STUDI KASUS PENGGUNAAN TEKNIK HIDROPONIK DALAM BUDIDAYA SAYURAN SELADA DAN PAKCOY

Penulis

  • Muhammad Nasyah Arifin Universitas Terbuka
  • Usy Nora Manurung Universitas Terbuka

Kata Kunci:

Hidroponik, Selada, Pakcoy, Produktivitas, Efisiensi, Lahan

Abstrak

Meningkatnya kebutuhan sayuran segar di Kalimantan tidak sejalan dengan keterbatasan lahan produktif perkotaan. Hidroponik menawarkan solusi budidaya modern yang efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan sistem hidroponik pada selada (Lactuca sativa) dan pakcoy (Brassica rapa) serta mengevaluasi produktivitas dan efisiensi lahan. Metode studi kasus diterapkan pada unit usaha hidroponik komersial di Kalimantan Timur, dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan pengukuran langsung selama tiga siklus tanam. Hasil menunjukkan tingkat keberhasilan tanaman mencapai 96%, dengan pola panen mingguan kontinu sepanjang tahun. Total produksi tahunan mencapai 3,9 ton dari lahan 80 m², dengan efisiensi lahan 49 kg/m²/tahun. Produktivitas per siklus hidroponik 20–60% lebih tinggi dibanding pertanian konvensional. Kendala utama adalah biaya investasi awal yang tinggi dan kebutuhan pengetahuan teknis. Temuan ini menegaskan bahwa hidroponik merupakan alternatif strategis bagi pertanian perkotaan berkelanjutan di wilayah terbatas lahan seperti Kalimantan.

The increasing demand for fresh vegetables in Kalimantan is not matched by the limited availability of productive urban land. Hydroponics offers an efficient modern cultivation solution. This study aims to analyze the application of hydroponic systems for lettuce (Lactuca sativa) and pak choi (Brassica rapa) and to evaluate productivity and land efficiency. A case study method was applied to a commercial hydroponic unit in East Kalimantan, with data collected through participatory observation, in-depth interviews, documentation, and direct measurements over three planting cycles. The results showed a plant success rate of 96%, with a continuous weekly harvest pattern throughout the year. Total annual production reached 3.9 tons from 80 m² of land, with a land efficiency of 49 kg/m²/year. Productivity per hydroponic cycle was 20–60% higher than conventional farming. The main constraints were high initial investment costs and the need for technical knowledge. These findings confirm that hydroponics is a strategic alternative for sustainable urban agriculture in land-limited regions such as Kalimantan.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29