Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Sat, 28 Feb 2026 05:31:33 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK, KOMPETENSI KLINIK, DAN EMPATI PERAWAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI KLINIK PRATAMA YONIF RAIDER 400/BR KOTA SEMARANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/19820 <p>Latar Belakang: Kepuasan Pasien merupakan penilaian terhadap baik atau buruknya kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Pasien akan merasa puas apabila kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh sama atau melibihi harapannya. Hasil kepuasan pasien Klinik Pratama Rawat Jalan Yonif Raider 400/BR Semarang dilihat dari indeks nasional mutu pada tahun 2023 sampai 2024 mengalami penurunan. Penurunan kepuasan pasien setiap bulannya bervariatif sekitar 2-4% setiap bulannya. Terdapat 5 indikator kepuasan pasien yaitu kehandalan (reliability), jaminan (assurance), bukti langsung (tangible), empati (emphaty) dan ketanggapan (responsiveness). Tujuan: untuk mengetahui pengaruh antara komunikasi terapeutik, kompetensi klinik dan empati perawat terhadap kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang. Metode: Penelitian kuantitatif yang bertujuan menguji hipotesis. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi. Penelitian analitik korelasi adalah penelitian yang dilakukan untuk menganalisis hubungan antara dua variabel atau lebih. Hasil Penelitian: Adanya Pengaruh Komunikasi Terapeutik, Kompetensi Klinik dan Empati Perawat dengan Kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang nilai signifikan &lt;0,05 dan nilai person correlation pada rentang 0,270 – 0,311 dengan kekuatan hubungan correlation rendah mempunyai arah hubungan positif. Simpulan: Adanya Pengaruh Komunikasi Terapeutik, Kompetensi Klinik dan Empati Perawat dengan Kepuasan pasien di Klinik Pratama Yonif Raider 400/BR Kota Semarang.</p> <p><em>Background: Patient satisfaction is an assessment of the quality of healthcare services received by patients. Patients will be satisfied if the performance of the healthcare services they receive matches or exceeds their expectations. The results of patient satisfaction at the Outpatient Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang, as seen from the national quality index from 2023 to 2024, have decreased. The decline in patient satisfaction varies by around 2-4% each month. There are 5 indicators of patient satisfaction, namely reliability, assurance, tangible evidence, empathy, and responsiveness. Objective: To determine the influence of therapeutic communication, clinical competence and nurse empathy on patient satisfaction at the Pratama Clinic of Yonif Raider 400/BR, Semarang City. Method: Quantitative research aimed at testing hypotheses. The type of research used was correlational analytic. Correlational analytic research is research conducted to analyze the relationship between two or more variables. Research Results: Therapeutic Communication, Clinical Competence, and Nurse Empathy influence patient satisfaction at the Primary Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang City. The significance value is &lt;0.05 and the person correlation value is in the range of 0.270–0.311, with a low correlation strength and a positive direction. Conclusion: Therapeutic Communication, Clinical Competence, and Nurse Empathy influence patient satisfaction at the Primary Clinic of Yonif Raider 400/BR Semarang City.</em></p> Dani Budianto, M. Purnomo, Edi Wibowo Suwandi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/19820 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000 KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS: ANALISIS AKTOR DAN KEPENTINGAN DALAM KEBIJAKAN KESEHATAN TENTANG PEMETAAN STAKEHOLDER DAN DINAMIKA KEKUASAAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20288 <p>Latar belakang : Kebijakan kesehatan di Indonesia kerap menghadapi tantangan implementasi yang berdampak pada belum optimalnya pencapaian tujuan. Data sekunder menunjukkan bahwa meskipun cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai lebih dari 95% populasi, ketimpangan distribusi fasilitas dan tenaga kesehatan masih terjadi. Pada kebijakan penanggulangan HIV/AIDS, cakupan testing dan retensi terapi antiretroviral belum merata, sementara pada penanganan COVID-19 efektivitas kebijakan pembatasan sosial bervariasi antar daerah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan kebijakan tidak hanya terletak pada aspek regulasi, tetapi juga pada dinamika aktor, kepentingan, dan distribusi kekuasaan yang belum terkelola secara optimal dalam proses implementasi. Tujuan:&nbsp; untuk menganalisis peran aktor, kepentingan, serta dinamika kekuasaan dalam kebijakan kesehatan melalui pendekatan kajian literatur sistematis dengan fokus pada pemetaan stakeholder (stakeholder mapping) dan kerangka analisis kekuasaan.Hasil kajian :&nbsp; menunjukkan bahwa ketidakefektifan kebijakan kesehatan sering muncul pada tahap implementasi akibat lemahnya koordinasi lintas sektor, dominasi aktor dengan kekuasaan tinggi, terbatasnya pelibatan kelompok dengan kepentingan tinggi namun pengaruh rendah, serta belum terinstitusionalisasinya mekanisme kolaboratif. Pemetaan stakeholder menggunakan matriks power–interest dan analisis visible, hidden, serta invisible power terbukti membantu mengidentifikasi potensi konflik, peluang koalisi, dan strategi advokasi yang lebih efektif. Simpulan : kajian ini menegaskan bahwa analisis stakeholder dan pemetaan dinamika kekuasaan perlu diintegrasikan dalam seluruh siklus kebijakan kesehatan untuk meningkatkan legitimasi, efektivitas, dan keberlanjutan kebijakan. Pendekatan collaborative governance, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pemberdayaan aktor berkepentingan tinggi menjadi strategi kunci dalam memperbaiki implementasi kebijakan kesehatan di Indonesia.</p> Sri Soleha, Nisa Septiani, Zeny Dermawan, Budi Hartono Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20288 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN RELAPSE SKIZOFRENIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD MAJALENGKA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20253 <p>Latar Belakang : Kekambuhan (relapse) pada pasien skizofrenia masih menjadi masalah utama dalam pelayanan kesehatan jiwa dan berdampak pada perburukan kondisi klinis serta penurunan kualitas hidup. Tingginya angka relapse pada pasien rawat jalan menunjukkan bahwa keberhasilan terapi bukan sekadar ditetapkan pengobatan, namun aspek psikososial, khususnya dukungan keluarga dalam menjaga kepatuhan pengobatan dan stabilitas emosional pasien.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap kejadian relapse. Metode :Penelitian yakni penelitian deskriptif analitik pendekatan cross sectional dilaksanakan di Poliklinik Jiwa RSUD Majalengka. Sampel penelitian berjumlah 93 pasien skizofrenia rawat jalan ditetapkan memanfaatkan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu seluruh pasien skizofrenia rawat jalan RSUD Majalengka yang memiliki rekam medis lengkap di RSUD Majalengka. Data dikumpul menggunakan kuesioner Perceived Social Support from Family (PSS-Fa) guna menilai dukungan keluarga serta data rekam medis untuk menilai kejadian relapse. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik sederhana berbantuan program IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil : Temuan penelitian melihatkan kebanyakan responden memiliki dukungan keluarga baik (69,9%), namun 48,4% di antaranya masih mengalami relapse. Uji regresi menunjukkan adanya pengaruh signifikan dukungan keluarga atas kejadian relapse skizofrenia bernilai p = 0,000 (p &lt; 0,05).Pasien dukungan keluarga baik mempunyai kesempatan 12 kali lebih besar tidak mengalami relapse dibanding pasien mempunyai dukungan keluarga kurang. Kesimpulan : Terdapat pengaruh signifikan dukungan keluarga atas kejadian relapse pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSUD Majalengka. Dukungan keluarga optimal berkontribusi penting mengurangi risiko kekambuhan dan meningkatkan keberhasilan terapi pasien skizofrenia.</p> <p><em>Background: Relapse in patients with schizophrenia remains a major challenge in mental health services and leads to clinical deterioration as well as reduced quality of life. The high relapse rate among outpatients indicates that treatment success is not determined solely by pharmacological therapy, but also by psychosocial aspects, particularly family support in maintaining medication adherence and emotional stability. This study aimed to determine the effect of family support on the incidence of relapse. Methods:This study employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach and was conducted at the psychiatric outpatient clinic of RSUD Majalengka. The sample consisted of 93 outpatient schizophrenia patients selected using purposive sampling, with inclusion criteria being all outpatient schizophrenia patients at RSUD Majalengka who had complete medical records. Data were collected using the Perceived Social Support from Family (PSS-Fa) questionnaire to assess family support and medical record data to evaluate relapse incidence. Data analysis was performed using simple logistic regression with the assistance of IBM SPSS Statistics version 26.Results:The findings showed that most respondents had good family support (69.9%); however, 48.4% of them still experienced relapse. Logistic regression analysis demonstrated a significant effect of family support on the incidence of schizophrenia relapse (p = 0.000; p &lt; 0.05). Patients with good family support had a 12-fold higher likelihood of not experiencing relapse compared to those with poor family support. Conclusion:There is a significant effect of family support on relapse incidence among outpatients with schizophrenia at RSUD Majalengka. Optimal family support plays an important role in reducing relapse risk and improving treatment outcomes in patients with schizophrenia.</em></p> Nanda Rizkia Kinanti, Ratih Widayati, Afiana Rohmani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20253 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN JUMLAH SAUDARA, STATUS PEKERJAAN DAN PERNIKAHAN ORANG TUA SERTA KUALITAS HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL PADA REMAJA DI SMP 2 JATI KABUPATEN KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20024 <p>Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap munculnya masalah psikososial. Berbagai faktor keluarga diduga berperan dalam munculnya masalah tersebut, antara lain jumlah saudara, status pekerjaan dan pernikahan orang tua, serta kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah saudara, status pekerjaan dan pernikahan orang tua, serta kualitas hubungan orang tua dan anak dengan masalah psikososial pada remaja di SMP 2 Jati Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah remaja yang bersekolah di SMP 2 Jati Kabupaten Kudus, yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel tertentu. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor keluarga tersebut dengan masalah psikososial pada remaja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kondisi dan dinamika keluarga memiliki peran penting dalam kesehatan psikososial remaja, sehingga diperlukan perhatian dan peran aktif orang tua dalam membangun hubungan yang positif dengan anak.</p> D’hafsh Arsya Devi, Indanah, Muhammad Purnomo Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20024 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000 PENGEMBANGAN STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM OPTIMALISASI KEPESERTAAN PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20257 <p>Pendahuluan: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) merupakan instrumen strategis perlindungan kesehatan bagi masyarakat miskin. Meski Kabupaten Kotawaringin Timur telah mencapai cakupan tinggi, tantangan seperti ketidakakuratan data, dinamika kependudukan, dan beban fiskal untuk pembiayaan bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja yang didaftarkan Pemerintah Daerah (PBPU-BP Pemda) masih menjadi hambatan utama. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi optimalisasi kepesertaan PBI agar lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan studi dokumentasi yang melibatkan instansi lintas sektor terkait. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi kepesertaan Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU-BU Pemda) memerlukan penguatan koordinasi lintas sektor dan sinkronisasi data kependudukan secara berkala. Strategi utama yang dirumuskan meliputi penetapan kriteria Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU-BU Pemda) yang objektif serta pengendalian beban anggaran melalui verifikasi dan validasi data yang berkelanjutan. Diskusi: Diperlukan penguatan sinergi melalui mekanisme pembaruan data rutin yang terintegrasi, peningkatan kapasitas verifikasi lapangan, serta pengetatan audit kepesertaan untuk menjaga efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran program. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi tata kelola data yang terintegrasi dan kebijakan pembiayaan yang resilien merupakan prasyarat mutlak untuk menjamin efektivitas perlindungan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin serta keberlanjutan program JKN di daerah.</p> <p><em>Introduction:TheNationalHealthInsurance(JKN)programthroughthe Premium Assistance Recipient (PBI) scheme is a strategic instrument for health protection for the poor. Although East Kotawaringin Regency has achieved high coverage, challenges such as data inaccuracy, population dynamics, and the fiscal burden of PBI on the Regional Budget (APBD) remain major obstacles. This study aimsto formulate astrategy foroptimizing PBImembership tomake it more targeted, effective, and sustainable. Methods: This study used a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), observations, and documentation studies involving relevant cross-sectoral agencies. Results: The results indicate that optimizing JKN PBI membership requires strengthening cross-sectoral coordination and regular population data synchronization. The main strategies formulated include establishing objective PBPU Pemda criteria and controlling budget burdens through continuousdata verification and validation. Discussion: Strengthening synergy is needed through an integrated routine data update mechanism, increasing field verification capacity, and tightening participant audits to maintain budget efficiency and program targeting accuracy. Conclusion: This study concludes that integrated data governance transformation andresilient financing policies are absolute prerequisitesforensuring the effectiveness of health insurance protection for the poor and the sustainability of the JKN program in the regions.</em></p> Musrifah Betriawati, Hafizzurrachman Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20257 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000 ANALISIS MANAJEMEN PENANGANAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA PEKANBARU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20197 <p>Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan serius di Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penanganan DBD, dengan menekankan pada faktor komunikasi, sumber daya, dan partisipasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan masih menghadapi sejumlah hambatan, antara lain keterbatasan komunikasi antara tenaga kesehatan dengan masyarakat, minimnya jumlah tenaga surveilans epidemiologi dan kader jumantik, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Faktor geografis kota yang datar, drainase yang buruk, dan kepadatan penduduk memperparah kondisi penyebaran DBD. Strategi penanganan yang ada masih lebih berorientasi pada upaya kuratif melalui pelayanan rumah sakit dibandingkan upaya preventif berbasis komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi kebijakan DBD di Pekanbaru belum optimal. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan kelembagaan Pokjanal DBD, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program Satu Rumah Satu Jumantik, kolaborasi lintas sektor untuk perbaikan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mempercepat deteksi dini dan pelaporan kasus.</p> <p><em>Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public health challenges in Pekanbaru City. This study aims to analyze the implementation of dengue control policies, particularly in Marpoyan Damai District, by focusing on communication, resources, and community participation. A descriptive qualitative approach was employed, using interviews, observations, and document reviews as data collection techniques. The findings indicate that the policy implementation still faces several obstacles, including limited communication between health workers and communities, insufficient epidemiological surveillance officers and Jumantik (larvae monitoring cadres), as well as low community involvement in source reduction activities. Moreover, geographical factors such as flat land structure, poor drainage, and high population density further exacerbate dengue transmission. The current strategy is still dominated by curative measures through hospital services rather than preventive efforts at the community level. This study concludes that the effectiveness of dengue policy implementation in Pekanbaru has not yet reached its optimal level. Recommendations include strengthening the Pokjanal DBD task force, enhancing community participation through the “One House One Jumantik” program, fostering cross-sectoral collaboration for environmental improvement, and utilizing digital technology to accelerate early detection and case reporting. Sustained preventive actions are crucial to reduce dengue incidence in Pekanbaru City.</em></p> Elmira Rachma Putri Sundari, Ali Napiah, Sri Wahyuni Nasution Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20197 Sat, 28 Feb 2026 00:00:00 +0000