PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN FILSAFAT ISLAM

Penulis

  • Nur Asiah Galingging UIN Syahada
  • Uswatun Hasanah UIN Syahada

Kata Kunci:

Filsafat Islam, Sejarah Pemikiran, Al-Kindi, Mulla Sadra, Rasionalisme

Abstrak

Penelitian ini  bertujuan untuk memetakan dinamika pertumbuhan dan perkembangan filsafat Islam sebagai salah satu pilar intelektual terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis-filosofis. Pertumbuhan filsafat Islam berawal dari gerakan penerjemahan besar-besaran karya-karya Yunani, seperti Aristoteles dan Plato, ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun, filsafat Islam tidak sekadar menjadi replika pemikiran Yunani. Para filsuf Muslim awal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina berhasil melakukan sintesis kreatif antara rasionalitas filosofis dengan prinsip-prinsip wahyu, yang melahirkan karakteristik unik berupa corak peripatetik. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya kritik tajam dari Al-Ghazali yang memicu pergeseran paradigma dari corak diskursif (bahstiyyah) menuju corak iluminatif (isyraqiyyah) yang dipelopori oleh Suhrawardi, serta puncaknya pada "Hikmah Muta’aliyah" karya Mulla Sadra. Dalam fase ini, filsafat, teologi, dan mistisisme (tasawuf) melebur menjadi satu kesatuan epistemologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sempat dianggap mengalami kemunduran di dunia Islam bagian Barat setelah wafatnya Ibnu Rusyd, tradisi filsafat Islam tetap eksis dan terus bertransformasi. Di era modern dan kontemporer, filsafat Islam hadir sebagai instrumen kritis untuk menjawab tantangan sekularisme, sains modern, dan isu-isu etika global. Simpulan dari artikel ini menegaskan bahwa filsafat Islam adalah tradisi intelektual yang hidup (living tradition) yang senantiasa relevan dalam menjembatani akal dan iman di tengah perubahan zaman.

This article aims to map the dynamics of the growth and development of Islamic philosophy as one of the most significant intellectual pillars in the history of human civilization. This research employs a qualitative method through library research with a historical-philosophical approach. The growth of Islamic philosophy began with the massive translation movement of Greek works, such as those of Aristotle and Plato, into Arabic during the Abbasid Dynasty. However, Islamic philosophy was not merely a replica of Greek thought. Early Muslim philosophers such as Al-Kindi, Al-Farabi, and Ibn Sina successfully achieved a creative synthesis between philosophical rationality and the principles of revelation, which gave birth to a unique characteristic known as the peripatetic school. The subsequent development was marked by Al-Ghazali’s sharp critiques, which triggered a paradigm shift from discursive patterns (bahstiyyah) toward illuminative patterns (isyraqiyyah) pioneered by Suhrawardi, ultimately peaking in the "Transcendent Theosophy" (Hikmah Muta’aliyah) of Mulla Sadra. In this phase, philosophy, theology, and mysticism (Sufism) merged into a unified epistemology. The findings indicate that although it was perceived to have declined in the Western Islamic world following the death of Ibn Rushd, the tradition of Islamic philosophy persisted and continued to transform. In the modern and contemporary eras, Islamic philosophy serves as a critical instrument to address the challenges of secularism, modern science, and global ethical issues. This article concludes that Islamic philosophy is a living tradition that remains consistently relevant in bridging reason and faith amidst changing times.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30