DARI MIMBAR KE MEDIA SOSIAL: AKULTURASI BUDAYA DAN TRANSFORMASI OTORITAS ULAMA SELEBRITI DI INDONESIA
Kata Kunci:
Ulama Selebriti, Akulturasi Budaya, Otoritas Keagamaan, Dakwah Digital, FenomenologiAbstrak
Penelitian ini mengkaji fenomena ulama selebriti di Indonesia, dengan memusatkan perhatian pada Hanan Attaki dan Felix Siauw sebagai figur representatif yang mentransformasi otoritas keagamaan melalui media digital dan budaya populer. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, studi ini menelaah bagaimana para pendakwah tersebut mengadaptasi ajaran Islam melalui akulturasi budaya—memadukan elemen budaya populer dengan wacana keagamaan untuk menjangkau generasi Muslim muda. Data dikumpulkan melalui dokumentasi sistematis terhadap konten digital di YouTube, Instagram, dan TikTok, serta analisis terhadap komentar audiens dan respons publik. Temuan penelitian mengidentifikasi empat dimensi transformasi utama: (1) pergeseran basis otoritas keagamaan dari kredensial institusional menuju popularitas digital dan personal branding; (2) munculnya bentuk-bentuk akulturasi yang mengintegrasikan fashion kontemporer, bahasa gaul, storytelling, dan referensi budaya pop ke dalam konten religius; (3) terbentuknya praktik budaya keagamaan baru yang berpusat pada 'budaya hijrah' dan identitas anak muda; serta (4) kontribusi sosio-religius yang signifikan namun diwarnai ketegangan antara aksesibilitas luas dan risiko simplifikasi agama. Penelitian ini berkontribusi pada literatur sosiologi agama dengan menawarkan kerangka fenomenologi untuk memahami otoritas keagamaan yang dimediasi secara digital dalam masyarakat Muslim kontemporer.
This study examines the phenomenon of celebrity ulama (Islamic scholars) in Indonesia, focusing on Hanan Attaki and Felix Siauw as key figures who have transformed religious authority through digital media and popular culture. Employing a qualitative phenomenological approach, this research explores how these preachers adapt Islamic teachings through cultural acculturation—blending popular cultural elements with religious discourse to reach younger Muslim generations. Data were collected through systematic documentation of digital content on YouTube, Instagram, and TikTok, as well as analysis of audience comments and public responses. The findings reveal four major dimensions of transformation: (1) a shift in the basis of religious authority from institutional credentials to digital popularity and personal branding; (2) the emergence of acculturation forms integrating contemporary fashion, colloquial language, storytelling, and pop cultural references into religious content; (3) the formation of new religious cultural practices centered on 'hijrah culture' and youth identity; and (4) significant socio-religious contributions marked by tension between broad accessibility and the risk of religious oversimplification. This study contributes to the sociology of religion literature by offering a phenomenological framework for understanding digitally-mediated religious authority in contemporary Muslim societies.




