TINGGALAN ARKEOLOGI DI PURA BEJI LANGON KELURAHAN KAPAL, KECAMATAN MENGWI, KABUPATEN BADUNG: KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA
Kata Kunci:
Pura Beji Langon, Arkeologi, Arca, Bentuk, Fungsi, Dan MaknaAbstrak
Penelitian ini membahas tinggalan arkeologi di Pura Beji Langon, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung yang memiliki nilai signifikan dalam aspek sejarah, keagamaan, dan budaya masyarakat. Kompleks pura ini ditemukan berbagai artefak seperti arca, relief, serta struktur candi yang bukan hanya berperan sebagai karya seni melainkan juga berfungsi sebagai sarana ritual dan simbol kosmologis dalam tradisi Hindu-Buddha. Tujuan kajian ini adalah untuk menelaah bentuk, fungsi, serta makna dari tinggalan arkeologi tersebut dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan analisis ikonografi. Data penelitian diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi, wawancara dengan pemangku dan tokoh adat serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggalan arkeologi di Pura Beji Langon menampilkan beragam representasi mulai dari arca perwujudan bhatara-bhatari, dwarapala, hingga figur binatang mitologis yang masing-masing memiliki peran religius, sakral, sekaligus sebagai penjaga kesucian pura. Selain itu, keberadaan candi tebing dan petirtaan berfungsi sebagai tempat pemujaan serta media penyucian yang hingga kini masih digunakan dalam praktik ritual masyarakat Hindu Bali. Secara keseluruhan, tinggalan arkeologi di Pura Beji Langon memperlihatkan kesinambungan tradisi, nilai spiritual, dan identitas budaya masyarakat Bali, serta merupakan warisan berharga yang layak dilestarikan.
This study examines the archaeological remains at Pura Beji Langon, located in Desa Kapal, Mengwi District, Badung Regency, which hold significant value in the historical, religious, and cultural context of Balinese society. Within the temple complex, various artifacts such as statues, reliefs, and temple structures have been discovered. These remains function not only as artistic creations but also as ritual media and cosmological symbols within the Hindu-Buddhist tradition. The purpose of this research is to analyze the form, function, and meaning of these archaeological remains through a descriptive qualitative method and iconographic analysis. Data were collected through field observations, documentation, interviews with temple priests and local community leaders, as well as literature review. The findings reveal that the archaeological remains at Pura Beji Langon represent a wide variety of forms, including statues of deities (Bhatara-Bhatari), dwarapala guardians, and mythological animals, each serving a religious, sacred, and protective role for the temple. Additionally, the rock-cut shrines and sacred bathing pools function as places of worship and purification, which continue to play an active role in Balinese Hindu rituals today. Overall, the archaeological remains at Pura Beji Langon demonstrate the continuity of tradition, spiritual significance, and cultural identity of Balinese society, and represent an invaluable heritage that must be preserved.



