Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Jurnal Kesehatan Afinitas PENGARUH EDUKASI GIZI MELALUI MEDIA POSTER DENGAN PERILAKU PICKY EATER PADA ANAK USIA DINI DI TK AL-IZZAH 01 BATU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24446 <p>Latar Belakang : Perilaku picky eater merupakan masalah makan yang sering terjadi pada anak usia dini dan dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi melalui media poster terhadap perilaku picky eater pada anak usia dini di TK Al-Izzah 01 Kota Batu. Penelitian kuantitatif ini telah menggunakan desain quasi experimental pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 74 responden, yang terbagi atas 37 kelompok eksperimen dan 37 kelompok kontrol, yang dipilih dengan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku picky eater pada kelompok eksperimen menurun dari 100% menjadi 8,1%, sedangkan kategori tidak picky eater meningkat menjadi 91,9%. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank dan Mann Whitney U menghasilkan nilai p=0,000 (p kurang dari 0,05) =, hasil penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan dari edukasi gizi melalui media poster terhadap perilaku picky eater anak.</p> <p><em>Background: Picky eating behavior is a common eating problem in early childhood that affects nutritional fulfillment. This study aims to determine the effect of nutrition education through posters on picky eating behavior in early childhood at TK Al-Izzah 01 Batu City. This quantitative study used a quasi-experimental pretest-posttest design. The sample consisted of 74 respondents, divided into 37 experimental and 37 control group members, selected using a total sampling technique. The results showed that picky eating behavior in the experimental group decreased from 100% to 8.1%, while the non-picky eater category increased to 91.9%. Statistical analysis using Wilcoxon Signed Rank and Mann Whitney U tests yielded a p-value of 0.000 (p less than 0.05). In conclusion, nutrition education using posters significantly influences picky eating behavior in early childhood at TK Al-Izzah 01 Batu City. </em></p> Salsabilla Revina Eka Putri Efendi Whaisna Switaningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN PERAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK DHARMA WANITA PERSATUAN TUNGGULWULUNG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23804 <p>Perkembangan kognitif merupakan tahapan-tahapan perubahan yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia untuk memahami, mengelola informasi, memecahkan masalah serta mengetahui sesuatu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran Ibu dengan perkembangan kognitif pada anak prasekolah di TK Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung. Penelitian ini menggunakan desain desain korelasi. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu dan siswa di TK Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung, dengan jumlah populasi sebanyak 35 siswa, sampel terdiri dari 35 yang dipilih menggunakan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah anak usia 3-6 tahun dan ibu yang bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria pengecualian adalah ibu yang tidak bersedia menjadi responden dan siswa yang tidak punya ibu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah peran ibu, sedangkan variabel dependent dalam penelitian ini adalah perkembangan kognitif anak. Pengukuran Peran ibu dan perkembangan kognitif anak usia pra sekolah menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan rank spearmen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran ibu dengan perkembangan kognitif anak usia pra sekolah signifikansi 0,101 (p &gt; 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara peran ibu dengan perkembangan kognitif pada anak usia pra sekolah di TK Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung.</p> <p><em>Cognitive development is the stages of change that occur in the human life span to understand, manage information, solve problems and know something. This research aims to find out the relationship between the role of mothers and cognitive development in preschool children at Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung Kindergarten. This research uses a design correlation design. The population in this study is all mothers and students at Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung Kindergarten, with a population of 35 students, the sample consists of 35 who were selected using inclusion criteria and exclusion criteria. The inclusion criteria in this study were children aged 3-6 years and mothers who were willing to be respondents, while the exclusion criteria were mothers who were not willing to be respondents and students who did not have mothers. The independent variable in this study is the role of the mother, while the dependent variable in this study is the child's cognitive development. Measurement of the role of mothers and cognitive development of preschool-age children using questionnaires and observation sheets. Data analysis was carried out univariate and bivariate using rank spearmen. The results of this study showed that there was a significant relationship between the role of mothers and the cognitive development of preschool-age children with a significance of 0.101 (p &gt; 0.05). The conclusion of this study is that there is a significant relationship between the role of mothers and cognitive development in pre-school children at Dharma Wanita Persatuan Tunggulwulung Kindergarten.</em></p> Dona Fila Boritnaban Ratna wulandari Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN PENERAPAN STANDAR DIET DIABETES MELITUS DENGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PASIEN DM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEBOL MAYONG KABUPATEN JEPARA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24760 <p>Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerapan standar diet Diabetes Melitus dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Jebol, Mayong, Kabupaten Jepara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Jebol. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner penerapan diet DM dan pengukuran kadar gula darah sewaktu menggunakan glukometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang menerapkan standar diet DM dengan baik cenderung memiliki kadar gula darah sewaktu dalam kategori terkontrol. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value &lt; 0,05, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penerapan standar diet DM dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan standar diet Diabetes Melitus dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Jebol, Mayong, Kabupaten Jepara. Pasien disarankan untuk konsisten mematuhi standar diet DM untuk mencegah komplikasi lebih lanjut</p> Wahid Rahman Santosa Heny Siswanti Sri Siska Mardiana Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK DENGAN PERILAKU MEROKOK SISWA SMK NATIONAL MEDIA CENTER MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24019 <p>Perilaku merokok pada remaja masih ditemukan meskipun tingkat pengetahuan tentang bahaya merokok sudah tergolong cukup hingga baik, sehingga menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku kesehatan. Merokok merupakan perilaku berisiko yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang, dan remaja merupakan kelompok yang rentan mengadopsi kebiasaan tersebut selama masa sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang bahaya merokok dengan perilaku merokok pada siswa SMK National Media Center Kota Malang. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 66 siswa laki-laki kelas XI dan XII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan bahaya merokok (15 item) dan kuesioner perilaku merokok (10 item), kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rho dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan sedang (56,1%) dan baik (43,9%), sedangkan perilaku merokok didominasi kategori ringan (54,5%), diikuti tidak pernah merokok (43,9%) dan kategori sedang (1,5%). Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai p = 0,746 (p &gt; 0,05) dan r = 0,041, yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan tentang bahaya merokok dengan perilaku merokok siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja belum cukup memengaruhi perilaku merokok remaja, sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan faktor lingkungan, pengaruh teman sebaya, dan kemudahan akses terhadap rokok.</p> <p><em>Smoking behavior among adolescents is still found despite the level of knowledge about the dangers of smoking being fairly good to good, indicating a gap between knowledge and health behavior. Smoking is a risky behavior that can cause various short-term and long-term health problems, and adolescents are a group vulnerable to adopting this habit during school age. This study aims to determine the relationship between knowledge about the dangers of smoking and smoking behavior in students at SMK National Media Center in Malang City. This quantitative study uses a cross-sectional design with a sample of 66 male students in grades XI and XII, selected using purposive sampling technique. Data were collected using a smoking hazard knowledge questionnaire (15 items) and a smoking behavior questionnaire (10 items), then analyzed univariately and bivariately using the Spearman Rho correlation test with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had moderate knowledge levels (56.1%) and good knowledge (43.9%), while smoking behavior was dominated by the light category (54.5%), followed by never smoking (43.9%) and the moderate category (1.5%). The Spearman Rho test results showed a p-value of 0.746 (p &gt; 0.05) and r = 0.041, indicating that there is no significant relationship between knowledge about the dangers of smoking and students' smoking behavior. These findings indicate that knowledge alone is not enough to influence adolescent smoking behavior, so prevention efforts need to be carried out comprehensively by considering environmental factors, peer influence, and ease of access to cigarettes.</em></p> Nirnawati Umacina Puguh Raharjo Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DALAM PELAKSANAAN DISCHARGE PLANNING DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24596 <p>Komunikasi efektif merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien, terutama pada pelaksanaan discharge planning. Pelaksanaan discharge planning yang disertai komunikasi efektif dapat membantu pasien dan keluarga memahami kondisi kesehatan, pengobatan, perawatan lanjutan, serta upaya pencegahan komplikasi setelah pulang dari rumah sakit. Kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi efektif perawat dalam pelaksanaan discharge planning dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner komunikasi efektif perawat dan kuesioner kepuasan pasien yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi efektif perawat dalam pelaksanaan discharge planning dengan tingkat kepuasan pasien. Semakin baik komunikasi yang dilakukan perawat selama proses discharge planning, semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan melalui penguatan komunikasi efektif pada pelaksanaan discharge planning.</p> Fenus Febrianti Muhammad Purnomo Anny Rosiana Mashitoh Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN PERSEPSI SISWI DENGAN KEPATUHAN MINUM TABLET FE UNTUK MENCEGAH TERJADINYA ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMPN 1 PAKISAJI KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23970 <p>Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang mempengaruhi pertumbuhan dan dapat dicegah melalui kepatuhan minum tablet Fe yang dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan persepsi siswi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan persepsi siswi dengan kepatuhan minum tablet Fe pada remaja putri di SMPN 1 Pakisaji Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan desain korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 87 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dukungan keluarga, kuesioner persepsi, dan kuesioner kepatuhan minum tablet Fe. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan α= 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga kategori kurang (71,3%). Pada subvariabel persepsi siswi, sebagian besar responden memiliki kategori negatif meliputi persepsi kerentanan 66 siswi (75,9%), persepsi keparahan 44 siswi (50,6%), persepsi manfaat 56 siswi (64,4%), dan persepsi hambatan 45 siswi (51,7%). Kepatuhan minum tablet Fe sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 74 siswi (85,1%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum tablet Fe (p = 0,000 dan r = 0,631) dengan kekuatan hubungan kuat dan arah positif. Pada variabel persepsi siswi, hanya subvariabel persepsi manfaat yang menunjukkan hubungan dengan kepatuhan minum tablet Fe (p = 0,026 dan r = 0,238), sedangkan subvariabel persepsi kerentanan, persepsi keparahan, dan persepsi hambatan tidak menunjukkan hubungan (p&gt; 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan persepsi manfaat tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri.&nbsp;</p> <p><em>Anemia among adolescent girls remains a health problem that affects growth and can be prevented through compliance with taking Fe tablets, which is influenced by family support and students’ perceptions. This study aimed to analyze the relationship between family support and students’ perceptions with compliance in taking Fe tablets among adolescent girls at SMPN 1 Pakisaji, Malang Regency. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 87 respondents selected using purposive sampling technique. Data were collected using family support questionnaires, perception questionnaires, and Fe tablet compliance questionnaires. Data analysis was performed using the Spearman Rank test with α = 0.05. The results showed that most respondents had a low category of family support (71.3%). In the perception subvariables, most respondents had negative categories, including perceived susceptibility among 66 students (75.9%), perceived severity among 44 students (50.6%), perceived benefits among 56 students (64.4%), and perceived barriers among 45 students (51.7%). Compliance with taking Fe tablets was mostly in the low category, with 74 students (85.1%). The Spearman Rank test results showed a significant relationship between family support and compliance with taking Fe tablets (p = 0.000 and r = 0.631) with a strong relationship and positive direction. In the students’ perception variable, only the perceived benefits subvariable showed a relationship with compliance in taking Fe tablets (p = 0.026 and r = 0.238), while perceived susceptibility, perceived severity, and perceived barriers did not show a relationship (p &gt; 0.05). The results of this study indicate that family support and perceived benefits of Fe tablets play a role in preventing anemia among adolescent girls.</em></p> Sarokha khusniawati Whaisna Switaningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN GAJI, LINGKUNGAN KERJA, DAN PELUANG PENGEMBANGAN KARIR PERAWAT DENGAN MOTIVASI KERJA DI RSUD R.A. KARTINI JEPARA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24522 <p>Motivasi kerja perawat merupakan faktor penting yang memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Berbagai faktor, seperti gaji, lingkungan kerja, dan peluang pengembangan karir, diduga berperan dalam meningkatkan motivasi kerja perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaji, lingkungan kerja, dan peluang pengembangan karir dengan motivasi kerja perawat di RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bekerja di RSUD R.A. Kartini Jepara, dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square atau korelasi sesuai jenis data, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gaji, lingkungan kerja, dan peluang pengembangan karir dengan motivasi kerja perawat (p &lt; 0,05). Lingkungan kerja yang kondusif dan peluang pengembangan karir yang baik memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan faktor gaji dalam meningkatkan motivasi kerja. Semakin baik persepsi perawat terhadap ketiga faktor tersebut, semakin tinggi pula motivasi kerja yang dimiliki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kesejahteraan melalui pemberian gaji yang layak, penciptaan lingkungan kerja yang nyaman, serta penyediaan kesempatan pengembangan karir secara berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi kerja perawat. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit diharapkan dapat mengembangkan kebijakan yang mendukung ketiga aspek tersebut guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.</p> <p><em>Work motivation among nurses is a crucial factor influencing the quality of healthcare services in hospitals. Several factors, including salary, work environment, and career development opportunities, are considered to contribute to improving nurses' work motivation. This study aimed to analyze the relationship between salary, work environment, and career development opportunities and the work motivation of nurses at R.A. Kartini Regional General Hospital, Jepara. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population consisted of all nurses working at R.A. Kartini Regional General Hospital, Jepara, while the sample was selected using a proportional random sampling technique. Data were collected using a validated and reliable questionnaire. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-Square test or correlation analysis according to the data type, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The findings indicated that salary, work environment, and career development opportunities were significantly associated with nurses' work motivation (p &lt; 0.05). A supportive work environment and adequate career development opportunities demonstrated a stronger influence on work motivation than salary. The better the nurses' perceptions of these three factors, the higher their level of work motivation. This study concludes that improving employee welfare through adequate salaries, creating a conducive work environment, and providing sustainable career development opportunities can enhance nurses' work motivation. Therefore, hospital management is expected to implement policies that support these aspects in order to improve the quality of healthcare services.</em></p> Atha Farrila Fahria Husain Purnomo Sukesih Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 PAPARAN MEDIA DIGITAL BERMUATAN SEKSUAL TERKAIT DENGAN TINGKAT FOKUS BELAJAR PADA SISWA/I SMPN 3 NGULING https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23880 <p>Paparan media digital pada remaja semmakin meningkat seiring berkembangnya teknologi dan penggunaan internet. Media digital tidak hanya memberikan manfaat edukatif, tetapi juga memungkinkan remaja terpapar konten bermuatan seksual yang berpotensi memengaruhi aspek kognitif, khususnya fokus belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan media digital bermuatan seksual dengan fokus belajar siswa SMPN 3 Nguling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan metode cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 280 siswa kelas VII dan VIII SMPN 3 Nguling. Sampel sebanyak 161 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan dan kuat antara paparan media digital bermuatan seksual dengan fokus belajar siswa (p = 0,000; r = -0,686). Penelitian ini menyimpulkan bahwa paparan media digital bermuatan seksual berhubungan erat dengan menurunnya kemampuan konsentrasi, retensi informasi, dan perhatian siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan temuan ini, disarankan bagi orang tua untuk memperketat pengawasan digital, serta bagi pihak sekolah untuk mengintegrasikan literasi digital sehat dalam kurikulum. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menguji variabel intervensi lain seperti peran kontrol diri siswa.</p> <p><em>Exposure to digital media in adolescents continues to increase along with the development of technology and internet use. Digital media not only provides educational benefits but also exposes adolescents to sexually explicit content that may affect cognitive aspects, particularly learning focus. The present study aimed to analyze the relationship between exposure to sexually explicit digital media and learning focus among students at SMPN 3 Nguling. The present study employed a quantitative approach with an analytical correlational design and a cross-sectional method. The population consisted of 280 seventh and eighth grade students at SMPN 3 Nguling. A sample of 161 respondents was determined using the Slovin formula and selected through simple random sampling. Data were collected using questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Spearman’s Rho correlation test. The results showed a significant and strong negative relationship between exposure to sexually explicit digital media and students’ learning focus (p = 0.000; r = -0.686). The higher the exposure to sexually explicit digital media, the lower the students’ learning focus. This study concluded that exposure to digital media containing sexual content was associated with a decrease in students' concentration and attention abilities during the learning process. Based on these findings, it is recommended that parents enhance supervision over their children's digital activities, and schools should implement educational programs regarding the wise use of digital media. Future researchers are expected to explore other variables or interventions that can mitigate the negative impacts of such exposure on student academic performance.</em></p> Mistakul Ula Kurnia Laksana Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 PENGARUH EDUKASI MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET DAN VIDEO TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA SUMBERSEKAR KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24462 <p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan kepatuhan minum obat secara rutin untuk mencegah terjadinya komplikasi. Rendahnya kepatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi masalah pada penderita hipertensi, terutama akibat kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya pengobatan secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menggunakan media leaflet dan video terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi usia 25-50 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest design. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 23 responden. Instrument penelitian menggunakan kuesioner kepatuhan minum obat dan analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi sebagian besar responden memiliki kepatuhan rendah sebanyak 12 responden (52%), sedangkan setelah diberikan edukasi sebagian besar responden memiliki kepatuhan tinggi sebanyak 18 responden (78%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 (p&lt;0,05), sehingga terdapat pengaruh edukasi menggunakan media leaflet dan video terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi. Edukasi menggunakan media leaflet dan video efektif meningkatkan pemahaman dan kepatuhan responden dalam menjalani pengobatan hipertensi secara rutin karena responden menerima informasi dari indera pendengaran dan indera penglihatan.</p> <p><em>Hypertension is a chronic disease that requires long-term treatment and regular medication adherence to prevent complications. Low adherence to antihypertensive medication remains a problem among hypertensive patients, especially due to the lack of knowledge about the importance of regular treatment.This study aims to determine the effect of education using leaflest and videos media on adherence to antihypertensive medication in hypertensive patiens aged 25-50 years. This study used a quantitative method with a pre-experimental one group pretest-posttest design. The sampling technique used purposive sampling with a total sample of 23 respondents. The research instrument used a medication adherence questionnaire and data analysis was conducted using the Wilcoxon Signed Rank Test. The study results showed that before education was provided, most respondents had low adherence, namely 12 respondents (52%), while after receiving education, most respondents had high medication adherence, namely 18 respondents (78%).The Wilcoxon test result showed a p-value of 0,000 (p&lt;0,05), indicating that education using leaflet and video media had an effect on adherence to taking antihypertensive medication. Education using leaflets and videos is effective in improving respondents understanding and compliance in routinely undergoing hypertension treatment because respondents receive information through both hearing and sight</em></p> Ade Fira Dwi Cintiya Puguh Raharjo Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN PERILAKU KEBERSIHAN VULVA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA WANITA USIA SUBUR (MAHASISWI PRODI KEPERAWATAN SEMESTER 6) DI STIKES MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23813 <p>Keputihan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi pada wanita usia subur yang dapat dipengaruhi oleh perilaku kebersihan vulva, di mana kebiasaan yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada area reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku kebersihan vulva dengan kejadian keputihan pada mahasiswi Prodi Keperawatan Semester 6 di STIKes Maharani Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 108 mahasiswi dengan sampel 98 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner perilaku kebersihan vulva dan kuesioner kejadian keputihan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mahasiswi memiliki perilaku kebersihan vulva kategori baik dan tidak mengalami keputihan. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (&lt;0,05) dengan Odds Ratio (OR) = 11,229 sehingga menunjukkan adanya hubungan antara perilaku kebersihan vulva dengan kejadian keputihan pada mahasiswi Prodi Keperawatan Semester 6 di STIKes Maharani Malang. Mahasiswi dengan perilaku kebersihan vulva yang kurang optimal memiliki peluang lebih besar mengalami keputihan dibandingkan dengan mahasiswi yang memiliki perilaku kebersihan vulva lebih baik.</p> <p><em>Vaginal discharge is one of the reproductive health problems among women of reproductive age and may be influenced by vulvar hygiene behavior. Inappropriate vulvar hygiene practices can increase the risk of reproductive tract disorders. This study aimed to determine the relationship between vulvar hygiene behavior and the occurrence of vaginal discharge among sixth-semester Nursing students at STIKes Maharani Malang. This study employed a quantitative correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 108 female students, with 98 respondents selected using a total sampling technique. Data were collected using a vulvar hygiene behavior questionnaire and a vaginal discharge questionnaire. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most students had good vulvar hygiene behavior and did not experience vaginal discharge. The Chi-Square test yielded a p-value of &lt; 0.000 and an Odds Ratio (OR) of 11.229, indicating a significant relationship between vulvar hygiene behavior and the occurrence of vaginal discharge among sixth-semester Nursing students at STIKes Maharani Malang. Students with less optimal vulvar hygiene behavior were more likely to experience vaginal discharge than those with better vulvar hygiene behavior.</em></p> Marchanda Ayuningtyas Nunung Khairun Nissa Oper Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN PERAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU MENGGOSOK GIGI PADA ANAK PRASEKOLAH DI PAUD KARTIKA PRADANA KOTA MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24798 <p>Kesehatan gigi dan mulut pada anak prasekolah masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia. Anak usia prasekolah cenderung mengonsumsi makanan manis dan belum mampu menjaga kebersihan gigi secara mandiri sehingga memerlukan bimbingan dari orang tua. Peran orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan menggosok gigi yang baik dan benar sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran orang tua terhadap perilaku menggosok gigi pada anak prasekolah di PAUD Kartika Pradana Kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua dan anak prasekolah di PAUD Kartika Pradana sebanyak 52 responden dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner untuk mengukur peran orang tua dan perilaku menggosok gigi anak. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi karakteristik responden serta variabel penelitian, dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan antara peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi anak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memiliki peran dalam kategori baik dan sebagian besar anak memiliki perilaku menggosok gigi dalam kategori cukup hingga baik. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi pada anak prasekolah dengan nilai p &lt; 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara peran orang tua dengan perilaku menggosok gigi pada anak prasekolah.</p> <p><em>Oral and dental health among preschool children remains a significant health problem in Indonesia. Preschool-aged children tend to consume sweet foods and are not yet able to maintain oral hygiene independently, therefore they require guidance from their parents. The role of parents is very important in shaping proper toothbrushing habits from an early age. This study aimed to determine the relationship between parental roles and toothbrushing behavior among preschool children at PAUD Kartika Pradana, Malang City. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of all parents and preschool children at PAUD Kartika Pradana, totaling 52 respondents using a total sampling technique. The instrument us.Data analysis was carried out using univariate analysis to describe the frequency distribution of respondent characteristics and research variables, and bivariate analysis using the Pearson correlation test to determine the relationship between parental roles and children's toothbrushing behavior. The results showed that most parents had a good role, and most children had moderate to good toothbrushing behavior. Statistical test results indicated a significant relationship between parental roles and toothbrushing behavior among preschool children with a p-value &lt; 0.05. In conclusion, there is a significant relationship between parental roles and toothbrushing behavior among preschool children.</em></p> Deswita Minelia Saingo Whaisna Switaningtyas Ridwan Sofian Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 KESESUAIAN MNA DENGAN DIAGNOSIS MALNUTRISI BERDASARKAN KRITERIA GLIM PADA GERIATRI DI UPTD PUSKESMAS PAGADEN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24344 <p>Latar Belakang : Malnutrisi merupakan salah satu masalah gizi yang sering terjadi pada lansia dan sering tidak terdiagnosis secara dini. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti penurunan massa otot, peningkatan risiko infeksi, serta mortalitas. Deteksi dini malnutrisi sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat skrining gizi yang telah divalidasi secara luas dan mudah digunakan. Sedangkan Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) merupakan kriteria diagnosis malnutrisi yang bersifat lebih komprehensif dan digunakan sebagai gold standard dalam menentukan status gizi seseorang. Tujuan : Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian antara MNA dengan diagnosis malnutrisi berdasarkan kriteria GLIM pada pasien geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 105 orang pasien geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden pada bulan juni tahun 2025, data diambil secara purposive sampling melalui wawancara dan pengukuran antropomentri menggunakan kuisioner Mini Nutritional Assessment (MNA) dan diagnosis malnutrisi berdasarkan kriteria GLIM. Data dianalisis menggunakan uji korelasi dan evaluasi Area Under Curve (AUC). Hasil: Mayoritas responden adalah perempuan (78,1%) dan lansia muda (60-69 tahun, 71,4%). Berdasarkan MNA, 52,4% responden berisiko malnutrisi dan 6,7% mengalami malnutrisi. Diagnosis GLIM menunjukkan prevalensi malnutrisi sebesar 59,0%, dengan hampir seluruh responden (99,0%) memiliki kondisi penyakit akut/kronis/cedera sebagai komponen etiologi. Analisis crosstabulation menunjukkan hasil signifikan yang kuat antara MNA dan GLIM ( p &lt; 0.001). Evaluasi performa diagnostik mengungkapkan bahwa MNA dengan penggabungan kategori "Berisiko" dan "Malnutrisi" memiliki performa yang sangat baik (AUC = 0,894; sensitivitas = 98,1%; spesifisitas = 80,8%). Sebaliknya, pengelompokan "Normal" dan "Berisiko" pada MNA menunjukkan performa yang buruk (AUC = 0,566; sensitivitas = 13,2%; spesifisitas = 100%). Simpulan: MNA, khususnya dengan pengelompokan kategori "Berisiko" dan "Malnutrisi" sebagai satu kesatuan, terbukti menjadi alat skrining yang efektif dan sangat sensitif untuk mendeteksi malnutrisi pada geriatri di UPTD Puskesmas Pagaden dibandingkan dengan kriteria GLIM. Hasil ini menegaskan pentingnya pemilihan skema pengelompokan yang tepat dalam interpretasi MNA untuk tujuan skrining gizi di layanan kesehatan primer.</p> <p><em>Background: Malnutrition is one of the most common nutritional problems in the elderly and is often not diagnosed early. This condition can cause health problems such as decreased muscle mass, increased risk of infection, and mortality. Early detection of malnutrition is very important to improve the quality of life of the elderly. The Mini Nutritional Assessment (MNA) is a widely validated and easy-to-use nutritional screening tool. Meanwhile, the Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) is a more comprehensive diagnostic criteria for malnutrition and is used as a gold standard in determining a person's nutritional status. Aim: The purpose of this study was to determine the concordance between MNA and the diagnosis of malnutrition based on GLIM criteria in geriatric patients at UPTD Puskesmas Pagaden. Methods: This study used an analytical observational method with a cross sectional design. The sample consisted of 105 geriatric patients at the UPTD Puskesmas Pagaden in June 2025, the data were collected by purposive sampling through interviews and anthropomentry measurements using the Mini Nutritional Assessment (MNA) questionnaire and diagnosis of malnutrition based on GLIM criteria. Data were analyzed using the correlation test and Area Under Curve (AUC) evaluation. Results: The majority of respondents were female (78.1%) and young elderly (60-69 years, 71.4%). Based on MNA, 52.4% of respondents were at risk of malnutrition and 6.7% were malnourished. GLIM diagnosis showed a prevalence of malnutrition of 59.0%, with almost all respondents (99.0%) having acute/chronic illness/injury as an etiologic component. Crosstabulation analysis showed a strong significant correlation between MNA and GLIM ( p &lt; 0.001). Evaluation of diagnostic performance revealed that the MNA with "At-risk" and "Malnourished" categories combined performed very well (AUC = 0.894; sensitivity = 98.1%; specificity = 80.8%). In contrast, the grouping of "Normal" and "At-Risk" in MNA showed poor performance (AUC = 0.566; sensitivity = 13.2%; specificity = 100%). Conclusions: MNA, especially with the grouping of "At Risk" and "Malnourished" categories together, proved to be an effective and highly sensitive screening tool for detecting malnutrition in geriatrics at UPTD Puskesmas Pagaden compared to GLIM criteria. These results emphasize the importance of selecting an appropriate grouping scheme in the interpretation of MNA for nutrition screening purposes in primary health care</em></p> Niesrina Nuralya Fhitriyah Ali Manfaluthi A Duddy Satrianugraha W Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN GAYA HIDUP SEDENTARI DENGAN OBESITAS PADA REMAJA DI SMAN 1 KOTA CIREBON https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24634 <p>Latar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat prevalensinya, termasuk pada kelompok usia remaja. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap obesitas adalah gaya hidup sedentari, yakni aktivitas kurang gerak yang sering terjadi pada remaja akibat peningkatan screen time dan perubahan pola aktivitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup sedentari dengan obesitas pada remaja di SMAN 1 Kota Cirebon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 178 siswa kelas XI pada bulan Juni tahun 2025, yang diambil menggunakan Teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner ASAQ (adolescent sedentary activity questionnaire) untuk menilai gaya hidup sedentaari dan pengukuran antropometri untuk menentukan status obesitas berdasarkan kurva CDC. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman.&nbsp; Hasil: Analisis hubungan diperoleh nilai p value 0,002 (p &lt;0,05) yang memiliki makna terdapat adanya hubungan gaya hidup sedentari dengan obesitas pada remaja di SMAN 1 Kota Cirebon. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup sedentari dengan obesitas pada remaja. Semakin tinggi tingkat sedentari seseorang, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya obesitas.</p> <p><em>Background: Obesity is a global health issue with steadily increasing prevalence, including among adolescent. One contributing factor is a sedentary lifestyle, characterized by prolonged periods of physical inactivity, often influenced by excessive screen time and reduced physical movement. Aim: This study aims to determine correlation between a sedentary lifestyle with obesity in adolescent at SMAN 1 Cirebon City. Methods: This research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 178 eleventh-grade students in June 2025, were selected using simple random sampling. Data were collected through the ASAQ (Adolescent Sedentary Activity Questionnaire) to assess sedentary behavior and anthropometric measurements to determine obesity status based on CDC growth charts. Data analysis was conducted using the spearman correlation test. Result: The majority of respondents had a high level of sedentary lifestyle (51.7%) and an obesity prevalence of 17.4%. The Spearman test revealed a significant correlation between a sedentary lifestyle and obesity (p = 0.002; r = 0.234), indicating a weak but positive relationship. Conclusion: There is a significant correlation between sedentary lifestyle and obesity among adolescents. Higher levels of sedentary activity are associated with an increased risk of obesity.</em></p> Raehan Shafira Syaharani Ade Yusuf Ali Manfaluthi Ahmad Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI JAJAN SEMBARANGAN DENGAN TERJADINYA DIARE PADA ANAK USIA SEKOLAH DI MI NAHDLATUL ULAMA KALIPARE KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23993 <p>Diare merupakan kondisi buang air besar (BAB) dengan tekstur cair dan frekuensi yang lebih sering dari biasanya. Diare juga masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada anak usia sekolah yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi jajan sembarangan yang dapat memicu terjadinya gangguan pencernaan seperti diare. Jajanan juga merupakan makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh siswa sekolah dasar sebagai selingan di luar waktu makan utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi jajan sembarangan dengan terjadinya diare pada anak usia sekolah di MI Nahdlatul Ulama Kalipare Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian korelasi melalui pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diukur dalam satu waktu. Populasi penelitian ini berjumlah 80 siswa kelas IV dan V, dengan jumlah sampel 67 responden yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert mengenai konsumsi jajan sembarangan yang dikembangkan oleh Wildan serta kuesioner skala Guttman mengenai terjadinya diare yang dikembangkan oleh Fitriah Lailatul. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kebiasaan konsumsi jajan sembarangan dalam kategori buruk sebanyak 45 responden (67,2%), namun tingkat terjadinya diare sebagian besar responden berada pada kategori terjadi diare sebanyak 39 responden (58,2%). Berdasarkan hasil uji Chi-Square diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 249,155 dengan nilai signifikan 0,003 (p &lt; 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa adanya hubungan antara konsumsi jajan sembarangn dengan terjadinya diare pada siswa yang kuat dan signifikan. Anak dengan kebiasan konsumsi jajanan yang kurang sehat dan hygienis lebih berisiko mengalami diare dibandingkan anak dengan kebiasan konsumsi jajan yang baik. Diharapkan pihak sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan dapat meningkatkan edukasi serta pengawasan mengenai pemilihan jajanan yang sehat dan perilaku hidup bersih guna menurunkan terjadinya diare pada anak usia sekolah dasar.</p> <p><em>Diarrhea is a condition characterized by bowel movements with a watery consistency and a more frequent occurrence than usual. Diarrhea remains one of the health problems among school-age children, which can be influenced by the habit of consuming unhealthy snacks that may trigger digestive disorders such as diarrhea. Snacks are foods and beverages consumed by elementary school students as a supplement outside the main mealtimes. This study aimed to analyze the relationship between unhealthy snacking habits and the occurrence of diarrhea among school-age children at MI Nahdlatul Ulama Kalipare. This study used a quantitative method with a correlational research design through a cross-sectional approach to determine the relationship between variables measured at one point in time. The population of this study consisted of 80 fourth- and fifth-grade students, with a sample of 67 respondents selected using a simple random sampling technique. The research data were collected using a Likert scale questionnaire regarding unhealthy snacking habits developed by Wildan and a Guttman scale questionnaire regarding the occurrence of diarrhea developed by Fitriah Lailatul. Data analysis was performed using the Chi-Square statistical test. The results showed that most students had poor unhealthy snacking habits, totaling 45 respondents (67.2%), while the majority of respondents experienced diarrhea, totaling 39 respondents (58.2%). Based on the Chi-Square test results, a correlation coefficient value of 249.155 was obtained with a significance value of 0.003 (p &lt; 0.05). This indicates that there is a strong and significant relationship between unhealthy snacking habits and the occurrence of diarrhea among students. Children with unhealthy and unhygienic snacking habits are at greater risk of experiencing diarrhea compared to children with healthy snacking habits. It is expected that schools, parents, and health workers can improve education and supervision regarding the selection of healthy snacks and clean living behaviors in order to reduce the occurrence of diarrhea among elementary school children</em></p> Dirania Ayu Firnanda Andi Surya Kurniawan Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN BERAT BADAN, RIWAYAT SC, HIPERTENSI, INTERVAL ANTAR KEHAMILAN DENGAN KPD DI RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24527 <p>Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan berat badan ibu, riwayat sectio caesarea (SC), hipertensi, dan interval antar kehamilan dengan kejadian KPD di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian diambil dari data rekam medis ibu bersalin yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara berat badan ibu, riwayat SC, hipertensi, dan interval antar kehamilan dengan kejadian KPD di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa faktor berat badan, riwayat sectio caesarea, hipertensi, dan interval antar kehamilan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian KPD, sehingga diperlukan deteksi dini dan pemantauan kehamilan secara optimal untuk menurunkan risiko terjadinya KPD.</p> <p><em>Premature Rupture of Membranes (PROM) is one of the pregnancy complications that can increase the risk of maternal and neonatal morbidity and mortality. This study aimed to analyze the relationship between maternal body weight, history of cesarean section (CS), hypertension, and interpregnancy interval with the incidence of PROM at Dr. Loekmono Hadi Regional General Hospital, Kudus. This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The samples were obtained from the medical records of postpartum mothers who met the inclusion criteria using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test at a significance level of 0.05. The results indicated that maternal body weight, history of cesarean section, hypertension, and interpregnancy interval were significantly associated with the incidence of PROM at Dr. Loekmono Hadi Regional General Hospital, Kudus (p&lt;0.05). In conclusion, maternal body weight, history of cesarean section, hypertension, and interpregnancy interval are factors associated with the occurrence of PROM. Therefore, early detection and optimal antenatal monitoring are essential to reduce the risk of PROM.</em></p> Friska Elyana Putri Noor Hidayah Tri Suwarto Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN ANTARA PERAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS BALITA USIA 3-5 TAHUN DI KB/BA ARAFAH MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23899 <p>Perkembangan motorik halus merupakan salah satu aspek penting dalam pertumbuhan dan perkembangan balita yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah peran ibu. Peran ibu dalam memberikan stimulasi, pendampingan, serta pemenuhan kebutuhan anak berkontribusi terhadap optimalisasi perkembangan motorik halus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran ibu dengan perkembangan motorik halus balita usia 3–5 tahun di KB/BA Arafah Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki balita usia 3–5 tahun di KB/BA Arafah Malang. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling sesuai dengan kriteria inklusi. Data peran ibu dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan perkembangan motorik halus balita diukur menggunakan lembar observasi sesuai instrumen yang digunakan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai dengan skala data. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan antara peran ibu dengan perkembangan motorik halus balita sehingga dapat menjadi dasar dalam meningkatkan peran orang tua, khususnya ibu, dalam memberikan stimulasi perkembangan anak sejak dini.</p> <p><em>Fine motor development is an essential aspect of child growth and development that is influenced by various factors, including the role of the mother. A mother's role in providing stimulation, guidance, and meeting the child's developmental needs contributes significantly to the optimization of fine motor development. This study aims to determine the relationship between the mother's role and the fine motor development of children aged 3–5 years at KB/BA Arafah Malang. This study employs a quantitative research design with a cross-sectional approach. The population consists of all mothers with children aged 3–5 years enrolled at KB/BA Arafah Malang. Samples are selected using the total sampling technique based on the inclusion criteria. Data on the mother's role are collected using a questionnaire, while children's fine motor development is assessed using an observation checklist based on the selected assessment instrument. Data are analyzed using univariate and bivariate statistical analyses with appropriate statistical tests. The findings of this study are expected to provide information regarding the relationship between the mother's role and children's fine motor development and serve as a reference for improving parental involvement, particularly mothers, in providing early developmental stimulation.</em></p> Indah Gita Cahyani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 HUBUNGAN USIA, PARITAS, DAN OBESITAS DENGAN PREEKLAMSIA PADA IBU HAMIL DI RSI SUNAN KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/24488 <p>Latar Belakang: Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin. Berbagai faktor risiko diduga berhubungan dengan kejadian preeklamsia, di antaranya usia ibu, paritas, dan obesitas. Identifikasi faktor-faktor tersebut diperlukan sebagai upaya pencegahan dan penatalaksanaan yang lebih efektif. Tujuan: Mengetahui hubungan usia, paritas, dan obesitas dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di RSI Sunan Kudus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang menjalani pemeriksaan atau persalinan di RSI Sunan Kudus. Sampel diperoleh menggunakan teknik total sampling/purposive sampling (sesuaikan dengan penelitian). Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan kejadian preeklamsia (p &lt; 0,05), terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian preeklamsia (p &lt; 0,05), serta terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian preeklamsia (p &lt; 0,05). Ibu hamil dengan usia berisiko (&lt;20 tahun atau &gt;35 tahun), primipara atau grandemultipara, serta obesitas memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami preeklamsia dibandingkan kelompok lainnya. Kesimpulan: Usia, paritas, dan obesitas berhubungan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di RSI Sunan Kudus. Tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan deteksi dini terhadap ibu hamil yang memiliki faktor risiko tersebut untuk menurunkan angka kejadian preeklamsia.</p> <p><em>Background: Preeclampsia is one of the most common pregnancy complications and remains a major cause of maternal and fetal morbidity and mortality. Several risk factors, including maternal age, parity, and obesity, are associated with the occurrence of preeclampsia. Identifying these risk factors is essential for improving prevention and management strategies. Objective: To determine the relationship between maternal age, parity, and obesity with the incidence of preeclampsia among pregnant women at RSI Sunan Kudus. Methods: This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of pregnant women who received antenatal care or delivery services at RSI Sunan Kudus. Samples were selected using total sampling/purposive sampling (adjust according to the actual study). Data were collected from medical records and analyzed using the Chi-square test with a significance level of 95% (α = 0.05). Results: The results showed a significant relationship between maternal age and preeclampsia (p &lt; 0.05), parity and preeclampsia (p &lt; 0.05), and obesity and preeclampsia (p &lt; 0.05). Pregnant women with high-risk maternal age (&lt;20 years or &gt;35 years), primiparity or grand multiparity, and obesity had a higher likelihood of developing preeclampsia than those without these risk factors. Conclusion: Maternal age, parity, and obesity are significantly associated with the incidence of preeclampsia among pregnant women at RSI Sunan Kudus. Early identification of pregnant women with these risk factors is recommended to reduce the incidence of preeclampsia.</em></p> Noor Hidayah Sukesih Aulia Insania Ramadhani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7 FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA PEGAWAI PADA LINGKUNGAN KERJA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL KABUPATEN TAPANULI SELATAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23852 <p>Banyaknya permasalahan yang ada di lapangan maka pegawai BNN diwajibkan memiliki kompetensi kerja dalam upaya pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika&nbsp; (P4GN). Setiap divisi yang ada harus malaksanakan tugasnya sebaik mungkin agar penyalahgunaan narkoba dapat diberantas. Seperti divisi P2M yang harus meningkatkan upaya sosialisai dan memberikan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat mengenai dampak yang di timbulkan oleh penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai pada lingkungan kerja di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Tapanuli Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai BNNK Tapanuli Selatan sebanyak 31 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan (p=0,010), motivasi (p=0,006), dukungan (p=0,018), hubungan karyawan (p=0,024), dan keberadaan pekerjaan (p=0,003) dengan kinerja pegawai. Faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja pegawai adalah keberadaan pekerjaan dengan nilai OR sebesar 5,5. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor internal dan eksternal memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja pegawai, dengan faktor keberadaan pekerjaan sebagai faktor yang paling dominan. Disarankan kepada instansi untuk memperbaiki sistem pembagian kerja, meningkatkan motivasi, serta memberikan dukungan yang optimal kepada pegawai guna meningkatkan kinerja.</p> <p><em>Due to the numerous problems in the field, BNN employees are required to possess work competencies in preventing and eradicating drug abuse and illicit trafficking (P4GN). Each division must carry out its duties to the best of its ability to eradicate drug abuse. For example, the P2M division must increase outreach efforts and provide understanding to all levels of society regarding the impacts of drug abuse. This study aims to determine factors related to employee performance in the workplace at the National Narcotics Agency (BNNK) in South Tapanuli Regency. This study used a quantitative analytical design using a cross-sectional approach. The population in this study was all 31 employees of the National Narcotics Agency (BNNK) in South Tapanuli, and the sampling technique used total sampling. Data collection was conducted using a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-Square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed a significant relationship between ability (p=0.010), motivation (p=0.006), support (p=0.018), employee relations (p=0.024), and job availability (p=0.003) and employee performance. The most dominant factor influencing employee performance was job availability, with an OR of 5.5. The conclusion of this study is that both internal and external factors play a significant role in improving employee performance, with job availability being the most dominant factor. It is recommended that agencies improve their work distribution systems, increase motivation, and provide optimal support to employees to enhance performance.</em></p> Rahayu Anggit Pudji Astuti Taruli Yohana Sinaga Donal Nababan Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas 2026-07-30 2026-07-30 8 7