DIGITALITAS AMALIYAH SADAH BA’ALAWI DALAM APLIKASI BAALWI: (ANALISIS FITUR KEISLAMAN BERBASIS ANDROID)
Kata Kunci:
Aplikasi Keislaman, Baalwi, Digitalisasi Agama, Tradisi Ba‘Alawi, Islam DigitalAbstrak
Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola keberagamaan umat Islam, di mana aktivitas ibadah dan pembelajaran keagamaan tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga berlangsung melalui media digital, khususnya aplikasi keislaman berbasis perangkat seluler. Artikel ini menelaah aplikasi BaAlwi sebagai bentuk representasi digital dari tradisi amaliyah Sadah Ba‘Alawi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan profil aplikasi BaAlwi, mengkaji fitur-fitur utama yang tersedia, serta menelaah kelebihan dan keterbatasannya sebagai media keislaman digital. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, melalui observasi langsung terhadap isi, fungsi, dan tampilan aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BaAlwi menyediakan berbagai bentuk amaliyah keagamaan, antara lain Al-Qur’an digital, dzikir pagi dan petang, wirid hari Jumat, murottal, serta qashidah, yang disusun berdasarkan otoritas keilmuan para ulama Sadah Ba‘Alawi. Aplikasi ini memperlihatkan upaya integrasi antara nilai-nilai tradisi keagamaan dan perkembangan teknologi digital melalui penyediaan audio, transliterasi, terjemahan, serta sistem navigasi yang relatif mudah dioperasikan. Dari sisi keunggulan, BaAlwi memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi, konten yang cukup lengkap, serta legitimasi keagamaan yang menjadikannya sebagai rujukan amaliyah bagi pengamal tradisi Ba‘Alawi. Namun, di sisi lain, aplikasi ini juga memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait aspek teknis, desain antarmuka, performa aplikasi, serta kemungkinan munculnya perdebatan mengenai kelengkapan dan validitas konten keagamaannya. Kajian ini menegaskan bahwa BaAlwi dapat dipahami sebagai wujud konkret digitalisasi tradisi keagamaan Islam yang mencerminkan hubungan antara teknologi, otoritas keilmuan, dan praktik ibadah dalam konteks masyarakat digital.


