https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/issue/feedJurnal Kajian Agama Islam2026-06-29T18:51:46+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23050INTERNALISASI NILAI-NILAI KEISLAMAN MELALUI KEGIATAN JAM’IYAH MUSLIMAT: STUDI DESA MITENG KECAMATAN OMBEN KABUPATEN SAMPANG DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL PEREMPUAN MUSLIM2026-06-15T08:05:21+00:00Muhammad Mulyadimuhammadmulyadijiharka@gmail.comSyamsul Rijalrijal.rij2211@gmail.com<p>Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mengetahui Internalisasi Nilai – Nilai Keislaman Melalui Kegiatan Jam’iyah Muslimat: Studi Desa Miteng Kecamatan Omben Kabupaten Sampang Dalam Pembentukan Karakter Sosial Perempuan Muslim. Fokus Penelitian dilihat dari kontek penelitian diatas, maka peneliti memfokuskan masalah ini 1). Bagaimana proses Internalisasi nilai – nilai islam melalui kegiatan Jam’iyah Muslimat di Desa Meteng Kecamatan Omben Kabupaten Sampang? 2). Bagaimana efektivitas kegiatan Jam’iyah Muslimat terhadap pembentukan karakter sosial Perempuan Muslim di Desa Meteng Kecamatan Omben Kabupaten Sampang? 3). Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam proses Internalisasi nilai – nilai keislaman melalui kegiatan Jam’iyah Muslimat di Desa Meteng Kecamatan Omben Kabupaten Sampang? Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu lebih menyajikan rincian, menyajikan dari ringkasan, dan bukan evaluasi. Tujuan dari Penelitian deskriptif yaitu membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktuan dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang diselidiki. Hasil penelitian menunjukkan: 1). Internalisasi nilai – nilai keislaman dengan didasari dengan penelitian yang peneliti lakukan melalui kegiatan Jam’iyah Muslimat Sari Arum menandakan bahwa internalisasi nilai – nilai keislaman sudah sering di jelaskan di Jam’iyah Muslimat tersebut. 2). Efektivitas kegiatan Jam’iyah Muslimat terhadap pembentukan karakter sosial Perempuan Muslim di Desa Meteng Kecamatan Omben Kabupaten Sampang sangat efektiv. 3). Faktor pendukung dalam proses internalisasi nilai – nilai keislaman melalui kegiatan Jam’iyah Muslimat Sari Arum adalah adanya visi misi Jam’iyah Muslimat Sari Arum, adanya guru yang memberikan arahan dan bimbingan pada anggota Muslimat sesuai dengan nilai – nilai keislaman, adanya rasa ingin tahu dari para anggota jam’iyah tentang nilai – nilai keislaman. Faktor penghambat dalam proses internalisasi nilai – nilai keislaman melalui kegiatan Jam’iyah Muslimat Sari Arum adalah, Keterbatasan waktu dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan internalisasi nilai – nilai keislaman, keterlambatan anggota Jam’iyah</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23644PENGARUH MEDIA BINKIE BOX TERHADAP PERKEMBANGAN RASA SYUKUR KEPADA ALLAH PADA ANAK USIA 5–6 TAHUN2026-06-28T03:51:42+00:00Heri Hidayatherihidayat@uinsgd.ac.idNabila Azka Putrinabilazka1303@gmail.comNinih Fadillatul Mutma’inahninihfadilatul2@gmail.comSiti Khodijah Nur Azkianurazkiia9@gmail.comFadilla Ayuningtyasfadillaayuningtyas@uinsgd.ac.id<p>Perkembangan rasa syukur kepada Allah pada anak usia dini merupakan fondasi nilai agama dan moral yang krusial, namun praktik pembelajaran di lembaga PAUD selama ini lebih banyak terbatas pada hafalan verbal tanpa disertai pengalaman konkret yang bermakna. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan media Binkie Box terhadap perkembangan rasa syukur kepada Allah pada anak usia 5–6 tahun. Binkie Box adalah kotak pembelajaran berbasis sensori multidimensi yang memuat objek-objek konkret representatif nikmat Allah, dirancang untuk menstimulasi tiga dimensi syukur secara bersamaan: qalb (penghayatan hati), lisan (ucapan), dan jawarih (tindakan nyata). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest-Posttest Design yang melibatkan 10 anak usia 5–6 tahun melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi terstruktur yang memuat lima indikator rasa syukur berdasarkan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Satu kali treatment menggunakan Binkie Box diberikan di antara pre-test dan post-test. Analisis Paired Sample t-Test menunjukkan peningkatan signifikan dari rata-rata skor pre-test 40,4% menjadi post-test 86,6% (t = 12,43; p = 0,000 < 0,05), dengan 90% peserta didik mencapai kategori Berkembang Sesuai Harapan hingga Berkembang Sangat Baik pasca intervensi. Kebaruan penelitian ini terletak pada desain media yang mengintegrasikan tiga dimensi syukur secara simultan dalam satu perangkat terintegrasi</p> <p>The development of gratitude toward Allah (shukr) in early childhood constitutes a foundational element of religious and moral values that is frequently underaddressed in early childhood education practice, with instruction often limited to verbal memorization without meaningful concrete experience. This study aims to analyze the effect of Binkie Box media on the development of gratitude toward Allah among children aged 5–6 years. Binkie Box is a multidimensional sensory-based learning medium containing concrete objects representing Allah's blessings, designed to simultaneously stimulate three dimensions of gratitude: qalb (heartfelt recognition), lisan (verbal expression), and jawarih (behavioral action). A quantitative approach with a pre-experimental One Group Pretest-Posttest Design was employed, involving 10 children aged 5–6 years selected through total sampling. Data were collected using a structured observational checklist comprising six gratitude indicators derived from the Merdeka Curriculum framework. A single treatment using Binkie Box was administered between pretest and posttest. Paired Sample t-Test analysis revealed a significant improvement from a pretest mean of 40.4% to a posttest mean of 86.6% (t = 12.43; p = 0.000 < 0.05), with 90% of participants achieving the Developing as Expected to Developing Excellently categories post-intervention. The novelty of this study lies in the media design that integrates all three dimensions of gratitude simultaneously within a single integrated learning instrument</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22450DINAMIKA ISLAM DI MALAYSIA DALAM KONTEKS ASIA TENGGARA2026-06-02T06:38:32+00:00Nurmyatinurmyati33345@gmail.comNur Hikmah Alfianinurhikmahalfiani@icloud.comKartinilkartini697@gmail.comMustika Sari'ah Siagianhananmustikasariahsiagian@gmail.com<p>Malaysia merupakan negara yang memiliki hubungan erat antara Islam, budaya Melayu, dan sistem kenegaraan. Artikel ini membahas perkembangan Islam di Malaysia mulai dari sejarah masuknya Islam, corak mazhab fiqih dan aqidah, hukum perkawinan Islam, kerajaan-kerajaan Islam, akulturasi budaya, pendidikan Islam, organisasi keislaman, hingga dinamika Islam kontemporer. Islam masuk ke Malaysia melalui jalur perdagangan dan berkembang secara damai melalui dakwah serta asimilasi budaya lokal. Dalam perkembangannya, Islam menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas masyarakat dan sistem pemerintahan Malaysia. Corak keislaman di Malaysia didominasi oleh Mazhab Syafi’i dalam bidang fiqih dan paham Ahlusunah wal Jamaah dalam bidang aqidah. Selain itu, keberadaan lembaga pendidikan Islam, organisasi keislaman, serta sistem hukum Syariah turut memperkuat peranan Islam dalam kehidupan masyarakat. Artikel ini menunjukkan bahwa Islam di Malaysia berkembang secara dinamis dengan tetap mempertahankan nilai tradisi, budaya, dan modernitas dalam kehidupan bernegara.</p> <p>Malaysia is a country that has a close relationship between Islam, Malay culture, and the state system. This article discusses the development of Islam in Malaysia, starting from the history of the arrival of Islam, the characteristics of fiqh and aqidah schools, Islamic marriage law, Islamic kingdoms, cultural acculturation, Islamic education, Islamic organizations, to contemporary Islamic dynamics. Islam entered Malaysia through trade routes and developed peacefully through da'wah and the assimilation of local culture. In its development, Islam became an important part of shaping the identity of society and the governmental system in Malaysia. The Islamic tradition in Malaysia is predominantly influenced by the Shafi‘i school in the field of fiqh and the Ahlus Sunnah wal Jamaah doctrine in the field of aqidah. In addition, the existence of Islamic educational institutions, Islamic organizations, and the Sharia legal system has strengthened the role of Islam in social life. This article shows that Islam in Malaysia has developed dynamically while maintaining the values of tradition, culture, and modernity within the life of the state.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23407PERAN BAHASA ARAB DALAM MEMBANGUN KESATUAN DI TENGAH KERAGAMAN LINGUISTIK: STUDI KASUS PADA SANTRI NONPENUTUR ASLI DI PESANTREN NURUL HARAMAIN NW BOGOR2026-06-23T08:13:52+00:00Muhammad Hanif Athallah2259010034@student.uinsgd.ac.idAde Nandangadenandang@uinsgd.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran bahasa Arab dalam membangun kesatuan di tengah keragaman linguistik santri nonpenutur asli di Pesantren Modern Nurul Haramain NW Bogor. Lingkungan pesantren yang multibahasa ditandai oleh keberagaman bahasa ibu, perbedaan tingkat kemampuan berbahasa Arab, serta variasi praktik kebahasaan yang digunakan santri dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman linguistik dikelola melalui proses yang terstruktur, meliputi pembiasaan bahasa, penerapan kebijakan bahasa, dan pengelolaan lingkungan bahasa. Proses tersebut diperkuat melalui transisi bertahap dari penggunaan bahasa Indonesia menuju bahasa Arab sebagai media komunikasi utama di lingkungan pesantren. Namun demikian, fenomena alih kode (code switching), campur kode (code mixing), interferensi bahasa ibu, resistensi santri, dan inkonsistensi penggunaan bahasa masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kesatuan linguistik. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai objek pembelajaran, tetapi juga sebagai lingua franca dan mekanisme integrasi sosial yang memungkinkan terjalinnya komunikasi antarsantri yang berasal dari latar belakang linguistik yang beragam. Dengan demikian, kesatuan linguistik di lingkungan pesantren tidak dibangun melalui penghapusan keragaman, melainkan melalui pengelolaan keragaman secara sistematis dalam suatu lingkungan pendidikan yang terstruktur. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap kajian sosiolinguistik pembelajaran bahasa Arab pada lingkungan pesantren multibahasa serta memperkuat pemahaman mengenai fungsi bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu dalam komunitas pendidikan yang beragam.</p> <p><em>This study aims to analyze the role of Arabic in fostering linguistic unity amidst linguistic diversity among non-native Arabic-speaking students at Nurul Haramain Modern Islamic Boarding School NW Bogor. The multilingual environment of the boarding school is characterized by diverse mother tongues, varying levels of Arabic proficiency, and different language practices among students. Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, and subsequently analyzed using thematic analysis. The findings reveal that linguistic diversity is managed through a structured process consisting of language habituation, language policy implementation, and language environment management. This process is reinforced by a gradual transition from Indonesian to Arabic as the primary medium of communication within the boarding school. Nevertheless, the persistence of code-switching, code-mixing, mother tongue interference, student resistance, and inconsistencies in language use presents challenges to the realization of linguistic unity. The study demonstrates that Arabic serves not only as a subject of learning but also as a lingua franca and a social integrative mechanism that facilitates communication among students from diverse linguistic backgrounds. Therefore, linguistic unity in the boarding school is achieved not through the elimination of diversity, but through its systematic management within a structured educational environment. This study contributes to the sociolinguistic understanding of Arabic language learning in multilingual Islamic boarding schools and highlights the role of Arabic as a unifying language in diverse educational communities.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22981ANALISIS AKAD QARDH DALAM TRANSAKSI PAYLATER APLIKASI MARKETPLACE TIKTOK SHOP STUDI KRITIS PRESPEKTIF FIQIH MUAMALAH2026-06-13T07:59:07+00:00Najwa Putri Prasetyanadjwawaprasetya@gmail.comNonik Anisa Sumarnisnonikanisa0@gmail.comHana Nabilatun Nafisahhananabilatunnafisah30@gmail.comWaluyowauyo.ma@staff.uinsaid.ac.id<p>Perkembangan teknologi finansial telah melahirkan berbagai inovasi layanan pembayaran digital, salah satunya adalah fitur PayLater pada platform TikTok Shop. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik akad qardh dalam transaksi TikTok PayLater serta menilai kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Fiqih Muamalah. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer berupa Al-Qur'an, Hadis, kitab fikih klasik dan kontemporer, serta sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku ekonomi syariah, dan data resmi OJK. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik TikTok PayLater mengalami pergeseran dari akad qardh yang bersifat sosial (tabarru') menjadi instrumen pembiayaan komersial yang berorientasi pada keuntungan. Hal tersebut tercermin dari adanya biaya layanan dan denda keterlambatan yang memberikan manfaat ekonomi kepada penyedia layanan sehingga berpotensi mengandung unsur riba. Selain itu, integrasi fitur media sosial, algoritma rekomendasi, dan kemudahan akses kredit pada TikTok Shop berpotensi mendorong perilaku konsumtif dan pembelian impulsif yang bertentangan dengan prinsip Sadd adz-Dzari'ah. Dari perspektif Maqasid Syariah, khususnya hifdz al-mal (perlindungan harta), sistem ini berisiko menimbulkan (gharar), ketidakpastian, dan jebakan utang akibat proses penilaian kredit yang relatif longgar. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang lebih ketat, transparansi biaya, serta penerapan prinsip-prinsip syariah yang lebih komprehensif agar layanan PayLater dapat memberikan manfaat tanpa mengabaikan perlindungan harta dan kemaslahatan masyarakat.</p> <p>The development of financial technology has given rise to various innovations in digital payment services, one of which is the PayLater feature on the TikTok Shop platform. This study aims to analyze the practice of qardh contracts in TikTok PayLater transactions and assess their compliance with the principles of Islamic Fiqh (Islamic Law). The study used a qualitative descriptive method with a library research approach. Data were obtained from primary sources in the form of the Qur'an, Hadith, classical and contemporary fiqh books, as well as secondary sources in the form of scientific journals, Islamic economics books, and official OJK data. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the practice of TikTok PayLater has shifted from a social qardh contract (tabarru') to a profit-oriented commercial financing instrument. This is reflected in the existence of service fees and late fees that provide economic benefits to service providers and therefore have the potential to contain elements of usury. In addition, the integration of social media features, recommendation algorithms, and easy access to credit on the TikTok Shop has the potential to encourage consumer behavior and impulse buying which is contrary to the principles of Sadd adz-Dzari'ah. From the perspective of Maqasid Syariah, especially hifdz al-mal (property protection), this system risks creating (gharar), uncertainty and debt traps due to the relatively loose credit assessment process. Therefore, stricter regulations, cost transparency and a more comprehensive application of sharia principles are needed so that PayLater services can provide benefits without neglecting the protection of assets and the benefit of the community.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23606IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI ERA DIGITAL2026-06-27T04:34:24+00:00Muhammad Nizarnizarnurussalam100@gmail.comArba'iarbai2791@gmail.comThaufik Ikramsohibilisro@gmail.comErvinavinaervina41@gmail.com<p>Era digital membawa berbagai kemudahan dalam akses informasi dan komunikasi, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Pengaruh media sosial, perkembangan teknologi informasi, serta arus globalisasi yang semakin cepat berpotensi memengaruhi perilaku, pola pikir, dan nilai-nilai moral siswa. Pendidikan akhlak menjadi aspek yang sangat penting dalam upaya membentuk karakter siswa agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pendidikan akhlak dalam upaya pembentukan karakter siswa di era digital, serta menganalisis berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan memanfaatkan berbagai sumber literatur yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan dokumen akademik lainnya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan akhlak dapat diwujudkan melalui integrasi nilai-nilai akhlak dalam kegiatan pembelajaran, pembiasaan perilaku positif di lingkungan sekolah, pemberian keteladanan oleh guru, serta penguatan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap siswa. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital yang diarahkan pada nilai-nilai moral dan etika dapat menjadi media yang efektif dalam memperkuat karakter peserta didik. Pendidikan akhlak yang diterapkan secara berkesinambungan dan konsisten terbukti mampu membentuk karakter siswa yang berintegritas, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai pengaruh negatif yang muncul akibat perkembangan teknologi digital.</p> <p><em>The digital era has brought significant advancements in information access and communication technologies. However, it has also presented various challenges to the moral and character development of students. The widespread use of social media, rapid technological innovation, and the increasing influence of globalization can affect students' behavior, mindset, and moral values. Moral education plays a crucial role in shaping students' character, enabling them to utilize digital technology wisely and responsibly. This study aims to analyze the implementation of moral education in shaping students' character in the digital era and to identify the supporting and inhibiting factors influencing its implementation. This research employs a library research method by collecting data from various scholarly sources, including books, journals, articles, and relevant documents. Data were analyzed using descriptive-analytical techniques through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the implementation of moral education can be achieved through the integration of moral values into the learning process, the habituation of positive behavior within the school environment, teachers’ role modeling, and effective collaboration among schools, families, and communities. Furthermore, the utilization of digital technology based on ethical values can serve as an effective medium for strengthening students' character. Consistently and sustainably implemented moral education has been proven to foster students who demonstrate integrity, discipline, responsibility, and the ability to filter negative influences arising from technological developments in the digital age.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23241PARADIGMA FILSAFAT AL-QUR’AN2026-06-19T11:19:37+00:00Siti Nurhaliza Yustia05sitinurhalizayustiiaa@gmail.comSalwa Salsabilasalwasalsabila1607@gmail.comMohammad Sihabudinmohammadsihabudin21@gmail.comAgus Ali Dzawafidzawafi@uinbanten.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji paradigma filsafat ilmu dari sudut pandang Al-Qur’an, dengan fokus pada ontologi, epistemologi, aksiologi, dan teleologi. Rumusan msalahnya adalah bagaimana keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama dalam Islam serta bagaimana filsafat Islam menggabungkan elemen-elemen tersebut berdasarkan wahyu Al-Qur’an. Pendekatan yang digunakan berupa kajian kualitatif dengan studi literatur yang mencakup sumber klasik, Al-Qur’an, hadis, serta karya-karya filsafat Islam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ilmu dan agama dalam Islam tidak dapat dipisahkan karena keduanya berasal dari Allah SWT. Paradigma filsafat Islam menegaskan adanya kesatuan ontologis antara Tuhan dan ciptaan, menolak adanya dualisme antara jasad dan ruh, dan menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dalam epistemologi Islam, terdapat tiga sumber utama pengetahuan, yaitu wahyu (bayani), nalar (burhani), dan pengalaman mistik (irfani), yang digunakan dengan berbagai metode untuk menguji validitas ilmu. Aksiologi Islam membahas nilai-nilai dan etika sebagai landasan moral dalam penggunaan ilmu. Sedangkan teleologi menegaskan bahwa setiap makhluk diciptakan dengan tujuan, di mana Allah adalah tujuan paling utama. Pentingnya penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk menjaga harmonisasi antara ilmu pengetahuan dan agama dalam Islam agar tidak terjadi pembelahan pemikiran. Pemahaman yang benar mengenai paradigma ilmu berlandaskan Islam diharapkan dapat menyeimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan nilai spiritual, sekaligus membangun fondasi intelektual yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman modern tanpa melepas wahyu sebagai sumber utama kebenaran.</p> <p><em>This study examines the paradigm of the philosophy of science from the perspective of the Qur'an, with a focus on ontology, epistemology, axiology, and teleology. The problem formulation is how the relationship between science and religion in Islam and how Islamic philosophy combines these elements based on the revelation of the Qur'an. The approach used is a qualitative study with a literature review that includes classical sources, the Qur'an, hadith, and works of Islamic philosophy. The research findings show that science and religion in Islam are inseparable because both originate from Allah SWT. The paradigm of Islamic philosophy emphasizes the ontological unity between God and creation, rejects the dualism between the body and the soul, and places humans as caliphs on earth. In Islamic epistemology, there are three main sources of knowledge: revelation (bayani), reason (burhani), and mystical experience (irfani), which are used with various methods to test the validity of science. Islamic axiology discusses values and ethics as the moral basis for the use of science. Meanwhile, teleology emphasizes that every creature is created with a purpose, with God as the ultimate goal. The importance of this research lies in the need to maintain harmony between science and religion in Islam to prevent a division of thought. A correct understanding of the scientific paradigm based on Islam is expected to balance scientific advancement with spiritual values, while simultaneously building a solid intellectual foundation to face the challenges of the modern era without abandoning revelation as the primary source of truth.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22901MEMBELAJARKAN SISWA MELALUI PENEMUAN: KAJIAN MODEL-MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN BERPIKIR KRITIS2026-06-11T09:27:09+00:00MOH.Khairul Azizikhairulazizi68153@gmail.comM. S. Ubbadbadmbut39@gmail.comThohirintohirinbks8@gmail.comErvinavinaervina41@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji penerapan model-model pembelajaran discovery learning dalam konteks pendidikan formal dan menilai efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman siswa. Dalam latar belakangnya, dijelaskan bahwa discovery learning menekankan pada proses pencarian dan penemuan konsep oleh siswa secara mandiri maupun berkelompok melalui eksplorasi dan penyelidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana model pembelajaran ini membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang kompleks serta mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model-model discovery learning efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan berpikir kritis siswa, meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan waktu dan perlunya peran aktif guru dalam membimbing proses penemuan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan discovery learning secara berkelanjutan serta integrasinya dengan pendekatan lain untuk meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa.</p> <p><em>This study examines the implementation of discovery learning models within formal education settings and evaluates their effectiveness in enhancing students' understanding. The background highlights that discovery learning emphasizes students' active involvement in exploring and uncovering concepts independently or collaboratively through inquiry and investigation. The aim of this research is to assess the extent to which this learning model supports students in grasping complex concepts, as well as to identify its strengths and weaknesses. The findings reveal that discovery learning models are effective in improving students’ comprehension and critical thinking skills, although challenges such as time constraints and the need for active teacher guidance remain. The study recommends the continuous application of discovery learning and its integration with other approaches to increase student engagement and learning outcomes.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23544KONSEP IHSAN SEBAGAI PUNCAK INTEGRASI AKIDAH DAN AKHLAK2026-06-25T12:04:18+00:00Adrialfaruqahmed76@gmail.comAli Maulidaalimaulida77@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ihsan sebagai puncak integrasi antara akidah dan akhlak dalam perspektif Islam. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena krisis moral yang terjadi di berbagai aspek kehidupan masyarakat modern, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman keagamaan dan implementasi nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran Islam, ihsan dipandang sebagai dimensi spiritual tertinggi yang menghubungkan keyakinan (akidah) dengan perilaku (akhlak), sehingga mampu membentuk karakter yang berintegritas dan bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer berupa Al-Qur'an, Hadis, serta literatur ilmiah yang relevan, dan sumber sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, serta hasil penelitian yang diterbitkan pada periode 2020–2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode content analysis untuk mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mengkategorikan konsep-konsep yang berkaitan dengan ihsan, akidah, dan akhlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ihsan merupakan puncak integrasi antara akidah dan akhlak karena berfungsi sebagai mekanisme internal yang mentransformasikan keyakinan keagamaan menjadi perilaku moral yang konsisten. Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis Jibril, dan pandangan para ulama, ihsan dimaknai sebagai kesadaran spiritual yang mendorong seseorang untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt. (muraqabah), sehingga melahirkan sikap jujur, amanah, disiplin, dan bertanggung jawab. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi nilai ihsan memiliki relevansi yang tinggi dalam pendidikan karakter, kehidupan sosial, dan lingkungan profesional. Oleh karena itu, penguatan nilai ihsan dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi berbagai tantangan moral masyarakat modern. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kajian akidah, akhlak, dan filsafat Islam, serta kontribusi praktis bagi pembentukan karakter berbasis nilai-nilai spiritual Islam.</p> <p><em>This study aims to analyze the concept of ihsan as the highest level of integration between aqidah (Islamic creed) and akhlaq (moral conduct) within the Islamic perspective. The background of this research is based on the phenomenon of moral decline in modern society, which indicates a gap between religious understanding and the practical implementation of moral values in daily life. In Islam, ihsan is regarded as the highest spiritual dimension that connects faith and moral behavior, thereby fostering integrity and responsibility in individuals. This study employs a qualitative approach using the library research method. Data were collected from primary sources, including the Qur'an, Hadith, and relevant scholarly literature, as well as secondary sources such as books, academic journals, and research publications from 2020–2025. Data collection was conducted through documentation studies, while data analysis utilized content analysis to identify, interpret, and categorize concepts related to ihsan, aqidah, and akhlaq. The findings reveal that ihsan serves as the highest form of integration between aqidah and akhlaq by functioning as an internal mechanism that transforms religious beliefs into consistent moral behavior. Based on the Qur'an, the Hadith of Jibril, and the perspectives of classical and contemporary scholars, ihsan is understood as a spiritual consciousness that encourages individuals to constantly feel the presence and supervision of Allah (muraqabah), resulting in honesty, trustworthiness, discipline, and responsibility. The study also demonstrates that the implementation of ihsan values is highly relevant to character education, social life, and professional environments. Therefore, strengthening the value of ihsan can serve as a solution to contemporary moral challenges. This research contributes theoretically to the development of studies in Islamic creed, ethics, and philosophy, while also offering practical implications for character development based on Islamic spiritual values</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23207DINAMIKA ISLAM DI LAOS2026-06-18T11:30:31+00:00Dewi Wirdadewirda01@gmail.comGita Auliagitaaulia678@gmail.comMustika Sari'ah Siaganhananmustikasariahsiagan@gmail.com<p>Islam di Laos berkembang sebagai agama minoritas di tengah dominasi masyarakat Buddha Theravada dan sistem pemerintahan sosialis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah masuknya Islam ke Laos, corak mazhab umat Islam, hukum perkawinan bagi Muslim Laos, serta dinamika kehidupan komunitas Muslim di negara tersebut. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam masuk ke Laos melalui jalur perdagangan, migrasi Muslim Cham, serta kedatangan pedagang Muslim dari India dan Pakistan. Mayoritas umat Islam di Laos menganut mazhab Syafi'i dan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam bidang perkawinan, umat Islam tetap melaksanakan akad nikah sesuai syariat Islam, namun wajib mencatatkannya kepada pemerintah sesuai hukum nasional. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan sebagai kelompok minoritas, komunitas Muslim Laos mampu mempertahankan identitas keagamaannya melalui pendidikan keluarga, aktivitas masjid, kegiatan ekonomi, serta hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi umat Islam dalam mempertahankan eksistensinya di tengah lingkungan sosial dan politik yang berbeda.</p> <p><em>Islam in Laos has developed as a minority religion within a society dominated by Theravada Buddhism and a socialist political system. This study aims to examine the history of Islam in Laos, the religious schools followed by Muslims, Islamic marriage practices, and the dynamics of Muslim life in the country. The research employs a library research method by reviewing various relevant scholarly sources. The findings indicate that Islam entered Laos through trade networks, Cham Muslim migration, and the arrival of Muslim merchants from India and Pakistan. Most Muslims in Laos adhere to the Shafi'i school of Islamic jurisprudence and the Ahlussunnah wal Jamaah tradition. In terms of marriage, Muslims continue to perform Islamic marriage contracts in accordance with Islamic law while also registering their marriages with the state in compliance with national regulations. Despite facing various limitations as a minority community, Muslims in Laos have successfully maintained their religious identity through family-based religious education, mosque activities, economic engagement, and harmonious social relations with the broader society. These conditions demonstrate the adaptability of Muslims in preserving their religious existence within a distinct social and political environment.</em></p>2026-06-22T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22830IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO DI SD AL QUR'AN WAHDAH ISLAMIYAH TENGGARONG2026-06-10T08:55:04+00:00Ardiansyahardiansyahstiba@gmail.comSiti Julaihasiti.julaiha@uinsi.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi manajemen risiko di SD Al Qur'an Wahdah Islamiyah Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dalam kerangka program Gerakan Etam Mengaji (GEMA) yang diamanatkan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 4 Tahun 2021. Sekolah yang berdiri pada Mei 2019 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Wahdah Kaltim dan saat ini dipimpin Muhammad Rahman, S.Pd ini melayani 38 peserta didik dalam lima rombongan belajar aktif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap enam informan kunci, observasi nonpartisipan, dan analisis dokumen periode Januari-Maret 2025. Temuan menunjukkan sekolah telah mengimplementasikan manajemen risiko mencakup: (1) identifikasi risiko pada aspek akademik, operasional, dan keuangan melalui rapat pimpinan tahunan; (2) penilaian risiko menggunakan matriks probabilitas-dampak; (3) strategi mitigasi yang terintegrasi nilai-nilai Islam meliputi monitoring tahfizh digital, SOP keselamatan, dan kemitraan keuangan berbasis zakat; serta (4) pemantauan berkala. Faktor pendukung mencakup komitmen pimpinan, budaya organisasi berbasis Islam, dukungan jaringan Wahdah Islamiyah, dan tradisi prestasi peserta didik dalam lomba tahfizh, tilawah, adzan, dan cerdas cermat Islam. Penelitian ini merekomendasikan formalisasi dokumen kebijakan manajemen risiko sesuai ISO 31000:2018 dan penetapan sekolah sebagai lembaga percontohan GEMA.</p> <p><em>This study aims to analyze the implementation of risk management at SD Al Qur'an Wahdah Islamiyah Tenggarong, Kutai Kartanegara, East Kalimantan, within the framework of the Gerakan Etam Mengaji (GEMA) program mandated by Regional Regulation No. 4 of 2021. Founded in May 2019 under Yayasan Pendidikan Al-Wahdah Kaltim and currently led by Muhammad Rahman, S.Pd, this school serves 38 students across five active classes. A descriptive qualitative case study approach was employed, with data collected through in-depth interviews with six key informants, non-participant observation, and document analysis conducted from January to March 2025. Findings reveal that the school has implemented risk management encompassing: (1) risk identification in academic, operational, and financial domains through annual leadership meetings; (2) risk assessment using a probability-impact matrix; (3) mitigation strategies integrated with Islamic values including digital tahfizh monitoring, safety SOPs, and zakat-based financial partnerships; and (4) periodic monitoring. Supporting factors include leadership commitment, Islamic value-based organizational culture, Wahdah Islamiyah network support, and student achievements in tahfizh, tilawah, azan, and Islamic quiz competitions. The study recommends formalizing a risk management policy document aligned with ISO 31000:2018 and positioning the school as a GEMA model institution.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23450INTEGRASI AI-TPACK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB: OPTIMALISASI KECERDASAN BUATAN SEBAGAI ASISTEN PENDIDIK DI TENGAH KETERBATASAN INFRASTRUKTUR PONDOK PESANTREN AL-MUSTAFAD BANDUNG2026-06-24T02:56:26+00:00Muhammad Rizki Kamal2259010001@uinsgd.ac.idAcep Hermawanacepher@uinsgd.ac.id<p>Penelitian ini mengeksplorasi peluang dan tantangan integrasi Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab di Pondok Pesantren Al-Mustafad Bandung, di tengah keterbatasan infrastruktur digital dan larangan ketat penggunaan ponsel pintar di kalangan siswa. Dengan menggunakan metode studi kasus deskriptif kualitatif, penelitian ini memanfaatkan kerangka kerja Kecerdasan Buatan-Teknologi Pedagogis dan Pengetahuan Konten (AI-TPACK) dan Understanding by Design (UbD). Temuan menunjukkan pergeseran paradigma yang radikal; AI tidak digunakan sebagai alat pembelajaran independen bagi siswa, tetapi dioptimalkan sebagai "asisten pengajar" oleh pendidik (Asatidz) untuk merancang materi pembelajaran, menghasilkan teks yang disesuaikan, dan merumuskan penilaian formatif sebelum disampaikan di kelas tradisional. Namun, integrasi ini menghadapi tantangan terkait kesenjangan digital, rendahnya literasi AI di kalangan sebagian guru, dan kekhawatiran akan terkikisnya otoritas spiritual dan pedagogis mereka (Sanad). Studi ini merekomendasikan penerapan "Pengembangan Etika" melalui model akar rumput Hilda Taba untuk melatih guru dalam mengintegrasikan hasil AI dalam lingkungan tanpa gadget, memastikan peningkatan pemikiran kritis siswa tanpa mengorbankan tradisi keilmuan sekolah berasrama Islam.</p> <p><em>This research explores the opportunities and challenges of integrating Artificial Intelligence (AI) into the development of the Arabic language curriculum at Pondok Pesantren Al-Mustafad Bandung, amidst digital infrastructure limitations and the strict prohibition of smartphones among students. Employing a qualitative descriptive case study method, the research utilizes the Artificial Intelligence-Technological Pedagogical and Content Knowledge (AI-TPACK) framework and Understanding by Design (UbD). The findings reveal a radical paradigm shift; AI is not utilized as an independent learning tool for students, but rather optimized as a "teaching assistant" by educators (Asatidz) to design instructional materials, generate customized texts, and formulate formative assessments before delivering them in traditional classrooms. However, this integration faces challenges related to the digital divide, low AI literacy among some teachers, and concerns over the erosion of their spiritual and pedagogical authority (Sanad). The study recommends implementing "Ethical Scaffolding" through the Hilda Taba grassroots model to train teachers in integrating AI outputs within a gadget-free environment, ensuring the enhancement of students' critical thinking without compromising the scholarly traditions of Islamic boarding schools.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23060JIWA KEAGAMAAN REMAJA DI ERA POST-TRUTH: PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP INTERNALISASI NILAI-NILAI RELIGIUS2026-06-15T12:49:57+00:00Aulia Alif Rahmaauliaalifrahma28@gmail.comEka Uswatul Khasanahuswahksnh22@gmail.comWahyu Purnamawahyupurnama8303@gmail.comTita Bareratitaagt123@gmail.comSalwa Salsabilasalwasalsabila1607@gmail.comAlif Aulia Fajrialifauliafajri639@gmail.comAchmad Maftuh Sujanaachmad.maftuh@uinbanten.ac.id<p>Era post-truth (pasca-kebenaran) ditandai dengan kaburnya batasan antara fakta obyektif dan opini emosional, sebuah kondisi yang diperparah oleh masifnya penggunaan media sosial di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika jiwa keagamaan remaja di era post-truth serta bagaimana algoritma dan narasi media sosial memengaruhi proses internalisasi nilai-nilai religius mereka. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (mixed-methods) yang menggabungkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustakah dan pendekatan kuantitatif melalui survei korelasional terhadap sampel remaja. Hasil studi menunjukkan bahwa media sosial bertindak sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, media sosial menyediakan ruang digital yang luas untuk dakwah kreatif dan pemelajaran agama secara instan. Di sisi lain, hasil analisis statistik menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari intensitas penggunaan media sosial terhadap kerentanan kognitif remaja keagamaan dalam ekosistem echo chamber dan filter bubble. Fenomena ini memicu fragmentasi otoritas keagamaan, polarisasi pemikiran, serta rentannya remaja terpapar komodifikasi agama dan hoaks teologis yang mengeksploitasi emosi keagamaan mereka. Proses internalisasi nilai religius pada fase ini mengalami pergeseran dari corak yang dogmatis-struktural ke arah yang lebih personal-digital, namun rentan kehilangan kedalaman substansi teologis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi digital keagamaan (religious digital literacy) sebagai benteng pertahanan jiwa keagamaan remaja.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22808MEMBENTUK GENERASI BERAKHLAK MELALUI KASIH SAYANG IBU : PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENGUATAN KARAKTER ANAK2026-06-10T04:43:25+00:00Alihan Satraalihansatra_uin@radenfatah.ac.idMar’atus Sholehah23041070175@radenfatah.ac.idFebi Rahma Safvitrifebirahmaaa1626@gmail.comMeisya Andinimeisyaandini91@gmail.comNabela Febrianinabelafebriani34@gmail.comMuhammad Alif Akbaralifakbarrrrrrr@gmail.com<p>Pembentukan generasi yang berakhlak mulia merupakan tujuan utama Pendidikan Agama Islam yang memerlukan peran aktif keluarga, terutama ibu sebagai pendidik pertama bagi anak. Artikel ini bertujuan mengkaji kontribusi kasih sayang ibu dalam pembentukan akhlak dan penguatan karakter anak dalam perspektif Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai sumber yang relevan, meliputi Al-Qur’an, hadis, serta literatur pendidikan Islam dan pendidikan karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa kasih sayang ibu memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, dan penghormatan kepada sesama. Kasih sayang yang diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan, perhatian, dan komunikasi yang baik mampu membentuk lingkungan pendidikan yang kondusif bagi perkembangan akhlak anak. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, penguatan karakter tidak hanya berorientasi pada perilaku sosial yang baik, tetapi juga pada pembentukan keimanan dan kesadaran moral yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, optimalisasi peran ibu melalui pendekatan kasih sayang menjadi faktor penting dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan modern.</p> <p><em>Developing a generation with noble character is the primary goal of Islamic Religious Education, which requires the active role of the family, particularly the mother, as a child's first educator. This article aims to examine the contribution of maternal affection in the formation of morals and strengthening children's character from the perspective of Islamic Religious Education. This study employed a library research method by analyzing various relevant sources, including the Quran, Hadith, and Islamic education and character education literature. The results indicate that maternal affection plays a strategic role in instilling Islamic values, such as honesty, responsibility, discipline, empathy, and respect for others. This affection, manifested through role models, habits, attention, and good communication, can create an educational environment conducive to children's moral development. From the perspective of Islamic Religious Education, character building is oriented not only toward good social behavior but also toward the formation of faith and moral awareness based on Islamic values. Therefore, optimizing the role of mothers through a compassionate approach is a crucial factor in shaping a generation with strong character, noble character, and the ability to face the challenges of modern life.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23446ANALISIS KONTRASTIF SOSIOLINGUISTIK: DINAMIKA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA ARAB SEBAGAI HAKIKAT SOSIAL TUTURAN DI ERA KONTEMPORER2026-06-24T02:04:39+00:00Muhammad Rizki Kamal2259010001@uinsgd.ac.idAde Nandangadenandang@uinsgd.ac.id<p>Bahasa tidak pernah beroperasi di ruang hampa sebagai sekadar alat komunikasi mekanis yang bebas nilai, melainkan berfungsi secara komprehensif sebagai etalase sosiologis yang merepresentasikan identitas, hierarki, dan hakikat sosial para penuturnya. Seiring dengan peningkatan interaksi lintas budaya dan pesatnya era digitalisasi tanpa batas, lanskap sosiolinguistik terus mengalami transformasi yang menuntut adanya analisis komparatif mendalam antarbahasa. Kajian ini bertujuan untuk membedah fenomena tuturan sebagai simbol identitas sosial dengan melakukan analisis kontrastif sosiolinguistik secara komprehensif antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Melalui desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi serta semantik dan sintaksis, penelitian ini mengeksplorasi empat dimensi utama: manifestasi hakikat sosial dalam realitas dwibahasa, fenomena diglosia yang mengakar pada variasi tinggi dan rendah, dinamika alih kode serta campur kode dalam interaksi sosial pendidikan, dan konstruksi sistem kesantunan kultural. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kedua bahasa memiliki akar rumpun dan struktur sintaksis yang berbeda secara fundamental, keduanya memproyeksikan sifat sosial tuturan yang sejalan. Diglosia dalam bahasa Arab berupa ragam formal dan nonformal memiliki kesejajaran fungsional dengan variasi baku dan bahasa gaul dalam bahasa Indonesia, di mana keduanya digunakan sebagai strategi akomodasi psikologis dan negosiasi kelas sosial bagi para penuturnya. Ketiadaan atribut fisik di era siber justru semakin mendorong eksploitasi kreativitas linguistik, di mana peminjaman leksikal, percampuran kode, dan modifikasi sapaan menjadi instrumen mutlak untuk validasi kelompok. Kesimpulan utama dari studi ini secara tegas membuktikan bahwa perbedaan struktural antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab secara taktis dijembatani oleh kecerdasan pragmatik penuturnya demi mempertahankan eksistensi dan harmoni sosial, membuktikan bahwa evolusi kebahasaan adalah perwujudan adaptasi manusia seutuhnya.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23034“KONSEP WU WEI DALAM TAOISME SEBAGAI FONDASI ETIKA LINGKUNGAN DI ERA PERUBAHAN IKLIM GLOBAL”2026-06-15T03:11:09+00:00Aulia Alif Rahmaauliaalifrahma28@gmail.comEka Uswatul Khasanahuswahksnh22@gmail.comTita Bareratitaagt123@gmail.comSalwa Salsabilasalwasalsabila1607@gmail.comWahyu Purnamawahyupurnama8303@gmail.comAlif Aulia Fajrialifauliafajri639@gmail.comErdi Rujikartawierdi.rujikartawi@uinbanten.ac.id<p>Krisis iklim global saat ini tidak sekadar bersumber dari kegagalan teknis atau kebijakan emisi, melainkan berakar pada krisis antroposentrisme—sebuah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas alam. Artikel ini mengeksplorasi konsep filosofis Wu Wei dari tradisi Taoisme sebagai alternatif fondasi etika lingkungan modern di era perubahan iklim global dengan mengintegrasikan perspektif lokal Indonesia. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis deskriptif-filosofis, penelitian ini mengkaji teks-teks klasik Taoisme serta literatur etika lingkungan kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa Wu Wei—yang sering disalahpahami sebagai kepasifan atau tidak melakukan apa-apa—sebenarnya merupakan tindakan non-intervensi aktif yang selaras dengan ritme alami semesta (Dao). Di era antroposen, implementasi Wu Wei bertransformasi menjadi sebuah etika pembatasan diri radikal, pengakuan atas agensi non-manusia, restorasi ekologis pasif, dan penolakan terhadap eksploitasi agresif (You Wei). Rekonseptualisasi ini memberikan fondasi etis yang kokoh guna menggeser paradigma antroposentrisme menuju ekosentrisme demi resiliensi, keadilan ekologis, dan keberlanjutan bum</p> <p>i</p> <p>The current global climate crisis does not merely stem from technical failures or emission policies, but is deeply rooted in the crisis of anthropocentrism—a worldview that positions humans as the absolute masters of nature. This article explores the philosophical concept of Wu Wei from the Daoist tradition as an alternative foundation for modern environmental ethics in the era of global climate change by integrating the Indonesian local perspective. Utilizing a qualitative method based on literature research and descriptive-philosophical analysis, this study examines classical Daoist texts as well as contemporary environmental ethics literature. The results of the analysis indicate that Wu Wei which is frequently misunderstood as passivity or doing nothing is actually an active non intervention action that aligns perfectly with the natural rhythm of the universe (Dao). In the Anthropocene era, the implementation of Wu Wei transforms into an ethics of radical self-restraint, recognition of non-human agency, passive ecological restoration, and a rejection of aggressive exploitation (You Wei). This reconceptualization provides a solid ethical framework to shift the paradigm from anthropocentrism toward ecocentrism for the sake of the Earth's resilience, ecological justice, and sustainability</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23620DESAIN KURIKULUM BAHASA ARAB BERBASIS KEBUTUHAN PESERTA DIDIK DAN KONTEKS BUDAYA: STUDI KUALITATIF TENTANG PRINSIP KEBAHASAAN, EVALUASI, DAN UMPAN BALIK2026-06-27T09:21:30+00:00Yasril Ahmad Syairaziyasrilahmadsyairazi@gmail.comApip Ansurulloh Sidiqapipansurullohtu@gmail.comIsop Syafe'iisop.syafei@uinsgd.ac.id<p><strong>:</strong> Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain kurikulum bahasa Arab yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik dan konteks budaya dengan menitikberatkan pada prinsip kebahasaan, evaluasi, dan umpan balik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai proses perancangan dan implementasi kurikulum bahasa Arab pada berbagai konteks pendidikan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi yang melibatkan pengembang kurikulum, guru, kepala program, peserta didik, serta dokumen pembelajaran yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian, serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum bahasa Arab yang efektif perlu disusun berdasarkan analisis kebutuhan peserta didik, integrasi budaya lokal, penerapan prinsip kebahasaan secara komunikatif, evaluasi autentik, dan umpan balik berkelanjutan. Pendekatan tersebut memungkinkan pengembangan kompetensi komunikatif yang lebih relevan dengan kebutuhan akademik, sosial, dan profesional peserta didik serta mendukung pengembangan kurikulum yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23324"ISU KONTEMPORER (RELEVANSI NILAI TIMUR DALAM MENGHADAPI KRISIS LINGKUNGAN DAN MODERNITAS)."2026-06-21T11:05:18+00:00Siti Agni Sofiyanahsitiagnisofiyanah@gmail.comSuci Rahmahdanisucirahmahdani35@gmail.comErdi Rujikartawierdi.rujikartawi@uinbanten.ac.id<p>Menjelang tahun 2026, krisis lingkungan global semakin menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak hanya disebabkan oleh kesalahan pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga oleh paradigma modern yang memandang alam sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi dan teknologi. Melalui penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan, ditemukan bahwa filsafat Timur menawarkan alternatif cara pandang yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Taoisme menekankan keselarasan dengan hukum alam, Buddhisme mengajarkan kesadaran akan saling ketergantungan seluruh makhluk serta pola hidup yang moderat, sedangkan Hinduisme menegaskan pentingnya penghormatan terhadap alam sebagai tanggung jawab etis dan spiritual. Meskipun penerapannya menghadapi tantangan seperti perkembangan teknologi, komersialisasi spiritualitas, dan dominasi pendekatan teknokratis, nilai-nilai harmoni, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap alam yang terkandung dalam filsafat Timur tetap relevan sebagai landasan etika ekologis untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan memperkuat kesadaran lingkungan di abad ke-21.</p> <p><em>As 2026 approaches, the global environmental crisis increasingly demonstrates that ecological problems are not only caused by poor natural resource management, but also by a modern paradigm that views nature as an object of exploitation for economic and technological interests. Through qualitative research based on a literature study, it was found that Eastern philosophy offers an alternative perspective that promotes a more harmonious relationship between humans and nature. Taoism emphasizes harmony with the laws of nature, Buddhism teaches awareness of the interdependence of all beings and encourages a moderate way of life, while Hinduism stresses the importance of respecting nature as an ethical and spiritual responsibility. Although its implementation faces challenges such as technological development, the commercialization of spirituality, and the dominance of technocratic approaches, the values of harmony, simplicity, and respect for nature embedded in Eastern philosophy remain relevant as a foundation for ecological ethics in achieving sustainable development and strengthening environmental awareness in the 21st century.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22943MODEL INTEGRASI TRADISI KLASIK DAN METODE MODERN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB2026-06-12T11:13:33+00:00Nabil Fikri Fuadi2259010012@student.uinsgd.ac.idAcep Hermawanacephdr1223@gmail.com<p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini membahas integrasi tradisi klasik dalam pembelajaran bahasa Arab dengan metode modern dalam desain kurikulum. Tradisi klasik bertumpu pada ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah yang bertujuan memperkuat penguasaan kaidah bahasa serta menjaga keaslian bahasa Arab. Sementara itu, metode modern berfokus pada pengembangan keterampilan komunikatif melalui pembelajaran interaktif dan pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menciptakan keseimbangan antara ketepatan linguistik dan kompetensi komunikatif peserta didik. Penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi tradisi klasik dan metode modern mampu menghasilkan kurikulum bahasa Arab yang lebih seimbang, sehingga peserta didik tidak hanya memiliki pemahaman yang mendalam terhadap kaidah bahasa, tetapi juga mampu menggunakannya secara efektif dalam berbagai situasi komunikasi.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23547TEORI KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN AKTIF ANALISIS KONSEPTUAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN2026-06-25T12:31:34+00:00Adrialfaruqahmed76@gmail.comAli Maulidaalimaulida77@gmail.com<p>Sistem pendidikan senantiasa mengalami perubahan secara dinamis seiring dengan perkembangan zaman, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang relevan dan adaptif. Salah satu pendekatan yang saat ini banyak mendapat perhatian adalah teori belajar konstruktivisme. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pembelajaran konstruktivisme dalam dunia pendidikan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengumpulkan berbagai sumber referensi untuk dianalisis, kemudian ditarik kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran konstruktivisme merupakan pendekatan alternatif yang mampu mengatasi keterbatasan teori behavioristik, yang memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang dibentuk melalui proses aktif individu dalam menganalisis dan menyimpulkan informasi. Karakteristik utama konstruktivisme meliputi: (1) pembelajaran bersifat aktif, (2) kontekstual dan autentik, (3) menarik serta menantang, (4) mengaitkan pengetahuan awal dengan informasi baru, (5) mendorong refleksi, serta (6) peran guru sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dalam proses belajar.</p> <p><em>The education system continuously evolves in response to changing times, necessitating the use of appropriate and adaptive learning approaches. One of the approaches that has recently gained significant attention is constructivist learning theory. This article aims to explore the application of constructivist learning within the field of education. The study employs a literature review method by gathering various reference sources for analysis and drawing conclusions. The findings indicate that constructivist learning serves as an alternative approach that addresses the limitations of behaviorist perspectives, which tend to view knowledge as something formed solely through external stimuli. In contrast, constructivism emphasizes that knowledge is actively constructed by individuals through processes of analysis and interpretation. The key characteristics of constructivist learning include: (1) active engagement in learning, (2) authenticity and contextual relevance, (3) stimulating and challenging activities, (4) connecting prior knowledge with new information, (5) reflective thinking, and (6) the role of the teacher as a facilitator who provides guidance and support throughout the learning process.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23220DUA KUTUB KEYAKINAN: MEMAHAMI REINKARNASI DAN HARI KIAMAT DALAM PERSPEKTIF AGAMA ISLAM DAN HINDU2026-06-19T03:53:32+00:00Siti Nurhaliza Yustia05sitinurhalizayustiiaa@gmail.comAiluzia Diniatul Chofifahdiniatul10@gmail.comHartatitaatiharr@gmail.comMohammad Sihabudinmohammadsihabudin21@gmail.comErdi Rujikartawierdi.rujikartawi@uinbanten.ac.id<p>Penelitian kualitatif ini mengkaji konsep Hari Kiamat beserta tanda-tandanya berdasarkan hadis shahih Bukhari dan Muslim sebagai landasan moral umat Islam. Dalam agama Islam, terdapat fahaman tanasukh al-arwah yaitu perpindahan roh yang menyerupai konsep reinkarnasi dalam agama Hindu. Reinkarnasi bermaksud perpindahan roh kepada jasadatau benda tertentu, dimana setiap perbuatan manusia kelak akan dipertanggungjawabkan. Setiap agama menganjurkan kebaikan dan menghindari kejahatan supaya mendapat kehidupan yang harmoni, serta memberikan balasan baik atau buruk. Kajian ini menggunakan metode kepustakaan untuk meneliti secara perbandingan konsep Hari Kiamat (Islam) dan reinkarnasi (Hindu).</p> <p><em>This qualitative research examines the concept of Doomsday and its signs based on the authentic hadith of Bukhari and Muslim as the moral foundation of Muslims. In Islam, there is the concept of tanasukh al-arwah, namely the transfer of spirits which resembles the concept of reincarnation in Hinduism. Reincarnation means the transfer of the spirit to a certain body or object, where every human action will later be accounted for. Every religion advocates goodness and avoiding evil in order to have a harmonious life, and provides good or bad rewards. This study uses literature methods to comparatively examine the concepts of Doomsday (Islam) and reincarnation (Hinduism).</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22852TAUHID DAN PEMBENTUKAN KARAKTER GENERASI MUDA2026-06-11T01:25:21+00:00Debi Alvinadebivina39@gmail.comSridevisriidevi224@gmail.comNelson Falandonelsonfalando12@gmail.comWidya Wulandariwidyawulandari201299@gmail.com<p>Penelitian ini membahas peran tauhid sebagai dasar pembentukan karakter generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era modern. Tauhid tidak hanya berfungsi sebagai landasan keimanan, tetapi juga menjadi pedoman dalam membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Melalui pemahaman dan pengamalan tauhid yang benar, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, dan integritas moral. Pembahasan ini juga mengkaji berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat karakter generasi muda, antara lain melalui integrasi pendidikan tauhid dalam kurikulum, keterlibatan orang tua, pendekatan kontekstual, penanaman nilai-nilai dasar tauhid, dukungan lingkungan sosial, serta penguatan literasi digital Islami. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan mengenai pendidikan tauhid dan pendidikan karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan nilai tauhid secara konsisten dan berkelanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.</p> <p><em>This study discusses the role of Tauhid as the foundation for character building among the younger generation in facing various challenges of modern life. Tauhid serves not only as the basis of faith but also as a guideline for shaping attitudes, behaviors, and personalities in accordance with Islamic values. Through a proper understanding and implementation of Tauhid, young people are expected to develop positive character traits such as honesty, responsibility, discipline, social awareness, and moral integrity. This paper also examines several efforts to strengthen the character of the younger generation, including the integration of Tauhid education into the curriculum, parental involvement, contextual learning approaches, the inculcation of fundamental Tauhid values, support from the social environment, and the promotion of Islamic digital literacy. The study employs a library research method by reviewing relevant literature on Tauhid education and character education. The findings indicate that the consistent and continuous reinforcement of Tawhid values significantly contributes to the development of a faithful, morally upright, and resilient younger generation capable of adapting to contemporary developments without losing their Islamic identity.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23488REAKTUALISASI PEMIKIRAN ISLAM KLASIK DALAM MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN2026-06-24T09:41:42+00:00Achmad Syauqi Jindanjindanahmad07@gmail.comNeysa Shafiranyssfr@gmail.comMuhammad Khoiril Wildanmkhoirilwildan@gmail.comAkif Madani Fasyaalfasyni123@gmail.com<p>Era digital telah menggeser interaksi manusia dari ruang fisik ke ruang maya, namun kemudahan komunikasi ini dibayangi oleh krisis etika seperti cyberbullying, hoaks, dan ujaran kebencian. Artikel ini bertujuan untuk mereaktualisasi pemikiran Islam klasik, khususnya konsep akhlak dan bahaya lisan (Afat al-Lisan) dari Imam Al-Ghazali dalam kitab ihya’ ‘Ulum ad-Din, sebagai solusi atas Tantangan etika di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan sumber primer kitab Al-Ghazali dan sumber sekunder berupa jurnal-jurnal ilmiah terakreditasi serta laporan reami terkau fenomena cyberbullying di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip menjaga lisan (Hifzh al-lisan) dapat ditransformasikan menjadi konsep menjaga jari/jempol (Hifzh al-banan) di era digital, mengingat medium distruksi moral telah bergeser daribucapan lisan menjadi ketukan jemari di atas gawai. Strategi praktis yang ditawarkan meliputi penerapan protokol tabayyun digital sebelum menyebarkan informasi, internalisasi kesadaran akan akuntabilitas eskatologis atas setiap aktivitas siber, serta penerapan asketisme digital melalui al-imsak (puasa berkomentar) sebagai bentuk kedewasaan emosional. Kesimpulannya, pemikitan Islam klasik tidak hanya relevan secara normatif, tetapi juga operasional dalam membangun etika digital yang beradab melengkapi keterbatasan pendekatan hukum formal seperti UU ITE yang bersifat represif.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23061PENCARIAN IMAN DI USIA REMAJA SEBAGAI FASE TERPENTING DALAM MENCARI IDENTITAS DIRI2026-06-15T13:13:40+00:00Siti Nurhaliza Yustia05sitinurhalizayustiiaa@gmail.comMohammad Sihabudinmohammadsihabudin21@gmail.comAbdullatifabdullatifff789@gmail.comAchmad Maftuh Sujanaachmad.maftuh@uin.banten.ac.id<p>Masa remaja adalah periode penting dalam perkembangan manusia yang ditandai oleh pencarian jati diri dan upaya memberi makna pada keberadaan. Penelitian ini bertujuan menelaah peran pencarian iman sebagai landasan utama dalam pembentukan identitas remaja. Berangkat dari teori perkembangan identitas Erikson (Identity vs Role Confusion) dan teori perkembangan iman Fowler (Synthetic-Conventional Faith), masa remaja (12–21 tahun) dianggap sebagai fase paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai agama dan membina hubungan pribadi dengan Tuhan.</p> <p><em>Adolescence is a crucial period in human development, marked by the search for identity and the quest for meaning in one's existence. This study aims to examine the role of the search for faith as a primary foundation in adolescent identity formation. Drawing on Erikson's theory of identity development (Identity vs. Role Confusion) and Fowler's theory of faith development (Synthetic-Conventional Faith), adolescence (12–21 years) is considered the most appropriate phase for instilling religious values and fostering a personal relationship with God.</em></p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/22820KAJIAN AGAMA ISLAM: MODERASI BERAGAMA BERBASIS TAUHID: MENGHADAPI RADIKALISME DAN LIBERALISME GLOBAL2026-06-10T07:29:00+00:00Dinda Alifathu Zahra23041070301@radenfatah.ac.idNabilah Husni Hidayah23041070294@radenfatah.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan mengkaji moderasi beragama berbasis tauhid sebagai kerangka dalam menghadapi radikalisme dan liberalisme dalam konteks Islam kontemporer. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, data diperoleh dari Al-Qur’an, Hadis, serta karya pemikir Muslim seperti Quraish Shihab dan Azyumardi Azra, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radikalisme dan liberalisme merupakan penyimpangan dari prinsip keseimbangan (wasathiyah), di mana radikalisme cenderung kaku dan eksklusif, sementara liberalisme berpotensi mengabaikan nilai-nilai dasar agama. Tauhid dipahami sebagai fondasi utama yang mencakup aspek uluhiyyah, rububiyyah, dan asma wa sifat, sehingga mampu menjadi dasar moderasi yang menjaga keseimbangan antara keteguhan iman dan sikap toleran. Penelitian ini masih terbatas pada kajian teoritis, sehingga diperlukan penelitian lanjutan yang bersifat empiris, khususnya dalam konteks pendidikan dan kehidupan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa tauhid memiliki nilai penting sebagai dasar epistemologis dan etis dalam membangun moderasi beragama di tengah tantangan global.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islamhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/23448TRANSFORMASI PEDAGOGIS PEMBELAJARAN NAHWU MELALUI PENDEKATAN ISTIQRA'IYYAH BERBANTUAN KECERDASAN BUATAN: STUDI KASUS DI SMP IT AL-MUSTAFAD2026-06-24T02:22:35+00:00Muhammad Rizki Kamal2259010001@uinsgd.ac.idAcep Hermawanacepher@uinsgd.ac.id<p>Penguasaan ilmu tata bahasa Arab (Nahwu) sering kali menjadi tantangan kognitif terbesar bagi peserta didik di tingkat menengah, yang umumnya dipicu oleh dominasi pendekatan deduktif konvensional yang kaku dan mengandalkan hafalan mekanis semata. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan ulang metodologi pengajaran Nahwu secara aplikatif dan fungsional melalui implementasi pendekatan induktif (Thariqah Istiqra'iyyah) yang diintegrasikan dengan pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini mengambil lokus di SMP IT Al-Mustafad, sebuah institusi pendidikan di kawasan Pacet, Kabupaten Bandung, yang baru beroperasi selama empat tahun dengan total partisipan sebanyak 68 orang santri. Pengumpulan data komprehensif dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pendidik dan peserta didik, serta analisis dokumen instruksional. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebuntuan pengajaran tata bahasa dapat diurai secara efektif melalui tiga tahap strategis: pertama, dekonstruksi paradigma dari hafalan kaidah menuju observasi teks fungsional; kedua, pemanfaatan AI melalui teknik rekayasa perintah terstruktur untuk merancang naskah simulasi yang memuat pola sintaksis target secara instan; dan ketiga, penerapan simulasi komunikatif di ruang kelas yang menuntut santri untuk menemukan dan merumuskan aturan tata bahasa secara mandiri. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa perpaduan antara pendekatan Istiqra'iyyah dan dukungan teknis kecerdasan buatan mampu menurunkan tingkat kecemasan akademik santri secara drastis, mengubah wacana Nahwu dari sekadar teori abstrak menjadi keterampilan komunikasi yang hidup, serta meringankan beban administratif guru dalam menyiapkan materi ajar yang otentik dan relevan.</p>2026-06-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islam