = 0.549, indicating a significant, positive, and moderately strong relationship between HMIS implementation and the quality of outpatient services. The conclusion of this study is that the better the implementation of HMIS, the better the quality of outpatient services perceived by patients at RSUD Doloksanggul. Therefore, it is necessary for hospitals to continuously optimize the implementation of HMIS to further improve the quality of outpatient services.</em></p> Nourma Vivi Septiany Simanullang Agnes Purba Rahmat A.Dakhi Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5 ANALISIS GEJALA ANEMIA PADA REMAJA PUTRI MAHASISWI UIN SUSKA RIAU JURUSAN PGMI ANGKATAN 22 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22379 <p>Anemia adalah kondisi dimana kurangnya pengiriman oksigen ke jaringan tubuh atau biasa disebut dengan kekurangan sel darah merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui presentase jumlah remaja putri yang mengetahui tentang anemia, peluang terkena anemia, mengalami gejala anemia dan pencegahan anemia yang dilakukan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data angket tertutup. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim Riau jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah angkatan 22. Sampel yang diambil berdasarkan teknik&nbsp; Probability Sampling&nbsp; pendekatan simple random sampling. Responden penelitian mengisi angket yang telah diberikan. Angket berisi dua puluh satu pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala anemia ringan dialami oleh sebagian besar mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah angkatan 22.</p> <p><em>Anemia is a condition characterized by a decreased delivery of oxygen to the body's tissues, commonly known as a deficiency in red blood cells. The purpose of this research is to determine the percentage of adolescent girls who are aware of anemia, the likelihood of being affected by anemia, experiencing anemia symptoms, and the anemia prevention measures taken. This research employed a descrptive statistics approach with a closed-ended questionnaire as the data collection technique. The population of this study comprised female students enrolled in the Education of Primary School Teachers program, class of 2022, at UIN Sultan Syarif Kasim Riau. The sample was selected using probability sampling with a simple random sampling approach. Research respondents completed the provided questionnaire, which consisted of twenty-one questions. Data analysis was conducted using descriptive statistics. The research findings revealed that a significant portion of female students at UIN Sultan Syarif Kasim Riau, majoring in Education of Primary School Teachers, class of 2022, exhibited symptoms of mild anemia.</em></p> Alya Zulaykha Tiara Sahra Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-31 2026-05-31 8 5 IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK DI RSUD DOLOKSANGGUL TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/21652 <p>Secara global, rekam medis elektronik memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas sistem kesehatan di seluruh dunia. Implementasi rekam medis elektronik sendiri dapat meningkatkan efisiensi layanan kesehatan dengan memberikan akses yang cepat dan mudah terhadap informasi medis pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi RME di RSUD Doloksanggul. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian ini sebanyak 11 orang yaitu direktur Rumah Sakit, Kasubbag Umum dan Kepegawaian, Kasubbag Keuangan, Kepala RME, IT, petugas rekam medis (2 orang), dokter poliklinik 2 orang, perawat poliklinik 2 orang. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Teknik analisa data melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses reduksi data menggunakan analisis tematik (thematic analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek Man, tenaga kesehatan pada umumnya telah mampu menggunakan sistem RME. Pada aspek Money, pendanaan untuk implementasi RME telah tersedia. Pada aspek Material, ketersediaan sarana dan prasarana sudah cukup mendukung. Pada aspek Machine, sistem RME telah mampu mendukung pelayanan secara elektronik dan terintegrasi, namun khusus integrase pelayanan dengan BPJS masih manual karena belum tersedianya fitur tanda tangan elektronik. Pada aspek Method, rumah sakit telah memiliki SOP dalam penggunaan RME. Penerapan RME telah berjalan cukup baik dan terpenuhinya tahapan proses RME yang meliputi registrasi pasien secara elektronik, pengisian informasi klinis, distribusi dan transfer data antar unit, pengolahan informasi, hingga penyimpanan dan penjaminan keamanan data secara terintegrasi. Kesimpulannya adalah implementasi RME sudah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022. Namun rumah sakit diharapkan dapat terus mengoptimalkan implementasi RME dengan melakukan peningkatan pada berbagai aspek, antara lain menyediakan 2 jalur internet (provider utama + cadangan) untuk menghindari gangguan saat jaringan utama bermasalah. Menentukan jam maintenance sistem (misalnya malam hari) agar tidak mengganggu pelayanan. Dan mengimplementasikan tanda tangan elektronik tersertifikasi yang terintegrasi dengan sistem RME melalui kerja sama dengan Balai Sertifikasi Elektronik, guna meningkatkan keabsahan hukum, efisiensi, dan integrasi pelayanan dengan BPJS Kesehatan.</p> <p><em>Globally, electronic medical records play a crucial role in improving the quality of healthcare systems worldwide. Implementation of electronic medical records can improve the efficiency of healthcare services by providing quick and easy access to patient medical information. The purpose of this study was to analyze the implementation of EMR at Doloksanggul Regional General Hospital. This study was a qualitative study with a phenomenological approach. The informants for this study were 11 people: the Hospital Director, Head of General Affairs and Personnel, Head of Finance, Head of EMR, IT, medical records officers (2 people), 2 polyclinic doctors, and 2 polyclinic nurses. Data collection used in-depth interviews. Data analysis techniques involved three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The data reduction process used thematic analysis. The results showed that in the Man aspect, healthcare workers were generally able to use the EMR system. In the Money aspect, funding for EMR implementation was available. In the Material aspect, the availability of facilities and infrastructure was sufficient. In terms of Machine, the EMR system is capable of supporting electronic and integrated services. However, integration with BPJS Kesehatan (Social Security Agency) remains manual due to the lack of an electronic signature feature. In terms of Method, the hospital has established SOPs for the use of EMR. The implementation of EMR has been quite successful, with all stages of the EMR process being met, including electronic patient registration, clinical information entry, data distribution and transfer between units, information processing, and integrated data storage and security assurance. The conclusion is that the EMR implementation complies with the provisions of Minister of Health Regulation Number 24 of 2022. However, the hospital is expected to continue optimizing its EMR implementation by making improvements in various aspects, including providing two internet lines (primary provider + backup) to avoid disruptions during primary network issues. Determining system maintenance hours (e.g., nighttime) to avoid service disruptions. Furthermore, the hospital is implementing certified electronic signatures integrated with the EMR system through collaboration with the Electronic Certification Center to improve legal validity, efficiency, and service integration with BPJS Kesehatan.</em></p> Yuris R.A. Marbun Tony Wandra Henny Syapit Erwin Silitonga Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-05-30 2026-05-30 8 5