https://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/issue/feedJurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinier2026-09-29T18:50:31+00:00Open Journal Systemshttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27446PENERAPAN TERAPI MUROTAL UNTUK MENGURANGI INSOMNIA PADA REMAJA DI DESA GANDEKAN2026-09-22T09:13:45+00:00Nila Karunia Putrinilakarunia24@gmail.comDidik Iman Margatotdidikiman@unisa-surakarta.ac.idYohana Ika Prastiwiyohanaikaebn@gmail.com<p>Latar Belakang: Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun lebih awal sehingga berdampak pada penurunan kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari pada remaja. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia adalah terapi murottal Al-Qur'an yang memberikan efek relaksasi sehingga membantu meningkatkan kualitas tidur. Tujuan: Mendeskripsikan penerapan terapi murottal Al-Qur'an untuk mengurangi insomnia pada remaja di Desa Gandekan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain studi kasus pada dua remaja yang mengalami insomnia di Desa Gandekan yang diukur menggunakan instrumen Kelompok Studi Psikiatri Biologi Jakarta–Insomnia Rating Scale (KSPBJ-IRS). Terapi diberikan selama 7 hari berturut-turut dengan durasi ±15 menit setiap malam dan dilakukan evaluasi harian. Hasil: Terjadi penurunan skor insomnia dari kategori berat menjadi ringan, yaitu dari 36 menjadi 21 pada responden pertama dan dari 33 menjadi 23 pada responden kedua. Penurunan skor terjadi secara bertahap selama tujuh hari pelaksanaan terapi. Kesimpulan: Penerapan terapi murottal Al-Qur'an selama tujuh hari dapat menurunkan tingkat insomnia pada kedua remaja di Desa Gandekan. Terapi murottal Al-Qur'an dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu mengurangi insomnia pada remaja.</p> <p><em>Background: Insomnia is a sleep disorder characterized by difficulty initiating sleep, maintaining sleep, or waking up earlier than desired, which can lead to a decline in quality of life and daily functioning among adolescents. One of the non-pharmacological interventions that can be used to address insomnia is Qur’anic murottal therapy, which provides a relaxation effect that helps improve sleep quality. Objective: To describe the application of Qur’anic murottal therapy in reducing insomnia among adolescents in Gandekan Village. Methods: This study used a descriptive method with a case study design involving two adolescents experiencing insomnia in Gandekan Village. Insomnia levels were measured using the Jakarta Biological Psychiatry Study Group–Insomnia Rating Scale (KSPBJ-IRS). The intervention was administered for 7 consecutive days, approximately 15 minutes each night, with daily evaluations. Results: There was a decrease in insomnia scores from severe to mild category, from 36 to 21 in the first respondent and from 33 to 23 in the second respondent. The reduction in scores occurred gradually over the seven days of therapy implementation. Conclusion: The application of Qur’anic murottal therapy for seven days was able to reduce insomnia levels in both adolescents in Gandekan Village. Qur’anic murottal therapy can be considered a non-pharmacological nursing intervention to help reduce insomnia in adolescents.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/26619PENGARUH HUMAN CAPITAL DAN STRUCTURAL CAPITAL TERHADAP RETURN ON ASSETS PADA PERUSAHAAN SEKTOR BARANG BAKU YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2023-20252026-09-11T03:35:57+00:00Restina Helmi Latifahrestyna994@gmail.comRoy Irawanroy.ryi@bsi.ac.idYandri Ahmad Rifandiyandri.yam@bsi.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengelolaan sumber daya manusia serta sistem dan prosedur perusahaan dalam mendukung efisiensi operasional dan kinerja perusahaan. Human Capital mencerminkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi karyawan, sedangkan Structural Capital berkaitan dengan sistem, prosedur, dan teknologi perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Human Capital (HCE) dan Structural Capital (SCE) terhadap Return On Assets (ROA) pada perusahaan sektor barang baku yang terdaftar di BEI periode 2023–2025. Sampel terdiri dari 40 perusahaan dengan 120 observasi yang dipilih melalui purposive sampling. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan dianalisis menggunakan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Human Capital berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, dengan Thitung 2,755 ≥ Ttabel 1,980 dan signifikansi 0,007 ≤ 0,05. Structural Capital tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, dengan Thitung 1,815 ≤ Ttabel 1,980 dan signifikansi 0,072 ≥ 0,05. Secara simultan, Human Capital dan Structural Capital berpengaruh signifikan terhadap ROA, dengan Fhitung 12,130 ≥ Ftabel 3,07 dan signifikansi 0,000 ≤ 0,05.</p> <p><em>This study is motivated by the importance of human resource management and corporate systems and procedures in supporting operational efficiency and company performance. Human Capital reflects employees' knowledge, skills, and competencies, whereas Structural Capital relates to the company's systems, procedures, and technology. This study aims to analyze the impact of Human Capital (HCE) and Structural Capital (SCE) on Return on Assets (ROA) for companies in the raw materials sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2023–2025 period. The research sample consists of 40 companies, yielding 120 observations selected via purposive sampling. A quantitative method was employed using secondary data—specifically annual financial reports—and data analysis was conducted using SPSS software version 27. The results indicate that Human Capital has a positive and significant effect on ROA, with a calculated t-value of 2.755 (≥ t-table 1.980) and a significance level of 0.007 (≤ 0.05). Structural Capital does not have a significant effect on ROA, with a calculated t-value of 1.815 (≤ t-table 1.980) and a significance level of 0.072 (≥ 0.05). Simultaneously, Human Capital and Structural Capital have a significant effect on ROA, with a calculated F-value of 12.130 (≥ F-table 3.07) and a significance level of 0.000 (≤ 0.05).</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27403PENERAPAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP NYERI HAID (DISMENORE) PADA USIA REMAJA DI WILAYAH KELURAHAN GANDEKAN KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA2026-09-21T09:57:55+00:00Endang Anggorowatiendanganggorowati9@gmail.comIda Nur Imamahidanurimamah@unisa-surakarta.ac.idNur Haryaninurharyani1978@gmail.com<p>Latar Belakang: Dismenore merupakan nyeri saat menstruasi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah teknik relaksasi napas dalam. Tujuan: Mengetahui penerapan teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri haid pada remaja di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua remaja putri usia 16–17 tahun yang mengalami dismenore. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Teknik relaksasi napas dalam diberikan selama 15 menit, satu kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Hasil: Skala nyeri responden pertama menurun dari 5 menjadi 2, sedangkan responden kedua dari 4 menjadi 2. Kesimpulan: Teknik relaksasi napas dalam efektif membantu menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja sehingga dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman, sederhana, dan mudah dilakukan secara mandiri.</p> <p><em>Background: Dysmenorrhea is menstrual pain commonly experienced by adolescent girls and can interfere with daily activities. One non-pharmacological intervention that may help reduce menstrual pain is the deep breathing relaxation technique. Objective: To determine the implementation of the deep breathing relaxation technique in reducing menstrual pain (dysmenorrhea) among adolescents in Gandekan Village, Jebres District, Surakarta City. Methods: This study employed a descriptive case study design involving two adolescent girls aged 16–17 years with dysmenorrhea. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. The deep breathing relaxation technique was administered for 15 minutes once daily for three consecutive days. Results: The first respondent's pain score decreased from 5 to 2, while the second respondent's pain score decreased from 4 to 2. Conclusion: The deep breathing relaxation technique was effective in reducing the intensity of menstrual pain among adolescents. It can be used as a safe, simple, and independent non-pharmacological nursing intervention for dysmenorrhea management.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27357OPTIMALISASI KEBUN LITERASI BERBASIS GOOGLE SITES TERINTEGRASI QR CODE SEBAGAI MEDIA INFORMASI TANAMAN DI SMP NEGERI 9 MAGELANG2026-09-21T04:40:19+00:00Dewi Zulfa Kamiladewi.zulfa.kamila@students.untidar.ac.idIqromahiqromah@students.untidar.ac.idMuhamad Arya Brahma Putramuhamad.arya.brahma.putra@students.untidar.ac.idMuhammad Atira Fairuz Ahnafatira.fairuz@students.untidar.ac.idNurul Rahmawatinurul.rahmawati@students.untidar.ac.idRiva Wildatun Niariva.wildatun.nia@students.untidar.ac.idVoni Aprilyavoni.aprilya@students.untidar.ac.id<p>Kemampuan literasi menjadi salah satu bekal penting bagi murid, namun penguatannya di sekolah masih terkendala keterbatasan fasilitas dan rendahnya minat baca. Di sisi lain, SMP Negeri 9 Magelang memiliki area kebun yang belum tertata dan belum dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan kebun sekolah menjadi Kebun Literasi dengan memanfaatkan Google Sites yang terintegrasi QR Code sebagai media informasi tanaman. Kegiatan dilaksanakan oleh tim Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar menggunakan pendekatan partisipatif melalui lima tahap, yaitu observasi, perancangan, pengembangan, uji coba, dan evaluasi. Tahap pengembangan mencakup pendataan tanaman (nama lokal, nama ilmiah, klasifikasi, habitat, karakteristik, dan manfaat), penyusunan konten pada website "Kebun Literasi SPENALAN", pembuatan desain papan informasi melalui Canva, serta pemasangan QR Code di dekat tanaman. Uji coba dilakukan dengan melibatkan murid sebagai pengguna, kemudian tanggapan mereka dijaring melalui angket dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil evaluasi menunjukkan respons positif pada tiga aspek, yaitu akses dan penggunaan media sebesar 95,8%, pemahaman dan kebermanfaatan informasi sebesar 100%, serta ketertarikan dan pemanfaatan sebagai media belajar sebesar 98,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa penggabungan kebun sekolah dengan media digital mampu mengubah kebun dari sekadar ruang hijau menjadi sumber belajar yang kontekstual, mudah diakses, dan mendukung kegiatan literasi murid secara mandiri.</p> <p><em>Literacy is an essential skill for students, yet strengthening it at school is often hindered by limited facilities and low reading interest. Meanwhile, SMP Negeri 9 Magelang has a school garden that remains unorganized and has not been used as a learning space. This activity aims to optimize the school garden into a Literacy Garden by utilizing Google Sites integrated with QR Codes as a plant information medium. The program was carried out by the Integrated Educational Internship (MKT) team of Universitas Tidar using a participatory approach through five stages: observation, design, development, trial, and evaluation. The development stage included plant data collection (local name, scientific name, classification, habitat, characteristics, and benefits), content arrangement on the "Kebun Literasi SPENALAN" website, information board design using Canva, and the installation of QR Codes near each plant. The trial involved students as users, whose responses were collected through a questionnaire and analyzed using descriptive quantitative analysis. The evaluation showed positive responses across three aspects: media access and use at 95.8%, information comprehension and usefulness at 100%, and interest in using it as a learning medium at 98.6%. These findings indicate that combining a school garden with digital media can transform the garden from merely a green space into a contextual and easily accessible learning resource that supports students' independent literacy activities.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27745PENGARUH JOB INSECURITY DAN STRES KERJA TERHADAP TURNOVER INTENTION PADA KARYAWAN GENERASI Z DI PT XYZ2026-09-27T13:45:17+00:00Ocah Lestariochalestari952@gmail.com<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya fenomena perpindahan kerja karyawan muda pada periode September 2025 hingga April 2026 di PT XYZ, khususnya pasca implementasi fleksibilitas hubungan ketenagakerjaan melalui skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan sistem kontrak kerja modern. Dinamika ketidakpastian kelangsungan kerja serta tingginya beban tuntutan operasional menjadi tantangan utama yang dihadapi tenaga kerja Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh job insecurity dan stres kerja terhadap turnover intention pada karyawan Generasi Z di kantor pusat PT XYZ, baik secara parsial maupun secara simultan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan asosiatif kausal. Pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner terstruktur dengan Skala Likert 5 poin kepada seluruh karyawan Generasi Z di kantor pusat PT XYZ sebanyak 47 responden dengan teknik sensus (sampling jenuh). Analisis data dijalankan dengan model regresi linier berganda menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil pengujian statistik membuktikan bahwa job insecurity berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap turnover intention dengan perolehan t hitung 2,997 > t tabel 2,015 dan nilai signifikansi 0,004 < 0,05, memberikan kontribusi Sumbangan Efektif (SE) sebesar 33,5%. Variabel stres kerja juga berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap turnover intention dengan nilai thitung 2,850 > ttabel 2,015 dan nilai signifikansi 0,007 < 0,05, memberikan Sumbangan Efektif (SE) sebesar 31,6%. Secara simultan, job insecurity dan stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention dengan perolehan Fhitung 41,066 > Ftabel 3,21 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi simultan (Adjusted R Square) sebesar 63,5% menunjukkan bahwa variasi turnover intention karyawan Generasi Z di PT XYZ mampu dijelaskan secara kuat oleh kombinasi job insecurity dan stres kerja, sedangkan sisanya sebesar 36,5% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini.</p> <p><em>This study was motivated by the prominent phenomenon of young employee turnover from September 2025 to April 2026 at PT XYZ, particularly following the implementation of employment relationship flexibility through Fixed-Term Employment Contracts (PKWT) and modern contractual frameworks. The dynamics of employment continuity uncertainty and high operational demands represent substantial psychological challenges encountered by Generation Z workers. This investigation aims to evaluate and explain the impact of job insecurity and work stress on turnover intention among Generation Z employees at the head office of PT XYZ, both partially and simultaneously. The study implemented an associative causal quantitative methodology. Primary data collection was executed by distributing structured 5-point Likert scale questionnaires to all 47 Generation Z personnel at PT XYZ head office utilizing a complete enumeration or saturated census sampling technique. Statistical evaluations were performed through multiple linear regression analysis via IBM SPSS Statistics version 26. Empirical findings demonstrate that job insecurity exhibits a positive and statistically significant partial effect on turnover intention, yielding a calculated t-statistic of 2.997 > t-table 2.015 with a significance level of 0.004 < 0.05 and an Effective Contribution of 33.5%. Work stress similarly exerts a positive and statistically significant partial effect on turnover intention, with a calculated t-statistic of 2.850 > t-table 2.015 with a significance value of 0.007 < 0.05 and an Effective Contribution of 31.6%. Simultaneously, job insecurity and work stress exert a significant joint influence on turnover intention, documented by an F-statistic of 41.066 > F-table 3.21 with a significance value of 0.000 < 0.05. The Adjusted R Square metric of 63.5% confirms that turnover intention variations among Generation Z talent at PT XYZ are robustly accounted for by job insecurity and occupational stress, whereas the remaining 36.5% is attributed to external organizational parameters beyond this analytical framework.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27136PENERAPAN KOMPRES WATER TAPID SPONGE UNTUK MENURUKAN SUHU TUBUH PADA PASIEN HIPERTERMIA DIRUANG ANGGREK 3 RSUD dr. SOEDIRAN MANGUN SUMARSO WONOGIRI2026-09-18T09:07:47+00:00Rosiana Fika Indraswarirosianafika10@gmail.comZulfa Mahdiatur Rasyidazulfa@unisa-surakarta.ac.idSumardimardasumardi@gmail.com<p>Latar Belakang : Demam merupakan respons tubuh terhadap infeksi yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh di atas normal (>37°C), yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit. Data WHO mencatat kasus demam di seluruh dunia mencapai sekitar 18–34 juta kasus. Salah satu intervensi yang dapat digunakann nonfarmakologi untu menurukan demam yaitu kompres water tapid sponge. Tujuan : untuk mengetahui hasil penerapan pemberian kompres water tapid sponge terhadap suhu tubuh pada pasien hiperterimia. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain studi kasus pada dua responden hipertermia. Pemilihan responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi kompres water tepid sponge dilakukan selama 15 menit dalam satu hari,, alat ukur yang digunakan adalah termometer. Hasil : berdasarkan hasil penerapan yang dilakukan terdapat penurunan suhu tubuh anak setelah diberikan kompres water tapid sponge. An. M mengalami penurunan suhu sebesar 1°C sedangkan An. K mengalami penurunan suhu sebesar 0,5 °C. Kesimpulan : kompres water tapid sponge dapat menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermia.</p> <p><em>Background: Fever is a physiological response to infection, characterized by an increase in body temperature above normal (>37°C), which can be caused by bacteria, viruses, fungi, or parasites. According to WHO, global fever cases reach approximately 18–34 million. One non-pharmacological intervention to reduce fever is the application of a water tepid sponge compress. Objective: To determine the effect of water tepid sponge compress application on body temperature in patients with hyperthermia. Methods: This study employed a descriptive method with a case study design involving two respondents with hyperthermia. Respondents were selected based on inclusion and exclusion criteria. The tepid sponge compress intervention was applied for 15 minutes in one day, and body temperature was measured using a thermometer. Results: Based on the results of the intervention, there was a decrease in the children's body temperature after being given a tepid water sponge compress. Patient M experienced a temperature reduction of 1°C, while Patient K experienced a reduction of 0.5°C. Conclusion: Water tepid sponge compresses are effective in reducing body temperature in pediatric patients with hyperthermia.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27449PENERAPAN TERAPI PIJAT KAKI TERHADAP STATUS HEMODINAMIK PADA PASIEN TERPASANG VENTILATOR DI ICU RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI2026-09-22T09:40:03+00:00Frinska Angelique Sandraangeliquesandraf@gmail.comBagas Biyanzah Drajad Pamukhtibagas.biyanzah@gmail.comPanggah Widodohermangga1@gmail.com<p>Latar belakang : Pasien dalam kondisi kritis yang memerlukan ventilator di ruang Intensive Care Unit (ICU) memerlukan pemantauan hemodinamik secara berkelanjutan karena berisiko mengalami gangguan stabilitas sirkulasi. Salah satu intervensi keperawatan non farmakologis yang dapat diterapkan yaitu terapi pijat kaki, yang diketahui mampu meningkatkan sirkulasi darah, memberikan efek relaksasi, serta berkontribusi dalam menjaga kestabilan hemodinamik pasien. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan terapi pijat kaki terhadap status hemodinamik pada pasien terpasang ventilator di ICU RSUD Pandan Arang Boyolali. Metode : Penelitian menggunakan desain deskripstif observatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan pada dua responden pasien terpasang ventilator di ICU. Penelitian ini dilakukan sebagai penerapan terapi pijat kaki untuk menstabilkan status hemodinamik yang dilakukan 1 kali sehari selama 2 hari berturut-turut dengan selama 40 menit menit dengan membandingkan parameter hemodinamik sebelum dan sesudah dilakukan terapi pijat kaki. Hasil : Sebelum pemberian terapi, kedua pasien menunjukkan kondisi hemodinamik yang belum stabil. Lalu kedua pasien diberikan terapi pijat kaki didapatkan status hemodinamik kedua pasien mengalami penurunan yaitu pada Tn. K setelah dilakukan penerapan pijat kaki hari pertama yaitu tekanan darah 139/77 mmHg, MAP 56 mmHg, HR 83 x/menit, RR 19 x/menit dan SpO2 100%. Pada hari kedua didapatkan hasil tekanan darah 126/73 mmHg, MAP 56 mmHg, HR 83 x/menit, RR 19 x/menit dan SpO2 100%. Pada Tn. M setelah dilakukan penerapan pijat kaki didapatkan hasil pada hari pertama yaitu tekanan darah 121/58 mmHg, MAP 75 mmHg, HR 84 x/menit, RR 17 x/menit dan SpO2 99%. Pada hari kedua didapatkan hasil tekanan darah 113/72 mmHg, MAP 72 mmHg, HR 114 x/menit, RR 24 x/menit dan SpO2 100%. Kesimpulan : Terapi pijat kaki dapat membantu mentasbilkan status hemodinamik pada pasien yang terpasang ventilator di ICU.</p> <p><em>Background: Critically ill patients requiring mechanical ventilation in the Intensive Care Unit (ICU) need continuous hemodynamic monitoring because they are at high risk of circulatory instability. One non-pharmacological nursing intervention that can be implemented is foot massage therapy, which has been shown to improve blood circulation, promote relaxation, and contribute to maintaining hemodynamic stability. Objective: This study aimed to determine the effect of foot massage therapy on the hemodynamic status of mechanically ventilated patients in the ICU of Pandan Arang Boyolali Regional General Hospital. Methods: This study employed a descriptive observational design using a case study approach involving two mechanically ventilated patients in the ICU. Foot massage therapy was administered once daily for two consecutive days, with each session lasting 40 minutes. Hemodynamic parameters were compared before and after the implementation of foot massage therapy. Results: Before the intervention, both patients exhibited unstable hemodynamic conditions. Following foot massage therapy, improvements in their hemodynamic status were observed. In Mr. K, after the first day of foot massage therapy, the blood pressure was 139/77 mmHg, mean arterial pressure (MAP) was 56 mmHg, heart rate (HR) was 83 beats/min, respiratory rate (RR) was 19 breaths/min, and oxygen saturation (SpO₂) was 100%. On the second day, the blood pressure decreased to 126/73 mmHg, MAP remained at 56 mmHg, HR was 83 beats/min, RR was 19 breaths/min, and SpO₂ remained at 100%. In Mr. M, after the first day of foot massage therapy, the blood pressure was 121/58 mmHg, MAP was 75 mmHg, HR was 84 beats/min, RR was 17 breaths/min, and SpO₂ was 99%. On the second day, the blood pressure was 113/72 mmHg, MAP was 72 mmHg, HR was 114 beats/min, RR was 24 breaths/min, and SpO₂ was 100%. Conclusion: Foot massage therapy may help stabilize the hemodynamic status of mechanically ventilated patients in the Intensive Care Unit (ICU).</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/26865ANALISIS VARIANCE RENCANA DAN REALISASI ANGGARAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PT CUPUINTAN ADYAPERMATA PADA PROYEK FIBER OPTIK MNC DI MALANG2026-09-14T01:56:28+00:00Agus Solihinagus.solihin.planologi@gmail.com<p>Analisis Variance Rencana Dan Realisasi Anggaran Sebagai Alat Pengendalian Biaya PT Cupuintan Adyapermata Pada Proyek Fiber Optik MNC di Malang. Di bawah bimbingan Dr. Muhammad Ramdhan, MM dan Dr. Ir. Rachman Upe, MM. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis (1) Perbandingan antara rencana dan realisasi anggaran, (2) Selisih antara (variance) rencana dan realisasi anggaran dan (3) Faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan tersebut antara rencana dan realisasi anggaran Proyek Fiber Optik MNC di Malang di PT Cupuintan Adyapermata 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan berupa observasi non partisipan dan wawancara terstruktur. Analisis data yang digunakan analisis variance dengan metode persamaan, metode sederhana dari selisih biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Hasil Penelitian dari data yang diperoleh: Pertama, selisih biaya material proyek pada proyek Fiber Optik MNC di Malang memiliki varian yang tidak menguntungkan. Terjadinya selisih yang tidak menguntungkan disebabkan oleh fluktuasi harga material proyek, selain pemborosan dalam penggunaan material proyek. Meskipun perusahaan telah berpengalaman dalam membuat anggaran dan mengerjakan proyek, realisasinya tidak selalu sesuai dengan anggaran. Karena kenaikan mendadak harga material dan upah tenaga kerja. Kedua, selisih biaya tenaga kerja proyek memiliki selisih yang menguntungkan yaitu Rp. 2.575.300. Hal ini disebabkan realisasi tarif jasa penanaman tiang dan penyambungan kabel yang lebih efisien. Ketiga, selisih biaya overhead untuk proyek Fiber Optik MNC di Malang, varians anggaran yang menguntungkan adalah Rp. 1.750.000,-. Hal ini disebabkan efisiensi biaya pengamanan material gudang dan ATP. Keempat, analisis varians biaya material, biaya tenaga kerja dan biaya overhead untuk proyek Fiber Optik MNC di Malang cukup baik, efisiensi yang dihasilkan dari proyek ini adalah Rp 2.171.300 atau sekitar 1% dari anggaran yang diasumsikan.</p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27411PENERAPAN TERAPI BERMAIN PUZZLE TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF LANSIA DI DESA BANGUNHARJO RW 092026-09-21T11:55:08+00:00Niswatun Khasanahniswatunk03@gmail.comDidik Iman Margatotdidikiman@unisa-surakarta.ac.idYohana Ika Prastiwiyohanaikaebn@gmail.com<p>Latar belakang: Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu masalah yang sering dialami lansia akibat proses penuaan. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan daya ingat, konsentrasi, kemampuan berpikir, dan pemecahan masalah sehingga memengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif adalah terapi bermain puzzle. Tujuan: karya ilmiah ini adalah mengetahui peningkatan fungsi kognitif pada lansia setelah diberikan terapi bermain puzzle. Metode: Metode yang digunakan adalah studi kasus pada dua lansia yang mengalami gangguan kognitif ringan berdasarkan hasil pengukuran Mini Mental State Examination (MMSE). Intervensi dilakukan selama tiga hari dengan enam sesi terapi bermain puzzle. Pengukuran fungsi kognitif dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen MMSE Hasil: menunjukkan adanya peningkatan skor MMSE pada kedua responden. Ny. M mengalami peningkatan skor dari 19 menjadi 23, sedangkan Ny. S meningkat dari 17 menjadi 22. Meskipun kedua responden masih berada dalam kategori gangguan kognitif ringan, terjadi peningkatan pada kemampuan perhatian, konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengikuti instruksi selama pelaksanaan terapi. Kesimpulannya: penerapan terapi bermain puzzle dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif pada lansia sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis untuk mempertahankan kemampuan kognitif lansia.</p> <p><em>Background: Cognitive decline is one of the common problems experienced by older adults as a result of the aging process. This condition can reduce memory, concentration, thinking ability, and problem-solving skills, thereby affecting the quality of life of older adults. One non-pharmacological intervention that can be used to maintain and improve cognitive function is puzzle play therapy. Objective: This scientific paper aimed to determine the improvement of cognitive function in older adults after the implementation of puzzle play therapy. Methods: This study used a case study design involving two older adults with mild cognitive impairment based on the Mini-Mental State Examination (MMSE) assessment. The intervention was conducted over three days with six sessions of puzzle play therapy. Cognitive function was assessed before and after the intervention using the MMSE instrument. Results: The findings showed an improvement in MMSE scores in both respondents. Mrs. M's MMSE score increased from 19 to 23, while Mrs. S's score increased from 17 to 22. Although both respondents remained in the mild cognitive impairment category, improvements were observed in attention, concentration, memory, and the ability to follow instructions during the intervention. Conclusion: The implementation of puzzle play therapy can improve cognitive function in older adults and may serve as a simple, safe, and effective non-pharmacological intervention to help maintain cognitive function.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27368REVITALISASI KEBUN SEKOLAH SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN DI SMP NEGERI 9 KOTA MAGELANG2026-09-21T05:58:23+00:00Ajeng Pristiana Stefaniajeng.pristiana.stefani@students.untidar.ac.idAlfina Karima Putrialfina.karima.putri@students.untidar.ac.idZackia Dian Aprilliazackiadian@students.untidar.ac.idFadilah Surya Dewifadilah.surya.dewi@students.untidar.ac.idNaila Cahya Hanifa Saputrinaila.cahya.hanifa.saputri@students.untidar.ac.idSelvi Khofivah Oktaviaselvi.khofivah.oktavia@students.untidar.ac.idSultan Fasha Raufsultan.fasha.rauf@students.untidar.ac.idMuhammad Rangga Syaifudin Badarmuhammad.rangga.syaifudin.badar@students.untidar.ac.id<p>Kegiatan revitalisasi kebun di SMP Negeri 9 Magelang dilakukan karena kondisi kebun sebelumnya kurang terawat dan kurang optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk menata kembali kebun supata lebih produktif dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Revitalisasi dilakuakn melalui pembersihan lahan, pengemburan tanah, penataan kotakan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Hasil dari kegiatan revitalisasi yaitu, kotakan menjadi 7, kondisi lahan menjadi tertata, dan terdapat berbagai jenis tanaman. Kebun yang telah di revitalisasi memiliki potensi utuk terus berkembang sebagai sarana pembelajaran dan ruang hijau untuk siswa. Pemeliharaan kebun membutuhkan perawatan secara rutin dan keterlibatan pihak sekolah.</p> <p><em>The garden revitalization project at Magelang Public Junior High School No. 9 was carried out because the garden was previously poorly maintained and not being used to its full potential. The project aimed to reorganize the garden to make it more productive and usable as a learning resource. The revitalization involved clearing the land, loosening the soil, arranging the garden beds, planting, and maintaining the plants. The results of the revitalization effort include the creation of seven planting beds, a well-organized plot, and a variety of plant species. The revitalized garden has the potential to continue developing as a learning resource and green space for students. Maintaining the garden requires regular care and the involvement of school officials.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27224PENERAPAN PEMBERIAN WARM WATER FOOTBATH TERHADAP PENURUNAN HIPERTERMIA PADA ANAK DI RSUD dr. SOERATNO GEMOLONG2026-09-19T06:25:12+00:00Tia Fansiskatiyafansiska21@gmail.comZulfa Mahdiatur Rasyidazulfa@unisa-surakarta.ac.idFitria Purnamawatiguest@jurnalhst.com<p>Latar Belakang: Hipertermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh melebihi batas normal akibat peningkatan aktivitas pusat pengatur suhu di hipotalamus. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penerapan pemberian warm water footbath terhadap penurunan hipertermia pada anak di RSUD dr.Soeratno Gemolong. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) pada dua anak usia 6–12 tahun yang mengalami hipertermia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi, responden mengalami peningkatan suhu tubuh. Setelah diberikan intervensi warm water footbath selama 15 menit, terjadi penurunan suhu tubuh. Pada pasien An. F, suhu tubuh menurun dari 38,0°C menjadi 37,7°C (penurunan 0,3°C), sedangkan pada An. P, suhu tubuh menurun dari 37,8°C menjadi 37,5°C (penurunan 0,3°C). Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan warm water footbath terbukti efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermia. Kesimpulan: Terdapat perbedaan suhu tubuh sebelum dan sesudah dilakukan terapi warm water footbath pada pasien anak yang mengalami hipertermia.</p> <p><em>Background: Background: Hyperthermia is a condition in which body temperature exceeds normal limits due to increased activity in the temperature-regulating centre of the hypothalamus. Objective: To determine the effectiveness of warm water footbaths in reducing hyperthermia in children at Dr Soeratno Gemolong General Hospital. Methods: This study employed a descriptive method using a case study approach involving two children aged 6–12 years who were experiencing hyperthermia. Results: The results showed that prior to the intervention, the participants had elevated body temperatures. Following a 15-minute warm water footbath intervention, a decrease in body temperature was observed. In patient An. F, body temperature decreased from 38.0°C to 37.7°C (a decrease of 0.3°C), whilst in An. P, body temperature decreased from 37.8°C to 37.5°C (a decrease of 0.3°C). It can therefore be concluded that the application of warm water footbaths is proven to be effective in reducing body temperature in patients with hyperthermia. Conclusion: There is a difference in body temperature before and after warm water footbath therapy in paediatric patients with hyperthermia.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/27502HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PRAKTEK PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK USIA 12 – 24 BULAN DI DESA PELEM GADUNG KECAMATAN KARANGMALANG SRAGEN2026-09-24T01:59:35+00:00Isnain Agung Legowoisnainagunglegowo@gmail.comSusi Tursilowatisusitursilowati@poltekkes-smg.ac.id<p>Latar Belakang: Stunting adalah suatu kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi pada 1000 hari kehidupan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek menurut usianya. Prevalensi stunting pada usia 12 – 24 bulan di desa Pelem Gadung masih tinggi ( 44,4%) . Salah satu penyebab utamanya antara lain rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi yang baik selama masa kehamilan maupun setelah melahirkan yang berpengaruh terhadap praktek ibu dalam memberikan gizi seimbang pada anak. Pemberian edukasi gizi sudah rutin dilakukan oleh Petugas Gizi akan tapi belum pernah dilakukan kajian mengenai praktek ibu dalam upaya pencegahan stunting pada anak batita usia 12 – 24 bulan. Tujuan: menganalisis hubungan pengetahuan ibu dengan praktek pencegahan stunting pada anak usia 12 – 24 bulan di Desa Pelem gadung Kecamatan Karangmalang Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan responden ibu Baduta yang mengalami stunting . Hasil: Sebagian besar pengetahuan ibu Baduta dalam ketegori baik (62,5%),dan praktek pencegahan stunting dalam kategori kurang baik (62.5 %) . Kesimpulan : Hasil analisis menggunakan uji chi squared test terhadap hubungan pengetahuan ibu dan perilaku pencegahan stunting menunjukkan hubungan yang tidak signifikan/ bermakna (p = 0,429 > 0,05).</p> <p><em>Background: Stunting is a condition where a child experiences growth impairment due to malnutrition during the first 1000 days of life, resulting in the child’s body being shorter than average for their age. The prevalence of stunting in children aged 12–24 months in Pelem Gadung Village is still high (44.4%). One of the main causes is the low level of maternal knowledge about proper nutrition during pregnancy and after childbirth, which affects mothers’ practices in providing balanced nutrition to their children. Nutrition education has been routinely conducted by Nutrition Officers, but there has never been a study on mothers’ practices in preventing stunting in children aged 12–24 months. Objective: To analyze the relationship between maternal knowledge and stunting prevention practices in children aged 12–24 months in Pelem Gadung Village, Karangmalang District. Methods: This study used a cross-sectional design with respondents consisting of mothers of children under two years old (baduta) who experienced stunting. Results: The majority of mothers of baduta had good knowledge (62.5%), and stunting prevention practices were also in the not good category (62,50%) Conclusion: The results of the Spearman’s rho test on the relationship between maternal knowledge and stunting prevention behavior showed not significant relationship (p = 0,429 > 0,05).</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinierhttps://oaj.jurnalhst.com/index.php/jkii/article/view/26982PENERAPAN ISOMETRIC HANDGRIP EXERCISE UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DERAJAT 12026-09-15T13:28:31+00:00Iin Selviana Sariiinselvinana@gmail.comDyah Rahmawatie Ratna Budi Utamidyahrahmawatie@unisa-surakarta.ac.id<p>Latar Belakang; Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat membantu menurunkan tekanan darah adalah isometric handgrip exercise. Isometric Handgrip Exercise dipilih untuk dilakukan penerapan karena merupakan latihan sederhana, mudah dilakukan, tidak membutuhkan banyak waktu, dan dapat menjadi terapi tambahan untuk membantu menurunkan tekanan darah. Latihan ini hanya dilakukan dengan cara menggenggam alat handgrip dalam waktu tertentu, sehingga mudah diterapkan pada penderita hipertensi, termasuk pasien yang memiliki keterbatasan untuk melakukan aktivitas fisik yang lebih berat. Tujuan; Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil penerapan isometric handgrip exercise pada penderita hipertensi. Metode; Penelitian menggunakan metode studi kasus pada dua responden hipertensi derajat 1 di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari Surakarta. Intervensi dilakukan selama lima hari berturut-turut dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah latihan. Hasil; Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah pada kedua responden. Ny. S mengalami penurunan tekanan darah dari 152/93 mmHg menjadi 122/90 mmHg, sedangkan Ny. N dari 158/91 mmHg menjadi 131/94 mmHg. Kesimpulan; Secara umum, isometric handgrip exercise dapat membantu menurunkan tekanan darah, terutama tekanan sistolik, sehingga dapat dijadikan sebagai terapi pendamping bagi penderita hipertensi.</p> <p><em>Background; Hypertension is a non-communicable disease that increases the risk of cardiovascular complications. One non-pharmacological therapy that may help reduce blood pressure is isometric handgrip exercise. Isometric Handgrip Exercise was selected for implementation because it is a simple, easy-to-perform exercise that requires little time and can be used as an adjunctive therapy to help reduce blood pressure. This exercise involves squeezing a handgrip device for a specific period of time, making it easy to apply to individuals with hypertension, including those with limitations in performing more strenuous physical activities. The objective of the research; This study aimed to describe the implementation of isometric handgrip exercise in patients with hypertension. Methods; A case study was conducted on two patients with stage 1 hypertension in the working area of Gambirsari Primary Health Center, Surakarta. The intervention was performed for five consecutive days, with blood pressure measured before and after the exercise. Results; The results showed a reduction in blood pressure in both participants. Mrs. S blood pressure decreased from 152/93 mmHg to 122/90 mmHg, while Mrs. N decreased from 158/91 mmHg to 131/94 mmHg. Summary; Overall, isometric handgrip exercise may help reduce blood pressure, especially systolic blood pressure, and can be used as an adjunctive therapy for hypertension management.</em></p>2026-09-29T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinier