Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Tue, 29 Sep 2026 19:16:28 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 THE RELATIONSHIP BETWEEN FIBROBLAST GROWTH FACTOR-2 (FGF2) LEVELS AND THE INCIDENCE OF EYE TUMORS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26049 <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Ocular tumors are rare conditions that may pose a threat to vision and life. They encompass various types, including intraocular and extraocular tumors, which may be either benign or malignant. Fibroblast Growth Factor-2 (FGF2) is a potent pro-angiogenic factor suspected to play a critical role in tumor pathogenesis, including ocular tumors, due to its ability to stimulate tumor cell proliferation and neovascularization. <strong>Methods</strong>: This observational study employed a case-control design and was conducted at Prof. Dr. Chairuddin P. Lubis Hospital, Universitas Sumatera Utara, and its affiliated network hospitals. Study subjects consisted of patients diagnosed with ocular tumors (both benign and malignant) and healthy controls. Serum levels of FGF2 were measured using the ELISA method. Statistical analyses were performed using SPSS software version 24.0. <strong>Results</strong>: A total of 38 patients were included in the study, with 65.8% being female. The mean age of participants was within the fifth decade of life. FGF2 levels were significantly higher in the tumor group compared to the control group (p = 0.04). Furthermore, FGF2 levels were significantly elevated in patients with malignant tumors compared to those with benign tumors (p = 0.001), indicating a correlation between elevated FGF2 levels and tumor malignancy. <strong>Conclusion</strong>: There is a significant association between FGF2 levels and the occurrence of ocular tumors. FGF2 also has potential as a biomarker to differentiate between benign and malignant ocular tumors.</em></p> Destrie Cindy Nadhila, Rodiah Rahmawaty Lubis, Fithria Aldy Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26049 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH TERAPI OKUPASI MOTORIK HALUS MENGGUNTING DAN MENEMPEL TERHADAP KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK DI SLBN PURWOSARI KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27131 <p>Perkembangan anak mencakup aspek kognitif, sosial, dan emosional. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki proses pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda dari anak normal, sehingga memerlukan layanan khusus, terutama dalam interaksi sosial yang sering tgerhambat seperti kontak mata, komunikasi, dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi okupasi menggunting dan menempel terhadap kemampuan interaksi sosial anak di SLBN Purwosari Kudus. Penelitian ini menggunakan desain Quasy-eksperiment dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 68 responden yang terbagi menjadi 34 responden kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan penelitian ini adalah lembar observasi Kemampuan interaksi sosial anak berkebutuhan khusus&nbsp; berdasarkan ATEC yang dianalisis&nbsp; enggunakan analisis univariat dan bivariat.&nbsp; Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial anak meningkat dari kategori cukup ke baik setelah interbensi diberikan. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi okupasi motorik halus menggunting dan menempel berpengaruh signifikan terhadap kemampuan interaksi sosial anak&nbsp; berebutuhan khusus dengan nilai p-value = 0,003. Hasil penelitian dapat digunakan oleh guru dan orang tua sebagai alternatif kegiatan yang dapat membantu anak mengatasi gangguan interaksi sosial. Bagi universitas muhammadiyah kudus, penelitian ini dapat digunakan sebagai penambah wawasan mengenai anak berkebutuhan khusus. Selain itu, peneliti lain dapat menjadikan penelitian ini sebagai rujukan dengan melibatkan responden yang lebih luas dan menggunakan variabel lainnya.</p> Ella Novita Sari, Anny Rosiana Mashitoh, Muhamad Jauhar Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27131 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA SISWA KELAS XI DI SMA 2 KUDUS https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26971 <p>Berikut adalah draf abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang disusun sesuai dengan standar penulisan ilmiah:Abstrak (Bahasa Indonesia)Latar Belakang: Obesitas pada usia remaja merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan jangka panjang. Faktor utama yang diduga berkontribusi terhadap masalah ini adalah pola makan yang kurang seimbang dan tingkat aktivitas fisik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada siswa kelas XI di SMA 2 Kudus. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan siswa kelas XI SMA 2 Kudus sebagai populasi. Pengumpulan data pola makan dilakukan dengan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ), aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), serta status obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian obesitas ($p &lt; 0{,}05$) serta terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas ($p &lt; 0{,}05$). Kesimpulan: Pola makan yang tidak seimbang dan rendahnya aktivitas fisik berhubungan erat dengan peningkatan risiko obesitas pada remaja. Disarankan bagi pihak sekolah dan orang tua untuk mempromosikan pola hidup sehat dan menyediakan fasilitas aktivitas fisik yang memadai.</p> <p><em>Background: Adolescent obesity is a growing global health issue that can lead to various long-term health complications. The primary factors contributing to this condition are unbalanced dietary patterns and low physical activity levels. Objective: This study aims to analyze the correlation between dietary patterns and physical activity with the incidence of obesity among 11th-grade students at SMA 2 Kudus. Methods: This quantitative study used a cross-sectional design involving 11th-grade students at SMA 2 Kudus as the population. Dietary patterns were evaluated using the Food Frequency Questionnaire (FFQ), physical activity levels were assessed using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and obesity status was determined based on Body Mass Index-for-age (BMI-for-age). Data were analyzed using the Chi-Square statistical test. Results: The findings revealed a significant relationship between dietary patterns and the incidence of obesity ($p &lt; 0.05$), as well as a significant relationship between physical activity and obesity ($p &lt; 0.05$). Conclusion: Unbalanced dietary patterns and low physical activity are strongly associated with an increased risk of adolescent obesity. Schools and parents are advised to promote healthy lifestyle habits and provide adequate physical activity support.</em></p> Ananda Putri Pratama Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26971 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN POLA MAKAN DAN KONSUMSI MINUMAN BERKAFEIN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA MAHASISWA DI STIKES MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26950 <p>Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami mahasiswa akibat pola makan yang tidak teratur dan kebiasaan mengonsumsi minuman berkafein. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan dan konsumsi minuman berkafein dengan kejadian gastritis pada mahasiswa semester 6 STIKes Maharani Malang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 responden (54,2%) memiliki pola makan tidak baik, 54 responden (56,3%) mengonsumsi minuman berkafein dalam kategori tinggi, dan 49 responden (51,0%) mengalami gastritis. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian gastritis (p=0,000; r=0,356) serta antara konsumsi minuman berkafein dengan kejadian gastritis (p=0,002; r=0,308). Kedua variabel memiliki kekuatan hubungan lemah dengan arah hubungan positif. Disimpulkan bahwa semakin tidak baik pola makan dan semakin tinggi konsumsi minuman berkafein, semakin besar kemungkinan mahasiswa mengalami gastritis. Mahasiswa diharapkan menerapkan pola makan yang teratur dan membatasi konsumsi minuman berkafein sebagai upaya pencegahan gastritis.</p> <p><em>Gastritis is one of the most common gastrointestinal disorders experienced by university students due to irregular eating habits and frequent consumption of caffeinated beverages. This study aimed to determine the relationship between dietary patterns and caffeinated beverage consumption with the incidence of gastritis among sixth-semester nursing students at STIKes Maharani Malang. A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted involving 96 respondents selected through stratified random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Spearman Rank correlation test. The findings showed that most respondents had poor dietary patterns (54.2%), high caffeinated beverage consumption (56.3%), and experienced gastritis (51.0%). Statistical analysis revealed a significant relationship between dietary patterns and gastritis incidence (p=0.000; r=0.356) and between caffeinated beverage consumption and gastritis incidence (p=0.002; r=0.308). Both variables demonstrated weak positive correlations, indicating that poorer dietary habits and higher caffeinated beverage consumption were associated with an increased risk of gastritis. It can be concluded that dietary patterns and caffeinated beverage consumption are significantly associated with the incidence of gastritis among sixth-semester nursing students at STIKes Maharani Malang. Therefore, maintaining regular eating habits and limiting caffeinated beverage intake are recommended to help prevent gastritis.</em></p> Nikmatul Maula, Sena Wahyu Purwanza Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26950 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 KETAHANAN PEMBIAYAAN KESEHATAN DALAM MENDUKUNG SUSTAINABILITY JKN: FRAUD, UTILITAS, PEMBAYARAN PROVIDER, DAN ARAH KEBIJAKAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26384 <p>Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan instrumen utama perlindungan finansial kesehatan di Indonesia. Keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh luasnya cakupan kepesertaan, tetapi juga oleh kemampuan sistem menjaga keseimbangan pembiayaan, mengendalikan biaya, memastikan ketepatan sasaran subsidi, mengoptimalkan mekanisme pembayaran provider, dan mencegah fraud serta moral hazard. Artikel ini bertujuan menyintesiskan materi kelompok mengenai struktur dan tantangan implementasi JKN, utilitas asuransi kesehatan, pembayaran provider, digitalisasi, analisis kebijakan, dan strategi ketahanan pembiayaan. Metode yang digunakan adalah kajian naratif-deskriptif terhadap materi perkuliahan, regulasi, publikasi kelembagaan, teori ekonomi kesehatan, dan pendapat ahli yang telah dihimpun dalam naskah kelompok. Hasil kajian menunjukkan bahwa tekanan pembiayaan JKN berkaitan dengan peningkatan pemanfaatan layanan, penyakit berbiaya tinggi, kepatuhan iuran, ketepatan sasaran PBI, ketimpangan fasilitas kesehatan, serta risiko fraud. Perspektif Hasbullah Thabrany, Nailul Huda, Timbul Siregar, dan Febriansyah Budi Pratama memperkuat pentingnya disiplin iuran, transparansi data, pengendalian moral hazard, penegakan anti-fraud, perlindungan finansial, dan penguatan pelayanan primer. Ketahanan pembiayaan perlu didukung strategic purchasing, pembayaran provider yang berorientasi mutu dan efisiensi, Health Technology Assessment, digitalisasi, penguatan promotif-preventif, integrasi data, serta tata kelola yang akuntabel. Dengan strategi tersebut, sustainability JKN dapat dijaga tanpa mengurangi prinsip gotong royong, keadilan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.</p> <p><em>The National Health Insurance (JKN) program is the primary instrument for health financial protection in Indonesia. The program's sustainability depends not only on the breadth of membership coverage but also on the system's ability to maintain financial balance, control costs, ensure accurate subsidy targeting, optimize provider payment mechanisms, and prevent fraud and moral hazard. This article aims to synthesize group materials regarding the structure and implementation challenges of JKN, health insurance utilization, provider payment, digitalization, policy analysis, and financing resilience strategies. A narrative-descriptive review method was employed, analyzing lecture materials, regulations, institutional publications, health economics theories, and expert opinions compiled in the group manuscript. The findings indicate that financial pressures on JKN are linked to increased service utilization, high-cost diseases, contribution compliance, the accurate targeting of subsidized members (PBI), disparities in health facilities, and fraud risks. Perspectives from Hasbullah Thabrany, Nailul Huda, Timbul Siregar, and Febriansyah Budi Pratama underscore the importance of contribution discipline, data transparency, moral hazard control, anti-fraud enforcement, financial protection, and the strengthening of primary care. Financing resilience requires support through strategic purchasing, quality- and efficiency-oriented provider payments, Health Technology Assessment, digitalization, the strengthening of promotive and preventive services, data integration, and accountable governance. Through these strategies, JKN sustainability can be maintained without compromising the principles of mutual assistance (*gotong royong*), equity, and access to necessary healthcare services.</em></p> Mega Assyfaa Fauzia, Ria Rosjayanti, Laila Dwi Nur Arfah, Amelia Nopia Agus, Tubagus Mumtaz Elfikri, Nugroho Dwi Atmojo, Moh. Saleh Al-Amin Raja Alam, Zeny Dermawan, Nurmala Dewi Ria Lestari, Budi Hartono Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26384 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 ANALISIS SPASIAL SEBARAN PENYAKIT KUSTA DAN KONFIRMASI EMPAT FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI PUSKESMAS RIAM DURIAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27471 <p>Kusta (Hansen’s disease) merupakan penyakit menular kronis yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, meskipun secara nasional telah mencapai status eliminasi. Distribusi kasus yang tidak merata menunjukkan adanya pengaruh faktor lingkungan, demografi, dan sosial ekonomi terhadap pola penularan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran spasial penyakit kusta serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Riam Durian, Kabupaten Kotawaringin Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan deskriptif observasional berbasis analisis spasial. Data kasus kusta tahun 2025 diperoleh dari laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat dan dianalisis berdasarkan unit wilayah puskesmas menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi pola distribusi, klaster, dan hotspot kasus kusta serta keterkaitannya dengan kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi, akses pelayanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran kasus kusta tidak merata dan cenderung membentuk pola mengelompok (clustered), dengan konsentrasi kasus tertinggi di wilayah Puskesmas Riam Durian, Madurejo, dan Kumai. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan dan sosial berperan dalam mempertahankan transmisi kusta di wilayah endemik. Analisis spasial berbasis SIG memberikan gambaran visual dan epidemiologis yang komprehensif serta bermanfaat dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan intervensi eliminasi kusta yang lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan di tingkat pelayanan kesehatan primer.</p> <p><em>Leprosy (Hansen's disease) is a chronic infectious disease that remains a public health problem in Indonesia, despite having achieved national elimination status. The uneven distribution of cases indicates the influence of environmental, demographic, and socioeconomic factors on disease transmission patterns. This study aims to analyze the spatial distribution of leprosy and identify factors associated with leprosy incidence in the Riam Durian Community Health Center (Puskesmas) working area, West Kotawaringin Regency. This study used an ecological study design with a descriptive observational approach based on spatial analysis. Data on leprosy cases in 2025 were obtained from reports from the West Kotawaringin Regency Health Office and analyzed based on community health center area units using a Geographic Information System (GIS). The analysis was conducted to identify distribution patterns, clusters, and hotspots of leprosy cases and their relationship to population density, socioeconomic conditions, access to health services, and environmental sanitation. The results showed that the distribution of leprosy cases was uneven and tended to form a clustered pattern, with the highest concentration of cases in the Riam Durian, Madurejo, and Kumai Community Health Center areas. These findings indicate that environmental and social factors play a role in maintaining leprosy transmission in endemic areas. GIS-based spatial analysis provides a comprehensive visual and epidemiological overview and is useful for supporting evidence-based decision-making. This research is expected to provide a basis for planning more targeted, effective, and sustainable leprosy elimination interventions at the primary healthcare level.</em></p> Sofyan Toni, Fajar Saputra Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27471 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN DURASI BERMAIN HANDPHONE TERHADAP KESEHATAN MATA PADA SISWA KELAS 3 DI SDN BAKALAN KRAJAN 1 SUKUN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27030 <p>Penggunaan handphone dikalangan anak usia sekolah semakin meningkat dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan mata, salah satunya kelelahan mata atau Computer Vision Syndrome (CVS) akibat paparan layar dan sinar biru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi bermain handphone terhadap kesehatan mata pada siswa kelas 3 di SDN Bakalan Krajan 1 Sukun Malang. Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-<em>sectional</em>. Populasi penelitian seluruh siswa kelas 3 berjumlah 63 siswa dengan teknik total sampling sehingga sampel berjumlah 63 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner durasi bermain handphone dan kesehatan mata (OSDI). Analisis data bivariate menggunakan uji statistik <em>Spearman Rank</em> pada tingkat signifikan p-value &lt;0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki durasi bermain handphone dalam kategori sedang sebanyak 45 siswa (71,4%) dan kondisi kesehatan mata dengan keluhan ringan sebanyak 29 siswa (46,0%). Hasil uji <em>Spearman Rank</em> menunjukkan nilai p-value 0,001, artinya terdapat hubungan signifikan. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,447, artinya kekuatan hubungan positif sedang. Terdapat hubungan yang positif sedang dan bermakna antara durasi bermain handphone dengan kesehatan mata, mengindikasi bahwa siswa yang memiliki kebiasaan bermain handphone cenderung sedang, namun masih di dalam batas normal. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengawasan lebih ketat pada anak untuk menggunakan handphone dalam batas normal. Diharapkan sekolah dan orang tua lebih aktif mengawasi serta membatasi durasi penggunaan handphone pada anak guna mencegah gangguan kesehatan mata lebih lanjut.</p> <p><em>The use of smartphones among school-aged children increases and has the potential to cause various eye health problems, one of which is eye fatigue or Computer Vision Syndrome (CVS) due to screen and blue light exposure. This study aimed to determine the relationship between smartphone playing duration and eye health among third-grade students at SDN Bakalan Krajan 1 Sukun Malang. This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The population comprised all 63 third-grade students, and total sampling was utilized, resulting in a sample of 63 respondents. Data were collected using questionnaires for smartphone playing duration and eye health (OSDI). Bivariate data analysis was performed using the Spearman Rank statistical test at a significance level of p-value &lt; 0.05. The results showed that the majority of respondents had a moderate smartphone playing duration, accounting for 45 students (71.4%), and most experienced mild eye health complaints, totaling 29 students (46.0%). The Spearman Rank test yielded a p-value of 0.001, which indicated a significant relationship. The correlation coefficient value was 0.447, which meant a moderate positive relationship strength. There was a moderate positive and meaningful relationship between smartphone playing duration and eye health, which indicated that students who had a moderate smartphone playing habit were still within normal limits. Based on these results, further examination and closer parental supervision regarding normal smartphone usage limits were required. Schools and parents are expected to actively supervise and limit children's smartphone usage duration in order to prevent further eye health disorders.</em></p> Wiji Lestari, Sismala Harningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/27030 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN PENGGUNAAN GADGET DENGAN INTERAKSI SOSIAL ANAK USIA PRASEKOLAH DI KB/BA ARAFAH MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26969 <p>Penggunaan gadget pada anak usia prasekolah semakin meningkat seiring perkembangan teknologi digital. Penggunaan gadget yang berlebihan dan tanpa pengawasan dapat memengaruhi perkembangan sosial anak, terutama dalam kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan interaksi sosial anak usia prasekolah di KB/BA Arafah Malang.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian terdiri dari 38 anak usia prasekolah beserta orang tuanya, dengan teknik total sampling sehingga seluruh populasi dijadikan sampel. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner penggunaan gadget dan interaksi sosial. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan gadget dengan interaksi sosial anak usia prasekolah. Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai ρ value = 0,001 (&lt; 0,05) dengan koefisien korelasi r = -0,669 yang menunjukkan hubungan negatif dengan kekuatan hubungan yang kuat. Semakin tinggi penggunaan gadget, semakin rendah tingkat interaksi sosial anak usia prasekolah. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan gadget berhubungan dengan interaksi sosial anak usia prasekolah di KB/BA Arafah Malang. Oleh karena itu, orang tua perlu membatasi durasi penggunaan gadget sesuai usia anak, melakukan pendampingan saat penggunaan gadget, serta mengawasi konten yang diakses agar perkembangan interaksi sosial anak dapat berlangsung secara optimal.</p> <p><em>The use of gadgets among preschool children has increased significantly along with the rapid development of digital technology. Excessive and unsupervised gadget use may affect children's social development, particularly their ability to interact with others in their environment. This study aimed to determine the relationship between gadget use and social interaction among preschool children at KB/BA Arafah Malang. This study employed a quantitative research design with a cross-sectional approach. The population consisted of 38 preschool children and their parents. A total sampling technique was used, in which all members of the population were included as research participants. Data were collected using questionnaires on gadget use and social interaction. Data analysis was conducted using the Spearman Rank test with a significance level of α = 0.05. The results showed a significant relationship between gadget use and social interaction among preschool children. The Spearman Rank test revealed a p-value of 0.001 (&lt; 0.05) with a correlation coefficient of r = -0.669, indicating a strong negative relationship. Higher levels of gadget use were associated with lower levels of social interaction among preschool children. In conclusion, gadget use is significantly related to the social interaction of preschool children at KB/BA Arafah Malang. Therefore, parents should limit the duration of gadget use according to the child's age, provide supervision during gadget use, and monitor the content accessed by children to support optimal social interaction development.</em></p> Putri Diniati Wilujeng Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26969 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000 EFEKTIFITAS PELAYANAN HIPERTENSI DI UPTD PUSKESMAS BANTAR KOTA TASIKMALAYA: STUDI KOHORT RETROPSEKTIF TAHUN 2024 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26460 <p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global. Efektivitas pelayanan hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama penting untuk meningkatkan pengendalian tekanan darah, kepatuhan pengobatan, dan pencegahan komplikasi pada pasien hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pelayanan hipertensi di UPTD Puskesmas Bantar Kota Tasikmalaya tahun 2024 berdasarkan ketersediaan obat, kompetensi tenaga kesehatan, dan edukasi kesehatan terhadap outcome klinis. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis dan dokumen administrasi pasien selama tahun 2024. Analisis data meliputi univariat, bivariat dengan chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Ketersediaan obat berhubungan signifikan dengan pengendalian tekanan darah (p &lt; 0,001; OR = 17,872). Kompetensi tenaga kesehatan berhubungan signifikan dengan kepatuhan pengobatan (p = 0,015; OR = 0,637), sedangkan edukasi kesehatan berhubungan signifikan dengan kejadian komplikasi (p &lt; 0,001). Variabel lainnya tidak menunjukkan hubungan signifikan secara langsung terhadap outcome klinis utama. Analisis multivariat mengonfirmasi ketersediaan obat sebagai prediktor pengendalian tekanan darah, kompetensi tenaga kesehatan terhadap kepatuhan, dan edukasi kesehatan terhadap pencegahan komplikasi.</p> <p><em>Hypertension is a noncommunicable disease that poses a global health problem and is known as a silent killer. The effectiveness of hypertension services at primary healthcare facilities is essential to improve blood pressure control, medication adherence, and complication prevention among hypertensive patients. To analyze the effectiveness of hypertension services at UPTD Bantar Public Health Center, Tasikmalaya City, in 2024 based on medication availability, healthcare worker competence, and health education in relation to clinical outcomes. This quantitative study used a retrospective cohort design with secondary data from medical records and patient administrative documents collected during 2024. The sample consisted of 654 hypertensive patients determined using the Lemeshow formula. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. Medication availability was significantly associated with blood pressure control (p &lt; 0.001; OR = 17.872). Healthcare worker competence was significantly associated with medication adherence (p = 0.015; OR = 0.637), while health education was significantly associated with the occurrence of complications (p &lt; 0.001). Other variables showed no significant direct associations with the main clinical outcomes. Multivariate analysis confirmed medication availability as a predictor of blood pressure control, healthcare worker competence of adherence, and health education of complication prevention.</em></p> Astri Trisna Dewi, Muhammad Hardantyo, Nugroho Susanto Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/26460 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0000