Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka id-ID Mon, 29 Jun 2026 18:25:49 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 HUBUNGAN KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PERSONAL HYGIENE ANAK PRASEKOLAH DI PAUD KARTIKA PRADANA KOTA MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22989 <p>Komunikasi orang tua memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan kemandirian anak, termasuk dalam kebersihan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi orang tua dan kemandirian personal hygiene anak prasekolah di PAUD Kartika Pradana, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah siswa PAUD Kartika Pradana, Kota Malang, yang terdiri dari 51 siswa, dengan sampel sebanyak 42 siswa yang dipilih menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria eksklusi adalah anak yang tidak masuk sekolah karena sakit/izin. Variabel independen dalam penelitian ini adalah komunikasi orang tua sedangkan variabel dependen adalah kemandirian personal hygiene anak prasekolah. Pengukuran komunikasi orang tua dan kemandirian persoanl hygiene pada anak prasekolah menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi orang tua dan kemandirian personal hygiene anak prasekolah di PAUD Kartika Pradana, Kota Malang dengan nilai p = 0,001 (&lt;0,05). Nilai koefisien korelasi sebesar 0,564 menunjukkan hubungan yang kuat dan positif, yang berarti semakin baik komunikasi antar orang tua, semakin tinggi tingkat kemandirian dalam kebersihan diri anak prasekolah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi orang tua dan kemandirian personal hygiene anak prasekolah di PAUD&nbsp; Kartika Pradana, Kota Malang.</p> <p><em>Parental communication plays an important role in shaping children's behavior and independence, including in personal hygiene. This study aims to determine the relationship between parental communication and independence in personal hygiene of preschool children at Kartika Pradana Early Childhood Education (PAUD) in Malang City. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The study population was 51 students at Kartika Pradana Early Childhood Education (PAUD) in Malang City, with a sample of 42 students selected using inclusion and exclusion criteria. The exclusion criteria were children who were absent from school due to illness/permission. The independent variable in this study was parental communication, while the dependent variable was independence in personal hygiene of preschool children. Measurements of parental communication and independence in personal hygiene in preschool children were carried out using a questionnaire. Data analysis was carried out univariately and bivariately using the Spearman rho correlation test. The results of this study indicate that there is a significant relationship between parental communication and independence in personal hygiene of preschool children at Kartika Pradana Early Childhood Education (PAUD) in Malang City with a p value of 0.001 (&lt;0.05). The correlation coefficient value of 0.564 indicates a strong and positive relationship, meaning that the better the communication between parents, the higher the level of independence in personal hygiene of preschool children. The conclusion of this study is that there is a significant relationship between parental communication and independence in personal hygiene of preschool children at Kartika Pradana PAUD, Malang City.</em></p> Maria Mirna Bili, Lilla Maria, Rahmawati Maulidia Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22989 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI SD NEGERI 1 NGADIREJO KECAMATAN JABUNG KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22417 <p>Pengetahuan adalah hasil dari proses mengetahui yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Sementara itu, kecemasan dalam menghadapi menarche merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan adanya ketegangan fisik, rasa khawatir, serta munculnya pikiran akan terjadi hal buruk saat menstruasi pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi menarche pada siswi SD Negeri 01 Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 50 siswi yang berusia 10-19 tahun yang diambil menggunakan teknik total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan tentang menarche, sedangkan variabel dependennya adalah tingkat kecemasan dalam menghadapi menarche. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tingkat pengetahuan dan kuesioner tingkat kecemasan (ZSAS). Analisis data menggunakan Uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden, yaitu 33 siswi (66,0%), memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup, dan sebagian besar responden, yaitu 29 siswi (58,0%), mengalami kecemasan kategori ringan. Berdasarkan hasil uji statistik Spearman Rank diperoleh nilai p &lt; 0,05 dan r = -0,426. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat hubungan negatif dengan kekuatan sedang antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi menarche pada siswi SD Negeri 01 Ngadirejo. Namun, pada penelitian ini ditemukan bahwa siswi dengan tingkat pengetahuan cukup masih dapat mengalami kecemasan ringan. Peneliti selanjutnya disarankan menggunakan metode penelitian kualitatif agar dapat menggali lebih mendalam pengalaman, perasaan, dan faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan siswi dalam menghadapi menarche.</p> <p><em>Knowledge is the result of the process of knowing that occurs after someone senses an object. Meanwhile, anxiety in facing menarche is an emotional condition characterized by physical tension, worry, and thoughts of bad things happening during the first menstruation. This study aims to analyze the relationship between knowledge levels and anxiety levels in facing menarche among female students at SD Negeri 01 Ngadirejo, Jabung District, Malang Regency. The method used is a quantitative correlational approach with a cross-sectional approach. The sample consisted of 50 female students aged 10-19 years old who were taken using a total sampling technique. The independent variable in this study was the level of knowledge about menarche, while the dependent variable was the level of anxiety in facing menarche. Data collection instruments were a knowledge level questionnaire and an anxiety level questionnaire (ZSAS). Data analysis used the Spearman Rank Test. The results showed that the majority of respondents, namely 33 female students (66.0%), had a sufficient level of knowledge, and the majority of respondents, namely 29 female students (58.0%), experienced mild anxiety. Based on the results of the Spearman Rank statistical test, the p value was obtained &lt;0.05 and r = -0.426. Thus, it can be concluded that there is a negative relationship with moderate strength between the level of knowledge and the level of anxiety in facing menarche in SD Negeri 01 Ngadirejo students. However, this study found that students with a sufficient level of knowledge can still experience mild anxiety. Future researchers are advised to use qualitative research methods to explore more deeply the experiences, feelings, and factors that influence students' anxiety in facing menarche.</em></p> Anisa Roihanah, Puguh Raharjo Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22417 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN STATUS TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA SEMESTER VI PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN STIKES MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23420 <p>Kualitas tidur yang buruk berpotensi mengganggu regulasi kardiovaskular melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis dan kadar hormon stres sehingga memengaruhi tekanan darah. Permasalahan ini banyak dijumpai pada mahasiswa keperawatan yang menghadapi tuntutan akademik tinggi, jadwal tidak teratur, dan kebiasaan penggunaan gadget hingga larut malam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kualitas tidur dengan status tekanan darah pada mahasiswa Semester VI Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Maharani Malang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh mahasiswa semester VI Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Maharani Malang sebanyak 120 orang. Sampel berjumlah 120 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Analisis data mencakup analisis univariat dengan distribusi frekuensi mahasiswa memiliki kualitas tidur buruk (85 orang, 70,8%) dan baik (35 orang, 29,2%). Mahasiswa dengan kualitas tidur baik cenderung memiliki tekanan darah normal (29 orang), sedangkan yang kualitas tidurnya buruk mayoritas mengalami prehipertensi (36 orang) dan hipertensi (35 orang). Analisis bivariat dengan uji Chi-square (α=0,05) menunjukkan nilai X² = 50,666 dengan p = 0,000 (p &lt; 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan status tekanan darah.Kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatis dan hormon stres sehingga memicu peningkatan tekanan darah. Tingginya proporsi mahasiswa dengan kualitas tidur buruk dipengaruhi beban akademik, pola tidur tidak teratur, dan penggunaan gadget berlebihan. Kesimpulan terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dengan status tekanan darah pada mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kebiasaan tidur yang sehat serta pemantauan tekanan darah secara rutin guna mencegah terjadinya komplikasi kardiovaskular sejak dini.</p> <p><em>Poor sleep quality has the potential to disrupt cardiovascular regulation through increased sympathetic nervous system activity and stress hormone levels, thereby affecting blood pressure. This problem is commonly found among nursing students who face high academic demands, irregular schedules, and excessive gadget use late at night. This study aimed to analyze the relationship between sleep quality and blood pressure status among sixth semester students of the Bachelor of Nursing Study Program at STIKes Maharani Malang. This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The population consisted of all sixth-semester nursing undergraduate students at STIKes Maharani Malang, totaling 120 students. The sample included 120 respondents selected using a total sampling technique. Data analysis included univariate analysis with frequency distribution, showing that most students had poor sleep quality (85 students, 70.8%), while 35 students (29.2%) had good sleep quality. Students with good sleep quality tended to have normal blood pressure (29 students), whereas those with poor sleep quality mostly experienced prehypertension (36 students) and hypertension (35 students). Bivariate analysis using the Chi-square test (α = 0.05) showed a value of X² = 50.666 with p = 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between sleep quality and blood pressure status. Poor sleep quality can increase sympathetic nervous system activity and stress hormones, thereby triggering elevated blood pressure. The high proportion of students with poor sleep quality is influenced by academic workload, irregular sleep patterns, and excessive gadget use. In conclusion, there is a significant relationship between sleep quality and blood pressure status among students. Therefore, efforts to improve healthy sleep habits and routine blood pressure monitoring are necessary to prevent early cardiovascular complications.</em></p> Wilda Kurniawati, Ns. Mangsur M Nur Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23420 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE REMAJA PUTRI SAAT MENSTRUASI KELAS 8 DI MTS HASYIM ASY’ARI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22908 <p>Menstruasi merupakan proses fisiologis yang dialami remaja putri sehingga diperlukan pengetahuan yang baik mengenai personal hygiene untuk menjaga kesehatan reproduksi. Kurangnya pengetahuan dapat memengaruhi perilaku personal hygiene saat menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku personal hygiene remaja putri saat menstruasi kelas 8 di MTs Hasyim Asy’ari Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 33 responden dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan kuesioner perilaku, dengan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja putri (75,7%) memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup dan lebih dari setengah responden (69,6%) memiliki perilaku personal hygiene kategori cukup. Analisis menghasilkan nilai koefisien korelasi r = 0,774 dengan signifikansi p = 0,001 (p &lt; 0,05), sehingga hipotesis alternatif diterima. Nilai koefisien korelasi menunjukkan bahwa kekuatan hubungan berada pada kategori sedang dengan arah hubungan positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku personal hygiene remaja putri saat menstruasi di MTs Hasyim Asy’ari Malang. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan perilaku personal hygiene remaja putri saat menstruasi.</p> <p><em>Menstruation is a physiological process experienced by adolescent girls, therefore good knowledge regarding personal hygiene is needed to maintain reproductive health. Lack of knowledge may affect personal hygiene behavior during menstruation. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and personal hygiene behavior among eighth grade adolescent girls during menstruation at MTs Hasyim Asy’ari Malang. This study used a quantitative approach with a cross sectional correlation design. The sample consisted of 33 respondents selected using total sampling technique. The research instruments were knowledge questionnaires and behavior questionnaires, while data analysis used the Spearman Rank correlation test through SPSS. The results showed that most adolescent girls (75,7%) had a moderate level of knowledge and more than half of the respondents (69,6%) had moderate personal hygiene behavior. The analysis showed a correlation coefficient value of r = 0.774 with a significance value of p = 0.001 (p &lt; 0.05), therefore the alternative hypothesis was accepted. The correlation coefficient value indicated that the strength of the relationship was in the moderate category with a positive relationship direction. The conclusion of this study is that there is a relationship between the level of knowledge and personal hygiene behavior among adolescent girls during menstruation at MTs Hasyim Asy’ari Malang. Therefore, it is necessary to improve reproductive health education in order to enhance adolescent girls’ personal hygiene behavior during menstruation</em></p> Azzahra Salsadilla Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22908 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA SEMESTER II PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN STIKES MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23365 <p>Intensitas penggunaan smartphone yang berlebihan dapat memengaruhi perilaku akademik mahasiswa, termasuk munculnya prokrastinasi akademik. Mahasiswa sering menggunakan smartphone untuk hiburan, media sosial, dan aktivitas non-akademik lainnya sehingga mengalihkan perhatian dari tugas kuliah. Prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan menunda pengerjaan tugas yang dapat berdampak pada rendahnya prestasi belajar, meningkatnya stres, serta menurunnya motivasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 218 Mahasiswa dan sampel berjumlah 69 mahasiswa dengan menggunakan teknik sampling Proportional Random Sampling. Instrumen intensitas penggunaan smartphone dan prokrastinasi akademik dikumpulkan melalui kuesioner. Analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki intensitas penggunaan smartphone kategori sedang (43 mahasiswa; 62,3%). Tingkat prokrastinasi akademik didominasi kategori tinggi (26 mahasiswa; 37,7%). Uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,751 dengan p-value = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan kuat dan signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dan prokrastinasi akademik. Hasil statistik menunjukkan korelasi positif yang kuat, artinya peningkatan intensitas penggunaan smartphone berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik. Temuan ini sejalan dengan teori bahwa penggunaan smartphone berlebihan mengurangi fokus belajar, memicu distraksi, serta melemahkan kontrol diri. Mahasiswa semester II yang masih dalam proses adaptasi akademik lebih rentan terdistraksi oleh media sosial dan hiburan digital. Oleh karena itu, pengaturan waktu, edukasi penggunaan smartphone, dan penguatan disiplin belajar diperlukan untuk menekan perilaku prokrastinasi.</p> <p><em>Excessive smartphone use can influence students’ academic behavior, including the emergence of academic procrastination. Students often use their smartphones for entertainment, social media, and other non-academic activities, which divert their attention from coursework. Academic procrastination is the tendency to delay completing assignments, which may lead to low academic performance, increased stress, and decreased motivation. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 218 students, and the sample included 69 students selected using proportional random sampling. Instruments measuring smartphone use intensity and academic procrastination were collected through questionnaires. The relationship between variables was analyzed using the Spearman Rank test. The results showed that most students had a moderate level of smartphone use (43 students; 62.3%). The level of academic procrastination was dominated by the high category (26 students; 37.7%). The Spearman Rank test indicated a correlation coefficient of r = 0.751 with a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), meaning a strong and significant relationship exists between smartphone use intensity and academic procrastination. The statistical findings indicate a strong positive correlation, suggesting that increased smartphone use intensity is associated with a higher tendency for academic procrastination. These results align with theories stating that excessive smartphone use reduces learning focus, triggers distraction, and weakens self-control. Second-semester students, who are still adapting academically, are more vulnerable to distractions from social media and digital entertainment. Therefore, time management, education on smartphone use, and strengthening study discipline are needed to reduce procrastination behavior.</em></p> Nuraini Esalita Aurisya Putri Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23365 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN DI IGD RUMAH SAKIT BAPTIS BATU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22858 <p>Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan unit pelayanan rumah sakit yang memberikan penanganan cepat pada kondisi kegawatdaruratan. Kondisi pasien yang membutuhkan tindakan segera sering menimbulkan kecemasan pada keluarga pasien. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan tersebut adalah melalui komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di IGD Rumah Sakit Baptis Batu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga pasien yang mendampingi pasien di IGD serta perawat IGD. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling pada keluarga pasien dan total sampling pada perawat dengan jumlah sampel 42 keluarga pasien dan 14 perawat. Instrumen penelitian menggunakan lembar SOP komunikasi terapeutik dan kuesioner STAI (State Anxiety Inventory) untuk mengukur tingkat kecemasan keluarga pasien. Data dianalisis menggunakan uji spearman rank correlation untuk mengetahui hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value &lt; 0,001 dengan koefisien korelasi sebesar r = -0,705, yang menunjukkan adanya hubungan negatif kuat antara kedua variabel. Semakin baik komunikasi yang diberikan oleh perawat maka semakin rendah tingkat kecemasan keluarga pasien. Kesimpulan penelitian ini adalah komunikasi terapeutik memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di IGD Rumah Sakit Baptis Batu. Komunikasi terapeutik yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan keluarga pasien.</p> <p><em>The Emergency Department (ED) is a hospital unit that provides immediate care for patients with emergency conditions. The critical condition of patients often causes anxiety among family members. One effort that can help reduce this anxiety is therapeutic communication provided by nurses. This study aimed to determine the relationship between therapeutic communication and the anxiety levels of patients’ family members in the Emergency Department of Baptis Batu Hospital. This study employed a quantitative method with a correlational analytic design and a cross-sectional approach. The study population consisted of patients’ family members accompanying patients in the Emergency Department and ED nurses. The sampling technique used quota sampling for family members and total sampling for nurses, resulting in 42 family members and 14 nurses as respondents. Data were collected using a therapeutic communication Standard Operating Procedure (SOP) observation sheet and the State Anxiety Inventory (STAI) questionnaire to assess family anxiety levels. Data were analyzed using the Spearman Rank Correlation test to examine the relationship between nurses’ therapeutic communication and family anxiety levels. The results showed a correlation coefficient of r = -0.705 with a p-value &lt; 0.001, indicating a strong negative relationship between the two variables. Better therapeutic communication provided by nurses was associated with lower anxiety levels among patients’ family members. In conclusion, therapeutic communication was significantly associated with the anxiety levels of patients’ family members in the Emergency Department of Baptis Batu Hospital. Effective therapeutic communication plays an important role in helping reduce family anxiety during emergency situations.</em></p> Umi Saifatur Rohimah, Risna Yekti Mumpuni Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22858 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN KADAR LAKTAT DAN JUMLAH EOSINOFIL DENGAN MORTALITAS PASIEN SEPSIS DI ICU RSUD WALED KABUPATEN CIREBON 2020-2024 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23232 <p>Latar Belakang: Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa akibar respons tubuh yang tidak teratur terhadap infeksi dan merupakan penyebab utama mortalitas di ruang perawatan intensif (ICU). Kadar laktat dan jumlah eosinofil merupakan biomarker potensial untuk prognosis pasien sepsis. Peningkatan kadar laktat mencerminkan hipoksia jaringan, sedangkan eosinopenia berhubungan dengan respons inflamasi sistemik. Tujuan: Mengetahui hubungan kadar laktat dan jumlah eosinofil dengan mortalitasi pasien sepsis di ICU RSUD Waled Kabupaten Cirebon Tahun 2020-2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder diambil dari rekam medis 38 pasien sepsis yang dirawat di ICU dan memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan uji Mann Whitney. Hasil: sebagian besar pasien mengalami hiperlaktatemia (71,1%) dan eosinopenia (84,2%). Mortalitas tercatat sebesar 84,2%. Terdapat hubungan bermakna antara kadar laktat dan mortalitas (p = 0,000) serta antara jumlah eosinofil dan mortalitas (p = 0,000). Simpulan: kadar laktat yang tinggi dan jumlah eosinofil yang rendah ebrhubungan dengan peningkatan mortalitas pasien sepsis di ICU, sehingga dapat digunakan sebagai indikator prognostik awal.</p> <p><em>Background: Sepsis is a life-threatening organ dysfunction caused by a dysregulated host response to infection and remains a leading cause of mortality in intensive care units (ICUs). Lactate levels and eosinophil counts are potential biomarkers for the prognosis of sepsis patients. Elevated lactate levels reflect tissue hypoxia, while eosinopenia is associated with a systemic inflammatory response. Aim: To determine the relationship between lactate levels and eosinophil counts with mortality in sepsis patients in the ICU of RSUD Waled, Cirebon Regency, during 2020–2024. Methods: This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. Secondary data were obtained from the medical records of 38 sepsis patients treated in the ICU who met the inclusion criteria. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. Results: Most patients experienced hyperlactatemia (71.1%) and eosinopenia (84.2%). The recorded mortality rate was 84.2%. There was a significant correlation between lactate levels and mortality (p = 0.000) as well as between eosinophil counts and mortality (p = 0.000) Conclusion: elevated lactate levels and low eosinophil counts are associated with increased mortality in sepsis patients in the ICU and therefore can be used as early prognostic indicator. </em></p> Viana Huliana Anisa, Donny Prasetyo Priyatmoko, Moh. Erwin Indrakusuma Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23232 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM MENGHADAPI UJIAN OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) DI STIKES MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22570 <p>Ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan salah satu bentuk evaluasi praktik yang sering menimbulkan kecemasan pada mahasiswa keperawatan. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi performa mahasiswa, sehingga diperlukan faktor yang dapat membantu mengendalikan kecemasan, salah satunya adalah self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan tingkat kecemasan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi ujian OSCE di STIKES Maharani Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif cross-sectional. Instrumen penelitian berupa Kuesioner General Self- Efficacy (GSE) dan German Test Anxiety Inventory (TAI-G), dengan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank melalui SPSS. Hasil menunjukkan Sebagian besar mahasiswa (71,9%) memiliki Self-Efficacy yang tinggi dan hampir seluruhnya (79,7%) memiliki Tingkat kecemasan sedang. Analisis menghasilkan nilai koefisien korelasi r = - 0,386 dengan signifikasi p = 0,002 ( p&lt; 0,05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan tingkat kecemasan, yang berarti semakin tinggi self-efficacy maka tingkat kecemasan cenderung menurun. Nilai korelatif negatif menunjukkan hubungan berlawanan arah antara self-efficacy dengan Tingkat kecemasan meskipun kekuatannya rendah. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self-efficacy dengan tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi ujian OSCE. Oleh karena itu, peningkatan self-efficacy perlu diperhatikan sebagai upaya untuk membantu mahasiswa dalam mengelola kecemasan dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi ujian praktik.</p> <p><em>The Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is a form of practical evaluation that often causes anxiety among nursing students. Excessive anxiety can affect students’ performance; therefore, factors that can help control anxiety are needed, one of which is self-efficacy. This study aimed to determine the relationship between self-efficacy and anxiety levels of nursing students in facing the OSCE at STIKES Maharani Malang. This study used a quantitative approach with a descriptive correlational cross-sectional design. The research instruments were the General Self-Efficacy (GSE) questionnaire and the German Test Anxiety Inventory (TAI-G). Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test through SPSS. The results showed that most students (71.9%) had high self- efficacy, and almost all (79.7%) experienced moderate levels of anxiety. The analysis yielded a correlation coefficient of r = -0.386 with a significance value of p = 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between self-efficacy and anxiety levels. This means that the higher the self-efficacy, the lower the anxiety level tends to be. The negative correlation indicates an inverse relationship between self-efficacy and anxiety levels, although with weak strength. In conclusion, there is a significant negative relationship between self- efficacy and anxiety levels among nursing students in facing the OSCE. Therefore, improving self-efficacy is important as an effort to help students manage anxiety and enhance their readiness in facing practical examinations.</em></p> Risma Ayu Wulandari, Reny Tri Febriani Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22570 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN RESPON TIME PELAYANAN KEPERAWATAN DI IGD DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT BAPTIS BATU https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23601 <p>Respon time pelayanan keperawatan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang berpengaruh terhadap keselamatan dan kepuasan pasien. Meskipun standar respon time di IGD telah ditetapkan ≤5 menit, masih ditemukan keluhan terkait keterlambatan pelayanan yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan respon time pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di IGD Rumah Sakit Baptis Batu. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 42 responden yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data respon time dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan stopwatch, sedangkan data kepuasan pasien diperoleh melalui kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar respon time pelayanan keperawatan berada pada kategori cepat sebanyak 29 responden (69,0%), sedangkan kategori lambat sebanyak 13 responden (31,0%). Tingkat kepuasan pasien sebagian besar berada pada kategori sangat puas sebanyak 15 responden (35,7%), namun masih ditemukan pasien dengan kategori cukup puas dan tidak puas terhadap pelayanan yang diterima. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value &lt; 0,001 dengan koefisien korelasi r = 0,747 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara respon time pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien. Semakin cepat respon time pelayanan keperawatan yang diberikan, semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Temuan adanya respon time lambat serta pasien yang belum puas menunjukkan perlunya evaluasi terhadap beban kerja, jumlah tenaga perawat, dan sistem pelayanan di IGD. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji faktor-faktor lain yang memengaruhi kepuasan pasien, seperti komunikasi perawat, fasilitas pelayanan, dan karakteristik pasien.</p> <p><em>Nursing service response time is one of the quality indicators of healthcare services in the Emergency Department (ED) that influences patient safety and satisfaction. Although the standard response time in the ED has been established at ≤5 minutes, complaints regarding delays in service are still reported and may affect patient satisfaction levels. This study aimed to analyze the relationship between nursing service response time and patient satisfaction in the Emergency Department of Batu Baptist Hospital. This study employed a quantitative correlational analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 42 respondents selected using a quota sampling technique. Response time data were collected using an observation sheet and a stopwatch, while patient satisfaction data were obtained through a questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank test with a significance level of α = 0.05. The results showed that most nursing service response times were categorized as fast, accounting for 29 respondents (69.0%), while 13 respondents (31.0%) experienced slow response times. Most patients reported being very satisfied, with 15 respondents (35.7%) falling into this category. However, some patients were only moderately satisfied or dissatisfied with the services received. The Spearman Rank test revealed a p-value of &lt; 0.001 and a correlation coefficient of r = 0.747, indicating a significant and strong relationship between nursing service response time and patient satisfaction. The faster the nursing service response time provided, the higher the level of patient satisfaction. The findings regarding slow response times and the presence of dissatisfied patients indicate the need for an evaluation of workload, the number of nursing staff, and the service system in the Emergency Department. Future studies are recommended to examine other factors affecting patient satisfaction, such as nurse communication, service facilities, and patient characteristics.</em></p> Dewi Ariska, Risna Yekti Mumpuni Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23601 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN KEMAMPUAN KOGNITIF DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM MELAKUKAN ACTIVTY DAILY LIVING (ADL) DI POSYANDU LANSIA DESA SEDARUM KABUPATEN PASURUAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23125 <p>Lansia merupakan kelompok rentan yang sering mengalami penurunan fungsi kognitif akibat proses penuaan, yang dapat memengaruhi tingkat kemandirian dalam melakukan Activity Daily Living (ADL). Penurunan fungsi kognitif pada lansia dapat menyebabkan kesulitan dalam mengingat, memahami informasi, mengambil keputusan, serta melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemampuan kognitif dengan tingkat kemandirian lansia dalam melakukan ADL di Posyandu Lansia Desa Sedarum Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Mini Mental State Examination (MMSE) untuk mengukur kemampuan kognitif dan Barthel Index untuk mengukur tingkat kemandirian ADL. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami gangguan kognitif berat (52,0%) dan mayoritas memiliki tingkat ketergantungan sebagian dalam ADL (82,0%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan kognitif dengan tingkat kemandirian lansia dalam melakukan ADL (p-value = 0,000; r = 0,717), dengan kekuatan hubungan kuat dan arah positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan kognitif lansia, maka semakin tinggi tingkat kemandiriannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, lansia dan keluarga disarankan untuk melakukan stimulasi kognitif seperti senam otak, latihan mengingat, membaca, dan mengikuti kegiatan sosial guna mempertahankan kemampuan kognitif serta meningkatkan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara optimal.</p> <p><em>The elderly are a vulnerable group who often experience a decline in cognitive function due to the aging process, which can affect their level of independence in performing Activities of Daily Living (ADL). Cognitive decline in the elderly may cause difficulties in remembering, understanding information, making decisions, and carrying out daily activities independently. This study aimed to determine the relationship between cognitive ability and the level of independence of the elderly in performing ADL at the Elderly Posyandu in Sedarum Village, Pasuruan Regency. This study used a quantitative approach with a correlational analytic design and a cross-sectional approach. The sample in this study consisted of 50 respondents selected using a purposive sampling technique. The instruments used were the Mini Mental State Examination (MMSE) to measure cognitive ability and the Barthel Index to measure the level of independence in ADL. Data analysis was performed using the Spearman Rank test with a significance level of α = 0.05. The results showed that most respondents experienced severe cognitive impairment (52.0%) and the majority had partial dependence in ADL (82.0%). Statistical test results showed a significant relationship between cognitive ability and the level of independence in performing ADL (p-value = 0.000; r = 0.717), with a strong positive correlation. This indicates that the better the cognitive ability of the elderly, the higher their level of independence in carrying out daily activities. Based on these findings, elderly individuals and their families are recommended to engage in cognitive stimulation activities such as brain exercises, memory training, reading, and participating in social activities to maintain cognitive function and improve independence in daily activities optimally.</em></p> Wildatul Aulia, Sih Ageng Lumadi Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23125 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MENTAL PRANIKAH MELALUI VIDEO INFOGRAFIS TERHADAP PENGETAHUAN CALON PENGANTIN DI KLINIK “AB” KABUPATEN TANGERANG BANTEN TAHUN 2026 https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22471 <p>Calon pengantin merupakan individu yang berada pada masa transisi menuju kehidupan pernikahan sehingga rentan mengalami masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, dan kurangnya kesiapan psikologis. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan mental pranikah dapat berdampak pada ketidaksiapan dalam menghadapi kehidupan berumah tangga. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan calon pengantin adalah melalui pendidikan kesehatan mental pranikah dengan media video infografis yang menarik dan mudah dipahami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan mental pranikah melalui video infografis terhadap pengetahuan calon pengantin di Klinik “AB” Kabupaten Tangerang Tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental menggunakan rancangan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian berjumlah 60 calon pengantin yang diperoleh dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan mental pranikah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan mental pranikah melalui video infografis, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang yaitu 76,7%. Setelah diberikan intervensi, pengetahuan responden meningkat, dengan sebagian besar berada pada kategori baik yaitu 86,3%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh pendidikan Kesehatan mental pranikah melalui video infografis terhadap pengetahuan calon pengantin. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan mental pranikah melalui video infografis berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan calon pengantin di Klinik “AB” Kabupaten Tangerang Tahun 2026. Saran: Pendidikan kesehatan mental pranikah melalui media video infografis diharapkan dapat diterapkan secara rutin di pelayanan kesehatan sebagai upaya meningkatkan kesiapan mental calon pengantin sebelum memasuki pernikahan.</p> <p><em>Backround: Prospective brides and grooms are individuals in a transitional phase toward married life and are therefore vulnerable to mental health problems such as anxiety, stress, and lack of psychological readiness. Insufficient knowledge of premarital mental health can result in inadequate preparedness for married life. One effort to improve the knowledge of prospective brides and grooms is through premarital mental health education using engaging and easily understood infographic videos. Objective: This study aimed to determine the effect of premarital mental health education through infographic videos on the knowledge of prospective brides and grooms at “AB” Clinic, Tangerang Regency, in 2025. Methods: This study employed a quantitative approach with a pre-experimental design using a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 60 prospective brides and grooms selected using total sampling. The research instrument was a premarital mental health knowledge questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Wilcoxon test. Results: The results showed that before the intervention, the majority of respondents had poor knowledge (76.7%). After the intervention, respondents’ knowledge increased, with most respondents categorized as having good knowledge (86.3%). The Wilcoxon test yielded an Asymp. Sig value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of premarital mental health education through infographic videos on the knowledge of prospective brides and grooms. Conclusion: Premarital mental health education through infographic videos has a significant effect on improving the knowledge of prospective brides and grooms at “AB” Clinic, Tangerang Regency, in 2026. Recommendation: Premarital mental health education using infographic videos is recommended to be implemented routinely in health services to enhance the mental readiness of prospective brides and grooms before entering marriage.</em></p> Marisa Marcelina Limbong, Nurannisa Fitria Aprianti, Ella Nurlelawati Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22471 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN RISIKO KEJADIAN GASTRITIS DI MA MAMBAUL ULUM PAKIS KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23432 <p>Gastritis merupakan gangguan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan peradangan mukosa lambung dan sering dialami oleh siswa akibat pola makan yang tidak teratur. Kebiasaan melewatkan waktu makan, konsumsi makanan pedas, serta frekuensi makan yang tidak sesuai dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu terjadinya gastritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan risiko kejadian gastritis pada siswa di MA Mambaul Ulum Pakis Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi dan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam satu waktu pengukuran. Populasi penelitian berjumlah 132 siswa dengan sampel sebanyak 117 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pola makan dan kuesioner risiko gastritis yang dikembangkan oleh Yatmi. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p &lt; 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pola makan kurang sebanyak 54%, pola makan cukup 30%, dan pola makan baik 16%. Risiko kejadian gastritis didominasi kategori tinggi sebesar 48%, kategori sedang 34%, dan kategori rendah 18%. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pola makan dengan risiko kejadian gastritis dengan nilai p &lt; 0,05 dan koefisien korelasi menunjukkan hubungan sedang. Disimpulkan bahwa semakin buruk pola makan siswa, maka semakin tinggi risiko terjadinya gastritis.</p> <p><em>Gastritis is a digestive disorder characterized by inflammation of the gastric mucosa and is commonly experienced by students due to irregular eating habits. Skipping meals, consuming spicy foods, and inappropriate meal frequency can increase gastric acid production and trigger gastritis. This study aimed to determine the relationship between dietary patterns and the risk of gastritis among students at MA Mambaul Ulum Pakis, Malang Regency. This research used a quantitative method with a correlational design and a cross-sectional approach to identify the relationship between variables measured at the same time. The population of this study consisted of 132 students, with a sample of 117 respondents selected using the total sampling technique. Data collection was carried out using dietary pattern questionnaires and gastritis risk questionnaires developed by Yatmi. Data analysis was performed using the Spearman Rank test with a significance level of p &lt; 0.05. The results showed that most respondents had poor dietary patterns (54%), moderate dietary patterns (30%), and good dietary patterns (16%). The risk of gastritis was dominated by the high category (48%), followed by the moderate category (34%) and the low category (18%). Statistical analysis indicated a significant relationship between dietary patterns and the risk of gastritis with p &lt; 0.05, and the correlation coefficient showed a moderate relationship. It can be concluded that poorer dietary habits are associated with a higher risk of gastritis among students.</em></p> Candra Andi Wahyu Saputra, Sismala Harningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23432 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN GADGET DENGAN PERILAKU SULIT MAKAN PADA ANAK KELAS 3, 4 DAN 5 DI SDN SANGANOM 1 PASURUAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22947 <p>Penggunaan gadget pada anak usia sekolah dasar semakin meningkat seiring perkembangan teknologi. Penggunaan gadget yang berlebihan dikhawatirkan dapat memengaruhi perilaku anak, termasuk perilaku makan. Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung kurang memperhatikan waktu makan dan lebih fokus bermain sehingga berisiko mengalami perilaku sulit makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan gadget dengan perilaku sulit makan pada anak kelas 3, 4, dan 5 di SDN Sanganom 1 Pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 3, 4, dan 5 SDN Sanganom 1 Pasuruan dengan jumlah sampel sebanyak 54 responden menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner intensitas penggunaan gadget dan perilaku sulit makan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki intensitas penggunaan gadget kategori tinggi dan sebagian responden mengalami perilaku sulit makan. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,425 (p &gt; 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan signifikan antara intensitas penggunaan gadget dengan perilaku sulit makan pada anak. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku sulit makan. Faktor lain seperti pola asuh orang tua, kebiasaan makan anak, lingkungan keluarga, serta pendampingan saat makan dapat memengaruhi perilaku makan anak. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku sulit makan pada anak, seperti pola asuh orang tua, kebiasaan makan dalam keluarga, status gizi, dan lingkungan sosial anak, dengan jumlah sampel yang lebih besar serta cakupan wilayah penelitian yang lebih luas.</p> <p><em>Gadget use among elementary school-aged children is increasing along with technological advancements. Excessive gadget use is feared to affect children's behavior, including eating behavior. Children who use gadgets excessively tend to pay less attention to mealtimes and focus more on play, putting them at risk of developing eating disorders. This study aimed to determine the relationship between gadget use intensity and eating disorders in third-, fourth-, and fifth-grade children at Sanganom 1 Elementary School, Pasuruan. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study population was all third-, fourth-, and fifth-grade students at Sanganom 1 Elementary School, Pasuruan, with a sample size of 54 respondents using a total sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire on gadget use intensity and eating disorders. Data analysis used the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. The results showed that the majority of respondents had high gadget use intensity, and some respondents experienced eating disorders. The Chi-Square test results obtained a significance value of 0.425 (p &gt; 0.05), so there is no significant relationship between the intensity of gadget use and the behavior of difficult eating in children. This result indicates that gadget use is not the only factor that influences the behavior of difficult eating. Other factors such as parenting patterns, children's eating habits, family environment, and assistance during meals can influence children's eating behavior. Further research is recommended to examine other factors that may influence children's eating behavior, such as parenting patterns, family eating habits, nutritional status, and the child's social environment, with a larger sample size and a wider research area.</em></p> Dwi Putri Maulidyah, Sismala Harningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22947 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN GADGET DENGAN KUALITAS TIDUR ANAK SEKOLAH DASAR DI MI NAHDLATUL ULAMA KALIPARE https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23382 <p>Perkembangan teknologi digital menyebabkan penggunaan gadget pada anak usia sekolah mengalami peningkatan. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan anak, khususnya kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kondisi fisik, dan aktivitas sehari-hari anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan gadget dengan kualitas tidur anak sekolah dasar di MI Nahdlatul Ulama Kalipare. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 76 siswa yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner durasi penggunaan gadget dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dengan analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p &lt; 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian responden memiliki durasi penggunaan gadget dalam kategori sangat lama (27,8%), dan sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (72,2%). Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p = 0,030 dengan koefisien korelasi r = -0,250, yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan kualitas tidur anak sekolah dasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin lama durasi penggunaan gadget, maka kualitas tidur anak sekolah cenderung semakin buruk. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam pemberian edukasi kepada siswa dan orang tua mengenai pembatasan penggunaan gadget pada anak agar kualitas tidur tetap terjaga serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.</p> <p><em>The development of digital technology has caused the use of gadgets in school-age children to increase. Excessive use of gadgets can have a negative impact on children's health, especially sleep quality. Poor sleep quality can affect a child's learning concentration, physical condition, and daily activities. This study aims to determine the relationship between the duration of gadget use and the sleep quality of elementary school children at MI Nahdlatul Ulama Kalipare. This study uses a quantitative method with a correlational design cross-sectional approach. The number of respondents was 76 students who were selected using the total sampling technique. The instruments used were a questionnaire on the duration of gadget use and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), with data analysis using the Spearman Rank&nbsp; test with a significance level of p &lt; 0.05. The results showed that some respondents had a very long duration of use of gadgets in the category (27.8%), and most of the respondents had poor sleep quality (72.2%). The results of&nbsp; the Spearman Rank&nbsp; test were obtained with a value of p = 0.030 with a correlation coefficient r = -0.250, which shows that there is a significant relationship between the duration of use of gadgets and the sleep quality of elementary school children. This study shows that the longer the duration of using gadgets, the worse the sleep quality of school children tends to be. This research is expected to be the basis for providing education to students and parents regarding restrictions on the use of gadgets in children so that sleep quality is maintained and supports optimal growth and development.</em></p> Angelia Dwi Anjani, Nining Loura Sari Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23382 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA DENGAN SIKAP MENGHADAPI SITUASI KECELAKAAN AKIBAT MESIN PADA SISWA JURUSAN TEKNIK DI SMK X KABUPATEN MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22879 <p>Siswa jurusan teknik di SMK memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan akibat mesin karena sering berinteraksi langsung dengan alat mekanis dan mesin praktik yang berpotensi menimbulkan cedera. Kurangnya pengetahuan pertolongan pertama dapat memengaruhi kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi situasi darurat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang pertolongan pertama dengan sikap menghadapi kecelakaan akibat mesin pada siswa jurusan teknik di SMK X Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 144 siswa kelas XII jurusan teknik dengan sampel 61 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup hingga baik serta sikap yang cukup positif dalam menghadapi kecelakaan akibat mesin. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (&lt;0,05) yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pengetahuan yang baik dapat membentuk sikap positif dalam pemberian pertolongan pertama. Penelitian ini terbatas pada satu sekolah dan menggunakan desain cross sectional sehingga belum dapat menggambarkan hubungan sebab akibat secara mendalam. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan pelatihan pertolongan pertama untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa. praktik.</p> <p><em>Vocational high school students majoring in engineering have a high risk of experiencing machine-related accidents because they frequently interact directly with mechanical equipment and practice machines that may cause injuries. Lack of first aid knowledge can affect students’ preparedness in dealing with emergency situations. This study aimed to determine the relationship between the level of first aid knowledge and attitudes in facing machine-related accidents among engineering students at SMK X Kabupaten Malang. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The population consisted of 144 twelfth-grade engineering students, with a sample of 61 respondents selected using proportional random sampling technique. Data were collected using knowledge and attitude questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data analysis was carried out through univariate and bivariate analysis using the Chi-Square test. The results showed that most respondents had a moderate to good level of knowledge and fairly positive attitudes toward handling machine-related accidents. The Chi-Square test showed a p-value of 0.000 (&lt;0.05), indicating a significant relationship between the level of knowledge and students’ attitudes. These findings are consistent with previous studies stating that good knowledge can shape positive attitudes in providing first aid. This study was limited to one school and used a cross-sectional design, so it could not fully explain causal relationships. Therefore, first aid education and training are needed to improve students’ preparedness in facing emergency situations.</em></p> Nabila Nur Asriva, Mangsur M. Nur Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22879 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN POLA MANAJEMEN WAKTU DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA KEPERAWATAN SEMESTER VI STIKES MAHARANI https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23319 <p>Prokrastinasi akademik merupakan perilaku penundaan dalam menyelesaikan tugas yang sering terjadi pada mahasiswa dan berpotensi menurunkan kualitas hasil belajar, di mana pola manajemen waktu diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola manajemen waktu dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa semester VI Program Studi Keperawatan STIKes Maharani Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan metode <em>cross sectional</em>, melibatkan 100 responden yang dipilih dengan teknik <em>total sampling</em>. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pola manajemen waktu dan Procrastination Assessment Scale for Students (PASS) yang dikembangkan oleh Haloho, dengan analisis data menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi p &lt; 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mahasiswa memiliki pola manajemen waktu kurang optimal (82%) dan tingkat prokrastinasi akademik dominan pada kategori sedang (41%). Uji Chi-Square menunjukkan nilai p &lt; 0,05 (p = 0,031), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola manajemen waktu dengan prokrastinasi akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mengelola waktu, maka semakin rendah kecenderungan mereka dalam melakukan prokrastinasi akademik, sehingga penguatan keterampilan manajemen waktu menjadi strategi penting dalam menekan perilaku penundaan tugas pada mahasiswa.</p> <p><em>Academic procrastination is a common behavior among students characterized by delaying academic tasks and may negatively affect learning outcomes, where time management is considered a potential influencing factor. This study aimed to examine the relationship between time management patterns and academic procrastination among sixth-semester nursing students at STIKes Maharani Malang. The study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach, involving 100 respondents selected using total sampling. Data were collected using a time management questionnaire and the Procrastination Assessment Scale for Students (PASS) developed by Haloho, with data analyzed using the Chi-Square test at a significance level of p &lt; 0.05. The results showed that most students had suboptimal time management patterns (82%), while academic procrastination was predominantly at a moderate level (41%). The Chi-Square test indicated a significance value of p &lt; 0.05 (p = 0.031), suggesting a significant relationship between time management and academic procrastination. These findings indicate that better time management is associated with lower levels of academic procrastination, highlighting the importance of improving time management skills as an effective strategy to reduce procrastination behavior among students.</em></p> Silvia Aisya Rahmadanti, Sismala Harningtyas Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23319 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN SARAPAN PAGI DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA DI SDN SANGANOM 1 PASURUAN https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22700 <p>Konsentrasi belajar merupakan faktor kunci dalam keberhasilan akademik siswa, namun sering kali terganggu oleh persiapan fisik yang kurang optimal, seperti melewatkan sarapan pagi. Sarapan pagi berfungsi sebagai penyedia glukosa utama yang dibutuhkan untuk fungsi kognitif otak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan pagi dengan tingkat konsentrasi belajar siswa di SDN Sanganom 1 Pasuruan. Desain penelitian menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 4, 5, dan 6 di SDN Sanganom 1 Pasuruan dengan jumlah sampel 53 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner kebiasaan sarapan dan lembar observasi konsentrasi belajar. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kebiasaan sarapan pagi yang baik, namun tingkat konsentrasi belajar mayoritas berada pada kategori cukup sebanyak 24 responden (45,3%). Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman’s Rho diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,764 dengan nilai signifikansi 0,000 (p &lt; 0,05). Hal ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kebiasaan sarapan pagi dengan tingkat konsentrasi belajar siswa. Dukungan nutrisi di pagi hari berperan sebagai faktor pelindung yang menjaga stabilitas fokus kognitif siswa meskipun terdapat keluhan fisik seperti kelelahan. Disarankan bagi pihak sekolah dan orang tua untuk terus meningkatkan edukasi mengenai pentingnya sarapan pagi guna mendukung optimalisasi performa akademik siswa di kelas.</p> <p><em>Learning concentration is a critical factor for students' academic success, yet it is often compromised by inadequate physical preparation, such as skipping breakfast. Breakfast serves as the primary glucose provider required for brain cognitive functions. This study aims to analyze the correlation between breakfast habits and learning concentration levels among students at SDN Sanganom 1 Pasuruan. The research design employed correlational analytics with a cross-sectional approach. The population consisted of all 4th, 5th, and 6th-grade students at SDN Sanganom 1 Pasuruan, with a total sample of 53 respondents selected through total sampling. Data were collected using a breakfast habit questionnaire and a learning concentration observation sheet. Data analysis was performed using the Spearman’s Rho statistical test. The results showed that most students maintained good breakfast habits; however, the majority of students’ learning concentration levels were in the "Fair" category, involving 24 respondents (45.3%). Based on the Spearman’s Rho correlation test, a correlation coefficient of 0.764 was obtained with a significance value of 0.000 (p &lt; 0.05). This indicates a strong and significant positive correlation between breakfast habits and students' learning concentration. Nutritional support in the morning acts as a protective factor that maintains cognitive focus stability, even in the presence of physical complaints such as fatigue. It is recommended that schools and parents continue to increase education regarding the importance of breakfast to support the optimization of students' academic performance in class.</em></p> Rani Sri Wahyuni Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22700 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KUALITAS TIDUR SISWA KELAS 10 DI SMK FARMASI MAHARANI MALANG https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23202 <p>Penggunaan media sosial yang semakin meningkat pada remaja berpotensi mempengaruhi kualitas tidur. Intensitas penggunaan yang tinggi terutama pada malam hari, dapat mengganggu pola tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dengan kualitas tidur pada remaja di SMK Farmasi Maharani Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 76 siswa kelas 10, dengan sampel sebanyak 64 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner penggunaan media sosial dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki intensitas penggunaan media sosial kategori tinggi 71,9% dan kualitas tidur buruk sebesar 57,8%. Analisis data menggunakan uji korelasi menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dengan nilai koefisien korelasi r = 0,380 yang menunjukkan hubungan lemah. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi penggunaan media sosial, cenderung diikuti dengan penurunan kualitas tidur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penggunaan media sosial dengan kualitas tidur pada remaja meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah. Remaja disarankan untuk mengontrol penggunaan media sosial khususnya pada malam hari, guna menjaga kualitas tidur yang baik.</p> <p><em>The increasing use of social media among adolescents has the potential to affect sleep quality. High intensity of use especially at night, can disrupt sleep patterns. This study aims to determine the relationship between social media use and sleep quality among adolescents at SMK Farmasi Maharani Malang. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 76 tenth-grade students, with a sample of 64 respondents selected using purposive sampling technique. The instruments used were a social media usage questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The result showed that the majority of respondents had a high level of social media usage 71,9%&nbsp; and poor sleep quality 57,8%. Data analysis using correlation test showed that there was a relationship between social media use and sleep quality with a correlation coefficient of r = 0,380 indicating a weak relationship. This indicates that higher social media use tends to be associated with decreased sleep quality. In conclusion, there is a relationship between social media use and sleep quality among adolescent, although the strength of the relationship is weak. Adolescent are encouraged to control their social media use especially at night, in order to maintain good sleep quality. </em></p> Emia Prasintya Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23202 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 ANALISIS EARLY ORAL INTAKE PADA PASIEN OPERASI BEDAH LAPARASKOPI DI RUANGAN BEDAH RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22567 <p>Latar Belakang: Early Oral Intake (EOI) merupakan bagian dari perawatan pascaoperasi modern yang bertujuan mempercepat pemulihan pasien. Namun praktik di lapangan masih sering menunda pemberian asupan oral karena kekhawatiran mual dan muntah. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat toleransi EOI pada pasien pasca operasi laparoskopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat toleransi <em>Early Oral Intake </em>pada pasien pasca operasi laparoskopi. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 30 pasien pasca operasi laparoskopi menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan dianalisis secara univariat. Sebagian besar pasien menunjukkan toleransi baik terhadap EOI. Mayoritas tidak mengalami mual, muntah, maupun distensi abdomen, serta mengalami flatus ≤24 jam. EOI terbukti dapat ditoleransi dengan baik dan aman diberikan pada pasien pasca operasi laparoskopi dengan kondisi stabil, serta sesuai dengan konsep ERAS dalam mempercepat pemulihan.</p> <p><em>Background: Early Oral Intake (EOI) is part of modern postoperative care aimed at accelerating patient recovery. However, in practice, oral intake is often delayed due to concerns about nausea and vomiting. This study aims to determine the tolerance level of EOI in post-laparoscopic surgery patients. This study aimed to determine and describe the tolerance level of Early Oral Intake in post-laparoscopic surgery patients. This quantitative descriptive study used a cross-sectional approach in 30 post-laparoscopic surgery patients using a purposive sampling technique. Data were collected through observation sheets and analyzed univariately. Most patients showed good tolerance to EOI. The majority did not experience nausea, vomiting, or abdominal distension, and had flatus for ≤24 hours. EOI has been shown to be well-tolerated and safe for stable post-laparoscopic surgery patients, and aligns with the ERAS concept to accelerate recovery.</em></p> Ria Savitri, Fadli Syamsuddin, Rona Febriona, Siti Qomaria Usu Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/22567 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 SCREENING FAKTOR RESIKO KEJADIAN DIABETES MELITUS DENGAN RIWAYAT KELUARGA DI PUSKESMAS TIBAWA https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23518 <p>DM cenderung diturunkan atau diwariskan dan tidak di tularkan. Faktor risiko diabetes melitus, dibedakan menjadi dua yaitu, faktor risiko yang tidak dapat diubah misalnya jenis kelamin, usia, faktor genetik atau riwayat keluarga, dan faktor risiko yang dapat diubah misalnya faktor tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT) dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Screening Faktor Resiko Kejadian Diabetes Melitus Dengan Riwayat Keluarga di Puskesmas Tibawa. Desain penelitian menggunakan case control (kelompok kasus dan kontrol). Populasi dalam penelitian ini terdiri adalah masyarakat 1560 Tahun yang melakukan screening faktor resiko DM di wilayah kerja Puskesmas Tibawa. Sampel dipilih melalui teknik accidental sampling dan didapatkan sejumlah 50 responden. Analisa data menggunakan uji chi square dan odd ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan faktor usia, jenis kelamin, tekanan darah, IMT dan aktivitas fisik berhubungan secara signifikan dengan resiko kejadian DM dengan riwayat keluarga DM (p.value≤ 0.05). Kesimpulannya Tekanan darah peluang paling tinggi dalam meningkatkan resiko DM dengan (OR = 4.121)</p> <p><em>DM tends to be inherited and not contagious. Risk factors for diabetes mellitus are divided into two: unmodifiable risk factors such as gender, age, genetic factors or family history, and modifiable risk factors such as blood pressure, body mass index (BMI), and physical activity. This study aims to determine the screening risk factors for diabetes mellitus with family history at Tibawa Community Health Center. The study design used a case-control group (case and control groups). The population in this study consisted of people aged 15-60 years and older who underwent diabetes risk factor screening in the Tibawa Community Health Center's work area. The sample was selected using an accidental sampling technique, resulting in 50 respondents. Data analysis used the chi-square test and odds ratio (OR) test. The results showed that age, gender, blood pressure, BMI, and physical activity were significantly associated with the risk of developing diabetes mellitus (p-value s 0.05) in individuals with a family history of diabetes. In conclusion, blood pressure was the most likely risk factor for diabetes mellitus (OR = 4.121)</em></p> Sitty Suciarti Daud, Andi Akifa Sudirman, Nikmawati Puluhulawa Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Afinitas https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jka/article/view/23518 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000