JIWA KEAGAMAAN REMAJA DI ERA POST-TRUTH: PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP INTERNALISASI NILAI-NILAI RELIGIUS

Penulis

  • Aulia Alif Rahma Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Eka Uswatul Khasanah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Wahyu Purnama Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Tita Barera Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Salwa Salsabila Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Alif Aulia Fajri Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Achmad Maftuh Sujana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Kata Kunci:

Jiwa Keagamaan, Remaja, Post-Truth, Media Sosial, Internalisasi Nilai Religius, Metode Kombinasi

Abstrak

Era post-truth (pasca-kebenaran) ditandai dengan kaburnya batasan antara fakta obyektif dan opini emosional, sebuah kondisi yang diperparah oleh masifnya penggunaan media sosial di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika jiwa keagamaan remaja di era post-truth serta bagaimana algoritma dan narasi media sosial memengaruhi proses internalisasi nilai-nilai religius mereka. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (mixed-methods) yang menggabungkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustakah dan pendekatan kuantitatif melalui survei korelasional terhadap sampel remaja. Hasil studi menunjukkan bahwa media sosial bertindak sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, media sosial menyediakan ruang digital yang luas untuk dakwah kreatif dan pemelajaran agama secara instan. Di sisi lain, hasil analisis statistik menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari intensitas penggunaan media sosial terhadap kerentanan kognitif remaja keagamaan dalam ekosistem echo chamber dan filter bubble. Fenomena ini memicu fragmentasi otoritas keagamaan, polarisasi pemikiran, serta rentannya remaja terpapar komodifikasi agama dan hoaks teologis yang mengeksploitasi emosi keagamaan mereka. Proses internalisasi nilai religius pada fase ini mengalami pergeseran dari corak yang dogmatis-struktural ke arah yang lebih personal-digital, namun rentan kehilangan kedalaman substansi teologis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi digital keagamaan (religious digital literacy) sebagai benteng pertahanan jiwa keagamaan remaja.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29