ATEISME SEBAGAI MOMEN ROH: MEMBACA KETIDAKHADIRAN TUHAN DALAM DIALEKTIKA HEGELIAN
Kata Kunci:
Hegel, Ateisme, Dialektika Roh, Spiritualitas, Kesadaran, Negasi, Filsafat SejarahAbstrak
Ateisme di era kontemporer tidak lagi dapat dipahami semata sebagai penolakan terhadap keberadaan Tuhan, melainkan sebagai ekspresi dari dinamika kesadaran manusia yang sedang mengalami transformasi spiritual dan intelektual. Di Indonesia, fenomena ateisme sering diasosiasikan dengan krisis identitas, trauma religius, atau pencarian makna di luar institusi keagamaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ateisme dari perspektif filsafat G.W.F. Hegel, khususnya melalui kerangka dialektika Roh (Geist), yang memandang sejarah sebagai proses perkembangan kesadaran menuju kebebasan dan pengetahuan diri. Dengan menggunakan pendekatan kajian teoretis dan metode bodynote, tulisan ini menelaah ateisme sebagai momen negasi terhadap bentuk religius yang tidak lagi memadai, serta sebagai jalan menuju sintesis spiritual yang lebih rasional dan historis. Analisis dilakukan dengan merujuk pada karya-karya utama Hegel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, serta interpretasi dari pemikir sekunder seperti Frederick Copleston dan Bernard Bosanquet. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam sistem Hegel, ateisme bukanlah akhir dari spiritualitas, melainkan bagian dari proses dialektis yang menuntut transformasi bentuk-bentuk lama menuju pemahaman yang lebih tinggi tentang Tuhan sebagai realitas yang hadir dalam kesadaran manusia dan sejarah. Dalam konteks Indonesia, ateisme dapat dimaknai sebagai ekspresi Roh zaman yang sedang mencari bentuk spiritualitas baru yang lebih otentik, reflektif, dan bebas dari dogmatisme. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendekatan Hegelian terhadap ateisme membuka ruang bagi dialog yang lebih inklusif dan filosofis dalam memahami krisis spiritual kontemporer.




