Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Tue, 31 Mar 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 STRATEGI ADVOKASI BERBASIS BUKTI DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN KESEHATAN: TANTANGAN DAN PELUANG DI ERA DISRUPSI INFORMASI https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20384 <p>Perkembangan era sistem digital dan disrupsi informasi mengubah landskap advokasi kesehatan secara fundamental. Secara konseptual, advokasi kesehatan mencakup penggunaan data dan bukti saintifik sebagai dasar pendapat, pengaruh pengambil kebijakan dan dorongan mobilisasi publik serta kerjasama lintas sektor. Kebijakan kesehatan merupakan alat untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan kesenjangan kesehatan. Namun, proses perumusan kebijakan tidak selalu bersifat rasional dan teknokrat karena ia selalu dipengaruhi oleh keadaan dinamika politik, sosial, budaya dan ekonomi. Dalam hal ini, advokasi menjadi mekanisme penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan berpihak pada kepentingan kesehatan publik. Advokasi berbasis bukti (evidence-based advocacy) menjadi salah satu pendekatan strategis dalam memastikan kebijakan kesehatan yang professional, responsif, efektif, akuntabel, dan berorientasi kepada pelayanan publik. Literatur menunjukkan bahwa terdapat kendala yang berarti, seperti kurangnya sosialisasi teknis dan ketidaktahuan dan isi kebijakan menjadi penyumbang advokasi kebijakan yang lemah. Adanya penyampaian kebijakan internal yang tidak berkelanjutan menyebabkan banyak petugas yang belum memahami sehingga berpengaruh dalam kualitas implementasinya. Keberhasilan advokasi berbasis bukti (evidence-based advocacy) bergantung pada bukti ilmiah yang valid, komunikasi risiko adaptif, pengetahuan, dan tata kelola konflik kepentingan yang transparan. Meskipun pada era digital berperluang menghadirkan tantangan resistensi dan infodemi, era digital juga memberikan peluang melalui sistem surveilans digital dan partisipasi publik berbasis teknologi. Perlunya implementasi strategi advokasi efektif dan spesifik berbasis bukti untuk penguatan kebijakan kesehatan di era sekarang agar terciptanya pemahaman yang baik dalam urgensi isu kesehatan yang dipengaruhi dinamika informasi. Artikel ini bertujuan menganalisis strategi advokasi berbasis bukti dalam penguatan kebijakan kesehatan serta mengidentifikasi tantangan dan peluang yang muncul di era informasi digital.</p> Mochamad Ayi Pradana, Thifal Nurkhansa, Juniartha Sibuea , Budi Hartono Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20384 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH HEALTH LITERACY TERHADA PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA DALLAM MERAWAT LANSIA PADA PENYAKIT HIPERTENSI DI DESA TALUMELITO https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20726 <p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan memerlukan perawatan jangka panjang di lingkungan keluarga. Keberhasilan pengelolaan hipertensi sangat dipengaruhi oleh kemampuan keluarga dalam memahami dan menggunakan informasi kesehatan (health literacy). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh health literacy terhadap pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dalam merawat lansia dengan hipertensi di Desa Talumelito. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan quasi experimental melalui rancangan one group pretest-posttest. Sampel sebanyak 38 keluarga yang memiliki lansia hipertensi dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner health literacy dan pelaksanaan tugas kesehatan keluarga, kemudian dianalisis menggunakan uji Paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan health literacy dari kategori sedang menjadi tinggi setelah edukasi (63,2%), serta peningkatan pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dalam kategori baik (71,1%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (&lt;0,05) yang berarti terdapat pengaruh signifikan health literacy terhadap pelaksanaan tugas kesehatan keluarga. Kesimpulan penelitian ini adalah health literacy berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan tugas kesehatan keluarga dalam merawat lansia hipertensi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan untuk memperkuat peran keluarga dalam perawatan lansia.</p> <p><em>Hypertension is a non-communicable disease commonly experienced by the elderly and requires long-term care within the family environment. The success of hypertension management is strongly influenced by the family’s ability to understand and utilize health information (health literacy). This study aimed to determine the effect of health literacy on the implementation of family health tasks in caring for elderly patients with hypertension in Talumelito Village. This study used a quantitative design with a quasi-experimental approach and a one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 38 families with elderly members suffering from hypertension, selected using purposive sampling. Data were collected using health literacy and family health task questionnaires and analyzed using the Paired t-test. The results showed an increase in health literacy from moderate to high category (63.2%) and an improvement in family health task implementation in the good category (71.1%). Statistical analysis showed a significant effect (p = 0.000 &lt; 0.05). In conclusion, health literacy significantly influences the implementation of family health tasks in caring for elderly individuals with hypertension. Therefore, continuous health education is needed to strengthen the family’s role.</em></p> Patra Pomalingo, Rona Febriona, Andi Nur Aina Sudirman Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20726 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH KOMBINASI ULTRASOUND (US) DAN QUADRICEPS SETTING EXERCISE TERHADAP NILAI NYERI LUTUT PADA PASIEN OA GENU BILATERAL DI RSUD JOMBANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20495 <p>Latar Belakang : Osteoartritis lutut bilateral (OA) adalah penyakit sendi degeneratif yang sering dialami oleh orang lanjut usia dan ditandai dengan nyeri lutut yang dapat mengganggu aktivitas fungsional sehari-hari. Pengelolaan non-farmakologis melalui terapi fisik, khususnya kombinasi terapi ultrasonik (US) dan latihan penguatan otot quadriceps, diketahui memiliki potensi untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi lutut. Studi ini bertujuan untuk menentukan efek kombinasi terapi ultrasonik (US) dan latihan penguatan otot quadriceps terhadap skor nyeri lutut pada pasien dengan osteoartritis lutut bilateral di Rumah Sakit Umum Daerah Jombang. Metode : Penelitian ini menggunakan desain one-group pretest-posttest serta studi pra-eksperimental. Sampling purposif digunakan untuk memilih 30 pasien dengan osteoartritis lutut bilateral sebagai sampel. Selama empat minggu, pengobatan meliputi latihan penguatan otot quadriceps dan ultrasonografi dua kali seminggu. Skala Penilaian Numerik (NRS) digunakan untuk mengukur nyeri. Uji Wilcoxon Signed Rank digunakan untuk pengujian hipotesis, sedangkan uji Shapiro-Wilk digunakan untuk menguji normalitas data. Hasil: Sebelum intervensi, skor nyeri lutut rata-rata adalah 6,65; setelah intervensi, skornya menjadi 4,17. Uji Wilcoxon digunakan untuk uji hipotesis karena hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data tidak normal (p &lt; 0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan pada skor nyeri sebelum dan setelah intervensi, berdasarkan hasil uji Wilcoxon yang menunjukkan nilai Z sebesar -4,315 dengan p = 0,000 (p &lt; 0,05). Kesimpulan: Kombinasi terapi ultrasonik (US) dan latihan penguatan otot quadriceps memiliki efek signifikan dalam mengurangi nyeri lutut pada pasien dengan osteoartritis lutut bilateral, sehingga dapat direkomendasikan sebagai intervensi fisioterapi non-farmakologis dalam pengelolaan osteoartritis lutut.</p> <p><em>Background: Bilateral knee osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease commonly experienced by the elderly and characterized by knee pain that can interfere with daily functional activities. Non-pharmacological management through physical therapy, particularly a combination of ultrasound (US) and quadriceps setting exercises, is known to have the potential to reduce pain and improve knee function. This study aims to determine the effect of a combination of ultrasound (US) and quadriceps setting exercises on knee pain scores in patients with bilateral knee osteoarthritis at Jombang Regional General Hospital.Methods: This study uses a one-group pretest-posttest design and pre-experimental study. Purposive sampling was used to choose 30 patients with bilateral knee osteoarthritis for the sample. For four weeks, the treatments included quadriceps setting exercises and ultrasonography twice a week. The Numeric Rating Scale (NRS) was used to gauge pain. The Wilcoxon Signed Rank Test for hypothesis testing and the Shapiro-Wilk test for normality were used in data analysis.Results: Prior to the intervention, the average knee pain score was 6.65; following the intervention, it was 4.17. The Wilcoxon test was used for the hypothesis test since the Shapiro-Wilk normality test findings indicated that the data was not normal (p &lt; 0.05). There was a significant difference in the pain scores before and after the intervention, according to the Wilcoxon test results, which showed a Z value of -4.315 with p = 0.000 (p &lt; 0.05).Conclusion: The combination of ultrasound (US) and quadriceps setting exercises has a significant effect on reducing knee pain in patients with bilateral knee osteoarthritis, so it can be recommended as a non-pharmacological physiotherapy intervention in the management of knee osteoarthritis.</em></p> Purnomo Hadi, Achmad Fariz, Nurul Halimah, Yohanes Deo Fau Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20495 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000 ANALISIS EFEKTIVITAS KEBIJAKAN KELAS RAWAT INAP STANDAR (KRIS) DALAM MENJAMIN EKUITAS PELAYANAN KESEHATAN JKN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20393 <p>Latar Belakang: Implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) merupakan transformasi fundamental dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk menghapus segmentasi sosial dan mendorong ekuitas dalam pelayanan rawat inap. Tujuan: Penelitian ini menganalisis efektivitas kebijakan KRIS dengan mengevaluasi kesiapan infrastruktur rumah sakit dan potensi kendala operasional. Metode: Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan memanfaatkan studi dokumen dan analisis kebijakan terhadap regulasi pemerintah, laporan evaluasi, serta literatur akademik terkait periode 2020–2025. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa standarisasi 12 kriteria KRIS secara efektif meningkatkan kualitas fasilitas fisik dan keselamatan pasien. Namun, tantangan signifikan tetap ada terkait potensi penurunan tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) sebesar 15-20% serta disparitas finansial antara rumah sakit pemerintah dan swasta. Kesimpulan: Meskipun KRIS efektif sebagai instrumen ekuitas kesehatan secara fisik, keberhasilan di tingkat makro bergantung pada penyesuaian regulasi tarif INA-CBGs, masa transisi yang fleksibel, dan subsidi infrastruktur bagi rumah sakit tipe rendah untuk mencegah kesenjangan aksesibilitas.</p> <p><em>Background: The implementation of the Standardized Inpatient Class (KRIS) represents a fundamental transformation in Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system. This policy aims to eliminate social segmentation and promote equity in inpatient services. Objective: This study analyzes the effectiveness of the KRIS policy by evaluating hospital infrastructure readiness and potential operational constraints. Methods: A qualitative descriptive method was employed, utilizing document studies and policy analysis of government regulations, evaluation reports, and relevant academic literature from 2020–2026. Results: The findings indicate that the standardization of the 12 KRIS criteria effectively improves the quality of physical facilities and patient safety. However, significant challenges remain regarding a potential 15-20% reduction in Bed Occupancy Rate (BOR) and financial disparities between public and private hospitals. Conclusion: While KRIS is effective as an instrument for physical health equity, its macro-level success depends on adjusted INA-CBGs tariff regulations, flexible transition periods, and infrastructure subsidies for lower-tier hospitals to prevent accessibility gaps.</em></p> Adelheid Loraine Erensina Rumbiak, Siwindah Mumpuni Tyaswiharti, Dewi Sriwahyuni, Budi Hartono Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20393 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH KOMBINASI MYOFACIAL RELEASE DAN WILLIAM FLEXI EXERCISE TERHADAP PENURUNAN NILAI NYERI PADA LOW BACK PAIN MYOGENIK DI WM CENTER BANDUNG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20534 <p>Latar Belakang: Low Back Pain (LBP) merupakan gangguan muskuloskeletal yang umum terjadi pada individu usia produktif dan seringkali menyebabkan keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu jenis yang paling sering terjadi adalah LBP miogenik, yang disebabkan oleh ketegangan otot akibat postur statis yang berkepanjangan dan aktivitas yang tidak ergonomis. Intervensi fisioterapi seperti Myofascial Release dan William Flexi Exercise sering digunakan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi pada pasien dengan LBP. Studi ini bertujuan untuk menentukan efek kombinasi Myofascial Release dan William Flexion Exercise terhadap pengurangan nyeri pada pasien dengan nyeri punggung bawah miogenik di WM Center Bandung. Metode: Studi ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah pasien yang didiagnosis dengan nyeri punggung bawah miogenik yang memenuhi kriteria inklusi, dengan total 20 responden dari populasi 80. Intensitas nyeri diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan Skala Penilaian Numerik (NRS). Intervensi terdiri dari Myofascial Release dan William's Flexion Exercise, yang diberikan sesuai dengan prosedur fisioterapi. Hasil: Hasil menunjukkan penurunan intensitas nyeri setelah intervensi, sebagaimana ditunjukkan oleh skor NRS pasca-tes yang lebih rendah dibandingkan dengan pengukuran pra-tes. Kesimpulan: Kombinasi antara Myofascial Release dan William Flexion Exercise efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien dengan nyeri punggung bawah miogenik dan dapat dipertimbangkan sebagai intervensi fisioterapi dalam praktik klinis.</p> <p><em>Background: Low Back Pain (LBP) is a common musculoskeletal disorder among individuals of productive age and often leads to limitations in daily activities. One of the most frequent types is myogenic Low Back Pain, which is caused by muscle tension due to prolonged static postures and non-ergonomic activities. Physiotherapy interventions such as Myofascial Release and William’s Flexion Exercise are commonly used to reduce pain and improve function in patients with LBP. This study aimed to determine the effect of a combination of Myofascial Release and William’s Flexion Exercise on pain reduction in patients with myogenic Low Back Pain at WM Center Bandung. Methods: This study used a pre-experimental design with a single group pre-test and post-test approach. The research subjects were patients diagnosed with myogenic low back pain who met the inclusion criteria, totaling 20 respondents from a population of 80. Pain intensity was measured before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). The intervention consisted of Myofascial Release and William's Flexion Exercise, which were administered according to physiotherapy procedures. Results: The results showed a decrease in pain intensity after the intervention, as indicated by lower posttest NRS scores compared to pretest measurements. Conclusion: The combination of Myofascial Release and William’s Flexion Exercise is effective in reducing pain in patients with myogenic Low Back Pain and can be considered as a physiotherapy intervention in clinical practice.</em></p> Selviana Hendarti , Achmad Fariz, Agung Hadi Endaryanto, Sartoyo Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20534 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN FLAT FOOT PADA USIA DEWASA DENGAN KESEIMBANGAN STATIS PADA KAKI DOMINAN DI KLINIK THERAPOP TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20454 <p>Flat foot merupakan salah satu kelainan biomekanik pada ekstremitas bawah yang ditandai dengan penurunan lengkung longitudinal medial kaki. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi penopang tubuh, distribusi tekanan plantar, serta mekanisme kontrol postural sehingga berpotensi menimbulkan gangguan keseimbangan statis maupun dinamis. Pada usia dewasa, aktivitas fungsional yang tinggi menuntut kemampuan keseimbangan optimal, sehingga gangguan struktur lengkung kaki dapat berdampak pada stabilitas tubuh dan risiko cedera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat flat foot terhadap keseimbangan statis dan dinamis pada usia dewasa di Klinik Therapop. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 52 responden usia dewasa yang diperoleh melalui teknik total sampling sesuai kriteria inklusi. Flat foot diukur menggunakan Navicular Drop Test dan keseimbangan statis diukur menggunakan Single Leg Stance Test. Analisis data dilakukan menggunakan uji Saperman Rank. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara derajat flat foot dan keseimbangan statis dengan nilai r = -0,462 dan p = 0,000 (p&lt;0,05). Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi derajat flat foot maka keseimbangan statis cenderung menurun. Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat flat foot dengan keseimbangan statis usia dewasa pada kaki dominan di Klinik Therapop. Semakin tinggi derajat flat foot, maka perubahan kemampuan keseimbangan statis semakin nyata.</p> <p><em>Flat foot is a biomechanical disorder of the lower extremity characterized by a decreased or collapsed medial longitudinal arch. This condition may alter plantar pressure distribution and impair postural control mechanisms, which can lead to disturbances in both static and dynamic balance. In adulthood, optimal balance is essential to support daily functional activities and reduce the risk of injury. Therefore, this study aimed to determine the relationship between the degree of flat foot and static as well as dynamic balance among adults at Therapop Clinic. This study was a quantitative observational study with a correlational design. The sample consisted of 52 adult respondents, obtained through total sampling technique according to the inclusion criteria. Flat feet were measured using the Navicular Drop Test and static balance was measured using the Single Leg Stance Test. Data analysis was performed using the Saperman Rank test. Spearman's correlation test results showed a significant relationship between the degree of flatfoot and static balance, with an r value of -0.462 and p value of 0.000 (p&lt;0.05). This indicates that the higher the degree of flatfoot, the lower the static balance. There was a significant correlation between the degree of flatfoot and static balance in adults with the dominant foot at the Therapop Clinic. The higher the degree of flatfoot, the more pronounced the change in static balance ability.</em></p> Robiatun Amaliyah Rantih, Widiya Saryani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/20454 Mon, 30 Mar 2026 00:00:00 +0000