https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/issue/feed Jurnal Kajian Agama Islam 2026-04-29T15:58:29+00:00 Open Journal Systems https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/20990 TRASPORMASI PERAN DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER MAHASISWA DI PERGURUAN TINGGI UMUM 2026-04-13T03:47:56+00:00 Sukring sukring69kd@gmail.com <p>Transformasi peran dosen pendidikan, khususnya dosen Pendidikan Agama Islam (PAI), menjadi sangat penting dalam membentuk karakter mahasiswa di perguruan tinggi umum. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa semakin kompleks. Dosen PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan spiritualitas. Melalui pendekatan transformatif, dosen PAI dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dan karakter dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran dosen PAI dalam membentuk karakter mahasiswa, tantangan yang dihadapi, serta model ideal yang dapat diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran dosen PAI sangat krusial dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan karakter mahasiswa. Dengan demikian, peneguhan peran dosen PAI di masa depan menjadi penting untuk memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter yang baik.</p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islam https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/21432 EFEKTIVITAS STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA 2026-04-28T06:05:15+00:00 Dwi Rahmadani dwirahma.x02@gmail.com Vika Ayunda ayundavika241@gmail.com Gusmaneli gusmanelimpd@uinib.ac.id <p>Penelitian ini membahas strategi pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Strategi ini berpusat pada siswa dengan melibatkan mereka secara aktif dalam mencari, menganalisis, dan menyimpulkan informasi, sementara guru berperan sebagai fasilitator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri lebih efektif dibandingkan metode konvensional karena mampu meningkatkan keaktifan, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Meskipun memerlukan waktu dan pengelolaan yang baik, strategi ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar serta mendukung keterampilan abad ke-21.</p> <p><em>This study discusses the inquiry-based learning strategy in improving students’ critical thinking skills. This strategy is student-centered, involving learners actively in seeking, analyzing, and drawing conclusions from information, while the teacher acts as a facilitator. The results show that inquiry-based learning is more effective than conventional methods, as it enhances students’ activeness, independence, and critical thinking abilities. Although it requires more time and proper management, this strategy has proven to improve learning outcomes and support 21st-century skills.</em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islam https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/21024 PANDANGAN DAN SIKAP AGAMA ISLAM TERHADAP KAUM LGBT DI KABUPATEN SIKKA, DAN RELEVANSINYA TERHADAP PANDANGAN AGAMA KATOLIK 2026-04-14T08:56:30+00:00 Mastinus Paskalis Selvino tinoselvinnyo@gmail.com Petrus Alexander Jogo Kedang kedangoga18@gmail.com William Agustinus Brayen Kasito brayenkasito@gmail.com Raimundus Alvino Lewar rrcchnggl@gmail.com <p>&nbsp;Kehadiran kaum LGBT di tengah kehidupan bermasyarakat serentak menuai berbagai narasi yang kontrafaktual. Distingsi orientasi seksual yang lebih mengagung-agungkan prinsip heteroseksual menjadi momok utama dalam penolakan kaum LGBT. Mereka menyangkal akan fakta keberagaman identitas seksual dan gender yang secara kodrati telah melekat dalam diri manusia. Di sisi lain, maraknya invasi penolakan terhadap kaum LGBT juga memiliki keterkaitan erat dengan intervensi agama di dalamnya. Dengan bertolak pada berbagai doktrin iman, tak jarang agama berusaha mengisolasi diri sekaligus menggugat pola indentitas seksual yang mereka tunjukan sebagai bentuk perlawan terhadap kondrat. Namun, sebagai institusi yang mengajarkan tentang kebenaran, agama tetap berada pada pendiriannya dalam menegakan dan memelihara hak moralitas kemanusiaan. Situasi dilematis pun terjadi ketika agama dipaksa untuk memilih antar opsi mengekang realitas kemejemukan seksual atau tetap konsisten&nbsp; dalam membela hak moral kaum LGBT yang terdiskriminasikan. Pada jurnal ini, penulis berusaha menganalisis keberadaan kaum LGBT dalam kacamata perspektif hukum Islam dan ajaran Katolik serta berbagai tindakan penerapan yang diambil&nbsp; terhadap kaum LGBT.</p> <p><em>The presence of LGBT in the midst of society was simultaneously gathering a variety of counterfactual narratives. Sexual orientation distension that glorifies heterosexual principles is the principal evil in LGBT rejection. They deny that sexual and gender diversity has inherent in humans. On the other hand, the proliferation of invasions against LGBT people also has a close link with religious interventions within. Contrary to various doctrines of faith, it is not uncommon for religion to try to isolate itself and challenge the pattern of sexual identity that they portray as a fighting against the clergy. Yet, as an institution that teaches the truth, religion remains in its position to uphold and maintain the right of human morality. The situation is weakened when religion is forced to choose between options to curb the sexualized realities or remain consistent in the defense of discriminated LGBT moral rights. In this journal, authors attempt to analyze the presence of LGBT people in the perspective of islamic law and Catholic teachings and the various measures of application taken toward LGBT people.</em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islam https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkai/article/view/21192 POSISI PENEMPATAN CINCIN SPERPEKTIF RASULULLAH ( STUDI PEMAHAMAN HADITS ) 2026-04-21T03:43:43+00:00 Nova Yuliana novayuliana295@gmail.com <p>Penempatan cincin pada jari tangan telah menjadi tradisi yang melekat dalam masyarakat, terutama pada acara pertunangan dan pernikahan, di mana cincin biasanya dikenakan pada jari manis. Namun, fenomena kontemporer menunjukkan bahwa sebagian generasi muda cenderung sembarangan dalam memilih posisi jari untuk memakai cincin, tanpa mempertimbangkan panduan dari ajaran Islam serta rumor yang menyebar dikalangan masyarakat yang mengatakan bahwa orang yang memakai cincin pada jari telunjuk merupakan orang yang sedang megikuti kaum luth. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tematik ( maudhu’i ) dengan jenis penelitian pustaka ( library research ). Sumber utama berasal dari kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Daud dan kitab-kitab lainnya yang memuat hadits tentang larangan nabi memakai cincin pada jari telunjuk dan tengah, serta kebiasaan nabi memakai cincin pada jari kelingking. Hadits- hadits tersebut dianalisis untuk memahami posisi penenpatan cincin yang disukai dan dilarang oleh nabi, kemudian dibandingkan dengan pengetahuan masyarakat tentang pemakaian cincin pada zaman sekarang. Posisi penempatan cincin ini berisikan tentang larangan memakai cincin di jari telunjuk serta sunnah nabi memakai cincin pada jari kelingking. Hadits menyebutkan bahwa larangan memakai cincin di jari telunjuk dan tengah merupakan larangan yang mahruh tahzin, karena larangan tersebut bertujuan kepada laki-laki untuk menentukan etika dan adab laki-laki dalam memakai perhiasan yang dapat menyerupai perempuan serta kekawatiran suka terhadap lawan jenis, karena pemakaian cincin yang tidak sesuai pada zaman sekarang, sementara pemakaian cincin pada jari kelingking adalah sunnah. Para ulama sepakat bahwa hikmah memakai cincin di jari kelingking adalah agar terhindar dari pengotoran serta tidak mengganggu ketika bekerja lantaran letak cincin berada di penggir bawah tangan.</p> <p><em>The placement of rings on the fingers has become a tradition deeply embedded in society, particularly during engagement and wedding ceremonies, where rings are typically worn on the ring finger. However, contemporary phenomena indicate that a portion of the younger generation tends to be careless in choosing the finger position for wearing rings, often disregarding the guidance from Islamic teachings. Additionally, there are rumors circulating within the community suggesting that individuals who wear rings on their index fingers are following the practices of the people of Lot. This study employs a qualitative method with a thematic approach (maudhu’i) and utilizes library research as its primary research type. The main sources are derived from hadith collections such as Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan At-Tirmidhi, Sunan Abu Dawood, and other texts that contain hadiths regarding the Prophet's prohibition against wearing rings on the index and middle fingers, as well as his practice of wearing rings on the pinky finger. These hadiths are analyzed to understand the preferred and prohibited positions for ring placement as indicated by the Prophet, and then compared with contemporary societal knowledge regarding ring usage. The discussion on ring placement includes the prohibition of wearing rings on the index finger and the Sunnah of the Prophet wearing rings on the pinky finger. The hadiths indicate that the prohibition against wearing rings on the index and middle fingers is a makruh tahzin (discouraged) prohibition, aimed at guiding men in their etiquette and decorum regarding jewelry that may resemble that of women, as well as addressing concerns about attraction to the opposite sex. This is particularly relevant given the inappropriate use of rings in modern times, while wearing rings on the pinky finger is considered a Sunnah. Scholars agree that the wisdom behind wearing a ring on the pinky finger is to avoid contamination and to prevent interference while working, as the ring is positioned at the edge of the hand.</em></p> 2026-04-29T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Agama Islam