ANALISIS ISI KLAUS KRIPENDORFF DALAM FILM DOKUMENTER “DIRTY VOTE”
Kata Kunci:
Analisis Isi, Komunikasi Politik, Film Dokumenter, Simbol Visual, Dirty VoteAbstrak
Film sebagai salah satu media massa, menyajikan beragam tayangan dengan informasi dan pesan yang beragam pula. Dalam menyampaikan pesan dan informasi kepada masyarakat, para pengkritik sosial menggunakan cara yang beragam, salah satu diantaranya dan kerap kali kita temukan saat ini adalah melalui film dokumenter. Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan, istilah dokumenter untuk semua film-film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Film dokumenter dirty vote merupakan salah satu film dokumenter yang sangat menggugah perhatian masyarakat, karena isu yang diangkat dalam film ini sangat nyata terjadi di masyarakat. Film ini menceritakan tentang kecurangan pemilu yang terjadi di Indonesia pada momen menjelang pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis makna pesan, struktur penyampaian pesan, simbol-simbol visual dan konteks komunikasi politik dalam film dokumenter dirty vote. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis Isi Klaus Krpendorff, yang berfokus pada lima segmen dan lima belas scene dalam film dokumenter dirty vote. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dengan menonton film secara seksama dan mencatat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa film dokumenter dirty vote tidak hanya menyampaikan informasi mengenai praktik politik, tetapi secara sistematis membangun interpretasi tertentu tentang relasi kekuasaan negara, birokrasi, dan proses elektoral. Makna pesan dikonstruksi melalui argumentasi verbal yang normatif dan evaluatif, diperkuat oleh struktur penyampaian yang logis dan bertahap, didukung simbol visual yang merepresentasikan legitimasi dan otoritas, serta ditempatkan dalam konteks komunikasi politik yang menyoroti dinamika distribusi kekuasaan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa film berfungsi sebagai teks komunikasi politik yang secara terstruktur membentuk pemahaman publik tentang realitas demokrasi melalui strategi representasi yang terorganisasi.
Film as one of the mass media, presents a variety of shows with diverse information and messages as well. In conveying messages and information to the public, social critics use various methods, one of which is often found today is through documentaries. A documentary is a film that documents reality, a documentary term for all non-fiction films, including travel films and educational films. The documentary film Dirty Vote is one of the documentaries that is very arousing the public's attention, because the issues raised in this film are very real in the community. This film tells the story of election fraud that occurred in Indonesia in the moments leading up to the 2024 Presidential and Vice Presidential elections. This study aims to identify and analyze the meaning of messages, message delivery structures, visual symbols and the context of political communication in the documentary dirty vote. This type of research is qualitative descriptive using Klaus Krpendorff's Content analysis method, which focuses on five segments and fifteen scenes in the documentary dirty vote. Data is collected through documentation techniques by watching the film carefully and taking notes. The results of the study show that the documentary film dirty vote not only conveys information about political practices, but systematically builds certain interpretations of the state power relations, bureaucracy, and electoral process. The meaning of the message is constructed through normative and evaluative verbal argumentation, reinforced by a logical and gradual structure of delivery, supported by visual symbols that represent legitimacy and authority, and placed in the context of political communication that highlights the dynamics of power distribution. Thus, this study confirms that film functions as a political communication text that structurally shapes the public's understanding of the reality of democracy through an organized representation strategy.




